Kamis, 14 Mei 2026

Susunan Urutan Surat Dalam Al-Qur’an: Macam-macam Pendapat Ulama & Argumentasinya

Urutan surat-surat dalam Al-Qur’an

Para ulama berbeda pendapat tentang urutan surat-surat dalam Al-Qur’an.

Pendapat pertama:

Ada yang berpendapat bahwa urutan surat bersifat tauqifi (ditetapkan berdasarkan wahyu), yang diatur langsung oleh Nabi ﷺ sebagaimana diberitahukan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah. Dengan demikian, Al-Qur’an pada masa Nabi ﷺ telah tersusun urutan suratnya sebagaimana susunan ayat-ayatnya, sesuai dengan urutan yang kita miliki sekarang, yaitu urutan dalam Mushaf Utsmani. Tidak adanya perselisihan di kalangan sahabat terhadap susunan Mushaf Utsman menunjukkan tidak adanya penolakan dan menjadi indikasi adanya kesepakatan atas hal tersebut.

Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa dalil, di antaranya:

Rasulullah ﷺ pernah membaca beberapa surat secara berurutan dalam shalatnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa beliau ﷺ menggabungkan beberapa surat dari kelompok al-Mufashshal dalam satu rakaat.

Dalam riwayat Abdullah ibn Mas'ud yang dicatat oleh Muhammad al-Bukhari, ia berkata tentang surat Bani Israil (Al-Isra’), Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya’:
“Sesungguhnya surat-surat itu termasuk golongan awal yang turun, dan termasuk yang aku pelajari sejak dahulu.”
Ia menyebutkannya sesuai urutan yang telah dikenal.

Diriwayatkan melalui Ibnu Wahb dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata: Aku mendengar Rabi‘ah ditanya:
“Mengapa surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran didahulukan, padahal sebelumnya telah turun lebih dari delapan puluh surat Makkiyah, sementara keduanya turun di Madinah?”
Maka ia menjawab:
“Keduanya ditempatkan di depan, dan Al-Qur’an disusun berdasarkan ilmu dari pihak yang menyusunnya. Maka ini adalah perkara yang berhenti padanya pembahasan dan tidak dipertanyakan lagi.”


Pendapat kedua:

Ada yang berpendapat bahwa urutan surat merupakan hasil ijtihad para sahabat, dengan alasan adanya perbedaan susunan mushaf pribadi mereka.

Contohnya:

Mushaf Ali ibn Abi Talib disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu. Dimulai dengan: Iqra’, kemudian Al-Muddatstsir, lalu Nun wal-Qalam, kemudian Al-Muzzammil, dan seterusnya sampai akhir surat Makkiyah dan Madaniyah.

Mushaf Abdullah ibn Mas'ud diawali dengan: Al-Baqarah, lalu An-Nisa’, kemudian Ali ‘Imran.

Mushaf Ubay bin Ka‘b diawali dengan: Al-Fatihah, lalu Al-Baqarah, kemudian An-Nisa’, lalu Ali ‘Imran.


Pendapat ketiga:

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebagian urutan surat bersifat tauqifi dan sebagian lainnya hasil ijtihad sahabat. Sebab, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa sebagian surat telah tersusun pada masa Nabi ﷺ, seperti kelompok:

As-Sab‘ Ath-Thiwal (tujuh surat panjang),

Al-Hawamim (surat-surat yang diawali حم),

dan Al-Mufashshal.


Di antaranya:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah dua surat yang bercahaya: Al-Baqarah dan Ali ‘Imran.”

Juga diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ setiap hendak tidur mengumpulkan kedua telapak tangannya, meniupnya, lalu membaca:
Qul Huwallahu Ahad, serta dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas).


Pendapat Ibnu Hajar:

Ibn Hajar al-Asqalani berkata bahwa urutan sebagian surat terhadap sebagian lainnya atau Mayoritas nya, tidak mustahil bersifat tauqifi.

Beliau berdalil dengan hadis Hudzaifah Ats-Tsaqafi, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Datang kepadaku giliran membaca bagian Al-Qur’an, maka aku tidak ingin keluar hingga aku menyelesaikannya.”


Lalu para sahabat ditanya:

“Bagaimana kalian membagi bacaan Al-Qur’an?”


Mereka menjawab:

tiga surat,

lima surat,

tujuh surat,

sembilan surat,

sebelas surat,

tiga belas surat,

dan hizb al-Mufashshal dari surat Qaf sampai tamat.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa urutan surat sebagaimana yang ada dalam mushaf sekarang sudah dikenal pada masa Rasulullah ﷺ. Namun beliau juga menyebut kemungkinan bahwa yang telah tetap urutannya saat itu hanyalah kelompok Al-Mufashshal, sedangkan selainnya bisa jadi belum final sepenuhnya.

Kesimpulan:

Perbedaan ulama tentang urutan surat berkisar pada tiga pendapat:

1. Seluruh urutan surat bersifat tauqifi.

2. Seluruhnya hasil ijtihad sahabat.

3. Sebagian tauqifi, sebagian ijtihadi.

Mayoritas ulama cenderung menguatkan bahwa susunan Mushaf Utsmani yang kita miliki sekarang telah diterima secara ijma‘ oleh para sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Susunan Urutan Surat Dalam Al-Qur’an: Macam-macam Pendapat Ulama & Argumentasinya

Urutan surat-surat dalam Al-Qur’an Para ulama berbeda pendapat tentang urutan surat-surat dalam Al-Qur’an. Pendapat pertama: Ada...