Senin, 24 Agustus 2026

Imam Junaid Al-Baghdadi dan Perayaan Maulid Nabi

Penjelasan Tentang Maulid #1

قَالَ الْجُنَيْدِيُّ الْبَغْدَادِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ الرَّسُولِ وَعَظَّمَ قَدْرَهُ فَقَدْ فَازَ بِالْإِيمَانِ


"Berkata Al-Junaidi Al-Baghdadi rahimahullah: 'Barang siapa yang menghadiri perayaan Maulid Rasulullah dan mengagungkan kedudukannya, maka sungguh ia telah beruntung dengan (kesempurnaan) iman.'"


Penjelasan:

Pernyataan ini dinukil oleh Al-Bakri Ad-Dimyathi dalam kitab I'anatuth Thalibin (jilid 3, halaman 414) dalam rangkaian pembahasan tentang hukum peringatan Maulid Nabi . Imam Al-Junaid Al-Baghdadi (w. 298 H) adalah ulama besar sufi yang dijuluki "Sayyiduth Thaifah" (pemimpin kaum sufi) dan dikenal sangat teguh berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah .

Makna singkatnya:

· "Menghadiri Maulid" — maksudnya menghadiri majelis yang di dalamnya dibacakan sirah Nabi, kisah kelahiran beliau, dan tanda-tanda kenabian, sebagai bentuk pengagungan dan kegembiraan atas nikmat diutusnya Rasulullah ﷺ .

· "Mengagungkan kedudukannya" — yaitu dengan hati yang penuh cinta, menghormati beliau, serta menjadikan peringatan itu sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan dan mengikuti sunnahnya.

· "Telah beruntung dengan iman" — karena menghadiri majelis seperti itu dapat menambah ketakwaan, mengingatkan pada perjuangan Nabi, dan menjadi sebab bertambahnya iman .


Perangkat Utama Memahami Ilmu Agama: Konektivitas Al-Qur’an, Sunnah, dan Keterangan Para Ulama


Konektivitas Al-Qur’an, Sunnah, dan Keterangan Para Ulama

Imam Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

جميع ما تقوله الأمة شرح للسنة، وجميع شرح السنة شرح للقرآن

“Semua yang disampaikan oleh umat ini merupakan penjelasan terhadap Sunnah, dan seluruh penjelasan tentang Sunnah merupakan penjelasan terhadap Al-Qur’an.”

Ungkapan ini dikutip oleh Imam as-Suyuthi dalam Al-Iklīl fī Istinbāṭ at-Tanzīl, hlm. 11. Di dalamnya terdapat gambaran penting tentang bagaimana ilmu agama dipahami dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Pertama, Al-Qur’an adalah sumber utama ilmu agama.

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang menjadi dasar seluruh ajaran Islam. Hukum, akidah, ibadah, akhlak, dan berbagai prinsip kehidupan seorang Muslim memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Karena itu, Al-Qur’an menjadi rujukan utama dalam memahami agama.

Namun, tidak semua perintah Al-Qur’an dijelaskan secara rinci di dalam ayatnya. Di sinilah kedudukan Sunnah Nabi ﷺ menjadi sangat penting.

Kedua, Sunnah adalah penjelas Al-Qur’an.

Sunnah Nabi ﷺ menerangkan maksud ayat, merinci perkara yang masih bersifat umum, membatasi sesuatu yang masih mutlak, serta memberikan contoh bagaimana petunjuk Al-Qur’an diterapkan.

Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat, tetapi tata cara shalat dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ melalui Sunnah. Demikian pula zakat, puasa, haji, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

Karena itu, memahami Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari Sunnah Rasulullah ﷺ.

Ketiga, penjelasan para ulama merupakan penjelasan terhadap Sunnah.

Para ulama mewarisi ilmu Nabi ﷺ dan memiliki tugas menjelaskan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat. Mereka meneliti hadis, memahami bahasa Arab, menguasai kaidah-kaidah syariat, mengetahui konteks ayat dan hadis, kemudian menjelaskan hukum dan maknanya agar dapat dipahami oleh masyarakat.

