Rabu, 30 September 2026

Ngaji Itqon (27): Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?


Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?

Memahami Hikmah Ibham dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat indah dan penuh hikmah. Salah satu bentuk keindahan tersebut adalah ibham, yaitu ketika Al-Qur’an tidak menyebutkan secara langsung nama seseorang, tempat, atau sesuatu yang sebenarnya dapat disebutkan secara jelas.

Sekilas, hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan: Mengapa Allah tidak menyebutkan namanya? Bukankah menyebut nama akan membuat kisah lebih jelas?

Para ulama menjelaskan bahwa ibham dalam Al-Qur’an bukanlah ketidakjelasan yang menunjukkan kekurangan. Sebaliknya, tidak disebutkannya suatu nama justru sering mengandung tujuan dan hikmah tertentu.

1. Karena penjelasannya sudah ada di ayat lain

Salah satu sebab terjadinya ibham adalah karena sesuatu telah dijelaskan di tempat lain.

Allah berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.”
(QS. Al-Fatihah: 7)

Siapakah orang-orang yang mendapatkan nikmat itu? Al-Qur’an menjelaskannya di tempat lain:

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ

“Bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.”
(QS. An-Nisa’: 69).

Jadi, Al-Qur’an tidak harus mengulang penjelasan secara terperinci pada setiap tempat. Satu ayat melengkapi ayat lainnya.

2. Karena identitasnya sudah sangat terkenal

Allah berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga.’”
(QS. Al-Baqarah: 35).

Allah tidak menyebut nama istri Nabi Adam عليه السلام. Mengapa? Karena pada saat itu yang dimaksud sebagai istri Adam sudah jelas, yaitu Hawa.

Demikian pula ketika Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ

“Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya?”
(QS. Al-Baqarah: 258).

Tokoh yang dimaksud dikenal dalam riwayat sebagai Namrud. Penyebutan nama tidak menjadi tujuan utama ayat karena yang ingin ditonjolkan adalah perdebatan dan kesombongan orang tersebut terhadap Nabi Ibrahim عليه السلام.

3. Untuk menutupi aib dan membuka pintu perbaikan

Al-Qur’an terkadang tidak menyebut nama seseorang agar aibnya tidak dibuka secara terang-terangan.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا...

“Dan di antara manusia ada yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu...”
(QS. Al-Baqarah: 204).

Menurut penjelasan para ulama, ayat ini berkaitan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq. Ia kemudian masuk Islam dan menjadi baik keislamannya.

Ada pelajaran yang sangat indah di sini. Tidak semua kesalahan seseorang harus diumumkan dengan menyebut namanya. Terkadang seseorang masih memiliki kesempatan untuk berubah. Menutupi identitasnya dapat menjadi bentuk kasih sayang dan membuka ruang bagi perbaikan.

4. Karena mengetahui nama atau tempatnya tidak terlalu penting

Dalam sebagian kisah, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama tokohnya karena penyebutan tersebut tidak memberikan manfaat besar terhadap tujuan ayat.

Allah berfirman:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ

“Atau seperti orang yang melewati suatu negeri...”
(QS. Al-Baqarah: 259).

Nama orang dan nama negeri tersebut bukanlah inti dari kisah. Yang lebih penting adalah pelajaran tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali makhluk yang telah mati.

Demikian pula dalam firman Allah:

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ

“Dan tanyakanlah kepada mereka tentang negeri tersebut...”
(QS. Al-A‘raf: 163).

Fokus Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan nama sebuah tempat, tetapi memberikan pelajaran tentang sikap manusia terhadap perintah Allah.

5. Untuk menunjukkan bahwa maknanya berlaku umum

Kadang-kadang tidak disebutkannya nama seseorang justru menunjukkan bahwa pesan ayat tidak hanya berlaku untuk orang tersebut.

Allah berfirman:

وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Barang siapa keluar dari rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya...”
(QS. An-Nisa’: 100).

Allah menggunakan kata “man” yang berarti “barang siapa”, sehingga maknanya menjadi umum.

Seandainya nama seseorang disebut secara khusus, perhatian pembaca bisa tertuju hanya kepada tokoh tersebut. Dengan ungkapan umum, setiap orang yang berada dalam kondisi serupa dapat mengambil pelajaran dari ayat tersebut.

6. Untuk mengagungkan seseorang melalui sifatnya

Menariknya, seseorang terkadang tidak disebut dengan namanya, tetapi justru disebut melalui sifat yang menunjukkan kemuliaannya.

Allah berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kelapangan di antara kamu bersumpah...”
(QS. An-Nur: 22).

Ayat ini berkaitan dengan Abu Bakar رضي الله عنه. Namun, Allah menyebutnya dengan sifat “ulul-fadhl”, yaitu orang yang memiliki keutamaan.

Demikian pula dalam ayat:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ

“Dan orang yang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya.”
(QS. Az-Zumar: 33).

Serta firman Allah:

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ

“Ketika dia berkata kepada sahabatnya.”
(QS. At-Taubah: 40).

Dalam penjelasan para ulama, yang dimaksud pada konteks tersebut adalah Abu Bakar رضي الله عنه. Penyebutan sifat seperti orang yang memiliki keutamaan, orang yang membenarkan kebenaran, dan sahabat justru memberikan penghormatan yang lebih mendalam.

7. Untuk merendahkan orang yang memiliki sifat buruk

Jika seseorang memiliki sifat tercela, Al-Qur’an terkadang tidak menyebut namanya. Ia cukup disebut dengan sifat buruknya.

Allah berfirman:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.”
(QS. Al-Kautsar: 3).

Allah tidak menyebut nama orang yang membenci Nabi Muhammad ﷺ tersebut. Ia disebut sebagai “syāni’”, yaitu orang yang membenci, dan “al-abtar”, yaitu orang yang terputus dari kebaikan.

Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tidak selalu diperoleh dengan disebut namanya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki sifat tercela dapat kehilangan kemuliaannya meskipun namanya dikenal manusia.

Ibham adalah Keindahan, Bukan Kekurangan

Dari berbagai contoh tersebut, kita dapat memahami bahwa ibham dalam Al-Qur’an memiliki banyak hikmah. Ada kalanya nama tidak disebut karena sudah jelas, karena telah diterangkan di tempat lain, karena tidak ada manfaat besar dalam menyebutnya, untuk menjaga kehormatan seseorang, menunjukkan keumuman hukum, mengagungkan seseorang dengan sifat mulianya, atau merendahkan seseorang dengan sifat buruknya.

Karena itu, ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak cukup hanya bertanya, “Siapa orangnya?” tetapi juga perlu bertanya, “Mengapa Allah tidak menyebut namanya?”

Di situlah kita akan menemukan salah satu sisi keindahan balaghah Al-Qur’an: setiap kata memiliki tempat, setiap ungkapan memiliki tujuan, dan bahkan sesuatu yang tidak disebutkan pun dapat mengandung hikmah yang sangat dalam.

Al-Qur’an tidak pernah memilih kata secara sia-sia. Bahkan ketidakpenyebutan sebuah nama pun merupakan bagian dari keindahan dan ketepatan wahyu.

HUKUM TUKAR TAMBAH (BARTER + UANG) DALAM JUAL BELI MOTOR

PERTANYAAN:

Bagaimana hukum tukar tambah motor?


JAWABAN:

Hukumnya boleh dan akadnya sah, selama memenuhi seluruh rukun dan syarat jual beli sebagaimana yang telah ditetapkan dalam fikih. Tukar tambah motor termasuk dalam akad jual beli biasa (bay'), karena pada hakikatnya terjadi transaksi penjualan motor lama dan pembelian motor baru dengan tambahan uang sebagai selisih harga. Selama kedua belah pihak ridha, objek transaksi jelas, dan tidak ada unsur riba, penipuan, atau gharar (ketidakjelasan) yang merusak akad, maka transaksi ini diperbolehkan.


REFERENSI:

فَتْحُ الْقَرِيبِ الْمُجِيبِ (ص: ٣٤):

وَالْبَيْعُ لُغَةً: مُقَابَلَةُ شَيْءٍ بِشَيْءٍ، فَدَخَلَ مَا لَيْسَ بِمَالٍ كَخَمْرٍ.
وَأَمَّا شَرْعًا: فَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ: إِنَّهُ تَمْلِيكُ عَيْنٍ مَالِيَّةٍ بِمُعَاوَضَةٍ بِإِذْنٍ شَرْعِيٍّ، أَوْ تَمْلِيكُ مَنْفَعَةٍ مُبَاحَةٍ عَلَى التَّأْبِيدِ بِثَمَنٍ مَالِيٍّ. فَخَرَجَ بِمُعَاوَضَةٍ الْقَرْضُ، وَبِإِذْنٍ شَرْعِيٍّ الرِّبَا، وَدَخَلَ فِي مَنْفَعَةٍ تَمْلِيكُ حَقِّ الْبِنَاءِ، وَخَرَجَ بِثَمَنٍ الْأُجْرَةُ فِي الْإِجَارَةِ، فَإِنَّهَا لَا تُسَمَّى ثَمَنًا.

(الْبُيُوعُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ):

1. أَحَدُهَا (بَيْعُ عَيْنٍ مُشَاهَدَةٍ) أَيْ حَاضِرَةٍ، فَجَائِزٌ إِذَا وُجِدَتِ الشُّرُوطُ مِنْ كَوْنِ الْمَبِيعِ طَاهِرًا مُنْتَفَعًا بِهِ مَقْدُورًا عَلَى تَسْلِيمِهِ لِلْعَاقِدِ عَلَيْهِ وِلَايَةٌ.

وَلَا بُدَّ فِي الْبَيْعِ مِنْ إِيجَابٍ وَقَبُولٍ، فَالْأَوَّلُ: كَقَوْلِ الْبَائِعِ أَوِ الْقَائِمِ مَقَامَهُ: "بِعْتُكَ"، وَ"مَلَّكْتُكَ بِكَذَا"، وَالثَّانِي: كَقَوْلِ الْمُشْتَرِي أَوِ الْقَائِمِ مَقَامَهُ: "اشْتَرَيْتُ" وَ"تَمَلَّكْتُ" وَنَحْوِهِمَا.

2. وَالثَّانِي: بَيْعُ شَيْءٍ مَوْصُوفٍ فِي الذِّمَّةِ، وَيُسَمَّى هَذَا بِالسَّلَمِ، فَجَائِزٌ إِذَا وُجِدَتِ الصِّفَةُ عَلَى مَا وُصِفَ بِهِ.
3. وَالثَّالِث: بَيْعُ عَيْنٍ غَائِبَةٍ لَمْ تُشَاهَدْ لِلْمُتَعَاقِدَيْنِ، فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهَا.

وَالْمُرَادُ بِالْجَوَازِ فِي هَذِهِ الثَّلَاثَةِ: الصِّحَّةُ.

(وَيَصِحُّ بَيْعُ كُلِّ طَاهِرٍ مُنْتَفَعٍ بِهِ مَمْلُوكٍ)
وَصَرَّحَ الْمُصَنِّفُ بِمَفْهُومِ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فِي قَوْلِهِ:
(وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ عَيْنٍ نَجِسَةٍ) وَلَا مُتَنَجِّسَةٍ كَخَمْرٍ وَدُهْنٍ وَخَلٍّ مُتَنَجِّسٍ وَنَحْوِهَا مِمَّا لَا يُمْكِنُ تَطْهِيرُهُ،
(وَلَا) بَيْعُ (مَا لَا مَنْفَعَةَ فِيهِ) كَعَقْرَبٍ وَنَمْلٍ وَسَبُعٍ لَا يَنْفَعُ.


