Tampilkan postingan dengan label Biografi Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2026

Ibnu Asytah: Ulama Qira’at dan Ahli Sanad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Al-Qur’an

Ibnu Asytah: Ulama Qira’at dan Ahli Sanad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Al-Qur’an

Di antara nama ulama besar yang memiliki jasa dalam menjaga dan menyebarkan ilmu Al-Qur’an adalah Ibnu Asytah Al-Ashbahani. Meski namanya tidak sepopuler sebagian imam qira’at lainnya, para ulama besar memberikan penghormatan tinggi kepada beliau karena keluasan ilmu, ketelitian sanad, dan dedikasinya terhadap Al-Qur’an serta ilmu-ilmu keislaman.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Asytah Abu Bakar Al-Ashbahani. Beliau dikenal sebagai seorang imam besar, ahli nahwu yang mendalam ilmunya, serta guru terpercaya dalam bidang qira’at Al-Qur’an. Dalam sebagian riwayat juga disebut tokoh dari keluarga Ibnu Asytah lainnya, yaitu Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Ghaffar bin Ahmad bin Ali bin Asytah Al-Ashbahani, seorang ahli sanad dan penulis yang juga terkenal tsiqah (terpercaya).

Tumbuh di Tengah Lingkungan Ilmu

Ibnu Asytah hidup di masa berkembangnya ilmu qira’at dan hadis. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar pada zamannya. Di antara guru-gurunya yang paling masyhur adalah:

  • Abu Bakar Ibn Mujahid, imam terkenal penulis kitab As-Sab‘ah fil Qira’at,

  • Muhammad bin Ya‘qub Al-Mu‘addil,

  • Abu Bakar An-Naqqasy,

  • Abu Bakar Al-Adami,

  • Ibrahim bin Ja‘far Al-Bathraqani,

  • Yusuf bin Ja‘far bin Ma‘ruf,

  • dan sejumlah ulama lainnya.

Kecintaan beliau terhadap ilmu membuatnya dikenal sebagai pribadi yang sangat teliti dalam periwayatan. Bahkan Ibnu Al-Jazari pernah meluruskan kekeliruan sebagian sanad dengan merujuk kepada penjelasan Ibnu Asytah dalam kitabnya. Hal ini menunjukkan kuatnya hafalan dan ketelitian beliau dalam ilmu sanad dan qira’at.

Guru Besar dalam Qira’at Al-Qur’an

Setelah lama menuntut ilmu, Ibnu Asytah kemudian tampil sebagai pengajar Al-Qur’an yang disegani. Banyak penuntut ilmu dan para penghafal Al-Qur’an datang belajar kepada beliau.

Di antara murid-muridnya adalah:

  • Khalaf bin Ibrahim,

  • Abdullah bin Muhammad bin Asad Al-Andalusi,

  • Abdul Mun‘im bin Ghalbun,

  • Muhammad bin Abdullah Al-Mu’addib,

  • Khalaf bin Qasim,

  • dan lainnya.

Para ulama memberikan pujian tinggi kepada beliau. Abu Amr Ad-Dani berkata:

“Ibnu Asytah adalah seorang yang kuat hafalan, terpercaya, alim dalam bahasa Arab, memahami makna-makna Al-Qur’an, bagus dalam penulisan kitab, serta berpegang teguh kepada sunnah.”

Sementara Syamsuddin Adz-Dzahabi memasukkan beliau ke dalam jajaran ulama besar penghafal Al-Qur’an pada thabaqah kedelapan.

Produktif Menulis dan Menyusun Kitab

Ibnu Asytah bukan hanya seorang pengajar, tetapi juga penulis yang produktif. Beliau meninggalkan sejumlah karya penting dalam bidang ilmu Al-Qur’an, di antaranya:

  • Riyadhat Al-Alsinah tentang i‘rab dan makna Al-Qur’an,

  • Al-Mashahif,

  • Al-Muhabbar,

  • Al-Mufid fisy-Syadz.

Tentang kitab Al-Muhabbar, Ibnu Al-Jazari berkata:

“Kitab Al-Muhabbar adalah kitab agung yang menunjukkan besarnya kedudukan penulisnya.”

Bahkan Jalaluddin As-Suyuthi mengaku pernah mengambil beberapa faedah dari kitab Al-Mashahif karya beliau untuk dimasukkan ke dalam kitab Al-Itqan.

Keluarga Ilmuwan dan Ahli Sanad

Nama keluarga “Ibnu Asytah” juga dikenal dalam dunia hadis dan sanad. Di antara tokoh keluarga ini adalah Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Ghaffar bin Ahmad bin Ali bin Asytah Al-Ashbahani. Beliau dikenal sebagai syekh yang terpercaya dan ahli sanad.

Beliau meriwayatkan ilmu dari para ulama seperti:

  • Al-Hafizh Abu Sa‘id Muhammad bin Ali,

  • Ali bin Mailah Al-Faradhi,

  • Ibn Aqil Al-Bawardi,

  • Al-Fadhl bin Syahriyar,

  • dan lainnya.

Sedangkan murid-muridnya antara lain:

  • Isma‘il bin Muhammad At-Taimi,

  • Abu Sa‘d bin Al-Baghdadi,

  • dan Abu Thahir As-Silafi.

Beliau wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 491 H dalam usia 82 tahun.

Wafat dalam Kemuliaan Ilmu

Ibnu Asytah wafat di Mesir pada bulan Sya‘ban tahun 360 H setelah menghabiskan hidupnya dalam mengajarkan Al-Qur’an dan menyebarkan ilmu. Para ulama sesudahnya terus menyebut nama beliau dengan penghormatan dan pujian.

Warisan terbesar beliau bukan hanya kitab-kitab yang ditinggalkan, tetapi juga sanad ilmu, murid-murid yang melanjutkan perjuangan, serta keteladanan dalam menjaga amanah ilmu dengan ketelitian dan keikhlasan.

Semoga Allah merahmati Ibnu Asytah dan seluruh ulama yang telah menjaga cahaya Al-Qur’an sepanjang zaman. 

Selasa, 05 November 2024

Tips agar selamat dalam bersosial part-I


Tips Agar Selamat dalam bersosial

واعلم أن السياسة  تكسو أهلها المحبة

ketahuilah bahwa politik yang baik akan membuatmu dicinta

 ومن صغر الهمة الحسد للصديق على النعمة

orang yang kecil cita-citanya maka akan iri dengan nikmat orang lain

 والنظر في العواقب نجاة

memikirkan akibat perbuatan akan membuatmu selamat

 ومن لم يحلم ندم

orang tidak sabar akan menyesal

 ومن صبر غنم

orang yang sabar akan memperoleh yang diinginkan

 ومن سكت سلم

diam  akan selamat

 ومن اعتبر أبصر

orang yang belajar dari kesalahan akan melihat pada kenyataan

 ومن أبصر فهم

orang yang melihat kenyataan akan faham

 ومن فهم علم

orang yang faham akan menjadi tahu


refrensi: al-Mustadzraf 35

Selasa, 13 Agustus 2024

BENARKAH HADRAMAUT BUKAN YAMAN DI MASA NABI ﷺ ?



BENARKAH HADRAMAUT BUKAN YAMAN DI MASA NABI ﷺ ??

Oleh Muhammad Salim Kholili*

Ada tulisan dari KRAT. Faqih Wirahadiningrat di website RMINU Banten yang menyebut bahwa Hadramaut bukan bagian dari yaman di masa Rasulullah ﷺ sehingga do'a keberkahan dari Rasulullah ﷺ tidak mencakup Hadramaut.

Apa benar demikian ??

Sebelum membantah klaim itu tentu saya sudah membacanya dan saya amat kecewa karena alih-alih rujukan klaimnya berasal dari Hadist atau pendapat Ulama' eh malah berasal dari artikel lain berbahasa Indonesia yang itu juga tanpa referensi, memang benar di tulisan itu dinukil hadist-hadist tapi disebutkan dalam rangka menjelaskan keutamaan Yaman dan tidak untuk mendalilkan bahwa Hadramaut bukan bagian dari yaman, oleh karena itu saya menyebutnya hanya sebuah klaim alih-alih sebuah pembuktian ilmiah.

Nah, di sini saya akan menjelaskan landasan dari riwayat Nabi ﷺ maupun pernyataan Ahli Hadist dan Ahli Sejarah.

PERTAMA, dari riwayat Nabi Muhammad ﷺ dalam kitab Al Isti'ab Fi Ma'rifatil Ashab karya Ibn Abdil Barr (W Abad 5H) Juz 3 Hal 1403 disebutkan:
وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم قد قسم اليمن على خمسة رجال خالد بن سعيد على صنعاء والمهاجر بن أبي أمية على كندة وزياد بن لبيد على حضرموت ومعاذ بن جبل على الجند وأبي موسى الأشعري على زبيد وعدن والساحل

"Rasulullah ﷺ telah membagi Yaman kepada lima orang: Khalid bin Sa'id untuk wilayah San'a, Al-Muhajir bin Abi Umayyah untuk wilayah Kindah, Ziyad bin Labid untuk wilayah HADRAMAUT, Mu'adz bin Jabal untuk wilayah Al-Janad, dan Abu Musa Al-Ash'ari untuk wilayah Zabid, Aden, dan pesisir."

Dalam riwayat di atas jelas menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus 5 orang sahabat ke Yaman dan dibagi berdasarkan wilayahnya dan salah satu wilayah itu adalah HADRAMAUT yang jadi bagian Ziyad bin Labid.

KEDUA, pendapat Ahli Hadist, dalam Fathul Bari' karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalani disebutkan keterangan dari Az Zubair bin Bakkar :

 وحضرموت آخر اليمن
"Dan Hadramaut adalah bagian terakhir dari Yaman.'"

KETIGA, pendapat Ahli Sejarah, dalam Mu'jamul Buldan karya Yaqut Al Hamawi (Abad 7 H) juz 2 halaman 271 disebutkan:

وقال ابن الفقيه: حضرموت مخلاف من اليمن بينه وبين البحر رمال، وبينه وبين مخلاف صداء ثلاثون فرسخا
"Ibn al-Faqih berkata: HADRAMAUT adalah sebuah wilayah di YAMAN yang terletak antara laut dan padang pasir, dan jaraknya tiga puluh farsakh dari wilayah Sada'."

Terakhir saya tutup tulisan ini dengan mengutip kalimat yang juga disebutkan dalam tulisan KRAT. Faqih Wirahadiningrat dari oche otorkpa:

"Kebohongan memiliki tanggal kadaluwarsa tetapi kebenaran tidak pernah berakhir"

Wallahu'alam.

* Postingan Asli:
https://www.facebook.com/100028486158651/posts/pfbid0WcPepyuY8GbX97YPEmEP6RwKnxqFcRkx7FK2c2yfKfNTdSuXFr8yAYnN6KBtHrPkl/?app=fbl

Sabtu, 03 Agustus 2024

Terlihat tiduran-tiduran, tapi 72 masalah selesai




Suatu hari Imam Syafi'i semoga Allah merahmatinya berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah; kalau malam beribadah, siang berpuasa dan menyukai kisah orang-orang shalih. Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi'i secara langsung sebab sang ayahnya sangat menghormatinya.

Ketika Imam Syafi'i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi'i serta mendengar ucapan-ucapannya

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan sholat dan dzikir, Imam Syafi'i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi'i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya: "wahai ayahku... Apakah benar dia ini Imam Syafi'i yang engkau ceritakan padaku dulu?"

Imam Ahmad: " benar anakku .."

Putri: "aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi'i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia...tidak sholat, tidak dzikir tidak pula wirid? dan aku juga melihat ada 3 hal yg aneh".

Imam Ahmad: "apa saja 3 hal itu, wahai anakku?" 

Putri:" ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi'i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yg ku dengar. Ketika masuk kamar, dia tidak beribadah sholat malam. Dan ketika sholat subuh bersama kita, dia sholat tanpa wudlu."

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi'i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi'i -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Wahai aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia, sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit, jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu. 

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku utk tidur, aku melihat seolah-olah al Qur'an dan Hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yg kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan sholat malam. 

Adapun ketika sholat subuh bersama kalian aku tidak wudhlu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhlu. Semalam suntuk aku terjaga, jadi aku sholat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat Isya."Kemudian Imam Syafi'i berpamitan dan pulang. 

Imam Ahmad berkata kepada putrinya: "yang di kerjakan oleh Imam Syafi'i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil sholat malam .

Sumber: NU Online

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله . وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
يا أبتاه ... أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .
فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .
فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ، وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

ويروى عن الإمام أحمد أنه قال :
ما صليت صلاة منذ أربعين سنة إلا وأنا أدعو للشافعي ، وقال ابنه : يا أبتِ أيُّ رجلٍ كان الشافعي حتى تدعو له كل هذا الدعاء؟
قال : يا بني كان الشافعي كالشمس للدنيا والعافية للناس ، فانظر يا بني هل من هذين خلف؟ هكذا كان العلماء الصالحون كالشمس للدنيا والعافية للناس وليس منهما خلف ... فإن الله يدفع بهم البلاء ويُنزل الرخاء ، وتعمّ البركة وتُنشر الرحمة .

وقال عبد الملك بن عبد الحميد الميموني :
كنت عند أحمد بن حنبل وجرى ذكر الشافعي، فرأيت أحمد
يعظمه ، فقال :
ذُكر عن النبي صلى الله عليه وسلم : " أن الله عز وجل يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة رجلاً يقيم لها أمر دينها " فكان عمر بن عبد العزيز على رأس المائة ، وأرجو أن يكون الشافعي على رأس المائة الأخرى .
(  الروض الفائق بتصرف : 163 -165 )

Selasa, 04 Juni 2024

Mengenal Qadhi Safad, Sang Muallif Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil Aimmah

 



Sebelum Kita Mempelajari Rahmatul Ummah, tak ada salahnya kalau kita mempelajari sepintas biografi penulisnya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang hehehe... 


Ketika kecil dulu, kami didoktrin untuk mengetahui biografi Sang Pengarang atau minimal namanya saja, sebelum mempelajari karyanya, katanya biar lebih mantap untuk mengirimkan fatihah kepada beliau


Nama Muallif Rahmatul Ummah adalah Muhammad bin Abdirrohman  bin Al-Husain Ad-Dimasyqi Al-Utsmani As-Syafi'i, mempunyai Kunyah Abu Abdillah, bergelar Shadruddin (sumber agama), beliau juga dikenal dengan sebutan Qadhi Safad. 


Beliau dilahirkan Di Damaskus, Suriah pada tahun 717 H. / 1317M. Pada Masa kejayaan dinasti Safadiyah* bahkan beliau menjabat sebagai Qodi tertinggi Dinasti Safadiyah (itulah alasan mengapa beliau dikenal dengan sebutan Qadi Safad).


Seperti kebanyakan Ulama Negeri Syam yg beraliran Madzhab Syafi’i-Asyari, beliau juga bermadzhab Syafi'i dalam bidang Fikih dan Madzhab Asy’ariyah dalam bidang Akidah, jadi beliau Ahlussunnah tulen.


Untuk tahun wafat beliau masih diperselisihkan, ada yg mengatakan 780 H /1378 M. Atau tahun dimana beliau menyelesaikan kitab Rahmatul Ummah, ada yg mengatakan sekitar tahun 800 H / 1398 M. 


Beliau mempunyai beberapa karya, yang terkenal adalah : 1. Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil Aimmah, 2. Kifayatul Muftin wal Hukkam fil Fatawi wal Ahkam.


Demikian sekilas biografi tentang pengarang Rahmatul Ummah, semoga bermanfaat..


Wallahu A'lam

==========


Catatan:


*Dinasti Safadiyah adalah Salah satu Krajaan besar di Negeri syam, uniknya mereka tunduk pada Krajaan Mamluk di Mesir, sebelumnya mereka dikuasai oleh Pasukan Salib sebelum akhirnya ditaklukkan kembali oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, setelah Dinasti Ayyubiyah berakhir, mereka mendirikan Dinasti Safadiah, Disebut Safadiyah karena salah satu Pusatnya adalah Safad, daratan tinggi di daerah Lebanon-Israel.


Refrensi: Muqaddimah Rahmatul Ummah Penerbit Darul Kutub Ilmiyah

Selasa, 16 April 2024

MENGENANG MBAH SLAGAH (SAYID HASAN SANUSI): PEJUANG KEMERDEKAAN & PENDIRI MASJID JAMIK PASURUAN



MENGENANG MBAH SLAGAH MACAN PUTIH PEKUNCEN PANGGUNGREJO KOTA PASURUAN


Mbah Slagah di lahirkan di Keboncandi, Kabupaten Pasuruan. Beliau bernama asli Sayyid Hasan Sanusi, putra Sa'ad bin Syakaruddin keturunan dari sayyid Sholeh Semendi Winongan (kakak kandung Sayyidah Khodijah Binti Hasanuddin Bin Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati) dan Insya Allah silsilahnya terus sampai kepada Sayyidatina Fatimah putri junjungan kita Nabi Besar Muhammad shalallahu alaihi wasallam.


Asal Nama Slagah


Nama Slagah berarti singa putih. Sebab dinamakan Slagah,  menurut keterangannya, saat berjuang melawan penjajah dulu, sosok Mbah Slagah bisa tampak seperti singa putih yg siap menerkam sehingga dinamakan Slagah.


Mbah Hasan Sanusi, menyebarkan Agama Islam di daerah Malang, maka mendapat julukan Mbah Slagah (Macan Putih). Selanjutnya di Pasuruan terjadi peperangan dgn Belanda yg menimbulkan banyak korban, akan tetapi pada akhirnya Belanda gagal dalam menduduki Pasuruan. 


Penyebar Islam


Mbah Slagah adalah seorang mubaligh dan penyebar agama Islam yg senantiasa mendekatkan hatinya kepada Allah swt. Dalam menunaikan tugas yg suci dan mulia ini beliau tidak mengenal lelah atau putus asa, demi berkembanynga agama Allah, khususnya di daerah Pasuruan dan sekitarnya. Selain beliau sebagai seorang mubaligh yg gigih menyebarkan agama Islam, beliau juga sbg pejuang bangsa dan pembela tanah air.


Seorang Pejuang


Mbah Slagah adalah seorang pejuang dalam pertempuran tsb. Setelah perang usai, Bupati Pasuruan menghendaki Mbah Slagah menetap di Pasuruan, yg akhirnya mendirikan masjid Jami' hingga saat ini. Selain sebagai Pejuang, Mbah Slagah juga seorang ulama besar pula, dimana wafatnya selalu diperingati dgn memberikan do'a bersama yg agak unik oleh ahli waris atau keturunan serta umat islam yg ada di Pasuruan dan sekitarnya dgn cara pembacaan syair do'a setiap hari raya ketujuh (Hari Raya ketupat), bulan syawal.


Sebagai seorang kyai , beliau tidak kenal lelah dalam melakukan syiar agama Islam di seluruh Pasuruan dan sekitarnya. Hingga akhirnya, penyebarannya sampai di daerah Malang. Saat itu, penjajahan Belanda mulai dirasakan di Pasuruan. Untuk itu, beliau diminta Bupati Pasuruan saat itu, Raden Surgo, untuk kembali ke Pasuruan guna melawan penjajah. Belanda saat itu memasuki Pelabuhan Utara yg terletak di Mayangan.


Perjuangan mengusir penjajah Belanda berhasil, meski adik Mbah Slagah, Mbah Khotib (kalau tidak salah), harus meninggal dari tangan penjajah, yg dimakamkan di Mayangan (sebelah selatan pabrik Boma).


Membangun Masjid


Setelah itu, oleh bupati dia disuruh menetap di Pasuruan kota, tepatnya di Desa Kebonsari, Kecamatan Bugul. Dia juga diberi kepercayaan untuk mendirikan masjid besar di wilayah tsb. Masjid Agung Al-Anwar tsb terus berdiri megah hingga sekarang di tengah2 kota, yg didirikan bersama Bupati Pasuruan Nitiadinigrat I.


Mbah Slagah kala itu merasa belum ada masjid utama di Pasuruan yg dapat dijadikan tempat beribadah jemaah. Ia sempat ingin membangun sebuah masjid di kawasan Kebonsari. Namun akhirnya Bupati kala itu memberikan sebidang tanah untuk Mbah Slagah di dekat alun2 Pasuruan.


Meski Mbah Slagah berjasa bagi masjid tsb, beliau berbeda dgn pendiri masjid2 bersejarah lain di mana mereka akan dimakamkan dekat dgn masjid yg ia dirikan. Namun, Mbah Slagah enggan melakukan hal tersebut. Jenazah Mbah Slagah disemayamkan di komplek makam Mbah Slagah, Jalan Slagah Pekuncen Panggung Rejo Pasuruan.


Masjid Agung Al Anwar luasnya mencapai 3.770 meter persegi, termasuk komplek pemakaman KH Abdul Hamid yg terletak di belakang. Uniknya, warga Pasuruan lebih familiar mengenal Masjid Agung Al Anwar dgn sebutan Masjid Jami'. Wisatawan pun dibuat bingung lantaran tidak ada petunjuk nama masjid yang terpampang di depannya.


Sebab Dikubur di Pekuncen


Ada cerita menarik saat Belanda mencarinya di tengah2 pertempuran. Mengenai sebab-musabab dimakamkannya Mbah Slagah di pemakaman Kedunglo ini, diawali dengan sebuah kisah :


Pada suatu hari terjadilah pertempuran sengit, dimana Mbah Slagah dikejar-kejar Belanda dan beliau masuk ke salah satu rumah untuk bersembunyi. Pemilik rumah tersebut adalah Den Ayu Beri yang mempersilahkan Mbah Slagah untuk segera bersembunyi didalam kain yang sedang dibatik oleh Den Ayu Beri. Den Ayu Beri adalah ibu daripada Raden Grudo, bupati Pasuruan pertama. Atas pertolongan itulah maka Mbah Slagah selamat dari kejaran Belanda. Akibat peristiwa tersebut Mbah Slagah merasa berhutang budi kepada Den Ayu Beri. Sebagai tanda terimakasih mbah Slagah menanyakan kepada Den Ayu Beri. “Apa yang kau pinta?.” Maka Den Ayu Beri menjawab : “Saya tidak minta apa-apa, hanya berwasiatlah kepada keluargamu, bila kau meninggal dunia mintalah dimakamkan disamping kuburku. Dan akupun akan berwasiat serupa kepada keluargaku.”


Den Ayu Beri


Siapakah Den Ayu Beri ? Beliau adalah putri dari selir Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II ddari kbergelar , istri Bupati Pasuruan, Kyai Ngabehi Wongsonegoro, yg bergelar Tumenggung Nitinegoro. Den Ayu Beri merupakan keturunan Sunan Ampel, memiliki seorang anak yg bernama Raden Groedo yg kemudian menggantikan ayahnya sbg bupati Pasuruan dgn gelar Tumenggung Nitiadiningrat I, memerintah hingga 7 Nopember 1799 M, selama 48 tahun.


Besan 


Mbah slagah ini juga adalah teman akrab dan besan dari pada Sayyid Ali Akbar Bin Sulaiman Bin Abdurrahman. Putri beliau yg bernama Sayyidah Muthi'ah dinikahkan dgn putra sayyid paling kecil Sayyid Ali Akbar yg bernama Sayyid Ali Ashghor (pernikahan itu terjadi ketika Sayyid Ali Akbar sudah tidak ada karena dibawa belanda) .


Haul Mbah Slagah Yang Unik


Kebesaran nama Mbah Slagah ternyata benar2 berbekas di benak masyarakat Pasuruan. Kenyataan itu terlihat saat peringatan wafat (Haul). Ribuan masyarakat berduyun2 mengenang kembali sejarah tokoh pejuang dan penyebar agama di Pasuruan. Warga dari berbagai pelosok kota dan kabupaten Pasuruan, sudah mulai berdatangan sejak malam hari sebelum acara haul itu dimulai. Mereka mengikuti beberapa rangakaian acara yg digelar panitia di pelataran makam Mbah Slagah di kawasan Jalan Slagah gang lima, bersebelahan sebuah mushollah kecil di samping selatan makam itu. 


Rentetan acara itu sendiri berupa hataman Al–Qur’an, pembacaan surat Yasin dan Tahlil serta pembacaan diba’. Pembacaan diba’ itu sendiri berlangsung cukup istimewa, pasalnya sejarah singkat yg menceritakan hal ihwal kelahiran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam itu dibaca dgn iringan puluhan grup hadrah secara bergantian.


Uniknya juga, haul yg diselenggarakan setiap tahun, oleh keluarga bersama masyarakat dikawasan Pekuncen itu, tanpa suguhan makanan bagi para pengunjung. Berbeda dgn haul yg diselenggarakan di tempat2 lain, biasanya panitian menyediakan makanan bagi para tamu. 


Hanya saja, masyarakat sekitar makam Mbah Slagah menyediakan makanan berupa ketupat di masing2 rumahnya. Usai mengikuti acara haul dipersilahkan singgah ke rumah yang disukai, dan bisa menikmati hidangan yg telah disiapkan. 


Keunikan lainnya ada pada undangan. Dari ribuan pengunjung yg datang tak satupun yg diundang. Baik undangan kepada ulama, pemerintah maupun masyarakat. Mereka datang secara sukarela mendengar dan menghayati secara khusyuk perjuangan tokoh pejuang dan penyiar agama yg memiliki nama asli Mbah Slagah ini. Bahkan masyarakat Tionghoa dan masyarakat non pribumi juga tak ketinggalan memberi sumbangan pelaksanaan haul (8 Syawal).


Wallahu a'lam


Sumber: www.pcnukotapasuruan.or.id , Wartabromo.com dll.

Minggu, 03 Maret 2024

Biografi Syeikh Abul Fadhol As senory At tubany




Senori, salah satu Kota Kecamatan di Kabupaten Tuban Jawa Timur. Namanya harum seharum nama ulama guru para ulama Indonesia. KH. Abul Fadlol As-Senory At-Tubany. Meski beliau sudah wafat, namanya tidak bisa hilang dari ingatan semua orang. Bahkan berkat beliau, nama Senori juga ikut harum. 

Kiai Fadlol memang fenomenal, kisahnya dari kecil hingga besar sebagaimana yang dituturkan oleh putra pertamanya, KH. Abdul Jalil selalu menarik untuk disimak dan disuritauladani.

Sejak kecil mBah Ddlol -begitu beliau dipanggil- sudah menampakkan keanehannya dibanding dengan anak seusianya. 

Nakalnya luar biasa tapi kecerdasan dan keberaniannya juga di atas rata-rata. Setiap ada tamu yang sowan pada abah beliau Kiai Abdusy Syakur, wedang yang disuguhkan pasti akan dicicipi dulu. Bak seorang guru yang memberi barokah pada santrinya. 



Beliau suka bermain di markas belanda yang ada di depan rumahnya. Dengan gayeng beliau bisa bercengkrama dengan para londo totok. Tak heran bila beliau sudah mampu berbahasa Belanda dengan fasih.

Di saat usia baru 9 tahun sudah hafal al Qur'an dalam waktu dua bulan. Padahal rata-rata orang menghapal al Qur' an itu butuh waktu 3 sampai 4 tahun. 

15 juz yang awal ditempuh dalam satu bulan setiap satu juz dibaca 3 kali dalam satu jalsah dan langsung hapal dan 15 juz yang akhir juga ditempuh satu bulan dengan metode setengah juz di baca 3 kali dan langsung hapal.

Beliau ketika kecil sering nguping saat abahnya mbalah kitab bersama santri-santri. Bila sang abah sudah selesai, gantian beliau yang membaca kitab yang sama sambil menerangkan isinya persis seperti keterangan abahnya. 

Beliau mengaji hanya kepada abahnya, KH Abdusy Syakur dan kepada Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy'ariTebuIreng Jombang. Itu pun hanya ditempuh selama tujuh bulan.

Pada saat khatam ngaji Jurumiyyah, beliau bisa baca Taqrib dan Fathul Mu'in. Sewaktu khatam Kafrawi, beliau bisa baca Fathul Wahab. Dan ketika khatam Alfiah di saat usianya baru 11 tahun beliau sudah bisa ngajar sekaligus menulis kitab. Ketika khatam Uqudul Juman, gaya dan tata bahasa karangan beliau menjadi penuh warna dan bernilai sastra tinggi. 

Metode yang digunakan dalam mengajar santri-santrinya adalah sorogan dengan satu judul kitab sampai khatam, baru setelah itu ganti kitab lain. Hal ini bertujuan agar benar-benar bisa difaham dan meresap dalam dada. 
Menurut beliau al ilmu fir ro'si laa fil karrosi (Ilmu itu ada di kepala bukan dilampiran kitab).

Kediaman Syech Fadhol: Konon di rumah ini Kiai Faqih Langitan, Kiai Hasyim Muzadi, dan Kiai semasanya mengaji pada Syech Fadhol

Bila jam menunjuk pukul satu malam, beliau bangun untuk melakukan qiyamullail sampai pagi. Malam-malam yang sepi dan sunyi itu diisi dengan dzikir pada sang kholiq.

Sayup-sayup terdengar lantunan dzikir dan bacaan al Qur' an dari kamar pribadinya. Ketika menjelang subuh, dzikir itu ditutup dengan bacaan hizib Saifi Mughni, hizib Nashor, dan hizib Bahr.

Dalam sebulan beliau bisa khatam al Qu'an sebanyak 60 kali. Sedangkan dalam menambah keilmuan, setiap 10 hari bisa khatam satu kitab besar. Itupun dalam keadaan setengah hapal isinya. 

Hal ini terbukti bila ada persoalan, beliau mampu menunjukkan jawaban disertai ta'birnya. Bagi beliau seakan-akan tidak ada masalah yang musykil apalagi mauquf. 

Sehingga KH. Maimun, Pengasuh PP. Al Anwar Sarang menjulukinya dengan "Sang Kamus Berjalan". Bila melakukan sholat selalu di awal waktu. Dalam memberi maui'dzoh atau khutbah, beliau bersikap serius namun mengena dan menyentuh perasaan. Sehingga para pendengarnya dibuat hening dan tak jarang menagis tersedu-sedu karena terbawa perasaan.

Kendati demikian, Mbah Dhol juga manusia biasa, punya anak dan keluarga yang butuh untuk di nafaqohi. Oleh sebab itu beliau juga bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Berbagai pekerjaan yang pernah dilakukaan dan dijalaninya antara lain: jadi buruh jahit, penjahit, bahkan jualan benang. 

Ada cerita menarik ketika beliau jualan benang. Dari daerah Kerek Tuban sampai Sedan Rembang beliau tempuh dengan jalan kaki sambil memikul benangnya. Sebuah jarak yang sangat jauh dengan beban di punggung yang tidak ringan.

Selain itu beliau juga pernah jualan kain, membuka toko, reparasi sepeda pancal dan sepeda motor, membuat barang-barang elektronik, meski beliau tidak pernah belajar elektro sama sekali. Beliau juga pernah menjadi bos becak, mendirikan pabrik rokok dan lain sebagainya.

Yang mengherankan, setiap usahanya berkembang pesat, seketika itu juga dihentikan dan ganti pekerjaan lain yang dimulai dari nol lagi. Hal ini semakin menguatkan keyakinan banyak orang bahwa beliau adalah sosok kyai yang zuhud. Tujuannya bekerja hanyalah ibadah dan sekadar menuruti perintah Allah SWT semata, bukan untuk mencari harta. 

Dengan memulai dari nol lagi tentu banyak kesulitan yang dihadapi, semakin banyak kesulitan, kian banyak pahala yang kan didulang, al ajru biqodri ta'ab, "pahala tergantung dari nilai kepayahannya."

Jadi menurut beliau segala sesuatu mesti diniati ibadah bahkan sampai dalam memberi nafaqoh istrinya pun tidak lepas dari dimensi ibadah. 

Beliau dalam memberi nafaqoh harian pada istrinya tidak memberikannya sekaligus sehari, tapi nafaqoh pagi di berikan pada waktu pagi, nafaqoh siang di berikan di siang hari dan nafaqoh sore diberikan sore.

Ketika hal itu di tanyakan, jawab beliau "agar banyak niatnya sehingga banyak pula pahalanya".

Dalam keseharian beliau sanngat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta'ziah dalam wafatnya KH. Zuber Sarang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya. 

Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja mBah Maimun Zuber memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak.

Makam Syech Fadhol: sesederhana masa hidupnya yang bersahaja

Puluhan karya tulis yang telah beliau hasilkan. Beliau sudah menulis sejak masih remaja. Hanya yang patut disayangkan adalah karya tulisnya banyak yang tidak bisa dimanfaatkan sebab sebagaian ada yang terkena banjir tatkala banjir besar tahun 1971 melanda Tuban dan yang sebagaian lagi dibawa oleh murid-muridnya yang tersebar di mana-mana, sehingga sulit untuk melacaknya sekarang. 

Beliau dalam mengajar santrinya selalu mengarangkan materi pelajarannya baik yang berbentuk nastar maupun nadzom, setelah selesai, kitab karangannya diberikan pada muridnya yang mengaji.

Di antara karangan beliau yang sudah beredar adalah:
1. Tashilul Masalik Syarah Alfiah Ibnu Malik
2. Kasfyfuttabarih fi sholatittaroweh
3. Ahli Musamaroh fi Bayani Auli'il Asyroh
4. Durrul Farid fil limit tauhid

Dan beberapa karangan yang belum selesai seperti nadzom Bahjatul Hawi, Nadzom Jam'ul Jawami'. (Asnawi/Sis Maula)

Disadur dari MAJALAH KAKILANGIT ed 8 th 2 2004
________________
sumber:
elnova.blogspot
angkringbanyon.blogspot
anjangsanasantri.blogspot

Sabtu, 23 Juli 2022

Syekh Waliyullah Ahmad ad-Dahlawi: Mujaddid dari India keturunan Khulafaur Rasyidin




Nama lengkap
Nama lengkapnya adalah Qutb al-Din Ahmad bin Abd al-Rahim bin Wajih al-Din al-Syahid bin Mu’azam bin Mansur bin Aḥmad bin Maḥmud bin Qiwam al-Din al-Dihlawi. Ia dilahirkan pada hari Rabu, tanggal 4 Syawal 1114 H atau 21 Februari 1703 M . di Phulat , sebuah kota kecil di dekat Delhi. Beliau lahir pada masa Akhir dinasti Kesultanan Maghul atau empat tahun sebelum Sultan Aurangzeb Sultan  Maghul yang ke  wafat

Masih keturunan Khulafaur Rasyidin
Dalam banyak karangan beliau menyatakan Kalau beliau adalah masih keturunan Sayidina Umar dari jalur ayah dan merupakan keturunan yang ke 33 walaupun sebagian kalangan yang menyangsikannya Sehingga dalam nisbatnya selain al-dahlawi, dibelakang namanya sering dilengkapi dengan al-Umari, dan al-Faruqi dan kalau dilihat dari garis keturunan ibunya menyambung kepada Ali ibn Thalib.
Beliau hidup di lingkungan terhormat dan perhatian terhadap ilmu pengetahuan, tercatat sejak abad ke 6 hijriyah kakek buyut beliau Syamsuddin sudah memegang jabatan Mufti dan ini terus turun sampai pada ayah beliau Abdurrahim yang menjadi teman dekat Sultan Aurangzeb penguasa Kesultanan Maghul sekaligus salah satu penyusun kitab Fatawa al-Hindiyah.
Beliau mulai mengeyam pendidikan sekolah sejak berusia 5 tahun, pada usia 7 tahun beliau sudah selesai menghafal al-Quran secara sempurna pada usia 10 tahun beliau menamatkan pendidikan dasarnya, pada usia 15 beliau sudah dibaiat oleh sang ayah menjadi pengikut tariqah an-Naqsyabandiyah dan pada tahun yang sama beliau menikah
Perjalanan ke tanah haram
Pemikiran
     Ketika ia dewasa ia menyaksikan kemunduran yang dialami oleh umat Islam India dalam berbagai hal dan berada pada titik kritis kemundurannya. Hal ini sangat berbeda sekali dengan ketika ia dilahirkan, dimana kerajaan moghul Islam sedang dalam puncak kebesarannya.
    Dalam keadaan demikian ia terpanggil hatinya untuk mengubah tatanan sosial dan politik di India zaman itu. Sebagai seorang yang realistik, ia berusaha memberikan diagnose terhadap perbagai penyakit yang merasuki politik maupun semangat keagamaan masyarakat Islam, dan menganjurkan cara pengobatan untuk kesembuhannya dari jurang kehancuran.
     Menurutnya, salah satu sebab kemunduran umat Islam salah satunya adalah masuknya adat-istiadat dan ajaran-ajaran bukan islam ke dalam keyakinan umat islam (bid’ah). Umat Islam di India menurutnya banyak dipengaruhi oleh adat-istiadat dan ajaran Hindu. Karena itu keyakinan ajaran umat islam harus dibersihkan dari hal-hal asing tersebut. Mereka mesti dibawa kembali kepada ajaran-ajaran islam yang sebenarnya bersumber yang asli yaitu Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk mengetahui ajaran-ajaran islam sejati, orang harus kembali kepada 2 sumber tersebut bukan kepada buku-buku tafsir, fiqih, ilmu kalam dan sebagainya.
     Dan penyebab kemunduran umat yang lainnya adalah taqlid atau mengikut dan patuh pada penafsiran dan pendapat-pendapat ulama-ulama masa lampau. Ia mensarankan agar masyarakat Islam bersifat dinamis. Penafsiran yang sesuai untuk suatu zamannya belum tentu sesuai dengan zaman sesudahnya. Oleh karena itu ia menentang taqlid dan sangat menganjurkan untuk berijtihad. Ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits, melalui ijtihad harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Karena itu dalam rangka pemikiran ajaran islam yang murni dan yang telah kemasukan adat istiadat, ia membedakan antara Islam yang universal dan Islam yang mempunyai corak lokal. Islam universal mengandung ajaran-ajaran dasar yang kongkrit, sedang islam lokal mempunyai corak yang ditentukan oleh kondisi tempat yang bersangkutan, dan yang harus dikembangkan menurutnya adalah Islam yang universal.
     Sebab lainnya adalah sistem pemerintahan dinasti kerajaan (otokratis). Karena ada perubahan sistem pemerintahan Islam dari system kekhalifahan yang bersifat demokratis menjadi sistem kerajaan yang bersifat otokratis. Dalam sejarah raja-raja pada umumnya mempunyai kekuasaan absolut. Besarnya pajak yang harus dibayar petani, buruh, pedagang ditentukan sendiri. Pajak yang tinggi harus dibayar rakyat, menurutnya membawa pula pada kelemahan umat. Selanjutnya hasil pajak yang tinggi dipergunakan bukan untuk kepentingan umat tetapi untuk membelanjai hidup mewah dari kaum bangsawan yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Pemungutan dan pembelanjaan uang yang tidak adil ini menimbulkan perasaan tidak senang rakyat sehingga ketertiban dan keamanan terganggu. Untuk mengantisipasi hal-hal negatif tersebut, ia berpendapat bahwa sistem pemerintahan yang terdapat di zaman khalifah yang empat (khalifaurrasyiddin) perlu dihidupkan kembali.
    Syah Waliyullah juga berusaha mendamaikan perpecahan yang terjadi dikalangan umat islam, yang diakibatkan oleh pertentangan oleh aliran dan mazhab. Menurutnya hal ini merupakan sebab lain bagi lemahnya umat Islam. Pada zamannya memang terjadi pertentangan yang sangat tajam antara Sunni dengan Syi’ah, Mu’tazilah dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dilain pihak Kaum Sufi dan kaum Syari’ah dan diantara pengikut Mazhab yang 4-pun demikian. Oleh sebab itu ia berusaha untuk mengadakan suasana damai antara golongan-golongan tersebut. Syi’ah oleh kalangan sunni yang mayoritas dipandang telah keluar dari Islam, pendapat ini dilawan oleh Syah Waliyullah dengan menegaskan bahwa kaum Syi’ah sama halnya dengan kaum Sunni, masih tetap Islam. Ajaran-ajaran yang mereka anut tidak membuat mereka keluar dari Islam.
    Dalam bidang tasauf ia berupaya menyelaraskan konsepsi Ibn Arabi tentang wihdah al wujud (kesatuan wujud) dengan konsepsi Syaikh Ahmad Sirhindi (w.1624 M) tentang wahdah al syuhud (kesatuan penyaksian).   
    Dalam bidang hadist, ia adalah pelopor kebangkitan hadits di wilayah India, dimana waktu itu studi hadits di Timur Tengah mengalami kemandegan. Dalam bidang hadits ini, ia membuat syarah kitab Al Muwaththa karya Imam Malik dalam dua bahasa (bahasa Arab dan Persia), yaitu Al Mushaffa dan Al Maswa. Pembaharuan dalam pemikiran dan juga studi hadits ini ini dilanjutkan oleh anak dan cucu-cucunya.
Karya-karya Beliau.
Karya-karya yang telah diukir oleh Ulama multidisipliner ini sangat banyak. Zafrul Islam Khan menyebutkan bahwa kitab karangan Shah Waliyullah al-Dihlawi berjumlah 100 buah yang mencakup berbagai varian ilmu, mulai al-Qur’an, hadis, tarikh, fikih, usul fikih, tasawwuf, filsafat, dan politik. Hasil karya tersebut ditulis dalam bahasa Arab maupun persia dan kebanyakan dibuat setelah rihlah ilmiyah selama 14 bulan di Hijaz, termasuk Ḥujjah Allah al-Bāliġah yang memuat metodologi pemahaman hadis al-Dihlawī. J.M.S. Baljon menyebutkan ada dua karya al-Dihlawi yang dikarang sebelum keberangkatannya ke Hijaz. Dua karya tersebut adalah al-Qasida al-Lamiya (lirik puisi, bahasa arab) dan al-Qawl al-Jamil fi Bayan Sawa’ al-Sabil.
Beliau merupakan ulama yang produktif dan ahli dalam berbagai fan. Berikut nama-nama kitab berdasarkan disiplin ilmunya.
Dalam bidang Ulum al-Qur`an: 1) Fathu ar-Rahman fi tarjamah al-Quran dengan bahasa prancis, 2) Az-Zahrawin fi tafsir surah al-Baqarah wa al-Imran. 3) Al-fauzul Kabir fi ushul at-TafsirMenerangkan lima dasar al-quran dan ta’wil huruf muqatha’ah.Ta`wil al-ahadits. Berbicara tentang kisah para nabi dan menerangkan dasar diutusnya bersama kehidupan sebelum kenabian bersama kabilah kaumnya, dan juga memaparkan hikmah ilahiyah di zaman mereka.
5.      Al-fath al-Khabir. Sama dengan bagian kelima dari kitab al-fauzul Kabir fi ushul at-Tafsir dengan menitik beratkan kepada gharib al-Qur`an dan tafsirnya yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas R.A.
6.      Qawanin at-Tarjamah. Menjelaskan metode terjemah al-Quran serta solusi problematika didalamnya.
  Dalam bidang Hadits wa Ulumihi:
1.      Al-Musthafa syarh al-Muwatha`
2.      Al-Maswa syarh al-Muwatha` ditulis dengan bahasa arab dengan disertai perbedaan madzhab dan penjelasan lafadz-lafadz yang gharib
3.      Syarh tarajim abwab al-bukhari
4.      An-nawadir min ahadits sayyid al-awail wa al-akhirin
5.      Arbain. Kumpulan empat puluh hadits yang diriwayatkan dari gurunya abi thahir dengan sanad yang muttashil kepada ali bin abi thalib, R.A.
6.      Ad-dar ats-tsamin fi mubasyarat an-nabi al-amien
7.      Al-irsyad ila muhimmat al-isnad
8.      Risalah basyithah fi al-asanid. Ditulis dengan bahasa prancis.
  Dalam bidang ushul ad-Din:
1.      Hujjatullah al-Balighah. Kitab yang membahas ilmu asrar asy-syariah dan hukumnya.
2.      Izalah al-khafa` an khilafah al-khulafa`. Dalam bahasa arab.
3.      Husn al-Aqidah.
4.      Al-Inshaf fi bayan asbab al-Ikhtilaf.
5.      Aqd al-Jayyid fi ahkam al-ijtihad wa at-Taqlid.
6.      Al-budur al-Bazighah.
7.      Al-muqaddimat as-sunniyah fi intishar al-Firqah sunniyah.
  Bidang Ilmu Hakikat dan Behaviourisme:
1.      Al-maktub al-Madani.
2.      Althaf al-Quds fi abayan lathaif an-Nafs.
3.      Al-Qawl al-Jamil fi Bayan sawa`i as-Sabil.
4.      Al-Intibah fi Salasil Awliya`Illah.
5.      Hama’at.
6.      Lama’at.
7.      Satha’at.
8.      Hawami’. Syarah Hizb al-Bahr.
9.      Syifa` al-Qulub.
10.  Khair al-Katsir.
11.  At-Tafhimat. Al-Ilahiyah.
12.  Fuyud al-haramain.
  Bidang sejarah dan sastra:
1.      Surur al-Mahzun. Dalam bahasa prancis. Ringkasa kitab Nur al-Uyun fi talkhis sir al-amien wa al-Ma`mun.
2.      Anfas al-Arifin. Kitab yang berisi biografi sesepuh beliau dan pembesar keluarganya.
3.      Insan al-ain fi Masyayikh al-Haramain.
4.      Diwan asy-syi’ri al-Arabi.[5]

