Hakikat dan Majas dalam Al-Qur’an: Memahami Keindahan Bahasa Wahyu
Pendahuluan
Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang mencapai puncak keindahan, kefasihan, dan kesempurnaan. Karena itu, memahami gaya bahasa Al-Qur’an menjadi salah satu kunci penting untuk memahami kandungannya secara benar. Di antara pembahasan yang banyak dibahas oleh para ulama Ulumul Qur’an dan Ushul Fikih adalah masalah hakikat dan majas.
Pembahasan ini bukan sekadar kajian bahasa, tetapi memiliki pengaruh besar dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, menafsirkan hukum-hukum syariat, dan menangkap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Apa Itu Hakikat?
Hakikat adalah penggunaan suatu lafaz sesuai dengan makna asal yang telah ditetapkan dalam bahasa.
Contohnya ketika Al-Qur’an menyebut bumi, langit, gunung, manusia, air, dan berbagai makna lain yang digunakan sesuai arti sebenarnya.
Para ulama sepakat bahwa hakikat terdapat dalam Al-Qur’an. Bahkan sebagian besar lafaz Al-Qur’an menggunakan makna hakiki karena itulah asal penggunaan bahasa.
Apa Itu Majas?
Majas adalah penggunaan suatu lafaz bukan pada makna asalnya, tetapi pada makna lain yang masih memiliki hubungan tertentu dengan makna asal tersebut.
Mayoritas ulama dari berbagai mazhab menerima keberadaan majas dalam Al-Qur’an. Namun sebagian kecil ulama, seperti beberapa tokoh dari kalangan Zhahiriyah, menolaknya.
Mereka beralasan bahwa majas merupakan saudara kedustaan, sedangkan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang suci dari segala bentuk kebatilan.
Namun pendapat ini dibantah oleh mayoritas ulama. Mereka menjelaskan bahwa majas bukanlah dusta. Justru majas merupakan salah satu bentuk keindahan bahasa yang diakui oleh seluruh ahli balaghah Arab. Bahkan dalam banyak keadaan, majas lebih kuat pengaruhnya dan lebih mendalam maknanya daripada ungkapan yang bersifat hakiki.
Seandainya majas ditolak dari Al-Qur’an, maka banyak gaya bahasa Al-Qur’an yang lain juga harus ditolak, seperti penghapusan kata (hadzf), penegasan (ta’kid), perumpamaan, dan berbagai bentuk keindahan bahasa lainnya.
Majas dalam Al-Qur’an
Para ulama membagi majas menjadi dua kelompok besar:
1. Majas dalam Susunan Kalimat (Majaz Tarkiibi)
Disebut juga Majaz Isnad atau Majaz ‘Aqli, yaitu ketika suatu perbuatan disandarkan kepada selain pelaku sebenarnya karena adanya hubungan tertentu.
Menyandarkan Perbuatan kepada Sebabnya
Allah berfirman:
﴿ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا ﴾
"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka ayat-ayat itu menambah keimanan mereka."
Penambahan iman sebenarnya dilakukan oleh Allah, tetapi disandarkan kepada ayat karena ayat menjadi sebab bertambahnya iman.
Menyandarkan Perbuatan kepada Orang yang Memerintahkannya
Firman Allah:
﴿ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ ﴾
"Ia menyembelih anak-anak mereka."
Yang melakukan penyembelihan secara langsung adalah para tentara Fir‘aun. Akan tetapi perbuatan itu disandarkan kepada Fir‘aun karena dialah yang memerintahkannya.
Menyandarkan Perbuatan kepada Waktu atau Tempat
Allah berfirman:
﴿ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا ﴾
"Pada hari yang menjadikan anak-anak beruban."
Hari tidak melakukan apa-apa, tetapi peristiwa dahsyat itu terjadi pada hari tersebut sehingga perbuatan disandarkan kepadanya.
Majas dalam Kata (Majaz Lughawi)
Majas lughawi adalah penggunaan suatu kata pada makna selain makna asalnya karena adanya hubungan tertentu.
Jenis-jenisnya sangat banyak.
1. Hadzf (Penghapusan Kata)
Allah berfirman:
﴿ وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ ﴾
"Tanyakanlah kepada negeri itu."
Maksudnya adalah: "Tanyakanlah kepada penduduk negeri itu."
Kata "penduduk" tidak disebutkan karena sudah dipahami dari konteks.
2. Menyebut Keseluruhan tetapi yang Dimaksud Sebagian
Allah berfirman:
﴿ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ ﴾
"Mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka."
Yang sebenarnya masuk ke telinga hanyalah ujung jari, bukan seluruh jari. Namun Al-Qur’an menggunakan kata "jari-jari" untuk menggambarkan besarnya rasa takut mereka.
3. Menyebut Sebagian tetapi yang Dimaksud Keseluruhan
Allah berfirman:
﴿ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ﴾
"Dan tetap kekal wajah Tuhanmu."
Menurut para ulama yang menjadikannya sebagai contoh majas, kata "wajah" di sini bermakna "Dzat Allah".
Demikian pula firman Allah:
﴿ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ﴾
"Hadapkanlah wajah kalian ke arahnya."
Yang dimaksud adalah menghadap dengan seluruh badan, bukan wajah saja.
4. Menyebut yang Khusus tetapi yang Dimaksud Umum
Allah berfirman:
﴿ إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾
"Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam."
Kata "rasul" digunakan dalam bentuk tunggal tetapi bermakna jamak, yaitu para utusan Allah.
5. Menyebut yang Umum tetapi yang Dimaksud Khusus
Allah berfirman:
﴿ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ ﴾
"Mereka memohonkan ampun bagi siapa saja yang ada di bumi."
Maksudnya adalah orang-orang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain.
6. Menamai Sesuatu dengan Keadaannya di Masa Lalu
Allah berfirman:
﴿ وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ ﴾
"Berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka."
Yang dimaksud adalah orang yang dahulu yatim, karena harta baru diserahkan setelah mereka baligh dan tidak lagi disebut yatim.
7. Menamai Sesuatu dengan Keadaannya di Masa Depan
Allah berfirman:
﴿ إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ﴾
"Aku bermimpi memeras khamr."
Yang diperas sebenarnya adalah buah anggur yang nantinya akan menjadi khamr.
8. Menyebut Tempat tetapi yang Dimaksud Isi atau Keadaannya
Allah berfirman:
﴿ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾
"Mereka kekal dalam rahmat Allah."
Maksudnya adalah surga yang menjadi tempat turunnya rahmat Allah.
9. Menyebut Alat tetapi yang Dimaksud Hasilnya
Allah berfirman:
﴿ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ ﴾
"Jadikanlah untukku lisan yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian."
Maksudnya adalah pujian dan nama baik yang terus dikenang.
10. Menyebut Lawan Kata untuk Tujuan Sindiran
Allah berfirman:
﴿ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴾
"Sampaikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih."
Kata "kabar gembira" digunakan sebagai bentuk sindiran yang sangat kuat terhadap orang-orang kafir.
Hikmah Adanya Majas dalam Al-Qur’an
Keberadaan majas dalam Al-Qur’an menunjukkan kesempurnaan bahasa wahyu. Majas menjadikan makna lebih hidup, lebih kuat pengaruhnya, lebih menyentuh hati, dan lebih mudah dipahami.
Melalui majas, Al-Qur’an mampu menggambarkan makna yang sangat luas dengan lafaz yang singkat, menghadirkan suasana tertentu dalam jiwa pembaca, serta memperkuat pesan-pesan keimanan dan pendidikan.
Karena itu, para ulama tafsir sangat memperhatikan ilmu balaghah dan majas agar dapat memahami maksud ayat sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar.
Penutup
Pembahasan hakikat dan majas merupakan salah satu cabang penting dalam Ulumul Qur’an. Mayoritas ulama menerima keberadaan majas dalam Al-Qur’an karena ia termasuk bagian dari keindahan dan kesempurnaan bahasa Arab yang digunakan Allah dalam kitab-Nya.
Dengan memahami berbagai bentuk majas dalam Al-Qur’an, seorang muslim akan semakin mampu menangkap kedalaman makna ayat-ayat Allah, menghayati keindahan bahasanya, dan memahami pesan-pesan syariat dengan lebih tepat dan menyeluruh.