KESIMPULAN:

Aspek Keterangan
Hukum asal Boleh (jā'iz) dan sah.
Syarat sah - Motor lama jelas fisik dan spesifikasinya. - Motor baru jelas objeknya. - Ada ijab dan qabul (serah terima). - Tambahan uang (selisih) diketahui dan disepakati. - Tidak ada unsur riba, penipuan, atau gharar.
Catatan Karena kedua motor bisa dilihat langsung ('ain musyāhadah), maka akadnya sah sebagaimana jual beli biasa.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Kamis, 24 September 2026

Kajian Manhajut Tafsir (17): Memahami Tujuh Bentuk Perbedaan Bacaan Al-Qur’an dan Rasm Utsmani

Memahami Tujuh Bentuk Perbedaan Bacaan Al-Qur’an dan Rasm Utsmani

Pembahasan tentang al-Aḥruf as-Sab‘ah (الأحرف السبعة) merupakan salah satu tema penting dalam ‘Ulumul Qur’an. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf sebagai bentuk kemudahan bagi umat dalam membaca dan mempelajarinya.

Namun, ketika mushaf-mushaf Utsmani ditulis dan disebarkan ke berbagai wilayah Islam, muncul pertanyaan penting: bagaimana hubungan berbagai bentuk bacaan tersebut dengan tulisan dalam mushaf Utsmani?

Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan bacaan memiliki beberapa bentuk. Ada yang dapat ditampung oleh rasm Utsmani, sementara ada pula yang tidak dapat ditampung karena telah dinasakh pada masa Rasulullah ﷺ.

1. Perbedaan antara mufrad dan jamak

Salah satu bentuk perbedaan adalah perubahan bentuk kata dari tunggal (mufrad) menjadi jamak. Contohnya firman Allah:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Kata أمانات dibaca dalam bentuk jamak, sementara terdapat riwayat bacaan dengan bentuk tunggal.

Perbedaan tersebut dapat ditampung oleh rasm Utsmani. Sebab, tulisan mushaf pada masa itu belum menggunakan titik dan harakat secara lengkap seperti mushaf yang kita baca sekarang. Karena itu, satu bentuk tulisan dapat memungkinkan beberapa cara baca yang sah.

2. Perbedaan dalam bentuk kata kerja

Bentuk berikutnya adalah perbedaan dalam tashrif atau bentuk kata kerja. Contohnya pada firman Allah:

يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ

Terdapat perbedaan dalam cara membaca harakat kata tersebut. Akan tetapi, kedua bacaan tetap dapat ditampung oleh rasm Utsmani karena struktur hurufnya tidak berubah.

Hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan rasm Utsmani justru memberikan ruang bagi beberapa bacaan yang bersumber dari Rasulullah ﷺ.

3. Perbedaan dalam i‘rab

Perbedaan ketiga berkaitan dengan i‘rab, yaitu perubahan harakat akhir atau kedudukan gramatikal suatu kata.

Contohnya:

وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ

Terdapat perbedaan riwayat dalam membaca huruf ra’ pada kata يُضَارَّ. Meskipun cara membacanya berbeda, bentuk tulisannya tetap dapat menampung kedua bacaan tersebut.

Dengan demikian, perbedaan i‘rab tidak selalu berarti adanya perbedaan dalam tulisan mushaf.

4. Perbedaan berupa tambahan dan pengurangan

Bentuk keempat adalah adanya perbedaan berupa penambahan atau pengurangan suatu lafaz.

Contohnya firman Allah:

تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ

Terdapat pula bacaan:

تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا

dengan tambahan kata مِنْ.

Kedua bacaan tersebut memiliki riwayat yang kuat dan dapat dikaitkan dengan rasm beberapa mushaf yang dikirim pada masa Utsman bin Affan رضي الله عنه. Bacaan dengan tambahan مِنْ sesuai dengan mushaf yang memuat kata tersebut, sedangkan bacaan tanpa tambahan sesuai dengan mushaf yang tidak menuliskannya.

Akan tetapi, tidak semua bacaan yang pernah dinukil dari generasi awal tetap menjadi bacaan Al-Qur’an yang boleh diamalkan. Misalnya, terdapat riwayat bacaan dengan tambahan kata صَالِحَةٍ dalam ayat:

يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Bacaan tersebut tidak terdapat dalam mushaf Utsmani. Menurut penjelasan ulama yang dibahas di sini, hal itu menunjukkan bahwa bacaan tersebut telah dinasakh dalam al-‘arḍah al-ākhirah, yaitu pembacaan Al-Qur’an yang dilakukan Nabi ﷺ bersama Jibril عليه السلام pada akhir kehidupan beliau.

5. Perbedaan dalam mendahulukan dan mengakhirkan

Ada pula perbedaan yang berkaitan dengan urutan kata.

Contohnya:

فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

Terdapat bacaan dengan susunan bentuk aktif dan pasif yang berbeda. Namun, kedua bacaan tersebut masih dapat ditampung oleh rasm mushaf.

Sebaliknya, terdapat beberapa bacaan yang diriwayatkan dari sebagian sahabat atau tabi'in tetapi tidak sesuai dengan rasm Utsmani dan tidak mencapai derajat mutawatir. Dalam pembahasan ini, bacaan semacam itu dipandang telah dinasakh.

Prinsip ini menunjukkan bahwa tidak setiap bacaan yang pernah diriwayatkan otomatis menjadi bacaan Al-Qur’an yang dapat dibaca dalam tilawah.

6. Perbedaan dengan penggantian lafaz

Bentuk keenam adalah mengganti satu lafaz dengan lafaz lain.

Contohnya firman Allah:

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Terdapat pula bacaan:

فَتَثَبَّتُوا

Kedua bacaan tersebut dapat ditampung oleh rasm Utsmani.

Namun, terdapat pula riwayat bacaan yang tidak sesuai dengan rasm mushaf, seperti contoh bacaan yang menggunakan lafaz berbeda pada ayat tentang salat Jumat atau pada ayat:

كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

Riwayat yang tidak sesuai dengan rasm dan telah dinasakh tidak lagi digunakan sebagai bacaan Al-Qur’an.

7. Perbedaan karena lahjah

Bentuk terakhir adalah perbedaan yang disebabkan oleh lahjah atau dialek bahasa Arab.

Perbedaan semacam ini pada dasarnya tidak mengubah struktur kata. Karena itu, rasm Utsmani dapat menampungnya.

Contohnya dapat dilihat pada tulisan mushaf yang pada masa awal belum menggunakan harakat dan titik secara lengkap. Satu bentuk tulisan dapat dibaca dengan variasi pengucapan tertentu sesuai dengan lahjah yang diizinkan dalam bacaan Al-Qur’an.

Rasm Utsmani dan Pelestarian Bacaan Al-Qur’an

Dari pembahasan tersebut dapat dipahami bahwa rasm Utsmani memiliki kedudukan penting dalam sejarah pelestarian bacaan Al-Qur’an.

Namun, rasm bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan sah atau tidaknya suatu bacaan. Sebuah bacaan Al-Qur’an harus memiliki dasar riwayat yang dapat diterima dan memenuhi ketentuan yang ditetapkan para ulama qira’at.

Karena itu, adanya kesesuaian suatu bacaan dengan bentuk tulisan mushaf tidak dengan sendirinya menjadikan bacaan tersebut sebagai bacaan Al-Qur’an. Sebaliknya, bacaan yang sah memiliki hubungan yang kuat dengan riwayat yang diterima umat dan rasm mushaf yang menjadi standar.

Mengapa Al-Qur’an Diturunkan dengan Tujuh Huruf?

Pada akhirnya, pembahasan ini membawa kita kepada hikmah utama dari turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf.

Tujuannya adalah memberikan kemudahan kepada umat dalam membaca Al-Qur’an. Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang masih muda dan fasih, ada yang sudah lanjut usia, ada yang kuat dalam bahasa Arab, dan ada pula yang mengalami kesulitan dalam pengucapan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf sebagai bentuk kemudahan. Dengan demikian, perbedaan bacaan yang sah bukanlah pertentangan dalam Al-Qur’an, melainkan bagian dari keluasan yang Allah berikan kepada umat ini.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa perbedaan tidak selalu berarti pertentangan. Dalam qira’at, selama memiliki dasar yang benar dan berada dalam koridor yang ditetapkan syariat, perbedaan bacaan justru menunjukkan keluasan dan kemudahan yang diberikan Allah.

Al-Qur’an tetap satu, sumbernya satu, dan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ satu. Adapun variasi bacaan yang sah merupakan bagian dari rahmat dan kemudahan Allah bagi umat Islam.

Rabu, 23 September 2026

Kajian Manhajut Tafsir (16): Apakah Al-Aḥruf as-Sab‘ah Masih Ada dalam Mushaf Utsmani?

Apakah Al-Aḥruf as-Sab‘ah Masih Ada dalam Mushaf Utsmani?

Salah satu pembahasan penting dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an adalah pertanyaan: apakah tujuh huruf (الأحرف السبعة) yang menjadi salah satu bentuk kemudahan dalam turunnya Al-Qur’an masih terdapat dalam mushaf-mushaf Utsmani?

Persoalan ini telah menjadi pembahasan para ulama sejak masa dahulu. Perbedaan pendapat muncul karena adanya perbedaan dalam memahami makna al-Aḥruf as-Sab‘ah dan bagaimana hubungannya dengan mushaf Utsmani.

Tiga Pendapat Ulama

Sebagian ulama dari kalangan fuqaha, ahli qira’at, dan ahli kalam berpendapat bahwa seluruh al-Aḥruf as-Sab‘ah terdapat dalam mushaf Utsmani.

Argumentasi mereka antara lain bahwa para sahabat tidak mungkin bersepakat untuk menghilangkan sebagian dari wahyu yang telah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Mushaf Utsmani disalin berdasarkan suhuf yang sebelumnya dikumpulkan pada masa Abu Bakar رضي الله عنه. Karena itu, menurut pendapat ini, jika suhuf Abu Bakar menghimpun al-Aḥruf as-Sab‘ah, maka mushaf Utsmani yang disalin darinya juga memuat ketujuh huruf tersebut.

Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf serta para imam kaum Muslimin. Mereka menjelaskan bahwa mushaf-mushaf Utsmani memuat bagian dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang dapat ditampung oleh rasm Utsmani. Mushaf tersebut juga menghimpun bacaan yang termasuk dalam al-‘Arḍah al-Ākhirah, yaitu pembacaan terakhir Al-Qur’an yang dilakukan Nabi ﷺ di hadapan Malaikat Jibril عليه السلام.

Ada pula pendapat yang dinisbatkan kepada Ibnu Jarir ath-Thabari dan sejumlah ulama lainnya. Mereka berpendapat bahwa mushaf-mushaf Utsmani hanya memuat satu huruf dari tujuh huruf tersebut. Menurut pandangan ini, tujuh huruf merupakan bentuk kemudahan yang berlaku pada masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan sebagian awal masa pemerintahan Utsman رضي الله عنهم. Kemudian, ketika terjadi perbedaan bacaan di tengah umat, Utsman memilih satu bentuk bacaan untuk menyatukan kaum Muslimin.

Di Mana Letak Persoalannya?

Untuk memahami masalah ini secara tepat, ada dua perkara yang harus diperhatikan.

Pertama, kita harus menentukan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan al-Aḥruf as-Sab‘ah.

Kedua, kita harus melihat apa yang benar-benar tertulis dalam mushaf-mushaf Utsmani dan sejauh mana rasm tersebut mampu menampung berbagai bentuk qira’at.

Dalam pembahasan yang menjadi dasar artikel ini, al-Aḥruf as-Sab‘ah dipahami sebagai berbagai bentuk perbedaan yang menjadi dasar munculnya perbedaan qira’at. Bentuk-bentuk perbedaan tersebut mencakup qira’at yang sahih dan juga bentuk bacaan yang tidak dapat diterima. Menurut pendapat yang dinilai memiliki ketelitian dalam penelitian dan istiqra’, bentuk-bentuk tersebut dapat dikembalikan kepada tujuh macam.

Mushaf Utsmani dan Ragam Qira’at

Jika kita memperhatikan mushaf-mushaf Utsmani, kita akan menemukan bahwa tidak semua mushaf memiliki tulisan yang persis sama dalam setiap detailnya. Hal ini berkaitan dengan tujuan pengiriman mushaf ke berbagai wilayah Islam.

Rasm Utsmani memiliki karakteristik tertentu yang memungkinkan sebagian perbedaan qira’at tetap dapat dibaca sesuai dengan tulisan tersebut. Dengan demikian, satu bentuk tulisan dapat menampung beberapa cara membaca yang sahih.

Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa setiap mushaf Utsmani harus memuat seluruh bentuk bacaan yang termasuk dalam al-Aḥruf as-Sab‘ah.

Yang lebih tepat adalah melihat keseluruhan mushaf Utsmani sebagai satu kesatuan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tersebut, kesimpulan yang dipilih adalah bahwa mushaf-mushaf Utsmani secara keseluruhan mencakup al-Aḥruf as-Sab‘ah, tetapi tidak berarti setiap mushaf secara individual memuat seluruhnya.

Setiap mushaf memuat bagian dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang sesuai dengan rasm-nya. Ada yang memuat sebagian dan ada yang memuat bentuk lainnya. Namun, jika seluruh mushaf Utsmani dipandang sebagai satu kesatuan, tidak ada satu pun dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang terlepas secara keseluruhan dari mushaf-mushaf tersebut.

Dengan demikian, kodifikasi Utsmani bukanlah tindakan menghilangkan wahyu Al-Qur’an, melainkan sebuah langkah besar untuk menyatukan umat dalam mushaf yang dapat diterima bersama dan menjaga persatuan kaum Muslimin dalam membaca Kitabullah.

Pembahasan ini juga menunjukkan betapa pentingnya membedakan antara al-Aḥruf as-Sab‘ah, qira’at, dan rasm Utsmani. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, tetapi tidak identik. Memahami perbedaan tersebut membantu kita melihat sejarah pemeliharaan Al-Qur’an dengan lebih jernih dan proporsional.

Kajian Manhaj (15): Memahami Al-Ahruf As-Sab‘ah, Mengapa Al-Qur’an Diturunkan dengan Tujuh Huruf?

Memahami Al-Ahruf As-Sab‘ah (2): Mengapa Al-Qur’an Diturunkan dengan Tujuh Huruf?

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Salah satu pembahasan penting dalam ilmu Al-Qur’an adalah al-Ahruf as-Sab‘ah (الأحرف السبعة), yaitu keterangan Nabi ﷺ bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf.

Pembahasan ini bukan sekadar persoalan teknis dalam membaca Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat hikmah besar berupa kemudahan, keluasan, dan rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Dalil tentang Tujuh Huruf

Di antara dalil yang paling terkenal adalah hadis Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Jibril عليه السلام datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan bahwa Allah memerintahkan beliau agar membacakan Al-Qur’an kepada umatnya dengan satu huruf.

Nabi ﷺ memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah karena beliau mengetahui bahwa umatnya tidak akan mampu menerima satu bentuk tersebut secara terbatas. Jibril kemudian datang kembali dengan dua huruf, kemudian tiga huruf, hingga akhirnya datang dengan tujuh huruf.

Jibril berkata:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُقْرِئَ أُمَّتَكَ الْقُرْآنَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَأَيُّمَا حَرْفٍ قَرَؤُوا عَلَيْهِ فَقَدْ أَصَابُوا

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf. Maka, dengan huruf mana pun mereka membacanya, mereka telah benar.”

Hadis ini menunjukkan bahwa keberagaman bentuk bacaan tertentu bukanlah penyimpangan dari Al-Qur’an, melainkan bagian dari kemudahan yang diberikan Allah.

Kisah Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim

Hadis lain yang sangat jelas adalah kisah Umar bin Khattab رضي الله عنه ketika mendengar Hisyam bin Hakim رضي الله عنه membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepadanya.

Umar merasa heran bahkan hampir menyanggahnya. Namun, beliau menunggu hingga Hisyam selesai membaca. Setelah itu Umar membawanya menghadap Rasulullah ﷺ.

Nabi ﷺ kemudian meminta Hisyam membaca kembali. Setelah mendengarnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

هَكَذَا أُنْزِلَتْ

“Demikianlah ia diturunkan.”

Kemudian Rasulullah ﷺ meminta Umar membaca. Setelah Umar membaca, Nabi ﷺ kembali bersabda:

هَكَذَا أُنْزِلَتْ

“Demikianlah ia diturunkan.”

Lalu beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan tujuh huruf. Maka bacalah apa yang mudah darinya.”

Hadis ini memberikan pelajaran penting. Perbedaan bacaan yang memiliki dasar dari Rasulullah ﷺ tidak boleh langsung dianggap sebagai kesalahan. Para sahabat sendiri pernah menemukan perbedaan bacaan, kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa keduanya benar karena sama-sama bersumber dari wahyu.

Apa yang Dimaksud dengan Tujuh Huruf?

Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan makna al-Ahruf as-Sab‘ah. Namun, menurut pendapat yang dipandang kuat oleh sejumlah ulama, seperti Makki bin Abi Thalib, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Qutaibah, dan Ibnu Syuraih, tujuh huruf berkaitan dengan berbagai bentuk perbedaan dalam pengucapan Al-Qur’an yang diberikan sebagai bentuk kemudahan.

Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan lafaz tetapi tetap memiliki kesamaan makna, atau perbedaan tertentu dalam lafaz dan makna yang tetap berada dalam batas yang dibenarkan oleh wahyu.

Di antara bentuk perbedaan yang dibahas para ulama adalah perubahan harakat, penambahan atau pengurangan tertentu, mendahulukan atau mengakhirkan susunan, memanjangkan atau memendekkan bacaan, serta bentuk perbedaan lainnya yang berkaitan dengan lafaz dan cara membacanya.

Dengan demikian, keberagaman tersebut bukan berarti Al-Qur’an memiliki banyak versi yang saling bertentangan. Sebaliknya, ia menunjukkan keluasan yang Allah berikan dalam membaca kitab-Nya.

Mengapa Allah Memberikan Kemudahan?

Umat Nabi Muhammad ﷺ berasal dari berbagai kabilah dan memiliki perbedaan dialek serta kemampuan bahasa. Tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama dalam mengucapkan suatu bentuk bahasa.

Karena itu, turunnya Al-Qur’an dengan beberapa bentuk bacaan menjadi salah satu bentuk rahmat Allah. Tujuannya bukan untuk membuat umat bingung, tetapi agar mereka dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih mudah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Keluasan dalam bacaan juga memperlihatkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Islam. Allah tidak menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai sesuatu yang memberatkan, tetapi memberikan kemudahan melalui bentuk-bentuk bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Tujuh Huruf Bukan Berarti Setiap Kata Dibaca Tujuh Cara

Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa setiap kata dalam Al-Qur’an pasti memiliki tujuh bentuk bacaan.

Bukan demikian.

Sabda Nabi ﷺ:

أُنْزِلَ الْقُرْآنُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

“Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf”

tidak berarti setiap kata harus memiliki tujuh bacaan.

Ada kata yang memiliki beberapa bentuk bacaan, ada yang hanya memiliki satu bentuk bacaan, dan ada pula lafaz tertentu yang memiliki banyak jalur atau riwayat bacaan. Semua itu tidak berarti setiap kata harus mempunyai tepat tujuh bacaan.

Misalnya lafaz مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ memiliki bentuk bacaan yang berbeda dalam qira’at. Demikian pula terdapat lafaz-lafaz tertentu yang memiliki banyak riwayat atau bentuk bahasa.

Namun, banyaknya jalur bacaan pada satu lafaz tidak otomatis berarti jumlah al-aḥruf menjadi sebanyak jumlah bacaan tersebut.

Antara Ahruf Sab‘ah dan Qira’at Sab‘ah

Pembahasan ini juga penting karena istilah tujuh huruf sering disamakan dengan qira’at sab‘ah atau tujuh qira’at.

Padahal keduanya merupakan pembahasan yang berbeda.

Al-Ahruf as-Sab‘ah adalah istilah yang terdapat dalam hadis Nabi ﷺ tentang bentuk keluasan yang Allah berikan dalam bacaan Al-Qur’an.

Sementara qira’at sab‘ah adalah tujuh imam qira’at yang kemudian dikenal dalam disiplin ilmu qira’at. Jadi, angka tujuh pada kedua istilah tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa keduanya adalah satu hal yang sama.

Perbedaan Bacaan Bukan Perpecahan

Dari pembahasan ini kita dapat mengambil pelajaran penting: tidak setiap perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an merupakan pertentangan.

Jika sebuah bacaan memiliki dasar yang sahih dari Rasulullah ﷺ dan diterima melalui jalur periwayatan yang معتبر, maka ia merupakan bagian dari khazanah qira’at yang harus dihormati.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan keluasan dan keistimewaan Al-Qur’an. Umat Islam tidak boleh menjadikan perbedaan qira’at yang sahih sebagai alasan untuk saling menyalahkan.

Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan pedoman:

فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

“Maka bacalah apa yang mudah darinya.”

Penutup

Al-Ahruf as-Sab‘ah merupakan salah satu bukti keluasan rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an diturunkan dengan bentuk-bentuk bacaan yang memiliki dasar wahyu sehingga umat dapat membacanya dengan kemudahan tanpa keluar dari ketentuan syariat.

Perbedaan bacaan yang sahih bukanlah pertentangan, melainkan bagian dari kekayaan ilmu Al-Qur’an. Karena itu, mempelajari al-Ahruf as-Sab‘ah dan ilmu qira’at bukan hanya membantu kita memahami variasi bacaan Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan sikap ilmiah: menghormati perbedaan yang memiliki dasar, tidak tergesa-gesa menyalahkan, dan senantiasa mengembalikan segala persoalan kepada ilmu dan riwayat yang sahih.

Semakin dalam seseorang mempelajari Al-Qur’an, semakin ia menyadari bahwa kitab Allah bukan hanya memiliki kedalaman makna, tetapi juga memiliki keluasan dalam cara penyampaian dan bacaannya. Semua itu merupakan bagian dari penjagaan Allah terhadap kitab-Nya sekaligus rahmat-Nya bagi umat manusia.

Minggu, 06 September 2026

Ngaji Itqon (26): Mengenal Ilmu Mubhamāt Al-Qur’an


Mengenal Ilmu Mubhamāt Al-Qur’an: Siapa Tokoh yang Disebut Secara Samar?

Al-Qur’an tidak selalu menyebut nama seseorang secara langsung. Dalam sejumlah ayat, Allah menggunakan ungkapan umum seperti “di antara manusia”, “seorang laki-laki”, “istri Fir’aun”, “seorang saksi”, atau “orang yang buta”. Para ulama kemudian meneliti dan menjelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud oleh ungkapan-ungkapan tersebut.

Pembahasan ini dikenal dengan istilah ‘Ilmul Mubhamāt (علم المبهمات), yaitu ilmu yang membahas tentang identitas orang, kelompok, tempat, atau sesuatu yang disebut secara tidak jelas dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Ilmu Mubhamāt Bersumber dari Riwayat

Dalam pembahasan ini, prinsip penting yang harus diperhatikan adalah bahwa penentuan identitas tokoh tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan dugaan atau spekulasi. Sumber utamanya adalah an-naql al-maḥḍ, yaitu riwayat atau nukilan.

Karena itu, para ulama mengumpulkan berbagai keterangan dari sahabat, tabi'in, ahli tafsir, dan para periwayat hadis untuk mengetahui siapa yang dimaksud oleh ayat tertentu.

Di antara contoh yang terkenal adalah firman Allah:

﴿إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً﴾

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat tersebut adalah Nabi Adam عليه السلام.

Demikian pula ketika Allah berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ﴾

“Di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu.”
(QS. Al-Baqarah: 204)

Dalam sebagian riwayat tafsir, orang yang dimaksud adalah Al-Akhnas bin Syuraiq.

Sedangkan ayat:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 207)

Diriwayatkan berkaitan dengan Shuhaib ar-Rumi رضي الله عنه, yang rela meninggalkan harta demi keselamatan agamanya ketika berhijrah.

Para Nabi dan Orang-Orang Saleh

Ilmu Mubhamāt juga membantu kita memahami siapa yang dimaksud dalam sejumlah ayat yang berbicara tentang para nabi dan orang-orang saleh.

Allah berfirman:

﴿مِنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ﴾

“Di antara mereka ada yang Allah ajak berbicara.”
(QS. Al-Baqarah: 253)

Menurut Mujahid, yang dimaksud adalah Nabi Musa عليه السلام, karena beliau mendapatkan keistimewaan berbicara langsung dengan Allah.

Demikian pula firman Allah:

﴿وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ﴾

“Dan Dia meninggikan sebagian mereka beberapa derajat.”
(QS. Al-Baqarah: 253)

Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam kisah Nabi Sulaiman عليه السلام, Al-Qur’an juga menyebut seseorang tanpa menyebut namanya secara langsung:

﴿قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ﴾

“Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Kitab.”
(QS. An-Naml: 40)

Dalam riwayat yang disebutkan para ulama tafsir, orang tersebut adalah Ashif bin Barkhiya, seorang yang memiliki kedudukan dalam kerajaan Nabi Sulaiman.

Sementara itu, perempuan yang memimpin negeri Saba' disebut oleh Al-Qur’an dengan ungkapan:

﴿إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ﴾

“Sesungguhnya aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka.”
(QS. An-Naml: 23)

Perempuan tersebut dikenal sebagai Balqis, putri Syurahil.

Tokoh-Tokoh di Sekitar Nabi Muhammad ﷺ

Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an menyebut peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ tanpa selalu menyebut nama pelakunya. Dengan ilmu Mubhamāt, para ulama menjelaskan identitas mereka berdasarkan riwayat.

Misalnya firman Allah:

﴿إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾

“Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”
(QS. At-Taubah: 40)

Yang dimaksud dengan “sahabatnya” adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Ayat ini menggambarkan kebersamaan beliau dengan Rasulullah ﷺ ketika berada di dalam gua dalam perjalanan hijrah.

Al-Qur’an juga menyebut:

﴿وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ﴾

“Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya...”
(QS. An-Nisa’: 100)

Dalam sebagian riwayat, orang yang dimaksud adalah Dhamrah bin Jundub رضي الله عنه, yang tetap berusaha berhijrah meskipun dalam keadaan sangat lemah.

Orang-Orang yang Disebut dalam Peristiwa Tabuk

Surah At-Taubah memuat banyak peristiwa yang berkaitan dengan kaum Muslimin pada masa Rasulullah ﷺ, khususnya dalam Perang Tabuk.

Allah berfirman:

﴿وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي﴾

“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Izinkanlah aku untuk tidak ikut.’”
(QS. At-Taubah: 49)

Dalam riwayat yang disebutkan dalam pembahasan ini, orang tersebut adalah Al-Jadd bin Qais.

Allah juga berfirman:

﴿وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ﴾

“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam masalah pembagian sedekah.”
(QS. At-Taubah: 58)

Dalam riwayat tertentu, orang tersebut adalah Dzul Khuwaishirah.

Ada pula firman Allah:

﴿وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللَّهَ﴾

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah...”
(QS. At-Taubah: 75)

Yang dimaksud dalam riwayat yang disebutkan adalah Tsa'labah bin Hathib.

Tiga Sahabat yang Ditangguhkan

Salah satu kisah paling terkenal dalam ilmu Mubhamāt adalah kisah tiga sahabat yang tidak ikut dalam Perang Tabuk.

Allah berfirman:

﴿وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ﴾

“Dan ada pula orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah.”
(QS. At-Taubah: 106)

Mereka adalah Ka'ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah رضي الله عنهم.

Kisah mereka menjadi pelajaran besar tentang kejujuran, kesabaran, dan pentingnya bertobat kepada Allah. Setelah mengalami ujian yang berat, Allah menerima tobat mereka.

Keluarga Rasulullah ﷺ

Ilmu Mubhamāt juga membantu menjelaskan beberapa ayat yang berkaitan dengan keluarga Rasulullah ﷺ.

Dalam Surah At-Tahrim Allah berfirman:

﴿وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا﴾

“Dan ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya suatu peristiwa...”
(QS. At-Tahrim: 3)

Dalam riwayat yang disebutkan oleh para ulama, istri yang dimaksud adalah Hafshah رضي الله عنها.

Kemudian Allah berfirman:

﴿إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا﴾

“Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kalian telah condong...”
(QS. At-Tahrim: 4)

Dua perempuan yang dimaksud adalah Aisyah dan Hafshah رضي الله عنهما.

Adapun firman Allah:

﴿وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ﴾

“Dan orang-orang mukmin yang saleh.”

Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ath-Thabrani, yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما.

Khaulah binti Tsa'labah dan Suaminya

Surah Al-Mujadilah juga memiliki kisah yang sangat menarik.

Allah berfirman:

﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا﴾

“Sungguh, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.”
(QS. Al-Mujadilah: 1)

Perempuan tersebut adalah Khaulah binti Tsa'labah رضي الله عنها, sedangkan suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.

Peristiwa tersebut menjadi sebab turunnya ayat-ayat tentang zhihar, sekaligus menunjukkan bahwa Allah mendengar keluhan hamba-Nya yang dizalimi dan mencari jalan keluar melalui syariat-Nya.

Tokoh-Tokoh Penentang Dakwah

Ilmu Mubhamāt juga mengungkap identitas sejumlah tokoh yang menentang Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

﴿إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ﴾

“Sesungguhnya Kami telah mencukupkanmu dari orang-orang yang memperolok-olok.”
(QS. Al-Hijr: 95)

Menurut Said bin Jubair, mereka berjumlah lima orang: Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-'Ash bin Wa'il, Abu Zum'ah, Al-Harits bin Qais, dan Al-Aswad bin Abdul Yaghuts.

Allah juga berfirman:

﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا﴾

“Biarkanlah Aku bersama orang yang Aku ciptakan seorang diri.”
(QS. Al-Muddatstsir: 11)

Dalam riwayat yang disebutkan, orang tersebut adalah Al-Walid bin Al-Mughirah.

Sementara firman Allah:

﴿فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى ۝ وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى﴾

“Dia tidak membenarkan dan tidak pula melaksanakan salat. Akan tetapi, dia mendustakan dan berpaling.”
(QS. Al-Qiyamah: 31–32)

Disebutkan dalam riwayat yang menjadi dasar pembahasan ini bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Abu Jahl.

Abdullah bin Ummi Maktum

Salah satu contoh yang paling dikenal adalah firman Allah dalam Surah 'Abasa:

﴿أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ﴾

“Karena seorang buta telah datang kepadanya.”
(QS. 'Abasa: 2)

Yang dimaksud dengan “orang yang buta” adalah Abdullah bin Ummi Maktum رضي الله عنه.

Kisah ini mengandung pelajaran besar bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh kedudukan sosial, kekayaan, atau kondisi fisiknya. Yang menjadi ukuran adalah iman dan ketakwaan.

Pelajaran dari Ilmu Mubhamāt

Dari pembahasan tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, tidak semua nama disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an. Terkadang Allah menyebut seseorang dengan sifat atau kedudukannya agar perhatian pembaca tertuju kepada pesan dan pelajaran yang terkandung dalam kisah tersebut.

Kedua, ilmu Mubhamāt menunjukkan pentingnya riwayat dalam memahami Al-Qur’an. Identitas seseorang yang disebut secara samar tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan dugaan.

Ketiga, mengetahui sebab dan tokoh yang berkaitan dengan sebuah ayat dapat membantu seseorang memahami konteksnya secara lebih mendalam.

Keempat, yang terpenting bukan sekadar mengetahui “siapa orangnya”, tetapi mengambil ibrah dari peristiwa tersebut.

Al-Qur’an bukan kitab sejarah semata. Ketika sebuah nama disebut atau disamarkan, tujuan akhirnya tetaplah memberikan petunjuk kepada manusia.

Allah berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ﴾

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Yusuf: 111)

Dengan demikian, Ilmu Mubhamāt bukan sekadar ilmu untuk mengetahui nama-nama tokoh yang tersembunyi di balik ungkapan Al-Qur’an. Lebih dari itu, ia merupakan salah satu sarana untuk memahami konteks ayat, menelusuri riwayat tafsir, dan mengambil pelajaran dari perjalanan orang-orang yang disebutkan dalam Kalamullah.

Ngaji Itqon (25): Keunikan Al-Qur’an


Keunikan Al-Qur’an: Dari Ayat Teragung hingga Keindahan Susunan Huruf

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala. Ia adalah kalam Allah yang memiliki keindahan dan keistimewaan pada setiap sisinya. Para ulama sejak generasi salaf tidak hanya mengkaji kandungan hukum dan akidahnya, tetapi juga memperhatikan pilihan kata, susunan huruf, panjang-pendek ayat, bahkan berbagai keunikan yang terdapat dalam lafaznya.

Salah satu pembahasan menarik dalam khazanah ulumul Qur’an adalah مفردات القرآن, yaitu berbagai keistimewaan yang berkaitan dengan kosakata, ungkapan, ayat, dan susunan Al-Qur’an.

Ayat yang Paling Agung

Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah bertemu dengan sebuah rombongan yang di dalamnya terdapat Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Umar kemudian menguji mereka dengan beberapa pertanyaan tentang Al-Qur’an.

Ketika ditanya, “Ayat manakah yang paling agung?” Ibnu Mas‘ud menjawab:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini dikenal sebagai Ayat Kursi. Keagungannya sangat erat dengan kandungan tauhid dan pengenalan terhadap sifat-sifat Allah. Di dalamnya terdapat penegasan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, Dia Mahahidup dan tidak pernah mengalami kematian, serta seluruh makhluk berada di bawah pengaturan-Nya.

Ayat yang Paling Menghimpun Kebaikan

Ketika ditanya ayat yang paling kuat dalam menetapkan prinsip kebaikan dan keadilan, Ibnu Mas‘ud menjawab:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat.”
(QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini memang sangat luas cakupannya. Ia menghimpun prinsip hubungan manusia dengan sesama: keadilan, ihsan, dan kepedulian terhadap keluarga. Karena itu, ayat ini sering disebut sebagai salah satu ayat yang menghimpun banyak prinsip akhlak dan kehidupan sosial.

Ayat yang Paling Mencakup

Ibnu Mas‘ud juga menyebut firman Allah:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Dua ayat ini mengandung prinsip besar kehidupan: tidak ada amal yang sia-sia. Kebaikan sekecil apa pun akan diperhitungkan, demikian pula keburukan sekecil apa pun.

Pesan ini seharusnya membuat seorang Muslim tidak meremehkan kebaikan kecil. Senyuman, membantu orang lain, memberi nasihat, atau sekadar menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan, semuanya memiliki nilai di sisi Allah apabila dilakukan dengan ikhlas.

Ayat yang Paling Menyedihkan dan Paling Memberikan Harapan

Ketika ditanya ayat yang paling menyedihkan, disebutkan:

مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barang siapa mengerjakan keburukan, niscaya dia akan dibalas karenanya.”
(QS. An-Nisa’: 123)

Namun Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ancaman. Ia juga membuka pintu harapan yang sangat luas:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.’”
(QS. Az-Zumar: 53)

Inilah keseimbangan Al-Qur’an: takut kepada Allah tidak boleh membuat manusia putus asa, dan berharap kepada rahmat-Nya tidak boleh membuat manusia merasa aman dari dosa.

Keunikan dalam Panjang-Pendek Al-Qur’an

Para ulama juga mencatat berbagai keunikan dari sisi panjang dan pendeknya surah serta ayat.

Surah terpanjang dalam Al-Qur’an adalah Surah Al-Baqarah, sedangkan yang paling pendek adalah Surah Al-Kautsar. Ayat terpanjang adalah Ayat ad-Dayn, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 282, yang membahas tentang aturan utang-piutang.

Sementara itu, terdapat ayat yang sangat singkat, seperti:

وَالضُّحَىٰ

“Demi waktu dhuha.”
(QS. Ad-Duha: 1)

dan:

وَالْفَجْرِ

“Demi waktu fajar.”
(QS. Al-Fajr: 1)

Perbedaan panjang-pendek tersebut bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari keindahan susunan Al-Qur’an. Setiap ungkapan ditempatkan sesuai dengan tujuan dan konteksnya.

Keindahan pada Tingkat Huruf

Keajaiban Al-Qur’an bahkan menjadi perhatian para ulama pada tingkat huruf. Mereka mencatat berbagai susunan huruf yang sangat khusus dan jarang ditemukan dalam bahasa Arab.

Disebutkan, misalnya, adanya bentuk-bentuk tertentu berupa pertemuan huruf yang berulang secara langsung, serta keunikan jumlah huruf dan tanda waqaf dalam ayat-ayat tertentu.

Ada pula keterangan bahwa kata yang panjang dari sisi penulisan adalah:

فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ

“Lalu Kami memberimu minum dengannya.”
(QS. Al-Hijr: 22)

Para ulama qira’at dan ahli rasm juga memberikan perhatian besar terhadap bagaimana kata-kata Al-Qur’an ditulis dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Al-Qur’an: Keindahan yang Tidak Pernah Habis

Semakin dalam Al-Qur’an dikaji, semakin tampak bahwa keindahannya tidak hanya terletak pada makna yang besar, tetapi juga pada pemilihan kata, susunan kalimat, keteraturan ayat, dan keserasian lafaz.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)

Karena itu, mempelajari Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti pada membaca dan menghafalnya. Kita juga perlu mentadabburi maknanya, memahami bahasanya, memperhatikan susunannya, serta mengamalkan petunjuknya.

Berbagai catatan ulama tentang keunikan kata, ayat, huruf, dan susunan Al-Qur’an pada akhirnya mengantarkan kita kepada satu kesadaran: Al-Qur’an adalah kitab yang semakin direnungi, semakin menampakkan kedalaman dan keindahannya.

Bukan hanya hati yang mendapatkan petunjuk ketika membacanya, tetapi akal pun menemukan keluasan ilmu di dalamnya. Itulah salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur’an yang membuatnya tetap menjadi sumber hidayah dan ilmu bagi manusia sepanjang zaman.

Sabtu, 05 September 2026

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri

عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِي مَعِيشَتِكَ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَتَشَبَّهَ بِالْجَبَابِرَةِ، وَعَلَيْكَ بِمَا لَا يُقْرِفُ مِنَ الطَّعَامِ

“Hendaklah engkau bersikap sederhana dalam kehidupanmu. Janganlah engkau menyerupai orang-orang yang sombong dan berkuasa secara zalim. Dan pilihlah makanan yang tidak menjijikkan atau membuatmu muak.” (Ḥilyat al-Awliyā’, 7/14)

Berikut penjelasannya:

Islam tidak melarang seseorang menikmati rezeki Allah. Namun, Islam mengajarkan agar kenikmatan tidak berubah menjadi israf, berlebih-lebihan, dan memperturutkan hawa nafsu, itulah yang dimaksud al-Qosdu. 

Allah berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau mengulurkannya dengan sangat lebar, karena dengan demikian engkau akan menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Ayat ini menggambarkan dua sikap yang harus dihindari. Pertama, tangan yang terbelenggu, yaitu terlalu kikir. Seseorang memiliki kemampuan untuk berbagi, tetapi enggan mengeluarkan hartanya untuk kebutuhan yang benar.

Kedua, tangan yang terbuka selebar-lebarnya, yaitu menghamburkan harta tanpa pertimbangan. Semua keinginan dituruti, semua gaya hidup dikejar, dan semua kesenangan dianggap sebagai kebutuhan.

Islam mengajarkan jalan tengah: gunakan harta sesuai kebutuhan, tunaikan kewajiban, berbagi kepada sesama, dan jangan menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebahagiaan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ، وَمَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Orang yang hidup sederhana tidak akan miskin. Orang yang minta petunjuk Allah tidak akan gagal. Dan orang yang minta pendapat tidak akan menyesal” (HR. Ath-Thabarani, 6627)

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa menikmati rezeki. Kesederhanaan berarti mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Allah berfirman:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A‘raf: 157)

Islam memberikan ruang bagi manusia untuk menikmati ṭayyibāt, yaitu sesuatu yang baik dan layak. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa bersalah ketika menikmati makanan yang baik, mengenakan pakaian yang layak, atau tinggal di tempat yang nyaman, selama semuanya diperoleh dengan cara halal dan tidak disertai kesombongan serta berlebihan.

Yang menjadi masalah bukan semata-mata bagus atau mahal, tetapi ketika seseorang mulai menjadikan kemewahan sebagai kebutuhan jiwa dan menjadikan hawa nafsu sebagai pengendali hidupnya.

Umar bin Khattab berkata:

عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ فِي قُوتِكُمْ، فَإِنَّهُ أَدْنَى مِنَ الْإِصْلَاحِ، وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ، وَأَقْوَى عَلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَإِنَّهُ لَنْ يَهْلِكَ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْثِرَ شَهْوَتَهُ عَلَى دِينِهِ

“Biasakanlah hidup sederhana dalam makanan pokok kalian. Sesungguhnya hal itu lebih dekat kepada perbaikan, lebih jauh dari pemborosan, dan lebih kuat untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya seorang hamba tidak akan binasa sampai ia lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada agamanya.” (Hayatus Salaf Bainal Qoul wal Amal, 576)

Makan bukan masalah. Menikmati makanan lezat bukan masalah. Memiliki harta bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika syahwat mulai mengalahkan pertimbangan agama.

Ketika seseorang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar kenyamanan, mengeluarkan uang demi gengsi, makan tanpa batas, membeli sesuatu hanya karena mengikuti tren, sementara kewajiban kepada Allah mulai ditinggalkan, maka kesenangan telah berubah menjadi jebakan.

Epilog

Orang yang sederhana bukan berarti tidak memiliki harta ataupun keinginan. Ia tetap memiliki keinginan, tetapi berada di bawah kendali akal dan agama.

#islamicquotes #fauzandesign #motivasiislam #adab #dakwah_islam 

Ngaji Fathul Muin (38): Talaknya Orang Yang Dipaksa


Talak karena Paksaan: Kapan Tidak Jatuh dan Kapan Tetap Sah?

Dalam kehidupan rumah tangga, talak merupakan perkara serius. Karena itu, fikih Islam memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ketika seorang suami mengucapkan talak dalam keadaan terpaksa atau berada di bawah ancaman.

Dalam kitab Fath al-Mu‘īn, Zainuddin al-Malibari menjelaskan bahwa talak orang yang dipaksa tanpa alasan yang dibenarkan tidak dianggap jatuh, apabila paksaan tersebut benar-benar memenuhi kriteria ikrāh yang diakui dalam fikih.

Apa yang Dimaksud Paksaan?

Paksaan (ikrāh) bukan sekadar seseorang merasa tidak nyaman atau takut. Harus terdapat ancaman yang nyata dan serius.

Di antara contoh ancaman yang dapat dikategorikan sebagai paksaan adalah ancaman dipenjara dalam waktu lama. Bahkan ancaman yang lebih ringan dapat dianggap sebagai paksaan bagi orang yang memiliki muru’ah, yaitu kehormatan dan harga diri yang dijaga di tengah masyarakat.

Misalnya, seseorang diancam akan ditampar di depan umum atau hartanya akan dirusak sehingga kehidupannya menjadi sempit. Ancaman semacam ini dapat memengaruhi status hukum talak.

Namun, tingkat ancaman juga harus mempertimbangkan keadaan orang yang dipaksa. Kerugian kecil, misalnya kehilangan sekitar lima dirham, tidak dianggap sebagai paksaan bagi seseorang yang kaya dan mampu secara ekonomi.

Tiga Syarat Paksaan

Tidak setiap ancaman otomatis menjadikan seseorang berstatus mukrah (orang yang dipaksa). Menurut penjelasan Fath al-Mu‘īn, terdapat beberapa unsur penting.

Pertama, orang yang memberikan ancaman harus benar-benar memiliki kemampuan untuk melaksanakan ancamannya dengan segera. Kemampuan tersebut dapat muncul karena ia memiliki kekuasaan atau kekuatan untuk mewujudkan ancaman.

Kedua, orang yang dipaksa tidak mampu menghindarkan dirinya dari ancaman tersebut. Misalnya, ia tidak dapat melarikan diri atau meminta pertolongan kepada orang lain.

Ketiga, orang yang dipaksa memiliki keyakinan kuat bahwa apabila ia menolak, ancaman tersebut benar-benar akan dilaksanakan saat itu juga.

Jika unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi secara keseluruhan, maka kondisi tersebut tidak dianggap sebagai paksaan yang sempurna menurut ketentuan fikih.

Tidak Wajib Melakukan Tawriyah

Menariknya, orang yang berada dalam kondisi terpaksa tidak diwajibkan melakukan tawriyah.

Tawriyah adalah menggunakan suatu ucapan yang memiliki makna ganda, dengan maksud tersembunyi yang berbeda dari makna yang dipahami oleh lawan bicara.

Dalam konteks talak, seseorang yang dipaksa tidak diwajibkan, misalnya, berniat bahwa talak tersebut ditujukan kepada selain istrinya. Ia juga tidak diwajibkan mengucapkan secara diam-diam setelahnya, “Insya Allah.”

Akan tetapi, terdapat perincian penting: jika orang yang dipaksa justru memang bermaksud menjatuhkan talak, maka talaknya tetap jatuh.

Tidak Semua Paksaan Membatalkan Talak

Hal penting lainnya adalah bahwa talak tetap dapat jatuh apabila paksaan tersebut berkaitan dengan hak yang dibenarkan oleh syariat.

Kitab Fath al-Mu‘īn memberikan contoh seseorang yang memiliki hak qishash terhadap pembunuh ayahnya. Ia berkata kepada pembunuh tersebut:

“Talaklah istrimu. Jika tidak, aku akan membunuhmu sebagai balasan karena engkau telah membunuh ayahku.”

Apabila orang tersebut kemudian menceraikan istrinya, maka talaknya dianggap jatuh.

Contoh lainnya, seseorang berkata kepada orang lain:

“Talaklah istrimu, atau besok aku akan membunuhmu.”

Jika ancaman tersebut dilakukan dalam keadaan yang memenuhi ketentuan yang disebutkan dalam pembahasan fikih, maka talaknya tetap dianggap terjadi karena paksaan tersebut berkaitan dengan sesuatu yang memiliki dasar hak menurut syariat dalam contoh pertama, atau terdapat rincian hukum tersendiri dalam contoh kedua.

Pelajaran Penting

Pembahasan ini menunjukkan bahwa fikih tidak memandang persoalan talak secara sederhana. Tidak cukup hanya mengatakan, “Dia terpaksa, berarti talaknya tidak sah,” atau sebaliknya, “Dia mengucapkan talak, berarti pasti jatuh.”

Keadaan orang yang mengucapkan talak, bentuk ancaman, kemampuan pihak yang mengancam, kemungkinan korban untuk menyelamatkan diri, tingkat bahaya, serta maksud ketika mengucapkan talak semuanya perlu diperhatikan.

Karena itu, persoalan talak akibat paksaan merupakan masalah yang membutuhkan ketelitian. Dalam kasus nyata, seseorang sebaiknya tidak mengambil keputusan hukum hanya berdasarkan potongan informasi, tetapi berkonsultasi kepada ulama atau ahli fikih yang memahami kondisi kasus secara lengkap.

Kesimpulan

Menurut penjelasan Fath al-Mu‘īn, talak orang yang dipaksa tanpa alasan yang dibenarkan tidak jatuh apabila paksaan tersebut benar-benar memenuhi syarat ikrāh.

Paksaan harus berupa ancaman yang nyata, pihak yang mengancam mampu melaksanakannya, orang yang dipaksa tidak mampu menghindarinya, dan ia memiliki dugaan kuat bahwa ancaman tersebut akan segera diwujudkan.

Namun, apabila syarat paksaan tidak terpenuhi, atau seseorang yang dipaksa justru memang bermaksud menjatuhkan talak, maka talak dapat tetap jatuh.

Dengan demikian, dalam masalah talak, ucapan harus dilihat bersama kondisi, sebab, paksaan, kemampuan, dan maksud orang yang mengucapkannya.

Sumber: Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu‘īn bi Syarḥ Qurrat al-‘Ain bi Muhimmāt al-Dīn, hlm. 507.

Jumat, 04 September 2026

Kajian Munasabah (25): Surah Al-Qaṣaṣ Melengkapi Potongan Kisah Nabi Musa


Surah Al-Qaṣaṣ: Melengkapi Potongan Kisah Nabi Musa dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Susunan tersebut mengandung hikmah yang menunjukkan keindahan dan ketelitian penyampaian wahyu.

Salah satu contoh yang menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah Asy-Syu‘arā’, Surah An-Naml, dan Surah Al-Qaṣaṣ, khususnya dalam penyampaian kisah Nabi Musa عليه السلام.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar menjelaskan bahwa Surah Al-Qaṣaṣ hadir untuk memberikan penjelasan yang lebih panjang terhadap bagian-bagian kisah Nabi Musa yang sebelumnya hanya disampaikan secara ringkas dalam dua surah tersebut.

Dari Istana Fir‘aun hingga Pelarian Musa

Dalam Surah Asy-Syu‘arā’, Allah menceritakan dialog antara Fir‘aun dan Nabi Musa عليه السلام. Fir‘aun mengingatkan Musa tentang masa kecilnya:

أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ ۝ وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ

“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami ketika engkau masih kecil dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu? Dan engkau telah melakukan perbuatan yang telah engkau lakukan itu.”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 18–19)

Musa kemudian menjelaskan:

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Aku pun melarikan diri dari kalian ketika aku takut kepada kalian. Kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu dan menjadikanku salah seorang rasul.”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 21)

Dalam ayat tersebut, terdapat beberapa bagian penting yang disebut secara singkat: pengasuhan Musa di istana Fir‘aun, peristiwa pembunuhan seorang Qibṭi, ancaman terhadap dirinya, hingga pelariannya.

Namun, pembaca belum mendapatkan kisahnya secara lengkap.

Surah An-Naml Melanjutkan Perjalanan Musa

Setelah Musa meninggalkan Mesir, kisahnya berlanjut dalam Surah An-Naml. Allah menceritakan ketika Musa sedang melakukan perjalanan bersama keluarganya dan melihat api dari arah Gunung Ṭūr.

Musa berkata:

إِنِّي آنَسْتُ نَارًا

“Sesungguhnya aku melihat api.”

(QS. An-Naml: 7)

Peristiwa ini terjadi setelah Musa melarikan diri dari Mesir. Akan tetapi, Surah An-Naml tidak menguraikan secara panjang bagaimana Musa sampai berada di tempat tersebut.

Di sinilah keindahan hubungan antarsurah terlihat.

Apa yang masih ringkas dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml kemudian dijelaskan secara lebih panjang dalam Surah Al-Qaṣaṣ.

Al-Qaṣaṣ Menguraikan Kisah Secara Bertahap

Surah Al-Qaṣaṣ membawa pembaca kembali kepada awal kehidupan Musa.

Allah menjelaskan kondisi Bani Israil di bawah kekuasaan Fir‘aun. Fir‘aun berlaku sombong di muka bumi dan menindas Bani Israil. Anak-anak laki-laki mereka dibunuh, sedangkan kaum perempuan dibiarkan hidup.

Dalam kondisi seperti inilah Musa dilahirkan.

Allah kemudian mengilhamkan kepada ibu Musa agar menyusukannya. Ketika merasa khawatir terhadap keselamatan anaknya, ia menghanyutkan Musa ke sungai dengan pertolongan dan penjagaan Allah.

Musa kemudian ditemukan oleh keluarga Fir‘aun dan akhirnya tumbuh di lingkungan istana Fir‘aun sendiri.

Dengan demikian, Surah Al-Qaṣaṣ menjelaskan secara rinci apa yang sebelumnya hanya disebut oleh Fir‘aun dengan kalimat:

أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا

“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami ketika engkau masih kecil?”

Kisah yang sebelumnya hanya berupa satu kalimat kemudian dibuka secara panjang oleh Surah Al-Qaṣaṣ.

Peristiwa Pembunuhan Seorang Qibṭi

Ketika Musa telah dewasa, terjadilah peristiwa yang menyebabkan ia harus meninggalkan Mesir.

Allah berfirman:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

Musa kemudian meninggalkan Mesir setelah mengetahui bahwa dirinya terancam. Ia menuju Madyan dalam keadaan tidak membawa banyak bekal, tetapi membawa keyakinan kepada pertolongan Allah.

Madyan dan Pertemuan dengan Syu‘aib

Di Madyan, Musa bertemu dengan dua perempuan yang sedang menunggu karena tidak mampu berdesakan dengan para penggembala untuk mengambil air.

Musa membantu keduanya. Setelah itu, ia diundang ke rumah ayah mereka. Dari sinilah perjalanan hidup Musa memasuki fase baru.

Ia kemudian menikah dengan salah seorang putri dari orang saleh tersebut dan tinggal di Madyan selama beberapa tahun.

Kisah ini menunjukkan bahwa pelarian Musa yang pada awalnya tampak sebagai sebuah musibah ternyata menjadi jalan menuju persiapan kenabiannya.

Dari Madyan Menuju Gunung Ṭūr

Setelah menyelesaikan masa yang telah ditentukan, Musa berangkat bersama keluarganya.

Di tengah perjalanan, ia melihat api di sisi Gunung Ṭūr dan berkata kepada keluarganya:

امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا

“Tinggallah kalian di sini. Sesungguhnya aku melihat api.”

(QS. Al-Qaṣaṣ: 29)

Peristiwa inilah yang sebelumnya disebut secara singkat dalam Surah An-Naml.

Namun dalam Surah Al-Qaṣaṣ, rangkaian peristiwa tersebut ditempatkan setelah kisah masa kecil Musa, kehidupannya di istana Fir‘aun, peristiwa pembunuhan seorang Qibṭi, pelariannya ke Madyan, kehidupannya bersama keluarga Syu‘aib, dan perjalanan pulangnya.

Dengan demikian, pembaca memperoleh gambaran kisah yang lebih utuh.

Pelajaran dari Susunan Surah

Hubungan ketiga surah tersebut memberikan pelajaran penting: Al-Qur’an memiliki struktur yang saling melengkapi.

Surah Asy-Syu‘arā’ menyebut sebagian kisah Musa secara ringkas. Surah An-Naml melanjutkan pada bagian ketika Musa melihat api. Kemudian Surah Al-Qaṣaṣ menjelaskan secara lebih terperinci rangkaian kehidupan Musa sejak kelahirannya hingga pengangkatannya sebagai rasul.

Seolah-olah pembaca diajak mengikuti perjalanan Musa tahap demi tahap:

Kelahiran → Istana Fir‘aun → Peristiwa Qibṭi → Pelarian → Madyan → Pernikahan → Perjalanan pulang → Gunung Ṭūr → Wahyu dan Kenabian.

Inilah salah satu keindahan tanāsub as-suwar, yaitu ilmu yang mengkaji keserasian dan keterkaitan antarsurah dalam Al-Qur’an.

Hikmah Besar di Balik Kisah Musa

Kisah Musa juga mengajarkan bahwa perjalanan hidup seorang hamba tidak selalu dapat dipahami dari satu peristiwa saja.

Musa pernah berada di istana Fir‘aun, kemudian harus melarikan diri. Ia meninggalkan Mesir dalam keadaan takut dan tidak berdaya. Namun pelarian itu justru menjadi bagian dari persiapan menuju tugas kenabian.

Allah berfirman:

وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي

“Dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.”

(QS. Ṭāhā: 39)

Apa yang tampak sebagai kehilangan ternyata merupakan persiapan. Apa yang tampak sebagai pelarian ternyata menjadi perjalanan menuju pengutusan.

Karena itu, kisah Musa dalam Surah Al-Qaṣaṣ bukan hanya sejarah seorang nabi. Ia juga mengajarkan kepada manusia bahwa Allah dapat menyusun perjalanan hidup seseorang melalui berbagai fase yang tampaknya tidak berkaitan, tetapi pada akhirnya semuanya mengarah kepada tujuan yang telah Allah tetapkan.

Demikianlah salah satu keindahan susunan Al-Qur’an yang dijelaskan Imam As-Suyuthi: Surah Al-Qaṣaṣ hadir sebagai penjelas dan penyempurna bagi bagian-bagian kisah Musa yang telah disebut secara ringkas dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml.

Semakin direnungkan, semakin tampak bahwa setiap surah memiliki tempat dan fungsi dalam bangunan besar Al-Qur’an. Segala puji bagi Allah atas petunjuk dan ilham yang diberikan-Nya.

Kajian Munasabah (24) Surah An-Naml & Pelengkap Kisah Para Nabi

Surah An-Naml: Pelengkap Kisah Para Nabi

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Para ulama menyebut ilmu yang membahas hubungan tersebut dengan istilah munāsabah al-suwar, yaitu keserasian dan keterkaitan antarsurah.

Salah satu contoh menarik dapat ditemukan pada hubungan antara Surah Asy-Syu‘ara dan Surah An-Naml. Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar, Surah An-Naml memiliki hubungan yang sangat erat dengan surah sebelumnya. Ia bahkan menggambarkannya sebagai pelengkap bagi pembahasan yang telah disampaikan dalam Surah Asy-Syu‘ara.

Melanjutkan Kisah Umat-Umat Terdahulu

Surah Asy-Syu‘ara banyak menguraikan kisah para nabi dan umat mereka. Di dalamnya terdapat kisah Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu‘aib ‘alaihimussalam. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan pola yang hampir sama: seorang rasul datang membawa kebenaran, kaumnya mendustakan, kemudian Allah menyelamatkan orang-orang beriman dan memberikan balasan kepada orang-orang yang ingkar.

Surah An-Naml kemudian hadir sebagai kelanjutan dan pelengkap. Allah menambahkan kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam, terutama berbagai nikmat, mukjizat, dan kekuasaan yang diberikan kepada keduanya.

Kisah Nabi Sulaiman bahkan menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam surah ini. Allah menggambarkan bagaimana Nabi Sulaiman diberi kemampuan memahami bahasa burung dan berbagai makhluk, serta bagaimana beliau memiliki kerajaan yang luar biasa.

Namun, kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa nikmat dan kekuasaan seharusnya melahirkan syukur kepada Allah, bukan kesombongan.

Ketika Nabi Sulaiman mendengar perkataan semut yang memperingatkan kaumnya, beliau justru tersenyum dan berdoa:

﴿رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ﴾

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai.”
(QS. An-Naml: 19)

Ayat ini memberikan pelajaran penting: semakin besar nikmat yang diterima seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa syukurnya kepada Allah.

Kisah Nabi Luth yang Lebih Terperinci

Selain kisah Nabi Sulaiman, Surah An-Naml juga kembali menyebut kisah Nabi Luth. Namun, kisah tersebut disampaikan dengan uraian yang lebih luas dibandingkan penyebutannya dalam Surah Asy-Syu‘ara.

Hal ini menunjukkan bahwa pengulangan kisah dalam Al-Qur’an bukanlah pengulangan yang sia-sia. Setiap kali sebuah kisah disebutkan, terdapat sisi dan pelajaran yang berbeda sesuai dengan tujuan pembahasan surah.

Karena itu, pembaca Al-Qur’an hendaknya tidak merasa bahwa kisah para nabi hanya diulang-ulang. Justru melalui pengulangan tersebut, Allah membuka berbagai pelajaran: tentang dakwah, kesabaran, pertolongan Allah, akibat kedustaan, serta pentingnya mengambil ibrah dari sejarah umat terdahulu.

Urutan Turunnya Surah

Keterkaitan Surah Asy-Syu‘ara dan An-Naml juga diperkuat dengan riwayat mengenai urutan turunnya surah.

Imam As-Suyuthi menyebut riwayat dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Zaid bahwa Surah Asy-Syu‘ara turun terlebih dahulu, kemudian Surah An-Naml yang dikenal pula dengan pembukaan huruf طس, kemudian Surah Al-Qashash.

Urutan tersebut semakin menunjukkan adanya kesinambungan antara ketiga surah tersebut. Apa yang telah dibuka dan disebutkan dalam satu surah kemudian dilanjutkan atau diperinci dalam surah berikutnya.