Karya-karya yang telah diukir oleh Ulama multidisipliner ini sangat banyak. Zafrul Islam Khan menyebutkan bahwa kitab karangan Shah Waliyullah al-Dihlawi berjumlah 100 buah yang mencakup berbagai varian ilmu, mulai al-Qur’an, hadis, tarikh, fikih, usul fikih, tasawwuf, filsafat, dan politik. Hasil karya tersebut ditulis dalam bahasa Arab maupun persia dan kebanyakan dibuat setelah rihlah ilmiyah selama 14 bulan di Hijaz, termasuk Ḥujjah Allah al-Bāliġah yang memuat metodologi pemahaman hadis al-Dihlawī. J.M.S. Baljon menyebutkan ada dua karya al-Dihlawi yang dikarang sebelum keberangkatannya ke Hijaz. Dua karya tersebut adalah al-Qasida al-Lamiya (lirik puisi, bahasa arab) dan al-Qawl al-Jamil fi Bayan Sawa’ al-Sabil
Sudah lebih seminggu saya ingin menulis biografi syekh Waliyullah ad-Dahlawi tapi baru ketulis sekarang, berawal dari searcing di google tentang beliau bulan kemarin saya sedikit mengetahui tentang beliau namun setelah saya membaca di buku karangan beliau yang di terjemahkan dari bahasa prancis kedalam bahasa arab oleh Salman al-Husaini an-Nadwa ada banyak info biografi beliau yang salah mulai dari tanggal lahir dan wafatnya juga nama asli beliau. Berikut biografi singkat Syekh Waliyullah ad-Dahlawi.
Hari rabu 14 syawal tahun 1114 H. ad-Dahlawi kecil dilahirkan dengan nama Qutubuddin ahmad bin Abdurrahim bin Wajihuddin al-Umriy ad-Dahlawi. Sang ayah, Abdurrahim, merupakan ulama terkemuka di dahliy (nama tempat) yang menguasai ilmu dhahir dan batin serta mempunyai derajat yang tinggi dalam thoriqoh sufi. Meninggal dunia pada siang hari tahun 1176 H. di kota delhi hari sabtu bulan Muharram.
Ad-Dahlawi kecil mulai belajar secara teratur kepada ayahnya sendiri. Ketika mencapai usia sepuluh tahun beliau mempelajari syarhul al-kafiyah karya al-Jami serta mempelajari tafsir baidhawi hingga berusia suapuluh lima tahun,dan banyak kitab-kitab lainnya dalam bidang hadits,fiqh, ushul fiqh, akhlaq, mantiq, ilmu kalam, tasawwuf, hikmah, ma’ani, kedokteran, dan lain-lain. Semuanya beliau pelajari dari ayahnya kecuali hadits beliau mengambil riwayat dari imam hadits dizamannya muhammad afdhal as-Sialkuti.
Pada tahun 1143 beliau pergi ke haramain untuk menunaikan ibadah haji bersama paman dari ibunya syeh Ubaidilah al-Barhuwi, sepupunya muhammad ‘Asyiq serta sahabat yang lainnya. Ad-Dhalawi berada di haramain selama dua tahun dan menjadi murid dari syeh Abi Thahir Muhammad bin Ibrahim dimadinah munawwarah, ad-Dahlawi berlajar kepadanya, sampai hatam, Shahih bukhari dengan cara qiraah dan sima’i. Beberapa dari shahih muslim, jami’ turmudi, sunan abi daud sunan ibn majah, muwatta` imam Malik, musnad imam Ahmad, ar-risalanya imam Syafi’i, jamiil kabir. Dan hanya mendengarkan (sima’i) dari syeh abi Thahir Muhammad kitab musnad al-Hafid ad-Darimidari mulai awal sampai akhir dalam sepuluh kali pertemuan didalam masjid nabawi disamping mihrab usmani mengahadap makam nabi.

Ad-Dahlawi merupakan pelajar yang cerdas dan ulet sehingga tak ayal syehnya di madinah mengatakan bahwa “dia (ad-Dahlawi) mengambil sanad dari lafadz dan saya hanya menbenarkan maknanya” bermodal kepintarannya semasa belajar lahirlah bermacam-macam karya dari tangan beliau yang menunjukkan betapa luas ilmu yang dikuasainya. Berikut nama-nama kitab berdasarkan disiplin ilmunya.

Jumat, 22 Juli 2022

Obatnya adalah Membaca Kitab

 


Pada saat mondok Imam Asy-Sya’rani pernah sakit kepala karena terlalu banyak hafalan, akhirnya beliau sowan pada gurunya Syaikh Zakariya Al-Anshari untuk curhat tentang keadaannya.

“Bacalah kitab dan diniati untuk kesembuhan sakitmu, maka kamu akan sembuh”. Saran Syaikh Zakariya.

Akhirnya Imam asy-Sya’rani mengikuti saran dari sang guru, tak lama kemudian sakit beliau benar-benar sembuh.

Sumber: Al-Fawaid al-Mukhtarah li saliki thariqil akhirah: 24


Rabu, 07 Oktober 2020

Empat Syarah Utama Minhaj


 


1.       Genealogi kitab Nihayatul-Mathlab, dengan fokus 2 karya Imam a-Nawawi, Minhajuth-Thalibin dan Raudhatuh-Thalibin.

2.       Kanzur-Raghibin karya Syekh Jalaluddin al-Mahalli (791-864 H). Satu dari empat syarah Minhaj yang paling populer. Di entara empat syarah tersebut, kitab ini adalah satu-satunya yang ditulis di abad ke-9. Tiga syarah lainnya ditulis di pertengahan hingga akhir abad ke-10 Hijriyah.

3.       Di antara sekian hasyiyah (komentar lanjutan) Kanzur-Raghibin, yang paling populer adalah hasyiyah yang ditulis Syekh Amirah Ahmad al-Burullusi (w 957 H) dan Syekh Ahmad al-Qalyubi (w 1069 H). Sama seperti al-Mahalli, keduanya berasal dari Mesir.

4.       Mughnil Muhhtaj karya Syekh Khathib asy-Syirbini (w. 977). Di antara empat syarah Minhaj yang paling popular, kitab ini paling sedikit diberi komentar tambahan (hasyiyah). Tercatat, ada 2 hasyiyah Mughnil-Muhtaj dan keduanya belum dicetak, yaitu hasyiyah karya Khathib asy-Syirbini sendiri dan hasyiyah yang ditulis oleh mufti Syafiiyah Makkah, Syekh Umar bin Abu Bakar Ba Junaid (w 1935 M).

5.       Tuhfatul-Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami. Beliau lahir pada 909 H di Mesir, sama seperti 3 penulis syarah Minhaj populer yang lain. Wafat di Makkah pada tahun 974 H dan dikebumikan di Jannatul Mualla. Kitab Tuhfah ini adalah rujukan utama para mufti Syafiiyah di Irak, Syam, Yaman, Dagestan, dan sebagian Hejaz.

6.       Dua hasyiyah kitab Tuhfah, yaitu Hasyiyah Ibni Qasim al-Abbadi al-Mishri (w 994 H) dan Hasyiyah Abdul Hamid asy-Syirwani ad-Dagestani (w 1301 H).

7.       Nihayatul Muhtaj karya Syekh Syamsuddin ar-Ramli ash-Shaghir (919-1004 H). Kitab ini adalah rujukan utama di Mesir dan sebagian Hejaz. Kitab Nihayah memiliki dua kitab hasyiyah utama, yaitu Hasyiyah Syekh Nuruddin asy-Syubramillisi (997-1087 H) dan Hasyiyah Syekh Ahmad bin Abdur Razzaq al-Maghribi ar-Rasyidi (w 1096 H)

8.       Makam Syekh Zakariya al-Anshari (w 927 H) di Kairo. Mujaddid abad ke-9 H ini tidak ketinggalan pula mensyarahi kitab Minhaj melalui karyanya, Nahjuth-Thullab.

9.       Makam Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (w 911 H) di Kairo. Beliau menyusun kitab Minhaj versi nazam berjudul al-Ibtihaj fi Nazhmil-Minhaj. Sayangnya, karya ini tidak sampai beliau rampungkan. 

Kamis, 27 Oktober 2016

Mengenal Lebih Dekat Jalaluddin ar-Rumi: Sufi Besar dengan Sejuta Sastra



Maulana Jalaludin ar-Rumi (604-672 H./1207-1274 M.)
Merajut Ekstase
dengan Seruling dan Puisi

Di keluasan bumi Tuhan, mengapa engkau tertidur di sebuah penjara?
Abaikan pemikiran-pemikiran rumit, untuk melihat jawaban-jawaban tersembunyi.
Diamlah dari kata-kata untuk meraih kalam abadi.
Tinggalkan “kehidupan” dan “dunia” untuk menyaksikan “Kehidupan Dunia”.
 (Maulana Jalaluddin ar-Rumi)


Di Majelis sang Pembawa Cawan yang ramah, berputarlah
Masuklah ke dalam lingkaran.
Berapa lama engkau mengitarinya? Inilah tawarannya:
Tinggalkan satu kehidupan, raihlah keramahan Penggembala...
Hentikan pikiran kecuali bagi Pencipta Pikiran
Berpikir tentang “kehidupan” lebih baik daripada berpikir tentang roti.

Puisi-puisi religius semacam ini kerap terdengar di awal bulan Desember setiap tahun di Konya, Turki. Kota itu bertambah semarak saja pada tanggal 17 Desember, malam puncak sebuah festival. Malam itu disebut dengan “Sheb-I Arus” yang berarti “Malam Perkawinan”; malam pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya.

Malam itu bertepatan dengan malam wafatnya seorang sufi besar, Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Ar-Rumi adalah pendiri tarekat Maulawiyah, aliran tarekat yang identik dengan samâ‘ (tarian berberputar yang diiringi musik seruling dan pembacaan puisi-puisi ar-Rumi maupun sufi yang lain), yang bertujuan mencapai ekstase, klimaks dari seluruh tahap pendakian relegius para sufi. Ar-Rumi juga dikenal lewat gubahan syair-syair religiusnya, syair-syairnya kini digandrungi banyak pengamat sastra Eropa dan Amerika.

Latar Belakang

Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Husain ar-Rumi al-Qunawi lahir dari keluarga Persia di Balkh (kini di Afganistan), pada 30 September 1207 M. bertepatan dengan tahun 604 H. Ar-Rumi adalah keturunan generasi ke sembilan dari Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq .
Ayahanda ar-Rumi, Muhammad bin Muhammad bin Husain (w. 628 H.) memiliki hubungan dengan keluarga Khuwarizm Syah, raja terbesar Dinasti Khuwarizm yang berkuasa di Bukhara dan Samarkand antara tahun 1097-1231 M. Tahun 609 M., ia membawa keluarganya meninggalkan Balkh demi menghindari serangan bangsa Mongol. Mereka sempat berkeliling ke Nisabur (Iran timur laut), Baghdad, Mekah dan kota-kota lain sebelum akhirnya menetap di Konya, ibukota Dinasti Seljuk yang berkuasa di Rum (kini Turki) antara tahun 1077-1296 M. Ayah ar-Rumi sendiri pindah ke Konya karena diminta oleh raja Seljuk, ‘Ala’uddin Kaikobadz (1219-1236 M.).

Dari Pakar Fikih ke Sufi

Ayah ar-Rumi adalah seorang guru besar keagamaan yang mengajar di Konya. Ar-Rumi pertama kali berguru kepada sang ayah, kemudian kepada Bahauddin Muhaqqiq at-Tirmidzi. Setelah Bahauddin wafat, ar-Rumi kemudian menggantikannya mengajar di Konya. Keseluruhannya, ar-Rumi mengajar di empat madrasah di kota itu dan memiliki kurang lebih 4.000 murid.
Ar-Rumi pada mulanya dikenal sebagai pakar fikih bermazhab Hanafi. Ia juga menguasai perbandingan mazhab dan beberapa disiplin ilmu lain. Akan tetapi ar-Rumi kemudian berputar haluan menjadi sufi setelah pada tahun 642 H., ia bertemu dengan seorang darwis misterius, Syamsuddin at-Tabrizi.

At-Tabrizi diyakini memantik ketertarikan ar-Rumi untuk terjun ke dunia tasawuf. Pemikiran at-Tabrizilah yang kemudian banyak menginspirasi ajaran tasawuf yang kelak diusung oleh ar-Rumi melalui tarekat Maulawiyahnya. Sebagai bentuk apresiasi ar-Rumi terhadap at-Tabrizi, Ar-Rumi mendedikasikan salah satu karyanya yang berisi 33.000 bait, “Dîwân asy-Syams at-Tabrizi”, untuk sang guru spiritual.

Ar-Rumi dan al-Matsnawi al-Ma‘nawi

Pada tahun 1997, tabloid Christian Science Monitor menempatkan Maulana Jalaluddin ar-Rumi sebagai penyair paling laris di Amerika. Hal itu tidaklah berlebihan, sebab ar-Rumi dikenal begitu luas sebagai seorang penyair sekaligus mistikus sufi yang memiliki pengaruh paling kuat dalam dunia sastra sufi. Syair-syairnya tidak hanya dibaca oleh penikmat sastra Muslim, tetapi juga oleh kalangan non-Muslim (Barat).

Karya utama Jalaluddin ar-Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah al-Matsnawi al-Ma‘nawi. Buku yang terdiri dari enam jilid ini memuat 25.700 bait puisi karya ar-Rumi.

Al-Matsnawi lahir dan berawal dari persahabatan ar-Rumi dengan Husamuddin al-Halabi. Suatu hari Husamuddin mengutarakan idenya pada Maulana, “Andai saja Engkau menulis sebuah buku seperti Ilâhi Namah milik Sana’i (Abu al-Majd Majdud, w. 1131 M.) atau Manthiq ath-Thair karya Fariduddin al-‘Aththar (w. 627 H.), itu akan menjadi sekumpulan puisi bagi banyak penyanyi keliling. Mereka akan mengisi hatinya dengan hasil karyamu serta mengiringinya dengan gubahan musik.”




Ar-Rumi tersenyum dan mengambil secarik kertas dari lipatan surbannya yang berisi 80 baris dari al-Matsnawi-nya, dimulai dari:
Dengarkan harapan dan dongeng yang diceritakan
Bagaimana itu menyanyikan perpisahan…

Cuplikan sajak yang dilantunkan ar-Rumi rupanya membuat Husamuddin terpesona. Sejak saat itu, Husamuddinlah yang menuliskan sajak-sajak ar-Rumi ketika dia mendeklamasikannya. Proses ini digambarkan oleh Husamuddin: “Ar-Rumi tidak pernah menyentuh pena ketika menulis al-Matsnawi, di manapun dia berada, di madrasah, di taman, kolam renang di Konya, atau di kebun anggur. Aku menulisnya saat dia mendeklamasikannya, siang dan malam dalam beberapa hari. Setiap penyempurnaan dari tiap buku aku membacanya kembali padanya, sehingga dia dapat membenahi apa yang telah ditulis.”

Al-Matsnawi al-Ma‘nawi adalah karya spiritual terbesar yang pernah ditulis manusia. Al-Matsnawi memuat kisah para nabi, ajaran keagamaan dan akhlak. Al-Matsnawi juga berisi penuh dengan spektrum kehidupan di dunia, setiap kegiatan manusia; religi, budaya, politik, perdagangan; setiap karakter manusia dari yang vulgar sampai yang halus –seperti tiruan dari dunia secara detail– juga fabel, sejarah dan geografi. 

