Sabtu, 01 Agustus 2026

Kajian Munasabah (17): Surah Maryam, Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an


Munasabah Surah Maryam dan Surah Al-Kahfi: Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an tidak disusun secara acak. Urutan setiap surah mengandung hikmah dan keterkaitan yang mendalam. Ilmu yang membahas hubungan antarsurah dikenal sebagai munāsabah. Salah satu hubungan yang menarik adalah antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa penempatan Surah Maryam setelah Surah Al-Kahfi memiliki keserasian tema yang sangat indah.

Surah Al-Kahfi dipenuhi kisah-kisah yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah di luar kebiasaan manusia. Di dalamnya terdapat kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun tanpa makan dan minum, kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir yang sarat dengan rahasia ilahi, serta kisah Dzulqarnain yang diberi kekuasaan besar untuk menegakkan keadilan.

Setelah berbagai kisah menakjubkan tersebut, Allah menurunkan Surah Maryam yang juga berisi mukjizat-mukjizat besar. Di antaranya adalah kelahiran Nabi Yahya dari pasangan Nabi Zakaria dan istrinya yang telah lanjut usia, serta kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam tanpa seorang ayah. Kedua peristiwa ini menjadi bukti bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!', maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin: 82)

Imam As-Suyuthi juga mengutip pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa Ashabul Kahfi akan dibangkitkan kembali menjelang Hari Kiamat dan akan berhaji bersama Nabi Isa ketika beliau turun ke bumi. Apabila riwayat ini benar, maka hubungan antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam menjadi semakin jelas, karena kisah Ashabul Kahfi berkaitan dengan Nabi Isa pada akhir zaman.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi adalah kaum yang hidup pada masa Nabi Isa atau termasuk pengikut ajarannya, sementara kisah mereka terjadi pada masa fatrah, yaitu masa kekosongan di antara para rasul. Oleh sebab itu, sangat tepat apabila kisah mereka diikuti dengan surah yang banyak mengisahkan Nabi Isa dan keluarganya.

Dari sini tampak bahwa susunan surah-surah dalam Al-Qur'an bukan sekadar urutan bacaan, melainkan rangkaian tema yang saling melengkapi. Surah Al-Kahfi mengajarkan keimanan melalui berbagai peristiwa luar biasa, sedangkan Surah Maryam melanjutkan pelajaran tersebut dengan mukjizat-mukjizat yang meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah.

Memahami munasabah antarsurah akan menambah kekaguman seorang mukmin terhadap keindahan susunan Al-Qur'an. Semakin dipelajari, semakin tampak bahwa setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya, sehingga seluruh Al-Qur'an menjadi satu kesatuan yang utuh, harmonis, dan penuh hikmah.

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas)

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas) 

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

العُلَمَاءُ إِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا، فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، فَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا

“Para ulama, ketika telah memiliki ilmu, mereka mengamalkannya. Ketika mengamalkannya, mereka sibuk. Ketika sibuk, mereka jarang terlihat. Ketika jarang terlihat, mereka dicari. Dan ketika dicari, mereka justru menghindar (dari jabatan).” (Ihya Ulumuddin 1/127)

Berikut penjelasannya:

Inilah karakter ulama yang sesungguhnya. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari pujian, jabatan, atau ketenaran. Ilmu yang mereka miliki justru mendorong mereka untuk semakin banyak beramal, semakin sibuk melayani umat, dan semakin takut terhadap penyakit riya' serta cinta kedudukan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa buah dari ilmu bukanlah kesombongan, melainkan rasa takut kepada Allah. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin rendah hatinya dan semakin berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya.

Karena itu, para ulama terdahulu sangat berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dapat merusak keikhlasan. Ja'far bin Muhammad berkata:

الْفُقَهَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْفُقَهَاءَ قَدْ رَكَنُوا إِلَى السَّلَاطِينِ فَاتَّهِمُوهُمْ

“Ulama ahli fikih adalah para pemegang amanah para rasul. Jika kalian melihat para ahli fikih terlalu bersandar kepada para penguasa, maka waspadalah terhadap mereka.” (Ithaf Sadah al-Muttaqin, 1/127)

Maqalah ini bukan berarti setiap ulama yang berhubungan dengan pemerintah pasti tercela. Maksudnya adalah peringatan agar ulama tidak menjual prinsip agama demi kepentingan kekuasaan. Amanah ilmu harus tetap dijaga, meskipun harus menghadapi risiko yang berat.

Tujuan seorang penuntut ilmu bukanlah dunia, tetapi menghidupkan agama Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَهُوَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ، وَدَرَجَتُهُ بَعْدَ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ

“Barang siapa menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk golongan ash-shiddiqin, dan kedudukannya berada setelah derajat kenabian.” (Miftah Dar as-Sa'adah, 1/185)

Inilah kemuliaan ilmu yang dilandasi niat yang benar. Ilmu menjadi jalan untuk membimbing manusia menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ilmu akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ - الحديث-

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengan ilmu tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, 2417)

Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus diamalkan. Sebab ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah.

Allah juga menjelaskan siapa yang layak memperoleh kebahagiaan akhirat:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)

Ayat ini menjadi penutup yang elegan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin hilang keinginan untuk merasa paling tinggi di hadapan manusia. Yang dicari bukan sanjungan, melainkan ridha Allah.

Epilog 

Jadikan ilmu sebagai jalan menuju amal, amal sebagai jalan menuju keikhlasan, dan keikhlasan sebagai jalan menuju ridha Allah. Sebab kemuliaan seorang alim bukan terletak pada seberapa terkenal namanya, melainkan pada seberapa besar manfaat ilmunya dan seberapa tulus ia mengamalkannya.

Jumat, 31 Juli 2026

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam 

Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nūr: 22)

Berikut penjelasannya:

Di antara akhlak yang paling berat untuk dilakukan, tetapi paling besar pahalanya, adalah memaafkan. Ketika disakiti, dihina, atau dikhianati, hati manusia cenderung ingin membalas. Namun, Islam mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kemuliaan jiwa.

Ayat di atas turun ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu 'anhu bersumpah tidak lagi membantu Misthah bin Utsatsah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk memaafkan dan tetap berbuat baik. Abu Bakar pun mencabut sumpahnya dan kembali memberikan bantuan.

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak membiarkan kebencian menghalangi dirinya dari berbuat baik.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syūrā: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa membalas kezaliman secara seimbang memang diperbolehkan. Akan tetapi, Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi, yaitu memaafkan demi memperbaiki keadaan. Bahkan, balasan bagi orang yang memaafkan tidak disebutkan besarannya, tetapi langsung dijamin oleh Allah: "Pahalanya menjadi tanggungan Allah." Ini menunjukkan betapa agungnya ganjaran tersebut.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللهُ لَكُمْ

“Sayangilah sesama, niscaya kalian akan disayangi. Maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ahmad, 6541)

Hadis ini mengajarkan bahwa perlakuan kita kepada manusia menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah kepada diri kita.

Al-Muntashir berkata:

لذَّةُ العَفوِ أطيَبُ مِن لذَّةِ التَّشَفِّي؛ وذلك أنَّ لذَّةَ العَفوِ يَلحَقُها حمدُ العاقبةِ، ولذَّةُ التَّشَفِّي يَلحَقُها ذَمُّ النَّدَمِ

“Nikmat memaafkan lebih manis daripada nikmat melampiaskan dendam. Sebab, kenikmatan memaafkan diikuti akibat yang terpuji, sedangkan kenikmatan membalas dendam sering berakhir dengan penyesalan dan celaan.” (Al-Bashā'ir wa Adz-Dzakhā'ir, 8/153)

Betapa banyak orang yang setelah melampiaskan amarah justru menyesal. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan akan merasakan ketenangan hati dan dihormati banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan:

وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيَهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ

“Di dalam sikap memaafkan, berlapang dada, dan santun terdapat manisnya hati, ketenteraman, ketenangan, kemuliaan jiwa, kehormatan, dan ketinggian martabat yang tidak akan pernah ditemukan dalam sikap membalas dendam.” (Madārij as-Sālikīn, 2/303)

Orang yang memaafkan justru memperoleh kebahagiaan batin yang lebih besar dibanding orang yang membalas dendam. Membalas mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi memaafkan memberi ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan kemuliaan diri yang abadi. Ini adalah ajaran Islam yang mengajak kita untuk meninggalkan ego dan mengutamakan kehormatan diri di sisi Allah, bukan kepuasan hawa nafsu.

