Sabtu, 22 Agustus 2026

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain 

Rasulullah ﷺ bersabda:

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ

“Berbahagialah orang yang kesalahannya membuat ia sibuk memperbaiki dirinya sehingga tidak sempat memperhatikan kesalahan orang lain.” (HR. Al-Bazzar, 6237) 

Berikut penjelasannya:

Di antara penyakit yang sering tidak disadari manusia adalah terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri. Kita mudah menemukan kesalahan dalam ucapan, perilaku, dan kehidupan orang lain. Namun, ketika kekurangan yang sama ada pada diri kita, terkadang kita memiliki banyak alasan untuk membenarkannya.

Orang yang mengenal dirinya akan sadar bahwa ia sendiri masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Karena itu, waktunya lebih banyak digunakan untuk introspeksi daripada menghakimi.

Allah ﷻ mengingatkan:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 1)

Ayat ini menjadi peringatan agar lisan dan sikap kita tidak berubah menjadi alat untuk merendahkan manusia. Mengomentari kekurangan orang lain, mencela, mengolok-olok, atau membuka aib tanpa alasan yang dibenarkan agama bukanlah tanda kemuliaan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi, 2317)

Hadis ini mengajarkan seni kehidupan yang sederhana tetapi sangat berat dilakukan: tidak semua hal harus kita komentari, tidak semua urusan orang harus kita campuri, dan tidak semua kesalahan orang harus kita bicarakan.

Betapa sering keadaan ini terjadi. Kesalahan orang lain yang kecil terlihat begitu jelas, sedangkan kekurangan diri sendiri yang jauh lebih besar justru tidak terasa.

Ibn Sirin berkata:

كُنَّا نُحَدَّثُ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ خَطَايَا أَفْرَغُهُمْ لِذِكْرِ خَطَايَا النَّاسِ

“Dahulu kami diberi tahu bahwa orang yang paling banyak kesalahannya adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktunya untuk membicarakan kesalahan orang lain.” (Ash-Shumt, 104)

Orang yang waktunya habis menghitung kesalahan manusia sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk menghitung kesalahannya sendiri.

Al-Madaini juga berpesan:

رَأَيْتُ أَقْوَامًا مِنَ النَّاسِ لَهُمْ عُيُوبٌ، فَسَكَتُوا عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، فَسَتَرَ اللَّهُ عُيُوبَهُمْ، وَزَالَتْ عَنْهُمْ تِلْكَ الْعُيُوبُ. وَرَأَيْتُ أَقْوَامًا لَمْ تَكُنْ لَهُمْ عُيُوبٌ، اشْتَغَلُوا بِعُيُوبِ النَّاسِ، فَصَارَتْ لَهُمْ عُيُوبٌ

“Aku melihat beberapa orang yang memiliki kekurangan, tetapi mereka diam dari membicarakan kekurangan orang lain. Allah pun menutupi kekurangan mereka dan kekurangan itu berangsur-angsur hilang. Aku juga melihat beberapa orang yang pada awalnya tidak memiliki kekurangan, tetapi mereka sibuk membicarakan kekurangan manusia; akhirnya mereka memiliki kekurangan.” (Uyub an-Nafs, 12)

Inilah pelajaran penting tentang menjaga lisan dan menjaga hati. Ketika kita sibuk membuka aib orang lain, kita sebenarnya sedang mempertaruhkan kehormatan diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita memilih menutup aib, memperbaiki diri, dan memberikan nasihat dengan cara yang baik, kita sedang membangun kemuliaan akhlak.

Namun, menutup aib bukan berarti membenarkan kemungkaran. Nasihat tetap diperlukan ketika ada kesalahan yang harus diperbaiki. Bedanya adalah orang yang ikhlas menasihati ingin melihat saudaranya menjadi lebih baik, sedangkan orang yang gemar mencela ingin melihat dirinya tampak lebih baik daripada orang lain.

Epilog 

Sebelum merasa lebih baik daripada orang lain, mari mengingat bahwa kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang dan bagaimana keadaan kita ketika menghadap Allah.

