At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Jumat, 06 November 2026
Sejarah Ahlussunnah wal Jamaah di Tanah Jawa dan Munculnya Berbagai Aliran Sesat
Kamis, 05 November 2026
Digitalisasi Sarana & Prasarana Sekolah dan Segala Resikonya
Pengadaan Digital Sekolah: Amanah, Keamanan, dan Investasi Masa Depan*
Pendahuluan
Digitalisasi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Komputer, laptop, server, jaringan internet, aplikasi pembelajaran, dan layanan cloud kini menjadi bagian penting dari kegiatan sekolah. Teknologi membantu proses belajar mengajar menjadi lebih efektif, administrasi lebih tertata, dan layanan pendidikan semakin mudah diakses.
Namun, pengadaan perangkat digital tidak cukup hanya dengan membeli barang yang dibutuhkan. Sekolah juga harus memikirkan keamanan, masa pakai, biaya perawatan, dan risiko yang mungkin muncul di kemudian hari. Perangkat yang terlihat murah saat dibeli belum tentu menjadi pilihan paling hemat apabila cepat usang, sulit diperbaiki, atau tidak lagi mendapat pembaruan keamanan.
Digitalisasi sarana prasarana dan resikonya
Dalam Islam, pengelolaan fasilitas dan anggaran pendidikan merupakan bagian dari amanah. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58)
Ayat ini mengingatkan bahwa dana dan fasilitas sekolah harus dikelola secara bertanggung jawab. Pengadaan hendaknya dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren teknologi atau memilih perangkat karena terlihat paling canggih.
Salah satu tantangan utama pengadaan digital adalah cyber obsolescence, yaitu kondisi ketika perangkat atau perangkat lunak kehilangan dukungan vendor, tidak kompatibel dengan sistem baru, atau tidak lagi memperoleh pembaruan keamanan. Perangkat mungkin masih bisa menyala dan digunakan, tetapi ketika pembaruan keamanan dihentikan, risiko serangan siber semakin besar.
Risiko lainnya adalah kebocoran data siswa, guru, dan institusi. Serangan siber dapat mengganggu layanan sekolah, merusak data, bahkan menghentikan kegiatan pembelajaran. Karena itu, sekolah perlu mengenali risiko teknis, keamanan, keuangan, operasional, regulasi, dan sumber daya manusia sebelum menetapkan keputusan pengadaan.
Prinsip kehati-hatian ini sejalan dengan firman Allah:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Sekolah perlu memahami spesifikasi, fungsi, masa dukungan, kebutuhan pengguna, dan biaya pemeliharaan sebelum membeli perangkat. Keputusan yang tidak didasarkan pada informasi memadai dapat menimbulkan pemborosan dan masalah di kemudian hari.
Setiap perangkat memiliki siklus hidup, mulai dari pengadaan, implementasi, operasional, penuaan, hingga pensiun atau akhir masa dukungan (end of life). Karena itu, sekolah perlu merencanakan penggantian perangkat secara berkala. Perencanaan ini sejalan dengan firman Allah:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Memikirkan masa depan berarti tidak menunggu perangkat rusak atau tidak aman baru mencari anggaran pengganti. Sekolah perlu memeriksa komitmen dukungan vendor, ketersediaan suku cadang, kemudahan peningkatan kapasitas, pembaruan keamanan, serta kemungkinan sewa atau langganan jika lebih sesuai dengan kebutuhan.
Dalam memilih vendor, sekolah juga tidak boleh hanya terpaku pada harga terendah. Vendor yang menawarkan harga murah tetapi memberikan dukungan singkat dan pembaruan terbatas bisa menimbulkan biaya lebih besar. Sebaliknya, perangkat dengan harga awal lebih tinggi mungkin lebih hemat jika memiliki masa dukungan panjang, keamanan lebih baik, dan biaya perawatan yang terukur.
Islam mengajarkan agar pengelolaan harta tidak dilakukan secara berlebihan. Allah berfirman:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am [6]: 141)
Maka, pilihan terbaik bukan selalu yang paling mahal atau paling murah, melainkan yang sesuai kebutuhan, aman, tahan lama, dan efisien dalam jangka panjang.
Keamanan juga harus menjadi persyaratan wajib dalam pengadaan. Perangkat perlu memiliki perlindungan yang memadai, seperti enkripsi, autentikasi yang kuat, pembaruan keamanan, pencadangan data, dan pengelolaan akses. Vendor harus memiliki rekam jejak yang jelas serta tanggung jawab keamanan yang tertulis dalam kontrak.
Perlindungan data bukan hanya urusan tim IT. Data pribadi siswa dan guru adalah amanah yang harus dijaga. Allah berfirman:
وَلَا تَجَسَّسُوا
“Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)
Ayat ini berbicara tentang larangan tajassus, dan dapat menjadi pengingat akan pentingnya menghormati privasi. Dalam pengelolaan digital, informasi pribadi tidak boleh diakses atau digunakan sembarangan. Kebijakan yang jelas, teknologi yang tepat, dan pengguna yang memahami tanggung jawabnya harus berjalan bersama.
Untuk memastikan pengadaan berjalan teratur, sekolah dapat menggunakan kerangka manajemen risiko ISO 31000. Prosesnya meliputi komunikasi dan konsultasi, identifikasi risiko, analisis kemungkinan dan dampak, penentuan prioritas, penanganan, serta pemantauan dan evaluasi.
Langkah praktisnya dimulai dari perencanaan kebutuhan, penyusunan spesifikasi, seleksi vendor, pembuatan kontrak, implementasi, operasional, hingga evaluasi. Kontrak harus memuat kewajiban vendor, garansi, dukungan teknis, pembaruan keamanan, dan tingkat layanan. Setelah perangkat digunakan, sekolah perlu melakukan pemeliharaan, pencadangan, pemantauan, serta audit secara berkala.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 1)
Ayat ini menegaskan pentingnya memenuhi kesepakatan. Proses pengadaan harus jujur, transparan, dan adil. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)
Karena itu, pemilihan vendor harus berdasarkan kualitas, kebutuhan, dan ketentuan yang jelas, bukan manipulasi spesifikasi atau kepentingan pribadi.
Keberhasilan pengadaan perlu diukur melalui indikator yang nyata: perangkat yang mendekati akhir masa dukungan terdata, pembaruan keamanan dilakukan tepat waktu, tidak terjadi insiden keamanan kritis, biaya sesuai rencana, seluruh aset data terinventarisasi, dan guru serta staf mengikuti pelatihan keamanan.
Penerapannya dapat dilakukan bertahap. Dalam jangka pendek, sekolah membentuk tim, mengaudit inventaris, dan menyusun kebijakan. Dalam jangka menengah, sekolah menerapkan checklist keamanan, pelatihan, pencadangan data, dan pembaruan otomatis. Dalam jangka panjang, sekolah menjalankan siklus penggantian perangkat, audit keamanan tahunan, serta perbaikan berkelanjutan.
Semua itu membutuhkan kerja sama. Kepala sekolah menetapkan kebijakan dan anggaran; tim IT menilai aspek teknis; bagian pengadaan mengelola vendor dan kontrak; guru serta staf menggunakan perangkat sesuai prosedur; komite dan pihak terkait ikut mengawasi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Epilog
Pengadaan digital sekolah bukan sekadar belanja perangkat, melainkan investasi untuk masa depan pendidikan. Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang aman, tahan lama, bermanfaat, dan dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan risiko, perlindungan data, dan kerja sama seluruh pihak, sekolah dapat mewujudkan lingkungan pembelajaran digital yang aman, berkelanjutan, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dan ingat teknologi yang aman dan tahan lama adalah fondasi pembelajaran digital yang berkualitas.
*) Tulisan ini disadur dari tugas presentasi perkuliahan Program Doktor pada mata kuliah Manajemen Pengadaan Sarana & Prasarana di UII Dalwa Bangil dengan sedikit perubahan
Senin, 02 November 2026
Adaptasi Genius Umar bin Khattab dari Birokrasi Romawi
Mengenal Khisalul Fitrah dalam Fikih
Minggu, 01 November 2026
Ngaji Fathul Muin #54: Ketika Haid Terhenti dan Saat Suami Wafat
Ngaji Fathul Muin: Nusyuz dan Pengaruhnya terhadap Kewajiban Nafkah kepada Istri
Nusyuz dan Pengaruhnya terhadap Kewajiban Nafkah Istri
Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri memiliki hak serta kewajiban yang harus dijalankan secara seimbang sesuai tuntunan syariat. Salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada istri, sedangkan istri berkewajiban memenuhi hak-hak suami dalam perkara yang dibenarkan oleh agama.
Dalam pembahasan fikih, terdapat istilah nusyuz, yaitu sikap istri yang tidak memenuhi kewajiban terhadap suami dalam perkara yang menjadi hak suami menurut syariat, tanpa adanya alasan atau uzur yang dibenarkan.
Nusyuz bukan sekadar perbedaan pendapat atau perselisihan biasa antara suami dan istri. Hukum nusyuz memiliki ketentuan dan batasan tersendiri, sehingga tidak setiap tindakan istri yang tidak sesuai dengan keinginan suami dapat langsung dihukumi nusyuz.
Beberapa Perbuatan yang Termasuk Nusyuz
Dalam pembahasan fikih, terdapat beberapa bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai nusyuz.
Pertama, istri menolak tamattu‘ atau bercumbu rayu dengan suami, yakni menolak bentuk-bentuk kenikmatan dan hubungan suami istri yang menjadi hak suami, tanpa adanya uzur yang dibenarkan syariat.
Kedua, istri keluar dari rumah tanpa izin suami dan tanpa adanya tanda-tanda kerelaan suami. Namun, apabila suami telah memberikan izin, terdapat sangkaan kuat bahwa suami merelakannya, atau keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang telah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, maka hal tersebut tidak serta-merta dihukumi nusyuz.
Ketiga, istri bepergian atau melakukan perjalanan jauh tanpa izin suami, apabila perjalanan tersebut tidak dibenarkan oleh syariat dan tidak terdapat alasan yang menggugurkan kewajiban meminta izin.
Keempat, istri menolak pindah ke rumah yang telah disediakan suami, apabila rumah tersebut layak dan memenuhi ketentuan syariat serta tidak terdapat alasan yang dibenarkan untuk menolak.
Kelima, istri mengunci atau menutup pintu rumah sehingga suami tidak dapat masuk, apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan dan bertujuan menghalangi suami memperoleh haknya.
Keenam, istri mengaku bahwa suami telah menjatuhkan talak bain, padahal pengakuan tersebut tidak benar, kemudian menjadikannya sebagai alasan untuk menolak hak-hak suami.
Perlu ditegaskan bahwa penetapan nusyuz tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Harus diperhatikan keadaan yang sebenarnya, hak yang sedang dituntut, serta ada atau tidaknya uzur yang dibenarkan oleh syariat.
Bepergian dan Pengaruhnya terhadap Nafkah Istri
Salah satu persoalan yang berkaitan dengan nusyuz adalah keadaan istri ketika bepergian. Dalam fikih, bepergian atau keluarnya istri dari rumah dapat berpengaruh terhadap kewajiban nafkah suami. Hukumnya bergantung pada izin suami, tujuan perjalanan, dan apakah perjalanan tersebut berkaitan dengan kepentingan bersama.
Secara umum, keadaan istri bepergian dapat dibagi menjadi empat macam.
Pertama, istri bepergian tanpa izin suami.
Apabila istri bepergian tanpa izin suami dan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka dalam ketentuan fikih yang dibahas, nafkahnya menjadi gugur selama keadaan nusyuz tersebut berlangsung.
Kedua, istri bepergian dengan izin suami untuk keperluan pribadi atau kepentingan orang lain.
Misalnya, istri bepergian untuk urusan pribadinya atau membantu kepentingan orang lain yang tidak berkaitan dengan kebutuhan suami istri. Dalam pembahasan ini, nafkah istri menjadi gugur selama ia bepergian, meskipun perjalanan tersebut dilakukan dengan izin suami.
Ketiga, istri bepergian dengan izin suami untuk kepentingan suami istri.
Apabila perjalanan dilakukan untuk keperluan bersama, seperti memenuhi kebutuhan rumah tangga atau mengurus kepentingan keluarga, maka kewajiban nafkah suami tetap berlaku.
Keempat, istri bepergian bersama suami.
Apabila istri bepergian bersama suami, maka kewajiban nafkah tetap berlaku, apa pun tujuan perjalanan tersebut, baik untuk kepentingan keluarga, pekerjaan, maupun keperluan lainnya.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa izin suami bukan satu-satunya faktor yang menentukan kewajiban nafkah. Tujuan perjalanan dan keterkaitannya dengan kepentingan rumah tangga juga menjadi pertimbangan penting.
Hikmah dan Prinsip dalam Kehidupan Rumah Tangga
Pembahasan nusyuz dan nafkah hendaknya dipahami sebagai bagian dari aturan syariat dalam menjaga hak dan kewajiban rumah tangga, bukan sebagai alat untuk menekan atau menyakiti pasangan.
Suami tidak boleh menjadikan persoalan nafkah sebagai sarana untuk menghukum istri secara sewenang-wenang. Demikian pula, istri hendaknya menjaga hak-hak suami dan tidak mengabaikan kewajiban rumah tangga tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalam menghadapi perselisihan, keduanya perlu mengedepankan komunikasi, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai nusyuz atau nafkah, penyelesaiannya hendaknya merujuk kepada ketentuan fikih yang tepat dan melibatkan pihak yang memiliki keahlian.
Penutup
Nusyuz merupakan persoalan fikih yang berkaitan dengan pemenuhan hak dan kewajiban suami istri. Beberapa tindakan istri dapat dikategorikan sebagai nusyuz apabila dilakukan tanpa uzur yang dibenarkan syariat.
Adapun dalam persoalan bepergian, nafkah istri dapat gugur atau tetap wajib bergantung pada keadaan dan tujuan perjalanan. Bepergian tanpa izin suami atau dengan izin untuk kepentingan pribadi maupun orang lain, sebagaimana pembagian di atas, termasuk keadaan yang menggugurkan nafkah. Sementara itu, bepergian untuk kepentingan suami istri atau bepergian bersama suami tidak menggugurkan kewajiban nafkah.
Namun, semua ketentuan tersebut harus dipahami dengan memperhatikan rincian mazhab, uzur syar‘i, jenis izin, serta keadaan yang sebenarnya. Gugurnya nafkah juga tidak berarti gugurnya seluruh hak istri dalam perkawinan.
Pada akhirnya, tujuan memahami fikih rumah tangga adalah agar kehidupan suami istri berjalan sesuai tuntunan agama, dengan menjaga keadilan, tanggung jawab, dan keharmonisan bersama.
Sabtu, 31 Oktober 2026
Konsep Kepemimpinan dalam Perspektif Imam Al-Mawardi
Sejarah Ahlussunnah wal Jamaah di Tanah Jawa dan Munculnya Berbagai Aliran Sesat
Ahlussunnah wal Jamaah di Tanah Jawa: Warisan Mazhab dan Munculnya Berbagai Aliran Pendahuluan Islam di tanah Jawa memiliki seja...
-
Waspadai Kebaikan yang Menyesatkan: Ketika Manipulasi Emosional Datang dengan Wajah Ramah Tidak semua orang baik benar-benar tul...
-
Khalifah Ali Bin Abi Thalib berkata “Dua hal yang pasti dilakukan orang tolol: Sering menoleh dan menjawab tanpa dasar pengetahu...
-
Pernah merasa terlalu sungkan untuk maju, tapi akhirnya malah berujung sesal? Itu yang saya alami saat salat Maghrib tadi. Karen...