Selain al-Matsnawi, karya-karya monumental ar-Rumi lainnya adalah Fîhi Mâ Fîhi (di dalamnya apa yang ada di dalamnya), Maktûbât, serta kumpulan riwayat hidup orang-orang saleh, Manâqib al-‘Ârifîn, yang seluruhnya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajaran tasawufnya.

Tarekat Maulawiyah

Menari merupakan ciri khas tarekat yang didirikan ar-Rumi, Maulawiyah. “Menari tidaklah menyerah pada rasa sakit, seperti butiran debu yang tertiup berputar dalam angin. Menari adalah ketika bangun di dua dunia, menyobek hatimu menjadi serpihan-serpihan dan membangunkan jiwamu,” kata ar-Rumi. Tentang tarian ini ar-Rumi menggambarkan “Seperti gelombang di atas putaran kepalaku, maka dalam tarian suci Kau dan aku pun berputar. Menarilah, oh Pujaan Hati, jadilah lingkaran putaran. Terbakarlah dalam nyala api–bukan dalam nyala lilin-Nya.”

Tarian dan nyanyian yang menjadi praktik ritual khas ala tarekat Maulawiyah ini kemudian masyhur disebut dengan Samâ‘. Dalam praktiknya, beberapa orang sufi masuk ke dalam lingkaran dan menari berputar-berputar secara bersamaan, seraya diiringi musik seruling –sebagai instrumen utama tarekat Maulawiyah–dan pembacaan syair-syair religius gubahan ar-Rumi ataupun sufi lain. Belakangan, tarian ini sangat digandrungi banyak kalangan di dunia Muslim maupun non-Muslim.

Ketika ditanya mengenai tarian Samâ‘-nya yang dinilai melenceng dari syariat, ar-Rumi punya jawaban menarik. Dengan latar belakang sebagai mantan pakar fikih, ar-Rumi berdalih menggunakan kaidah “adh-dharûrât tubîhu al-mahzhûrât” (keadaan darurat menyebabkan hal-hal yang terlarang menjadi boleh). Menurut ar-Rumi, bila untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja, sesuatu yang haram bisa menjadi halal karena darurat (seperti daging babi bagi seseorang yang kelaparan sampai hampir mati), lebih-lebih kebutuhan ruhani.  

Salah satu ajaran penting yang juga menonjol dalam tarekat Maulawiyah adalah mengenai wahdat al-wujûd, dalam arti bahwa Tuhan adalah Wujud yang Meliputi. Jadi, wahdat al-wujûd dalam keyakinan ar-Rumi ini tidak seperti yang pemahaman salah orang-orang awam yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah Allah, atau bahwa Allah adalah segala sesuatu.
Ketika ar-Rumi meninggal dunia pada tahun 1273 M., ia meninggalkan putranya, Bahauddin, untuk melanjutkan kepemimpinan tarekat Maulawiyah. Tarekat Maulawiyah kini berkembang pesat di Konya, Turki dan Syria (Suriah).

Hembusan Nafas Terakhir

Maulana Jalaluddin ar-Rumi wafat pada tanggal 5 Jumadal Akhirah tahun 672 H. atau 17 Desember 1273 M. Pada masa hidupnya ia dikelilingi oleh orang-orang dari setiap agama, begitu pula waktu pemakamannya yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai macam kepercayaan.
Seorang Kristen ditanya, mengapa ia menangis begitu pilu atas kematian seorang guru Muslim. Ia menjawab, “Kami menghargainya seperti kami menghargai Musa, Dawud dan Yesus zaman ini. Kami semua adalah para pengikut dan muridnya.”
Pada batu nisan ar-Rumi, tertulis sebuah petuah yang begitu menyentuh, “Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.”


Penulis: Moh. Yasir

Zaid bin Tsabit: Penulis Wahyu dan Jurnalis Sejati Periode Nabi




Bakat Menulis

Zaid lahir dari pasangan Tsabit bin Zaid dan Nawwar binti Malik bin Sharmah bin ‘Ady. Dia tidak lama merasakan kebersamaan dan kasih sayang keluarganya. Menginjak usia 5 tahun, ayah Zaid tewas dalam perang Bu'ats, perang antara suku Aus dan suku Khazraj yang terjadi sebelum hijrah.
Tak lama setelah itu, ibu Zaid menikah dengan Umarah bin Hazm dari bani Najjar. Umarah syahid dalam perang Yamamah pada tahun ke-11 H. Di bawah asuhan ayah tirinya inilah, Zaid masuk Islam dan menjadi Muslim yang teguh dan gagah berani.
Menurut riwayat Ibnu Sa‘ud, Zaid bisa menulis berkat didikan seorang tawanan perang Badar. Tawanan yang tidak bisa membayar uang tebusan oleh Nabi diberi despensasi dengan mengajarkan baca-tulis pada generasi-generasi Islam yang masih kecil. Tapi menurut riwayat lain, bakat menulis sudah dimiliki Zaid sejak kecil, sebelum Nabi hijrah.

Sekretaris Wahyu

Setelah Nabi hijrah, Zaid dibawa oleh ayah tirinya menemui Nabi , lalu memberitahukan bahwa Zaid sudah hafal beberapa surat al-Quran (sekitar 17 surat). Didepan Nabi , Zaid langsung membacakan al-Quran yang dihafalnya. Nabi  kagum pada kecerdasan dan kefasihan bacaan Zaid, dan menyuruhnya untuk mempelajari bahasa Suryani dan Persia. Dalam suatu riwayat, Zaid hanya butuh waktu sekitar setengah bulan untuk menguasai kedua bahasa asing itu.
Di masa Nabi , Zaid termasuk salah satu penulis aktif al-Quran, alias sekretaris wahyu. Penulisan al-Quran pun sempurna pada masa Nabi , tapi belum terkumpul dalam satu mushaf. Baru pada masa pemerintahan Abu Bakar , al-Quran rampung terkumpul dalam satu mushaf. Zaid juga menjadi penulis surat yang dikirimkan kepada beberapa raja di luar kawasan Islam.

Pengumpul al-Qur’an

Dalam perang Yamamah, sahabat penghafal al-Quran banyak yang gugur. Melihat fenomena itu, Abu Bakar khawatir atas kelangsungan nasib al-Quran. Setelah berunding dengan beberapa sahabat dan atas usulan Umar bin Khattab, barulah disepakati untuk mengumpulkan al-Quran. Segera Abu Bakar menugaskan Zaid sebagai pimpinan pengumpul al-Quran.
Dalam Sahîh al-Bukhârî disebutkan bahwa Zaid dipilih antara lain karena pada masa mudanya, Zaid memiliki peran vital dalam penulisan al Quran. Zaid termasuk sahabat yang paling banyak menulis al-Quran. Selain itu, Zaid adalah sahabat yang mendengar langsung bacaan al-Quran Malaikat Jibril  bersama Nabi  di bulan Ramadhan.
Mulanya, Zaid menolak tugas itu, karena pengumpulan al-Quran tidak pernah dikerjakan Nabi  semasa hidupnya. Zaid merasa ini adalah tugas yang super-berat, hingga beliau menganggapnya lebih berat dibanding memikul gunung. Namun atas motivasi Abu Bakar, akhirnya Zaid bersedia mengerjakannya.

Semagat Jihad

Beberapa saat sebelum perang Badar berkecamuk, Zaid yang masih berusia 15 tahun, namun sangat berambisi untuk menjadi pejuang di jalan Allah . Akan tetapi Nabi  tidak mengizinkannya. Nabi  menilai Zaid masih terlalu muda.
Pad waktu perang Uhud, Zaid kembali meminta restu kepada Nabi  untuk menjadi mujahid, tapi sayang, Zaid masih belum diperbolehkan. Zaid baru mendapat restu menjadi mujahid dalam perang Khandak. Setelah itu, Zaid terlibat dalam beberapa peperangan penting pada masa Nabi . Dalam perang Tabuk, Zaid mendapat kehormatan dari Nabi  untuk memegang bendera perang. Perang terakhir yang diikuti Zaid adalah menghadapi orang-orang murtad.

Beberapa Keahlian

Di samping mahir baca-tulis, pengumpul al-Quran, dan bisa berbahasa asing, Zaid termasuk perawi Hadis. Menurut suatu riwayat, Zaid meriwayatkan Hadis Nabi sebanyak 92. Zaid juga pakar fikih. Dari berbagai riwayat disepakati bahwa Zaid termasuk satu dari enam pakar fikih periode sahabat (Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Mu'adz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, dan Zaid bin Tsabit). Beliau juga ahli ilmu Faraid dan Hisab. Di samping itu, Zaid juga piawai dalam mendendangkan syair. Menurut Sa‘id bin Sulaiman (cucu Zaid), Zaid pernah mendendangkan 90 kasidah milik Ka‘ab bin Malik.

Zaid dari Masa ke Masa

Selain menjalankan tugas kesekretarisan, keilmuan serta dakwah Islam, Zaid sangat aktif dalam berbagai bidang yang lain, yang beliau laksakanan dengan kesungguhan dan ketulusan. Pada perang Khaibar, Zaid mendapat tugas dari Nabi  untuk menghitung pasukan kaum muslimin beserta harta rampasan perang. Dari kalkulasi Zaid, terdapat 1400 prajurit dan 200 kuda.
Demikian pula juga dalam perang Ji‘ranah, Zaid bertugas menghitung prajurit serta membagikan harta rampasan dengan adil, yaitu 4 unta dan 40 kambing pada pejuang pejalan kaki, 12 unta dan 100 kambing untuk pejuang berkuda. Sedang bagi tentara yang mempunyai lebih dari satu kuda hanya dihitung satu kuda.

Pada masa khalifah Abu Bakar, Zaid tetap menjadi sekertaris dan penasihat pemerintahan. Sedang pada masa khalifah Umar, Zaid banyak mambantu khalifah Umar. Jika suatu ketika terdapat masalah pribadi yang tak terselesaikan, Umar tak segan-segan bertanya kepada Zaid. Zaid juga menjabat sebagai dewan muhtasyar yang mengepalai dewan syuro, hakim dan pembagi harta warisan.
Di samping itu, Zaid juga menjadi seorang penerjemah khalifah Umar. Konon, khalifah pernah berdialog dengan Hurmuzan, seorang tawanan panglima perang dari Persia. Khalifah Umar yang tak mengerti bahasa Persia dan Hurmuzan yang tak tahu bahasa Arab bisa lancar berdialog berkat bantuan terjemahan Zaid bin Tsabit.

Zaid juga sering mengganti posisi khalifah Umar di Madinah, jika ketepatan sang khalifah punya kepentingan di luar Madinah. Khalifah Umar juga memasrahkan pembagian harta rampasan (setelah perang Yarmuk) pada Zaid. Zaid juga membantu khalifah Umar menyusun undang-undang negara dan menuliskan nama-nama calon kabinet pemerintahan. Sedang Zaid sendiri menjabat menteri an-nafaqât, yaitu menteri keuangan yang membinyai beberapa peperangan dan perlengkapan perang.
Pada masa Khalifah Utsman, Zaid menjabat sebagai penanggung-jawab Baitul-Mal yang dibantu langsung oleh budaknya sendiri (Wahib) yang menjadi staf sekertaris Baitul-Mal. Khalifah Utsman juga mempercayakan pada Zaid menulis al-Qur’an ke dalam satu bahasa, yakni bahasa Arab Quraisy, guna menghindari persetruan di kemudian hari.

Pada masa pemerintahan Ali, Zaid tidak punya keterkaitan untuk masuk ke kancah politik, dan bahkan tidak terlibat dalam konflik internal Islam. Namun meski demikian, Zaid tetap menaruh hormat kepada Khalifah Ali. Zaid tetap melestarikan aktivitas-aktivitas keilmuannya, serta terus eksis dalam meriwayatkan dan mengajarkan Hadis-hadis Nabi .

Tutup Usia

Zaid tutup usia pada umur 46 tahun (tahun 45 H). Menurut riwayat lain pada tahun 50 H. Penyebab kematian Zaid adalah penyakit beser yang tidak sembuh sampai ajal menjemputnya. Ibnu Abbas berkata pada saat wafatnya Zaid, “Barangsiapa yang ingin tahu bagaimana ilmu itu hilang, maka seperti inilah ilmu itu menghilang". Murid-murid Zaid sangat banyak. Banyak sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan Hadis dari Zaid, seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Said al-Khudri, Anas bin Malik, Sahal bin Abdullah bin Sahl, Said bin Musayyab, dll.
  

Disarikan dari buletin sidogiri

Jumat, 21 Oktober 2016

Biografi Alp Arslan


Sultan Alp Arslan Muhammad bin Daud as-Saljuqi:

Sultan Pemberani, Penegak Akidah Ahlus Sunnah



Nama lengkap
Nama lengkap Buliau adalah Abu Syuja’ Muhammad bin Daud Chaghri Begh bin Mikail bin Seljuk bin Daqqaq at-Turkimani beliau lahir Khwarezmia 20 Januari 1029  atau 1 Muharram 420 Hijriyah (ada yang mengatakan 421 Hijriyah) beliau adalah keturunan Perintis kabilah Seljuk, Seljuk Beik, yang memeluk Islam mulai abad ke-4 Hijriyah.
Ketika pamannya, Thugril Beik, wafat, Alp Arslan naik tahta sebagai Sultan Seljuk. Ia resmi menyandang gelar Sultan pada 27 April 1064 M. sebelumnya,  ia menjadi Gubenur Khurasan Raya setelah ayahnya Caghri Begh wafat pada tahun 1059 M. setelah menjadi sultan ia menyerahkan jabatan Gubenur Khurasan kepada saudaranya Sulaiman.
Masa-masa awal Alp Arslan naik tahta tidaklah mudah, tak sampai satu tahun menjabat ia dihadapkan dengan masalah-masalah internal, terjadi banyak pemberontakaan yang dilakukan oleh saudaranya sendiri Sulaiman, pamannya dan pemberontakaan-pemberontakan yang lain terhitung selama 7 tahun ia masih di sibukan dengan menghadapi masalah-masalah yang ada di dalam negeri.
Setelah berhasil menstabilkan kondisi internal  Alp Arslan mulai mengatur strategi untuk memperluas kekuasaannya yang berasakan Islam Ahlus Sunnah untuk menghalau faham syiah di negeri-negeri yang jauh, ia mulai menginvansi dinasti Buwaihi di Persia kemudian dinasti madarisi di Syam dinasti Fatimi di Mesir yang kesemuanya beraliran Syiah, kemudian mulai memasuki negeri Bizantium dengan menaklukkan Armenia dan beberapa daerah yang dikuasai oleh Romawi.

Pertempuaran Bersejarah melawan Romawi
Setelah berhasil merebut Armenia dan Goergia, Alp Arslan mulai memasuki kota Manzikert. Peperangan di dekat Kota Manzikert merupakan salah satu perang besar yang terjadi pada masa kepemimpinan Alp Arslan.
Pertempuran ini menjadi titik balik tersebarnya islam di daerah asia kecil dan Eropa Timur, bahkan menjadi pembuka jalan bagi sultan Muhammad al-Fatih dalam mempermudah misinya menaklukkan Kostantinopel (Istanbul).

Penyebab pertempuran tersebut karena Kaisar Romawi Romanus IV melihat islam berkembang begitu cepat terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan kekuasannya sehingga ia mempersiapkan pasukan yang besar untuk untuk bisa menghambat tersebarnya perluasan Islam. Pasukan yang dipersiapkan oleh Kaisar Romanus IV jumlahnya mencapai 100 ribu orang. Pasukan Romanus IV terdiri atas orang-orang Romawi, Eropa, Eropa bagian barat, Rusia, Bajnak, Karg, dan lain-lain.

Ketika pasukan Romanus IV sudah sampai di Manzikert, Sultan Alp Arslan masih belum mampu mengumpulkan semua pasukannya. Penyebabnya, jarak satu pasukan dengan yang lain sangat berjauhan dan ditambah lagi posisi musuh yang sudah semakin dekat. Dengan persiapan secukupnya, dia berangkat menuju tentara Romawi berada. Pasukan yang dibawanya hanya berjumlah 15 ribu orang dari para penunggang kuda, itu pun ia dapatkan di dalam perjalanan.
Sebelum pertempuran dimulai Alp Arslan berpidato di hadapan pasukannya, ''Aku berjuang karena hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT dan dengan penuh kesabaran. Kalau seandainya aku menang, maka itu adalah merupakan suatu nikmat dari Allah, seandainya aku mati syahid, maka putraku Malik Shah yang akan menggantikanku.''

Barisan depan antara dua pasukan mulai bertempur. Barisan depan pasukan Romawi jumlahnya mencapai 10 ribu orang. Ketika kedua pasukan sudah siap untuk saling menyerang, Sultan Alp Arslan sempat menawarkan perdamaian kepada Kaisar Romanus IV dan dia menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Hal ini membuat Sultan bimbang, akhirnya pembimbing spritualnya Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari Al-Hanafi, berkata : ''Sesungguhnya Anda berperang untuk membela agama Allah. Dia telah berjanji akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan agama-Nya atas semua agama-agama.''
''Saya berdoa agar Allah SWT menentukan kemenangan dalam pertempuran ini untuk pasukan Islam dengan perantaraan dirimu. Seranglah mereka pada hari Jumat setelah tergelincirnya matahari, yaitu ketika para khatib sedang berada di atas mimbar. Pada saat itu semua khatib berdoa agar orang-orang yang berjihad di jalan Allah mendapatkan kemenangan. Doa mereka pasti akan dikabulkan oleh Allah.''

Setelah terjadi pertempuran sengit, akhirnya tentara muslimin berhasil mengalahkan persekutuan tentara Romawi, dan Kaisar Romanus IV tertawan, ini merupakan pertamakali dalam sejarah Seorang kaisar Romawi tertawan Kaum Muslimin, dan dilepas kembali setelah membayar tebusan dan memenuhi beberapa persyaratan.

Akhlaq Sang Sultan
Ia dikenal sebagai seorang yang dermawan, dalam setiap bulan ramadan ia bersedekah 15 Ribu dinar untuk orang-orang fakir miskin. Selain itu ia juga sangat perhatian dalam bidang pendidikan dan keilmuan, pada tahun 1065 lewat prakarsa perdana menterinya Nidzamul Mulk ia mendirikan Madrasah Nidzamiyah, yaitu salah satu madrasah yang paling bersejarah yang berhasil mencetak generasi emas diantara alumninya adalah Imam Haramain al-Juwaini, al-Ghazali, Ibnu ash-Shabbagh, Abu Ishaq asy-Syirazi, Abu al-Qasim al-Qusyairi, asy-Syasyi, Imaduddin al-Ishfahani, Bahauddin Syaddah (keduanya adalah Qadi dan Penasihat Sultan Salahuddin al-Ayyubi) dan masih banyak yang lainnya.

Tewas di Tangan Pemberontak
Setahun setelah pertempuran Manzikert, ia belarih menuju timur dekat sungai Jihun (sungai Oxus) untuk menyelesaikan permasalahan internal dengan Yusuf al-Harezmi.  Malapetaka terjadi ketika Yusuf al-Harezmi berhasil ditangkap, dia berhasil lepas kembali dan  menikam dada sang Sultan dengan belati yang ia sembunyikan dibalik pakaiannya. Akibat luka yang dideritanya, Alp Arslan meninggal dunia empat hari kemudian, tepatnya pada 25 November 1072 M, pada usia 42 tahun. 
Selama memerintah Kekhalifahan Seljuk, Alp Arslan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga kawasan Ujung Negara Syam dibagian barat dan Turkistan dibagian timur. Namun walaupun Alp Arslan, namun ia masih berafiliasi dengan dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Beliau wafat dengan meninggalkan tujuh orang putra dan dua putri. Kelak, tahta Kesultanan Seljuk yang didudukinya diwariskan kepada salah seorang putranya bernama Malik Shah I.

Gelar-gelar Alp Arslan

Beliau juga punya sederet gelar. Selain dipanggil Alp Arslan yang dalam bahasa Indonesia berarti Singa Pemberani beliau juga diberi gelar Diya’ ad-Din wa ad-Dunya (Cahaya agama dan dunia) Adhudh ad-Daulah (Pengokoh Imperium) as-Sulthan al-Alim (Sultan yang berilmu) al-Maliku al-Adil (penguasa yang adil).

Ngaji Itqon (27): Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?

Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama? Memahami Hikmah Ibham dalam Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat...