Minggu, 16 Agustus 2026

Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Delusi Merasa Dicintai oleh Orang Lain


Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Merasa Menjadi Orang Paling Spesial

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang seseorang yang sangat yakin bahwa seorang artis papan atas, pejabat, atau tokoh publik diam-diam jatuh cinta kepadanya? Di dunia medis, kondisi psikologis ini bukan sekadar rasa kagum yang berlebihan atau "kegeeran" biasa. Fenomena ini disebut sebagai Erotomania atau Sindrom de Clérambault.
Erotomania adalah gangguan mental yang membuat penderitanya memiliki keyakinan kokoh (delusi) bahwa orang lain—biasanya seseorang dengan status sosial atau ekonomi yang lebih tinggi—sangat mencintai mereka, padahal kenyataannya tidak sama sekali.

Gejala dan Ciri-Ciri Erotomania
Penderita erotomania kehilangan kontak dengan realita. Mereka menciptakan narasi sendiri di dalam pikirannya. Beberapa gejala umum yang sering ditunjukkan meliputi:
  • Membaca Sinyal Rahasia: Mereka percaya bahwa target mengirimkan pesan cinta terselubung lewat media sosial, kedipan mata di televisi, atau gestur tubuh tertentu saat siaran langsung.
  • Terus Mengirim Pesan: Penderita akan terus-menerus mencoba menghubungi target melalui pesan singkat, surat, hingga mengirimkan hadiah secara agresif.
  • Melakukan Stalking: Mereka sering menguntit target, baik melacak aktivitasnya di dunia maya maupun nekat mendatangi tempat tinggal atau lokasi kerja target secara nyata.
  • Cemburu Buta: Muncul rasa cemburu dan marah yang ekstrem jika melihat orang yang "dicintainya" tersebut menikah, berpacaran, atau sekadar berinteraksi dengan orang lain.
  • Menolak Realita: Meskipun target atau pihak berwajib sudah memberikan penolakan tegas, penderita akan menganggap penolakan tersebut hanyalah sebuah "ujian cinta" atau trik untuk menyembunyikan hubungan mereka dari publik.

Apa Penyebab Erotomania?

Hingga saat ini, para ahli belum menemukan penyebab tunggal dari erotomania. Namun, kondisi ini umumnya berkaitan erat dengan beberapa faktor risiko berikut:
  1. Gangguan Kejiwaan Lain: Erotomania jarang berdiri sendiri. Biasanya, kondisi ini menjadi bagian dari gejala gangguan mental yang lebih besar, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi berat dengan fitur psikosis.
  2. Masalah Neurologis: Dalam beberapa kasus, adanya kelainan pada fungsi otak, cedera kepala, atau tumor otak dapat memicu timbulnya delusi ini.
  3. Faktor Psikologis dan Trauma: Rasa kesepian yang ekstrem, isolasi sosial, rendahnya rasa percaya diri, atau riwayat penolakan emosional di masa lalu bisa membuat seseorang menciptakan dunia fantasi ini sebagai mekanisme koping.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Erotomania adalah kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan profesional dari psikiater atau psikolog. Penderita tidak bisa disembuhkan hanya dengan dinasihati atau didebat secara logika. Langkah penanganan utamanya meliputi:
  • Terapi Perilaku Kognitif (CBT): Terapi ini membantu pasien untuk perlahan-lahan mengenali pola pikir yang salah, memisahkan fantasi dari realita, dan mengelola perilaku obsesif mereka.
  • Obat-obatan Medis: Dokter spesialis kejiwaan biasanya akan meresepkan obat antipsikotik untuk meredakan delusi. Obat penstabil suasana hati (mood stabilizer) atau antidepresan juga bisa diberikan jika erotomania dipicu oleh gangguan bipolar atau depresi.

Kesimpulan

Erotomania bukan sekadar urusan "bucin" atau cinta bertepuk sebelah tangan. Ini adalah gangguan delusi nyata yang membutuhkan empati, bantuan medis tepat, dan penanganan sejak dini agar penderita tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Siapa Temanmu, Itulah Gambaran Jiwamu: Satu Alasan Kenapa Sifatmu Mirip Temanmu

Siapa Temanmu, Itulah Gambaran Jiwamu: Satu Alasan Kenapa Sifatmu Mirip Temanmu

Ibnu Mas'ud berkata:

اعْتَبِرُوا الرَّجُلَ بِمَنْ يُصَاحِبُ، فَإِنَّمَا يُصَاحِبُ الرَّجُلُ مَنْ هُوَ مِثْلَهُ

“Nilailah seseorang melalui siapa yang menjadi teman dekatnya. Sesungguhnya seseorang biasanya berteman dengan orang yang memiliki kemiripan dengannya.” (Syuabul Iman, 8993)

Berikut penjelasannya:

Ungkapan ini mengajarkan bahwa pergaulan bukan sekadar urusan sosial, tetapi juga proses membentuk diri. Seseorang dapat dikenali dari lingkungan yang ia pilih, siapa yang ia kagumi, dan dengan siapa ia merasa nyaman bergaul.

Allah berfirman:

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ

“Dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan (dengan yang sejenis).” (QS. At-Takwir: 7)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa orang beriman tidak hanya diperintahkan untuk bertakwa, tetapi juga memilih lingkungan yang mendukung ketakwaannya. Sebab, lingkungan dapat memperkuat atau justru melemahkan iman seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun. Ruh-ruh yang saling mengenal akan menyatu, sedangkan yang tidak saling mengenal akan berselisih.” (HR. Muslim, 2638)

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari, 6168 dan Muslim, 2640)

Karena itu, siapa yang kita cintai dan kagumi perlu diperhatikan. Sebab, kecintaan kepada seseorang sering membuat kita meniru perkataan, kebiasaan, bahkan cara hidupnya.

Ibnu Mas'ud berkata:

إِنَّمَا يُمَاشِي الرَّجُلُ وَيُصَاحِبُ مَنْ يُحِبُّهُ وَمَنْ هُوَ مِثْلُهُ

“Sesungguhnya seseorang berjalan dan bersahabat dengan orang yang ia cintai dan orang yang memiliki keserupaan dengannya.” (Al-‘Ibānah Al-Kubrā, 2/477)

Pengaruh teman sering tidak terasa. Kebiasaan yang awalnya hanya dilakukan oleh teman, perlahan dapat menjadi kebiasaan kita. Karena itu, memilih teman sejatinya adalah memilih sebagian dari masa depan kita.

Tharfah bin Al-‘Abd berkata:

عَنِ المَرءِ لا تَسأَل وَسَل عَن قَرينِهِ # فَكُلُّ قَرينٍ بِالمُقـارَنِ يَقتَـدي

“Jangan tanyakan tentang seseorang; tanyakanlah siapa teman dekatnya. Sebab, setiap orang yang berteman akan mengikuti orang yang menjadi temannya.” (Adz-Dzarīah, 259)

Teman yang baik bukan sekadar orang yang membuat kita tertawa, tetapi orang yang membuat kita semakin dekat kepada Allah. Ia mengingatkan ketika kita lalai, menasihati ketika kita salah, dan mendorong kita untuk terus menjadi lebih baik.

Maka, jika ingin memperbaiki diri, perbaikilah pula lingkungan pergaulan. Dekatilah orang-orang saleh, para pencinta ilmu, orang-orang yang menjaga akhlak, dan mereka yang ketika bersama kita membuat hati semakin ingat kepada Allah.

Epilog

Kita sering mengira bahwa teman hanyalah pelengkap perjalanan hidup. Orang-orang yang hadir sekadar untuk menemani, menghibur, atau sekadar mengisi waktu. Padahal, teman adalah cermin yang jujur ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya.

Siapa yang kita pilih sebagai teman adalah siapa yang kita izinkan membentuk diri kita. Jangan salahkan lingkungan jika kau tak pernah berusaha memilihnya. Dan jangan heran jika kau menjadi seperti mereka yang kau kagumi. sebab, cinta kepada seseorang adalah jalan paling pendek menuju keserupaan.

Maka, periksalah cerminmu. Jika kau ingin menjadi lebih baik, pilihlah teman yang lebih baik. Jika kau ingin dekat dengan Allah, dekatilah mereka yang dekat dengan-Nya. Karena siapa yang kau dampingi di dunia, di sanalah kau akan ditempatkan kelak di sisi-Nya.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #teman #dakwah_islam 

Senin, 03 Agustus 2026

Kajian Munasabah (18): Surah Al-Anbiyā, Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia


Munasabah Surah Al-Anbiyā' dengan Surah Thaha: Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia

Al-Qur'an bukanlah kumpulan surah yang disusun tanpa hikmah. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelumnya. Hubungan inilah yang dikenal dengan istilah munāsabah, yaitu keterkaitan makna antara ayat maupun antarsurah. Salah satu contoh yang menarik adalah hubungan antara penutup Surah Thaha dengan pembukaan Surah Al-Anbiyā', sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar.

Pada akhir Surah Thaha, Allah berfirman:

قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا

"Katakanlah, masing-masing (kita) sedang menunggu, maka tunggulah kalian." (QS. Thaha: 135)

Sebelumnya Allah juga berfirman:

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى

"Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu dan waktu yang telah ditentukan..." (QS. Thaha: 129)

Menurut Imam As-Suyuthi, kedua ayat tersebut memberikan isyarat bahwa segala sesuatu telah memiliki waktu yang ditentukan oleh Allah. Penjelasan itu kemudian disempurnakan pada awal Surah Al-Anbiyā' melalui firman-Nya:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ

"Telah semakin dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian dan berpaling." (QS. Al-Anbiyā': 1)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa waktu yang dijanjikan Allah bukanlah sesuatu yang jauh. Hari hisab semakin dekat, sementara banyak manusia masih sibuk dengan urusan dunia dan lalai mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Hubungan kedua surah ini juga tampak pada firman Allah dalam Surah Thaha:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

"Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka." (QS. Thaha: 131)

Larangan untuk terpikat oleh kemewahan dunia menjadi semakin kuat ketika diingatkan bahwa hari kiamat sudah dekat. Jika dunia akan segera berakhir, maka tidak sepantasnya manusia menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal.

Dikisahkan bahwa ketika Surah Al-Anbiyā' turun, para sahabat sangat terpengaruh oleh kandungannya. Bahkan disebutkan bahwa surah tersebut membuat mereka melupakan kesibukan dunia karena begitu kuatnya peringatan tentang dekatnya hari kiamat dan hisab.

Pelajaran besar dari munasabah ini adalah bahwa Al-Qur'an mengajak manusia untuk selalu hidup dengan kesadaran akhirat. Kesadaran akan dekatnya hari hisab akan melahirkan semangat memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat, memperbaiki akhlak, dan tidak terpedaya oleh gemerlap dunia yang bersifat sementara.

Semoga dengan memahami hubungan antara Surah Thaha dan Surah Al-Anbiyā', kita semakin yakin bahwa susunan Al-Qur'an mengandung hikmah yang mendalam. Setiap perpindahan surah bukan sekadar pergantian tema, tetapi merupakan rangkaian petunjuk yang saling menguatkan agar manusia senantiasa mengingat Allah dan mempersiapkan diri menyambut kehidupan akhirat.

Alasan Kenapa Niat Baikmu Sering Gagal: Tiga Tahap dalam Mensukseskan Kebaikan

Alasan Kenapa Niat Baikmu Sering Gagal: Tiga Tahap dalam Mensukseskan Kebaikan

Abu Thayyib al-Mutanabi berkata:

وَمَا كُلُّ هَاوٍ لِلْجَمِيلِ بِفَاعِلٍ # وَلَا كُلُّ فَاعِلٍ لَهُ بِمُتَمِّمٍ

“Tidak setiap orang yang mencintai kebaikan akan mampu melakukannya, dan tidak setiap orang yang telah melakukannya mampu menyempurnakannya.” (Syarah diwan Al-Mutanabi, 323)

Berikut penjelasannya 

Banyak orang mencintai kebaikan. Mereka mengagumi para ulama, ingin menjadi ahli ibadah, bercita-cita menghafal Al-Qur'an, ingin berdakwah, atau berharap dapat membantu sesama. Namun, tidak semua orang yang mencintai kebaikan benar-benar melangkah untuk mewujudkannya. Bahkan, tidak sedikit yang telah memulai, tetapi berhenti sebelum mencapai akhir.

Syiir di atas mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju kebaikan memiliki tiga tahapan: niat yang tulus, tindakan nyata, dan istiqamah hingga tuntas. Ketiganya harus berjalan bersama.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa apabila seseorang benar-benar memiliki niat yang ikhlas, tetapi terhalang oleh uzur yang tidak dapat dihindari, maka Allah tetap mencatat pahala baginya.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

“Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang ketika mereka datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,' mereka pun kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih, sebab mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 92)

Ayat ini menggambarkan orang-orang yang tidak dapat ikut berjihad bukan karena malas, tetapi karena benar-benar tidak memiliki kemampuan. Kesedihan mereka menjadi bukti keikhlasan niat yang ada di dalam hati.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ بالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ؛ حَبَسَهُمُ العُذْرُ

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang. Setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melintasi sebuah lembah, mereka selalu bersama kalian (dalam pahala), hanya saja mereka terhalang oleh uzur.” (HR. Bukhari, 4423)

Hadis ini menunjukkan bahwa niat yang tulus tidak pernah sia-sia apabila benar-benar terhalang oleh alasan yang dibenarkan syariat. Akan tetapi, bagi orang yang mampu, niat harus diwujudkan dalam amal.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan agar setiap amal dilakukan dengan sebaik-baiknya. Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ يُحبُّ إذا عمِلَ أحدُكم عملًا أنْ يُتقِنَه

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan sebaik-baiknya.” (Al-Baihaqi, 4929)

Itqan berarti mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, teliti, berkualitas, dan tidak setengah-setengah. Seorang mukmin tidak hanya berusaha memulai, tetapi juga berusaha menyempurnakan amalnya.

Syaikh Abdul Fattah juga mengingatkan:

وَلَيْسَ كُلُّ مَا يُرَادُ مُرَادًا، وَلَا كُلُّ طَالِبٍ وَاجِدًا، وَلَا كُلُّ مُبْتَدِئٍ بِأَمْرٍ مَحْمُودٍ مُكَمِّلًا مَا بَدَأَ بِهِ! وَمَا كُلُّ مَا يَهْوَى امْرُؤٌ هُوَ نَائِلُهُ

“Tidak semua yang diinginkan akan tercapai, tidak setiap pencari akan memperoleh apa yang dicari, tidak setiap orang yang memulai pekerjaan yang baik mampu menyelesaikannya, dan tidak semua yang diinginkan seseorang akan berhasil ia raih.” (Qimatuz zaman 'indal ulama, 112)

Maqalah ini bukan untuk melemahkan semangat, melainkan mengajarkan kerendahan hati. Keberhasilan bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga taufik dari Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin selalu memohon pertolongan-Nya agar diberi kekuatan untuk menyelesaikan amal yang telah dimulai.

Epilog 

Marilah kita menjadi hamba yang tidak berhenti pada angan-angan. Niatkan setiap amal dengan ikhlas, wujudkan dalam tindakan nyata, kerjakan dengan penuh kesungguhan, dan mohonlah kepada Allah agar diberi istiqamah hingga akhir.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #amal #kebaikan 

Minggu, 02 Agustus 2026

Kajian Munasabah (17): Surah Taha dan Kisah-Kisah Para Nabi


Munasabah Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam: Kesinambungan Kisah Para Nabi dalam Al-Qur'an

Salah satu bukti keindahan susunan Al-Qur'an adalah adanya munāsabah, yaitu keterkaitan yang erat antara satu surah dengan surah berikutnya. Para ulama menjelaskan bahwa urutan surah dalam mushaf bukanlah susunan yang acak, melainkan mengandung hikmah dan rahasia yang mendalam. Di antara ulama yang banyak membahas hal ini adalah Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar.

Mengenai hubungan Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam, Imam As-Suyuthi mengutip riwayat dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Zaid bahwa Surah Ṭāhā diturunkan setelah Surah Maryam. Menurut beliau, urutan turunnya wahyu ini menjadi salah satu alasan mengapa Surah Ṭāhā ditempatkan setelah Surah Maryam dalam mushaf Al-Qur'an. Selain itu, kedua surah sama-sama diawali dengan huruf-huruf muqaṭṭa'ah. Surah Maryam dibuka dengan كهيعص, sedangkan Surah Ṭāhā diawali dengan طه. Kesamaan pembukaan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara keduanya.

As-Suyuthi juga menjelaskan sisi munasabah yang lebih mendalam. Dalam Surah Maryam, Allah menceritakan beberapa nabi. Kisah Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa disampaikan secara panjang lebar. Kisah Nabi Ibrahim dijelaskan dengan uraian yang tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu singkat. Adapun kisah Nabi Musa hanya disebut secara ringkas. Di penghujung Surah Maryam, Allah juga memberi isyarat secara umum tentang nabi-nabi yang lain tanpa menjelaskan kisah mereka secara rinci.

Di sinilah tampak hubungan yang sangat indah dengan Surah Ṭāhā. Surah ini hadir untuk menjelaskan secara lebih luas kisah Nabi Musa yang sebelumnya hanya disinggung secara singkat dalam Surah Maryam. Kisah Nabi Musa dipaparkan sejak beliau menerima wahyu di Lembah Ṭuwa, menghadapi Fir'aun, mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya, perjalanan Bani Israil, hingga peristiwa penyembahan anak sapi. Penjelasan ini merupakan salah satu kisah Nabi Musa yang paling lengkap dalam Al-Qur'an.

Selain itu, Surah Ṭāhā juga menguraikan kisah Nabi Adam `alaihis salam secara lebih rinci. Jika dalam Surah Maryam nama Nabi Adam hanya disebut sepintas, maka dalam Surah Ṭāhā dijelaskan tentang penciptaannya, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud, keengganan Iblis, godaan terhadap Adam dan Hawa, hingga turunnya mereka ke bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Surah Ṭāhā berfungsi sebagai pelengkap terhadap kisah-kisah yang telah disebutkan sebelumnya.

Kesinambungan ini berlanjut pada Surah Al-Anbiyā'. Setelah Surah Maryam memperkenalkan sejumlah nabi dan Surah Ṭāhā memperinci kisah Nabi Musa serta Nabi Adam, Surah Al-Anbiyā' melengkapi kisah para nabi lainnya, seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, dan Nabi Yunus. Dengan demikian, terdapat rangkaian kisah kenabian yang tersusun secara sistematis dan saling melengkapi.

Dari penjelasan Imam As-Suyuthi ini dapat dipahami bahwa susunan surah dalam Al-Qur'an memiliki keteraturan yang luar biasa. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya. Surah Maryam memberikan pengantar berbagai kisah nabi, Surah Ṭāhā memperluas pembahasan Nabi Musa dan Nabi Adam, sedangkan Surah Al-Anbiyā' menyempurnakan kisah nabi-nabi yang belum dijelaskan sebelumnya.

Memahami munasabah antarsurah akan semakin menumbuhkan keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang tersusun dengan penuh hikmah. Setiap urutan ayat dan surah mengandung pelajaran yang mendalam serta menunjukkan kesempurnaan kalam Allah yang tidak mungkin disusun secara kebetulan. Oleh karena itu, mempelajari munasabah bukan hanya memperkaya ilmu tafsir, tetapi juga memperdalam penghayatan terhadap keindahan dan kemukjizatan Al-Qur'an.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kajian Munasabah (16): Surah Maryam, Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an


Munasabah Surah Maryam dan Surah Al-Kahfi: Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an tidak disusun secara acak. Urutan setiap surah mengandung hikmah dan keterkaitan yang mendalam. Ilmu yang membahas hubungan antarsurah dikenal sebagai munāsabah. Salah satu hubungan yang menarik adalah antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa penempatan Surah Maryam setelah Surah Al-Kahfi memiliki keserasian tema yang sangat indah.

Surah Al-Kahfi dipenuhi kisah-kisah yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah di luar kebiasaan manusia. Di dalamnya terdapat kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun tanpa makan dan minum, kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir yang sarat dengan rahasia ilahi, serta kisah Dzulqarnain yang diberi kekuasaan besar untuk menegakkan keadilan.

Setelah berbagai kisah menakjubkan tersebut, Allah menurunkan Surah Maryam yang juga berisi mukjizat-mukjizat besar. Di antaranya adalah kelahiran Nabi Yahya dari pasangan Nabi Zakaria dan istrinya yang telah lanjut usia, serta kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam tanpa seorang ayah. Kedua peristiwa ini menjadi bukti bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!', maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin: 82)

Imam As-Suyuthi juga mengutip pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa Ashabul Kahfi akan dibangkitkan kembali menjelang Hari Kiamat dan akan berhaji bersama Nabi Isa ketika beliau turun ke bumi. Apabila riwayat ini benar, maka hubungan antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam menjadi semakin jelas, karena kisah Ashabul Kahfi berkaitan dengan Nabi Isa pada akhir zaman.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi adalah kaum yang hidup pada masa Nabi Isa atau termasuk pengikut ajarannya, sementara kisah mereka terjadi pada masa fatrah, yaitu masa kekosongan di antara para rasul. Oleh sebab itu, sangat tepat apabila kisah mereka diikuti dengan surah yang banyak mengisahkan Nabi Isa dan keluarganya.

Dari sini tampak bahwa susunan surah-surah dalam Al-Qur'an bukan sekadar urutan bacaan, melainkan rangkaian tema yang saling melengkapi. Surah Al-Kahfi mengajarkan keimanan melalui berbagai peristiwa luar biasa, sedangkan Surah Maryam melanjutkan pelajaran tersebut dengan mukjizat-mukjizat yang meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah.

Memahami munasabah antarsurah akan menambah kekaguman seorang mukmin terhadap keindahan susunan Al-Qur'an. Semakin dipelajari, semakin tampak bahwa setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya, sehingga seluruh Al-Qur'an menjadi satu kesatuan yang utuh, harmonis, dan penuh hikmah.

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas)

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas) 

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

العُلَمَاءُ إِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا، فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، فَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا

“Para ulama, ketika telah memiliki ilmu, mereka mengamalkannya. Ketika mengamalkannya, mereka sibuk. Ketika sibuk, mereka jarang terlihat. Ketika jarang terlihat, mereka dicari. Dan ketika dicari, mereka justru menghindar (dari jabatan).” (Ihya Ulumuddin 1/127)

Berikut penjelasannya:

Inilah karakter ulama yang sesungguhnya. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari pujian, jabatan, atau ketenaran. Ilmu yang mereka miliki justru mendorong mereka untuk semakin banyak beramal, semakin sibuk melayani umat, dan semakin takut terhadap penyakit riya' serta cinta kedudukan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa buah dari ilmu bukanlah kesombongan, melainkan rasa takut kepada Allah. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin rendah hatinya dan semakin berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya.

Karena itu, para ulama terdahulu sangat berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dapat merusak keikhlasan. Ja'far bin Muhammad berkata:

الْفُقَهَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْفُقَهَاءَ قَدْ رَكَنُوا إِلَى السَّلَاطِينِ فَاتَّهِمُوهُمْ

“Ulama ahli fikih adalah para pemegang amanah para rasul. Jika kalian melihat para ahli fikih terlalu bersandar kepada para penguasa, maka waspadalah terhadap mereka.” (Ithaf Sadah al-Muttaqin, 1/127)

Maqalah ini bukan berarti setiap ulama yang berhubungan dengan pemerintah pasti tercela. Maksudnya adalah peringatan agar ulama tidak menjual prinsip agama demi kepentingan kekuasaan. Amanah ilmu harus tetap dijaga, meskipun harus menghadapi risiko yang berat.

Tujuan seorang penuntut ilmu bukanlah dunia, tetapi menghidupkan agama Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَهُوَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ، وَدَرَجَتُهُ بَعْدَ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ

“Barang siapa menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk golongan ash-shiddiqin, dan kedudukannya berada setelah derajat kenabian.” (Miftah Dar as-Sa'adah, 1/185)

Inilah kemuliaan ilmu yang dilandasi niat yang benar. Ilmu menjadi jalan untuk membimbing manusia menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ilmu akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ - الحديث-

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengan ilmu tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, 2417)

Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus diamalkan. Sebab ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah.

Allah juga menjelaskan siapa yang layak memperoleh kebahagiaan akhirat:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)

Ayat ini menjadi penutup yang elegan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin hilang keinginan untuk merasa paling tinggi di hadapan manusia. Yang dicari bukan sanjungan, melainkan ridha Allah.

Epilog 

Jadikan ilmu sebagai jalan menuju amal, amal sebagai jalan menuju keikhlasan, dan keikhlasan sebagai jalan menuju ridha Allah. Sebab kemuliaan seorang alim bukan terletak pada seberapa terkenal namanya, melainkan pada seberapa besar manfaat ilmunya dan seberapa tulus ia mengamalkannya.

Jumat, 31 Juli 2026

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam 

Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nūr: 22)

Berikut penjelasannya:

Di antara akhlak yang paling berat untuk dilakukan, tetapi paling besar pahalanya, adalah memaafkan. Ketika disakiti, dihina, atau dikhianati, hati manusia cenderung ingin membalas. Namun, Islam mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kemuliaan jiwa.

Ayat di atas turun ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu 'anhu bersumpah tidak lagi membantu Misthah bin Utsatsah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk memaafkan dan tetap berbuat baik. Abu Bakar pun mencabut sumpahnya dan kembali memberikan bantuan.

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak membiarkan kebencian menghalangi dirinya dari berbuat baik.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syūrā: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa membalas kezaliman secara seimbang memang diperbolehkan. Akan tetapi, Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi, yaitu memaafkan demi memperbaiki keadaan. Bahkan, balasan bagi orang yang memaafkan tidak disebutkan besarannya, tetapi langsung dijamin oleh Allah: "Pahalanya menjadi tanggungan Allah." Ini menunjukkan betapa agungnya ganjaran tersebut.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللهُ لَكُمْ

“Sayangilah sesama, niscaya kalian akan disayangi. Maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ahmad, 6541)

Hadis ini mengajarkan bahwa perlakuan kita kepada manusia menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah kepada diri kita.

Al-Muntashir berkata:

لذَّةُ العَفوِ أطيَبُ مِن لذَّةِ التَّشَفِّي؛ وذلك أنَّ لذَّةَ العَفوِ يَلحَقُها حمدُ العاقبةِ، ولذَّةُ التَّشَفِّي يَلحَقُها ذَمُّ النَّدَمِ

“Nikmat memaafkan lebih manis daripada nikmat melampiaskan dendam. Sebab, kenikmatan memaafkan diikuti akibat yang terpuji, sedangkan kenikmatan membalas dendam sering berakhir dengan penyesalan dan celaan.” (Al-Bashā'ir wa Adz-Dzakhā'ir, 8/153)

Betapa banyak orang yang setelah melampiaskan amarah justru menyesal. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan akan merasakan ketenangan hati dan dihormati banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan:

وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيَهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ

“Di dalam sikap memaafkan, berlapang dada, dan santun terdapat manisnya hati, ketenteraman, ketenangan, kemuliaan jiwa, kehormatan, dan ketinggian martabat yang tidak akan pernah ditemukan dalam sikap membalas dendam.” (Madārij as-Sālikīn, 2/303)

Orang yang memaafkan justru memperoleh kebahagiaan batin yang lebih besar dibanding orang yang membalas dendam. Membalas mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi memaafkan memberi ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan kemuliaan diri yang abadi. Ini adalah ajaran Islam yang mengajak kita untuk meninggalkan ego dan mengutamakan kehormatan diri di sisi Allah, bukan kepuasan hawa nafsu.

Epilog 

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Terkadang luka yang diterima begitu dalam. Namun, setiap kali keinginan membalas muncul, ingatlah firman Allah di atas. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan ampunan Allah. Maka, salah satu jalan untuk meraihnya adalah belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Kamis, 30 Juli 2026

Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah


Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah

Nasab dan Masa Kecil

Di kota Tabriz, salah satu pusat ilmu pengetahuan di kawasan Irak al-'Ajam (kini termasuk wilayah Iran), lahirlah seorang ulama besar yang kelak menjadi cahaya bagi dunia Islam. Beliau adalah Al-Husain—dalam sebagian riwayat disebut Al-Hasan—bin Muhammad bin Abdullah. Nama beliau kemudian masyhur dengan dua nisbah: At-Thiybi, yang dinisbahkan kepada kampung halamannya, dan At-Tabrizi, sebagai penghormatan kepada kota kelahirannya, Tabriz.

Beliau lahir dari keluarga yang berkecukupan. Warisan keluarga dan keberhasilannya dalam dunia perdagangan menjadikannya seorang saudagar kaya. Namun, Allah menyiapkan jalan hidup yang berbeda. Kekayaan yang dimilikinya tidak menjadi sarana untuk mengejar kemewahan dunia, melainkan menjadi bekal untuk mengabdi kepada ilmu dan membela agama.

Karena kemuliaan ilmu dan akhlaknya, beliau kemudian dikenal dengan gelar Syarafuddin, yang berarti Kemuliaan Agama.

Mengorbankan Kekayaan demi Kemajuan Ilmu

Pada masa mudanya, Imam At-Thiybi termasuk orang yang hidup berkecukupan. Akan tetapi, sedikit demi sedikit hartanya diinfakkan di jalan Allah.

Beliau membiayai para penuntut ilmu dari berbagai negeri, menyediakan kebutuhan mereka, serta meminjamkan kitab-kitab berharganya kepada siapa pun yang ingin belajar. Tidak hanya kepada murid-murid yang beliau kenal, tetapi juga kepada orang-orang yang belum pernah ditemuinya. Tidak ada sekat dalam kedermawanannya.

Hingga menjelang akhir hayatnya, hampir seluruh hartanya telah habis untuk kepentingan ilmu. Sang saudagar kaya itu akhirnya hidup dalam kesederhanaan. Namun, kemiskinan itu justru menjadi kemuliaan, sebab ia lahir dari pengorbanan demi kemaslahatan umat.

Betapa indah teladan beliau: rela kehilangan harta agar umat tidak kehilangan ilmu.

Menguasai Ilmu Aqli dan Naqli

Imam At-Thiybi bukan sekadar seorang ahli hadis atau ahli tafsir. Beliau adalah seorang allamah, gelar yang hanya diberikan kepada ulama dengan keluasan ilmu yang luar biasa.

Beliau menguasai dua cabang ilmu sekaligus.

Pertama, ilmu ma'qul (ilmu rasional), seperti logika dan filsafat. Namun, beliau mempelajari disiplin tersebut bukan untuk membela pemikiran para filosof, melainkan untuk membantah berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Kedua, ilmu manqul (ilmu naqli), meliputi bahasa Arab, sastra, balaghah, tafsir, hadis, serta berbagai cabang ilmu syariat lainnya. Dalam bidang ilmu bayan dan ma'ani, beliau dikenal sangat mendalam sehingga mampu menyingkap berbagai rahasia keindahan bahasa Al-Qur'an dan hadis Nabi ﷺ.

Akhlak yang Menghiasi Keilmuannya

Ilmu yang tinggi pada diri Imam At-Thiybi berpadu dengan akhlak yang luhur.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu (katsîr al-hayâ'), rendah hati, serta memiliki kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Meskipun telah menjadi ulama besar, beliau tetap hidup sederhana dan jauh dari kesombongan.

Beliau juga sangat menjaga salat berjamaah. Siang maupun malam, musim panas ataupun musim dingin, beliau hampir tidak pernah meninggalkan masjid. Bahkan ketika penglihatannya mulai melemah karena usia, semangat ibadahnya tidak pernah surut.

Di samping itu, para ulama memuji beliau sebagai sosok yang memiliki akidah yang lurus (husn al-mu'taqad), istiqamah dalam mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan bersih dari berbagai penyimpangan pemikiran.

Membela Sunnah di Tengah Badai Fitnah

Salah satu sisi paling menonjol dari kehidupan Imam At-Thiybi adalah keberaniannya membela kebenaran.

Pada masa itu, berbagai aliran filsafat dan kelompok ahli bidah memiliki pengaruh yang cukup besar di sebagian wilayah Islam. Banyak orang memilih diam karena khawatir terhadap kekuasaan mereka.

Namun, Imam At-Thiybi tidak gentar. Dengan hujah yang kokoh dan ilmu yang mendalam, beliau membantah berbagai pemikiran yang menyimpang serta menjelaskan kesalahannya secara terbuka, meskipun harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

Beliau membuktikan bahwa keberanian sejati bukanlah mengangkat senjata, melainkan menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan hikmah.

Karya-Karya Monumental

Keilmuan Imam At-Thiybi melahirkan sejumlah karya besar yang terus menjadi rujukan para ulama hingga hari ini.

1. Al-Kasyif 'an Haqa'iqis Sunan

Inilah karya terbesar beliau, berupa syarah atas kitab Misykat al-Mashabih. Kitab ini mengupas hadis-hadis Nabi ﷺ dengan penjelasan yang sangat mendalam, memadukan aspek bahasa, fikih, akidah, dan balaghah.

Kitab ini menjadi rujukan utama bagi banyak ulama besar setelahnya, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Ali Al-Qari.

2. Futuhul Ghaib fi al-Kasyf 'an Qina'ir Raib

Karya ini merupakan hasyiyah yang sangat luas terhadap Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari.

Melalui kitab ini, Imam At-Thiybi membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus meluruskan berbagai penafsiran yang dipengaruhi pemikiran Mu'tazilah. Para ulama menilai kitab ini sebagai salah satu karya terbaik dalam membahas sisi akidah dan balaghah Al-Qur'an.

3. Al-Khulasah fi Ma'rifat al-Hadits

Sebuah kitab ringkas mengenai ilmu musthalah hadis yang menjadi panduan bagi para penuntut ilmu dalam memahami istilah-istilah para ahli hadis.

4. At-Tibyan fi al-Ma'ani wa al-Bayan

Kitab ini membahas ilmu balaghah secara mendalam dan menjadi bukti keluasan penguasaan beliau terhadap sastra Arab.

5. Kitab Tafsir yang Belum Selesai

Imam At-Thiybi juga memulai penulisan sebuah kitab tafsir Al-Qur'an.

Setiap hari beliau mengadakan majelis ilmiah. Sejak pagi hingga menjelang zuhur beliau mengajar tafsir, kemudian setelah zuhur hingga asar membacakan Shahih Al-Bukhari kepada para muridnya. Rutinitas tersebut beliau jalani dengan penuh istiqamah hingga akhir hayatnya.

Akhir Kehidupan yang Mengharukan

Hari Selasa, 13 Sya'ban 743 H (sekitar 1342 M), menjadi hari terakhir perjalanan hidup beliau.

Seperti hari-hari sebelumnya, beliau telah menyelesaikan majelis tafsir. Setelah itu beliau menuju masjid yang berada di samping rumahnya. Karena usia yang telah lanjut, beliau mengerjakan salat sunnah sambil duduk, lalu tetap berada di masjid menunggu iqamah salat zuhur.

Di tempat yang mulia itu, dalam keadaan menanti salat berjamaah dan menghadap kiblat, Allah memanggil hamba-Nya kembali.

Beliau wafat dalam suasana ibadah—sebuah husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap orang beriman.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Imam Syarafuddin At-Thiybi meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda: warisan ilmu.

Karya-karyanya terus dipelajari di berbagai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam hingga hari ini. Ketajaman ilmunya, keberaniannya membela Sunnah, serta pengorbanannya demi kemajuan ilmu menjadikan beliau salah satu tokoh besar dalam sejarah peradaban Islam.

Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar pengorbanannya untuk agama dan umat.


Referensi:

  • Bughyatul Wu'at karya Jalaluddin As-Suyuthi.
  • Ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  • Al-Badr ath-Thali' karya Asy-Syaukani.
  • Serta berbagai kitab tarajim klasik lainnya.

Mengapa Orang yang Suka Membully Justru Terlihat Punya Banyak Teman?


Mengapa Orang yang Suka Membully Justru Terlihat Punya Banyak Teman?

Tidak sedikit orang yang merasa heran ketika melihat seseorang yang gemar membully, menghina, atau merendahkan orang lain justru tampak memiliki banyak teman. Sekilas hal ini terlihat tidak masuk akal. Bukankah perilaku buruk seharusnya membuat seseorang dijauhi?

Faktanya, dalam psikologi sosial terdapat beberapa konsep yang dapat membantu menjelaskan fenomena ini.

Dominasi Sosial Membuat Sebagian Orang Tertarik

Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan fenomena ini adalah Social Dominance Theory. Teori ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, sebagian orang cenderung mengikuti atau mendekati individu yang dianggap memiliki kekuasaan, pengaruh, atau dominasi tinggi dalam suatu kelompok.

Seorang pembuli sering kali terlihat berani, vokal, tegas, bahkan tidak takut berkonflik. Sikap seperti ini dapat menimbulkan kesan bahwa ia memiliki status sosial yang kuat. Akibatnya, sebagian orang memilih berada di dekatnya, bukan karena benar-benar menyukai kepribadiannya, tetapi karena merasa lebih aman berada di pihak yang dominan.

Fenomena "Flying Monkey"

Dalam psikologi juga dikenal istilah flying monkey, yaitu orang-orang yang menjadi pendukung atau "pasukan" seorang pelaku perundungan.

Mereka mungkin ikut tertawa ketika korban dihina, membantu menyebarkan gosip, atau bahkan ikut menyakiti korban, padahal dalam hati mereka mengetahui bahwa tindakan tersebut adalah sesuatu yang salah.

Mengapa mereka melakukannya?

Sering kali alasannya sederhana: ingin mencari aman. Mereka takut jika tidak ikut mendukung, maka merekalah yang akan menjadi sasaran berikutnya.

Apa yang Mendorong Seseorang Menjadi Pembuli?

Setiap orang tentu memiliki latar belakang yang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua pelaku perundungan memiliki penyebab yang sama. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya faktor-faktor yang dapat berperan, di antaranya:

  • Kesulitan mengelola emosi dan kemarahan.
  • Keinginan memperoleh kekuasaan atau pengakuan dari kelompok.
  • Rasa rendah diri (insecure) yang kemudian ditutupi dengan merendahkan orang lain.
  • Lingkungan yang membiasakan perilaku agresif atau kurang memberikan teladan yang baik.

Sebagian pelaku merasa lebih "unggul" ketika berhasil membuat orang lain merasa kecil. Dengan menjatuhkan orang lain, mereka berharap posisi dirinya tampak lebih tinggi.

Mengapa Korban Sering Dipilih?

Tidak jarang seseorang menjadi sasaran karena memiliki kelebihan tertentu, seperti lebih pintar, lebih berprestasi, lebih disukai banyak orang, atau memiliki sesuatu yang memicu rasa iri.

Alih-alih memperbaiki diri, pelaku memilih menjatuhkan orang tersebut melalui ejekan, hinaan, atau pengucilan agar kepercayaan diri korban menurun dan perkembangannya terhambat.

Banyak Teman Belum Tentu Memiliki Persahabatan yang Sehat

Seseorang yang terlihat memiliki banyak teman belum tentu memiliki hubungan pertemanan yang tulus.

Ada kalanya lingkaran pertemanan itu hanya terbentuk karena rasa takut, kepentingan sesaat, atau keinginan mencari perlindungan. Hubungan seperti ini biasanya rapuh dan mudah berakhir ketika orang yang dominan kehilangan pengaruhnya.

Sebaliknya, persahabatan yang sehat dibangun di atas rasa saling menghormati, saling mendukung, dan tidak menjadikan orang lain sebagai korban demi hiburan atau keuntungan pribadi.

Penutup

Jika kita melihat seseorang yang berperilaku buruk tetapi tampak memiliki banyak teman, tidak perlu terburu-buru menganggap bahwa perilaku tersebut benar atau layak ditiru. Bisa jadi orang-orang di sekitarnya hanya sedang mencari rasa aman atau terbawa arus kelompok.

Yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang sehat, berani menolak perundungan, serta menjadi teman yang melindungi, bukan ikut menyakiti. Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak diukur dari banyaknya orang yang mengikutinya, melainkan dari akhlak, integritas, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Selasa, 28 Juli 2026

Jati diri Seseorang Muslim Terlihat dari Tiga Hal

Jati diri Seseorang Muslim Terlihat dari Tiga Hal

Imam Syafi'i berkata:

جَوْهَرُ الْمَرْءِ فِي خِلَالِ ثَلَاثٍ: كِتْمَانُ الْفَقْرِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ مِنْ عِفَّتِكَ أَنَّكَ غَنِيٌّ، وَكِتْمَانُ الْغَضَبِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ رَاضٍ، وَكِتْمَانُ الشِّدَّةِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ مُتَنَعِّمٌ

“Jati diri seseorang itu terletak pada tiga hal: menyembunyikan kefakiran sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau kaya; menyembunyikan kemarahan sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau ridha; dan menyembunyikan kesulitan sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau hidup bersenang-senang”

Refrensi: Manaqib asy-Syafi'i Lil Baihaqi 2/188

Senin, 27 Juli 2026

HUKUM UTANG MAYIT YANG DIWARISKAN KEPADA ANAKNYA



PERTANYAAN:

Hutang tidak langsung dibayar, tetapi hutangnya diwariskan ke anaknya? Bagaimana hukumnya menurut fiqih?


JAWABAN:

Utang mayit wajib dilunasi dengan menggunakan tirkah (harta peninggalan) yang ditinggalkannya, apabila harta tersebut mencukupi. Adapun jika mayit tidak meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk melunasi utangnya, maka tidak ada kewajiban bagi ahli waris maupun orang lain untuk menanggung dan melunasinya dari harta mereka sendiri. Namun jika ahli waris dengan sukarela melunasinya, maka hal itu diperbolehkan dan utang mayit dianggap lunas.


REFERENSI:

١. بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِينَ (ص: ١٣٧-١٣٨)

لَوْ مَاتَ مَيِّتٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، لَمْ يَجِبْ عَلَى وَلِيِّهِ قَضَاؤُهُ مِنْ مَالِهِ، فَإِنْ تَطَوَّعَ بِذَلِكَ تَأَدَّى الدَّيْنُ عَنْهُ.


٢. إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ (ج ٣، ص ٢٦١)

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْمَوَارِيثِ: فَهْمُ مَسَائِلِ قِسْمَةِ التَّرَكَاتِ، وَبِعِلْمِ الْحِسَابِ: إِدْرَاكُ مَسَائِلِ الْحِسَابِ، وَمَوْضُوعُهُ: التَّرَكَاتُ، وَغَايَتُهُ: مَعْرِفَةُ مَا يَخُصُّ كُلَّ ذِي حَقٍّ مِنَ التَّرِكَةِ.

وَالتَّرِكَةُ: مَا خَلَّفَهُ الْمَيِّتُ مِنْ مَالٍ أَوْ حَقٍّ، وَيَتَعَلَّقُ بِهَا خَمْسَةُ حُقُوقٍ مُرَتَّبَةٍ:

1. الأَوَّلُ: الْحَقُّ الْمُتَعَلِّقُ بِعَيْنِ التَّرِكَةِ، كَالزَّكَاةِ، وَالْجِنَايَةِ، وَالرَّهْنِ.
2. الثَّانِي: مُؤَنُ التَّجْهِيزِ بِالْمَعْرُوفِ.
3. الثَّالِث: الدُّيُونُ الْمُرْسَلَةُ فِي الذِّمَّةِ.
4. الرَّابِع: الْوَصَايَا بِالثُّلُثِ فَمَا دُونَهُ لِأَجْنَبِيٍّ.
5. الْخَامِس: الْإِرْثُ.

وَقَدْ نَظَمَ ذَلِكَ ابْنُ رَسْلَانَ فِي زُبْدِهِ بِقَوْلِهِ:

يُبْدَأُ مِنْ تَرِكَةِ الْمَيِّتِ بِحَقِّ ... كَالرَّهْنِ وَالزَّكَاةِ بِالْعَيْنِ اعْتَلَقْ
فَمُؤَنُ التَّجْهِيزِ بِالْمَعْرُوفِ فَدَيْنُهُ ... ثُمَّ الْوَصَايَا تُوَفَّى مِنْ ثُلْثِ بَاقِي الْإِرْثِ إِلَخْ


KESIMPULAN:

Kondisi Hukum
Mayit meninggalkan harta (tirkah) Utang wajib dilunasi dari harta peninggalan sebelum dibagi waris.

Mayit tidak meninggalkan harta Ahli waris tidak wajib melunasi utang dari harta pribadi mereka.
Ahli waris ingin melunasi dengan sukarela Diperbolehkan (tathawwu') dan utang dianggap lunas.

Catatan: Urutan prioritas harta mayit:

1. Hak yang berkaitan dengan 'ain (zakat, rahn, dll.)
2. Biaya pengurusan jenazah
3. Utang
4. Wasiat (maksimal ⅓)
5. Pembagian waris kepada ahli waris.


Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Ngaji Itqon (17): Keindahan Penutup-Penutup Surah dalam Al-Qur'an


Keindahan Penutup-Penutup Surah dalam Al-Qur'an (Khawātim as-Suwar)

Al-Qur'an bukan hanya memiliki kandungan yang agung, tetapi juga tersusun dengan balaghah (keindahan bahasa) yang luar biasa. Salah satu bentuk keindahan tersebut tampak pada penutup setiap surah atau yang dikenal dengan istilah Khawātim as-Suwar. Sebagaimana pembuka surah dirancang untuk menarik perhatian pembaca, penutup surah disusun sedemikian rupa agar meninggalkan kesan yang kuat dan mengokohkan pesan yang telah disampaikan.

Para ulama menjelaskan bahwa penutup surah merupakan bagian terakhir yang didengar atau dibaca. Oleh karena itu, Allah menutup setiap surah dengan kalimat-kalimat yang penuh hikmah, sehingga pembaca merasakan bahwa pembahasan telah sempurna dan tidak lagi menunggu penjelasan setelahnya.

Isi penutup surah sangat beragam. Ada yang berupa doa, seperti dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah yang berisi permohonan ampunan, pertolongan, dan perlindungan kepada Allah. Ada pula yang berupa wasiat sebagaimana penutup Surah Ali 'Imran, serta hukum-hukum syariat seperti penutup Surah An-Nisa' yang membahas persoalan warisan. Penutup Surah An-Nisa' sangat tepat karena berkaitan dengan kematian, yang merupakan akhir perjalanan setiap manusia.

Sebagian surah ditutup dengan pujian dan pengagungan kepada Allah, seperti Surah Al-Ma'idah. Ada pula yang diakhiri dengan janji pahala dan ancaman siksa sebagaimana Surah Al-An'am. Surah Al-A'raf ditutup dengan gambaran para malaikat yang senantiasa bertasbih, sehingga menjadi dorongan bagi manusia untuk tekun beribadah.

Penutup Surah Al-Anfal mengingatkan pentingnya berjihad di jalan Allah dan menjaga hubungan kekeluargaan. Sementara itu, Surah At-Taubah ditutup dengan pujian terhadap Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang kepada umatnya. Adapun Surah Yunus dan Surah Hud diakhiri dengan kalimat-kalimat yang menghibur serta menguatkan hati Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi berbagai penentangan.

Keindahan penutup surah juga tampak pada Surah Yusuf yang mengakhiri kisahnya dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk, rahmat, dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Surah Ar-Ra'd ditutup dengan bantahan terhadap orang-orang yang mendustakan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Di antara penutup surah yang paling jelas menunjukkan berakhirnya pembahasan adalah penutup Surah Ibrahim:

"Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya." (QS. Ibrahim: 52)

Demikian pula penutup Surah Al-Hijr:

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa ibadah tidak mengenal masa pensiun. Seorang mukmin diperintahkan untuk terus beribadah hingga akhir hayatnya.

Keindahan susunan Al-Qur'an juga tampak pada Surah Az-Zalzalah. Surah ini dibuka dengan gambaran dahsyatnya Hari Kiamat, kemudian ditutup dengan penegasan bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan dari Allah. Penutup ini menanamkan rasa tanggung jawab kepada setiap manusia atas seluruh perbuatannya.

Para ulama juga menjelaskan bahwa ayat terakhir yang diturunkan, yaitu firman Allah:

"Dan takutlah kamu pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 281)

mengandung isyarat yang sangat kuat tentang kehidupan akhirat dan kepastian kematian.

Demikian pula Surah An-Nashr, yang merupakan surah terakhir yang diturunkan secara utuh. Ibnu Abbas r.a. memahami bahwa surah tersebut bukan sekadar kabar kemenangan Islam, melainkan juga pemberitahuan dari Allah bahwa masa hidup Rasulullah ﷺ telah mendekati akhir. Umar bin Khattab r.a. membenarkan pemahaman tersebut dan mengakui bahwa itulah makna yang paling tepat.

Dari seluruh contoh tersebut dapat dipahami bahwa penutup setiap surah selalu memiliki hubungan yang erat dengan tema surah secara keseluruhan. Penutup bukan sekadar akhir bacaan, tetapi merupakan penegasan terhadap pesan utama, ajakan untuk merenung, serta bekal bagi seorang mukmin dalam mengamalkan isi Al-Qur'an.

Mempelajari Khawātim as-Suwar semakin memperlihatkan kesempurnaan susunan Al-Qur'an. Tidak ada satu pun ayat yang diletakkan tanpa hikmah. Setiap penutup surah menjadi bukti bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah yang sempurna, indah susunannya, mendalam maknanya, dan selalu relevan sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Minggu, 26 Juli 2026

Ngaji Itqon (17): Fawātiḥus Suwar, Keindahan Pembuka Surah Al-Qur'an


Fawātiḥus Suwar: Keindahan Pembukaan Surah-Surah Al-Qur'an

Al-Qur'an bukan hanya mukjizat dari sisi kandungan hukumnya, akidahnya, dan petunjuk hidupnya, tetapi juga merupakan mukjizat dalam susunan bahasanya. Salah satu bukti keindahan tersebut tampak pada Fawātiḥus Suwar, yaitu berbagai bentuk pembukaan surah-surah Al-Qur'an. Para ulama menjelaskan bahwa Allah Swt. membuka seluruh surah Al-Qur'an dengan sepuluh bentuk pembukaan yang penuh makna, sehingga setiap awal surah mampu menarik perhatian pembaca sekaligus menjadi pengantar bagi tema yang akan dibahas.

Allah Swt. berfirman:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

"Inilah suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."
(QS. Hūd: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap susunan Al-Qur'an, termasuk pembukaan setiap surah, disusun dengan hikmah dan kebijaksanaan yang sempurna.

Sepuluh Bentuk Pembukaan Surah

1. Pembukaan dengan Pujian kepada Allah

Sebagian surah diawali dengan pujian kepada Allah, baik melalui lafaz Alhamdulillāh, Tabāraka, maupun Tasbih. Pembukaan ini mengajarkan bahwa segala pujian hanya milik Allah dan menjadi landasan utama sebelum membahas berbagai ajaran Islam.

2. Pembukaan dengan Huruf Muqaṭṭa'ah

Sebanyak 29 surah diawali dengan huruf-huruf seperti الم، الر، يس، طه، حم. Huruf-huruf ini menjadi salah satu rahasia Al-Qur'an yang menunjukkan kemukjizatannya. Meskipun terdiri dari huruf-huruf yang dikenal oleh bangsa Arab, mereka tetap tidak mampu menyusun sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur'an.

3. Pembukaan dengan Seruan

Sebagian surah dibuka dengan panggilan kepada Rasulullah ﷺ atau kepada orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan pentingnya pesan yang akan disampaikan setelahnya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya."
(QS. Āli 'Imrān: 102)

4. Pembukaan dengan Kalimat Berita

Banyak surah dimulai dengan kalimat berita, seperti "Qad aflaḥal mu'minūn" atau "Innā fataḥnā laka fatḥan mubīnā". Bentuk ini memberikan penegasan tentang suatu hakikat, kabar gembira, maupun peringatan.

5. Pembukaan dengan Sumpah

Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya, seperti matahari, malam, fajar, bintang, angin, gunung, dan lainnya. Sumpah ini bukan karena makhluk tersebut memiliki kekuasaan sendiri, tetapi untuk menunjukkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.

Allah berfirman:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari."
(QS. Asy-Syams: 1)

6. Pembukaan dengan Kalimat Syarat

Beberapa surah diawali dengan kalimat syarat, seperti "Idzā waqa'atil wāqi'ah" atau "Idzā zulzilatil arḍu zilzālahā", yang menggambarkan peristiwa besar pada hari kiamat sehingga membangkitkan perhatian pembaca.

7. Pembukaan dengan Perintah

Sebagian surah dibuka dengan kata perintah, seperti Iqra' dan Qul. Perintah ini menunjukkan pentingnya wahyu yang akan disampaikan.

Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ juga dimulai dengan perintah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-'Alaq: 1)

8. Pembukaan dengan Pertanyaan

Sebagian surah diawali dengan pertanyaan, misalnya "Hal atā 'alal-insān" atau "'Amma yatasa'alūn". Pertanyaan tersebut bertujuan menggugah akal dan mendorong manusia untuk berpikir serta merenungkan kandungannya.

9. Pembukaan dengan Doa atau Kutukan

Beberapa surah dimulai dengan ungkapan seperti "Wailun" (celakalah). Bentuk ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang yang melakukan dosa besar, seperti mengurangi timbangan atau gemar mencela sesama.

10. Pembukaan dengan Ta'līl (Penyebutan Sebab)

Surah Quraisy diawali dengan kalimat "Li īlāfi Quraisy", yang menjelaskan sebab Allah memberikan berbagai nikmat kepada kaum Quraisy dan mengapa mereka wajib menyembah-Nya.

Hikmah Fawātiḥus Suwar

Keberagaman pembukaan surah menunjukkan kesempurnaan balaghah Al-Qur'an. Setiap bentuk dipilih sesuai dengan tema yang akan dibahas, sehingga mampu menarik perhatian pembaca sejak awal. Hal ini juga menjadi bukti bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia.

Selain itu, variasi pembukaan mengajarkan bahwa dakwah dapat disampaikan dengan berbagai pendekatan: melalui pujian, perintah, pertanyaan, berita, sumpah, maupun peringatan. Semua itu bertujuan agar manusia lebih mudah menerima petunjuk Allah.

Penutup

Mempelajari Fawātiḥus Suwar bukan sekadar mengetahui bentuk-bentuk pembukaan surah, tetapi juga mengagumi keindahan susunan Al-Qur'an yang luar biasa. Semakin dalam seseorang memahami rahasia bahasa Al-Qur'an, semakin bertambah pula keyakinannya bahwa Al-Qur'an benar-benar merupakan wahyu Allah yang penuh hikmah dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Sebagaimana firman Allah Swt.:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

"Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an?"
(QS. Muhammad: 24)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa membaca, memahami, mengamalkan, dan mentadabburi Al-Qur'an dalam setiap aspek kehidupan.

Sabtu, 25 Juli 2026

Ngaji Itqon (14): Perintah dan Larangan dalam Al-Qur'an Tidak Selalu Bermakna Wajib dan Haram


Memahami Rahasia Perintah dan Larangan dalam Al-Qur'an: Tidak Selalu Bermakna Wajib dan Haram

Banyak orang memahami bahwa setiap kalimat perintah dalam Al-Qur'an pasti berarti wajib, sedangkan setiap larangan pasti berarti haram. Padahal, dalam ilmu balaghah (retorika Arab), makna amar (perintah) dan nahy (larangan) jauh lebih luas. Makna yang dimaksud bergantung pada konteks ayat dan tujuan pembicaraan.

Allah Swt. berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."
(QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menunjukkan pentingnya memahami perintah dan larangan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Hakikat Amar (Perintah)

Dalam ilmu balaghah, amar adalah tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan. Bentuknya antara lain menggunakan kata kerja perintah (if'al) atau bentuk liyaf'al (hendaklah ia melakukan).

Secara asal, amar menunjukkan kewajiban, sebagaimana firman Allah:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

"Dirikanlah salat."
(QS. Al-Baqarah: 43)

Namun, tidak semua perintah dalam Al-Qur'an bermakna wajib. Di antaranya ada yang bermakna:

  • Anjuran.
  • Kebolehan.
  • Doa.
  • Ancaman.
  • Penghinaan.
  • Penundukan.
  • Menunjukkan ketidakmampuan (ta'jiz).
  • Pemberian nikmat.
  • Menimbulkan rasa kagum.
  • Persamaan.
  • Petunjuk.
  • Meremehkan.
  • Peringatan.
  • Pemuliaan.
  • Mengingatkan nikmat Allah.
  • Membantah kebatilan.
  • Musyawarah.
  • Mengajak mengambil pelajaran.

Misalnya firman Allah:

فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

"Datangkanlah satu surah yang semisal dengannya."
(QS. Al-Baqarah: 23)

Perintah ini bukan berarti Allah mengharapkan mereka mampu melakukannya, tetapi untuk membuktikan bahwa manusia tidak akan sanggup menandingi Al-Qur'an.

Contoh lain adalah doa Nabi Musa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي

"Ya Tuhanku, ampunilah aku."
(QS. Al-Qashash: 16)

Bentuknya berupa perintah, tetapi maknanya adalah doa seorang hamba kepada Tuhannya.

Hakikat Nahy (Larangan)

Nahy adalah tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan. Bentuknya menggunakan kalimat لا تفعل (jangan melakukan).

Pada asalnya, nahy menunjukkan keharaman, namun dalam banyak ayat Al-Qur'an maknanya dapat berubah sesuai konteks.

Di antara makna larangan adalah:

  • Makruh.
  • Doa.
  • Petunjuk.
  • Persamaan.
  • Meremehkan dunia.
  • Menjelaskan akibat suatu perbuatan.
  • Memutus harapan orang kafir.
  • Penghinaan.

Allah berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

"Janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong."
(QS. Al-Isra': 37)

Larangan ini mengajarkan adab dan akhlak mulia agar manusia tidak bersikap angkuh.

Sedangkan doa orang-orang beriman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami."
(QS. Ali 'Imran: 8)

Kalimat larangan di sini bukan ditujukan untuk melarang Allah, tetapi merupakan bentuk doa dan permohonan kepada-Nya.

Hikmah Mempelajari Amar dan Nahy

Memahami makna amar dan nahy merupakan kunci penting dalam menafsirkan Al-Qur'an dan hadis. Dengan mempelajarinya, seseorang tidak akan tergesa-gesa menetapkan hukum hanya berdasarkan bentuk kalimat. Ia akan melihat konteks, tujuan, serta petunjuk para ulama tafsir dan usul fikih.

Inilah keindahan balaghah Al-Qur'an. Satu bentuk kalimat dapat mengandung banyak makna yang indah dan mendalam sesuai dengan maksud Allah Swt.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penutup

Ilmu balaghah mengajarkan bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an bukan hanya terletak pada susunan katanya, tetapi juga pada keluasan maknanya. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya mempelajari amar dan nahy secara mendalam agar mampu memahami pesan-pesan Al-Qur'an sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Dengan demikian, bacaan Al-Qur'an tidak hanya indah di lisan, tetapi juga benar dalam pemahaman dan pengamalannya.

Mengapa Orang Zaman Dulu Terlihat Lebih Sehat?


Mengapa Orang Zaman Dulu Terlihat Lebih Sehat? Benarkah Gaya Hidup Modern Perlahan Merampas Kesehatan Kita?

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195)

Sering kali kita mendengar cerita dari para kakek dan nenek bahwa pada masa muda mereka, pergi ke rumah sakit adalah sesuatu yang jarang terjadi. Mereka tetap mampu bekerja keras hingga usia lanjut, berjalan jauh tanpa mengeluh, bahkan masih memiliki tenaga yang luar biasa di masa senja.

Bandingkan dengan kondisi sekarang. Anak-anak dan remaja sudah tidak asing lagi dengan berbagai diagnosis penyakit, mulai dari obesitas, diabetes, alergi, gangguan hormon, hingga masalah kesehatan mental. Muncul pertanyaan besar: apakah semua ini semata-mata takdir, ataukah ada perubahan besar dalam pola hidup manusia yang menjadi penyebabnya?

Para ilmuwan menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dan gaya hidup selama beberapa dekade terakhir memang telah mengubah profil kesehatan manusia secara signifikan.

1. Makanan Ultra-Proses: Nikmat Sesaat, Dampak Berkepanjangan

Generasi terdahulu umumnya mengonsumsi makanan yang sederhana dan alami. Sayur dipetik dari kebun, buah langsung dari pohonnya, serta lauk diolah tanpa tambahan berbagai zat kimia.

Sebaliknya, masyarakat modern sangat akrab dengan makanan ultra-proses: mi instan, minuman tinggi gula, makanan cepat saji, camilan kemasan, serta aneka makanan dengan pengawet, pewarna, penyedap, dan pemanis buatan.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya peradangan kronis, obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker. Peradangan kronis inilah yang menjadi awal munculnya berbagai penyakit degeneratif pada usia yang semakin muda.

Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا﴾

"Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik." (QS. Al-Baqarah: 168)

Islam tidak hanya memerintahkan makanan yang halal, tetapi juga ṭayyib—baik, bersih, dan menyehatkan.

2. Semakin Jauh dari Alam, Semakin Rentan Tubuh

Anak-anak zaman dahulu tumbuh dengan bermain di sawah, kebun, sungai, dan lapangan terbuka. Mereka lebih sering terkena sinar matahari, bergerak aktif, serta berinteraksi dengan lingkungan alami.

Kini, sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan, ditemani pendingin udara, gawai, dan layar digital. Di sisi lain, polusi udara, asap kendaraan, serta berbagai bahan kimia lingkungan semakin meningkat.

Para ahli menemukan bahwa kurangnya interaksi dengan lingkungan alami dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma tubuh, sementara polusi udara meningkatkan risiko gangguan pernapasan, penyakit jantung, hingga gangguan perkembangan anak.

Tubuh manusia pada hakikatnya diciptakan untuk hidup berdampingan dengan alam, bukan terpisah darinya.

3. Kurang Bergerak dan Terlalu Banyak Stres

Orang zaman dahulu tidak mengenal istilah workout, tetapi hampir setiap aktivitas mereka adalah olahraga. Berjalan kaki, bertani, mengangkat beban, atau bekerja di luar rumah membuat tubuh tetap aktif setiap hari.

Sebaliknya, kehidupan modern membuat banyak orang duduk berjam-jam di depan komputer atau gawai. Aktivitas fisik berkurang drastis, sementara tekanan mental justru meningkat.

Media sosial, tuntutan pekerjaan, tekanan akademik, hingga cyberbullying membuat hormon stres (kortisol) terus meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan sistem imun, meningkatkan tekanan darah, mengganggu kualitas tidur, bahkan mempercepat munculnya penyakit kronis.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya menjaga kekuatan fisik.

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ»

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan." (HR. Muslim)

Kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan iman, mental, maupun fisik.

Kembali kepada Gaya Hidup yang Lebih Sehat

Bukan berarti orang zaman dahulu kebal terhadap penyakit. Mereka juga bisa sakit. Namun, secara umum mereka menjalani kehidupan yang lebih selaras dengan kebutuhan biologis manusia: makan makanan alami, banyak bergerak, tidur lebih teratur, lebih sedikit terpapar polusi kimia, dan hidup dengan ritme yang lebih sederhana.

Kemajuan teknologi adalah nikmat yang patut disyukuri. Namun, kemudahan hidup jangan sampai membuat kita meninggalkan prinsip-prinsip dasar kesehatan yang telah Allah tetapkan melalui fitrah manusia.

Tidak semua penyakit dapat dicegah, tetapi banyak penyakit dapat diminimalkan dengan memperbaiki pola makan, memperbanyak aktivitas fisik, mengelola stres, menjaga kualitas tidur, serta mendekatkan diri kepada Allah.

Karena sejatinya, menjaga kesehatan bukan hanya kebutuhan dunia, tetapi juga bagian dari amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Jumat, 24 Juli 2026

Ngaji Itqon (12): Memahami Al-Khabar dan Al-Insyā'


Memahami Al-Khabar dan Al-Insyā': Keindahan Gaya Bahasa Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan kitab suci yang tidak hanya sempurna dari sisi kandungan, tetapi juga memiliki keindahan bahasa yang luar biasa. Salah satu cabang ilmu yang mengkaji keindahan tersebut adalah ilmu balaghah. Dalam ilmu ini dikenal dua bentuk utama kalam (ucapan), yaitu al-khabar (kalimat berita) dan al-insyā' (kalimat nonberita). Memahami keduanya akan membantu kita menangkap pesan Al-Qur'an secara lebih mendalam.

Para ulama nahwu dan balaghah sepakat bahwa seluruh kalam hanya terbagi menjadi dua jenis, yaitu khabar dan insyā', tanpa ada pembagian ketiga. Al-khabar adalah kalimat yang dapat dinilai benar atau salah, sedangkan al-insyā' adalah kalimat yang tidak dapat dinilai benar atau salah karena bertujuan membentuk suatu tindakan, permintaan, atau ungkapan tertentu.

Tujuan utama kalimat khabar adalah menyampaikan informasi kepada pendengar. Namun, dalam Al-Qur'an, kalimat khabar sering kali tidak hanya berfungsi sebagai pemberi informasi. Khabar juga dapat bermakna perintah, larangan, maupun doa.

Misalnya firman Allah:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ
"Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya." (QS. Al-Baqarah: 233)

Bentuknya adalah kalimat berita, tetapi maknanya merupakan perintah agar para ibu menyusui anaknya.

Contoh lain adalah firman Allah:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
"Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. Al-Waqi'ah: 79)

Ayat ini dipahami oleh banyak ulama sebagai bentuk larangan bagi orang yang tidak suci untuk menyentuh mushaf.

Adapun firman Allah:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sungguh binasa dia." (QS. Al-Lahab: 1)

Selain sebagai pemberitahuan, ayat ini juga mengandung makna doa kebinasaan bagi Abu Lahab.

Sementara itu, salah satu bentuk insyā' yang paling banyak ditemukan dalam Al-Qur'an adalah istifham (kalimat tanya). Istifham pada dasarnya berarti meminta penjelasan, namun dalam balaghah Al-Qur'an, pertanyaan sering kali tidak dimaksudkan untuk memperoleh jawaban. Justru di balik bentuk pertanyaan itu tersimpan makna yang sangat dalam.

Para ulama menjelaskan bahwa istifham dalam Al-Qur'an memiliki banyak fungsi, di antaranya:

  • Pengingkaran (الإنكار)
  • Celaan atau teguran (التوبيخ)
  • Peneguhan atau pengakuan (التقرير)
  • Mengungkapkan keheranan (التعجب)
  • Teguran yang lembut (العتاب)
  • Peringatan (التذكير)
  • Kebanggaan (الافتخار)
  • Pengagungan (التفخيم)
  • Menimbulkan rasa takut (التهويل والتخويف)
  • Mempermudah atau meringankan (التسهيل)
  • Ancaman (التهديد والوعيد)
  • Penyamaan dua keadaan (التسوية)
  • Bermakna perintah (الأمر)
  • Menarik perhatian (التنبيه)
  • Memberikan motivasi (الترغيب)
  • Bermakna larangan (النهي)
  • Bermakna doa (الدعاء)
  • Meminta petunjuk (الاسترشاد)

Sebagai contoh, Allah berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya?" (QS. Az-Zumar: 36)

Ayat ini bukan bertujuan meminta jawaban, melainkan meneguhkan keyakinan bahwa Allah benar-benar mencukupi hamba-Nya.

Contoh lain adalah firman Allah:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ
"Bagaimana kalian dapat kafir kepada Allah?" (QS. Al-Baqarah: 28)

Kalimat ini bukan sekadar pertanyaan, melainkan ungkapan keheranan terhadap orang-orang yang mengingkari Allah setelah menyaksikan begitu banyak tanda kekuasaan-Nya.

Dari pembahasan ini tampak bahwa setiap susunan kalimat dalam Al-Qur'an memiliki tujuan yang sangat tepat. Bentuk berita bisa bermakna perintah atau doa, sedangkan bentuk pertanyaan dapat mengandung teguran, ancaman, motivasi, bahkan pengakuan. Inilah salah satu bukti kemukjizatan bahasa Al-Qur'an yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga sangat kaya makna.

Oleh karena itu, mempelajari ilmu balaghah bukan sekadar memahami teori bahasa Arab. Ilmu ini menjadi kunci untuk menghayati keindahan, ketepatan, dan kedalaman pesan Al-Qur'an sehingga setiap ayat dapat dipahami sesuai dengan maksud yang dikehendaki Allah SWT.

Rabu, 22 Juli 2026

Kajian Itqon (12): Menakar Keindahan Al-Qur’an Lewat Kinayah dan Ta'ridh


Kinayah dan Ta'ridh: Keindahan Bahasa Al-Qur'an yang Sarat Makna

Al-Qur'an bukan sekadar kitab petunjuk, tetapi juga mukjizat dalam aspek bahasa. Setiap kata, susunan kalimat, dan gaya bahasanya dipilih dengan penuh hikmah. Di antara keindahan balaghah Al-Qur'an adalah penggunaan kinayah (الكناية) dan ta'ridh (التعريض). Keduanya mengajarkan bahwa menyampaikan pesan tidak selalu harus dilakukan secara langsung. Justru, ungkapan yang halus sering kali lebih menyentuh hati dan lebih mudah diterima.

Allah Swt. berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
"Dialah yang menciptakan kamu dari satu jiwa." (QS. Al-A'raf: 189)

Ungkapan "satu jiwa" merupakan kinayah yang menunjuk kepada Nabi Adam a.s. Al-Qur'an tidak menyebut nama Adam secara langsung, tetapi menggunakan ungkapan yang lebih indah dan mengandung makna mendalam tentang asal-usul seluruh umat manusia.

Apa Itu Kinayah?

Kinayah adalah penggunaan suatu lafaz yang makna lahiriahnya tetap benar, tetapi yang dimaksud adalah makna lain yang menjadi konsekuensi dari makna tersebut. Gaya bahasa ini menjadikan penyampaian lebih santun, lebih indah, dan lebih mengena.

Salah satu contoh yang sering dijumpai adalah ketika Al-Qur'an membicarakan hubungan suami istri. Allah tidak menggunakan kata-kata yang vulgar, melainkan memakai ungkapan seperti mulāmasah (bersentuhan), mubāsyarah (bercampur), ifdhā' (berhubungan), dan sirran (secara rahasia). Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi adab dalam bertutur kata.

Hikmah Penggunaan Kinayah

Para ulama menjelaskan bahwa kinayah dalam Al-Qur'an memiliki beberapa tujuan.

Pertama, untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Kedua, menjaga kesopanan bahasa ketika membicarakan hal-hal yang sensitif. Ketiga, memperindah ungkapan sehingga makna menjadi lebih kuat. Keempat, meringkas kalimat tanpa mengurangi kandungan maknanya. Kelima, memberi isyarat tentang akibat atau tempat kembali seseorang, sebagaimana pada kisah Abu Lahab yang menjadi simbol penghuni neraka.

Semua itu menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengajarkan bukan hanya apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

Ta'ridh: Menasihati Tanpa Menyakiti

Selain kinayah, Al-Qur'an juga menggunakan ta'ridh, yaitu menyampaikan suatu maksud secara tidak langsung.

Allah berfirman:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي
"Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku?" (QS. Yasin: 22)

Sekilas ayat ini berbicara tentang diri pembicara. Namun sesungguhnya yang dimaksud adalah mengajak kaumnya agar menyembah Allah. Inilah keindahan ta'ridh: mengajak orang lain kepada kebenaran tanpa membuat mereka merasa diserang.

Contoh lain adalah firman Allah:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
"Seandainya engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah amalmu." (QS. Az-Zumar: 65)

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, padahal beliau telah dijaga dari perbuatan syirik. Tujuan sebenarnya adalah memberikan pelajaran kepada seluruh umat agar menjauhi syirik.

Pelajaran untuk Kehidupan

Kinayah dan ta'ridh mengajarkan adab komunikasi yang sangat relevan hingga saat ini. Di tengah maraknya ucapan kasar, sindiran yang melukai, dan komentar yang menyakiti di media sosial, Al-Qur'an justru mengajarkan kelembutan dalam bertutur.

Allah Swt. berfirman:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
"Ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik." (QS. Al-Baqarah: 83)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Seorang mukmin tidak hanya menjaga isi pembicaraannya, tetapi juga cara menyampaikannya. Nasihat yang lembut lebih mudah diterima daripada celaan yang keras. Kritik yang santun lebih membangun daripada kata-kata yang menyakitkan.

Penutup

Kinayah dan ta'ridh membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat bahasa yang tiada tanding. Keindahan ungkapannya bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga menjadi pedoman dalam berkomunikasi. Semakin kita mempelajari balaghah Al-Qur'an, semakin kita memahami bahwa kelembutan, kesantunan, dan kebijaksanaan dalam berbicara merupakan bagian dari akhlak seorang muslim. Bahasa yang baik bukan hanya mencerminkan kecerdasan, tetapi juga ketakwaan kepada Allah Swt.

Selasa, 21 Juli 2026

Imam Al-Kirmani: Mahkota Para Ahli Al-Qur'an


Imam Al-Kirmani: Mahkota Para Ahli Al-Qur'an

Pada akhir abad ke-5 Hijriah, di kota Kirman—wilayah yang kini termasuk Iran—lahirlah seorang ulama besar yang kelak menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu Al-Qur'an. Beliau adalah Abu al-Qasim Mahmud bin Hamzah bin Nashr Al-Kirmani, yang kemudian dikenal luas dengan gelar Tajul Qurra (Mahkota Para Ahli Al-Qur'an). Selain itu, beliau juga mendapat gelar Burhanuddin, Dhiya'ul A'immah, dan Sa'dul Islam sebagai bentuk penghormatan atas keluasan ilmu dan kedudukannya di tengah para ulama.

Beliau tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Ayahnya, Hamzah bin Nashr Al-Kirmani, merupakan seorang ulama qira'at terkemuka yang menjadi guru pertama sekaligus guru terpenting dalam perjalanan intelektual putranya. Beberapa peneliti modern berpendapat bahwa keluarga Al-Kirmani kemungkinan berasal dari Farghana sebelum menetap di Kirman, sementara riwayat lain menyebutkan bahwa mereka berasal dari keluarga Tajik yang telah lama tinggal di wilayah tersebut.

Sejak usia dini, Mahmud bin Hamzah telah dididik secara intensif dalam ilmu Al-Qur'an. Dalam kitab Al-Nihayah, beliau sendiri menjelaskan bahwa dirinya telah mengkhatamkan Al-Qur'an melalui seluruh jalur qira'at, baik qira'at sab'ah maupun qira'at 'asyrah, langsung di bawah bimbingan ayahnya. Pendidikan tersebut menjadi fondasi yang sangat kokoh bagi seluruh perjalanan ilmiahnya.

Setelah menguasai ilmu qira'at, beliau memperluas penguasaannya ke berbagai cabang ilmu lainnya, seperti tafsir, nahwu, balaghah, dan ilmu rasm Al-Qur'an. Seluruh pendidikan itu diperoleh dari para ulama yang bermukim di Kirman. Berbeda dengan kebanyakan ulama besar pada zamannya, Imam Al-Kirmani tidak dikenal melakukan rihlah ilmiah ke berbagai pusat keilmuan Islam. Beliau menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Kirman. Namun, keterbatasan geografis tersebut sama sekali tidak menghalangi keluasan ilmunya. Ketekunan membaca, mengkaji, dan menelaah berbagai disiplin ilmu menjadikannya seorang ulama yang disegani di dunia Islam.

Dalam bidang fikih, beliau mengikuti Mazhab Syafi'i, sesuai dengan tradisi keilmuan yang berkembang di Kirman saat itu. Penguasaan beliau terhadap berbagai cabang ilmu membuat namanya semakin dikenal sebagai pakar qira'at, tafsir, dan bahasa Arab. Seiring waktu, masyarakat memberikan gelar Tajul Qurra, sebuah gelar yang kemudian beliau gunakan sendiri dalam sejumlah karya ilmiahnya.

Keistimewaan terbesar Imam Al-Kirmani terletak pada kemampuannya menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang memiliki redaksi hampir sama, tetapi berbeda pada susunan atau pilihan katanya. Bidang ini dikenal dengan istilah Taujih al-Mutasyabih al-Lafzhi. Melalui pendekatan yang sangat mendalam, beliau membuktikan bahwa setiap perbedaan redaksi dalam Al-Qur'an memiliki hikmah, fungsi, dan ketepatan makna yang luar biasa.

Metode yang beliau gunakan memadukan analisis konteks ayat (siyaq), ilmu qira'at, ilmu nahwu, dan ilmu balaghah. Dengan pendekatan tersebut, beliau menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kata dalam Al-Qur'an yang digunakan secara kebetulan atau sekadar sebagai pengulangan. Seluruhnya memiliki tujuan dan makna yang sangat presisi.

Selain itu, beliau juga menaruh perhatian besar terhadap ilmu rasm Al-Qur'an dan kajian huruf-huruf hijaiyah. Perhatian tersebut melahirkan sejumlah karya penting yang memperlihatkan keluasan wawasan beliau dalam memahami bahasa Al-Qur'an.

Sekitar bulan Rabi'ul Akhir tahun 531 Hijriah, Imam Al-Kirmani berhasil menyelesaikan salah satu karya monumentalnya yang berjudul Ghara'ib al-Tafsir wa 'Aja'ib al-Ta'wil. Catatan yang terdapat dalam manuskrip kitab tersebut menjadi bukti bahwa beliau masih hidup pada tahun tersebut.

Selain kitab tersebut, beliau juga meninggalkan sejumlah karya besar yang terus menjadi rujukan hingga sekarang. Di antaranya adalah Al-Burhan fi Taujih Mutasyabih al-Qur'an, yang dianggap sebagai karya paling penting dalam kajian ayat-ayat mutasyabih; Lubab al-Tafasir; Khat al-Mashahif mengenai ilmu rasm Al-Qur'an; serta Asrar al-Huruf yang membahas rahasia huruf-huruf hijaiyah.

Walaupun tidak pernah meninggalkan Kirman, nama beliau justru tersebar luas melalui karya-karyanya. Para penuntut ilmu dari berbagai daerah datang untuk belajar kepadanya. Di antara murid-murid beliau yang terkenal ialah Badi'uzzaman Abu al-Ma'ali Isma'il bin al-Husain Al-Kirmani, seorang ulama dan sastrawan besar, serta Radhiuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Nashr Al-Kirmani, pakar qira'at yang dalam karya tulisnya secara jelas menyebut Imam Al-Kirmani sebagai guru yang darinya ia menerima riwayat qira'at.

Melalui murid-murid dan karya-karya tersebut, pemikiran Imam Al-Kirmani terus diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengaruhnya bahkan melampaui zamannya sendiri. Para ulama setelahnya banyak menjadikan Al-Burhan fi Taujih Mutasyabih al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam memahami rahasia perbedaan redaksi ayat-ayat Al-Qur'an.

Imam Mahmud bin Hamzah Al-Kirmani wafat di kota Kirman setelah tahun 531 Hijriah. Tahun wafat beliau tidak diketahui secara pasti karena tidak disebutkan secara jelas dalam sumber-sumber sejarah. Meskipun demikian, ketidakjelasan tahun wafat tersebut sama sekali tidak mengurangi besarnya jasa beliau dalam khazanah keilmuan Islam.

Hingga hari ini, nama Imam Al-Kirmani tetap dikenang sebagai salah satu ulama terbesar dalam bidang qira'at, tafsir, bahasa Arab, dan ilmu mutasyabih Al-Qur'an. Kehidupan beliau menjadi bukti bahwa keluasan ilmu tidak selalu lahir dari jauhnya perjalanan, tetapi dari ketekunan dalam belajar, kedalaman berpikir, dan keikhlasan dalam mengabdikan ilmu kepada umat. Dari sebuah kota yang jauh dari pusat peradaban Islam, beliau berhasil melahirkan karya-karya yang terus menerangi dunia keilmuan hingga berabad-abad setelah wafatnya.


Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Delusi Merasa Dicintai oleh Orang Lain

Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Merasa Menjadi Orang Paling Spesial Pernahkah Anda mendengar kisah tentang seseorang yang ...