Maka, perkataan dan ijtihad para ulama bukanlah sumber agama yang berdiri sendiri tanpa dasar. Dalam tradisi keilmuan Islam, penjelasan mereka harus memiliki pijakan pada Al-Qur’an, Sunnah, serta metode istinbath yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sini kita dapat melihat sebuah mata rantai ilmu:

Al-Qur’an → Sunnah → Penjelasan Ulama → Pemahaman dan Pengamalan Umat.

Al-Qur’an adalah sumber pokok. Sunnah menjelaskan Al-Qur’an. Kemudian para ulama menjelaskan dan menguraikan Al-Qur’an dan Sunnah sehingga dapat dipahami oleh umat sesuai kaidah ilmu.

Inilah salah satu alasan mengapa belajar agama tidak cukup hanya dengan membaca terjemahan Al-Qur’an atau beberapa hadis secara sendiri-sendiri. Diperlukan bimbingan ilmu dan penjelasan para ulama agar seseorang tidak keliru dalam memahami maksud nash.

Sebab, semakin tinggi kedudukan sebuah ilmu, semakin besar pula kebutuhan kita terhadap metode yang benar dalam memahaminya.

Maka jangan sampai kita merasa cukup hanya dengan membaca satu ayat, satu hadis, lalu mengambil kesimpulan sendiri tanpa memahami penjelasan para ulama.

Al-Qur’an adalah sumbernya, Sunnah adalah penjelasnya, dan ulama adalah pewaris yang menerangkan kandungan keduanya kepada umat.

Wallahu a‘lam.

Sekelumit Biografi Sayid Ja'far Al BarzanjiPengarang Kitab Al Barzanji

Sayid Ja'far Al Barzanji
Pengarang Kitab Al Barzanji

Disebutkan dalam Maulid Al-Barzanji karya Sayyid Ja'far Al-Barzanji, Sy. Ja'far Al-Barzanji lahir pada hari Kamis awal Zulhijjah tahun 1126 H (1711 M) di Madinah Al-Munawwarah. Ia wafat pada hari Selasa, selepas Ashar, 4 Sya'ban tahun 1177 H (1766 M) di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Sayid Ja'far Al-Barzanji adalah seorang ulama besar keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Sa'adah Al Barzanji yang termasyur. Dikatakan, datuk-datuk Sayyid Ja'far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu, amalan, keutamaan, dan kesalihannya.

Pengarang Kitab Al Barzanji ini juga merupakan seorang hakim dari mazhab Maliki yang bermukim di Madinah dan merupakan keturunan dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Sharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari Mazhab Syafi'i di Madinah.

Minggu, 23 Agustus 2026

Maksiat tapi Kaya? Awas Jebakan Kantong Semar! (Internalisasi Makna Istidraj)

Maksiat tapi Kaya? Awas Jebakan Kantong Semar! (Internalisasi Makna Istidraj)
“Jika zina mempersulit pintu rezeki, lantas mengapa orang yang mencari uang lewat jalan maksiat justru terlihat hidupnya lancar?”

Pertanyaan seperti ini sering kali terlintas di benak kita. Kita kerap melihat seseorang memperoleh banyak uang dari pekerjaan yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat agama. Pelanggan ramai, penghasilan terus mengalir, rumah mewah, kendaraan berderet, dan gaya hidupnya tampak sangat menyenangkan.

Lalu, muncul sebuah tanda tanya besar: Jika maksiat mengundang keburukan, mengapa rezeki mereka justru tampak begitu lancar tanpa hambatan?

Dalam perspektif Islam, kelancaran materi tidak selalu berbanding lurus dengan keberkahan. Ada sebuah kondisi ketika seseorang terus-menerus dilimpahi kenikmatan duniawi, padahal ia justru semakin jauh dari Allah. Fenomena inilah yang dalam agama disebut sebagai istidraj—sebuah jebakan berupa kesenangan.

Filosofi Kantong Semar

Fenomena istidraj ini dapat diibaratkan seperti cara kerja tanaman Kantong Semar (Nepenthes).

Tanaman unik ini menarik perhatian serangga dengan mengeluarkan nektar yang manis. Serangga yang tergiur pun datang karena mengira telah menemukan makanan gratis yang mudah didapat. Ia menikmati nektar tersebut dengan lahap, tanpa menyadari bahwa tempat yang dipijaknya adalah sebuah perangkap mematikan.

Permukaan kantong semar yang sangat licin membuat serangga tiba-tiba kehilangan pijakan. Ia pun tergelincir, jatuh ke dalam cairan asam di dasar kantong, dan tidak bisa keluar lagi hingga perlahan hancur tercerna.

Begitulah gambaran sederhana tentang manusia yang terlena oleh kenikmatan dunia. Mereka mengira uang, popularitas, kemewahan, dan kesenangan instan adalah tanda bahwa hidup mereka baik-baik saja. Padahal, bisa jadi semua fasilitas itu justru menjadi jalan yang perlahan-lahan menyeret mereka semakin jauh dari jalan Allah.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An‘am: 44)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bagi kita: terbukanya pintu-pintu kenikmatan dunia bukanlah stempel otomatis bahwa Allah meridai kehidupan seseorang.

Jangan Mengukur Rezeki Hanya dari Angka

Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, tetapi hidupnya dirundung gelisah. Ada yang hartanya melimpah, tetapi keluarganya berantakan. Ada yang sangat populer, tetapi hidup dalam ketakutan. Ada pula yang memiliki segalanya, namun hatinya terasa kosong dan hampa.

Sebaliknya, kita sering menemui orang dengan penghasilan sederhana, tetapi hidupnya penuh ketenteraman. Hartanya tidak seberapa, namun keluarganya harmonis, ibadahnya terjaga, dan hatinya selalu merasa cukup (qana'ah).

Hal ini membuktikan bahwa rezeki tidak pernah tunggal. Rezeki bukan sekadar angka di buku rekening.

Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang damai adalah rezeki. Anak-anak yang saleh adalah rezeki. Hati yang tenang juga merupakan rezeki yang luar biasa. Bahkan, kesempatan dan kesadaran untuk bertobat adalah bentuk rezeki yang sangat besar dari Allah. Karena itu, yang harus kita kejar bukan sekadar kuantitasnya, melainkan keberkahannya.

Jangan Iri pada Kesenangan Maksiat

Melihat orang lain sukses meraup materi dari jalan yang haram, jangan sampai terlontar kalimat, “Enak sekali ya hidupnya. Maksiat saja bisa sekaya itu.”

Hati-hati, ucapan tersebut adalah jebakan syetan berikutnya.

Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang, dan kita pun tidak boleh menghakimi urusan gaib antara seorang hamba dengan Tuhannya. Satu hal yang pasti: kekayaan bukanlah bukti kesalehan, dan kemiskinan bukanlah bukti kehinaan.

Allah memberikan fasilitas dunia kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah seberapa mewah rumahnya, melainkan seberapa dekat jarak dirinya dengan Allah Swt. Rasulullah ﷺ juga berulang kali mengingatkan bahwa dunia ini bukanlah ukuran utama kemuliaan manusia.

Oleh karena itu, saat melihat ada orang yang mendapatkan banyak materi melalui jalan yang haram, jangan iri. Justru kita harus merasa takut pada diri sendiri: jangan sampai kita mengejar keuntungan yang tampak manis di mata, padahal itu adalah awal dari kehancuran kita.

Mengejar Rezeki yang Berkah

Rezeki yang berkah tidak selalu berjumlah paling banyak. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah, membawa manfaat bagi sesama, serta diperoleh melalui jalan yang halal.

Penutup

Kantong semar mengajarkan satu filosofi sederhana: sesuatu yang tampak manis di permukaan belum tentu aman untuk dinikmati.

Begitu pula dengan kehidupan dunia. Tidak semua yang mudah didapat adalah berkah. Tidak semua yang berjumlah banyak adalah kebaikan. Dan tidak semua kelancaran hidup berarti Allah sedang rida.

Fokuslah mencari rezeki yang halal, merajut hidup yang tenang, dan mengejar akhir kehidupan yang husnul khatimah. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki ketika hidup, melainkan dalam keadaan bagaimana kita menghadap Allah ketika nyawa telah terpisah dari raga.

Bahaya Laten Dua Tipe Orang Perusak Umat: Minim Ilmu dan Minim Amal

Bahaya Laten Dua Tipe Orang Perusak Umat: Minim Ilmu dan Minim Amal

فَسَادُ كَبِيرٍ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ # وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

“Bahaya besar datang dari ulama yang berbuat dosa, tapi bahaya yang lebih besar lagi datang dari orang bodoh yang sok saleh” (Ta'lim al-Mutaallim, 16)

Berikut penjelasannya:

Ada dua keadaan yang sama-sama berbahaya dalam kehidupan beragama: orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, dan orang yang tekun beribadah tetapi tidak memiliki ilmu yang memadai.

Sayyidina Ali menegaskan:

قَصَمَ ظَهْرِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ، وَجَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ، فَالْجَاهِلُ يَغُرُّ النَّاسَ بِتَنَسُّكِهِ، وَالْعَالِمُ يَغُرُّهُمْ بِتَهَتُّكِهِ

“Dua orang telah mematahkan punggungku: seorang alim yang tidak menjaga diri dan seorang jahil yang tekun beribadah. Orang jahil menipu manusia dengan ketekunan ibadahnya, sedangkan orang alim menipu mereka dengan sikapnya yang tidak bisa mengendalikan diri” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 1/57)

Allah memberikan perumpamaan terhadap orang yang memikul ilmu tetapi tidak menjalankannya:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa memiliki kitab dan pengetahuan belum tentu menjadikan seseorang mulia. Ilmu baru memberikan manfaat ketika dipahami, diyakini, dan diamalkan.

Karena itu, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya berapa banyak yang diketahui, tetapi berapa banyak yang diamalkan.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dan pengetahuan, tetapi tidak memiliki kejujuran iman. Beliau bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي، كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah setiap orang munafik yang pandai berbicara” (HR. Al-Baihaqi, 1775)

Bahaya seseorang tidak selalu terletak pada ketidaktahuannya. Kadang justru terletak pada kepandaiannya berbicara tanpa ketakwaan.

Lidah yang fasih dapat membuat kebatilan tampak seperti kebenaran. Karena itu, jangan menjadikan kefasihan berbicara sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. 

Di sisi lain, agama juga mengingatkan bahaya seseorang yang banyak beramal tetapi tidak memiliki dasar ilmu yang benar.

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Ayat ini memberi peringatan bahwa merasa sedang melakukan kebaikan tidak otomatis berarti benar-benar melakukan kebaikan.

Seseorang bisa sangat bersemangat beribadah, tetapi apabila ibadahnya tidak sesuai tuntunan syariat, semangat tersebut justru dapat membawanya semakin jauh dari kebenaran.

Epilog 

Ilmu tanpa amal akan kehilangan ruhnya. Amal tanpa ilmu mudah kehilangan arah. Sedangkan ilmu dan amal tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan dan merasa paling benar.

Orang berilmu seharusnya semakin rendah hati karena ia semakin mengenal kebesaran Allah. Orang yang rajin beribadah seharusnya semakin haus terhadap ilmu agar ibadahnya benar. Dan orang yang memiliki kemampuan berbicara seharusnya semakin berhati-hati karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan.

Bukan banyaknya ilmu yang membuat seseorang mulia, bukan pula banyaknya ibadah yang otomatis menjadikannya benar. Kemuliaan lahir ketika ilmu melahirkan amal, amal melahirkan ketakwaan, dan ketakwaan melahirkan akhlak.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #motivasiislam #dakwah_islam

Sabtu, 22 Agustus 2026

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain 

Rasulullah ﷺ bersabda:

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ

“Berbahagialah orang yang kesalahannya membuat ia sibuk memperbaiki dirinya sehingga tidak sempat memperhatikan kesalahan orang lain.” (HR. Al-Bazzar, 6237) 

Berikut penjelasannya:

Di antara penyakit yang sering tidak disadari manusia adalah terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri. Kita mudah menemukan kesalahan dalam ucapan, perilaku, dan kehidupan orang lain. Namun, ketika kekurangan yang sama ada pada diri kita, terkadang kita memiliki banyak alasan untuk membenarkannya.

Orang yang mengenal dirinya akan sadar bahwa ia sendiri masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Karena itu, waktunya lebih banyak digunakan untuk introspeksi daripada menghakimi.

Allah ﷻ mengingatkan:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 1)

Ayat ini menjadi peringatan agar lisan dan sikap kita tidak berubah menjadi alat untuk merendahkan manusia. Mengomentari kekurangan orang lain, mencela, mengolok-olok, atau membuka aib tanpa alasan yang dibenarkan agama bukanlah tanda kemuliaan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi, 2317)

Hadis ini mengajarkan seni kehidupan yang sederhana tetapi sangat berat dilakukan: tidak semua hal harus kita komentari, tidak semua urusan orang harus kita campuri, dan tidak semua kesalahan orang harus kita bicarakan.

Betapa sering keadaan ini terjadi. Kesalahan orang lain yang kecil terlihat begitu jelas, sedangkan kekurangan diri sendiri yang jauh lebih besar justru tidak terasa.

Ibn Sirin berkata:

كُنَّا نُحَدَّثُ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ خَطَايَا أَفْرَغُهُمْ لِذِكْرِ خَطَايَا النَّاسِ

“Dahulu kami diberi tahu bahwa orang yang paling banyak kesalahannya adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktunya untuk membicarakan kesalahan orang lain.” (Ash-Shumt, 104)

Orang yang waktunya habis menghitung kesalahan manusia sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk menghitung kesalahannya sendiri.

Al-Madaini juga berpesan:

رَأَيْتُ أَقْوَامًا مِنَ النَّاسِ لَهُمْ عُيُوبٌ، فَسَكَتُوا عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، فَسَتَرَ اللَّهُ عُيُوبَهُمْ، وَزَالَتْ عَنْهُمْ تِلْكَ الْعُيُوبُ. وَرَأَيْتُ أَقْوَامًا لَمْ تَكُنْ لَهُمْ عُيُوبٌ، اشْتَغَلُوا بِعُيُوبِ النَّاسِ، فَصَارَتْ لَهُمْ عُيُوبٌ

“Aku melihat beberapa orang yang memiliki kekurangan, tetapi mereka diam dari membicarakan kekurangan orang lain. Allah pun menutupi kekurangan mereka dan kekurangan itu berangsur-angsur hilang. Aku juga melihat beberapa orang yang pada awalnya tidak memiliki kekurangan, tetapi mereka sibuk membicarakan kekurangan manusia; akhirnya mereka memiliki kekurangan.” (Uyub an-Nafs, 12)

Inilah pelajaran penting tentang menjaga lisan dan menjaga hati. Ketika kita sibuk membuka aib orang lain, kita sebenarnya sedang mempertaruhkan kehormatan diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita memilih menutup aib, memperbaiki diri, dan memberikan nasihat dengan cara yang baik, kita sedang membangun kemuliaan akhlak.

Namun, menutup aib bukan berarti membenarkan kemungkaran. Nasihat tetap diperlukan ketika ada kesalahan yang harus diperbaiki. Bedanya adalah orang yang ikhlas menasihati ingin melihat saudaranya menjadi lebih baik, sedangkan orang yang gemar mencela ingin melihat dirinya tampak lebih baik daripada orang lain.

Epilog 

Sebelum merasa lebih baik daripada orang lain, mari mengingat bahwa kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang dan bagaimana keadaan kita ketika menghadap Allah.

Orang yang bijaksana bukanlah orang yang mampu menemukan banyak kesalahan manusia, tetapi orang yang mampu menemukan kekurangan dirinya lalu bersungguh-sungguh memperbaikinya.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #motivasiislam #nasihat 

Jumat, 21 Agustus 2026

Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik


Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik

Al-Buhturi berkata:

إِنَّ النُّجُومَ نُجُومُ الْأُفُقِ أَصْغَرُهَا # فِي الْعَيْنِ أَذْهَبُهَا فِي الْجَوِّ إِصْعَادَا

“Sesungguhnya bintang-bintang di ufuk, yang tampak paling kecil oleh mata, justru berada jauh menjulang di angkasa.” (Zahr al-Adab, 1/267)

Berikut penjelasannya:

Bintang yang terlihat hanya seperti titik kecil di langit sebenarnya tidak kecil. Ia tampak kecil karena sangat jauh dari pandangan kita. Dari sini kita belajar satu hal penting: apa yang terlihat kecil belum tentu kecil dalam kenyataan.

Demikian pula dalam kehidupan. Jangan mudah meremehkan seseorang hanya karena penampilannya sederhana, hartanya sedikit, pekerjaannya rendah menurut ukuran manusia, tidak terkenal, atau tidak banyak bicara. Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Allah ﷻ mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan penampilannya sederhana, yang ditolak dari pintu-pintu manusia; tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tercermin dari penampilan lahiriah atau penerimaan manusia terhadapnya.

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya” (HR. Muslim, 2564)

Senada dengan keterangan di atas, Dzul Nun Al-Mishri berkata, sebagaimana dinukil dalam Az-Zuhd karya Al-Baihaqi (1/290):

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخْفَى ثَلَاثًا فِي ثَلَاثٍ

“Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara di dalam tiga perkara.”

أَخْفَى غَضَبَهُ فِي مَعْصِيَتِهِ

“Dia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam berbagai kemaksiatan.”

Karena itu, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Bisa jadi justru di dalam dosa yang kita anggap ringan terdapat kemurkaan Allah.

وَأَخْفَى رِضَاءَهُ فِي طَاعَتِهِ

“Dia menyembunyikan keridaan-Nya dalam berbagai ketaatan.”

Maka jangan pula meremehkan amal sekecil apa pun. Senyuman, membantu orang lain, sedekah yang sedikit, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau satu kalimat baik bisa menjadi amal yang diridai Allah.

وَأَخْفَى وِلَايَتَهُ فِي عِبَادِهِ

“Dan Dia menyembunyikan wali-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”

Karena itu, jangan pernah meremehkan seorang pun. Bisa jadi orang yang tidak kita anggap penting justru termasuk hamba Allah yang dekat kepada-Nya.

Inilah pelajaran besar dari bintang-bintang di langit: yang kecil di mata belum tentu kecil dalam hakikatnya.

Epilog

Jangan tertipu oleh penampilan. Jangan sombong karena kedudukan. Jangan menghina orang karena keadaan. Dan jangan merasa diri lebih baik hanya karena melihat kekurangan orang lain.

Sebab kita hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

Boleh jadi kita melihat seseorang tak punya kedudukan dan pangkat, padahal di sisi Allah ia berpangkat yang jauh lebih tinggi daripada yang kita sangka.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #dakwah_islam #nasihat

Imam Junaid Al-Baghdadi dan Perayaan Maulid Nabi

Penjelasan Tentang Maulid #1 قَالَ الْجُنَيْدِيُّ الْبَغْدَادِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ الرَّسُولِ وَعَظَّمَ قَ...