Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang
فَطَلَبُ الْعِلْمِ كَانَ كَثِيرًا فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ، لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ الْمُقْتَدَى بِهِمْ قِلَّةٌ، فَقَدْ نَظَرَ شُعْبَةُ إِلَى مَجْلِسِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ يَكْتَظُّ بِطَلَبَةِ الْحَدِيثِ، فَقَالَ: لَوْ يَخْرُجُ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ
قال الطيالسي: فَرَأَيْتُ فَمَا خَرَجَ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ! وَالثَّوْرِيُّ كَانَ يَقُولُ: الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ ثُلُثٌ تَشْغَلُهُمُ الدُّنْيَا، وَثُلُثٌ يَتَزَوَّجُونَ، وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ! قَالَ: وَثُلُثٌ يَكْتُبُونَ وَلَا يَعْقِلُونَ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ
“Menuntut ilmu pada masa dahulu itu sangat banyak (peminatnya), namun ulama yang benar-benar menjadi panutan itu sedikit.
Suatu ketika Syu‘bah bin al‑Hajjaj melihat majelis para ahli hadis yang penuh sesak oleh para penuntut hadis, lalu beliau berkata:
'Seandainya dari mereka keluar tiga orang saja (yang menjadi ulama).”
“Aku perhatikan, ternyata dari mereka tidak muncul (ulama) bahkan tiga orang pun! Ats-Tsauri berkata: Orang yang belajar ilmu itu terbagi tiga: sepertiga disibukkan oleh dunia, sepertiga menikah. Beliau berkata: siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan! Dan sepertiga lagi hanya menulis tetapi tidak memahami. Dan tidaklah keluar dari mereka kecuali sedikit.” (Syarah Matan Abi Syuja': 1/13)
Perjalanan menuntut ilmu agama memang panjang, melelahkan, dan penuh godaan. Banyak yang memulai dengan semangat tinggi, tetapi tidak semua mampu bertahan sampai matang.
Menurut ats-Tsauri, kegagalan para penuntut ilmu biasanya jatuh pada tiga kelompok besar.
Pertama, disibukkan Dunia. Sebagian penuntut ilmu awalnya serius, tetapi kemudian terseret urusan dunia: pekerjaan, harta, jabatan, atau ambisi sosial.
Ilmu yang dulu menjadi tujuan utama, berubah menjadi aktivitas sampingan. Akhirnya, waktu belajar semakin berkurang, majelis ditinggalkan, hafalan hilang, dan cita-cita menjadi ulama pun memudar.
Kedua: terhenti karena pernikahan
Ungkapan ats-Tsauri sangat kuat:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ
“Siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan.”
Maksudnya bukan melarang menikah tetapi menggambarkan beratnya tanggung jawab setelah berkeluarga.
Setelah menikah, fokus hidup berubah: nafkah, rumah tangga, anak, kebutuhan ekonomi. Waktu belajar menyempit, perjalanan ilmiah terhambat, dan banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan.
Karena itu para ulama dahulu sering menunda menikah sampai ilmu mereka kokoh.
Ketiga, banyak menulis, namun sedikit memahami. Kelompok ketiga ini adalah mereka yang rajin mencatat, menyalin kitab, menghadiri pelajaran tetapi tidak benar-benar memahami.
Ilmu hanya berhenti di pena, tidak sampai ke akal dan hati. Mereka hafal istilah, tetapi tidak mengerti hakikat. Banyak catatan, tetapi sedikit kedalaman. Akhirnya mereka tidak tumbuh menjadi ulama yang matang.
Ats-Tsauri menutup dengan kalimat yang sangat tajam:
وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidak keluar dari mereka kecuali sedikit.”
Dari sekian banyak penuntut ilmu, hanya sedikit yang benar-benar menjadi ulama yang kokoh.
Mengapa? Karena ulama sejati membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, konsistensi belajar, pengorbanan dunia, kedalaman pemahaman, keikhlasan tinggi Semua ini tidak dimiliki oleh banyak orang.
Bumiayu, Malang
17 Februari 2026