Pernahkah Anda bertamu ke rumah teman, lalu sang tuan rumah bertanya, "Sudah makan belum? Mau saya masakin mie atau beli nasi padang?"
Mungkin niatnya baik, tapi jujur saja, bagi sebagian besar orang Indonesia yang punya budaya "pekewuh" atau sungkan, pertanyaan itu seringkali menjebak. Jawaban standar kita biasanya adalah: "Nggak usah repot-repot, tadi sudah makan kok," padahal perut mungkin sedang keroncongan.
Nah, ternyata ulama besar Sufyan ats-Thauri sudah memberikan tips elegan soal ini sejak belasan abad yang lalu. Beliau pernah berpesan:
قال الثوري إذا زارك أخوك فلا تقل له أتأكل أو أقدم إليك ولكن قدم فإن أكل وإلا فارفع
"Jika saudaramu berkunjung kepadamu, janganlah engkau bertanya kepadanya: 'Apakah engkau mau makan?' atau 'Bolehkah aku hidangkan makanan untukmu?'. Akan tetapi, langsung hidangkanlah. Jika ia makan, maka itu baik, namun jika tidak, maka angkatlah kembali." (Ihya Ulumuddin: 2/12)
Mengapa Tidak Perlu Bertanya?
Ada alasan psikologis dan adab yang sangat baik di balik pesan ini:
- Menghilangkan Rasa Sungkan: Bertanya "Mau makan?" secara tidak langsung memberi beban kepada tamu untuk memilih antara jujur (tapi malu) atau berbohong (demi sopan santun). Dengan langsung menyuguhkan, beban pilihan itu hilang.
- Bentuk Penghormatan Nyata: Menghidangkan apa yang kita punya menunjukkan bahwa kita memang siap dan bahagia menerima kehadirannya, bukan sekadar basa-basi formalitas.
- Simpel dan Tanpa Drama: Jika tamu memang kenyang, dia hanya perlu mencicipi sedikit sebagai penghormatan, lalu kita bisa merapikannya kembali tanpa ada pihak yang merasa bersalah.
Cara Mempraktikkannya di Masa Kini
Anda tidak perlu menyajikan makanan mewah setiap ada tamu. Cukup keluarkan apa yang tersedia di dapur entah itu camilan, segelas teh hangat, atau buah-buahan, namun jika mampu berikan mereka makan nasi beserta lauknya. Intinya adalah tindakan lebih bicara daripada pertanyaan.
Jadi, lain kali ada teman yang mampir ke rumah, jangan tanya mereka lapar atau tidak. Langsung saja letakkan gelas dan piring kecil di depannya, beri sesuatu yang kita punya sesuai kemampuan. Itu adalah cara paling tulus untuk mengatakan, "Aku senang kamu datang."