Al-Qur’an: Bukan Sekadar Dibaca, tetapi Dipahami dan Dihidupkan
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala, dilantunkan dengan suara yang indah, atau dibacakan dalam berbagai acara keagamaan. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Ia diturunkan Allah untuk menjadi pedoman manusia dalam menjalani kehidupan, membedakan antara jalan yang benar dan yang salah, serta mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dan kemuliaan.
Allah menurunkan Al-Qur’an agar manusia memperoleh cahaya dalam perjalanan hidupnya. Ketika kehidupan penuh dengan kebingungan, Al-Qur’an memberikan arah. Ketika manusia kehilangan pegangan, Al-Qur’an memberikan pedoman. Ketika hati dipenuhi kegelisahan, Al-Qur’an memberikan ketenangan. Dan ketika kehidupan manusia dipenuhi berbagai persoalan, Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam mencari solusi.
Namun, bagaimana mungkin seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman apabila ia tidak memahami apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an?
Di sinilah pentingnya ilmu tafsir.
Tafsir adalah ilmu yang membantu manusia memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan tafsir, seseorang tidak berhenti pada bunyi ayat, tetapi berusaha memahami pesan yang terkandung di baliknya. Ia belajar memahami makna, konteks, hukum, hikmah, nasihat, serta petunjuk yang Allah berikan melalui firman-Nya.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan agar mereka menghayati dan merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membacanya. Ada tahap berikutnya yang sangat penting, yaitu tadabbur: merenungkan, memahami, dan mengambil pelajaran dari kandungannya.
Membaca Al-Qur’an adalah kemuliaan. Menghafalnya adalah kemuliaan. Mendengarkan bacaannya juga merupakan kebaikan. Tetapi semua itu akan semakin sempurna apabila Al-Qur’an kemudian masuk ke dalam kehidupan: memengaruhi cara berpikir, membentuk akhlak, mengarahkan keputusan, dan membimbing perilaku.
Allah kembali mengingatkan:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Tadabbur berarti memberikan ruang kepada Al-Qur’an untuk berbicara kepada hati dan kehidupan kita. Ketika membaca ayat tentang kejujuran, kita bertanya: sudahkah saya jujur? Ketika membaca larangan ghibah, kita bertanya: bagaimana lisan saya selama ini? Ketika membaca perintah berbuat baik kepada orang tua, kita bertanya: bagaimana sikap saya kepada ayah dan ibu? Ketika membaca tentang keadilan, kita bertanya: sudahkah saya berlaku adil kepada orang lain?
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak lagi hanya berada di lisan, tetapi mulai hadir dalam perilaku.
Allah bahkan menegaskan kemudahan Al-Qur’an untuk dipelajari dan dijadikan pelajaran:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17)
Karena itu, salah satu persoalan besar umat bukanlah tidak adanya Al-Qur’an. Al-Qur’an ada di masjid, pesantren, sekolah, rumah, bahkan ada di dalam telepon genggam kita. Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana kita membiarkan Al-Qur’an masuk ke dalam pikiran, hati, dan kehidupan kita.
Keadaan ini dapat digambarkan seperti seseorang yang kehausan di tengah padang pasir, sementara air justru berada di dekatnya. Ia memiliki sesuatu yang dapat menyelamatkan hidupnya, tetapi tidak memanfaatkannya.
Seorang penyair menggambarkan keadaan tersebut dengan sangat indah:
كَالْعِيسِ فِي الْبَيْدَاءِ يَقْتُلُهَا الظَّمَا
وَالْمَاءُ فَوْقَ ظُهُورِهَا مَحْمُولُ
“Seperti unta-unta di padang pasir yang mati karena kehausan, sementara air justru dibawa di atas punggung mereka.”
Begitulah gambaran seseorang yang hidup dekat dengan Al-Qur’an tetapi jauh dari petunjuknya. Al-Qur’an berada di tangannya, tetapi tidak menjadi pedoman langkahnya. Ayat-ayatnya terdengar setiap hari, tetapi belum tentu mengubah akhlaknya. Ia mampu membaca dengan lancar, tetapi belum tentu memahami pesan yang dibacanya.
Maka, mempelajari tafsir menjadi kebutuhan penting. Tafsir membantu kita bergerak dari sekadar membaca menuju memahami, dari memahami menuju menghayati, dan dari menghayati menuju mengamalkan.
Al-Qur’an bukan hanya untuk menghiasi suara, tetapi untuk menghiasi kehidupan. Bukan hanya untuk dibaca ketika ada acara, tetapi untuk menjadi pedoman setiap saat. Bukan hanya untuk mendapatkan keberkahan dari bacaannya, tetapi juga untuk mendapatkan keberkahan dari petunjuknya.
Pada akhirnya, ukuran kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an bukan hanya seberapa sering Al-Qur’an berada di bibirnya, tetapi juga seberapa jauh nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupannya.
Sebab Al-Qur’an diturunkan bukan agar manusia sekadar mendengarnya, melainkan agar manusia memahaminya, merenungkannya, mengambil petunjuk darinya, kemudian menjadikannya jalan hidup.