Selasa, 17 Februari 2026

Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya:Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang

Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya:
Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang 

فَطَلَبُ الْعِلْمِ كَانَ كَثِيرًا فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ، لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ الْمُقْتَدَى بِهِمْ قِلَّةٌ، فَقَدْ نَظَرَ شُعْبَةُ إِلَى مَجْلِسِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ يَكْتَظُّ بِطَلَبَةِ الْحَدِيثِ، فَقَالَ: لَوْ يَخْرُجُ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ
قال الطيالسي: فَرَأَيْتُ فَمَا خَرَجَ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ! وَالثَّوْرِيُّ كَانَ يَقُولُ: الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ ثُلُثٌ تَشْغَلُهُمُ الدُّنْيَا، وَثُلُثٌ يَتَزَوَّجُونَ، وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ! قَالَ: وَثُلُثٌ يَكْتُبُونَ وَلَا يَعْقِلُونَ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ

“Menuntut ilmu pada masa dahulu itu sangat banyak (peminatnya), namun ulama yang benar-benar menjadi panutan itu sedikit.
Suatu ketika Syu‘bah bin al‑Hajjaj melihat majelis para ahli hadis yang penuh sesak oleh para penuntut hadis, lalu beliau berkata:
'Seandainya dari mereka keluar tiga orang saja (yang menjadi ulama).” 

“Aku perhatikan, ternyata dari mereka tidak muncul (ulama) bahkan tiga orang pun! Ats-Tsauri berkata: Orang yang belajar ilmu itu terbagi tiga: sepertiga disibukkan oleh dunia, sepertiga menikah. Beliau berkata: siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan! Dan sepertiga lagi hanya menulis tetapi tidak memahami. Dan tidaklah keluar dari mereka kecuali sedikit.” (Syarah Matan Abi Syuja': 1/13)

Perjalanan menuntut ilmu agama memang panjang, melelahkan, dan penuh godaan. Banyak yang memulai dengan semangat tinggi, tetapi tidak semua mampu bertahan sampai matang.

Menurut ats-Tsauri, kegagalan para penuntut ilmu biasanya jatuh pada tiga kelompok besar.

Pertama, disibukkan Dunia. Sebagian penuntut ilmu awalnya serius, tetapi kemudian terseret urusan dunia: pekerjaan, harta, jabatan, atau ambisi sosial.

Ilmu yang dulu menjadi tujuan utama, berubah menjadi aktivitas sampingan. Akhirnya, waktu belajar semakin berkurang, majelis ditinggalkan, hafalan hilang, dan cita-cita menjadi ulama pun memudar.

Kedua: terhenti karena pernikahan

Ungkapan ats-Tsauri sangat kuat:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ
“Siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan.”

Maksudnya bukan melarang menikah tetapi menggambarkan beratnya tanggung jawab setelah berkeluarga.

Setelah menikah, fokus hidup berubah: nafkah, rumah tangga, anak, kebutuhan ekonomi. Waktu belajar menyempit, perjalanan ilmiah terhambat, dan banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan.

Karena itu para ulama dahulu sering menunda menikah sampai ilmu mereka kokoh.

Ketiga, banyak menulis, namun sedikit memahami. Kelompok ketiga ini adalah mereka yang rajin mencatat, menyalin kitab, menghadiri pelajaran tetapi tidak benar-benar memahami.

Ilmu hanya berhenti di pena, tidak sampai ke akal dan hati. Mereka hafal istilah, tetapi tidak mengerti hakikat. Banyak catatan, tetapi sedikit kedalaman. Akhirnya mereka tidak tumbuh menjadi ulama yang matang.

Ats-Tsauri menutup dengan kalimat yang sangat tajam:

وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidak keluar dari mereka kecuali sedikit.”

Dari sekian banyak penuntut ilmu, hanya sedikit yang benar-benar menjadi ulama yang kokoh.

Mengapa? Karena ulama sejati membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, konsistensi belajar, pengorbanan dunia, kedalaman pemahaman, keikhlasan tinggi Semua ini tidak dimiliki oleh banyak orang.

Bumiayu, Malang
17 Februari 2026 

Selasa, 03 Februari 2026

Tata cara bersarung yang benar

Tata cara bersarung yang benar

Adalah tidak melebihi mata kaki, yang paling utama separuh betis

بذل المجهود في حل أبي داود ٦/٢٢٤

٤٠٩٣ - حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ العَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سألتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِى عَنِ الْإِزَارِ فَقَالَ عَلَى الخَبِيرِ سَقَطتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «إِزْرَةُ المُسلِمِ (1) إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ - أَو لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيْنَهُ وَبَينَ الكَعَبَينِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَينِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَن جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَم يَنظُرِ اللَّهُ (ه) إِلَيْهِ (1)»).

 : حدثنا حفص بن عمر، نا شعبة عن العلاء بن عبد الرحمن، عن أبيه عبد الرحمن بن يعقوب قال: سألت أبا سعيد الخدري عن الإزار فقال [أبو سعيد على الخبير سقطت أي على العارف بهذه المسألة والخبير به وقعت وهو مثل عند العرب، وقد قال الله سبحانه بأحسن أسلوب منه ﴿ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ﴾ [فاطر: ١٤] [قال رسول الله ﷺ: إزرة المسلم (1) ضبطها بعضهم بضم الهمزة والصواب كسرها، لأن المراد ههنا الهيئة في الاتزار

كالجلسة لهيئة الجلوس إلى نصف الساق أي هذا أولى الهيئة ولا حرج أو قال: لا جناح] شك من الراوي في اللفظ والمعنى واحد.
[فيما بينه وبين الكعبين فالمستحب إلى نصف الساقين والجائز بلا كراهة إلى الكعبين [ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار لأنه حرام يوجب النار، وهذا في حق الرجال دون النساء (٤)] ومن جر إزاره بطرا أي تكبرا وخيلاء لم ينظر الله إليه نظر رحمة يوم القيامة .

Jumat, 23 Januari 2026

Stop Mencoba Jadi “Bestie” Siswa: Alarm Serius bagi Dunia Pendidikan

Stop Mencoba Jadi “Bestie” Siswa: Alarm Serius bagi Dunia Pendidikan

Kasus kekerasan yang menimpa seorang guru oleh siswanya sendiri beberapa waktu lalu benar-benar menampar wajah pendidikan kita. Peristiwa ini memicu kemarahan, kesedihan, dan keprihatinan mendalam. Namun, di balik emosi tersebut, ada satu pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan: bahaya ketika guru kehilangan jarak profesional dengan siswa.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena guru yang terlalu berambisi menjadi “guru favorit” atau “guru asik”. Guru berusaha masuk ke dunia siswa, bercanda layaknya teman sebaya, bahkan menghapus batas peran demi kedekatan emosional. Niatnya tentu baik: agar siswa nyaman dan terbuka. Namun, kedekatan tanpa batas sering kali berubah menjadi bom waktu.

Ketika Kedekatan Mengikis Rasa Segan

Masalah utama dari hubungan yang terlalu cair adalah hilangnya rasa segan. Saat siswa mulai memandang guru sebagai “teman”, maka tembok penghormatan perlahan runtuh. Teguran yang seharusnya dipahami sebagai bimbingan berubah menjadi sesuatu yang dianggap berlebihan atau emosional.

Kalimat seperti, “Biasanya juga bercanda, kenapa sekarang serius?” sering kali menjadi tanda bahwa wibawa guru telah terkikis. Ketika rasa segan hilang, disiplin pun ikut runtuh.

Pendidikan Butuh Hierarki, Bukan Kesetaraan Palsu

Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga transfer adab. Dalam adab, ada struktur yang jelas: murid menghormati guru, yang muda menghormati yang lebih tua. Upaya mensejajarkan guru dan siswa atas nama “demokrasi kelas” sering disalahpahami, terutama oleh remaja yang secara emosional belum stabil.

Tanpa hierarki yang sehat, siswa bisa merasa setara dalam segala hal, bahkan merasa berhak melawan ketika egonya terusik. Di sinilah masalah serius mulai muncul.

Guru adalah Mentor, Bukan Teman Nongkrong

Siswa tidak kekurangan teman sebaya. Mereka punya banyak rekan untuk bercanda dan berbagi cerita. Yang mereka butuhkan di sekolah adalah sosok dewasa yang bisa membimbing, memberi batasan, dan berani berkata “tidak” saat diperlukan.

Guru seharusnya menjadi figur yang dihormati dan disegani, bukan figur yang bisa diperlakukan seenaknya. Rasa segan dalam konteks ini bukan ketakutan, melainkan penghormatan yang menjaga hubungan tetap sehat.

Ramah Itu Wajib, Permisif Itu Berbahaya

Menjadi guru yang hangat dan ramah adalah keharusan. Namun, menjadi guru yang serba membolehkan demi disukai justru berbahaya. Perlu dibedakan antara sikap hangat dan sikap permisif. Guru yang baik menjaga ruang profesional: dekat secara pedagogis, tetapi tidak larut secara personal.

Menyayangi siswa tidak berarti menghapus batas. Justru batas itulah yang melindungi guru dan siswa dari relasi yang tidak sehat.

Penutup: Disukai Itu Bonus, Disegani Itu Keharusan

Tragedi kekerasan terhadap guru harus menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Sudah saatnya guru berhenti terobsesi untuk selalu disukai. Fokus utama bukan popularitas, melainkan kewibawaan dan keselamatan.

Lebih baik dianggap kaku tetapi dihormati, daripada dianggap asik namun kehilangan martabat dan otoritas.

Jadilah guru yang ramah, tetapi tak terjamah.
Hangat, namun tetap berjarak.
Dekat dalam mendidik, tegas dalam memimpin.


Minggu, 18 Januari 2026

Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi

"Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi: Kesalahan Berulang Sekte Imadiyah dalam Memahami kitab dan Ulama Pribumi"

Terus terang, ini melelahkan. Bukan karena kalah argumen—justru sebaliknya—melainkan karena harus berulang kali melayani komentar brutal, ngawur, dan miskin rujukan dari mereka yang terpapar paham sekte Imadiyah, kelompok yang belakangan gemar memainkan peran sebagai “hakim nasab”, padahal fondasi ilmunya sangat rapuh.

Mereka memuntahkan tuduhan keji tanpa satu pun sandaran pada ulama/Kyai mu‘tabar atau otoritas keilmuan yang diakui. Ironisnya, mereka sering tampil seolah lebih pandai dari para ulama dunia—padahal jika ditimbang dengan standar dasar pesantren, kemampuan mereka bahkan belum layak disandingkan dengan santri yang duduk dikelas tiga diniyah. Ini bukan cercaan kosong; ini bisa diverifikasi secara ilmiah.

Ambil contoh paling sederhana—dan paling memalukan: kekacauan mereka dalam memahami istilah “Habib”.

Mereka ngotot mengatakan:

• Habib bukan dzurriyah Nabi ﷺ
• Habib bukan Sayyid
• Habib bukan Syarif

Padahal soal ini sudah saya jelaskan berkali-kali, tidak kurang dari tiga kali dalam status Facebook saya. Namun, seperti menuangkan air ke bejana bocor—tak pernah tinggal, mereka tetap tidak paham.

Masalahnya satu: mereka berbicara tanpa kitab/Rujukan.

– Ketika Kitab Kecil Pesantren Menghancurkan Argumen Sekte Imadiyah
Mari kita bicara dengan bahasa ilmu, bukan emosi.

Dalam kitab yang sangat kecil, sangat dasar, dan dipelajari hampir di setiap pesantren Nusantara—bahkan ditulis oleh Kyai Pribumi tapi ulama sekelas dunia, Imam Masjidil Haram asal Banten—yaitu:

شرح عقود اللجين في بيان حقوق الزوجين

karya Asy-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani رحمه الله تعالى، pada halaman 5, beliau menjelaskan dengan gamblang, terang, dan tanpa multitafsir.

Dalam pujian beliau terhdap Habib Abdul Al Addad l, Syaik Nawani Al Bantani menyebutnya dengan Sebutan Habib dan Sayyid lalu menjelaskan apa itu sebuatan Habib dan Sayyid, sebagai berikut: 

(قال سيدنا) أي أكرمنا (الحبيب) أي المحبوب السيد (عبدالله الحداد) صاحب الطريقة المشهورة والأسرار الكثيرة، فاصطلاح بعض أهل البلاد أنّ ذرية رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا كان ذكرا يقال له حبيب، وإن كان أنثى يقال لها حبابة، واصطلاح الأكثر يقال له سيّد وسيّدة.

Terjemah Ilmiah Ringkas:
 
Yang dimaksud oleh Sayyidina al-Habib Abdullah al-Haddad— beliau adalah seorang tokoh tarekat besar penuh rahasia. menurut Syekh Nawawi al-Bantani sebagian penduduk di beberapa negeri menetapkan istilah:

• Keturunan Rasulullah ﷺ jika laki-laki disebut Habib,
• jika perempuan disebut Hababah,
• dan mayoritas kaum Muslimin menyebut mereka Sayyid (laki-laki) dan Sayyidah (perempuan).

Selesai? Belum. Tapi argumen sekte Imadiyah sudah runtuh di sini.

– Kesimpulan Ilmiah (Bukan Opini Jalanan)

Dari penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama agung Nusantara dan guru para ulama Jawa, dapat disimpulkan secara pasti:

1. Habib adalah dzurriyah Rasulullah ﷺ

2. Sayyid, Syarif, dan Habib adalah istilah—bukan kasta wahyu.

3. Tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan penyebutan tunggal. 

4. Perbedaan istilah bergantung pada ‘urf (tradisi daerah), bukan aqidah.

Maka:

• Keturunan Nabi dari jalur Hasani maupun Husaini boleh disebut Sayyid, Syarif, atau Habib.

•Keturunan para wali—termasuk Walisongo—juga tidak salah jika dalam tradisi tertentu disebut Habib.

Sabtu, 10 Januari 2026

Numpang Kencing Di Masjid

Bagaimana hukumnya menumpang toilet masjid yang ada di pinggir jalan? Mohon penjelasannya karena ini sering terjadi di masyarakat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Fuad, Bojonegoro)

Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Bagi orang yang sedang dalam perjalanan, berhenti dan beristirahat di masjid pinggir jalan adalah hal yang lumrah. Baik sekedar melepas lelah, salat, atau keperluan buang hajat. Namun persoalan muncul ketika mereka menggunakan fasilitas toilet masjid tanpa melakukan ibadah di masjid tersebut.

Pada dasarnya, air di masjid disediakan khusus untuk orang yang beribadah di masjid, baik salat, iktikaf dan semacamnya. Sehingga memanfaatkan air masjid tanpa beribadah di masjid tidak diperbolehkan. Syekh As-Syarwani menjelaskan:

وَكَذَا يُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ حُرْمَةُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْخُلُونَ فِي مَحَلِّ الطَّهَارَةِ لِتَفْرِيغِ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ يَغْسِلُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَيْدِيَهُمْ مِنْ مَاءِ الْفَسَاقِيِ الْمُعَدَّةِ لِلْوُضُوءِ لِإِزَالَةِ الْغُبَارِ وَنَحْوِهِ بِلَا وُضُوءٍ وَلَا إرَادَةِ صَلَاةٍ

“Begitu juga keharaman yang menjadi kebiasaan bahwa orang-orang masuk ke tempat bersuci untuk merampungkan hajatnya, membasuh wajah serta tangannya dari debu dan sesamanya menggunakan air yang dikhususkan untuk wudu tanpa melakukan wudu dan tanpa tujuan salat.” (Hawasyi asy-Syarwani, I/231)

Namun apabila sumber air tersebut diwakafkan untuk kemaslahatan umum atau penggunaan semacam itu sudah mentradisi tanpa ada yang mengingkari, maka hukumnya boleh. Syekh Zainuddin al-Malibari mengutip dalam kitab Fath al-Mu’in:

إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ

“Sesungguhnya apabila terdapat indikasi bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, semisal untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari indikasi tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada pengingkaran, baik dari ahli fikih atau yang lainnya.” (Fathul Muin, hlm. 88)

Meskipun demikian, dianjurkan untuk melakukan ibadah di masjid tersebut atau memasukkan sejumlah uang yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infaq

Sumber: Lirboyo net

Kamis, 08 Januari 2026

Tujuh Keahlian Hidup yang Harus Dikuasai Sejak Muda Agar Tak Menyesal di Usia 40

Tujuh Keahlian Hidup yang Harus Dikuasai Sejak Muda Agar Tak Menyesal di Usia 40

Banyak orang baru memahami pentingnya keterampilan hidup ketika usia tak lagi muda. Di usia 40, seseorang bisa saja mapan secara materi dan jabatan, namun merasa kosong secara batin. Penyesalan terbesar sering kali bukan karena kesalahan yang dilakukan, melainkan karena hal-hal penting yang tidak pernah dipelajari sejak muda.

