Senin, 25 Mei 2026

Struktur Al-Qur'an: Mengenal Kelompok Ath-Thiwāl Hingga Al-Mufashshal

Struktur Al-Qur'an: Mengenal Kelompok Ath-Thiwāl Hingga Al-Mufashshal

Pendahuluan

Al-Qur’an terdiri dari 114 surat dengan panjang ayat yang berbeda-beda. Ada surat yang sangat panjang seperti Surah Al-Baqarah, ada pula yang sangat pendek seperti Surah Al-Kautsar. Untuk memudahkan pembelajaran, hafalan, dan pembacaan, para ulama membagi surat-surat Al-Qur’an ke dalam beberapa kelompok berdasarkan panjang dan karakteristiknya.

Secara umum, para ulama membaginya menjadi empat bagian utama: Ath-Thiwāl, Al-Mi’ūn, Al-Matsānī, dan Al-Mufashshal.

Allah ﷻ berfirman:

> كِتَابٌ أُنزِلَ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)



Pembagian ini membantu kaum Muslimin lebih mudah mengenali struktur Al-Qur’an dan memahami kebiasaan bacaan Rasulullah ﷺ.

1. Ath-Thiwāl: Surat-Surat Panjang

Ath-Thiwāl berarti surat-surat panjang. Jumlahnya ada tujuh surat yang dikenal sebagai As-Sab‘ Ath-Thiwāl (tujuh surat panjang), yaitu:

1. Al-Baqarah


2. Ali ‘Imran


3. An-Nisa’


4. Al-Ma’idah


5. Al-An‘am


6. Al-A‘raf


7. Surat ketujuh diperselisihkan:

sebagian ulama mengatakan Al-Anfal dan At-Taubah dihitung satu kesatuan karena tidak dipisah dengan basmalah;

sebagian lain berpendapat surat ketujuh adalah Yunus.




Surat-surat ini memuat banyak hukum, kisah umat terdahulu, akidah, dan aturan sosial yang rinci.

2. Al-Mi’ūn: Surat-Surat Seratusan Ayat

Al-Mi’ūn adalah surat-surat yang jumlah ayatnya sekitar seratus atau lebih sedikit mendekatinya.

Contohnya antara lain beberapa surat yang tidak sepanjang Ath-Thiwāl, namun masih tergolong cukup panjang. Kelompok ini menjadi peralihan dari surat-surat sangat panjang menuju surat-surat menengah.

Dinamakan Al-Mi’ūn karena berasal dari kata mi’ah yang berarti seratus.

3. Al-Matsānī: Surat-Surat yang Lebih Pendek

Al-Matsānī adalah surat-surat setelah Al-Mi’ūn dalam urutan panjang ayat.

Menurut pendapat lain dari Al-Farrā’, Al-Matsānī adalah surat-surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus, dan dinamakan demikian karena lebih sering diulang dalam bacaan dan salat dibandingkan Ath-Thiwāl dan Al-Mi’ūn.

Kelompok ini biasanya lebih mudah dihafal dan sering dibaca dalam salat berjamaah.

4. Al-Mufashshal: Bagian Akhir Al-Qur’an

Al-Mufashshal adalah surat-surat pada bagian akhir Al-Qur’an.

Disebut Al-Mufashshal karena banyaknya pemisahan antar surat dengan bacaan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ.

Para ulama berbeda pendapat tentang awal Al-Mufashshal:

ada yang berpendapat dimulai dari surat Qaf,

ada yang berpendapat dari surat lain.


Namun Al-Nawawī menilai pendapat yang lebih kuat bahwa Al-Mufashshal dimulai dari Surah Al-Hujurat.

Al-Mufashshal terbagi menjadi tiga:

a. Thiwāl Al-Mufashshal (bagian panjang)

Dari Al-Hujurat sampai Al-Buruj.

b. Awsāth Al-Mufashshal (bagian pertengahan)

Dari At-Tariq sampai Al-Bayyinah (Lam Yakun).

c. Qishār Al-Mufashshal (bagian pendek)

Dari Az-Zalzalah sampai An-Nas.

Bagian inilah yang paling sering dibaca dalam salat sehari-hari karena surat-suratnya pendek dan mudah dihafal.

Hikmah Pembagian Surat Al-Qur’an

Pembagian ini memiliki beberapa manfaat, di antaranya:

memudahkan penghafalan Al-Qur’an,

membantu menentukan bacaan dalam salat,

memudahkan pengajaran dan pembelajaran,

menunjukkan keindahan susunan Al-Qur’an dari surat panjang hingga pendek.


Rasulullah ﷺ juga membaca surat-surat sesuai kategori ini dalam berbagai kesempatan, menunjukkan adanya perhatian terhadap susunan dan karakter setiap bagian Al-Qur’an.

Penutup

Pembagian surat-surat Al-Qur’an menjadi Ath-Thiwāl, Al-Mi’ūn, Al-Matsānī, dan Al-Mufashshal menunjukkan betapa para ulama memperhatikan detail struktur Al-Qur’an untuk memudahkan umat memahami, membaca, dan menghafalnya.

Dengan memahami pembagian ini, kita tidak hanya mengenal nama surat, tetapi juga memahami pola dan susunan Al-Qur’an yang penuh hikmah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngaji Fathul Muin (22): Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil

Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil Mahar merupakan salah satu hak penting seorang istri dalam akad pernikahan. Islam sangat menja...