Ihdad dan Ketentuan Menetap Selama Masa Iddah
Dalam fikih Islam, perempuan yang ditinggal wafat oleh suaminya memiliki ketentuan khusus selama masa iddah yang disebut ihdad. Ihdad bukan sekadar larangan berhias, tetapi merupakan bentuk penghormatan terhadap ikatan pernikahan yang telah berakhir karena kematian sekaligus bagian dari ketentuan syariat selama masa berkabung.
Apa Itu Ihdad?
Ihdad adalah kewajiban bagi perempuan yang suaminya meninggal, meskipun ia masih kecil, untuk meninggalkan berbagai bentuk perhiasan dan berhias yang dapat menunjukkan penampilan menarik.
Di antaranya adalah meninggalkan pakaian yang sengaja dicelup dengan warna untuk berhias, memakai perhiasan emas atau perak, mutiara, batu akik, serta berbagai jenis perhiasan yang menurut kebiasaan masyarakat digunakan untuk mempercantik diri.
Ia juga meninggalkan penggunaan wewangian dan bercelak dengan itsmid, kecuali jika ada kebutuhan. Mengoleskan minyak pada rambut kepala juga ditinggalkan.
Namun, ihdad bukan berarti perempuan harus mengabaikan kebersihan diri. Ia tetap boleh mandi, membersihkan kotoran, dan menjaga kebersihan tubuh.
Ihdad bagi Perempuan yang Ditalak
Ihdad juga disunnahkan bagi perempuan yang mengalami talak ba'in, seperti akibat khulu‘, fasakh, atau talak tiga. Tujuannya antara lain agar berhias tidak menjadi sebab munculnya fitnah atau kerusakan.
Bagi perempuan yang masih dalam talak raj‘i, ihdad juga disunnahkan apabila ia tidak berharap suaminya kembali karena melihat dirinya berhias.
Menjaga Tempat Tinggal Selama Iddah
Selain ketentuan ihdad, perempuan yang menjalani iddah karena kematian suami, talak ba'in, atau fasakh pada dasarnya wajib menetap di rumah tempat ia berada ketika kematian atau perpisahan terjadi hingga masa iddah selesai.
Ia boleh keluar pada siang hari untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan, seperti membeli makanan, menjual hasil kerajinan, mencari kayu bakar, dan kebutuhan sejenisnya.
Pada malam hari, pada dasarnya ia tidak diperbolehkan keluar. Namun, terdapat pengecualian untuk kebutuhan tertentu, seperti pergi ke rumah tetangga yang berdampingan untuk berbincang atau melakukan aktivitas yang wajar, dengan syarat tidak berlebihan dan ia tetap kembali untuk bermalam di rumahnya.
Adapun perempuan yang menjalani iddah talak raj‘i, ia tidak boleh keluar kecuali dengan izin suaminya atau karena keadaan darurat. Hal ini karena secara hukum ia masih memiliki kedudukan seperti istri dalam beberapa aspek, termasuk kewajiban suami memberikan nafkah.
Kapan Boleh Pindah Rumah?
Perempuan yang sedang menjalani iddah boleh berpindah dari tempat tinggalnya apabila terdapat bahaya atau kekhawatiran yang nyata, misalnya keselamatan dirinya atau anaknya terancam, hartanya terancam, rumah dikhawatirkan roboh atau terbakar, atau terdapat gangguan berat dari tetangga.
Dalam keadaan demikian, menjaga keselamatan didahulukan.
Suami juga berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi perempuan yang telah berpisah dengannya selama ia bukan perempuan yang nusyuz. Suami tidak diperbolehkan tinggal serumah dengannya dalam keadaan yang memungkinkan terjadinya khalwat. Bahkan jika suami tersebut buta, ketentuan ini tetap berlaku karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang dilarang.
Iddah karena Kehamilan
Salah satu ketentuan penting dalam iddah adalah bahwa perempuan yang hamil, baik merdeka maupun budak menurut pembahasan fikih klasik, berakhir masa iddahnya dengan melahirkan kandungan yang berasal dari laki-laki yang menyebabkan adanya iddah tersebut.
Bahkan apabila yang lahir berupa mudhghah (segumpal daging) yang secara potensial dapat menjadi janin apabila tetap berada dalam kandungan, kelahiran tersebut dapat menjadi tanda berakhirnya iddah.
Adapun jika yang keluar baru berupa ‘alaqah (segumpal darah), maka belum dianggap sebagai kelahiran yang mengakhiri iddah.
Pelajaran dari Ketentuan Ihdad
Ketentuan ihdad menunjukkan bahwa syariat tidak hanya mengatur hubungan suami dan istri ketika masih bersama, tetapi juga memberikan tata aturan ketika sebuah pernikahan berakhir.
Ihdad mengajarkan penghormatan, kesetiaan, menjaga kehormatan, dan kehati-hatian selama masa iddah. Pada saat yang sama, Islam tidak memerintahkan perempuan untuk meninggalkan kebersihan dan kebutuhan hidupnya.
Dengan demikian, ihdad bukanlah sekadar larangan berhias. Ia merupakan bagian dari tata kehidupan seorang perempuan dalam masa transisi setelah berakhirnya pernikahan, dengan tetap menjaga kehormatan diri dan ketentuan syariat.