Orang yang bijaksana bukanlah orang yang mampu menemukan banyak kesalahan manusia, tetapi orang yang mampu menemukan kekurangan dirinya lalu bersungguh-sungguh memperbaikinya.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #motivasiislam #nasihat 

Jumat, 21 Agustus 2026

Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik


Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik

Al-Buhturi berkata:

إِنَّ النُّجُومَ نُجُومُ الْأُفُقِ أَصْغَرُهَا # فِي الْعَيْنِ أَذْهَبُهَا فِي الْجَوِّ إِصْعَادَا

“Sesungguhnya bintang-bintang di ufuk, yang tampak paling kecil oleh mata, justru berada jauh menjulang di angkasa.” (Zahr al-Adab, 1/267)

Berikut penjelasannya:

Bintang yang terlihat hanya seperti titik kecil di langit sebenarnya tidak kecil. Ia tampak kecil karena sangat jauh dari pandangan kita. Dari sini kita belajar satu hal penting: apa yang terlihat kecil belum tentu kecil dalam kenyataan.

Demikian pula dalam kehidupan. Jangan mudah meremehkan seseorang hanya karena penampilannya sederhana, hartanya sedikit, pekerjaannya rendah menurut ukuran manusia, tidak terkenal, atau tidak banyak bicara. Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Allah ﷻ mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan penampilannya sederhana, yang ditolak dari pintu-pintu manusia; tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tercermin dari penampilan lahiriah atau penerimaan manusia terhadapnya.

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya” (HR. Muslim, 2564)

Senada dengan keterangan di atas, Dzul Nun Al-Mishri berkata, sebagaimana dinukil dalam Az-Zuhd karya Al-Baihaqi (1/290):

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخْفَى ثَلَاثًا فِي ثَلَاثٍ

“Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara di dalam tiga perkara.”

أَخْفَى غَضَبَهُ فِي مَعْصِيَتِهِ

“Dia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam berbagai kemaksiatan.”

Karena itu, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Bisa jadi justru di dalam dosa yang kita anggap ringan terdapat kemurkaan Allah.

وَأَخْفَى رِضَاءَهُ فِي طَاعَتِهِ

“Dia menyembunyikan keridaan-Nya dalam berbagai ketaatan.”

Maka jangan pula meremehkan amal sekecil apa pun. Senyuman, membantu orang lain, sedekah yang sedikit, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau satu kalimat baik bisa menjadi amal yang diridai Allah.

وَأَخْفَى وِلَايَتَهُ فِي عِبَادِهِ

“Dan Dia menyembunyikan wali-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”

Karena itu, jangan pernah meremehkan seorang pun. Bisa jadi orang yang tidak kita anggap penting justru termasuk hamba Allah yang dekat kepada-Nya.

Inilah pelajaran besar dari bintang-bintang di langit: yang kecil di mata belum tentu kecil dalam hakikatnya.

Epilog

Jangan tertipu oleh penampilan. Jangan sombong karena kedudukan. Jangan menghina orang karena keadaan. Dan jangan merasa diri lebih baik hanya karena melihat kekurangan orang lain.

Sebab kita hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.

Boleh jadi kita melihat seseorang tak punya kedudukan dan pangkat, padahal di sisi Allah ia berpangkat yang jauh lebih tinggi daripada yang kita sangka.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #dakwah_islam #nasihat

Kamis, 20 Agustus 2026

Dosa-dosa Politik Soekarno


Janji Politik Soekarno Yang Tak Terpenuhi

Sejarah Indonesia tidak hanya berisi kisah perjuangan menuju kemerdekaan, tetapi juga catatan tentang janji-janji politik yang lahir dari kompromi, negosiasi, dan kepentingan persatuan. Dalam perjalanan sejarah Republik, sejumlah kelompok dan daerah kemudian merasa memiliki janji yang belum sepenuhnya terealisasi. Salah satu nama yang kerap dikaitkan dengan persoalan tersebut adalah Presiden Soekarno.

Pertama, persoalan status istimewa Kesultanan Buton.

Dalam berbagai narasi sejarah lokal, Sultan Buton La Ode Muhammad Falihi disebut pernah memperoleh janji mengenai status daerah istimewa sebagai imbalan atas kesediaan Buton bergabung dengan Republik Indonesia. Kesultanan Buton memang memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan maritim di kawasan Sulawesi Tenggara.

Namun, setelah integrasi ke dalam Republik, pemerintahan swapraja Kesultanan Buton kemudian dibubarkan. Harapan mengenai status istimewa sebagaimana Yogyakarta tidak terwujud. Perubahan tersebut meninggalkan memori sejarah yang hingga kini masih hidup di tengah sebagian masyarakat Buton.

Karena itu, tuntutan mengenai identitas dan masa depan politik kawasan Buton tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan administratif. Di baliknya terdapat ingatan kolektif tentang hubungan antara kerajaan lokal, Republik, dan janji politik pada masa awal kemerdekaan.

Kedua, polemik Piagam Jakarta.

Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menyepakati Piagam Jakarta yang memuat rumusan: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Rumusan tersebut merupakan hasil kompromi politik antara berbagai kekuatan yang terlibat dalam persiapan kemerdekaan. Namun, sehari setelah Proklamasi, dalam sidang PPKI 18 Agustus 1945, tujuh kata tersebut dihapus dan diganti dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Perubahan itu memiliki latar belakang politik yang kompleks, terutama kekhawatiran terhadap keutuhan Indonesia yang baru berdiri. Karena itu, menyebutnya sekadar sebagai “janji Soekarno yang diingkari” tentu membutuhkan kehati-hatian. Yang lebih tepat, peristiwa tersebut merupakan salah satu kompromi fundamental dalam proses pembentukan dasar negara yang kemudian menimbulkan kekecewaan di sebagian kalangan Islam.

Ketiga, persoalan Konstituante dan Dekrit 5 Juli 1959.

Pemilu 1955 melahirkan Majelis Konstituante yang diberi tugas menyusun Undang-Undang Dasar baru. Perdebatan berlangsung panjang, terutama mengenai dasar negara: apakah Indonesia berdasar Pancasila atau Islam.

Kebuntuan politik akhirnya menjadi salah satu alasan Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konstituante dibubarkan dan UUD 1945 diberlakukan kembali. Bersamaan dengan itu, Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin.

Bagi pendukung Soekarno, langkah tersebut dipandang sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan negara dari kebuntuan politik. Namun bagi para pengkritiknya, pembubaran Konstituante merupakan kemunduran terhadap proses demokrasi parlementer yang sedang berjalan.

Keempat, persoalan demokrasi dan Presiden Seumur Hidup.

Pada masa Demokrasi Terpimpin, kekuasaan politik semakin terpusat di tangan Presiden. Puncaknya terjadi pada 1963 ketika MPRS menetapkan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup.

Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu simbol perubahan besar dari demokrasi parlementer menuju sistem politik yang lebih terpusat. Secara historis, peristiwa ini memperlihatkan bahwa idealisme demokrasi pada awal Republik berhadapan dengan situasi politik yang semakin kompleks dan penuh konflik.

Pada akhirnya, sejarah tentang “janji yang diingkari” tidak seharusnya dibaca secara hitam-putih. Soekarno bukan satu-satunya aktor dalam setiap keputusan politik tersebut. Ada parlemen, partai politik, tokoh agama, militer, daerah, serta perubahan situasi nasional dan internasional yang ikut menentukan arah Republik.

Namun, sejarah tetap penting untuk mengingatkan satu hal: janji politik bukan sekadar kata-kata. Ia membangun kepercayaan. Ketika janji berubah karena keadaan, perubahan itu perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak berubah menjadi luka sejarah.

Maka, mempelajari kembali persoalan Buton, Piagam Jakarta, Konstituante, dan Demokrasi Terpimpin bukan berarti membuka kembali pertentangan lama. Justru sebaliknya, sejarah dapat menjadi cermin agar generasi sekarang memahami bahwa persatuan membutuhkan kejujuran, kompromi membutuhkan kepercayaan, dan setiap keputusan politik selalu memiliki konsekuensi bagi generasi sesudahnya.

Catatan: beberapa klaim mengenai “janji pribadi Soekarno”, khususnya soal status istimewa Buton, masih merupakan bagian dari narasi sejarah yang diperdebatkan. Karena itu, perlu dibedakan antara fakta sejarah yang terdokumentasi dan klaim atau ingatan politik masyarakat.

Rahasia Kekuatan Orang Mukmin: Bukan Fisik, Ini Kekuatan yang Sebenarnya

Rahasia Kekuatan Manusia: Bukan Fisik, Ini Kekuatan Manusia yang Sebenarnya

مَا أَضْعَفَ الْإِنْسَانَ لَوْلَا هِمَّةٌ # فِي نُبْلِهِ أَوْ قُوَّةٌ فِي لُبِّهِ

“Betapa lemahnya manusia seandainya tidak ada cita-cita luhur dalam dirinya atau kekuatan dalam akalnya.” (Majalah Ar-Risalah, Edisi 307)

Berikut penjelasannya:

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Tubuhnya lemah, usianya terbatas, pengetahuannya tidak sempurna, dan kehidupannya selalu membutuhkan pertolongan Allah. Al-Qur’an bahkan menggambarkan kondisi dasar manusia:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)

Namun, kelemahan bukan alasan untuk hidup tanpa semangat. Justru di balik kelemahan itu Allah memberikan manusia akal, kehendak, ilmu, dan kemampuan untuk berjuang.

Orang yang memiliki himmah tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Ia mungkin jatuh, tetapi berusaha bangkit. Ia mungkin gagal, tetapi menjadikan kegagalan sebagai pelajaran. Ia tidak membiarkan keadaan hari ini menentukan seluruh masa depannya.

Karena itu Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139)

Ayat ini bukan berarti seorang mukmin tidak pernah merasa lemah atau sedih. Tetapi seorang mukmin tidak boleh menjadikan kelemahan dan kesedihan sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Iman melahirkan keberanian untuk bangkit.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

المُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim, 2664)

Kekuatan yang dimaksud tidak hanya kekuatan fisik. Ia mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, kemauan, kesabaran, dan kemampuan menghadapi kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Menariknya, Islam juga mengajarkan agar seorang mukmin berani memiliki cita-cita yang tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda:

«إذا سألتم الله فاسألوه الفردوس فإنه أوسط الجنة، وأعلى الجنة، وفوقه عرش الرحمن، ومنه تفجر أنهار الجنة

“Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus. Sesungguhnya Firdaus adalah bagian tengah dan bagian tertinggi surga. Di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, dan darinya memancar sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari, 2790)

Perhatikan pesan di balik hadis ini: jangan takut bercita-cita tinggi. Bahkan ketika meminta surga, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk meminta Firdaus, tempat tertinggi di surga.

Cita-cita yang tinggi tentu harus disertai usaha. Himmah tanpa amal hanya menjadi angan-angan. 

Fadl bin Ja‘far mengungkapkan:

فَإِنْ خَلَّفَتْهُ السِّنُّ فَالْعَقْلُ بَالِغٌ # بِهِ رُتْبَةَ الْكَهْلِ الْمُؤَهَّلِ لِلْمَجْدِ

“Jika usia telah meninggalkannya, maka akal mampu mengantarkannya mencapai kedudukan orang dewasa yang layak meraih kemuliaan.” (Zuhr Al-Adab, 1/267)

Usia boleh bertambah, tubuh boleh melemah, tetapi akal, ilmu, pengalaman, dan kematangan jiwa dapat terus berkembang. Karena itu, bertambahnya usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya

Sejarah sering kali berubah bukan karena banyaknya orang, tetapi karena hadirnya sedikit orang yang memiliki himmah besar. Mereka tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka memiliki visi yang melampaui kepentingan pribadi.

Epilog 

Manusia memang lemah. Tetapi manusia yang lemah dapat menjadi kuat ketika memiliki iman, himmah yang tinggi, akal yang jernih, dan kemauan untuk terus berusaha.

Jangan bercita-cita sekadar menjadi orang yang berhasil. Bercita-citalah menjadi orang yang bermanfaat. Jangan hanya ingin hidup lebih lama, tetapi berusahalah agar hidup lebih bermakna.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #tekad 

Selasa, 18 Agustus 2026

Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan


Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan

Az-Zamakhsyari berkata:

نِصْفُ رَأْيِكَ مَعَ أَخِيكَ فَشَاوِرْهُ لِيَكْمُلَ لَكَ الرَّأْيُ

“Separuh pendapatmu ada pada saudaramu, maka bermusyawarahlah agar pendapatmu menjadi sempurna.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 303)

Berikut penjelasannya:

Manusia memiliki keterbatasan. Sehebat apa pun seseorang dalam berpikir dan seluas apa pun pengalamannya, tetap ada sisi persoalan yang mungkin tidak terlihat. Karena itu, Islam mengajarkan musyawarah sebagai jalan untuk menyempurnakan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Pendapat pribadi sering kali hanya melihat persoalan dari satu sisi. Ketika kita berdiskusi dengan orang lain, muncul sudut pandang baru yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Dari sinilah sebuah keputusan menjadi lebih matang.

Allah ﷻ berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Ayat ini mengajarkan bahwa musyawarah sebelum keputusan, tawakal setelah keputusan. Orang yang mau mendengar pendapat orang lain menunjukkan kedewasaan dalam berpikir. Hasan al-Bashri menjelaskan hikmah perintah dalam ayat tersebut:

أَمَرَهُ بِمُشَاوَرَتِهِمْ لِيَسْتَنَّ بِهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَتَّبِعَهُ فِيهَا الْمُؤْمِنُونَ، وَإِنْ كَانَ عَنْ مُشَاوَرَتِهِمْ غَنِيًّا

“Allah memerintahkan beliau bermusyawarah dengan mereka agar kaum Muslimin menjadikannya sebagai teladan dan orang-orang beriman mengikutinya dalam hal tersebut, meskipun beliau sebenarnya tidak membutuhkan musyawarah mereka.” (Al-Ahkam as-Sulthaniyah, 1/53)

Artinya, musyawarah bukan sekadar teknik mengambil keputusan, tetapi juga teladan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia justru perlu menjadi orang yang mampu mendengar.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَمْرًا فَشَاوَرَ فِيهِ امْرَأً مُسْلِمًا، وَفَّقَهُ اللَّهُ لِأَرْشَدِ أُمُورِهِ

“Siapa yang akan mengambil keputusan, lalu minta pendapat kepada muslim lain, maka Allah akan menunjukkannya ke jalan yang paling benar.” (HR. Ath-Thabarani, 1/181)

Karena itu, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu hanya berdasarkan pemikiran sendiri, terlebih jika keputusan tersebut menyangkut kepentingan banyak orang.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna akalnya dan mendapatkan bimbingan wahyu. Namun beliau tetap banyak bermusyawarah dengan para sahabat.
Dalam Shahih Ibnu Hibban Abu Hurairah berkata:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ كَانَ أَكْثَرَ مُشَاوَرَةً لِأَصْحَابِهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya daripada Rasulullah ﷺ.” (HR. Ibnu Hibban, 4872)

Umar bin Abdul Aziz juga pernah berkata:

إِنَّ الْمُشَاوَرَةَ وَالْمُنَاظَرَةَ بَابَا رَحْمَةٍ وَمِفْتَاحَا بَرَكَةٍ، لَا يَضِلُّ مَعَهُمَا رَأْيٌ وَلَا يُفْقَدُ مَعَهُمَا حَزْمٌ

“Sesungguhnya musyawarah dan dialog adalah dua pintu rahmat dan dua kunci keberkahan. Bersama keduanya, sebuah pendapat tidak mudah tersesat dan ketegasan tidak akan hilang.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 309)

Musyawarah yang sehat bukan arena mempertahankan ego. Musyawarah adalah proses mencari kebenaran dan kemaslahatan, dalam musyawarah kita perlu belajar mendengar, menghargai perbedaan, menerima kritik, dan bersedia memperbaiki pendapat ketika ada pertimbangan yang lebih kuat.

Epilog

Setelah musyawarah selesai dan keputusan telah ditetapkan, jangan terus terjebak dalam keraguan. Jalankan keputusan dengan penuh tanggung jawab dan bertawakallah kepada Allah.

Bisa jadi pendapat kita hanya melihat sebagian persoalan, sementara orang lain melihat sisi yang berbeda. Pendapat kita mungkin setengah, pendapat saudara kita melengkapinya, dan musyawarah menjadi jalan menuju keputusan yang lebih sempurna.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #musyawarah #diskusi

Senin, 17 Agustus 2026

Tiga “Jimat” Jenderal Soedirman yang Membuat dirinya Selalu Lolos dari Kepungan Belanda


Tiga “Jimat” Panglima Besar Jenderal Soedirman

Nama Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak hanya dikenang karena keberanian dan strategi militernya, tetapi juga karena keteguhan iman dan kedisiplinannya dalam beribadah. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ada sebuah kisah menarik tentang “tiga jimat” yang menjadi pegangan beliau.

Tentu, istilah jimat di sini bukan berarti benda keramat yang memiliki kekuatan gaib. “Jimat” tersebut lebih tepat dipahami sebagai prinsip hidup dan amalan yang beliau pegang teguh.

1. Selalu Menjaga Wudhu

Salah satu kebiasaan yang sering dikisahkan dari Jenderal Soedirman adalah berusaha menjaga wudhu. Dalam kondisi bergerilya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ketika sakit, ibadah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Menjaga wudhu mengajarkan sebuah kedisiplinan spiritual: seorang pejuang tidak hanya menjaga kekuatan fisik, tetapi juga menjaga kesucian diri.

2. Menjaga Shalat Tepat Waktu

Perjuangan gerilya menghadapkan Soedirman pada berbagai keterbatasan. Namun, keadaan perang tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Shalat menjadi sumber kekuatan batin. Seorang pemimpin yang menghadapi tekanan berat membutuhkan ketenangan jiwa, dan salah satu jalannya adalah mendekat kepada Allah.

Inilah pelajaran penting bagi kita: sesibuk apa pun seseorang dalam menjalankan tugas, jangan sampai kesibukan membuatnya melupakan kewajiban kepada Allah.

3. Ikhlas Berjuang untuk Rakyat dan Bangsa

“Jimat” yang ketiga adalah ketulusan dalam perjuangan. Soedirman tidak berjuang demi popularitas, kekayaan, atau kepentingan pribadi. Ia mempertaruhkan kesehatan, kenyamanan, bahkan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan dan membela rakyat.

Ketulusan inilah yang membuat perjuangan memiliki nilai yang besar. Sebab, perjuangan tanpa keikhlasan mudah berubah menjadi ambisi pribadi.

Pelajaran untuk Kita

Kisah tiga “jimat” Soedirman sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Kita mungkin tidak sedang menghadapi perang bersenjata, tetapi setiap orang memiliki medan perjuangannya sendiri.

Ada yang berjuang mendidik anak, mengajar santri, mencari nafkah, memimpin lembaga, melayani masyarakat, atau menjaga amanah pekerjaan.

Dari Soedirman kita belajar bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan hanya berasal dari keberanian dan kecerdasan, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah, kedisiplinan dalam ibadah, dan ketulusan dalam menjalankan amanah.

Jika tiga hal itu dijaga: wudhu, shalat, dan keikhlasan dalam berjuang, maka seorang manusia memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Bukan benda keramat yang membuat seseorang kuat. Iman, disiplin, doa, dan ketulusanlah yang membentuk kekuatan sejati.

Cemas Mikirin Anak Malah Berujung Surga: Mengapa Mengurus Anak adalah Ibadah Terbaik Anda?


Cemas Mikirin Anak Malah Berujung Surga: Mengapa Mengurus Anak adalah Ibadah Terbaik Anda?

إِنَّ بَعْضَ الْهَمِّ الَّذِي يَقَعُ بِأَحَدِكُمْ عَلَى وَلَدِهِ لَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عِبَادَةِ مِائَةِ عَامٍ

“Sesungguhnya sebagian kegelisahan yang dirasakan seseorang karena anaknya sungguh lebih dicintai Allah Ta‘ala daripada ibadah seratus tahun.” (Syarh kitab Al-Ibanah, 28/48)

Berikut penjelasannya:

Menjadi orang tua berarti bersedia memikul sebuah amanah yang tidak ringan. Sejak seorang anak lahir, perhatian orang tua tidak lagi hanya tertuju kepada dirinya sendiri. Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi, dan masa depan yang harus dipersiapkan.

Karena itu, kekhawatiran terhadap anak bukan selalu tanda kelemahan. Dalam keadaan tertentu, ia justru merupakan bukti kasih sayang sekaligus tanggung jawab.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya membuat anak kenyang, sehat, dan sukses secara duniawi. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: menyelamatkan keluarga dari keburukan dan mengantarkan mereka menuju kebaikan.

Ada orang tua yang malamnya tidak tenang memikirkan anak. Ia khawatir anaknya sakit, salah pergaulan, meninggalkan kewajiban, gagal dalam pendidikan, atau kelak tidak mampu menjalani kehidupan.

Kegelisahan seperti itu jangan dianggap sia-sia apabila mendorong kepada doa, usaha, pendidikan, nasihat, dan kesabaran.

Bahkan mencari nafkah untuk anak pun memiliki nilai yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika seseorang keluar berusaha mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah.” (HR. Ath-Thabarani, 282)

Begitu pula Nabi ﷺ menjelaskan bahwa nafkah untuk keluarga memiliki kedudukan yang sangat utama:

أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ

“Dinar terbaik yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya” (HR. At-Tirmidzi, 1966)

Maka seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore untuk memenuhi kebutuhan keluarganya jangan merasa bahwa dirinya jauh dari ibadah. Jika niatnya benar, mencari nafkah untuk keluarga pun dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.

Ibnul Jauzi berkata:

فَمَنْ رُزِقَ وَلَدًا فَلْيَجْتَهِدْ مَعَهُ، وَالتَّوْفِيقُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ

“Barang siapa dikaruniai seorang anak, hendaknya ia bersungguh-sungguh mendidiknya; adapun taufik berada setelah usaha tersebut.” (Al-Hitstsu ala Hifdzil Ilmi, 17)

Inilah prinsip penting dalam pendidikan anak adalah orang tua wajib berusaha, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Kita mungkin telah mengajarkan agama, memberi teladan, memilihkan lingkungan yang baik, menyekolahkan, menasihati, bahkan mendoakan setiap malam. Namun anak tetap memiliki perjalanan hidupnya sendiri.

Karena itu, jangan mudah berputus asa ketika hasil pendidikan belum terlihat. Tugas kita adalah menanam; Allah yang menumbuhkan.

Ibrahim bin Adham bahkan pernah berkata ketika seseorang memujinya karena dapat berkonsentrasi beribadah karena hidup membujang:

لَرَوْعَةٌ مِنْكَ بِسَبَبِ الْعِيَالِ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيعِ مَا أَنَا فِيهِ

“Sesungguhnya kegelisahanmu karena mengurus keluarga lebih utama daripada seluruh keadaan ibadah yang sedang aku jalani.” (Ihya Ulumuddin, 2/23)

Pesannya bukan meremehkan ibadah, tetapi menunjukkan besarnya nilai tanggung jawab terhadap keluarga.

Epilog

Jika hari ini Anda lelah memikirkan anak, jangan merasa bahwa semua itu sia-sia. Jika Anda bekerja keras untuk mereka, mendidik mereka, menasihati mereka, dan menangis dalam doa untuk masa depan mereka, yakinlah bahwa Allah melihat semua perjuangan itu.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #pendidikan #anak

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain

Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain  Rasulullah ﷺ bersabda: طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ ...