At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Sabtu, 31 Oktober 2026
Ngaji Fathul Muin #53: Memahami Konsep Quru': Suci atau haid?
Meluruskan Sejarah: Gelar "Haji" Tradisi Nusantara, Bukan Warisan Belanda
Jumat, 30 Oktober 2026
Marketing Mix Islami: Strategi Bisnis yang Mengejar Laba Sekaligus Keberkahan
Ngaji Manhajut Tafsir #24: Fanatisme Mazhab dan Penyusupan, Dua Sebab Pemalsuan dalam Tafsir Al-Qur’an
Fanatisme Mazhab dan Penyusupan: Dua Sebab Pemalsuan dalam Tafsir Al-Qur’an
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Salah satu tantangan besar dalam menjaga kemurnian pemahaman terhadap Al-Qur’an adalah munculnya pemalsuan dalam penafsiran. Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia, tetapi tidak semua keterangan yang dinisbatkan kepadanya dapat diterima begitu saja. Ada riwayat tafsir yang bersumber dari keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi ada pula yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Di antara sebab munculnya pemalsuan tersebut adalah fanatisme mazhab dan penyusupan musuh-musuh Islam.
Fanatisme mazhab dapat membuat seseorang kehilangan kejernihan dalam menilai kebenaran. Ketika kecintaan terhadap kelompok berubah menjadi sikap berlebihan, seseorang tidak lagi berusaha memahami dalil secara objektif, melainkan mencari pembenaran untuk pendapat yang telah diyakininya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang seharusnya menjadi pedoman justru digunakan untuk menguatkan kepentingan kelompok.
Dalam sejarah umat Islam, muncul berbagai kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Di antaranya adalah kelompok Syiah yang, menurut uraian sebagian ulama ilmu tafsir, bersikap berlebihan dalam mencintai Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kelompok Khawarij yang memusuhi beliau, serta mayoritas kaum Muslimin yang tidak mengikuti penyimpangan kedua kelompok tersebut.
Perselisihan itu dalam sebagian kasus berkembang menjadi upaya mencari dukungan melalui riwayat-riwayat tafsir. Ada riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Sayyidina Ali, atau tokoh Ahlul Bait untuk mendukung pandangan kelompok tertentu. Demikian pula, terdapat riwayat yang dikaitkan dengan Nabi ﷺ atau para sahabat untuk membenarkan pandangan Khawarij.
Persoalannya bukan sekadar perbedaan pendapat, sebab perbedaan dalam memahami dalil dapat terjadi dalam tradisi keilmuan. Persoalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sengaja membuat riwayat palsu atau menisbatkan perkataan kepada Nabi ﷺ dan para sahabat tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Tindakan tersebut berbahaya karena nama Rasulullah ﷺ dan para sahabat memiliki kedudukan terhormat di hati umat Islam. Riwayat yang disandarkan kepada mereka berpotensi lebih mudah dipercaya, meskipun kenyataannya tidak berasal dari mereka.
Allah Swt. telah memperingatkan agar kebenaran tidak dicampuradukkan dengan kebatilan. Peringatan ini menjadi prinsip penting dalam menjaga kejujuran ilmiah, terlebih ketika membicarakan Al-Qur’an dan hadis. Tujuan yang dianggap baik tidak membenarkan penggunaan cara yang batil. Membela suatu pandangan tidak boleh dilakukan dengan mengarang riwayat, memanipulasi dalil, atau menyembunyikan fakta yang bertentangan dengan kepentingan kelompok.
Selain fanatisme mazhab, pemalsuan tafsir juga dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam, tetapi menyusup ke tengah-tengah kaum Muslimin dengan menampakkan diri sebagai bagian dari mereka. Ketika serangan secara terbuka melalui kekuatan fisik ataupun perdebatan tidak berhasil mencapai tujuan, mereka dapat berusaha merusak pemahaman agama dari dalam melalui penyebaran keterangan palsu.
Pemalsuan semacam ini berbahaya karena dapat mengaburkan batas antara ajaran yang benar dan informasi yang sengaja direkayasa. Jika suatu riwayat diterima tanpa pemeriksaan, kesalahan tersebut dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akibatnya, umat bisa memahami ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan keterangan yang tidak memiliki landasan yang sahih.
Karena itu, para ulama mengembangkan berbagai metode untuk memeriksa riwayat tafsir, meneliti para perawinya, dan membedakan keterangan yang dapat diterima dari yang lemah atau palsu. Sikap kritis semacam ini bukanlah bentuk keraguan terhadap Al-Qur’an, melainkan upaya menjaga kemurnian penjelasan tentang firman Allah.
Pelajaran penting dari sejarah ini adalah bahwa kecintaan terhadap agama harus disertai kejujuran, kehati-hatian, dan tanggung jawab ilmiah. Jangan sampai semangat membela mazhab membuat seseorang berani berdusta atas nama Nabi ﷺ. Jangan pula karena mudah percaya, kita menerima setiap kutipan tafsir tanpa memeriksa sumber dan kualitas riwayatnya.
Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan kebohongan untuk membelanya. Al-Qur’an harus dipahami melalui ilmu, bukan fanatisme; melalui penelitian, bukan prasangka; dan melalui kejujuran, bukan rekayasa. Dengan demikian, umat Islam dapat menjaga kehormatan Al-Qur’an sekaligus mewariskan pemahaman agama yang dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya.
Kamis, 29 Oktober 2026
Mendudukkan Konsep Kepemimpinan Islam dalam Lanskap Ilmu Politik Modern
Ngaji Manhajut Tafsir #23: Awal Mula Pemalsuan dalam Tafsir
Ngaji Manhajut Tafsir #23: Awal Mula Pemalsuan dalam Tafsir
Ilmu tafsir merupakan salah satu cabang ilmu Islam yang memiliki kedudukan penting. Melalui tafsir, umat Islam dapat memahami maksud ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, penafsiran Al-Qur’an tidak terlepas dari berbagai persoalan, salah satunya adalah munculnya riwayat-riwayat palsu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, maupun generasi setelah mereka.
Pemalsuan dalam tafsir pada dasarnya muncul bersamaan dengan pemalsuan dalam hadis. Hal ini karena pada masa awal perkembangan Islam, tafsir dan hadis belum menjadi dua disiplin ilmu yang terpisah secara tegas. Penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur’an banyak disampaikan melalui riwayat hadis, perkataan sahabat, dan keterangan para tabiin. Oleh sebab itu, persoalan kualitas riwayat dalam hadis juga berpengaruh terhadap riwayat-riwayat yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur’an.
Sebagaimana dalam ilmu hadis terdapat riwayat sahih, hasan, daif, bahkan palsu, demikian pula dalam tafsir terdapat riwayat dengan kualitas yang beragam. Para perawinya pun berbeda-beda: ada yang terpercaya, ada yang diragukan ketelitiannya, dan ada pula yang dikenal melakukan pemalsuan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak semua riwayat yang dicantumkan dalam kitab tafsir dapat diterima begitu saja. Setiap riwayat perlu diteliti sumber, sanad, dan kualitasnya agar penafsiran Al-Qur’an tidak dibangun di atas keterangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut uraian sejarah perkembangan tafsir, awal munculnya pemalsuan dikaitkan dengan tahun 41 Hijriah, ketika umat Islam mengalami perpecahan politik yang semakin nyata. Perbedaan pandangan melahirkan kelompok-kelompok politik dan keagamaan, di antaranya Syiah, Khawarij, dan kelompok mayoritas umat Islam. Dalam situasi tersebut, sebagian orang mulai menggunakan riwayat untuk mendukung pandangan kelompoknya masing-masing.
Fanatisme terhadap golongan dapat mendorong seseorang untuk tidak lagi mencari kebenaran secara objektif. Riwayat yang mendukung pendapatnya disebarluaskan, sedangkan keterangan yang bertentangan dengannya diabaikan. Bahkan, sebagian orang berani membuat riwayat palsu demi membenarkan keyakinan, menguatkan posisi kelompok, atau menjatuhkan pihak yang dianggap sebagai lawan.
Selain itu, terdapat pula orang-orang yang menyimpan permusuhan terhadap Islam, tetapi menampakkan diri sebagai bagian dari kaum Muslimin. Mereka berusaha merusak ajaran Islam dari dalam dengan menyebarkan berbagai keterangan yang tidak benar. Riwayat-riwayat palsu tersebut kemudian dapat masuk ke dalam pembahasan tafsir dan berpotensi menyesatkan orang yang tidak memiliki pengetahuan memadai tentang ilmu periwayatan.
Fenomena ini memberikan pelajaran penting bahwa penafsiran Al-Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan cerita yang menarik, perkataan yang mengagumkan, atau riwayat yang sesuai dengan pendapat pribadi. Kebenaran suatu riwayat harus ditimbang berdasarkan kaidah ilmiah yang telah dirumuskan oleh para ulama. Sanad perlu diperiksa, keadaan para perawi harus diketahui, dan isi riwayat perlu ditelaah sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah pentingnya ilmu hadis dan ilmu kritik perawi dalam kajian tafsir. Keduanya membantu para ulama membedakan riwayat yang dapat diterima dari riwayat yang lemah atau palsu. Dengan demikian, penafsiran Al-Qur’an dapat terhindar dari kepentingan politik, fanatisme golongan, dan penyimpangan yang mengatasnamakan agama.
Pada akhirnya, sejarah munculnya pemalsuan dalam tafsir mengajarkan bahwa menjaga kemurnian pemahaman terhadap Al-Qur’an merupakan tanggung jawab ilmiah sekaligus keagamaan. Kecintaan kepada Al-Qur’an harus diwujudkan dengan kesungguhan mencari kebenaran, bukan dengan membenarkan segala riwayat yang mendukung keinginan kita. Sebab, tujuan mempelajari tafsir bukanlah memenangkan golongan atau mempertahankan pendapat pribadi, melainkan memahami petunjuk Allah dengan cara yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dinasti Abbasiyah Kairo Antara Kemegahan dan Ketidakberdayaan
Ngaji Fathul Muin #53: Memahami Konsep Quru': Suci atau haid?
Memahami Konsep Quru': Suci atau haid? ‘Iddah adalah masa tunggu yang diwajibkan bagi perempuan setelah berakhirnya pernikah...
-
Waspadai Kebaikan yang Menyesatkan: Ketika Manipulasi Emosional Datang dengan Wajah Ramah Tidak semua orang baik benar-benar tul...
-
Khalifah Ali Bin Abi Thalib berkata “Dua hal yang pasti dilakukan orang tolol: Sering menoleh dan menjawab tanpa dasar pengetahu...
-
Pernah merasa terlalu sungkan untuk maju, tapi akhirnya malah berujung sesal? Itu yang saya alami saat salat Maghrib tadi. Karen...