Disyaratkan juga bagi perempuan yang hendak dinikahi itu harus berstatus muslimah atau kitabiyah murni (yahudi atau nasrani asli), baik ia termasuk ahlu dzimmah (warga non-Muslim yang berada di bawah perlindungan negara Islam) maupun harbiyah (berasal dari negeri yang tidak terikat perjanjian dengan kaum Muslimin).
Maka boleh—meskipun makruh—menikahi perempuan Yahudi (Isrā’īliyyah), dengan syarat tidak diketahui bahwa nenek moyang pertamanya masuk agama tersebut setelah diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salam.
Jika diketahui bahwa leluhur pertamanya masuk agama itu setelah dilakukan penelitian (taharrī), maka tidak boleh.
Sedangkan menikahi selain Yahudi (misalnya Nasrani) disyaratkan harus diketahui bahwa leluhur pertamanya telah masuk agama itu sebelum diutusnya Nabi Isa, walaupun masuknya setelah terjadi perubahan (tahrif/perubahan kitab), selama mereka menjauhi ajaran yang telah diubah tersebut.
Apabila seorang laki-laki ahli kitab masuk Islam sementara ia memiliki istri ahli kitab, maka pernikahannya tetap berlangsung, meskipun Islamnya terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri.
Jika seorang laki-laki musyrik masuk Islam sedangkan istrinya juga musyrikah:
Jika istrinya tetap dalam kemusyrikan sebelum terjadi hubungan badan, maka putusnya pernikahan terjadi seketika.
Jika sudah terjadi hubungan badan, lalu istrinya masuk Islam dalam masa iddah, maka pernikahan tetap berlanjut.
Jika tidak masuk Islam sampai habis iddah, maka putusnya nikah dihitung sejak suami masuk Islam.
Jika justru istrinya yang masuk Islam sementara suami tetap kafir:
Bila sudah terjadi hubungan badan, lalu suami masuk Islam dalam masa iddah, maka nikah tetap berlangsung.
Jika tidak masuk Islam dalam masa iddah, maka perpisahan dihitung sejak istri masuk Islam.
Dalam kondisi ketika syariat menetapkan nikah mereka tetap berlaku, maka tidak masalah jika sebelumnya ada unsur perusak akad yang hilang saat masuk Islam. Contohnya:
Mereka tetap diakui berada dalam pernikahan yang dulu dilakukan saat perempuan masih dalam iddah, tetapi ketika masuk Islam ternyata iddahnya sudah selesai.
Atau kasus laki-laki harbi merampas perempuan harbiyah lalu menganggapnya sebagai istri; jika dalam keyakinan mereka itu dianggap nikah, maka bisa diakui setelah masuk Islam. Begitu pula kasus hubungan atas dasar kerelaan.
Hal ini disebutkan oleh guru kami.
Dan nikah orang-orang kafir pada pendapat yang shahih dihukumi sah menurut syariat dalam hukum-hukum tertentu.
Dan tidak sah menikahi jin perempuan, begitu pula sebaliknya (jin menikahi manusia), menurut pendapat mayoritas ulama muta’akhkhirin.
Refrensi:
تنبيه [في بيان نكاح من تحل ومن لا تحل من الكافرات] اعلم أنه يشترط أيضا في المنكوحة كونها مسلمة أو كتابية خالصة ذمية كانت أو حربية فيحل مع الكراهة نكاح الإسرائيلية بشرط أن لا يعلم دخول أول آبائها في ذلك الدين بعد بعثة عيسى عليه السلام وإن علم دخوله فيه بعد التحري ونكاح غيرها بشرط أن يعلم دخول أول آبائها فيه قبلها ولو بعد التحريف إن تجنبوا المحرف ولو أسلم كتابي وتحته كتابية دام نكاحه وإن كان قبل الدخول أو وثني وتحته وثنية فتخلفت قبل الدخول تنجزت الفرقة أو بعده وأسلمت في العدة دام نكاحه وإلا فالفرقة من إسلامه ولو أسلمت وأصر على الكفر: فإن دخل بها وأسلم في العدة دام النكاح وإلا فالفرقة من إسلامها وحيث أدمنا لا يضر مقارنة مفسد هو زائل عند الإسلام فتقر على نكاح في عدة هي منقضية عند الإسلام وعلى غصب حربي لحربية إن اعتقدوه نكاحا وكالغصب المطاوعة.
قاله شيخنا ونكاح الكفار صحيح على الصحيح.
ولا يصح نكاح الجنية كعكسه على ما عليه أكثر المتأخرين.
Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu‘in, hlm. 460