Dengan demikian, susunan surah dalam mushaf memiliki hikmah dan keserasian yang patut direnungkan.

Kisah Nabi Musa: Dari Ringkasan Menuju Perincian

Salah satu contoh munāsabah yang disebutkan As-Suyuthi adalah kisah Nabi Musa.

Dalam Surah Asy-Syu‘ara, Nabi Musa menyebutkan nikmat dan karunia Allah kepadanya:

﴿فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ﴾

“Kemudian Tuhanku menganugerahkan kepadaku hikmah dan menjadikanku termasuk orang-orang yang diutus.”

Sementara itu, dalam Surah An-Naml, kisah perjalanan Nabi Musa dijelaskan secara lebih terperinci. Allah berfirman:

﴿إِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا﴾

“Ketika Musa berkata kepada keluarganya, ‘Sesungguhnya aku melihat api…’”
(QS. An-Naml: 7)

Ayat tersebut kemudian menguraikan peristiwa ketika Nabi Musa melihat api, mendatanginya, lalu menerima wahyu dan diangkat menjadi rasul.

Di sinilah terlihat keindahan hubungan antarsurah. Surah Asy-Syu‘ara menyebutkan secara ringkas sebagian perjalanan kenabian Musa, sedangkan Surah An-Naml memberikan rincian tentang salah satu peristiwa penting dalam perjalanan tersebut.

Pelajaran dari Keserasian Surah An-Naml

Dari hubungan antara Surah Asy-Syu‘ara dan Surah An-Naml, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, Al-Qur’an memiliki susunan yang penuh hikmah. Hubungan antarsurah menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak berdiri sendiri tanpa keterkaitan.

Kedua, pengulangan kisah dalam Al-Qur’an memiliki tujuan pendidikan. Satu kisah dapat ditampilkan dari berbagai sisi agar manusia mendapatkan pelajaran yang lebih luas.

Ketiga, kekuasaan harus melahirkan syukur. Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman memperlihatkan bahwa kekuatan, kerajaan, ilmu, dan kemampuan luar biasa semuanya merupakan pemberian Allah.

Keempat, sejarah umat terdahulu merupakan cermin bagi manusia. Kisah para nabi bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk direnungkan dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.

Akhirnya, mempelajari munāsabah surah mengajarkan kepada kita bahwa membaca Al-Qur’an sebaiknya tidak hanya berhenti pada membaca ayat demi ayat. Kita juga perlu memperhatikan hubungan, kesinambungan, dan pesan yang dibangun dari satu surah ke surah berikutnya.

Surah An-Naml hadir sebagai pelengkap bagi Surah Asy-Syu‘ara: melanjutkan kisah umat terdahulu, memperluas kisah Nabi Luth, serta menampilkan secara lebih jelas kisah Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Musa. Semua itu berpadu menjadi satu pesan besar: kebenaran akan selalu memiliki pertolongan Allah, sedangkan kekufuran dan kesombongan pada akhirnya akan membawa kehancuran.

Kamis, 03 September 2026

Kajian Munāsabah (23): Surah Asy-Syu‘arā’ dan Kirsah Para Penyair

Keindahan Munāsabah Surah Asy-Syu‘arā’

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Ada hubungan dalam tema, tujuan, pembukaan, bahkan penutupnya. Salah satu contoh yang menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah Al-Furqān dan Surah Asy-Syu‘arā’.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar mengungkapkan sebuah rahasia indah mengenai hubungan kedua surah tersebut.

Dari Kisah yang Ringkas Menuju Penjelasan yang Terperinci

Di dalam Surah Al-Furqān, Allah menyebut sejumlah kisah umat terdahulu secara ringkas. Allah berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا ۝ فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا ۝ وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً...

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab dan Kami jadikan Harun, saudaranya, sebagai pembantunya. Lalu Kami berfirman, ‘Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.’ Kemudian Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan kaum Nuh, ketika mereka mendustakan para rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran bagi manusia...”
(QS. Al-Furqān: 35–37)

Ayat berikutnya juga menyebut kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan berbagai generasi lainnya.

Menariknya, setelah Surah Al-Furqān selesai, datanglah Surah Asy-Syu‘arā’ yang menguraikan kisah-kisah tersebut dengan jauh lebih panjang dan terperinci.

Seolah-olah Al-Furqān memberikan gambaran umum, kemudian Asy-Syu‘arā’ memberikan penjelasan detail.

Urutan Kisah yang Penuh Hikmah

Ada satu hal menarik yang diperhatikan oleh Imam As-Suyuthi. Surah Al-Furqān menyebut kisah Nabi Musa terlebih dahulu, kemudian kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan generasi lainnya.

Ketika Surah Asy-Syu‘arā’ menjelaskan kisah-kisah tersebut, urutannya mengikuti urutan penyebutan dalam Surah Al-Furqān. Karena itulah kisah Nabi Musa ditempatkan di awal rangkaian kisah.

Padahal, jika yang menjadi pertimbangan adalah urutan sejarah, kisah Nabi Musa semestinya tidak berada di awal, karena terdapat umat-umat yang hidup jauh sebelum Nabi Musa.

Di sinilah terlihat keindahan susunan Al-Qur’an. Urutan kisah tidak selalu dimaksudkan untuk menyusun kronologi sejarah, tetapi terkadang memiliki tujuan lain yang lebih dalam: menghubungkan satu surah dengan surah berikutnya.

Imam As-Suyuthi menyebut hal ini sebagai sebuah rahasia yang sangat lembut yang Allah ilhamkan kepadanya.

“Generasi yang Banyak” dan Kisah-Kisah Tambahan

Surah Al-Furqān menyebut:

وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا

“Dan banyak generasi di antara mereka.”

Ungkapan ini kemudian mendapatkan penjelasan lebih luas dalam Surah Asy-Syu‘arā’. Tidak hanya kisah Nabi Musa, Nabi Nuh, ‘Ad, dan Tsamud, tetapi juga dikisahkan perjuangan beberapa nabi lainnya.

Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Nabi Syu‘aib.

Dengan demikian, Surah Asy-Syu‘arā’ seakan membuka ruang yang lebih luas untuk memperlihatkan bagaimana para nabi berdakwah kepada kaum mereka, bagaimana mereka menghadapi penolakan, serta bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.

Pola yang terus berulang sangat jelas: dakwah, penolakan, kesabaran, kemudian pertolongan Allah kepada para nabi dan kehancuran orang-orang yang terus-menerus mendustakan.

Hubungan Penutup Kedua Surah

Keindahan hubungan Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ tidak hanya terlihat pada kisah-kisah yang ada di tengah surah. Hubungan tersebut juga tampak pada penutup kedua surah.

Surah Al-Furqān menggambarkan sifat hamba-hamba Allah yang istimewa:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(QS. Al-Furqān: 63)

Kemudian Allah berfirman:

وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan apabila mereka melewati sesuatu yang sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan dirinya.”

(QS. Al-Furqān: 72)

Setelah itu, Surah Asy-Syu‘arā’ ditutup dengan pembahasan mengenai para penyair.

Allah berfirman:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ۝ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 224–226)

Namun Al-Qur’an tidak mencela semua penyair. Allah memberikan pengecualian:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

“Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, banyak mengingat Allah, dan membela diri setelah mereka dizalimi.”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 227)

Tidak Semua Perkataan Itu Sama

Di sinilah hubungan penutup kedua surah menjadi semakin indah.

Surah Al-Furqān berbicara tentang perkataan orang-orang jahil, lalu memuji hamba-hamba Allah yang tidak membalas keburukan dengan keburukan. Surah tersebut juga menyebut sikap mereka ketika berhadapan dengan sesuatu yang sia-sia.

Surah Asy-Syu‘arā’ kemudian berbicara tentang perkataan para penyair. Ada perkataan yang menyesatkan dan sia-sia, tetapi ada pula perkataan yang digunakan untuk membela kebenaran dan mengingatkan manusia kepada Allah.

Artinya, yang menjadi ukuran bukan sekadar bentuk perkataannya, tetapi isi, tujuan, dan dampaknya.

Syair dapat menjadi sarana kebatilan, tetapi dapat pula menjadi sarana kebaikan. Lisan dapat digunakan untuk menghina, tetapi dapat pula digunakan untuk membela kebenaran. Kata-kata dapat menjadi laghw, tetapi dapat pula menjadi nasihat dan dakwah.

Pelajaran Besar dari Susunan Al-Qur’an

Dari hubungan antara Surah Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ kita dapat mengambil pelajaran bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memperhatikan ayat secara terpisah. Kita juga perlu memperhatikan hubungan antarayat dan antarsurah.

Surah Al-Furqān menyebut kisah-kisah umat terdahulu secara ringkas. Surah Asy-Syu‘arā’ menguraikannya secara lebih luas. Al-Furqān menggambarkan karakter hamba-hamba Allah dalam menghadapi kebodohan dan kesia-siaan. Asy-Syu‘arā’ kemudian memperlihatkan bagaimana perkataan manusia—termasuk syair—dapat menjadi jalan kesesatan atau menjadi sarana membela kebenaran.

Semua itu menunjukkan betapa indah dan telitinya susunan Al-Qur’an.

Semakin kita memperhatikan hubungan antarsurah, semakin tampak bahwa setiap bagian Al-Qur’an memiliki tempat dan tujuan yang penuh hikmah.

Karena itu, mempelajari munāsabah atau keterkaitan antarsurah bukan sekadar mencari hubungan yang menarik. Ia merupakan salah satu jalan untuk semakin menghayati keserasian, kedalaman makna, dan keindahan susunan Kalamullah.

Kajian Munasabah (22): Keindahan Susunan Surah Al-Furqān

Keindahan Susunan Surah Al-Furqān: Ketika Kekuasaan Allah Menjadi Benang Merah Antarsurah

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Di balik susunan tersebut terdapat berbagai bentuk keterkaitan (munāsabah) yang menunjukkan keindahan, kedalaman, dan keserasian pesan Al-Qur’an.

Salah satu contoh menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah An-Nūr dan Surah Al-Furqān. Imam As-Suyuthi dalam Tanasuq Ad-Durar fi Tanasub As-Suwar menjelaskan bahwa hubungan keduanya memiliki kemiripan dengan hubungan antara Surah Al-Mā’idah dan Surah Al-An‘ām.

Dari “Milik Allah” Menuju Perincian Kekuasaan-Nya

Surah An-Nūr ditutup dengan firman Allah:

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ ۖ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Ingatlah, sesungguhnya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia benar-benar mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya. Dan pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nūr: 64)

Ayat ini menegaskan satu prinsip besar: seluruh alam adalah milik Allah dan berada di bawah ilmu serta kekuasaan-Nya.

Kemudian Surah Al-Furqān dibuka dengan penegasan yang lebih luas:

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya menurut ukuran yang tepat.”
(QS. Al-Furqān: 2)

Perhatikan kesinambungannya. Surah An-Nūr menutup dengan pernyataan bahwa milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Surah Al-Furqān kemudian membuka dengan penjelasan bahwa Allah bukan hanya pemiliknya, tetapi juga Pencipta dan Pengaturnya.

Dengan demikian, ungkapan yang masih bersifat umum pada akhir An-Nūr diperinci dalam Al-Furqān.

Alam Semesta sebagai Bukti Kekuasaan Allah

Setelah menyatakan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Surah Al-Furqān membawa manusia untuk memperhatikan berbagai ciptaan-Nya.

Allah berbicara tentang bayangan, malam, tidur, siang, angin, air, hewan ternak, manusia, dua lautan, hubungan nasab dan pernikahan, penciptaan langit dan bumi, ‘Arsy, bintang-bintang, matahari, dan bulan.

Semua itu seakan-akan menjadi penjelasan terhadap kalimat:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.”

Apa yang semula disebut secara global kemudian dijelaskan melalui berbagai tanda kekuasaan Allah yang dapat disaksikan manusia.

Bayangan yang berubah mengikuti perjalanan matahari, malam yang menjadi waktu istirahat, siang yang menjadi waktu beraktivitas, air yang menghidupkan bumi, angin yang berembus, matahari dan bulan yang silih berganti—semuanya mengingatkan manusia bahwa alam ini tidak berjalan tanpa pengaturan.

Dari Tauhid Menuju Peringatan terhadap Kesyirikan

Setelah menjelaskan kekuasaan Allah, Al-Furqān juga mengingatkan kesalahan manusia yang mengambil sesembahan selain-Nya:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا...

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia, yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri diciptakan; dan tidak mampu memberi mudarat maupun manfaat kepada dirinya sendiri...”
(QS. Al-Furqān: 3)

Ini merupakan argumentasi tauhid yang sangat kuat.

Jika Allah adalah pencipta seluruh sesuatu, pemilik langit dan bumi, serta pengatur seluruh alam, maka tidak pantas manusia memberikan ibadah kepada selain-Nya.

Isyarat tentang Umat-Umat yang Dibinasakan

Surah Al-Furqān juga menyebut umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul dan akhirnya mendapatkan kehancuran.

Namun, penyebutan tersebut masih dalam bentuk isyarat. Penjelasan yang jauh lebih panjang kemudian hadir dalam surah setelahnya, yaitu Surah Asy-Syu‘arā’.

Di dalamnya dikisahkan secara terperinci perjuangan sejumlah nabi menghadapi kaum mereka: Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu‘aib عليهم السلام.

Pola seperti ini juga dapat ditemukan pada hubungan Al-An‘ām dan Al-A‘rāf. Al-An‘ām memberikan isyarat tentang umat-umat terdahulu, lalu Al-A‘rāf memperluas dan memperinci kisah mereka.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan yang indah dalam susunan Al-Qur’an.

Surah Makkiyyah Setelah Surah Madaniyyah

As-Suyuthi juga menemukan sebuah keindahan lain dalam susunan Al-Qur’an.

Ketika sebuah surah Makkiyyah ditempatkan setelah surah Madaniyyah, sering kali surah Makkiyyah tersebut dibuka dengan pujian kepada Allah.

Di antaranya:

  • Al-An‘ām setelah Al-Mā’idah.
  • Al-Isrā’ setelah An-Naḥl.
  • Al-Furqān setelah An-Nūr.
  • Saba’ setelah Al-Aḥzāb.
  • Al-Ḥadīd setelah Al-Wāqi‘ah.
  • Al-Mulk setelah At-Taḥrīm.

Menurut As-Suyuthi, hal tersebut memberikan isyarat adanya peralihan dari satu jenis pembahasan menuju jenis pembahasan lainnya, sekaligus memberikan kesan bahwa surah yang baru memiliki karakter dan pembahasan yang lebih mandiri.

Pelajaran untuk Kita

Keterkaitan antara An-Nūr dan Al-Furqān memberikan pelajaran penting: ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak seharusnya hanya memperhatikan satu ayat secara terpisah. Kita juga dapat memperhatikan bagaimana satu surah menyambung pesan surah sebelumnya dan mempersiapkan pembahasan surah sesudahnya.

An-Nūr ditutup dengan penegasan bahwa milik Allah segala yang ada di langit dan bumi. Al-Furqān kemudian membuka dengan penegasan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Pencipta segala sesuatu, dan Dia menentukan segala sesuatu dengan ukuran yang sempurna.

Dari sini kita belajar bahwa seluruh alam adalah milik Allah, ciptaan Allah, dan berada dalam pengaturan Allah.

Maka ketika melihat matahari, bulan, malam, siang, air, angin, manusia, dan seluruh kehidupan, seorang mukmin tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan. Ia melangkah lebih jauh: melihat Sang Pencipta di balik seluruh ciptaan.

Inilah salah satu keindahan munāsabah Al-Qur’an: dari penegasan kepemilikan Allah, menuju pengenalan terhadap kekuasaan-Nya; dari melihat ciptaan, menuju pengakuan terhadap keesaan-Nya; dan dari mengenal kebesaran-Nya, menuju ketundukan kepada-Nya.

Senin, 31 Agustus 2026

Abu Bakar Al-Anbari: Ulama Legendaris yang Melajang Sampai Akhir Hayat

Imam Abu Bakar al-Anbari: Ulama Legendaris dengan Tradisi Literasi yang Luar Biasa

Nama, Nasab, dan Kelahiran

Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Basyar bin al-Hasan bin Bayan bin Sama'ah bin Farwah bin Qathn bin Di'amah al-Anbari, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu al-Anbari (ابن الأنباري). Nisbah al-Anbari merujuk kepada kota Anbar, sebuah kota bersejarah di tepi Sungai Efrat yang terletak tidak jauh dari Baghdad.

Imam al-Anbari lahir di Baghdad pada malam Ahad, 11 Rajab 271 H bertepatan dengan 3 Januari 885 M. Beliau wafat pada Dzulhijjah 328 H atau sekitar Oktober 940 M, dalam usia 57 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia keilmuan Islam, mengingat besarnya kontribusi yang telah beliau berikan.

Tumbuh dalam Lingkungan Ilmu

Imam al-Anbari dibesarkan dalam keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abu Muhammad al-Anbari (w. 916 M), merupakan seorang ulama terkemuka yang menjadi guru pertamanya dalam bahasa Arab, sastra, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an.

Guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya adalah Imam Tsa'lab (w. 904 M), tokoh besar mazhab Kufah yang masyhur sebagai pakar bahasa Arab, syair, dan nahwu. Dari beliau, al-Anbari mewarisi tradisi keilmuan Kufah secara mendalam.

Selain itu, beliau juga belajar kepada sejumlah ulama besar lainnya, di antaranya:

  • Muhammad bin Yunus al-Qadimi
  • Ismail al-Qadhi
  • Ahmad bin al-Haitsam al-Bazzaz
  • Ibnu Duraid (w. 933 M), pakar bahasa dan filolog terkemuka dari mazhab Bashrah.

Perpaduan pendidikan dari dua pusat keilmuan bahasa Arab—Kufah dan Bashrah—membentuk al-Anbari menjadi ulama yang memiliki wawasan luas dan mampu menjembatani perbedaan pendekatan kedua mazhab tersebut.

Keahlian dan Kiprah Keilmuan

1. Pakar Bahasa Arab dan Filologi

Imam al-Anbari dikenal sebagai salah satu pilar utama mazhab Kufah dalam bidang nahwu dan filologi Arab. Mazhab Kufah terkenal dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab yang autentik melalui periwayatan langsung (samā').

Beliau memiliki hafalan yang luar biasa. Ribuan bait syair Arab klasik dikuasainya di luar kepala. Dalam berbagai majelis ilmu, beliau sering mengutip syair-syair tersebut tanpa membuka kitab, menunjukkan keluasan hafalan sekaligus kedalaman pemahamannya terhadap bahasa Arab.

2. Ahli Tafsir dan Qira'at

Keahlian al-Anbari dalam bahasa Arab menjadikannya seorang mufassir yang sangat diperhitungkan. Beliau memahami bahwa perubahan kecil dalam i'rab, waqaf, maupun ibtida' dapat memengaruhi makna ayat Al-Qur'an.

Hal itu tampak jelas dalam karya monumentalnya Idhah al-Waqf wa al-Ibtida', yang menjelaskan secara rinci tempat berhenti dan memulai bacaan Al-Qur'an serta pengaruhnya terhadap makna ayat.

3. Ahli Hadis

Al-Khatib al-Baghdadi menyebut Imam al-Anbari sebagai seorang yang jujur (ṣadūq) dan berpegang teguh kepada Sunnah (ṣāḥib sunnah).

Beliau meriwayatkan hadis dari para gurunya, dan di antara murid yang mengambil riwayat hadis darinya adalah Imam ad-Daruquthni, salah seorang ulama hadis terbesar dalam sejarah Islam.

Tradisi Literasi yang Mengagumkan

Salah satu kisah paling terkenal dari Imam al-Anbari adalah kecintaannya yang luar biasa terhadap membaca.

Dikisahkan, ketika beliau mengalami sakit keras menjelang wafatnya, seorang tabib merasa heran dengan kondisi fisiknya dan bertanya tentang kebiasaan hidupnya. Al-Anbari menjawab dengan tenang,

"Aku membaca sepuluh ribu lembar setiap pekan."

Jika dihitung, jumlah tersebut setara dengan lebih dari 1.400 lembar setiap hari. Angka yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup beliau dihabiskan untuk membaca, meneliti, mengajar, dan menjaga kemurnian ilmu bahasa Arab serta Al-Qur'an.

Tradisi literasi seperti ini menjadi bukti bahwa kejeniusan tidak lahir secara instan, melainkan melalui disiplin dan ketekunan yang berlangsung sepanjang hayat.

Memilih Tidak Menikah demi Ilmu

Kecintaan Imam al-Anbari terhadap ilmu juga tercermin dari keputusan pribadinya untuk tidak menikah sepanjang hidup.

Pilihan tersebut diambil agar seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya dapat dicurahkan sepenuhnya untuk membaca, menulis, meneliti, serta mengajar. Meski bukan teladan yang harus diikuti semua orang, keputusan ini menunjukkan besarnya pengorbanan beliau dalam mengabdi kepada ilmu pengetahuan.

Karya-Karya Monumental

Imam al-Anbari meninggalkan banyak karya penting yang menjadi rujukan para ulama setelahnya. Di antaranya:

1. Al-Adhdad (الأضداد)

Kitab yang membahas kata-kata dalam bahasa Arab yang memiliki dua makna yang saling berlawanan (al-aḍdād). Karya ini menjadi salah satu referensi utama dalam kajian filologi Arab.

2. Idhah al-Waqf wa al-Ibtida' (إيضاح الوقف والابتداء)

Salah satu kitab terpenting tentang ilmu waqaf dan ibtida' dalam Al-Qur'an. Hingga kini kitab tersebut masih menjadi rujukan para qari' dan ahli tafsir.

3. Syarh al-Qasa'id al-Sab' al-Tiwal al-Jahiliyyat (شرح القصائد السبع الطوال الجاهليات)

Syarah terhadap tujuh qasidah besar Arab Jahiliyah (Mu'allaqat) yang menjadi rujukan penting dalam sastra Arab klasik.

4. Az-Zahir fi Ma'ani Kalimat an-Nas (الظاهر في معاني كلمات الناس)

Kitab yang membahas makna kosakata yang digunakan masyarakat Arab dalam kehidupan sehari-hari.

5. Al-Ha'at fi Kitabillah (الهاءات في كتاب الله)

Kajian filologis yang secara khusus membahas penggunaan huruf ha' dalam Al-Qur'an, menunjukkan ketelitian beliau dalam mengkaji setiap detail bahasa Al-Qur'an.

6. Adab al-Katib

Sebuah karya tentang etika menulis dan kaidah bahasa yang menjadi pedoman bagi para penulis dan sekretaris pada masanya.

Murid-Murid

Ilmu Imam al-Anbari kemudian diteruskan oleh banyak murid yang kelak menjadi ulama besar, di antaranya:

  • Imam ad-Daruquthni
  • Abd al-Wahid bin Abu Hasyim
  • Ahmad bin Nashir asy-Syadzdzai
  • Ahmad bin Muhammad bin al-Jarrah
  • Abu Muslim Muhammad al-Katib

Penutup

Imam Abu Bakar al-Anbari adalah salah satu teladan terbesar dalam dunia literasi Islam. Dedikasinya membaca hingga 10.000 lembar setiap pekan menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu lahir dari kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan yang luar biasa.

Sebagai ulama yang menguasai bahasa Arab, nahwu, filologi, tafsir, qira'at, hadis, dan sastra, beliau membuktikan bahwa keluasan ilmu tidak diperoleh dalam waktu singkat, melainkan melalui proses belajar yang terus-menerus hingga akhir hayat.

Warisan terbesar Imam al-Anbari bukan hanya kitab-kitab yang beliau tinggalkan, tetapi juga semangat intelektual yang mengajarkan bahwa seorang pencari ilmu sejati tidak pernah berhenti membaca, menelaah, dan memperdalam pengetahuan selama hayat masih dikandung badan.

Ngaji Itqon (27): Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?

Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama? Memahami Hikmah Ibham dalam Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat...