At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Kamis, 20 Agustus 2026
Rahasia Kekuatan Orang Mukmin: Bukan Fisik, Ini Kekuatan yang Sebenarnya
Selasa, 18 Agustus 2026
Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan
Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan
Az-Zamakhsyari berkata:
نِصْفُ رَأْيِكَ مَعَ أَخِيكَ فَشَاوِرْهُ لِيَكْمُلَ لَكَ الرَّأْيُ
“Separuh pendapatmu ada pada saudaramu, maka bermusyawarahlah agar pendapatmu menjadi sempurna.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 303)
Berikut penjelasannya:
Manusia memiliki keterbatasan. Sehebat apa pun seseorang dalam berpikir dan seluas apa pun pengalamannya, tetap ada sisi persoalan yang mungkin tidak terlihat. Karena itu, Islam mengajarkan musyawarah sebagai jalan untuk menyempurnakan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
Pendapat pribadi sering kali hanya melihat persoalan dari satu sisi. Ketika kita berdiskusi dengan orang lain, muncul sudut pandang baru yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Dari sinilah sebuah keputusan menjadi lebih matang.
Allah ﷻ berfirman:
وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa musyawarah sebelum keputusan, tawakal setelah keputusan. Orang yang mau mendengar pendapat orang lain menunjukkan kedewasaan dalam berpikir. Hasan al-Bashri menjelaskan hikmah perintah dalam ayat tersebut:
أَمَرَهُ بِمُشَاوَرَتِهِمْ لِيَسْتَنَّ بِهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَتَّبِعَهُ فِيهَا الْمُؤْمِنُونَ، وَإِنْ كَانَ عَنْ مُشَاوَرَتِهِمْ غَنِيًّا
“Allah memerintahkan beliau bermusyawarah dengan mereka agar kaum Muslimin menjadikannya sebagai teladan dan orang-orang beriman mengikutinya dalam hal tersebut, meskipun beliau sebenarnya tidak membutuhkan musyawarah mereka.” (Al-Ahkam as-Sulthaniyah, 1/53)
Artinya, musyawarah bukan sekadar teknik mengambil keputusan, tetapi juga teladan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia justru perlu menjadi orang yang mampu mendengar.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَمْرًا فَشَاوَرَ فِيهِ امْرَأً مُسْلِمًا، وَفَّقَهُ اللَّهُ لِأَرْشَدِ أُمُورِهِ
“Siapa yang akan mengambil keputusan, lalu minta pendapat kepada muslim lain, maka Allah akan menunjukkannya ke jalan yang paling benar.” (HR. Ath-Thabarani, 1/181)
Karena itu, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu hanya berdasarkan pemikiran sendiri, terlebih jika keputusan tersebut menyangkut kepentingan banyak orang.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna akalnya dan mendapatkan bimbingan wahyu. Namun beliau tetap banyak bermusyawarah dengan para sahabat.
Dalam Shahih Ibnu Hibban Abu Hurairah berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ كَانَ أَكْثَرَ مُشَاوَرَةً لِأَصْحَابِهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya daripada Rasulullah ﷺ.” (HR. Ibnu Hibban, 4872)
Umar bin Abdul Aziz juga pernah berkata:
إِنَّ الْمُشَاوَرَةَ وَالْمُنَاظَرَةَ بَابَا رَحْمَةٍ وَمِفْتَاحَا بَرَكَةٍ، لَا يَضِلُّ مَعَهُمَا رَأْيٌ وَلَا يُفْقَدُ مَعَهُمَا حَزْمٌ
“Sesungguhnya musyawarah dan dialog adalah dua pintu rahmat dan dua kunci keberkahan. Bersama keduanya, sebuah pendapat tidak mudah tersesat dan ketegasan tidak akan hilang.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 309)
Musyawarah yang sehat bukan arena mempertahankan ego. Musyawarah adalah proses mencari kebenaran dan kemaslahatan, dalam musyawarah kita perlu belajar mendengar, menghargai perbedaan, menerima kritik, dan bersedia memperbaiki pendapat ketika ada pertimbangan yang lebih kuat.
Epilog
Setelah musyawarah selesai dan keputusan telah ditetapkan, jangan terus terjebak dalam keraguan. Jalankan keputusan dengan penuh tanggung jawab dan bertawakallah kepada Allah.
Bisa jadi pendapat kita hanya melihat sebagian persoalan, sementara orang lain melihat sisi yang berbeda. Pendapat kita mungkin setengah, pendapat saudara kita melengkapinya, dan musyawarah menjadi jalan menuju keputusan yang lebih sempurna.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #musyawarah #diskusi
Senin, 17 Agustus 2026
Tiga “Jimat” Jenderal Soedirman yang Membuat dirinya Selalu Lolos dari Kepungan Belanda
Tiga “Jimat” Panglima Besar Jenderal Soedirman
Nama Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak hanya dikenang karena keberanian dan strategi militernya, tetapi juga karena keteguhan iman dan kedisiplinannya dalam beribadah. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ada sebuah kisah menarik tentang “tiga jimat” yang menjadi pegangan beliau.
Tentu, istilah jimat di sini bukan berarti benda keramat yang memiliki kekuatan gaib. “Jimat” tersebut lebih tepat dipahami sebagai prinsip hidup dan amalan yang beliau pegang teguh.
1. Selalu Menjaga Wudhu
Salah satu kebiasaan yang sering dikisahkan dari Jenderal Soedirman adalah berusaha menjaga wudhu. Dalam kondisi bergerilya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ketika sakit, ibadah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Menjaga wudhu mengajarkan sebuah kedisiplinan spiritual: seorang pejuang tidak hanya menjaga kekuatan fisik, tetapi juga menjaga kesucian diri.
2. Menjaga Shalat Tepat Waktu
Perjuangan gerilya menghadapkan Soedirman pada berbagai keterbatasan. Namun, keadaan perang tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.
Shalat menjadi sumber kekuatan batin. Seorang pemimpin yang menghadapi tekanan berat membutuhkan ketenangan jiwa, dan salah satu jalannya adalah mendekat kepada Allah.
Inilah pelajaran penting bagi kita: sesibuk apa pun seseorang dalam menjalankan tugas, jangan sampai kesibukan membuatnya melupakan kewajiban kepada Allah.
3. Ikhlas Berjuang untuk Rakyat dan Bangsa
“Jimat” yang ketiga adalah ketulusan dalam perjuangan. Soedirman tidak berjuang demi popularitas, kekayaan, atau kepentingan pribadi. Ia mempertaruhkan kesehatan, kenyamanan, bahkan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan dan membela rakyat.
Ketulusan inilah yang membuat perjuangan memiliki nilai yang besar. Sebab, perjuangan tanpa keikhlasan mudah berubah menjadi ambisi pribadi.
Pelajaran untuk Kita
Kisah tiga “jimat” Soedirman sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Kita mungkin tidak sedang menghadapi perang bersenjata, tetapi setiap orang memiliki medan perjuangannya sendiri.
Ada yang berjuang mendidik anak, mengajar santri, mencari nafkah, memimpin lembaga, melayani masyarakat, atau menjaga amanah pekerjaan.
Dari Soedirman kita belajar bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan hanya berasal dari keberanian dan kecerdasan, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah, kedisiplinan dalam ibadah, dan ketulusan dalam menjalankan amanah.
Jika tiga hal itu dijaga: wudhu, shalat, dan keikhlasan dalam berjuang, maka seorang manusia memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Bukan benda keramat yang membuat seseorang kuat. Iman, disiplin, doa, dan ketulusanlah yang membentuk kekuatan sejati.
Cemas Mikirin Anak Malah Berujung Surga: Mengapa Mengurus Anak adalah Ibadah Terbaik Anda?
Cemas Mikirin Anak Malah Berujung Surga: Mengapa Mengurus Anak adalah Ibadah Terbaik Anda?
إِنَّ بَعْضَ الْهَمِّ الَّذِي يَقَعُ بِأَحَدِكُمْ عَلَى وَلَدِهِ لَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عِبَادَةِ مِائَةِ عَامٍ
“Sesungguhnya sebagian kegelisahan yang dirasakan seseorang karena anaknya sungguh lebih dicintai Allah Ta‘ala daripada ibadah seratus tahun.” (Syarh kitab Al-Ibanah, 28/48)
Berikut penjelasannya:
Menjadi orang tua berarti bersedia memikul sebuah amanah yang tidak ringan. Sejak seorang anak lahir, perhatian orang tua tidak lagi hanya tertuju kepada dirinya sendiri. Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi, dan masa depan yang harus dipersiapkan.
Karena itu, kekhawatiran terhadap anak bukan selalu tanda kelemahan. Dalam keadaan tertentu, ia justru merupakan bukti kasih sayang sekaligus tanggung jawab.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya membuat anak kenyang, sehat, dan sukses secara duniawi. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: menyelamatkan keluarga dari keburukan dan mengantarkan mereka menuju kebaikan.
Ada orang tua yang malamnya tidak tenang memikirkan anak. Ia khawatir anaknya sakit, salah pergaulan, meninggalkan kewajiban, gagal dalam pendidikan, atau kelak tidak mampu menjalani kehidupan.
Kegelisahan seperti itu jangan dianggap sia-sia apabila mendorong kepada doa, usaha, pendidikan, nasihat, dan kesabaran.
Bahkan mencari nafkah untuk anak pun memiliki nilai yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika seseorang keluar berusaha mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah.” (HR. Ath-Thabarani, 282)
Begitu pula Nabi ﷺ menjelaskan bahwa nafkah untuk keluarga memiliki kedudukan yang sangat utama:
أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ
“Dinar terbaik yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya” (HR. At-Tirmidzi, 1966)
Maka seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore untuk memenuhi kebutuhan keluarganya jangan merasa bahwa dirinya jauh dari ibadah. Jika niatnya benar, mencari nafkah untuk keluarga pun dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.
Ibnul Jauzi berkata:
فَمَنْ رُزِقَ وَلَدًا فَلْيَجْتَهِدْ مَعَهُ، وَالتَّوْفِيقُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ
“Barang siapa dikaruniai seorang anak, hendaknya ia bersungguh-sungguh mendidiknya; adapun taufik berada setelah usaha tersebut.” (Al-Hitstsu ala Hifdzil Ilmi, 17)
Inilah prinsip penting dalam pendidikan anak adalah orang tua wajib berusaha, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Kita mungkin telah mengajarkan agama, memberi teladan, memilihkan lingkungan yang baik, menyekolahkan, menasihati, bahkan mendoakan setiap malam. Namun anak tetap memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Karena itu, jangan mudah berputus asa ketika hasil pendidikan belum terlihat. Tugas kita adalah menanam; Allah yang menumbuhkan.
Ibrahim bin Adham bahkan pernah berkata ketika seseorang memujinya karena dapat berkonsentrasi beribadah karena hidup membujang:
لَرَوْعَةٌ مِنْكَ بِسَبَبِ الْعِيَالِ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيعِ مَا أَنَا فِيهِ
“Sesungguhnya kegelisahanmu karena mengurus keluarga lebih utama daripada seluruh keadaan ibadah yang sedang aku jalani.” (Ihya Ulumuddin, 2/23)
Pesannya bukan meremehkan ibadah, tetapi menunjukkan besarnya nilai tanggung jawab terhadap keluarga.
Epilog
Jika hari ini Anda lelah memikirkan anak, jangan merasa bahwa semua itu sia-sia. Jika Anda bekerja keras untuk mereka, mendidik mereka, menasihati mereka, dan menangis dalam doa untuk masa depan mereka, yakinlah bahwa Allah melihat semua perjuangan itu.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #pendidikan #anak
Minggu, 16 Agustus 2026
Memahami Sistem Desil 1–10: Indikator Kesejahteraan dan Leveling Penerima Bansos
Memahami Sistem Desil 1–10: Indikator Kesejahteraan dan Penentu Penerima Bansos
Belakangan ini istilah desil semakin sering muncul ketika masyarakat membicarakan bantuan sosial. Namun, masih banyak yang mengira bahwa desil ditentukan hanya berdasarkan jumlah penghasilan. Padahal, pengelompokan kesejahteraan rumah tangga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai indikator sosial dan ekonomi.
Secara sederhana, desil adalah pembagian penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.
Dalam kebijakan perlindungan sosial, data kesejahteraan digunakan pemerintah untuk membantu menentukan sasaran berbagai program bantuan. Saat ini pemerintah mengembangkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data sosial ekonomi yang terintegrasi.
Desil 1–4: Kelompok Prioritas Perlindungan Sosial
Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Kondisi ekonomi rumah tangga dalam kelompok ini umumnya sangat terbatas sehingga kebutuhan dasar menjadi persoalan utama.
Desil 2 masih termasuk kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah. Kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari relatif terbatas dan cukup rentan terhadap berbagai tekanan ekonomi.
Desil 3 berada sedikit di atas kelompok terbawah. Namun, rumah tangga dalam kelompok ini masih memiliki kerentanan tinggi. Kehilangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, atau musibah keluarga dapat dengan cepat memperburuk kondisi ekonomi.
Desil 4 termasuk kelompok 40 persen terbawah. Kondisinya mungkin lebih baik dibanding Desil 1–3, tetapi masih rentan terhadap guncangan ekonomi.
Karena itu, kelompok desil rendah menjadi salah satu perhatian utama dalam berbagai program perlindungan dan penanggulangan kemiskinan. Namun, berada pada desil tertentu tidak otomatis berarti seseorang pasti menerima semua jenis bansos. Setiap program memiliki kriteria dan mekanisme penetapan penerima masing-masing.
Bagaimana dengan Desil 5?
Desil 5 dapat dipandang sebagai kelompok transisi. Kondisi ekonominya berada di sekitar kelompok menengah bawah. Tidak semua rumah tangga dalam kelompok ini menjadi penerima bansos reguler, tetapi sebagian program sosial dapat memiliki kriteria yang berbeda sesuai tujuan program.
Artinya, desil bukanlah sebuah label permanen bahwa seseorang "miskin" atau "kaya". Status tersebut merupakan hasil pemeringkatan kondisi sosial ekonomi berdasarkan data yang tersedia.
Desil 6–10: Tingkat Kesejahteraan Lebih Tinggi
Semakin tinggi angka desil, secara umum semakin tinggi pula posisi kesejahteraan rumah tangga dibanding kelompok di bawahnya.
Desil 6 berada pada kelompok menengah.
Desil 7 menunjukkan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih baik.
Desil 8 termasuk kelompok yang semakin mapan.
Desil 9 berada dalam kelompok kesejahteraan tinggi.
Sedangkan Desil 10 merupakan 10 persen kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi dalam pemeringkatan tersebut.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada satu angka pengeluaran per kapita yang berlaku secara kaku untuk seluruh Indonesia sebagai batas resmi setiap desil. Angka desil dapat berubah mengikuti distribusi kondisi sosial ekonomi masyarakat dan metode pemutakhiran data.
Mengapa Penghasilan Saja Tidak Menentukan?
Bayangkan dua keluarga sama-sama memiliki penghasilan Rp4 juta per bulan. Keluarga pertama hanya terdiri dari dua orang, sementara keluarga kedua harus memenuhi kebutuhan enam anggota keluarga.
Secara nominal, penghasilannya sama. Tetapi beban ekonominya jelas berbeda.
Karena itu, penilaian kesejahteraan tidak cukup hanya melihat pendapatan. Kondisi rumah tangga juga dapat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, karakteristik pekerjaan, pendidikan, akses layanan dasar, serta berbagai indikator sosial ekonomi lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berusaha mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sebuah rumah tangga.
Jangan Salah Memahami Desil
Hal penting yang perlu diketahui adalah desil bukanlah jumlah penghasilan bulanan. Desil juga bukan berarti bahwa setiap orang dalam Desil 1 pasti menerima bansos, sementara semua orang dalam Desil 6–10 pasti tidak menerima bantuan apa pun.
Penetapan penerima bantuan dilakukan berdasarkan ketentuan masing-masing program dan hasil pemadanan serta verifikasi data.
Oleh sebab itu, jika status desil seseorang berubah, hal tersebut tidak selalu berarti pendapatannya tiba-tiba naik atau turun. Perubahan dapat terjadi karena adanya pemutakhiran data, perubahan kondisi rumah tangga, perubahan kepemilikan aset, perubahan jumlah anggota keluarga, maupun perubahan posisi rumah tangga dibandingkan rumah tangga lainnya.
Pentingnya Memeriksa Data
Masyarakat sebaiknya tidak hanya bertanya, "Saya masuk desil berapa?" tetapi juga memastikan apakah data keluarga yang tercatat sudah benar dan mutakhir.
Jika terdapat data yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, masyarakat dapat mengikuti mekanisme pembaruan atau pengaduan data melalui saluran resmi pemerintah.
Pada akhirnya, sistem desil bukan sekadar angka. Ia merupakan instrumen untuk membantu pemerintah membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat dan mengarahkan kebijakan agar semakin tepat sasaran.
Karena itu, memahami desil dengan benar penting agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang beredar, terutama klaim bahwa batas penghasilan tertentu secara otomatis menentukan seseorang masuk Desil 1, 5, atau 10.
Yang terpenting bukan sekadar mengetahui angka desil, tetapi memastikan bahwa data keluarga benar, kondisi sosial ekonomi tercatat secara akurat, dan bantuan diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan sesuai kriteria program.
Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Delusi Merasa Dicintai oleh Orang Lain
Mengenal Erotomania: Ketika Seseorang Merasa Menjadi Orang Paling Spesial
- Membaca Sinyal Rahasia: Mereka percaya bahwa target mengirimkan pesan cinta terselubung lewat media sosial, kedipan mata di televisi, atau gestur tubuh tertentu saat siaran langsung.
- Terus Mengirim Pesan: Penderita akan terus-menerus mencoba menghubungi target melalui pesan singkat, surat, hingga mengirimkan hadiah secara agresif.
- Melakukan Stalking: Mereka sering menguntit target, baik melacak aktivitasnya di dunia maya maupun nekat mendatangi tempat tinggal atau lokasi kerja target secara nyata.
- Cemburu Buta: Muncul rasa cemburu dan marah yang ekstrem jika melihat orang yang "dicintainya" tersebut menikah, berpacaran, atau sekadar berinteraksi dengan orang lain.
- Menolak Realita: Meskipun target atau pihak berwajib sudah memberikan penolakan tegas, penderita akan menganggap penolakan tersebut hanyalah sebuah "ujian cinta" atau trik untuk menyembunyikan hubungan mereka dari publik.
Apa Penyebab Erotomania?
- Gangguan Kejiwaan Lain: Erotomania jarang berdiri sendiri. Biasanya, kondisi ini menjadi bagian dari gejala gangguan mental yang lebih besar, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi berat dengan fitur psikosis.
- Masalah Neurologis: Dalam beberapa kasus, adanya kelainan pada fungsi otak, cedera kepala, atau tumor otak dapat memicu timbulnya delusi ini.
- Faktor Psikologis dan Trauma: Rasa kesepian yang ekstrem, isolasi sosial, rendahnya rasa percaya diri, atau riwayat penolakan emosional di masa lalu bisa membuat seseorang menciptakan dunia fantasi ini sebagai mekanisme koping.
Bagaimana Cara Menanganinya?
- Terapi Perilaku Kognitif (CBT): Terapi ini membantu pasien untuk perlahan-lahan mengenali pola pikir yang salah, memisahkan fantasi dari realita, dan mengelola perilaku obsesif mereka.
- Obat-obatan Medis: Dokter spesialis kejiwaan biasanya akan meresepkan obat antipsikotik untuk meredakan delusi. Obat penstabil suasana hati (mood stabilizer) atau antidepresan juga bisa diberikan jika erotomania dipicu oleh gangguan bipolar atau depresi.
Kesimpulan
Siapa Temanmu, Itulah Gambaran Jiwamu: Satu Alasan Kenapa Sifatmu Mirip Temanmu
Rahasia Kekuatan Orang Mukmin: Bukan Fisik, Ini Kekuatan yang Sebenarnya
Rahasia Kekuatan Manusia: Bukan Fisik, Ini Kekuatan Manusia yang Sebenarnya مَا أَضْعَفَ الْإِنْسَانَ لَوْلَا هِمَّةٌ # فِي نُبْ...
-
Waspadai Kebaikan yang Menyesatkan: Ketika Manipulasi Emosional Datang dengan Wajah Ramah Tidak semua orang baik benar-benar tul...
-
Khalifah Ali Bin Abi Thalib berkata “Dua hal yang pasti dilakukan orang tolol: Sering menoleh dan menjawab tanpa dasar pengetahu...
-
5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Merusak Kinerja Otak Otak manusia merupakan organ vital yang hanya mewakili sekitar 2 per...