Usia muda seharusnya menjadi masa membangun fondasi mental, finansial, dan sosial. Jika tidak ingin menua dengan kegelisahan dan kehilangan makna, tujuh keahlian berikut perlu mulai dikuasai sejak sekarang.

1. Mengelola emosi
Banyak kegagalan hidup berawal dari emosi yang tidak terkendali. Mampu menenangkan diri dan memilih respons yang bijak adalah tanda kedewasaan dan kekuatan batin.

2. Mengatur keuangan pribadi
Penghasilan besar tanpa pengelolaan yang baik hanya melahirkan kecemasan. Literasi keuangan sejak muda menciptakan rasa aman dan kebebasan memilih jalan hidup.

3. Berkomunikasi secara efektif
Kemampuan menyampaikan pikiran dengan jelas dan empatik membuka peluang, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan.

4. Berpikir kritis dan logis
Di tengah banjir informasi, berpikir kritis menjaga seseorang dari manipulasi dan keputusan tergesa-gesa.

5. Disiplin dan manajemen waktu
Tanpa disiplin, potensi tidak akan tumbuh. Konsistensi dalam hal kecil hari ini menentukan ketenangan hidup di masa depan.

6. Membangun hubungan yang sehat
Kesuksesan sejati lahir dari hubungan yang baik. Empati, ketulusan, dan kemampuan bekerja sama adalah modal sosial yang tak tergantikan.

7. Mengenali dan mengembangkan diri
Mengenal nilai, tujuan, dan arah hidup mencegah seseorang hidup dalam kehampaan meski terlihat sukses.

Penutup
Waktu tidak menunggu siapa pun. Di usia 40, penyesalan bukan karena kurang tahu, tetapi karena terlambat memulai. Keahlian hidup dibentuk dari kebiasaan kecil yang dilatih sejak muda. Siapa yang menyiapkan dirinya hari ini, akan menjalani masa depan dengan lebih tenang dan bermakna.



Selasa, 06 Januari 2026

Cara Membangun Empati dan Keterampilan Sosial

Cara Membangun Empati dan Keterampilan Sosial

Empati dan keterampilan sosial adalah kunci hubungan yang sehat dan kehidupan yang lebih tenang. Keduanya bukan bakat bawaan, tetapi kemampuan yang bisa dilatih.

1. Dengarkan dengan sungguh-sungguh
Fokuslah mendengar tanpa memotong atau menghakimi. Orang yang merasa didengar akan merasa dihargai.

2. Kenali dan kelola emosi diri
Pahami apa yang kamu rasakan sebelum merespons orang lain. Kesadaran diri membantu mencegah reaksi yang melukai.

3. Lihat dari sudut pandang orang lain
Cobalah memahami alasan dan kondisi di balik sikap seseorang, bukan langsung menilai.

4. Kendalikan ego
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Utamakan menjaga hubungan daripada membuktikan diri benar.

5. Berkomunikasi dengan empati dan tegas
Sampaikan pendapat secara jujur tanpa menyakiti. Gunakan bahasa yang menghargai.

6. Biasakan kepedulian kecil
Ucapan terima kasih, maaf, dan perhatian sederhana memperkuat hubungan.

7. Belajar dari konflik
Empati diuji saat berbeda pendapat. Dengarkan, tenangkan emosi, dan cari solusi bersama.

Penutup
Orang yang empatik tidak hanya mudah diterima, tetapi juga lebih matang secara emosional. Latih sedikit demi sedikit—karena kualitas hidup sangat ditentukan oleh kualitas hubungan.


Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya:Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang

Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya: Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang  فَطَلَبُ الْعِلْمِ كَانَ كَثِيرًا فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ، ل...