Jumat, 29 Mei 2026

Ngaji Itqon (12): Memahami Ayat-Ayat yang Tampak Bertentangan

Musykil Al-Qur’an: Memahami Ayat-Ayat yang Tampak Bertentangan

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang sempurna, suci dari kesalahan, pertentangan, dan kontradiksi. Allah sendiri menegaskan:

“Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.”

Namun dalam praktiknya, sebagian orang—terutama yang baru mempelajari Al-Qur’an—terkadang menemukan ayat-ayat yang sekilas tampak berbeda atau bertentangan. Dalam ilmu tafsir, hal ini dikenal dengan istilah Musykil Al-Qur’an, yaitu ayat-ayat yang secara lahiriah tampak sulit dipahami atau seolah saling bertentangan, padahal hakikatnya tidak demikian.

Karena itu para ulama memberikan perhatian besar terhadap pembahasan ini. Sebagaimana dalam ilmu hadis terdapat pembahasan tentang hadis-hadis yang tampak bertentangan dan cara mengompromikannya, demikian pula dalam Al-Qur’an para ulama menjelaskan cara memahami ayat-ayat yang musykil agar tidak menimbulkan keraguan.

Di antara sahabat yang terkenal dalam bidang tafsir adalah Abdullah bin Abbas. Beliau pernah didatangi seseorang yang merasa bingung dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang tampak berbeda makna. Dengan keluasan ilmu dan pemahaman beliau, semua persoalan itu dijelaskan secara rinci hingga hilanglah kesan pertentangan tersebut.

Orang Musyrik Mengingkari Kesyirikan

Orang itu berkata kepada Ibnu Abbas:

Bagaimana mungkin Allah berfirman:

“Demi Allah Tuhan kami, kami tidak pernah mempersekutukan Allah.”

Padahal dalam ayat lain Allah berfirman:

“Mereka tidak dapat menyembunyikan perkataan dari Allah.”

Bukankah mereka telah berbohong dan menyembunyikan kenyataan?

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahapan yang berbeda di hari kiamat. Ketika orang-orang musyrik melihat Allah mengampuni dosa kaum Muslimin, mereka berharap kesyirikan mereka juga diampuni. Maka mereka berdusta dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah menyekutukan Allah.

Namun kemudian Allah menutup mulut mereka, lalu tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas semua perbuatan mereka. Pada saat itulah mereka tidak lagi mampu menyembunyikan apa pun dari Allah.

Dari sini dipahami bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang keadaan yang berbeda, bukan pertentangan.

Tidak Saling Bertanya dan Saling Bertanya

Orang itu juga bertanya tentang firman Allah:

“Pada hari itu tidak ada hubungan nasab di antara mereka dan mereka tidak saling bertanya.”

Sementara pada ayat lain Allah berfirman:

“Sebagian mereka saling menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya.”

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat ini juga terjadi pada waktu yang berbeda.

Ayat pertama menggambarkan keadaan ketika sangkakala pertama ditiup. Saat itu semua makhluk sangat ketakutan dan pingsan, sehingga tidak ada yang memikirkan keluarga ataupun saling bertanya.

Sedangkan ayat kedua terjadi setelah manusia dibangkitkan kembali. Ketika mereka telah sadar dan berdiri menunggu keputusan Allah, barulah mereka saling bertanya satu sama lain.

Maka perbedaan keadaan menjelaskan perbedaan ayat tersebut.

Penciptaan Langit dan Bumi

Persoalan lain yang ditanyakan adalah tentang penciptaan bumi dan langit.

Dalam satu ayat disebutkan bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu, sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman:

“Dan bumi setelah itu dihamparkan-Nya.”

Sekilas ayat ini tampak menunjukkan bahwa bumi diciptakan setelah langit.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa bumi memang diciptakan terlebih dahulu. Kemudian Allah menciptakan langit menjadi tujuh lapis. Setelah penciptaan langit selesai, Allah menghamparkan bumi, yakni menyempurnakannya dengan gunung-gunung, sungai-sungai, pepohonan, dan lautan.

Jadi kata “dihamparkan” bukan berarti awal penciptaan bumi, tetapi penyempurnaan dan penataannya.

Makna “Kana Allah”

Orang itu juga bertanya tentang penggunaan kata “kana” dalam ayat-ayat seperti:

“Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kata “kana” pada Allah bukan berarti Allah dahulu ada lalu berubah. Akan tetapi maksudnya adalah Allah sejak dahulu telah memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut dan akan terus demikian selamanya.

Allah Mahakuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana sejak azali tanpa permulaan dan tanpa perubahan.

Pelajaran Penting

Dari kisah ini terdapat banyak pelajaran berharga:

Al-Qur’an tidak mungkin bertentangan.

Ayat yang tampak berbeda harus dipahami dengan ilmu dan ketelitian.

Banyak ayat berbicara tentang keadaan atau waktu yang berbeda.

Penjelasan sahabat dan ulama sangat penting dalam memahami Al-Qur’an.

Keterbatasan pemahaman manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan wahyu.


Karena itu seorang Muslim hendaknya tidak tergesa-gesa menyimpulkan adanya kontradiksi dalam Al-Qur’an. Jika menemukan ayat yang sulit dipahami, maka hendaknya merujuk kepada tafsir para ulama, sebagaimana dilakukan oleh Abdullah bin Abbas dalam menjelaskan ayat-ayat musykil.

Pada akhirnya, semua ayat Al-Qur’an saling membenarkan dan saling melengkapi, karena ia berasal dari Allah Yang Mahasempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hukum Shalat Dengan Kepala Terbuka

Pertanyaan: Bagaimana hukum melakukan salat a dengan kondisi kepala terbuka (tanpa penutup kepala) bagi laki-laki, serta bagaimana pengaruhn...