Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 3)
3. Timbangan Ketiga
Yaitu menimbang perkara baru dengan hukum-hukum syariat secara rinci.
Perkara baru dibagi sesuai enam hukum syariat:
1. wajib, sunnah/mandub, haram, makruh, khilaf al-awla (menyalahi yang lebih utama), dan mubah.
Maka setiap perkara baru yang memiliki landasan jelas dan benar yang bisa dikaitkan pada salah satu hukum tersebut, ia dimasukkan ke sana. Jika tidak memiliki landasan demikian, maka itulah bid‘ah.
Atas dasar inilah banyak ulama muhaqqiqin berjalan, dan mereka memandang pembagian bid‘ah ini juga dari sisi bahasa untuk memudahkan pemahaman. Wallahu a‘lam.
ثم قال: وأقسامها ثلاثة, البدع الصريحة, وهي ما أثبتت من غير أصل شرعي في مقابلة ما ثبت شرعا من واجب أو سنة أو مندوب أو غيره فأماتت سنة أو أبطلت حقا, وهذه شر البدع, وإن كان لها ألف مستند من الأصول أو الفروع فلا عبرة به. الثاني البدع الإضافية, وهي التي لأمر لو سلم منها لم تصح المنازعة في كونه سنة أو غير بدعة بلا خلاف أو على خلاف مما تقدم. الثالث البدع الخلافية, وهي المبنية على أصلين يتجاذبها كل منهما, فمن قال بهذا قال: بدعة, ومن قال بمقابله قال: سنة, كما تقدم في ضرب الإدارة وذكر الجماعة.
Kemudian beliau berkata: bid‘ah terbagi menjadi tiga:
1. Bid‘ah Sharihah (Bid‘ah Murni/Jelas)
Yaitu perkara yang dibuat tanpa dasar syariat sama sekali, bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan syariat, baik wajib, sunnah, mandub, maupun lainnya, sehingga: mematikan sunnah, atau membatalkan kebenaran. Inilah seburuk-buruk bid‘ah.
Sekalipun tampaknya memiliki seribu dalil dari kaidah umum atau cabang hukum, hal itu tidak dianggap.
2. Bid‘ah Idhafiyyah (Bid‘ah Tambahan)
Yaitu perkara yang pada asalnya jika terlepas dari unsur tambahannya, sebenarnya tidak diperselisihkan sebagai sunnah atau minimal bukan bid‘ah. Namun adanya tambahan tertentu menyebabkan timbul perdebatan.
3. Bid‘ah Khilafiyyah (Bid‘ah yang Diperselisihkan)
Yaitu perkara yang dibangun di atas dua dasar hukum yang sama-sama mungkin diterapkan. Siapa yang mengikuti satu dasar berkata: ini bid‘ah. Siapa yang mengikuti dasar lain berkata: ini sunnah. Sebagaimana telah disebut sebelumnya pada contoh: memukul idaroh dan zikir berjamaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar