Munasabah Surah Al-Isra' dengan Surah An-Nahl: Keindahan Susunan Al-Qur'an dalam Mengisahkan Bani Israil
Salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur'an bukan hanya terletak pada keindahan bahasa dan kandungannya, tetapi juga pada susunan surah-surahnya. Para ulama menyebut hubungan antarsurah ini dengan istilah munāsabah as-suwar. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanasuq ad-Durar fi Tanasub as-Suwar menjelaskan bahwa Surah Al-Isra' memiliki hubungan yang sangat erat dengan Surah An-Nahl.
Surah Al-Isra' Termasuk Surah Makkiyah Awal
Imam As-Suyuthi mengawali penjelasannya dengan menyebutkan bahwa Surah Al-Isra', bersama Surah Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya', termasuk kelompok surah yang diturunkan pada masa-masa awal kenabian di Makkah.
Hal ini berdasarkan riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang mengatakan bahwa surah-surah tersebut termasuk surah yang pertama kali beliau pelajari sejak memeluk Islam. Selain sama-sama turun pada periode awal, kelima surah tersebut juga memiliki kesamaan tema, yaitu banyak memuat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi kaum mukmin.
Penutup Surah An-Nahl Dijelaskan dalam Surah Al-Isra'
Hubungan yang paling menarik antara kedua surah ini tampak pada akhir Surah An-Nahl. Allah berfirman:
"Sesungguhnya kewajiban hari Sabat itu hanya ditetapkan atas orang-orang yang berselisih tentangnya." (QS. An-Nahl: 124)
Ayat ini hanya menyinggung hukum Sabat secara singkat. Penjelasan yang lebih luas kemudian disampaikan dalam Surah Al-Isra'. Allah menguraikan sejarah Bani Israil, syariat yang diberikan kepada mereka, pelanggaran yang mereka lakukan, hingga akibat yang mereka terima karena membangkang terhadap perintah-Nya.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahkan menyatakan bahwa inti ajaran Taurat terangkum dalam lima belas ayat yang terdapat dalam Surah Al-Isra'. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya surah tersebut sebagai ringkasan nilai-nilai pokok syariat Bani Israil.
Pelajaran dari Sejarah Bani Israil
Surah Al-Isra' tidak sekadar mengisahkan sejarah, tetapi juga menjelaskan sebab-sebab kehancuran suatu umat. Allah mengungkap berbagai bentuk kedurhakaan Bani Israil, kerusakan yang mereka lakukan di muka bumi, hingga hukuman berupa penghancuran Baitul Maqdis.
Di dalam surah ini juga disebutkan pertanyaan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang hakikat ruh, kisah Nabi Musa 'alaihissalam bersama Fir'aun, serta sembilan mukjizat besar yang Allah anugerahkan kepada Nabi Musa sebagai bukti kerasulannya.
Semua kisah tersebut mengajarkan bahwa nikmat Allah harus dijaga dengan keimanan dan ketaatan. Ketika manusia lebih memilih kesombongan dan kemaksiatan, maka kehancuran menjadi akibat yang tidak dapat dihindari.
Sindiran bagi Kaum yang Memusuhi Rasulullah ﷺ
Imam As-Suyuthi juga mengungkap adanya isyarat yang sangat halus dalam kisah tersebut. Dahulu Fir'aun berusaha mengusir Bani Israil dari negeri mereka. Namun Allah justru membinasakan Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri itu.
Peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad ﷺ yang juga berusaha mengusir Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Madinah. Sejarah kembali membuktikan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai para rasul dan orang-orang yang beriman.
Isra' ke Masjid Al-Aqsa sebagai Bentuk Pemuliaan
Surah ini dibuka dengan peristiwa agung Isra', ketika Allah memperjalankan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa.
Menurut Imam As-Suyuthi, pembukaan ini memiliki hubungan yang sangat indah dengan pembahasan setelahnya. Masjid Al-Aqsa yang sebelumnya disebut sebagai tempat terjadinya sejarah Bani Israil dimuliakan kembali dengan kedatangan Rasulullah ﷺ. Kehadiran beliau di tempat suci tersebut menjadi simbol bahwa risalah para nabi mencapai puncak dan penyempurnaannya pada Nabi Muhammad ﷺ.
Hikmah Susunan Surah
Munasabah antara Surah An-Nahl dan Surah Al-Isra' menunjukkan bahwa susunan Al-Qur'an bukanlah susunan yang acak. Penutup Surah An-Nahl menjadi pengantar bagi pembahasan panjang dalam Surah Al-Isra'. Tema yang hanya disebut secara singkat pada satu surah dijelaskan secara rinci pada surah berikutnya.
Keindahan hubungan ini semakin menegaskan bahwa setiap urutan dalam Al-Qur'an mengandung hikmah yang mendalam. Dari kisah Bani Israil, kaum muslimin diajarkan agar senantiasa menjaga amanah Allah, menjauhi kerusakan, menaati syariat-Nya, serta meyakini bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang beriman dan istiqamah di jalan-Nya.