Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 2)
(الأول) أن ينظر في الأمر المحدث, فإن شهد له معظم الشريعة وأصلها فليس ببدعة, وإن كان مما يأبى ذلك بكل وجه فهو باطل وضلال, وإن كان مما تراجعت فيه الأدلة وتناولته الشبهة واستوت فيه الوجوه اعتبرت وجوهه, فما ترجح من ذلك رجعت إليه.
Timbangan untuk Menilai Perkara Baru
Syekh Zarruq berkata: timbangan untuk menilai bid‘ah ada tiga.
1. Timbangan Pertama
Dilihat pada perkara baru tersebut: Jika didukung oleh mayoritas dalil syariat dan prinsip-prinsip umumnya, maka ia bukan bid‘ah.
Jika seluruh dalil syariat menolaknya dari segala sisi, maka ia batil dan sesat.
Jika dalil-dalil tampak saling tarik-menarik dan perkara itu samar, maka diperhatikan berbagai aspeknya, lalu diikuti sisi yang lebih kuat.
(الميزان الثاني) اعتبار قواعد الأئمة وسلف الأمة العاملين بطريق السنة, فما خالفها بكل وجه فلا عبرة به, وما وافق أصولهم فهو حق وإن اختلفوا فيه فرعا وأصلا, فكل يتبع أصله ودليله, وقد وقع من قواعدهم أن ما عمل به السلف وتبعهم الخلف لا يصح أن يكون بدعة ولا مذموما, وما تركوه بكل وجه واضح لا يصح أن يكون سنة ولا محمودا, وما أثبتوا أصله ولم يرد عنهم فعله فقال مالك بدعة لأنهم لم يتركوه إلا لأمر عندهم فيه. وقال الشافعي ليس ببدعة وإن لم يعمل به السلف لأن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام بهم في الوقت أو لما هو أفضل منه, والأحكام مأخوذة من الشارع وقد أثبته. واختلفوا أيضا فيما لم يرد له من السنة معارض ولا شبهة, فقال مالك بدعة, وقال الشافعي ليس ببدعة, واستند لحديث {مَا تَرَكْتُهُ لَكُمْ فَهُوَ عَفْوٌ}, قال وعلى هذا اختلافهم في ضرب الإدارة والذكر بالجهر والجمع والدعاء, إذ ورد في الحديث الترغيب فيه ولم يرد عن السلف فعله. ثم كل قائل لا يكون مبتدعا عند القائل بمقابله لحكمه بما أداه اجتهاده الذي لا يجوز تعديه, ولا يصح له القول ببطلان مقابله لقيام شبهته, ولو قيل بذلك لأدى إلى تبديع الأمة كلها, وقد عرف أن حكم الله تعالى في مجتهد الفروع ما أداه إليه اجتهاده, سواء قلنا المصيب واحد أو متعدد, وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ, فَقَالَ بَعْضُهُمْ: أُمِرْنَا بِالعَجَلَةِ, وَصَلُّوْا فِيْ الطَرِيْقِ, وَقَالَ آخَرُوْنَ أُمِرْنَا بِالصَلاَةِ هُنَاكَ, فَأَخَّرُوْا, وَلَمْ يعب صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَىْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ}, فدل ذلك على صحة العمل بما فهم من الشارع إذا لم يكن عن هوى.
2. Timbangan Kedua
Mempertimbangkan kaidah para imam dan salaf umat yang berjalan di atas sunnah:
Apa yang menyelisihi mereka secara total, maka tidak dianggap.
Apa yang sesuai dengan prinsip mereka, maka benar, walaupun mereka berbeda pendapat dalam cabang maupun pokoknya.
Kaedah mereka antara lain: Sesuatu yang diamalkan oleh salaf lalu diikuti khalaf, tidak sah disebut bid‘ah atau tercela.
Sesuatu yang mereka tinggalkan secara jelas dari segala sisi, tidak sah disebut sunnah atau terpuji. Adapun sesuatu yang dasar syariatnya ada, tetapi tidak diriwayatkan bahwa salaf mengamalkannya:
Imam Malik menilainya sebagai bid‘ah, karena menurut beliau mereka meninggalkannya pasti karena suatu alasan.
Imam Syafi‘i tidak menilainya sebagai bid‘ah, sebab bisa jadi mereka meninggalkannya karena uzur tertentu atau karena ada amalan yang lebih utama saat itu. Sedangkan hukumnya tetap diambil dari syariat, dan syariat telah menetapkan dasarnya.
Mereka juga berbeda pada perkara yang tidak ada dalil sunnah yang menentangnya dan tidak ada syubhat:
Imam Malik berkata: bid‘ah.
Imam Syafi‘i berkata: bukan bid‘ah.
Imam Syafi‘i berdalil dengan hadis:
مَا تَرَكْتُهُ لَكُمْ فَهُوَ عَفْوٌ
“Apa yang aku tinggalkan bagi kalian, maka itu adalah kelonggaran.”
Atas dasar ini terjadi perbedaan pendapat mengenai: memukul idaroh (semacam alat irama dalam zikir tertentu), zikir berjamaah dengan suara keras, berkumpul untuk doa.
Karena ada hadis yang menganjurkan zikir dan doa, meskipun tidak diriwayatkan bahwa salaf melakukannya dengan bentuk tersebut.
Namun, masing-masing pihak tidak boleh dianggap ahli bid‘ah oleh pihak lain, karena masing-masing mengikuti hasil ijtihadnya yang tidak boleh dilampaui. Tidak sah pula membatalkan lawan pendapatnya selama ada dasar syubhat ijtihad.
Kalau semua perbedaan seperti ini dihukumi bid‘ah, maka akibatnya hampir seluruh umat akan saling membid‘ahkan.
Padahal telah diketahui bahwa hukum Allah bagi mujtahid dalam masalah cabang adalah sesuai hasil ijtihad yang dicapainya, baik kita berpendapat yang benar hanya satu atau banyak.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:
لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ
“Janganlah salah seorang dari kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.”
Ketika waktu Ashar tiba di perjalanan: sebagian sahabat berkata: “Kita diperintahkan untuk segera berangkat,” lalu mereka shalat di jalan. sebagian lain berkata: “Kita diperintahkan shalat di sana,” lalu mereka menunda hingga sampai.
Nabi ﷺ tidak mencela salah satu dari dua kelompok itu.
Maka hadis ini menunjukkan sahnya beramal berdasarkan pemahaman dari syariat selama bukan mengikuti hawa nafsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar