Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah
Nasab dan Masa Kecil
Di kota Tabriz, salah satu pusat ilmu pengetahuan di kawasan Irak al-'Ajam (kini termasuk wilayah Iran), lahirlah seorang ulama besar yang kelak menjadi cahaya bagi dunia Islam. Beliau adalah Al-Husain—dalam sebagian riwayat disebut Al-Hasan—bin Muhammad bin Abdullah. Nama beliau kemudian masyhur dengan dua nisbah: At-Thiybi, yang dinisbahkan kepada kampung halamannya, dan At-Tabrizi, sebagai penghormatan kepada kota kelahirannya, Tabriz.
Beliau lahir dari keluarga yang berkecukupan. Warisan keluarga dan keberhasilannya dalam dunia perdagangan menjadikannya seorang saudagar kaya. Namun, Allah menyiapkan jalan hidup yang berbeda. Kekayaan yang dimilikinya tidak menjadi sarana untuk mengejar kemewahan dunia, melainkan menjadi bekal untuk mengabdi kepada ilmu dan membela agama.
Karena kemuliaan ilmu dan akhlaknya, beliau kemudian dikenal dengan gelar Syarafuddin, yang berarti Kemuliaan Agama.
Mengorbankan Kekayaan demi Kemajuan Ilmu
Pada masa mudanya, Imam At-Thiybi termasuk orang yang hidup berkecukupan. Akan tetapi, sedikit demi sedikit hartanya diinfakkan di jalan Allah.
Beliau membiayai para penuntut ilmu dari berbagai negeri, menyediakan kebutuhan mereka, serta meminjamkan kitab-kitab berharganya kepada siapa pun yang ingin belajar. Tidak hanya kepada murid-murid yang beliau kenal, tetapi juga kepada orang-orang yang belum pernah ditemuinya. Tidak ada sekat dalam kedermawanannya.
Hingga menjelang akhir hayatnya, hampir seluruh hartanya telah habis untuk kepentingan ilmu. Sang saudagar kaya itu akhirnya hidup dalam kesederhanaan. Namun, kemiskinan itu justru menjadi kemuliaan, sebab ia lahir dari pengorbanan demi kemaslahatan umat.
Betapa indah teladan beliau: rela kehilangan harta agar umat tidak kehilangan ilmu.
Menguasai Ilmu Aqli dan Naqli
Imam At-Thiybi bukan sekadar seorang ahli hadis atau ahli tafsir. Beliau adalah seorang allamah, gelar yang hanya diberikan kepada ulama dengan keluasan ilmu yang luar biasa.
Beliau menguasai dua cabang ilmu sekaligus.
Pertama, ilmu ma'qul (ilmu rasional), seperti logika dan filsafat. Namun, beliau mempelajari disiplin tersebut bukan untuk membela pemikiran para filosof, melainkan untuk membantah berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah Islam.
Kedua, ilmu manqul (ilmu naqli), meliputi bahasa Arab, sastra, balaghah, tafsir, hadis, serta berbagai cabang ilmu syariat lainnya. Dalam bidang ilmu bayan dan ma'ani, beliau dikenal sangat mendalam sehingga mampu menyingkap berbagai rahasia keindahan bahasa Al-Qur'an dan hadis Nabi ﷺ.
Akhlak yang Menghiasi Keilmuannya
Ilmu yang tinggi pada diri Imam At-Thiybi berpadu dengan akhlak yang luhur.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu (katsîr al-hayâ'), rendah hati, serta memiliki kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Meskipun telah menjadi ulama besar, beliau tetap hidup sederhana dan jauh dari kesombongan.
Beliau juga sangat menjaga salat berjamaah. Siang maupun malam, musim panas ataupun musim dingin, beliau hampir tidak pernah meninggalkan masjid. Bahkan ketika penglihatannya mulai melemah karena usia, semangat ibadahnya tidak pernah surut.
Di samping itu, para ulama memuji beliau sebagai sosok yang memiliki akidah yang lurus (husn al-mu'taqad), istiqamah dalam mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan bersih dari berbagai penyimpangan pemikiran.
Membela Sunnah di Tengah Badai Fitnah
Salah satu sisi paling menonjol dari kehidupan Imam At-Thiybi adalah keberaniannya membela kebenaran.
Pada masa itu, berbagai aliran filsafat dan kelompok ahli bidah memiliki pengaruh yang cukup besar di sebagian wilayah Islam. Banyak orang memilih diam karena khawatir terhadap kekuasaan mereka.
Namun, Imam At-Thiybi tidak gentar. Dengan hujah yang kokoh dan ilmu yang mendalam, beliau membantah berbagai pemikiran yang menyimpang serta menjelaskan kesalahannya secara terbuka, meskipun harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.
Beliau membuktikan bahwa keberanian sejati bukanlah mengangkat senjata, melainkan menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan hikmah.
Karya-Karya Monumental
Keilmuan Imam At-Thiybi melahirkan sejumlah karya besar yang terus menjadi rujukan para ulama hingga hari ini.
1. Al-Kasyif 'an Haqa'iqis Sunan
Inilah karya terbesar beliau, berupa syarah atas kitab Misykat al-Mashabih. Kitab ini mengupas hadis-hadis Nabi ﷺ dengan penjelasan yang sangat mendalam, memadukan aspek bahasa, fikih, akidah, dan balaghah.
Kitab ini menjadi rujukan utama bagi banyak ulama besar setelahnya, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Ali Al-Qari.
2. Futuhul Ghaib fi al-Kasyf 'an Qina'ir Raib
Karya ini merupakan hasyiyah yang sangat luas terhadap Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari.
Melalui kitab ini, Imam At-Thiybi membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus meluruskan berbagai penafsiran yang dipengaruhi pemikiran Mu'tazilah. Para ulama menilai kitab ini sebagai salah satu karya terbaik dalam membahas sisi akidah dan balaghah Al-Qur'an.
3. Al-Khulasah fi Ma'rifat al-Hadits
Sebuah kitab ringkas mengenai ilmu musthalah hadis yang menjadi panduan bagi para penuntut ilmu dalam memahami istilah-istilah para ahli hadis.
4. At-Tibyan fi al-Ma'ani wa al-Bayan
Kitab ini membahas ilmu balaghah secara mendalam dan menjadi bukti keluasan penguasaan beliau terhadap sastra Arab.
5. Kitab Tafsir yang Belum Selesai
Imam At-Thiybi juga memulai penulisan sebuah kitab tafsir Al-Qur'an.
Setiap hari beliau mengadakan majelis ilmiah. Sejak pagi hingga menjelang zuhur beliau mengajar tafsir, kemudian setelah zuhur hingga asar membacakan Shahih Al-Bukhari kepada para muridnya. Rutinitas tersebut beliau jalani dengan penuh istiqamah hingga akhir hayatnya.
Akhir Kehidupan yang Mengharukan
Hari Selasa, 13 Sya'ban 743 H (sekitar 1342 M), menjadi hari terakhir perjalanan hidup beliau.
Seperti hari-hari sebelumnya, beliau telah menyelesaikan majelis tafsir. Setelah itu beliau menuju masjid yang berada di samping rumahnya. Karena usia yang telah lanjut, beliau mengerjakan salat sunnah sambil duduk, lalu tetap berada di masjid menunggu iqamah salat zuhur.
Di tempat yang mulia itu, dalam keadaan menanti salat berjamaah dan menghadap kiblat, Allah memanggil hamba-Nya kembali.
Beliau wafat dalam suasana ibadah—sebuah husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap orang beriman.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Imam Syarafuddin At-Thiybi meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda: warisan ilmu.
Karya-karyanya terus dipelajari di berbagai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam hingga hari ini. Ketajaman ilmunya, keberaniannya membela Sunnah, serta pengorbanannya demi kemajuan ilmu menjadikan beliau salah satu tokoh besar dalam sejarah peradaban Islam.
Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar pengorbanannya untuk agama dan umat.
Referensi:
- Bughyatul Wu'at karya Jalaluddin As-Suyuthi.
- Ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
- Al-Badr ath-Thali' karya Asy-Syaukani.
- Serta berbagai kitab tarajim klasik lainnya.