Rabu, 13 Mei 2026

Rahasia Susunan Surat Al-Baqarah: Keterkaitan Al-Baqarah dengan Al-Fatihah dan Surat-Surat Madaniyah Setelahnya


Banyak orang membaca Al-Qur’an secara berurutan, tetapi tidak semua menyadari bahwa susunan surat-suratnya menyimpan hikmah yang sangat dalam. Para ulama menjelaskan bahwa penempatan setiap surat bukanlah tanpa makna, melainkan penuh keterkaitan, kesinambungan, dan kesempurnaan tema.

Salah satu contoh paling indah adalah hubungan antara Surat Al-Fatihah dengan Surat Al-Baqarah, serta rangkaian surat Madaniyah setelahnya: Ali ‘Imran, An-Nisa’, dan Al-Ma’idah.

Al-Fatihah: Ringkasan Seluruh Al-Qur’an

Para ulama menyebut Al-Fatihah sebagai Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an), karena seluruh pokok ajaran agama terkandung di dalamnya.

Di dalam Al-Fatihah terdapat:

pengakuan terhadap ketuhanan Allah:
الحمد لله رب العالمين

pengharapan terhadap rahmat Allah:
الرحمن الرحيم

keyakinan terhadap hari akhir:
مالك يوم الدين

inti ibadah dan penghambaan:
إياك نعبد وإياك نستعين

permohonan hidayah:
اهدنا الصراط المستقيم

doa agar dijauhkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat.


Dengan kata lain, Al-Fatihah adalah peta besar Al-Qur’an dalam bentuk paling ringkas.

Al-Baqarah: Penjelasan Rinci dari Al-Fatihah

Jika Al-Fatihah adalah ringkasan, maka Al-Baqarah adalah penjelasan rinci.

Saat seorang hamba membaca:

اهدنا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”


Maka awal Surat Al-Baqarah seakan menjadi jawaban langsung:

 الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang bertakwa.”



Seolah Allah menjawab:

“Inilah jalan lurus yang kalian minta: Al-Qur’an.”

Karena itu para ulama mengatakan, hubungan Al-Fatihah dan Al-Baqarah sangat erat.

Isi Al-Baqarah Merinci Seluruh Isi Al-Fatihah

1. الحمد لله

Dirinci dalam Al-Baqarah melalui:

perintah dzikir,

doa-doa,

syukur kepada Allah.


Seperti firman-Nya:

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون
“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian; bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur.”



2. رب العالمين

Dirinci dengan ayat-ayat penciptaan:

bumi,

langit,

hujan,

buah-buahan,

penciptaan Adam.


Allah berfirman:

اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم



3. الرحمن الرحيم

Dirinci dengan kisah rahmat Allah:

diterimanya taubat Adam,

pengampunan Bani Israil,

kemudahan hukum.


4. مالك يوم الدين

Dirinci dengan banyak ayat tentang:

hari kiamat,

hisab,

balasan amal.


5. إياك نعبد

Dirinci dengan hukum-hukum syariat.

Surat Al-Baqarah memuat banyak bab fikih, seperti:

shalat

zakat

puasa

haji

jual beli

nikah

talak

warisan

hutang piutang

jihad

qishash

sumpah

nadzar


Karena itu Al-Baqarah disebut oleh sebagian ulama:

فسطاط القرآن
“kota besar atau kemah besar Al-Qur’an”

karena sangat lengkap kandungannya.

6. وإياك نستعين

Dirinci dengan pendidikan akhlak, seperti:

sabar,

syukur,

taubat,

tawakal,

dzikir,

takut kepada Allah.


7. اهدنا الصراط المستقيم

Dirinci melalui penjelasan:

jalan para nabi,

penyimpangan Yahudi,

penyimpangan Nasrani,

kisah perubahan kiblat menuju Ka’bah.


Mengapa Setelah Al-Baqarah Datang Ali ‘Imran?

Dalam Al-Fatihah kita berdoa agar dijauhkan dari:

المغضوب عليهم → orang yang dimurkai (ditafsirkan sebagai Yahudi)

الضالين → orang yang sesat (ditafsirkan sebagai Nasrani)


Maka susunan Al-Qur’an sangat indah:

Al-Baqarah banyak membahas Yahudi

Ali ‘Imran banyak membahas Nasrani


Bahkan sekitar 80 ayat awal Ali ‘Imran turun terkait dialog dengan delegasi Nasrani Najran.

Ini menunjukkan susunan surat sangat sistematis.

Surat An-Nisa’: Hukum Hubungan Sosial

Setelah fondasi akidah dan bantahan terhadap Ahlul Kitab, datang Surat An-Nisa’.

Surat ini fokus pada hubungan manusia:

keluarga,

pernikahan,

mahram,

warisan,

hak perempuan,

hukum sosial.


Karena itu dibuka dengan ayat:

يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة

Ayat pembuka ini langsung mengisyaratkan isi surat tentang manusia, keluarga, dan keturunan.

Surat Al-Ma’idah: Penyempurna Syariat

Setelah itu datang Surat Al-Ma’idah.

Jika Al-Baqarah memuat dasar hukum, maka Al-Ma’idah menyempurnakannya.

Di dalamnya terdapat:

penyempurnaan akad,

halal-haram makanan,

wudhu,

tayammum,

hukuman pencurian,

larangan khamar,

larangan berburu saat ihram.


Allah berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.”

Karena itu Al-Ma’idah dikenal sebagai surat penyempurna agama.

Penutup Al-Baqarah Serasi dengan Penutup Al-Fatihah

Al-Fatihah ditutup dengan doa agar dijauhkan dari jalan orang sesat.

Al-Baqarah juga ditutup dengan doa:

ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا



ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا



Doa ini menjadi rincian dari permohonan dalam Al-Fatihah.

Seolah-olah Al-Fatihah membuka dengan doa, lalu Al-Baqarah menutup dengan doa. Sangat harmonis.

Kesimpulan

Susunan Al-Qur’an bukan sekadar urutan bacaan.

Ia adalah bangunan ilmu yang sangat rapi:

Al-Fatihah = ringkasan agama

Al-Baqarah = penjelasan rinci dan fondasi hukum

Ali ‘Imran = jawaban syubhat dan dialog dengan Nasrani

An-Nisa’ = hukum sosial dan keluarga

Al-Ma’idah = penyempurna syariat


Semakin seseorang mentadabburi susunan surat, semakin tampak keagungan Al-Qur’an.

Sebagaimana firman Allah:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ

“Sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna, lalu dijelaskan secara rinci.” (Hud: 1)


Maka membaca Al-Qur’an bukan hanya membaca ayat demi ayat, tetapi menyaksikan keindahan susunan wahyu yang penuh hikmah.

Selasa, 12 Mei 2026

Mengenal Jenis Sutra Yang Haram Dipakai Lelaki


Mengenal Sutra yang haram dipakai lelaki dan jenis jenisnya

Al Harir

Definisi:

  1. Sutra sudah dikenal secara umum, dan berasal dari ulat yang disebut ulat sutra (dūdatu al-qazz).

Istilah-istilah yang berkaitan:

  1. Al-Ibrīsam (الإبريسم)
    Dibaca dengan fathah atau dhammah pada huruf sin: artinya sutra, dan sebagian ulama mengkhususkannya untuk sutra mentah.

  2. Al-Istabraq (الإستبرق)
    Adalah kain sutra tebal (dibāj tebal). Kata ini berasal dari bahasa Persia yang kemudian diarabkan.

  3. Al-Khazz (الخز)
    Khazz adalah jenis pakaian yang ditenun dari wol dan sutra, atau terkadang dari sutra murni.
    Dalam Lisān al-‘Arab disebutkan: khazz ditenun dari wol dan selainnya; dan pengertian ini dipakai untuk memahami riwayat bahwa para sahabat pernah memakainya.

  4. Ad-Dībāj (الديباج)
    Adalah kain yang benang lungsin dan pakannya sama-sama dari sutra.

  5. As-Sundus (السندس)
    Adalah jenis kain sutra halus atau tipis, termasuk salah satu macam dibāj.

  6. Al-Qazz (القز)
    Qazz berarti sutra/benang sutra.
    Dalam sebagian kitab fikih disebutkan bahwa qazz adalah salah satu jenis sutra yang warnanya agak kusam, yaitu sesuatu yang dipotong oleh ulat dan keluar darinya.
    Sedangkan harīr (sutra) adalah yang diperoleh setelah ulat tersebut mati.

  7. Ad-Dimqis (الدمقس)
    Dimqis dapat bermakna ibrīsam (sutra), qazz, dibāj, atau juga linen (kain dari rami/katun halus).

Sumber: Al-Mawsū‘ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah jilid 17 hlm. 205–206.


Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 4)


Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 4)

وقال العلامة محمد ولي الدين الشبشيري في شرح الأربعين النووية على قوله صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أحْدَثَ حَدَثاً أوْ آوَى مُحْدِثاً فَعَلَيْهِ لَعْنَة الله} ودخل في الحديث العقود الفاسدة, والحكم مع الجهل والجور ونحو ذلك مما لا يوافق الشرع. وخرج عنه ما لا يخرج عن دليل الشرع, كالمسائل الإجتهادية التي ليس بينها وبين أدلتها رابط إلا ظن المجتهد, وكتابة المصحف وتحرير المذاهب وكتب النحو والحساب, ولذا قسم ابن عبد السلام الحوادث إلى الأحكام الخمسة, فقال: البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم واجبة كتعلم النحو وغريب الكتاب والسنة مما يتوقف فهم الشريعة عليه, ومحرّمة كمذهب القدرية والجبرية والمجسمة, ومندوبة كإحداث الربط والمدارس وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول, ومكروهة كزخزفة المساجد وتزويق المصاحف, ومباحة كالمصافحة عقب صلاة الصبح والعصر والتوسع في المأكل والمشرب والملبس وغير ذلك.

Dan al-‘Allamah Muhammad Wali ad-Din asy-Syabsyiri dalam syarah Al-Arba‘in an-Nawawiyyah ketika menjelaskan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ أحْدَثَ حَدَثاً أوْ آوَى مُحْدِثاً فَعَلَيْهِ لَعْنَة الله 

“Barang siapa membuat suatu perkara baru (kejahatan/kerusakan) atau melindungi pelaku perkara baru itu, maka atasnya laknat Allah.”



beliau berkata:

Hadis ini mencakup berbagai perkara seperti:

akad-akad yang rusak (transaksi tidak sah),

memutuskan hukum dengan kebodohan,

berbuat zalim,

dan semisalnya, yaitu segala sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat.


Adapun yang tidak termasuk dalam hadis ini adalah perkara yang masih berada dalam cakupan dalil syariat, seperti:

masalah-masalah ijtihadiyyah (hasil ijtihad), yang hubungan antara masalah tersebut dengan dalilnya terkadang hanya berdasarkan dugaan kuat seorang mujtahid;

penulisan mushaf Al-Qur’an;

pembakuan dan perumusan mazhab-mazhab fikih; penulisan kitab-kitab nahwu; penulisan ilmu hisab (matematika/perhitungan).


Karena itulah Ibnu ‘Abdissalam membagi perkara-perkara baru (al-hawadits) ke dalam lima hukum syariat, lalu berkata:

Bid‘ah terbagi menjadi lima:

1. Bid‘ah Wajibah (wajib)

Yaitu perkara baru yang hukumnya wajib.

Contoh: mempelajari ilmu Nahwu, mempelajari kosakata asing/gharib dalam Al-Qur’an dan Sunnah,


karena pemahaman syariat bergantung padanya.

2. Bid‘ah Muharramah (haram)

Yaitu perkara baru yang haram.

Contoh mazhab Qadariyyah, Jabariyyah, dan Mujassimah.


Yakni aliran-aliran akidah menyimpang.

3. Bid‘ah Mandubah (sunnah/dianjurkan)

Yaitu perkara baru yang dianjurkan. Contoh mendirikan ribath (tempat singgah/markas ibadah atau penjagaan perbatasan), membangun madrasah, seluruh bentuk kebaikan yang belum ada di masa awal Islam.

4. Bid‘ah Makruhah

Yaitu perkara baru yang makruh. Contoh menghias masjid secara berlebihan, memperindah mushaf dengan dekorasi berlebihan.

5. Bid‘ah Mubahah

Yaitu perkara baru yang hukumnya boleh.

Contoh berjabat tangan setelah salat Subuh dan Ashar, memperluas variasi makanan, memperluas minuman, memperbagus pakaian, dan semisalnya.

Kemudian beliau berkata:

وإذا عرفت ما ذكر تعلم أن ما قيل: إنه بدعة كاتخاذ السبحة, والتلفظ بالنية, والتهليل عند التصدق عن الميت مع عدم المانع عنه, وزيارة القبور, ونحو ذلك ليس ببدعة. وإن ما أحدث من أخذ أموال الناس بالأسواق الليلية, واللعب بالكورة وغير ذلك من شر البدع.

Jika engkau telah memahami penjelasan di atas, maka engkau akan mengetahui bahwa perkara-perkara yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai bid‘ah, seperti: menggunakan tasbih, melafalkan niat, membaca tahlil ketika bersedekah untuk mayit selama tidak ada larangan, ziarah kubur, dan semisalnya, maka itu bukan bid‘ah.

Sebaliknya, perkara-perkara yang baru muncul seperti:

mengambil harta manusia secara zalim di pasar-pasar malam,

bermain bola (dalam bentuk yang melalaikan atau mengandung kemungkaran menurut konteks penulis), dan selainnya, termasuk seburuk-buruk bid‘ah.

     

Ngaji Fathul Muin: Penjelasan Tentang Menikahi Perempuan Non Muslim


Ngaji Fathul Muin: Penjelasan Tentang Menikahi Perempuan Kafir

Disyaratkan juga bagi perempuan yang hendak dinikahi itu harus berstatus muslimah atau kitabiyah murni (yahudi atau nasrani asli), baik ia termasuk ahlu dzimmah (warga non-Muslim yang berada di bawah perlindungan negara Islam) maupun harbiyah (berasal dari negeri yang tidak terikat perjanjian dengan kaum Muslimin).

Maka boleh—meskipun makruh—menikahi perempuan Yahudi (Isrā’īliyyah), dengan syarat tidak diketahui bahwa nenek moyang pertamanya masuk agama tersebut setelah diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salam.

Jika diketahui bahwa leluhur pertamanya masuk agama itu setelah dilakukan penelitian (taharrī), maka tidak boleh.

Sedangkan menikahi selain Yahudi (misalnya Nasrani) disyaratkan harus diketahui bahwa leluhur pertamanya telah masuk agama itu sebelum diutusnya Nabi Isa, walaupun masuknya setelah terjadi perubahan (tahrif/perubahan kitab), selama mereka menjauhi ajaran yang telah diubah tersebut.

Apabila seorang laki-laki ahli kitab masuk Islam sementara ia memiliki istri ahli kitab, maka pernikahannya tetap berlangsung, meskipun Islamnya terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri.

Jika seorang laki-laki musyrik masuk Islam sedangkan istrinya juga musyrikah:

Jika istrinya tetap dalam kemusyrikan sebelum terjadi hubungan badan, maka putusnya pernikahan terjadi seketika.

Jika sudah terjadi hubungan badan, lalu istrinya masuk Islam dalam masa iddah, maka pernikahan tetap berlanjut.

Jika tidak masuk Islam sampai habis iddah, maka putusnya nikah dihitung sejak suami masuk Islam.


Jika justru istrinya yang masuk Islam sementara suami tetap kafir:

Bila sudah terjadi hubungan badan, lalu suami masuk Islam dalam masa iddah, maka nikah tetap berlangsung.

Jika tidak masuk Islam dalam masa iddah, maka perpisahan dihitung sejak istri masuk Islam.


Dalam kondisi ketika syariat menetapkan nikah mereka tetap berlaku, maka tidak masalah jika sebelumnya ada unsur perusak akad yang hilang saat masuk Islam. Contohnya:

Mereka tetap diakui berada dalam pernikahan yang dulu dilakukan saat perempuan masih dalam iddah, tetapi ketika masuk Islam ternyata iddahnya sudah selesai.

Atau kasus laki-laki harbi merampas perempuan harbiyah lalu menganggapnya sebagai istri; jika dalam keyakinan mereka itu dianggap nikah, maka bisa diakui setelah masuk Islam. Begitu pula kasus hubungan atas dasar kerelaan.


Hal ini disebutkan oleh guru kami.

Dan nikah orang-orang kafir pada pendapat yang shahih dihukumi sah menurut syariat dalam hukum-hukum tertentu.

Dan tidak sah menikahi jin perempuan, begitu pula sebaliknya (jin menikahi manusia), menurut pendapat mayoritas ulama muta’akhkhirin.

Refrensi:
تنبيه [في بيان نكاح من تحل ومن لا تحل من الكافرات] اعلم أنه يشترط أيضا في المنكوحة كونها مسلمة أو كتابية خالصة ذمية كانت أو حربية فيحل مع الكراهة نكاح الإسرائيلية بشرط أن لا يعلم دخول أول آبائها في ذلك الدين بعد بعثة عيسى عليه السلام وإن علم دخوله فيه بعد التحري ونكاح غيرها بشرط أن يعلم دخول أول آبائها فيه قبلها ولو بعد التحريف إن تجنبوا المحرف ولو أسلم كتابي وتحته كتابية دام نكاحه وإن كان قبل الدخول أو وثني وتحته وثنية فتخلفت قبل الدخول تنجزت الفرقة أو بعده وأسلمت في العدة دام نكاحه وإلا فالفرقة من إسلامه ولو أسلمت وأصر على الكفر: فإن دخل بها وأسلم في العدة دام النكاح وإلا فالفرقة من إسلامها وحيث أدمنا لا يضر مقارنة مفسد هو زائل عند الإسلام فتقر على نكاح في عدة هي منقضية عند الإسلام وعلى غصب حربي لحربية إن اعتقدوه نكاحا وكالغصب المطاوعة.
قاله شيخنا ونكاح الكفار صحيح على الصحيح.
ولا يصح نكاح الجنية كعكسه على ما عليه أكثر المتأخرين.


Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu‘in, hlm. 460

Minggu, 10 Mei 2026

Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 3)

Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 3) 

(الميزان الثالث) ميزان التمييز بشواهد الأحكام وهو تفصيلي ينقسم إلى أقسام الشريعة الستة, أعنى الوجوب والندب والتحريم والكراهة وخلاف الأولى والإباحة, فكل ما انحاز لأصل بوجه صحيح واضح لا بعد فيه الحق به, وما لا فهو بدعة. وعلى هذا الميزان جرى كثير من المحققين واعتبرها من حيث اللغة للتقريب. والله أعلم.

3. Timbangan Ketiga

Yaitu menimbang perkara baru dengan hukum-hukum syariat secara rinci.

Perkara baru dibagi sesuai enam hukum syariat:

1. wajib, sunnah/mandub, haram, makruh, khilaf al-awla (menyalahi yang lebih utama), dan mubah.

Maka setiap perkara baru yang memiliki landasan jelas dan benar yang bisa dikaitkan pada salah satu hukum tersebut, ia dimasukkan ke sana. Jika tidak memiliki landasan demikian, maka itulah bid‘ah.

Atas dasar inilah banyak ulama muhaqqiqin berjalan, dan mereka memandang pembagian bid‘ah ini juga dari sisi bahasa untuk memudahkan pemahaman. Wallahu a‘lam.

ثم قال: وأقسامها ثلاثة, البدع الصريحة, وهي ما أثبتت من غير أصل شرعي في مقابلة ما ثبت شرعا من واجب أو سنة أو مندوب أو غيره فأماتت سنة أو أبطلت حقا, وهذه شر البدع, وإن كان لها ألف مستند من الأصول أو الفروع فلا عبرة به. الثاني البدع الإضافية, وهي التي لأمر لو سلم منها لم تصح المنازعة في كونه سنة أو غير بدعة بلا خلاف أو على خلاف مما تقدم. الثالث البدع الخلافية, وهي المبنية على أصلين يتجاذبها كل منهما, فمن قال بهذا قال: بدعة, ومن قال بمقابله قال: سنة, كما تقدم في ضرب الإدارة وذكر الجماعة.

Kemudian beliau berkata: bid‘ah terbagi menjadi tiga:

1. Bid‘ah Sharihah (Bid‘ah Murni/Jelas)

Yaitu perkara yang dibuat tanpa dasar syariat sama sekali, bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan syariat, baik wajib, sunnah, mandub, maupun lainnya, sehingga: mematikan sunnah, atau membatalkan kebenaran. Inilah seburuk-buruk bid‘ah.

Sekalipun tampaknya memiliki seribu dalil dari kaidah umum atau cabang hukum, hal itu tidak dianggap.

2. Bid‘ah Idhafiyyah (Bid‘ah Tambahan)

Yaitu perkara yang pada asalnya jika terlepas dari unsur tambahannya, sebenarnya tidak diperselisihkan sebagai sunnah atau minimal bukan bid‘ah. Namun adanya tambahan tertentu menyebabkan timbul perdebatan.

3. Bid‘ah Khilafiyyah (Bid‘ah yang Diperselisihkan)

Yaitu perkara yang dibangun di atas dua dasar hukum yang sama-sama mungkin diterapkan. Siapa yang mengikuti satu dasar berkata: ini bid‘ah. Siapa yang mengikuti dasar lain berkata: ini sunnah. Sebagaimana telah disebut sebelumnya pada contoh: memukul idaroh dan zikir berjamaah.


Ngaji Fathul Muin Kejelasan Calon Suami Dalam Pernikahan

Ngaji Fathul Muin Kejelasan Calon Suami Dalam Pernikahan 

Disyaratkan pada calon suami adanya ta‘yīn (penentuan yang jelas). Maka jika seseorang berkata: “Aku nikahkan engkau dengan salah satu dari dua putriku” tanpa menentukan siapa yang dimaksud, maka akad itu batal, meskipun disertai isyarat.

Dan disyaratkan pula tidak ada wanita yang menjadi mahram untuk digabungkan dengan calon istri, seperti saudari perempuan, bibi dari pihak ayah (ʿammah), atau bibi dari pihak ibu (khālah) dari perempuan yang dilamar, baik karena nasab maupun persusuan, yang masih berada dalam ikatan pernikahan suami tersebut, meskipun wanita itu sedang dalam masa iddah raj‘i (talak yang masih bisa dirujuk). Sebab wanita dalam iddah raj‘i statusnya seperti istri, terbukti masih adanya hak saling mewarisi.

Maka jika seseorang menikahi dua wanita yang haram digabung dalam satu akad, batal nikah keduanya, karena tidak ada alasan untuk mengunggulkan salah satu dari keduanya. Namun jika dinikahi dalam dua akad terpisah, maka yang batal adalah akad yang kedua.

Kaidah wanita yang haram digabung dalam satu pernikahan ialah:
Setiap dua wanita yang di antara keduanya ada hubungan nasab atau persusuan yang menyebabkan keduanya haram menikah jika salah satunya diasumsikan sebagai laki-laki.

Disyaratkan pula bahwa suami tidak sedang memiliki empat orang istri selain calon yang akan dinikahi, meskipun sebagian dari empat istri itu sedang dalam masa iddah raj‘i, karena wanita raj‘iyyah masih dihukumi sebagai istri.

Apabila seorang lelaki merdeka menikahi istri kelima secara berurutan, maka batal nikah pada istri kelima. Namun jika lima wanita itu dinikahi dalam satu akad sekaligus, maka batal semuanya.

Demikian pula budak laki-laki, jika ia menambah istri lebih dari dua, maka hukumnya batal dengan rincian yang sama.

Adapun jika wanita yang menjadi penghalang bagi calon istri, atau salah satu dari empat istri tadi, sedang berada dalam iddah bain (talak ba’in, tidak bisa dirujuk), maka sah menikahi wanita yang haram digabung dengannya atau menikahi istri kelima, karena wanita dalam iddah bain statusnya sudah menjadi orang asing (ajnabiyyah).

Sumber:

وشرط في الزوج تعيين فزوجت بنتي أحدكما باطل ولو مع الإشارة.
وعدم محرمة كأخت أو عمة أو خالة للمخطوبة بنسب أو رضاع تحته أي الزوج ولو في العدة الرجعية لان الرجعية كالزوجة بدليل التوارث فإن نكح محرمين في عقد بطل فيهما: إذ لا مرجح أو في عقدين بطل
الثاني وضابط من يحرم الجمع بينهما كل امرأتين بينهما نسب أو رضاع يحرم تناكحهما إن فرضت إحداهما ذكرا ويشترط أيضا أن لا تكون تحته أربع من الزوجات سوى المخطوبة ولو كان بعضهن في العدة الرجعية لان الرجعية في حكم الزوجة فلو نكح الحر خمسا مرتبا بطل في الخامسة أو في عقد بطل في الجميع أو زاد العبد على الثنتين بطل كذلك.
أما إذا كانت المحرمة للمخطوبة أو إحدى الزوجات الأربعة في العدة البائن فيصح نكاح محرمتها والخامسة لأن البائنة أجنبية
[زين الدين المعبري ,فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين ,page 461]

Sabtu, 09 Mei 2026

Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 2)


Ngaji Risalah Ahlussunnah: Memahami Bidah & Sunnah Menurut KH. Hasyim Asy'ari (Part 2) 

قال: وموازينها ثلاثة:
(الأول) أن ينظر في الأمر المحدث, فإن شهد له معظم الشريعة وأصلها فليس ببدعة, وإن كان مما يأبى ذلك بكل وجه فهو باطل وضلال, وإن كان مما تراجعت فيه الأدلة وتناولته الشبهة واستوت فيه الوجوه اعتبرت وجوهه, فما ترجح من ذلك رجعت إليه.

Timbangan untuk Menilai Perkara Baru

Syekh Zarruq berkata: timbangan untuk menilai bid‘ah ada tiga.

1. Timbangan Pertama

Dilihat pada perkara baru tersebut: Jika didukung oleh mayoritas dalil syariat dan prinsip-prinsip umumnya, maka ia bukan bid‘ah.
Jika seluruh dalil syariat menolaknya dari segala sisi, maka ia batil dan sesat.
Jika dalil-dalil tampak saling tarik-menarik dan perkara itu samar, maka diperhatikan berbagai aspeknya, lalu diikuti sisi yang lebih kuat.

(الميزان الثاني) اعتبار قواعد الأئمة وسلف الأمة العاملين بطريق السنة, فما خالفها بكل وجه فلا عبرة به, وما وافق أصولهم فهو حق وإن اختلفوا فيه فرعا وأصلا, فكل يتبع أصله ودليله, وقد وقع من قواعدهم أن ما عمل به السلف وتبعهم الخلف لا يصح أن يكون بدعة ولا مذموما, وما تركوه بكل وجه واضح لا يصح أن يكون سنة ولا محمودا, وما أثبتوا أصله ولم يرد عنهم فعله فقال مالك بدعة لأنهم لم يتركوه إلا لأمر عندهم فيه. وقال الشافعي ليس ببدعة وإن لم يعمل به السلف لأن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام بهم في الوقت أو لما هو أفضل منه, والأحكام مأخوذة من الشارع وقد أثبته. واختلفوا أيضا فيما لم يرد له من السنة معارض ولا شبهة, فقال مالك بدعة, وقال الشافعي ليس ببدعة, واستند لحديث {مَا تَرَكْتُهُ لَكُمْ فَهُوَ عَفْوٌ}, قال وعلى هذا اختلافهم في ضرب الإدارة والذكر بالجهر والجمع والدعاء, إذ ورد في الحديث الترغيب فيه ولم يرد عن السلف فعله. ثم كل قائل لا يكون مبتدعا عند القائل بمقابله لحكمه بما أداه اجتهاده الذي لا يجوز تعديه, ولا يصح له القول ببطلان مقابله لقيام شبهته, ولو قيل بذلك لأدى إلى تبديع الأمة كلها, وقد عرف أن حكم الله تعالى في مجتهد الفروع ما أداه إليه اجتهاده, سواء قلنا المصيب واحد أو متعدد, وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ, فَقَالَ بَعْضُهُمْ: أُمِرْنَا بِالعَجَلَةِ, وَصَلُّوْا فِيْ الطَرِيْقِ, وَقَالَ آخَرُوْنَ أُمِرْنَا بِالصَلاَةِ هُنَاكَ, فَأَخَّرُوْا, وَلَمْ يعب صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَىْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ}, فدل ذلك على صحة العمل بما فهم من الشارع إذا لم يكن عن هوى.

2. Timbangan Kedua

Mempertimbangkan kaidah para imam dan salaf umat yang berjalan di atas sunnah:

Apa yang menyelisihi mereka secara total, maka tidak dianggap.
Apa yang sesuai dengan prinsip mereka, maka benar, walaupun mereka berbeda pendapat dalam cabang maupun pokoknya.

Kaedah mereka antara lain: Sesuatu yang diamalkan oleh salaf lalu diikuti khalaf, tidak sah disebut bid‘ah atau tercela.
Sesuatu yang mereka tinggalkan secara jelas dari segala sisi, tidak sah disebut sunnah atau terpuji. Adapun sesuatu yang dasar syariatnya ada, tetapi tidak diriwayatkan bahwa salaf mengamalkannya:

Imam Malik menilainya sebagai bid‘ah, karena menurut beliau mereka meninggalkannya pasti karena suatu alasan.

Imam Syafi‘i tidak menilainya sebagai bid‘ah, sebab bisa jadi mereka meninggalkannya karena uzur tertentu atau karena ada amalan yang lebih utama saat itu. Sedangkan hukumnya tetap diambil dari syariat, dan syariat telah menetapkan dasarnya.

Mereka juga berbeda pada perkara yang tidak ada dalil sunnah yang menentangnya dan tidak ada syubhat:

Imam Malik berkata: bid‘ah.
Imam Syafi‘i berkata: bukan bid‘ah.

Imam Syafi‘i berdalil dengan hadis:

مَا تَرَكْتُهُ لَكُمْ فَهُوَ عَفْوٌ

“Apa yang aku tinggalkan bagi kalian, maka itu adalah kelonggaran.”

Atas dasar ini terjadi perbedaan pendapat mengenai: memukul idaroh (semacam alat irama dalam zikir tertentu), zikir berjamaah dengan suara keras, berkumpul untuk doa.

Karena ada hadis yang menganjurkan zikir dan doa, meskipun tidak diriwayatkan bahwa salaf melakukannya dengan bentuk tersebut.

Namun, masing-masing pihak tidak boleh dianggap ahli bid‘ah oleh pihak lain, karena masing-masing mengikuti hasil ijtihadnya yang tidak boleh dilampaui. Tidak sah pula membatalkan lawan pendapatnya selama ada dasar syubhat ijtihad.

Kalau semua perbedaan seperti ini dihukumi bid‘ah, maka akibatnya hampir seluruh umat akan saling membid‘ahkan.

Padahal telah diketahui bahwa hukum Allah bagi mujtahid dalam masalah cabang adalah sesuai hasil ijtihad yang dicapainya, baik kita berpendapat yang benar hanya satu atau banyak.

Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah salah seorang dari kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.”

Ketika waktu Ashar tiba di perjalanan: sebagian sahabat berkata: “Kita diperintahkan untuk segera berangkat,” lalu mereka shalat di jalan. sebagian lain berkata: “Kita diperintahkan shalat di sana,” lalu mereka menunda hingga sampai.

Nabi ﷺ tidak mencela salah satu dari dua kelompok itu.

Maka hadis ini menunjukkan sahnya beramal berdasarkan pemahaman dari syariat selama bukan mengikuti hawa nafsu.

Rahasia Susunan Surat Al-Baqarah: Keterkaitan Al-Baqarah dengan Al-Fatihah dan Surat-Surat Madaniyah Setelahnya

Banyak orang membaca Al-Qur’an secara berurutan, tetapi tidak semua menyadari bahwa susunan surat-suratnya menyimpan hikmah yang...