Epilog 

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Terkadang luka yang diterima begitu dalam. Namun, setiap kali keinginan membalas muncul, ingatlah firman Allah di atas. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan ampunan Allah. Maka, salah satu jalan untuk meraihnya adalah belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Kamis, 30 Juli 2026

Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah


Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah

Nasab dan Masa Kecil

Di kota Tabriz, salah satu pusat ilmu pengetahuan di kawasan Irak al-'Ajam (kini termasuk wilayah Iran), lahirlah seorang ulama besar yang kelak menjadi cahaya bagi dunia Islam. Beliau adalah Al-Husain—dalam sebagian riwayat disebut Al-Hasan—bin Muhammad bin Abdullah. Nama beliau kemudian masyhur dengan dua nisbah: At-Thiybi, yang dinisbahkan kepada kampung halamannya, dan At-Tabrizi, sebagai penghormatan kepada kota kelahirannya, Tabriz.

Beliau lahir dari keluarga yang berkecukupan. Warisan keluarga dan keberhasilannya dalam dunia perdagangan menjadikannya seorang saudagar kaya. Namun, Allah menyiapkan jalan hidup yang berbeda. Kekayaan yang dimilikinya tidak menjadi sarana untuk mengejar kemewahan dunia, melainkan menjadi bekal untuk mengabdi kepada ilmu dan membela agama.

Karena kemuliaan ilmu dan akhlaknya, beliau kemudian dikenal dengan gelar Syarafuddin, yang berarti Kemuliaan Agama.

Mengorbankan Kekayaan demi Kemajuan Ilmu

Pada masa mudanya, Imam At-Thiybi termasuk orang yang hidup berkecukupan. Akan tetapi, sedikit demi sedikit hartanya diinfakkan di jalan Allah.

Beliau membiayai para penuntut ilmu dari berbagai negeri, menyediakan kebutuhan mereka, serta meminjamkan kitab-kitab berharganya kepada siapa pun yang ingin belajar. Tidak hanya kepada murid-murid yang beliau kenal, tetapi juga kepada orang-orang yang belum pernah ditemuinya. Tidak ada sekat dalam kedermawanannya.

Hingga menjelang akhir hayatnya, hampir seluruh hartanya telah habis untuk kepentingan ilmu. Sang saudagar kaya itu akhirnya hidup dalam kesederhanaan. Namun, kemiskinan itu justru menjadi kemuliaan, sebab ia lahir dari pengorbanan demi kemaslahatan umat.

Betapa indah teladan beliau: rela kehilangan harta agar umat tidak kehilangan ilmu.

Menguasai Ilmu Aqli dan Naqli

Imam At-Thiybi bukan sekadar seorang ahli hadis atau ahli tafsir. Beliau adalah seorang allamah, gelar yang hanya diberikan kepada ulama dengan keluasan ilmu yang luar biasa.

Beliau menguasai dua cabang ilmu sekaligus.

Pertama, ilmu ma'qul (ilmu rasional), seperti logika dan filsafat. Namun, beliau mempelajari disiplin tersebut bukan untuk membela pemikiran para filosof, melainkan untuk membantah berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Kedua, ilmu manqul (ilmu naqli), meliputi bahasa Arab, sastra, balaghah, tafsir, hadis, serta berbagai cabang ilmu syariat lainnya. Dalam bidang ilmu bayan dan ma'ani, beliau dikenal sangat mendalam sehingga mampu menyingkap berbagai rahasia keindahan bahasa Al-Qur'an dan hadis Nabi ﷺ.

Akhlak yang Menghiasi Keilmuannya

Ilmu yang tinggi pada diri Imam At-Thiybi berpadu dengan akhlak yang luhur.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu (katsîr al-hayâ'), rendah hati, serta memiliki kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Meskipun telah menjadi ulama besar, beliau tetap hidup sederhana dan jauh dari kesombongan.

Beliau juga sangat menjaga salat berjamaah. Siang maupun malam, musim panas ataupun musim dingin, beliau hampir tidak pernah meninggalkan masjid. Bahkan ketika penglihatannya mulai melemah karena usia, semangat ibadahnya tidak pernah surut.

Di samping itu, para ulama memuji beliau sebagai sosok yang memiliki akidah yang lurus (husn al-mu'taqad), istiqamah dalam mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan bersih dari berbagai penyimpangan pemikiran.

Membela Sunnah di Tengah Badai Fitnah

Salah satu sisi paling menonjol dari kehidupan Imam At-Thiybi adalah keberaniannya membela kebenaran.

Pada masa itu, berbagai aliran filsafat dan kelompok ahli bidah memiliki pengaruh yang cukup besar di sebagian wilayah Islam. Banyak orang memilih diam karena khawatir terhadap kekuasaan mereka.

Namun, Imam At-Thiybi tidak gentar. Dengan hujah yang kokoh dan ilmu yang mendalam, beliau membantah berbagai pemikiran yang menyimpang serta menjelaskan kesalahannya secara terbuka, meskipun harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

Beliau membuktikan bahwa keberanian sejati bukanlah mengangkat senjata, melainkan menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan hikmah.

Karya-Karya Monumental

Keilmuan Imam At-Thiybi melahirkan sejumlah karya besar yang terus menjadi rujukan para ulama hingga hari ini.

1. Al-Kasyif 'an Haqa'iqis Sunan

Inilah karya terbesar beliau, berupa syarah atas kitab Misykat al-Mashabih. Kitab ini mengupas hadis-hadis Nabi ﷺ dengan penjelasan yang sangat mendalam, memadukan aspek bahasa, fikih, akidah, dan balaghah.

Kitab ini menjadi rujukan utama bagi banyak ulama besar setelahnya, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Ali Al-Qari.

2. Futuhul Ghaib fi al-Kasyf 'an Qina'ir Raib

Karya ini merupakan hasyiyah yang sangat luas terhadap Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari.

Melalui kitab ini, Imam At-Thiybi membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus meluruskan berbagai penafsiran yang dipengaruhi pemikiran Mu'tazilah. Para ulama menilai kitab ini sebagai salah satu karya terbaik dalam membahas sisi akidah dan balaghah Al-Qur'an.

3. Al-Khulasah fi Ma'rifat al-Hadits

Sebuah kitab ringkas mengenai ilmu musthalah hadis yang menjadi panduan bagi para penuntut ilmu dalam memahami istilah-istilah para ahli hadis.

4. At-Tibyan fi al-Ma'ani wa al-Bayan

Kitab ini membahas ilmu balaghah secara mendalam dan menjadi bukti keluasan penguasaan beliau terhadap sastra Arab.

5. Kitab Tafsir yang Belum Selesai

Imam At-Thiybi juga memulai penulisan sebuah kitab tafsir Al-Qur'an.

Setiap hari beliau mengadakan majelis ilmiah. Sejak pagi hingga menjelang zuhur beliau mengajar tafsir, kemudian setelah zuhur hingga asar membacakan Shahih Al-Bukhari kepada para muridnya. Rutinitas tersebut beliau jalani dengan penuh istiqamah hingga akhir hayatnya.

Akhir Kehidupan yang Mengharukan

Hari Selasa, 13 Sya'ban 743 H (sekitar 1342 M), menjadi hari terakhir perjalanan hidup beliau.

Seperti hari-hari sebelumnya, beliau telah menyelesaikan majelis tafsir. Setelah itu beliau menuju masjid yang berada di samping rumahnya. Karena usia yang telah lanjut, beliau mengerjakan salat sunnah sambil duduk, lalu tetap berada di masjid menunggu iqamah salat zuhur.

Di tempat yang mulia itu, dalam keadaan menanti salat berjamaah dan menghadap kiblat, Allah memanggil hamba-Nya kembali.

Beliau wafat dalam suasana ibadah—sebuah husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap orang beriman.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Imam Syarafuddin At-Thiybi meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda: warisan ilmu.

Karya-karyanya terus dipelajari di berbagai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam hingga hari ini. Ketajaman ilmunya, keberaniannya membela Sunnah, serta pengorbanannya demi kemajuan ilmu menjadikan beliau salah satu tokoh besar dalam sejarah peradaban Islam.

Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar pengorbanannya untuk agama dan umat.


Referensi:

  • Bughyatul Wu'at karya Jalaluddin As-Suyuthi.
  • Ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  • Al-Badr ath-Thali' karya Asy-Syaukani.
  • Serta berbagai kitab tarajim klasik lainnya.

Mengapa Orang yang Suka Membully Justru Terlihat Punya Banyak Teman?


Mengapa Orang yang Suka Membully Justru Terlihat Punya Banyak Teman?

Tidak sedikit orang yang merasa heran ketika melihat seseorang yang gemar membully, menghina, atau merendahkan orang lain justru tampak memiliki banyak teman. Sekilas hal ini terlihat tidak masuk akal. Bukankah perilaku buruk seharusnya membuat seseorang dijauhi?

Faktanya, dalam psikologi sosial terdapat beberapa konsep yang dapat membantu menjelaskan fenomena ini.

Dominasi Sosial Membuat Sebagian Orang Tertarik

Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan fenomena ini adalah Social Dominance Theory. Teori ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, sebagian orang cenderung mengikuti atau mendekati individu yang dianggap memiliki kekuasaan, pengaruh, atau dominasi tinggi dalam suatu kelompok.

Seorang pembuli sering kali terlihat berani, vokal, tegas, bahkan tidak takut berkonflik. Sikap seperti ini dapat menimbulkan kesan bahwa ia memiliki status sosial yang kuat. Akibatnya, sebagian orang memilih berada di dekatnya, bukan karena benar-benar menyukai kepribadiannya, tetapi karena merasa lebih aman berada di pihak yang dominan.

Fenomena "Flying Monkey"

Dalam psikologi juga dikenal istilah flying monkey, yaitu orang-orang yang menjadi pendukung atau "pasukan" seorang pelaku perundungan.

Mereka mungkin ikut tertawa ketika korban dihina, membantu menyebarkan gosip, atau bahkan ikut menyakiti korban, padahal dalam hati mereka mengetahui bahwa tindakan tersebut adalah sesuatu yang salah.

Mengapa mereka melakukannya?

Sering kali alasannya sederhana: ingin mencari aman. Mereka takut jika tidak ikut mendukung, maka merekalah yang akan menjadi sasaran berikutnya.

Apa yang Mendorong Seseorang Menjadi Pembuli?

Setiap orang tentu memiliki latar belakang yang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua pelaku perundungan memiliki penyebab yang sama. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya faktor-faktor yang dapat berperan, di antaranya:

  • Kesulitan mengelola emosi dan kemarahan.
  • Keinginan memperoleh kekuasaan atau pengakuan dari kelompok.
  • Rasa rendah diri (insecure) yang kemudian ditutupi dengan merendahkan orang lain.
  • Lingkungan yang membiasakan perilaku agresif atau kurang memberikan teladan yang baik.

Sebagian pelaku merasa lebih "unggul" ketika berhasil membuat orang lain merasa kecil. Dengan menjatuhkan orang lain, mereka berharap posisi dirinya tampak lebih tinggi.

Mengapa Korban Sering Dipilih?

Tidak jarang seseorang menjadi sasaran karena memiliki kelebihan tertentu, seperti lebih pintar, lebih berprestasi, lebih disukai banyak orang, atau memiliki sesuatu yang memicu rasa iri.

Alih-alih memperbaiki diri, pelaku memilih menjatuhkan orang tersebut melalui ejekan, hinaan, atau pengucilan agar kepercayaan diri korban menurun dan perkembangannya terhambat.

Banyak Teman Belum Tentu Memiliki Persahabatan yang Sehat

Seseorang yang terlihat memiliki banyak teman belum tentu memiliki hubungan pertemanan yang tulus.

Ada kalanya lingkaran pertemanan itu hanya terbentuk karena rasa takut, kepentingan sesaat, atau keinginan mencari perlindungan. Hubungan seperti ini biasanya rapuh dan mudah berakhir ketika orang yang dominan kehilangan pengaruhnya.

Sebaliknya, persahabatan yang sehat dibangun di atas rasa saling menghormati, saling mendukung, dan tidak menjadikan orang lain sebagai korban demi hiburan atau keuntungan pribadi.

Penutup

Jika kita melihat seseorang yang berperilaku buruk tetapi tampak memiliki banyak teman, tidak perlu terburu-buru menganggap bahwa perilaku tersebut benar atau layak ditiru. Bisa jadi orang-orang di sekitarnya hanya sedang mencari rasa aman atau terbawa arus kelompok.

Yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang sehat, berani menolak perundungan, serta menjadi teman yang melindungi, bukan ikut menyakiti. Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak diukur dari banyaknya orang yang mengikutinya, melainkan dari akhlak, integritas, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Selasa, 28 Juli 2026

Jati diri Seseorang Muslim Terlihat dari Tiga Hal

Jati diri Seseorang Muslim Terlihat dari Tiga Hal

Imam Syafi'i berkata:

جَوْهَرُ الْمَرْءِ فِي خِلَالِ ثَلَاثٍ: كِتْمَانُ الْفَقْرِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ مِنْ عِفَّتِكَ أَنَّكَ غَنِيٌّ، وَكِتْمَانُ الْغَضَبِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ رَاضٍ، وَكِتْمَانُ الشِّدَّةِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ مُتَنَعِّمٌ

“Jati diri seseorang itu terletak pada tiga hal: menyembunyikan kefakiran sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau kaya; menyembunyikan kemarahan sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau ridha; dan menyembunyikan kesulitan sehingga orang-orang menyangka bahwa engkau hidup bersenang-senang”

Refrensi: Manaqib asy-Syafi'i Lil Baihaqi 2/188

Senin, 27 Juli 2026

HUKUM UTANG MAYIT YANG DIWARISKAN KEPADA ANAKNYA



PERTANYAAN:

Hutang tidak langsung dibayar, tetapi hutangnya diwariskan ke anaknya? Bagaimana hukumnya menurut fiqih?


JAWABAN:

Utang mayit wajib dilunasi dengan menggunakan tirkah (harta peninggalan) yang ditinggalkannya, apabila harta tersebut mencukupi. Adapun jika mayit tidak meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk melunasi utangnya, maka tidak ada kewajiban bagi ahli waris maupun orang lain untuk menanggung dan melunasinya dari harta mereka sendiri. Namun jika ahli waris dengan sukarela melunasinya, maka hal itu diperbolehkan dan utang mayit dianggap lunas.


REFERENSI:

١. بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِينَ (ص: ١٣٧-١٣٨)

لَوْ مَاتَ مَيِّتٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، لَمْ يَجِبْ عَلَى وَلِيِّهِ قَضَاؤُهُ مِنْ مَالِهِ، فَإِنْ تَطَوَّعَ بِذَلِكَ تَأَدَّى الدَّيْنُ عَنْهُ.


٢. إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ (ج ٣، ص ٢٦١)

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْمَوَارِيثِ: فَهْمُ مَسَائِلِ قِسْمَةِ التَّرَكَاتِ، وَبِعِلْمِ الْحِسَابِ: إِدْرَاكُ مَسَائِلِ الْحِسَابِ، وَمَوْضُوعُهُ: التَّرَكَاتُ، وَغَايَتُهُ: مَعْرِفَةُ مَا يَخُصُّ كُلَّ ذِي حَقٍّ مِنَ التَّرِكَةِ.

وَالتَّرِكَةُ: مَا خَلَّفَهُ الْمَيِّتُ مِنْ مَالٍ أَوْ حَقٍّ، وَيَتَعَلَّقُ بِهَا خَمْسَةُ حُقُوقٍ مُرَتَّبَةٍ:

1. الأَوَّلُ: الْحَقُّ الْمُتَعَلِّقُ بِعَيْنِ التَّرِكَةِ، كَالزَّكَاةِ، وَالْجِنَايَةِ، وَالرَّهْنِ.
2. الثَّانِي: مُؤَنُ التَّجْهِيزِ بِالْمَعْرُوفِ.
3. الثَّالِث: الدُّيُونُ الْمُرْسَلَةُ فِي الذِّمَّةِ.
4. الرَّابِع: الْوَصَايَا بِالثُّلُثِ فَمَا دُونَهُ لِأَجْنَبِيٍّ.
5. الْخَامِس: الْإِرْثُ.

وَقَدْ نَظَمَ ذَلِكَ ابْنُ رَسْلَانَ فِي زُبْدِهِ بِقَوْلِهِ:

يُبْدَأُ مِنْ تَرِكَةِ الْمَيِّتِ بِحَقِّ ... كَالرَّهْنِ وَالزَّكَاةِ بِالْعَيْنِ اعْتَلَقْ
فَمُؤَنُ التَّجْهِيزِ بِالْمَعْرُوفِ فَدَيْنُهُ ... ثُمَّ الْوَصَايَا تُوَفَّى مِنْ ثُلْثِ بَاقِي الْإِرْثِ إِلَخْ


KESIMPULAN:

Kondisi Hukum
Mayit meninggalkan harta (tirkah) Utang wajib dilunasi dari harta peninggalan sebelum dibagi waris.

Mayit tidak meninggalkan harta Ahli waris tidak wajib melunasi utang dari harta pribadi mereka.
Ahli waris ingin melunasi dengan sukarela Diperbolehkan (tathawwu') dan utang dianggap lunas.

Catatan: Urutan prioritas harta mayit:

1. Hak yang berkaitan dengan 'ain (zakat, rahn, dll.)
2. Biaya pengurusan jenazah
3. Utang
4. Wasiat (maksimal ⅓)
5. Pembagian waris kepada ahli waris.


Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Kajian Munasabah (17): Surah Maryam, Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an

Munasabah Surah Maryam dan Surah Al-Kahfi: Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an Al-Qur'an tidak disusun secar...