At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Selasa, 09 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (22): Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil
Ngaji Itqon (06): Memahami Makna Tersurat dan Tersirat dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Senin, 08 Juni 2026
Ngaji Itqon (05): Memahami Mutlak dan Muqayyad dalam Al-Qur’an, Kunci Mengharmoniskan Dalil-Dalil Syariat
Memahami Mutlak dan Muqayyad dalam Al-Qur’an: Kunci Mengharmoniskan Dalil-Dalil Syariat
Di antara pembahasan penting dalam Ulumul Qur’an dan Ushul Fikih adalah memahami hubungan antara lafaz mutlak dan lafaz muqayyad. Pembahasan ini sangat berpengaruh dalam proses istinbath hukum, karena banyak ayat Al-Qur’an yang menyebut suatu hukum secara umum dan mutlak, sementara ayat lain memberikan batasan atau syarat tertentu.
Melalui kaidah ini, para ulama dapat memahami hukum-hukum syariat secara tepat dan harmonis tanpa menimbulkan pertentangan antar dalil.
Apa yang Dimaksud dengan Mutlak dan Muqayyad?
Mutlak adalah lafaz yang menunjukkan suatu hakikat tanpa disertai batasan, syarat, atau sifat tertentu.
Sedangkan muqayyad adalah lafaz yang dibatasi oleh sifat, syarat, atau ketentuan tertentu.
Hubungan keduanya mirip dengan hubungan antara lafaz umum ('am) dan lafaz khusus (khash). Karena itu, para ulama menetapkan kaidah:
Apabila terdapat dalil yang membatasi lafaz mutlak, maka lafaz mutlak dibawa kepada lafaz muqayyad. Namun jika tidak ada dalil yang mengharuskan demikian, maka masing-masing tetap dipahami sesuai maknanya.
Kaidah ini berangkat dari prinsip bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang memiliki aturan dan kaidah kebahasaan yang jelas.
Kaidah Dasar dalam Memahami Mutlak dan Muqayyad
Para ulama menjelaskan bahwa ketika Allah menetapkan suatu hukum dengan syarat atau sifat tertentu, kemudian terdapat hukum lain yang tampak serupa tetapi disebut secara mutlak, maka perlu diperhatikan hubungan keduanya.
Jika hukum mutlak tersebut tidak memiliki rujukan lain selain hukum yang muqayyad, maka mutlak harus dibawa kepada muqayyad.
Sebaliknya, jika masing-masing memiliki sebab dan dasar hukum yang berbeda, maka mutlak tetap dipahami sesuai kemutlakannya dan tidak harus mengikuti batasan yang terdapat pada lafaz muqayyad.
Contoh Mutlak yang Dibawa kepada Muqayyad
1. Persaksian dan Syarat Keadilan
Dalam beberapa ayat, Allah mensyaratkan bahwa saksi harus orang yang adil, seperti dalam masalah rujuk, talak, dan wasiat.
Sementara dalam ayat lain yang membahas jual beli dan penyerahan harta, Allah hanya memerintahkan menghadirkan saksi tanpa menyebut syarat keadilan.
Para ulama memahami bahwa syarat keadilan yang disebut dalam sebagian ayat berlaku pula pada seluruh bentuk persaksian, karena semua pembahasan tersebut berada dalam satu tema yang sama, yaitu kesaksian.
2. Memerdekakan Budak dalam Kafarat
Dalam kafarat pembunuhan, Allah berfirman bahwa budak yang dimerdekakan haruslah seorang mukmin.
Namun dalam kafarat zihar dan kafarat sumpah, budak disebut tanpa syarat keimanan.
Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa lafaz mutlak dalam kafarat zihar dan sumpah harus dibawa kepada lafaz muqayyad dalam kafarat pembunuhan, sehingga budak yang dimerdekakan harus beriman.
3. Batas Tangan dalam Tayamum
Dalam ayat wudhu, Allah memerintahkan membasuh tangan sampai siku.
Sedangkan dalam ayat tayamum disebutkan mengusap tangan tanpa menjelaskan batasannya.
Menurut mazhab Syafi'i, batas tangan dalam tayamum mengikuti batas tangan dalam wudhu, yaitu sampai siku, karena lafaz mutlak dibawa kepada lafaz muqayyad.
4. Gugurnya Amal karena Kemurtadan
Allah berfirman:
"Barang siapa yang murtad dari agamanya lalu mati dalam keadaan kafir, maka gugurlah amal-amal mereka."
Dalam ayat lain disebutkan secara mutlak bahwa kekafiran dapat menggugurkan amal.
Mazhab Syafi'i menggabungkan kedua ayat tersebut dengan memahami bahwa gugurnya amal secara sempurna terjadi apabila seseorang meninggal dalam keadaan kafir.
5. Keharaman Darah
Dalam Surah Al-An'am, Allah mengharamkan darah yang mengalir (daman masfuhan).
Sedangkan dalam ayat lain disebutkan keharaman darah secara mutlak.
Para ulama yang membawa mutlak kepada muqayyad memahami bahwa yang dimaksud adalah darah yang mengalir, bukan seluruh jenis darah.
Pendapat Ulama yang Berbeda
Sebagian ulama tidak selalu membawa mutlak kepada muqayyad dalam contoh-contoh di atas.
Akibatnya, mereka berpendapat:
- Budak kafir boleh digunakan untuk kafarat zihar dan sumpah.
- Tayamum cukup sampai pergelangan tangan.
- Kemurtadan langsung menghapus amal tanpa menunggu kematian dalam keadaan kafir.
Perbedaan ini menunjukkan keluasan ijtihad para ulama dalam memahami dalil-dalil syariat.
Contoh Mutlak yang Tetap pada Kemutlakannya
Tidak semua lafaz mutlak harus dibawa kepada lafaz muqayyad.
Contohnya adalah masalah puasa.
Allah mensyaratkan puasa berturut-turut dalam kafarat pembunuhan dan kafarat zihar.
Sementara dalam puasa tamattu' saat haji terdapat ketentuan yang berbeda.
Adapun dalam kafarat sumpah dan qadha Ramadan, Allah menyebut puasa secara mutlak tanpa mensyaratkan harus berturut-turut.
Karena masing-masing ibadah tersebut memiliki sebab dan dasar hukum yang berbeda, para ulama tidak membawa lafaz mutlak kepada lafaz muqayyad.
Akibatnya, qadha Ramadan dan kafarat sumpah boleh dilakukan:
- Secara berturut-turut.
- Secara terpisah-pisah.
Keduanya tetap sah selama jumlah hari yang diwajibkan telah terpenuhi.
Hikmah Memahami Kaidah Ini
Kaidah mutlak dan muqayyad menunjukkan betapa telitinya para ulama dalam memahami Al-Qur’an. Mereka tidak hanya melihat satu ayat secara terpisah, tetapi mengumpulkan seluruh dalil yang berkaitan dengan suatu masalah, kemudian memadukannya sehingga diperoleh pemahaman yang utuh.
Melalui kaidah ini, ayat-ayat Al-Qur’an tampak saling menjelaskan dan melengkapi, bukan saling bertentangan. Inilah salah satu bukti kesempurnaan syariat Islam, di mana setiap hukum dibangun di atas ilmu, ketelitian, dan pemahaman yang mendalam terhadap kalam Allah Ta'ala.
Minggu, 07 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (26): Hukum Walimah dan Menghadiri Undangannya
Sabtu, 06 Juni 2026
Kajian Manhajut Tafsir (05): Awal Mula Kodifikasi Al-Qur'an yang Menjaga Kemurniannya
Jumat, 05 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (21): Penjelasan Tentang Mahar #2
Ketetapan Mahar dalam Pernikahan Islam
Dalam fikih Islam, mahar merupakan hak istri yang wajib diberikan oleh suami sebagai bentuk penghormatan dan bukti kesungguhan dalam akad nikah. Besar kecilnya kewajiban mahar dapat berubah sesuai keadaan yang terjadi dalam rumah tangga, baik karena hubungan suami istri, perceraian, maupun sebab lainnya.
Mahar Menjadi Wajib Penuh
Mahar menjadi wajib dibayar seluruhnya dalam dua keadaan utama.
Pertama, apabila salah satu dari suami atau istri meninggal dunia, meskipun sebelum terjadi hubungan badan. Para sahabat Nabi ﷺ telah berijma’ bahwa kematian salah satu pasangan menyebabkan mahar menjadi tetap secara penuh.
Kedua, apabila telah terjadi hubungan badan, yaitu dengan masuknya hasyafah (kepala zakar), walaupun keperawanan istri masih tetap ada. Dengan terjadinya hubungan tersebut, mahar telah sempurna menjadi hak istri.
Mahar Gugur Seluruhnya
Ada keadaan tertentu yang menyebabkan mahar gugur seluruhnya, yaitu apabila perpisahan terjadi sebelum hubungan badan dan sebabnya berasal dari pihak istri.
Contohnya:
- Istri meminta fasakh karena cacat pada suami.
- Istri membatalkan nikah karena suami tidak mampu memberi nafkah.
- Istri murtad.
- Suami memfasakh nikah karena cacat yang ada pada istri.
Dalam kondisi seperti ini, mahar tidak wajib dibayarkan karena akad belum sempurna dengan hubungan badan, sementara penyebab perpisahan berasal dari pihak istri.
Mahar Menjadi Separuh
Islam juga menetapkan bahwa mahar hanya wajib dibayar separuh apabila perceraian terjadi sebelum hubungan badan.
Hal ini berlaku pada:
- Talak biasa.
- Talak yang dipilih sendiri oleh istri karena hak talak diserahkan kepadanya.
- Talak yang digantungkan pada suatu perbuatan istri lalu ia melakukannya.
- Khulu’.
- Batalnya nikah karena suami murtad sebelum hubungan badan.
Dalam kondisi-kondisi tersebut, istri tetap berhak mendapatkan setengah mahar sebagai bentuk penghormatan terhadap akad nikah yang telah berlangsung.
Perselisihan Tentang Hubungan Badan
Apabila suami dan istri berselisih mengenai apakah hubungan badan telah terjadi atau belum, maka orang yang mengingkarinya dipercaya dengan sumpahnya. Hal ini karena hukum asalnya adalah belum terjadi hubungan badan.
Namun ada pengecualian. Jika seorang laki-laki menikahi wanita dengan syarat masih perawan, lalu ia mengaku mendapati istrinya sudah tidak perawan dan mengatakan belum pernah menggaulinya, sedangkan istrinya menyatakan bahwa keperawanannya hilang karena hubungan dengannya, maka ucapan istri dipercaya untuk menolak pembatalan nikah. Akan tetapi, ucapan suami dipercaya dalam persoalan kewajiban mahar menjadi separuh apabila ia menceraikannya sebelum hubungan badan.
Penutup
Hukum-hukum mahar dalam Islam menunjukkan keadilan syariat dalam menjaga hak kedua belah pihak. Mahar bukan sekadar pemberian materi, tetapi simbol penghormatan, tanggung jawab, dan kesungguhan dalam membangun rumah tangga yang diridhai Allah Ta‘ala.
Kamis, 04 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (20): Penjelasan Tentang Mahar #1
Ngaji Fathul Muin (22): Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil
Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil Mahar merupakan salah satu hak penting seorang istri dalam akad pernikahan. Islam sangat menja...
-
Makna di Balik Penamaan Surah dalam Al-Qur’an: Refleksi dan Hikmah Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, tidak hanya berisi petunjuk k...
-
5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Merusak Kinerja Otak Otak manusia merupakan organ vital yang hanya mewakili sekitar 2 per...
-
Pengertian Qadha dan Qadar. Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberita...