Senin, 31 Agustus 2026

Karena Ijazah Saja Tidak Cukup

Terlalu Lama Belajar, Kapan Mulai Bertindak?

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa jalan menuju kesuksesan adalah sekolah yang tinggi, nilai yang bagus, lalu mendapatkan pekerjaan yang mapan. Pola pikir ini memang memiliki manfaat, tetapi jika dipahami secara keliru, justru bisa menjadi penghambat untuk berkembang di dunia nyata.

Sekolah Mengajarkan Nilai, Dunia Mengajarkan Pengalaman

Di sekolah, kegagalan sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Nilai jelek dianggap memalukan, sehingga banyak orang takut mencoba hal-hal baru.

Namun, dunia usaha dan kehidupan justru mengajarkan hal yang berbeda. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar. Banyak pengusaha sukses pernah mengalami kegagalan berulang kali sebelum akhirnya menemukan cara yang tepat.

Yang membedakan orang sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal, tetapi karena mereka mau bangkit, belajar, dan mencoba kembali.

Terlalu Banyak Berpikir Bisa Menghambat Langkah

Merencanakan sesuatu memang penting, tetapi terlalu lama menganalisis juga dapat membuat seseorang tidak pernah memulai.

Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari ide yang dianggap paling sempurna. Sementara itu, orang lain sudah mulai menjalankan usahanya, belajar dari kesalahan, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Kesuksesan lebih sering lahir dari tindakan nyata daripada rencana yang tidak pernah dijalankan.

Belajar Itu Penting, Tetapi Harus Diiringi Aksi

Belajar adalah kewajiban. Islam pun sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu. Namun, ilmu akan lebih bermanfaat jika diamalkan.

Sering kali seseorang berkata, "Saya masih harus belajar lagi," atau "Saya belum siap." Padahal, di balik alasan itu terkadang tersimpan rasa takut untuk gagal.

Tidak ada orang yang benar-benar siap seratus persen. Justru pengalaman di lapangan akan menjadi guru yang paling berharga.

Terlalu Rumit Menganalisis, Terlambat Bertindak

Mempertimbangkan risiko merupakan sikap yang bijak. Namun, jika semua hal dianalisis secara berlebihan hingga tidak pernah mengambil keputusan, peluang akan berlalu begitu saja.

Sebaliknya, orang yang berani memulai dengan perhitungan yang wajar memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang karena ia memperoleh pengalaman nyata yang tidak didapatkan dari teori semata.

Langkah Sederhana untuk Memulai

Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan agar tidak berhenti pada teori:

  • Mulailah meskipun belum sempurna. Kesempurnaan sering datang setelah proses berjalan.
  • Pelajari cara orang yang telah berhasil, kemudian lakukan inovasi agar menjadi lebih baik.
  • Fokuslah pada kebutuhan pasar. Buatlah produk atau layanan yang benar-benar memberi manfaat.
  • Bangun sistem yang sederhana, mudah dijalankan, dan terus diperbaiki melalui evaluasi.

Solusi Lebih Berharga daripada Sekadar Gelar

Pendidikan tetap memiliki nilai yang sangat penting sebagai bekal ilmu dan pembentukan karakter. Namun, di dunia kerja maupun dunia usaha, orang juga akan dinilai dari kemampuan menyelesaikan masalah, memberi manfaat, serta menciptakan nilai bagi orang lain.

Karena itu, jangan hanya mengumpulkan ilmu, tetapi mulailah mengubah ilmu tersebut menjadi karya, pelayanan, dan solusi.

Ilmu tanpa tindakan hanya akan menjadi pengetahuan. Sebaliknya, ilmu yang diamalkan akan melahirkan pengalaman, manfaat, dan keberkahan.

Abu Bakar al-Baqillani: Anak Tukang Sayur yang Menjadi Benteng Ahlussunnah

Abu Bakar al-Baqillani: Anak Tukang Sayur yang Menjadi Benteng Ahlussunnah

Lahir dari Keluarga Sederhana

Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin ath-Thayyib bin Muhammad al-Baqillani al-Qadhi. Beliau lahir di Basrah pada tahun 338 H (sekitar 950 M).

Julukan al-Baqillani berasal dari profesi keluarganya yang bekerja sebagai penjual sayur-mayur (baqilah). Dari keluarga yang sederhana inilah lahir seorang ulama besar yang kelak menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Ahlussunnah.

Sejak kecil beliau menuntut ilmu di Basrah. Setelah dewasa, beliau melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dunia Islam saat itu. Di kota inilah beliau belajar kepada para ulama besar hingga mencapai kedudukan sebagai imam dalam ilmu akidah, fikih, usul fikih, dan ilmu kalam.

Karena keluasan ilmunya, beliau diangkat sebagai qadhi (hakim) pada masa pemerintahan 'Adhud ad-Daulah al-Buwaihi sekitar tahun 372 H. Beliau juga dipercaya memimpin majelis ilmu di Baghdad yang dihadiri banyak ulama dan penuntut ilmu dari berbagai daerah.

Diplomat yang Membela Islam

Selain sebagai ulama, al-Baqillani juga dikenal sebagai diplomat ulung. Pemerintah Daulah Buwaihi beberapa kali mengutus beliau untuk menjalankan misi diplomatik ke berbagai negeri, termasuk ke Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Melalui ilmu, akhlak, dan kecerdasannya, beliau mampu mengharumkan nama kaum muslimin. Bahkan dakwah beliau memberi pengaruh besar kepada kalangan istana. Disebutkan bahwa putra 'Adhud ad-Daulah menjadi muridnya, sementara sang penguasa yang sebelumnya cenderung kepada pemikiran Mu'tazilah akhirnya menerima akidah Asy'ariyah setelah berdialog dengan al-Baqillani.

Ahli Ibadah yang Sangat Istiqamah

Di balik kesibukannya sebagai ulama dan diplomat, al-Baqillani adalah seorang ahli ibadah.

Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam sebanyak 20 rakaat, baik ketika berada di rumah maupun saat bepergian. Seusai qiyamul lail, beliau menulis sekitar 35 lembar setiap malam, semuanya berasal dari hafalan dan keluasan ilmunya.

Setelah shalat Subuh, hasil tulisannya langsung diajarkan kepada murid-muridnya. Rutinitas ini berlangsung bertahun-tahun hingga melahirkan banyak karya ilmiah yang bermanfaat bagi umat.

Beliau juga dikenal sangat wara', rendah hati, dan berusaha menyembunyikan amal ibadahnya. Abu Hatim Mahmud al-Qazwini mengatakan bahwa ibadah al-Baqillani sebenarnya jauh lebih banyak daripada yang diketahui masyarakat.

Kecerdasan yang Mengagumkan

Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika beliau menjadi utusan kepada Kaisar Romawi.

Sang Kaisar sengaja membuat pintu masuk istana sangat rendah agar al-Baqillani terpaksa menundukkan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada raja.

Namun dengan kecerdasannya, al-Baqillani masuk sambil membelakangi pintu sehingga tidak perlu menundukkan kepala kepada sang raja. Tindakan itu membuat Kaisar terkejut sekaligus malu karena siasatnya gagal.

Dalam kesempatan lain, beliau berdialog dengan para pendeta di hadapan Kaisar.

Beliau bertanya kepada salah seorang pendeta:

"Bagaimana keadaan istri dan anak-anakmu?"

Semua pendeta terdiam, sedangkan Kaisar marah seraya berkata,

"Tidakkah engkau tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah?"

Al-Baqillani menjawab dengan tenang,

"Kalian menyucikan pendeta kalian sehingga tidak boleh menikah, tetapi kalian justru menisbatkan istri dan anak kepada Tuhan."

Jawaban singkat itu membuat lawan bicaranya tidak mampu membalas.

Dalam dialog yang sama, Kaisar mencoba menyerang kehormatan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Al-Baqillani menjawab bahwa baik Aisyah maupun Maryam sama-sama pernah difitnah, padahal keduanya adalah wanita suci yang dibersihkan Allah dari segala tuduhan. Jawaban itu membuat Kaisar terdiam.

Ulama yang Sangat Produktif

Al-Baqillani termasuk ulama yang sangat produktif. Disebutkan bahwa beliau menulis hingga puluhan ribu lembar tentang pembelaan terhadap akidah Islam dan bantahan terhadap berbagai pemikiran yang dianggap menyimpang pada zamannya.

Beberapa karya beliau yang masih dikenal hingga sekarang antara lain:

  • I'jaz al-Qur'an, salah satu kitab klasik terpenting tentang kemukjizatan Al-Qur'an.
  • At-Tamhid fi ar-Radd 'ala al-Mulhidah wal-Mu'aththilah wal-Khawarij wal-Mu'tazilah.
  • Al-Ibanah fi Ibthal Madzhab Ahl al-Kufr wa adh-Dhalal.
  • Risalah al-Hurrah.
  • Al-Bayan bain al-Mu'jizat wal-Karamat was-Sihr wal-Kahanah.
  • Al-Inshaf.

Karya-karya beliau menjadi rujukan penting dalam ilmu akidah Ahlussunnah hingga berabad-abad setelah wafatnya.

Sanjungan Para Ulama

Banyak ulama memberikan penghormatan kepada al-Baqillani.

Abu al-Qasim bin Burhan berkata,

"Siapa yang pernah mendengar perdebatan ilmiah Abu Bakar al-Baqillani, niscaya ia tidak akan lagi kagum kepada kefasihan orang lain."

Ibnu al-Ahdal mengatakan,

"Beliau adalah orang yang wara', penuh ibadah, teguh memegang agama, dan tidak pernah terdengar keburukan tentang dirinya."

Imam adz-Dzahabi menyebut beliau sebagai:

"Seorang yang tsiqah, pemimpin ilmu, dan sangat cerdas."

Sedangkan al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan ucapan Abu Bakar al-Khawarizmi,

"Setiap penulis di Baghdad masih membutuhkan kitab-kitab ulama lain, kecuali Abu Bakar al-Baqillani. Ilmu beliau seakan telah menghimpun ilmu para ulama sebelumnya."

Wafat

Imam Abu Bakar al-Baqillani wafat pada bulan Dzulqa'dah tahun 403 H (1013 M).

Jenazah beliau dishalatkan oleh putranya, al-Hasan. Setelah sempat dimakamkan di rumahnya, jenazah beliau dipindahkan ke pemakaman Bab Harb, tidak jauh dari makam Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam berbagai kitab sejarah disebutkan bahwa makam beliau dahulu sering diziarahi kaum muslimin, bahkan dijadikan tempat berkumpul untuk berdoa memohon hujan ketika terjadi musim kemarau. Riwayat ini merupakan catatan sejarah tentang tradisi masyarakat pada masa itu.

Penutup

Kisah Imam Abu Bakar al-Baqillani mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh asal-usul keluarga, melainkan oleh ilmu, ketakwaan, kerja keras, dan keikhlasan. Berasal dari keluarga sederhana, beliau tumbuh menjadi ulama besar yang disegani kawan maupun lawan. Warisan keilmuan dan perjuangannya dalam membela akidah Ahlussunnah tetap dikenang hingga hari ini.

Ibnu Faris: Sang Peletak Dasar Fiqh al-Lughah dan Penjaga Kemurnian Bahasa Arab

Ibnu Faris: Sang Peletak Dasar Fiqh al-Lughah dan Penjaga Kemurnian Bahasa Arab

Di antara deretan ulama besar yang mengabdikan hidupnya untuk bahasa Arab, nama Ibnu Faris menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau bukan sekadar seorang ahli kamus (leksikografer), melainkan juga seorang fakih, mufasir, sastrawan, sekaligus pemikir yang meletakkan fondasi penting bagi kajian linguistik Arab. Melalui karya monumentalnya Mu'jam Maqayis al-Lughah, ia memperkenalkan metode baru dalam memahami akar kata bahasa Arab yang hingga kini masih menjadi rujukan utama para ulama, mufasir, dan peneliti bahasa.

Identitas dan Latar Belakang

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariyya bin Habib al-Razi, yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Faris. Beliau lahir sekitar tahun 306 H (918–919 M) di kawasan al-Zahra, wilayah Qazwin, Persia. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa tempat kelahirannya adalah sebuah desa bernama Kursuf di distrik al-Zahra.

Julukan al-Razi disematkan kepadanya karena sebagian besar kehidupannya dihabiskan di kota Ray (Rey), salah satu pusat ilmu pengetahuan terbesar di Persia pada masa itu.

Ibnu Faris wafat pada bulan Shafar tahun 395 H (1004 M) di kota Ray. Di kota inilah beliau dimakamkan setelah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk dunia ilmu.

Tumbuh di Tengah Keluarga Ulama

Kecintaan Ibnu Faris terhadap ilmu telah tumbuh sejak kecil. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Faris bin Zakariyya, seorang ulama bermazhab Syafi'i yang menguasai fikih, bahasa Arab, dan sastra.

Dari sang ayah beliau mempelajari dasar-dasar fikih mazhab Syafi'i, ilmu bahasa, adab, serta kecintaan terhadap literatur Arab klasik. Fondasi inilah yang kelak menjadikan Ibnu Faris sebagai salah seorang tokoh bahasa terbesar sepanjang sejarah Islam.

Rihlah Ilmiah Menuntut Ilmu

Sebagaimana tradisi para ulama terdahulu, Ibnu Faris melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai kota untuk memperdalam ilmunya.

Di Qazwin, beliau berguru kepada Ali bin Ibrahim al-Qattan dan mempelajari kitab Al-'Ain karya Khalil bin Ahmad.

Di Zanjan, beliau belajar kepada Abu Bakar Ahmad bin al-Khatib, seorang murid langsung dari Sa'lab, tokoh besar mazhab Kufah.

Di Baghdad, beliau mengambil ilmu bahasa dan sastra dari beberapa ulama besar, di antaranya Abu al-Hasan Ali bin Abdullah al-Wasifi dan Muhammad bin Abdullah al-Duri.

Beliau juga menimba ilmu di Hamadan, Miyanij, bahkan ketika menunaikan ibadah haji di Makkah, beliau tetap memanfaatkan kesempatan untuk bertemu para ulama dan memperluas wawasan keilmuannya.

Murid-Murid yang Menjadi Tokoh Besar

Keilmuan Ibnu Faris melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam.

Di antara mereka adalah:

  • Al-Shahib bin 'Abbad, perdana menteri Dinasti Buwaihi sekaligus ulama dan sastrawan besar.
  • Badi' al-Zaman al-Hamadani, pengarang Maqamat yang dianggap sebagai pelopor seni prosa artistik dalam sastra Arab.
  • Abu Thalib bin Fakhr al-Dawlah al-Buwaihi, putra penguasa Dinasti Buwaihi.
  • Ali bin al-Qasim al-Muqri, seorang ahli qira'at.

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Ibnu Faris tidak hanya terbatas di lingkungan akademik, tetapi juga menjangkau kalangan pemerintahan dan kebudayaan.

Ahli Bahasa yang Menguasai Banyak Disiplin

Meskipun paling dikenal sebagai ahli bahasa, cakupan keilmuan Ibnu Faris sangat luas.

Beliau menguasai:

  • Ilmu bahasa Arab (lughah)
  • Nahwu
  • Sharaf
  • Sastra dan syair
  • Fikih
  • Tafsir
  • Hadis

Namun bidang yang paling beliau cintai adalah leksikografi, yaitu ilmu yang mengkaji asal-usul dan makna kata-kata bahasa Arab.

Beralih dari Mazhab Syafi'i ke Mazhab Maliki

Pada masa mudanya Ibnu Faris mengikuti mazhab Syafi'i sebagaimana ayahnya.

Namun menjelang akhir hayatnya beliau berpindah kepada mazhab Maliki.

Ketika ditanya sebab perpindahan tersebut, beliau menjelaskan bahwa di kota Ray seluruh mazhab telah memiliki ulama yang mewakili, kecuali mazhab Maliki. Oleh karena itu beliau memilih menjadi representasi mazhab tersebut agar masyarakat tetap dapat mempelajari seluruh khazanah fikih Islam.

Jawaban ini menunjukkan keluasan pandangan beliau yang lebih mengutamakan kemaslahatan umat daripada fanatisme mazhab.

Pembela Keagungan Bahasa Arab

Ibnu Faris termasuk ulama yang sangat membela keistimewaan bahasa Arab.

Menurut beliau, bahasa Arab merupakan bahasa paling sempurna karena Allah memilihnya sebagai bahasa wahyu terakhir.

Beliau juga menunjukkan kekayaan kosakata bahasa Arab yang luar biasa. Satu makna dapat memiliki puluhan bahkan ratusan sinonim, sebagaimana kata "singa", "pedang", "hujan", dan lain sebagainya. Kekayaan inilah yang menurut beliau menjadi bukti keunggulan bahasa Arab dibanding bahasa lainnya.

Karya-Karya Monumental

Meskipun diperkirakan menulis antara empat puluh hingga sembilan puluh kitab, hanya sebagian yang berhasil sampai kepada generasi sekarang.

Di antara karya-karyanya yang paling terkenal ialah:

1. Mu'jam Maqayis al-Lughah

Karya terbesar beliau sekaligus salah satu kamus bahasa Arab paling berpengaruh sepanjang sejarah. Keistimewaannya terletak pada metode mengembalikan seluruh turunan kata kepada satu makna dasar yang menjadi asalnya.

2. Al-Mujmal fi al-Lughah

Sebuah kamus ringkas yang hanya memuat kosakata yang sahih dan banyak digunakan.

3. Al-Shahibi fi Fiqh al-Lughah wa Sunan al-'Arab fi Kalamiha

Kitab yang dianggap sebagai pelopor disiplin Fiqh al-Lughah, yaitu kajian ilmiah mengenai karakteristik, sejarah, dan perkembangan bahasa Arab.

4. Al-Ittiba' wa al-Muzawwijah

Karya mengenai bahasa dan sastra Arab.

5. Ikhtilaf al-Nahwiyyin

Pembahasan mengenai perbedaan pendapat para ahli nahwu.

6. Jami' al-Ta'wil

Kitab tafsir Al-Qur'an yang banyak memanfaatkan pendekatan kebahasaan.

Pengaruh Besar terhadap Perkembangan Studi Islam

1. Perintis Disiplin Fiqh al-Lughah

Ibnu Faris merupakan ulama pertama yang mempopulerkan istilah Fiqh al-Lughah melalui kitab Al-Shahibi. Setelah beliau, istilah ini menjadi nama resmi sebuah cabang ilmu bahasa Arab yang dipakai hingga sekarang.

2. Mengembangkan Teori Asal-Usul Bahasa

Beliau berpendapat bahwa bahasa berasal dari wahyu Allah kepada Nabi Adam, bukan hasil kesepakatan manusia semata.

Pendapat ini didasarkan pada firman Allah:

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya."
(QS. Al-Baqarah: 31).

Pandangan tersebut kemudian dikenal sebagai teori tawqifi, dan menjadi salah satu pembahasan penting dalam ilmu bahasa, usul fikih, serta ilmu kalam.

3. Menjelaskan Sistem Pembentukan Kata

Ibnu Faris memberikan penjelasan sistematis mengenai pembentukan kata-kata berakar empat huruf (ruba'i), terutama melalui konsep al-naht (penggabungan kata) dan al-mazid (penambahan huruf). Teori ini banyak dimanfaatkan oleh ahli sharaf dan ahli bahasa sesudahnya.

4. Memberi Warna Baru dalam Tafsir

Pendekatan linguistik yang beliau gunakan dalam memahami Al-Qur'an memberi pengaruh besar kepada para mufasir setelahnya. Banyak penafsiran yang berangkat dari analisis akar kata sebagaimana metode yang beliau kembangkan.

5. Mempengaruhi Leksikografi Arab

Metode penyusunan Mu'jam Maqayis al-Lughah menjadi inspirasi bagi banyak kamus Arab sesudahnya. Hingga hari ini kitab tersebut masih menjadi salah satu referensi utama dalam penelitian bahasa Arab, tafsir, hadis, dan fikih.

Penutup

Ibnu Faris adalah sosok ulama ensiklopedis yang berhasil menggabungkan keluasan ilmu fikih, tafsir, sastra, dan bahasa dalam satu pribadi. Warisan terbesarnya bukan hanya berupa kitab-kitab yang masih dipelajari hingga kini, tetapi juga sebuah cara berpikir ilmiah dalam memahami bahasa Arab melalui akar makna setiap kata.

Melalui Mu'jam Maqayis al-Lughah dan Al-Shahibi fi Fiqh al-Lughah, beliau meletakkan fondasi yang kokoh bagi perkembangan linguistik Arab dalam khazanah Islam. Tidak berlebihan jika Ibnu Faris dikenang sebagai salah seorang arsitek terbesar ilmu bahasa Arab yang pengaruhnya terus hidup hingga lebih dari seribu tahun setelah wafatnya.

HUKUM KEPUTIHAN (RATHAH FARJ) YANG KELUAR TERUS-MENERUS

PERTANYAAN:

Apakah keputihan yang keluar terus-menerus dihukumi najis atau suci?

JAWABAN:

Keputihan yang keluar dari bagian luar kemaluan (zāhir) dihukumi suci. Adapun keputihan yang berasal dari bagian dalam kemaluan (bāṭin) dihukumi najis. Namun, apabila keputihan tersebut keluar secara terus-menerus sehingga sulit dihindari (mustamirr), maka hukumnya ma‘fu (mendapat keringanan), sehingga tidak menjadi penghalang dalam beribadah.

Penjelasan:

· Anggota zāhir (luar): bagian kemaluan yang tampak ketika seseorang dalam posisi jongkok, atau bagian yang wajib dibasuh saat beristinjak.
· Anggota bāṭin (dalam): bagian yang tidak tampak ketika jongkok dan tidak wajib dibasuh ketika beristinjak.

Jika keputihan keluar dari bagian zāhir, maka suci. Jika keluar dari bagian bāṭin, maka najis, tetapi jika sulit dihindari karena keluar terus-menerus, maka dimaafkan.

---

REFERENSI:

١. تُحْفَةُ الْحَبِيبِ عَلَى شَرْحِ الْخَطِيبِ (١/ ١٥٥):

قَوْلُهُ: (وَرُطُوبَةُ الْفَرْجِ) اعْلَمْ أَنَّ رُطُوبَةَ الْفَرْجِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

1. طَاهِرَةٌ قَطْعًا: وَهِيَ النَّاشِئَةُ مِمَّا يَظْهَرُ مِنَ الْمَرْأَةِ عِنْدَ قُعُودِهَا عَلَى قَدَمَيْهَا.
2. طَاهِرَةٌ عَلَى الْأَصَحِّ: وَهِيَ مَا يَصِلُ إِلَيْهَا ذَكَرُ الْمُجَامِعِ.
3. نَجِسَةٌ: وَهِيَ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ.

وَلَكِنْ هَذِهِ الْأَقْسَامُ فِي فَرْجِ الْآدَمِيَّةِ لَا فِي فَرْجِ الْبَهِيمَةِ، لِأَنَّ الْبَهِيمَةَ لَيْسَ لَهَا إِلَّا مَنْفَذٌ وَاحِدٌ لِلْبَوْلِ وَالْجِمَاعِ.

وَالْحَاصِلُ: مَتَى خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ، لِأَنَّهَا حِينَئِذٍ رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ، وَإِذَا خَرَجَتْ إِلَى الظَّاهِرِ حُكِمَ بِنَجَاسَتِهَا. فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ فَلَا تَنْجُسُ، وَيُحْكَمُ بِطَهَارَتِهَا.

وَلَا يَجِبُ غَسْلُ الْوَلَدِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ أُمِّهِ، وَالْأَمْرُ بِغَسْلِ الذَّكَرِ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ.


٢. الْفَتَاوَى الْفِقْهِيَّةُ الْكُبْرَى (١/ ٢٧):

وَسُئِلَ - مَتَّعَ اللَّهُ بِحَيَاتِهِ - عَنْ رُطُوبَةِ الْفَرْجِ الْمَنْصُوصِ عَلَى طَهَارَتِهَا، هَلْ تَشْمَلُ الرُّطُوبَةَ الْوَاقِعَةَ حَالَ الْجِمَاعِ الَّتِي قَدْ تَخْرُجُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَمْ لَا؟

فَأَجَابَ: بِأَنَّ الَّذِي صَرَّحُوا بِهِ أَنَّ رُطُوبَةَ فَرْجِ الْحَيَوَانِ الطَّاهِرِ طَاهِرَةٌ إِنْ كَانَتْ فِي الظَّاهِرِ، وَهِيَ مَا يُوجَدُ عِنْدَ مُلْتَقَى الشَّفْرَيْنِ، وَلَا فَرْقَ فِي طَهَارَةِ هَذِهِ بَيْنَ الْمُنْفَصِلَةِ وَالْمُتَّصِلَةِ، خِلَافًا لِمَنْ وَهَمَ فِيهِ.

بِخِلَافِ رُطُوبَةِ الْبَاطِنِ الَّذِي وَرَاءَ مُلْتَقَى الشَّفْرَيْنِ فَإِنَّهَا نَجِسَةٌ، لَكِنْ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا إِلَّا إِنِ انْفَصَلَتْ، لِأَنَّ مَا فِي الْجَوْفِ لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ حَتَّى يَنْفَصِلَ.

وَمَعَ ذَلِكَ فَلَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَةِ ذَكَرِ الْمُجَامِعِ، لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ خُرُوجِ الرُّطُوبَةِ الْبَاطِنَةِ النَّجِسَةِ. فَإِنْ عُلِمَ خُرُوجُهَا مَعَ الْجِمَاعِ نَجَّسَتْ ظَاهِرَ الْفَرْجِ وَذَكَرَ الْمُجَامِعِ.

فَعُلِمَ أَنَّ الرُّطُوبَةَ الْخَارِجَةَ حَالَ الْجِمَاعِ:

· إِنْ عُلِمَ أَنَّهَا مِنَ الظَّاهِرِ أَوْ شُكَّ فِيهَا: حُكِمَ بِطَهَارَتِهَا.
· وَإِنْ عُلِمَ أَنَّهَا مِنَ الْبَاطِنِ: كَانَتْ نَجِسَةً.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

KESIMPULAN:

Sumber Keputihan Hukum Keterangan
Dari bagian luar (zāhir) Suci Bagian yang tampak saat jongkok dan wajib dibasuh saat istinjak.

Dari bagian dalam (bāṭin) Najis Bagian yang tidak tampak saat jongkok.
Keluar terus-menerus Ma‘fu (dimaafkan) Karena sulit dihindari, tidak membatalkan ibadah.

Saat berhubungan, jika ragu asalnya Suci Karena asalnya dari luar.
Saat berhubungan, jika yakin dari dalam Najis Dan wajib disucikan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

DOA DAN DZIKIR YANG DISUNNAHKAN SETELAH SHALAT JUM'AT

DOA DAN DZIKIR YANG DISUNNAHKAN SETELAH SHALAT JUM'AT

Jawaban:

Disunnahkan setelah salam dari shalat Jum'at, sebelum melipat kedua kaki dan sebelum berbicara, untuk membaca:

· Surah Al-Fātiḥah 7 kali,
· Surah Al-Ikhlāṣ 7 kali,
· Surah Al-Falaq (Al-Mu'awwidzatain) 7 kali,
· Surah An-Nās (Al-Mu'awwidzatain) 7 kali.

Setelah itu, dianjurkan membaca doa:

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ، يَا رَحِيمُ يَا وَدُودُ، اِغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ.



Referensi:

١. فَتْحُ الْمُعِينِ (ج ١، ص ٢١٠)

وَأَنْ يَقْرَأَ عُقْبَ سَلَامِهِ مِنَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ أَنْ يَثْنِيَ رِجْلَيْهِ - وَفِي رِوَايَةٍ: قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ - الْفَاتِحَةَ وَالْإِخْلَاصَ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ سَبْعًا سَبْعًا؛ لِمَا وَرَدَ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَأُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ بِعَدَدِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ.


٢. إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ (ج ٢، ص ١٠٦)

(قَوْلُهُ: لِمَا وَرَدَ أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا) أَيِ الْفَاتِحَةَ وَمَا بَعْدَهَا.

وَوَرَدَ أَيْضًا أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا حَفِظَ اللَّهُ لَهُ دِينَهُ وَدُنْيَاهُ وَأَهْلَهُ وَوَلَدَهُ.

وَوَرَدَ أَيْضًا عَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -:
«مَنْ قَرَأَ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، وَ{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ}، وَ{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} سَبْعَ مَرَّاتٍ، أَعَاذَهُ اللَّهُ بِهَا مِنَ السُّوءِ إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى».

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -:
«مَنْ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ مَا تَقَدَّمَ:
اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ، يَا رَحِيمُ يَا وَدُودُ، اِغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ
أَغْنَاهُ اللَّهُ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ».

وَقَالَ أَنَسٌ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -:
«مَنْ قَالَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَبْعِينَ مَرَّةً:
اَللَّهُمَّ اِغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ
لَمْ يَمُرَّ عَلَيْهِ جُمُعَتَانِ حَتَّى يُغْنِيَهُ اللَّهُ تَعَالَى».


فَوَائِدُ إِضَافِيَّةٌ:

الْفَائِدَةُ الْأُولَى:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - عَنِ النَّبِيِّ - ﷺ - أَنَّهُ قَالَ:
«مَنْ قَالَ بَعْدَمَا تَقْضِي الْجُمُعَةَ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مِائَةَ أَلْفِ ذَنْبٍ، وَلِوَالِدَيْهِ أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ أَلْفَ ذَنْبٍ».

الْفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ:
عَنْ سَيِّدِي عَبْدِ الْوَهَّابِ الشَّعْرَانِيِّ - نَفَعَنَا اللَّهُ بِهِ - أَنَّ مَنْ وَاظَبَ عَلَى قِرَاءَةِ هَذَيْنِ الْبَيْتَيْنِ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ، تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ، وَهُمَا:

إِلَٰهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا ... وَلَا أَقْوَىٰ عَلَىٰ نَارِ الْجَحِيمِ
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوبِي ... فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيمِ

وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهَا تُقْرَأُ خَمْسَ مَرَّاتٍ بَعْدَ الْجُمُعَةِ.

الْفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ:
عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَوَقَفَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ، وَقَالَ:
«اَللَّهُمَّ أَجَبْتُ دَعْوَتَكَ، وَصَلَّيْتُ فَرِيضَتَكَ، وَانْتَشَرْتُ كَمَا أَمَرْتَنِي، فَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ، وَقَدْ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ، ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ، وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الجمعة: ٩-١٠]».



Kesimpulan:

Amalan Keterangan

Membaca Al-Fātihah, Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, An-Nās masing-masing 7 kali Disunnahkan sebelum berbicara atau melipat kaki setelah salam.
Doa: Allāhumma yā Ghaniyyu yā Ḥamīd... Dibaca setelah dzikir di atas, untuk memohon kecukupan dan kekayaan halal.
Dzikir tambahan (سبحان الله العظيم وبحمده 100x) Mendapat ampunan besar.
Dua bait syair Imam Syahrāni Dibaca untuk husnul khatimah.
Doa setelah shalat di pintu masjid Berdasarkan riwayat dari 'Irāk bin Mālik.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

HUKUM ZAKAT PERTANIAN KELAPA SAWIT MENURUT 4 MAZHAB

HUKUM ZAKAT PERTANIAN KELAPA SAWIT MENURUT 4 MAZHAB


Jawaban:

Tidak wajib zakat, karena kelapa sawit bukan termasuk makanan pokok dan bukan pula buah-buahan yang dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mengalami kerusakan atau pembusukan. Oleh karena itu, menurut ketentuan fikih, hasil pertanian kelapa sawit tidak termasuk komoditi yang dikenai kewajiban zakat pertanian.

Namun mazhab Imam Abū Ḥanīfah berpendapat bahwa zakat wajib dikeluarkan pada setiap hasil tanaman dan pepohonan yang dibudidayakan, baik berupa buah-buahan, sayur-mayur, biji-bijian, maupun tanaman hijau.


Referensi:

١. الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (٢/٢٤)

٣ـ الزُّرُوعُ وَالثِّمَارُ:

وَإِنَّمَا تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيهَا إِذَا كَانَتْ مِمَّا يُقْتَاتُهُ النَّاسُ فِي أَحْوَالِهِمِ العَادِيَّةِ، وَيُمْكِنُ ادِّخَارُهُ دُونَ أَنْ يَفْسُدَ، وَذَلِكَ مِنَ الثِّمَارِ: الرُّطَبُ وَالعِنَبُ، وَمِنَ الزُّرُوعِ: الحِنْطَةُ، وَالشَّعِيرُ، وَالأَرُزُّ، وَالعَدَسُ، وَالحُمُّصُ، وَالذُّرَةُ ... إِلَخْ، وَلَا عِبْرَةَ بِمَا يُقْتَاتُ بِهِ فِي أَيَّامِ الشِّدَّةِ وَالجُوعِ.

دَلِيلُ وُجُوبِ الزَّكَاةِ فِيهَا:
قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ﴾ [الأنعام: ١٤١].
وَنُقِلَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -: حَقَّهُ: إِخْرَاجُ زَكَاتِهِ.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى:
﴿أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ﴾ [البقرة: ٢٦٧].

وَدَلِيلُ اخْتِصَاصِهَا بِمَا ذُكِرَ:
مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ (١٦٠٣) وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ (٦٤٤) عَنْ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ - قَالَ: «أَمَرَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - أَنْ يُخْرَصَ العِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ النَّخْلُ، وَتُؤْخَذَ زَكَاتُهُ زَبِيبًا، كَمَا تُؤْخَذُ صَدَقَةُ النَّخْلِ تَمْرًا». وَالخَرْصُ: تَقْدِيرُ مَا يَكُونُ مِنَ الرُّطَبِ تَمْرًا، وَمِنَ العِنَبِ زَبِيبًا.

وَرَوَى الحَاكِمُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ: عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا -، وَكَانَ النَّبِيُّ - ﷺ - قَدْ بَعَثَهُمَا إِلَى اليَمَنِ يُعَلِّمَانِ النَّاسَ أَمْرَ دِينِهِمْ وَقَالَ لَهُمَا: «لَا تَأْخُذُوا الصَّدَقَةَ إِلَّا مِنْ هَذِهِ الأَرْبَعَةِ: الشَّعِيرِ، وَالحِنْطَةِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ».

وَرَوَى أَيْضًا عَنْ مُعَاذٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -: أَنَّ رَسُولَ اللهِ - ﷺ - قَالَ: «وَأَمَّا القُثَّاءُ، وَالبِطِّيخُ، وَالرُّمَّانُ، وَالقَضْبُ، فَقَدْ عَفَا عَنْهُ رَسُولُ اللهِ - ﷺ -». قَالَ: وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَقَدْ حَكَمَ الحَافِظُ الذَّهَبِيُّ أَيْضًا بِصِحَّتِهِ. [المستدرك: ١/ ٤٠١].

القَضْبُ: النَّبَاتُ الَّذِي يُقْطَعُ وَيُؤْكَلُ طَرِيًّا.

وَقِيسَ عَلَى الحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ كُلُّ مَا يُقْتَاتُ بِهِ غَالِبًا، لِأَنَّ الِاقْتِيَاتَ ضَرُورِيٌّ لِلْحَيَاةِ، فَوُجِبَ فِيهَا حَقٌّ لِأَصْحَابِ الضَّرُورَاتِ وَالحَاجَاتِ.


بَابُ صَدَقَةِ الزَّرْعِ

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ﴾ [الأنعام: ١٤١] دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ إِنَّمَا جُعِلَتِ الزَّكَاةُ عَلَى الزَّرْعِ.

أَمَّا الزُّرُوعُ فَمِنَ الأَمْوَالِ المُزَكَّاةِ، وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِي أَجْنَاسِ مَا تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ، فَلِلْفُقَهَاءِ فِي ذَلِكَ سَبْعَةُ مَذَاهِبَ:

وَالمَذْهَبُ السَّابِعُ: إِنَّهَا وَاجِبَةٌ فِي كُلِّ مَزْرُوعٍ وَمَغْرُوسٍ مِنْ فَوَاكِهَ، وَبُقُولٍ، وَحُبُوبٍ، وَخُضَرٍ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ، اسْتِدْلَالًا بِعُمُومِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ﴾ [البقرة: ٢٦٧]، وَبِعُمُومِ قَوْلِهِ: ﴿وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ﴾ [الأنعام: ١٤١] إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ﴾، وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ - ﷺ - أَنَّهُ قَالَ: «فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ العُشْرُ» وَهُوَ عَلَى عُمُومِهِ، وَلِأَنَّهُ مَزْرُوعٌ فَاقْتَضَى أَنْ يَجِبَ عُشْرُهُ كَالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ.

Kesimpulan:

Mazhab Hukum Zakat pada Kelapa Sawit
Syafi'i (pendapat mayoritas) Tidak wajib, karena bukan makanan pokok dan tidak bisa disimpan lama.
Abu Hanifah Wajib, karena mencakup semua hasil tanaman dan buah-buahan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Hukum Pemberian Gif Virtual


Assalamualaikum izin bertanya Ustadz Bagaimana hukum memberikan virtual gif kepada penyanyi dan si penerima terutama yg lagi rame di lomba academi Indosiar. Krn kalau gak ada gif maskipun mempunyai suara bagus percuma gak akan menang?

Jawaban:
Haram sebab ada unsur mendukung dan menyemarakkan perbuatan maksiat

.إسعاد الرفيق الجزء الأول صح127
(و) منها (الإعانة على المعصية) أى على معصية من معاصى الله بقول أو فعل أو غيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كبيرة كذلك كم في الزواجر قال فيها وذكرى لهذين أى الرضا بها والاعانة عليها

تحفة المحتاج في شرح المنهاج ج 10 ص 68
ووسيلة الطاعة طاعة كما أن وسيلة المعصية معصية ، ومن ثم أثيب عليه ثواب الواجب كما قاله القاضي وقوله تعالى { وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه } أي : يجازي عليه على أن جمعا أطلقوا أنه قربة وحملوا النهي على من ظن من نفسه أنه لا يفي بالنذر ، أو اعتقد أن له تأثيرا ما وقد يوجه بأن اللجاج وسيلة لطاعة أيضا وهي الكفارة أو ما التزمه ويؤيده ما يأتي أن الملتزم بالنذرين قربة وإنما يفترقان في أن المعلق به في نذر اللجاج غير محبوب للنفس وفي أحد نوعي نذر التبرر محبوب لها وقد يجاب بأن نذر اللجاج لا يتصور فيه قصد التقرب فلم يكن وسيلة لقربة من هذه الحيثية

 
.إسعاد الرفيق الجزء الأول صح 136
(ويحرم) بل هو من الكبائر بيع الشيئ الحلال الطاهر على من يعلم اي البائع أنه يريد أن يعصي الله تعالى به كبيع العنب أو الزبيب أو نحوهما ممن يعلم أنه يعصره خمرا والأمرد ممن يعلم أنه يفجر به والأمة ممن يحملها على البغاء والخشب ونحوه ممن يتخذه آلة لهو إلى -أن قال -وعد هذه السبع في الزواجر من الكبائر. قال لأن للوسائل حكم المقاصد والمقاصد في هذه كلها كبائر فلتكن وسائلها كذلك والظن في ذلك كالعلم لكن بالنسبة للتحريم

إعانة الطالبين الجزء الثالث ص : 29 - 30 مكتبة دار الفكر
(وَ) حَرُمَ أَيْضًا ( بَيْعُ نَحْوِ عِنَبٍ مِمَّنْ ) عَلِمَ أَوْ ( ظَنَّ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ مُسْكِرًا) لِلشُّرْبِ وَالْأَمْرَدِ مِمَّنْ عُرِفَ بِالْفُجُورِ بِهِ وَالدِّيكِ لِلْمُهَارَشَةِ وَالْكَبْشِ لِلْمُنَاطَحَةِ وَالْحَرِيرِ لِرَجُلٍ يَلْبَسُهُ وَكَذَا بَيْعُ نَحْوِ الْمِسْكِ لِكَافِرٍ يَشْتَرِي لِتَطْيِيبِ الصَّنَمِ وَالْحَيَوَانِ لِكَافِرٍ عَلِمَ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ بِلَا ذَبْحٍ لِأَنَّ الْأَصَحَّ أَنَّ الْكُفَّارَ مُخَاطَبُونَ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ كَالْمُسْلِمِينَ عِنْدَنَا خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فَلَا يَجُوزُ الْإِعَانَةُ عَلَيْهِمَا وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي إِلَى مَعْصِيَةٍ يَقِينًا أَوْ ظَنًّا وَمَعَ ذَلِكَ يَصِحُّ الْبَيْعُ وَيُكْرَهُ بَيْعُ مَا ذُكِرَ مِمَّنْ تُوُهِّمَ مِنْهُ ذَلِكَ ( وَقَوْلُهُ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي إِلَى مَعْصِيَةٍ ) بَيَانٌ لِنَحْوِ وَذَلِكَ كَبَيْعِ الدَّابَّةِ لِمَنْ يُكَلِّفُهَا فَوْقَ طَاقَتِهَا وَالْأَمَةِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَالْخَشَبِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهُ آلَةَ لَهْوٍ وَإِطْعَامِ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا ( قَوْلُهُ وَمَعَ ذَلِكَ إلَخْ ) رَاجِعٌ لِجَمِيعِ مَا قَبْلَهُ أَيْ وَمَعَ تَحْرِيمِ مَا ذُكِرَ مِنْ بَيْعِ نَحْوِ الْعِنَبِ وَمَا ذُكِرَ بَعْدُ يَصِحُّ الْبَيْعُ اهـ

Karena Ijazah Saja Tidak Cukup

Terlalu Lama Belajar, Kapan Mulai Bertindak? Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa jalan menuju kesuksesan adalah sekolah yang tinggi,...