Mengenal Ilmu Mubhamāt Al-Qur’an: Siapa Tokoh yang Disebut Secara Samar?
Al-Qur’an tidak selalu menyebut nama seseorang secara langsung. Dalam sejumlah ayat, Allah menggunakan ungkapan umum seperti “di antara manusia”, “seorang laki-laki”, “istri Fir’aun”, “seorang saksi”, atau “orang yang buta”. Para ulama kemudian meneliti dan menjelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud oleh ungkapan-ungkapan tersebut.
Pembahasan ini dikenal dengan istilah ‘Ilmul Mubhamāt (علم المبهمات), yaitu ilmu yang membahas tentang identitas orang, kelompok, tempat, atau sesuatu yang disebut secara tidak jelas dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Ilmu Mubhamāt Bersumber dari Riwayat
Dalam pembahasan ini, prinsip penting yang harus diperhatikan adalah bahwa penentuan identitas tokoh tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan dugaan atau spekulasi. Sumber utamanya adalah an-naql al-maḥḍ, yaitu riwayat atau nukilan.
Karena itu, para ulama mengumpulkan berbagai keterangan dari sahabat, tabi'in, ahli tafsir, dan para periwayat hadis untuk mengetahui siapa yang dimaksud oleh ayat tertentu.
Di antara contoh yang terkenal adalah firman Allah:
﴿إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً﴾
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat tersebut adalah Nabi Adam عليه السلام.
Demikian pula ketika Allah berfirman:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ﴾
“Di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu.”
(QS. Al-Baqarah: 204)
Dalam sebagian riwayat tafsir, orang yang dimaksud adalah Al-Akhnas bin Syuraiq.
Sedangkan ayat:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 207)
Diriwayatkan berkaitan dengan Shuhaib ar-Rumi رضي الله عنه, yang rela meninggalkan harta demi keselamatan agamanya ketika berhijrah.
Para Nabi dan Orang-Orang Saleh
Ilmu Mubhamāt juga membantu kita memahami siapa yang dimaksud dalam sejumlah ayat yang berbicara tentang para nabi dan orang-orang saleh.
Allah berfirman:
﴿مِنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ﴾
“Di antara mereka ada yang Allah ajak berbicara.”
(QS. Al-Baqarah: 253)
Menurut Mujahid, yang dimaksud adalah Nabi Musa عليه السلام, karena beliau mendapatkan keistimewaan berbicara langsung dengan Allah.
Demikian pula firman Allah:
﴿وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ﴾
“Dan Dia meninggikan sebagian mereka beberapa derajat.”
(QS. Al-Baqarah: 253)
Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Dalam kisah Nabi Sulaiman عليه السلام, Al-Qur’an juga menyebut seseorang tanpa menyebut namanya secara langsung:
﴿قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ﴾
“Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Kitab.”
(QS. An-Naml: 40)
Dalam riwayat yang disebutkan para ulama tafsir, orang tersebut adalah Ashif bin Barkhiya, seorang yang memiliki kedudukan dalam kerajaan Nabi Sulaiman.
Sementara itu, perempuan yang memimpin negeri Saba' disebut oleh Al-Qur’an dengan ungkapan:
﴿إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ﴾
“Sesungguhnya aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka.”
(QS. An-Naml: 23)
Perempuan tersebut dikenal sebagai Balqis, putri Syurahil.
Tokoh-Tokoh di Sekitar Nabi Muhammad ﷺ
Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an menyebut peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ tanpa selalu menyebut nama pelakunya. Dengan ilmu Mubhamāt, para ulama menjelaskan identitas mereka berdasarkan riwayat.
Misalnya firman Allah:
﴿إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾
“Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”
(QS. At-Taubah: 40)
Yang dimaksud dengan “sahabatnya” adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Ayat ini menggambarkan kebersamaan beliau dengan Rasulullah ﷺ ketika berada di dalam gua dalam perjalanan hijrah.
Al-Qur’an juga menyebut:
﴿وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ﴾
“Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya...”
(QS. An-Nisa’: 100)
Dalam sebagian riwayat, orang yang dimaksud adalah Dhamrah bin Jundub رضي الله عنه, yang tetap berusaha berhijrah meskipun dalam keadaan sangat lemah.
Orang-Orang yang Disebut dalam Peristiwa Tabuk
Surah At-Taubah memuat banyak peristiwa yang berkaitan dengan kaum Muslimin pada masa Rasulullah ﷺ, khususnya dalam Perang Tabuk.
Allah berfirman:
﴿وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي﴾
“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Izinkanlah aku untuk tidak ikut.’”
(QS. At-Taubah: 49)
Dalam riwayat yang disebutkan dalam pembahasan ini, orang tersebut adalah Al-Jadd bin Qais.
Allah juga berfirman:
﴿وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ﴾
“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam masalah pembagian sedekah.”
(QS. At-Taubah: 58)
Dalam riwayat tertentu, orang tersebut adalah Dzul Khuwaishirah.
Ada pula firman Allah:
﴿وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللَّهَ﴾
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah...”
(QS. At-Taubah: 75)
Yang dimaksud dalam riwayat yang disebutkan adalah Tsa'labah bin Hathib.
Tiga Sahabat yang Ditangguhkan
Salah satu kisah paling terkenal dalam ilmu Mubhamāt adalah kisah tiga sahabat yang tidak ikut dalam Perang Tabuk.
Allah berfirman:
﴿وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ﴾
“Dan ada pula orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah.”
(QS. At-Taubah: 106)
Mereka adalah Ka'ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah رضي الله عنهم.
Kisah mereka menjadi pelajaran besar tentang kejujuran, kesabaran, dan pentingnya bertobat kepada Allah. Setelah mengalami ujian yang berat, Allah menerima tobat mereka.
Keluarga Rasulullah ﷺ
Ilmu Mubhamāt juga membantu menjelaskan beberapa ayat yang berkaitan dengan keluarga Rasulullah ﷺ.
Dalam Surah At-Tahrim Allah berfirman:
﴿وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا﴾
“Dan ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya suatu peristiwa...”
(QS. At-Tahrim: 3)
Dalam riwayat yang disebutkan oleh para ulama, istri yang dimaksud adalah Hafshah رضي الله عنها.
Kemudian Allah berfirman:
﴿إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا﴾
“Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kalian telah condong...”
(QS. At-Tahrim: 4)
Dua perempuan yang dimaksud adalah Aisyah dan Hafshah رضي الله عنهما.
Adapun firman Allah:
﴿وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan orang-orang mukmin yang saleh.”
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ath-Thabrani, yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما.
Khaulah binti Tsa'labah dan Suaminya
Surah Al-Mujadilah juga memiliki kisah yang sangat menarik.
Allah berfirman:
﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا﴾
“Sungguh, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.”
(QS. Al-Mujadilah: 1)
Perempuan tersebut adalah Khaulah binti Tsa'labah رضي الله عنها, sedangkan suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.
Peristiwa tersebut menjadi sebab turunnya ayat-ayat tentang zhihar, sekaligus menunjukkan bahwa Allah mendengar keluhan hamba-Nya yang dizalimi dan mencari jalan keluar melalui syariat-Nya.
Tokoh-Tokoh Penentang Dakwah
Ilmu Mubhamāt juga mengungkap identitas sejumlah tokoh yang menentang Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
﴿إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ﴾
“Sesungguhnya Kami telah mencukupkanmu dari orang-orang yang memperolok-olok.”
(QS. Al-Hijr: 95)
Menurut Said bin Jubair, mereka berjumlah lima orang: Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-'Ash bin Wa'il, Abu Zum'ah, Al-Harits bin Qais, dan Al-Aswad bin Abdul Yaghuts.
Allah juga berfirman:
﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا﴾
“Biarkanlah Aku bersama orang yang Aku ciptakan seorang diri.”
(QS. Al-Muddatstsir: 11)
Dalam riwayat yang disebutkan, orang tersebut adalah Al-Walid bin Al-Mughirah.
Sementara firman Allah:
﴿فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى﴾
“Dia tidak membenarkan dan tidak pula melaksanakan salat. Akan tetapi, dia mendustakan dan berpaling.”
(QS. Al-Qiyamah: 31–32)
Disebutkan dalam riwayat yang menjadi dasar pembahasan ini bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Abu Jahl.
Abdullah bin Ummi Maktum
Salah satu contoh yang paling dikenal adalah firman Allah dalam Surah 'Abasa:
﴿أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ﴾
“Karena seorang buta telah datang kepadanya.”
(QS. 'Abasa: 2)
Yang dimaksud dengan “orang yang buta” adalah Abdullah bin Ummi Maktum رضي الله عنه.
Kisah ini mengandung pelajaran besar bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh kedudukan sosial, kekayaan, atau kondisi fisiknya. Yang menjadi ukuran adalah iman dan ketakwaan.
Pelajaran dari Ilmu Mubhamāt
Dari pembahasan tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran.
Pertama, tidak semua nama disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an. Terkadang Allah menyebut seseorang dengan sifat atau kedudukannya agar perhatian pembaca tertuju kepada pesan dan pelajaran yang terkandung dalam kisah tersebut.
Kedua, ilmu Mubhamāt menunjukkan pentingnya riwayat dalam memahami Al-Qur’an. Identitas seseorang yang disebut secara samar tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan dugaan.
Ketiga, mengetahui sebab dan tokoh yang berkaitan dengan sebuah ayat dapat membantu seseorang memahami konteksnya secara lebih mendalam.
Keempat, yang terpenting bukan sekadar mengetahui “siapa orangnya”, tetapi mengambil ibrah dari peristiwa tersebut.
Al-Qur’an bukan kitab sejarah semata. Ketika sebuah nama disebut atau disamarkan, tujuan akhirnya tetaplah memberikan petunjuk kepada manusia.
Allah berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ﴾
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Yusuf: 111)
Dengan demikian, Ilmu Mubhamāt bukan sekadar ilmu untuk mengetahui nama-nama tokoh yang tersembunyi di balik ungkapan Al-Qur’an. Lebih dari itu, ia merupakan salah satu sarana untuk memahami konteks ayat, menelusuri riwayat tafsir, dan mengambil pelajaran dari perjalanan orang-orang yang disebutkan dalam Kalamullah.