Tampilkan postingan dengan label Kajian Gramatika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Gramatika. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2024

I'rab Lafadz 'Ma Dza'


Bagaimana cara mengi'rab madza?

Jawab:

bisa pakai 5 cara:

1- Ma Istifham, Dza Isyarah

2- Ma Istifham, Dza Maushul

3- Ma dza susunan istifham

4- Ma Nakirah Maushufah , dza isyarah

5- Ma Zaidah, Dza Isyarah

6- Ma Istifham, Dza zaidah

 عمدة القاري شرح صحيح البخاري - (3 / 334)

والتسبيح في اللغة التنزيه والمعنى هنا أنزه الله تنزيها عما لا يليق به واستعماله هنا للتعجب لأن العرب قد تستعمله في مقام التعجب قوله ماذا فيه أوجه الأول أن يكون ما استفهاما و ذا إشارة نحو ماذا الوقوف الثاني أن تكون ما استفهاما وذا موصولة بمعنى الذي الثالث أن تكون ماذا كلمة استفهام على التركيب كقولك لماذا جئت الرابع أن تكون ما نكرة موصوفة بمعنى شيء الخامس أن تكون ما زائدة و ذا للإشارة السادس أن تكون ما استفهاما وذا زائدة أجازه جماعة منهم ابن مالك

Senin, 21 Oktober 2024

Bacaan Yang Benar Baitul Maqdis atau Baitul Muqoddas?



pertanyaan:

Bacaan yang benar baitul maqdis atau baitul muqoddas?

Jawab:

sama benar, kalau maqdis berarti masdar atau isim makan, kalau muqoddas berarti isim maf'ul 

اللامع الصبيح بشرح الجامع الصحيح ٢/‏١٦٥ 

نعم قال أحمدُ: إنَّ حديثَ ابنِ عمرَ ناسخٌ للنَّهي عن استقبالِ بيتِ المَقدسِ، واستدبارِه.

(المقدس) فيه فتحُ الميمِ وسكونُ القافِ وكسرُ الدَّال مُخفَّفةً، وضمُّ الميمِ وفتحُ القاف وتشديد الدَّال مفتوحةً، لغَتان مشهورتان، الأُولى على إرادةِ المَصدرِ أو المَكان، أي: بيتُ المَكان الذي جُعِلَ فيه الطَّهارةُ، أو بيتُ مكانِ الطَّهارة، والثَّانية بمعنَى: المُطَهَّر، وذلك إخلاؤُه من الأصنَام، وإنقاذُه منها، أو من الذُّنوب، ثم إنَّه من باب إضَافةِ المَوصوفِ إلى صفتِه، كمَسجِدِ الجَامعِ.

Rabu, 18 September 2024

Perbedaan Usholli dan Nawaitu Dari Sisi Gramatika



Kenapa niat wudhu memakai fiil madhi (nawaitu)
sedangkan niat sholat pakai fiil mudhore (usholli)

JAWABAN :

Menurut imam ibnu Atsir penggunaan (waktu)
paling relavan dalam memberitakan wujudnya
suatu pekerjaan adalah fiil madli (zaman
lampau/sudah terjadi)

Sebab fi'il mudlori' (dengan zaman iqtiqbal) itu
berfaidah menjelaskan suatu keadaan yang akan terjadi dan menghadirkan sebuah gambaran seakan-akan saat itu audien/pendengar menyaksikannya secara langsung (ini hanya terjadi dalam fiil mudlori tidak dalam fiil madli)

Reff : Al-Qodiyaniyah hal 1

وقال الثعالبي في كتابه )فقه اللغة(

فصل )في الفعل يأتي بلفظ الماضي وهو مستقبل وبلفظ
المستقبل وهو ماض( أما اﻷول فمثل له بقوله تعالى )أتى
أمر الله فلا تستعجلوه( والثاني بقوله تعالى )فلم تقتلون
أنبياء الله من قبل( وقوله تعالى )واتبعوا ما تتلو الشياطين(
أي ما تليت

وقال ابن اﻷثير في المثل السائر إعلم أن الفعل المستقبل
إذا أتي به في حالة اﻹخبار عن وجود الفعل، كان ذلك أبلغ
من اﻹخبار بالفعل الماضي وذلك ﻷن الفعل المستقبل
يوضح الحال التي يقع فيها ويستحضر تلك الصورة حتى كأن
السامع يشاهدها، وليس كذلك الفعل الماضي

إلى أن قال عطف المستقبل على الماضي ينقسم إلى
ضربين أحدهما بلاغي وهو إخبار عن ماض بمستقبل والآخر
غير بلاغي وليس إخبارا بمستقبل عن ماض وإنما هو
مستقبل دل على معنى مستقبل غير ماض ويراد به أن ذلك
الفعل مستمر الوجود

﴿القاديانية - سليمان الظاهر العاملي - الصفحة ١﴾

Fokus pada ibarot dibawah ini

وقال ابن اﻷثير في المثل السائر إعلم أن الفعل المستقبل
إذا أتي به في حالة اﻹخبار عن وجود الفعل كان ذلك أبلغ
من اﻹخبار بالفعل الماضي وذلك ﻷن الفعل المستقبل
يوضح الحال التي يقع فيها ويستحضر تلك الصورة حتى كأن
السامع يشاهدها وليس كذلك الفعل الماضي

Penggunaan fiil mudlore' dengan dilalah tajaddud
(pembaruan) dan istimror (berkelanjutan) tidak
diragukan lagi seakan-akan pendengar di ajak
hadir dan berinteraksi bersama sama mutakallim
menyaksikan apa yang telah dilakukan

Pengunaan fiil mudlori ini lebih banyak dibandikan
fiil madli

الى ان قال وذلك ﻷن دلالة الماضي اﻷصل فيها اﻹنقطاع
عن الوجود المستمر ولذلك يعبر عنه النحويون بانه ما دل
على حدث وقع وانقطع قبل زمن التكلم

(Sampai pada komentari) Asal dilalahnya fiil madli
adalah INQITHO' (terputus) dari wujudnya
pekerjaan yang (berkelanjutan)

Oleh karna itu ulama nahwu menyatakan bahwa
fiil madli itu


ولا شك ان استعمال المضارع بدلالته على التجدد
واﻹستمرار يجعل السامع يستحضر المشهد ويتفاعل معه
اكثر من استعمال الماضي


"fi'il yang menunjukkan waktu yang telah terjadi &
waktunya terputus sebelum pembicaraan"

وهذا غير مراد في حكاية الله كيفية امره ﻹبراهيم ﻷنه لو قيل
اني رايت لصدق هذا التعبير عن وجوده مرة واحدة في الزمن
)6( ولكن الرؤيا تكررت اكثر من مرة ثم صار اﻷمر بالذبح بعد
الفداء بالكبش سنة حتى اﻷن فاﻷية علة ذلك غاية في
البلاغة

المرجع حقائق الاسلام في موجهة شبهات المشككين د.
محمود حمدي زقروق المجلس الاعلى للشئون اﻹسلامية
القاهرة ط 2 1425 هجرية / 2004 ماسهية ص 223-224
بتصرف يسير

Kasus diatas bukan yang dikehendaki firman Allah
pada ayat yang menceritakan Kayfiyah Allah
memerintah nabi ibrohim

اني رأيت اﻷية

Artinya : Aku bermimpi

Pada kasus penggalan ayat ini benar

Wujudnya mimpi memang hanya terjadi 1 kali
dalam satu waktu , akan tetapi kejadiannya
berulang ulang lebih dari satu kali dalam waktu
yang berbeda , kasus diatas kemudian jadi
perintah penyembelehan nabi ibrohim pada nabi
isma'il

Setelah Allah memberikan tebusan domba sebagai
ganti penyembelehan

Maka hukum itu berlaku hukum sunnah hingga
sekarang 

Ayat diatas termasuk dari bagian ayat yang
memiliki bahasa yang sangat tinggi

Reff : Haqoiqul islam hal 223-224

Catatan penting : 👇🏽

اصلي فرض الصبح ركعتين فرضا لله تعالى

Artinya : Saya mau melaksanakan sholat fardlu
subuh 2 rokaat karna Allah Ta'ala

(Contoh fiil mudlori') diatas 👆🏼

A. Jika Sami' (pendengar) nya Allah maka seakan
akan orang yang sholat berusaha menjelaskan
penghambaan yang akan dilakukukan disaksikan
oleh Allah dan mengajak berinteraksi langsung
denganya (Allah)

2. Jika sami' (pendengar) nya manusia (contoh
sebagai imam) maka si imam mengajak si
makmum ikut andil menggambarkan apa yang
akan dikerjakan dan seakan akan simakmu ikut
andil berinteraksi kepada bersama sama dengan
imam

3. Jika sami' (pendengar) nya diri sendiri maka
seakan akan dia berusaha mengajak dirinya
sendiri ikut menghadirkan gambaran sholat dan
berinteraksi dengan Allah

نويت الوضوء لرفع الحدث الاصغر فرضا لله تعالى

Artinya : aku berniat wudlu' karna untuk
menghilangkan hadats kecil karna Allah taala

Contoh tersebut memakai fiil madli disamping
karna berfaidah

Orang yang niat wudlu' melakukan niatnya
sebelum melakukan wudlu' dan disaat wudlu'
niatnya sudah tidak diucapkan (INQITHO') sebab
fiil madli juga berfaidah tahaqquqi wuqu'
(memastikan terjadi) melakukan suatu pekerjaan

Wallahu A'lam 


Sabtu, 16 Maret 2024

Memahami Anugrah & Keadilan Allah





Memahami Anugrah & Keadilan Allah


(Transkip Kajian Sirah Nabawiyah Maulid Ad-Diba'i Eps V, 4 Ramadhan 1445 / 15 Maret 2024) 

Oleh: Ibnu Imron*


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Bismillahirrahmanirrahim


الحمد لله الكريم الوهاب، المنزه عن الاشباه والانساب، والصلاة والسلام على سيد الاحباب، سيدنا محمد المخصوص باشرف القاب، وعلى اله المطهرين بلا ارتياب، وصحبه ومن تبعهم الى يوم الحساب

سبحانك لا علم لنا الا ما علمتنا انك انت العليم الحكيم وتب علينا انك انت التواب الرحيم، رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي


Prolog

يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ وَيَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ

Dengan keadilannya yang diam menjadi bergerak, dangan anugerahnya yang bergerak menjadi diam


Ulasan


Lagi, Penulis Diba' menunjukkan sisi indah bahasa Arab melalui ilmu badi. 

Kalau kemarin beliau membuka dengan bara'atul Istihlal

Sekarang beliau melanjutkan retorikanya dengan saja' dan muqobalah.

Saja' adalah akhiran huruf yang sama

الحمد لله القوي الغالب

الولي الطالب

ويسكن بفضله الضارب 

Sedangkan muqobalah adalah mencantumkan beberapa kata, kemudian setelah itu mendatangkan kata antonimnya

يضرب بعدله الساكن

Kemudian didatangkanlah kebalikannya 

ويسكن بفضله الضارب


Untuk lebih jelaanya mari kita bahas satu per satu


Pembahasan

Ada empat poin kata yang akan kita bahas hari ini:


Pertama

يضرب


Yadribu atau Dhoroba mempunyai makna asli yang berupa iqous syai' alasy syai' (membenturkan sesuatu pada lainnya), jika kita dalami kata dhoroba dalam al-Qur'an maka kita menemukan banyak makna, diantaranya:

Berjalan / bepergian 

لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الْأَرْضِ

memukul 

فضرب الرقاب

Membuat perumpamaan

ان الله لا يستحتي ان يضرب مثلا

Berpaling

أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا 


Ada satu makna yang bisa mengkomparasikan semua yaitu yataharrak, bergerak, seperti yang dikemukakan oleh syarihnya

Karena dari semua makna diatas biasanya butuh gerak untuk bisa melaksanakannya, memukul butuh pergerakan tangan, berjalan butuh pergelakan kaki, berpaling butuh pergerakan wajah dan sebagainya.


Kedua

ساكن 

Sakana dzahaba harokatuhu, atau khilaful mutaharrik, kebalikan dari bergerak, diam

Makanya orang yang bermukim di sebuah tempat di sebut sakin, karena menetap gak kemana-mana 

Orang miskin juga akar katanya dari sakana bisa jadi karena tidak banyak bergerak berdagang keluar kota, Az-Zabidi menyebutkan:

الَّذِي أَسْكَنَه الفَقْرُ، أَي قَلَّلَ حَرَكَته

[مرتضى الزبيدي ,تاج العروس ٣٥/٢٠٠]

Miskin adalah orang yang didiamkan oleh kefakiran yakni tak banya bergerak keluar.

atau bisa juga miskin dari sakana yang artinya tenang karena hati orang miskin lebih tenang dari pada hati orang kaya yang selalu pusing memikirkan hartanya. 


Ketiga

عدل

Adil meletakkan sesuatu pada tempatnya, kebalikannya adalah jur atau dzolim yakni meletakkan sesuatu bukan tempatnya.

Dalam alquran disebutkan: 

والكافرون هم الظالمون

Orang kafir itu dzalim karena meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Meletakkan nikmat Allah bukan pada tempatnya, mereka diberi akal agar berfikir, bisa membedakan mana baik buruk, bisa membedakan mana agama yang benar dan yang tidak, tapi merekan malah jadi kufur. 


Keempat

Fadl

 هو الزيادة في الشيء خيرا وإحسانا

Fadl adalah memberi melebihi yang dari yang seharusnya ia dapat.

Upah kerja sehari 50 ribu kok dikasih 60 ribu, maka itu yang disebut fadl.


Sebenarnya kalau kita perhatikan petikan-petikan dawuh ulama, sabda Nabi bahkan firman Allah didalam al-quran, maka kita akan menemukan fadl sering disandingkan dengan Adl

Dalam Akidatul Awam disebutkan kata fadl bersanding dengan adl 


وجـائـز بـفـضـله وعدله * تـرك لـكـل مـمـكـن كفعله 


Jadi, kalau kita bahasakan sederhana adl itu adalah  prosedural, sedang fadl itu adalah kebijakan, sebagai contoh

كتب عليكم القصاص في القتلى

Diwajibkan atas kalian qishaash berkenaan dengan orangorang yang dibunuh (QS Al-Baqoroh 178)


Setiap pembunuhan yang disengaja maka hukumannya Qishash, itu adalah prosedurnya, adl. 

Selanjutnya Allah berfirman:

فمن عفي من اخيه شيء فاتباع بالمعروف واداء اليه باحسان

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah yang diberi maaf membayar diat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula (QS: Al-Baqoroh 178)


Jadi, ketika oleh ahli warisnya diberi ampunan, maka kewajiban qisos gugur, itu adalah fadl, kebijakan. 


Contoh lain:

Alim pinter prosedurnya adalah belajar, itu yang dinamakan adl. Namun ada orang yang bisa tahu, bisa pinter tanpa belajar apapun, siapa itu? ya tentu saja waliyullah dengan ilhamnya, atau Nabi dengan Wahyu dari Allah. 

Justru akan aneh kalau Nabi Muhammad belajar dulu untuk tahu segala hal, yang nantinya akan dianggap bohong oleh pengingkarnya. Seperti dalam Al-Quran:


 وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون

Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya

(QS Al-Ankabut: 48)


Epilog


Kalimat pertama dari Ad-Diba'i seakan menyiratkan:

Dengan keadilan Allah, orang yang diam harus bergerak. 

Jadi prosedurnya orang ingin dapat rizqi ya harus gerak dan berusaha mencari sumber yang halal. 

Dilanjutkan dengan kalimat kedua:

Namun dengan Fadol Allah orang yang bergerak akan jadi diam. 

Ada hamba yang tingkat keyakinannya tinggi, maqom drajatnya juga tinggi, menikmati kedekatan dirinya kepada Allah, sehingga lupa pada asbab

Atau Ketika ada rizqi secara tiba-tiba datang padanya tanpa kerja. 

Semua itu adalah Fadol Namanya. 


Jika dilihat dari kacamata tasawwuf, seseorang itu berada di salah satu dua maqom, ada nama maqom asbab, seperti yang disebutkan dalam redaksi yang pertama

يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ 

 juga ada namanya maqom tajrid seperti dalam redaksi kedua

وَيَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ


Prihal dua maqam tersebut, Ibnu Athaillah dalam kitab Hikam menyinggung:


إرادتُكَ التجريدَ مع إقامةِ الله إِيَّاكَ في الأسباب من الشَّهوة الخفيةِ

وإرادتُكَ الأسبابَ مع إقامةِ الله إِيَّاكَ في التجريد انحطاطٌ عن الهِمَّةِ العَلَيَّةِ

Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar, sedangkan kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari kemauan yang tinggi.


Jadi semua orang itu punya maqom masing-masing, tempatilah sesuai kapasitasnya

Wallahu A'lam


*) Penulis adalah konten kreator asal Pasuruan Jawa Timur 

===

Refrensi:


Husnush Shiyaghah

Ihya Ulumuddin

Milul Awani

Al-Munabba' li alfadzii Diba'

Diyaul Murobba' Fi Syarhi Maulid Diba

Tafsir Ibnu Katsir 

Tafsir Jalalain

Tafsir Asy-Sya'rawi

Dll

Kamis, 14 Maret 2024

Belajar Mengi'rab Lafadz 'Ramadhan' Dalam Niat Puasa



Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuriy (w. 1276 H) dalam 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒋𝒖𝒓𝒊𝒚 𝒂𝒍𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒓𝒉𝒊 𝒂𝒍-𝑨𝒍-𝑨𝒍𝒍𝒂𝒎𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒏𝒖 𝒂𝒍-𝑸𝒂𝒔𝒊𝒎 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒊𝒚, 𝑴𝒂𝒌𝒕𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒖𝒓𝒖𝒒 𝒂𝒅-𝑫𝒂𝒖𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 186 berkata:

(قوله: رمضان هذه السنة )
 باضافة رمضان الى اسم الاشارة لتكون الاضافة معينة لكونه رمضان هذه السنة وأيضا على عدم الإضافة تكون هذه السنة ظرفا لقوله نويت وهو فاسد لأن ظرف النية اللحظة التي وقعت فيها الليل لا السنة.

Artinya: Pengertian ucapan Mushannif (pengarang kitab matan) “Ramadhan tahun ini” adalah dengan memudhofkan lafadz Ramadhan pada Isim Isyarah (Hadihi as-Sanati) agar tertentu pada Ramadhan tahun itu, sementara ketika lafadz Ramadhan tidak diidhofahkan pada Isim Isyarah, lafadz Hadihi as-Sanati statusnya menjadi Dhoraf bagi lafadz “Nawaitu”, maka terjadi kerusakan makna karena momen dari niat tersebut adalah masa kejadian yang singkat pada malam itu bukan setahun penuh.”

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantaniy al-Jawiy dalam kitabnya 𝑲𝒂𝒔𝒚𝒊𝒇𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒔-𝑺𝒂𝒋𝒂 𝒇𝒊 𝑺𝒚𝒂𝒓𝒉𝒊 𝑺𝒂𝒇𝒊𝒏𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒏-𝑵𝒂𝒋𝒂, 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 16, menambahkan:

(تنبـيه) اعلم أن رمضان غير منصرف للعلمية إلا إن كان المراد به كل رمضان من غير تعيـين وإذا أريد به ذلك صرف لأنه نكرة، وبقاء الألف والنون الزائدتين لا يقتضي منعه من الصرف كما قال الشرقاوي.

(Peringatan) Ketahuilah bahwa lafadz Ramadhan adalah Isim Ghairu Munsharif karena sebagai Isim ‘alam (nama). Kecuali jika yang dimaksudkan dengan lafadz Ramadhan adalah seluruh Ramadhan dengan tanpa menentukan. Apabila yang dimaksud dengan lafadz Ramadhan adalah demikian, maka lafadz Ramadhan menjadi Munsharif (menerima tanwin), karena status lafadz Ramadhan (saat tidak ditentukan) adalah Isim Nakiroh. Sementara masih tetapnya tambahan huruf Alif dan Nun, tidak berpengaruh akan tercegahnya lafadz Ramadhan dari menerima tanwin. Hah ini sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikh asy-Syarqowi.

Pernyataan Syaikh Nawawi al-Bantaniy ini diperkuat dengan pendapat Syeikh Abul Qosim al-Hariri (w. 516 H) dalam kitabnya yang bernama Bintul Lailah, berupa kalam syair berbahar Rajaz berkata:

وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلٰى فَعْلَانَا ۞ عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا

Dan termasuk isim Ghoiru Munshorif adalah lafadz yang datang mengikuti wazan فَعْلَانُ • dengan harakat yang berbeda-beda pada fa’ fi’il-nya sewaktu-waktu.

تَقُوْلُ مَرْوَانُ أَتٰى كِرْمَانَا ۞ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ عَلٰى عُثْمَانَا

Engkau berkata: “Marwan mendatangi si Kirman” • “Dan rahmat Allah semoga tercurah pada Utsman”.

فَهٰذِهِ إِنْ عُرِفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ ۞ وَمَا أَتٰى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفْ

Maka kalimat isim yang mengikuti wazan فَعْلَانُ ini, jika dibuat isim Ma’rifat, tidak boleh dibaca tanwin atau Ghairu Musharif • sedangkan kalimat yang datang dalam bentuk isim Nakiroh dari kalimat tersebut, boleh dibaca tanwin atau Munsharif.

Namun ada pendapat dari sebagian ulama yang dikutip Syaikh Sulaiman bin Umar bin Manshur al-‘Ujailiy al-Mishriy (w. 1204 H) atau yang dikenal dengan sebutan al-Jamal dalam kitabnya 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒎𝒂𝒍 𝑺𝒚𝒂𝒓𝒉𝒖 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒏𝒉𝒂𝒋, 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 3 𝒉𝒂𝒍 412, mengatakan:

وقال بعضهم إن جررت رمضان بالكسر جررت السنة وإن جررته بالفتح نصبت السنة وحينئذ فنصبها على القطع وعليه ففي إضافة رمضان إلى ما بعده نظر لأن العلم لا يضاف فليتأمل ا ﻫـ برماوي

Artinya: “Dan sebagian ulama mengatakan: Jika lafadz Ramadhan dijerkan dengan menggunakan tanda harakat Kastroh, maka lafadz as-Sanah juga harus dijerkan. Sebaliknya jika lafadz Ramadhan dijerkan dengan menggunakan tanda harakat Fathah, maka lafadz as-Sanah harus dinashibkan. Dengan begitu, memudhofkan lafadz Ramadhan pada lafadz setelahnya perlu dipertimbangkan lagi karena Isim ‘Alam tidak boleh dimudhofkan. Fikirkanlah, sebagaimana catatan yang tulis Syaikh Barmawiy.”

Berikut lafadz niat puasa Ramadhan andai dii’rab, baik yang dibaca Ramadhana atau Ramadhani:

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃﺩَﺍﺀِ ﻓﺮﺽَ ﺍﻟﺸﻬﺮِ ﺭﻣﻀﺎﻥَ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔِﻟﻠﻪِ ﺗﻌﺎﻟﻰ:

وﺇﻋﺮﺍﺑﻪ: (ﻧﻮﻳﺖ) ﻓﻌﻞ ﻣﺎﺽ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﺤﺔ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﺧﺮﻩ. ﻣﻨﻊ ﻣﻦ ﻇﻬﻮﺭﻫﺎ ﺇﺷﺘﻐﺎﻝ ﻣﺤﻞ ﺑﺴﻮﻛﻮﻥ ﺍﻟﻌﺎﺭﺽ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﻮﺍﻟﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﻣﺘﺤﺮﻛﺎﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻫﻮ ﻛﺎﻟﻜﻠﻤﺔ ﺍﻟﻮﺣﺪﺓ. ﻭﺍﻟﺘﺎﺀ ﺿﻤﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺍﻟﻮﺣﺪﺓ ﺑﺎﺭﺯ ﻣﺘﺼﻞ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻀﻢ ﻓﻰ ﻣﺤﻞ ﺭﻓﻊ ﻓﺎﻋﻞ. ﻷﻧﻪ ﺇﺳﻢ ﻣﺒﻨﻲ ﻻ ﻳﻈﻬﺮ ﻓﻴﻪ ﺇﻋﺮﺍﺏ.
(ﺻﻮﻡ) ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺑﻪ. ﻭﻫﻮ ﻣﻨﺼﻮﺏ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﻧﺼﺒﻪ ﻓﺘﺤﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ . ﺻﻮﻡ ﻣﻀﺎﻑ (ﻏﺪ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ.
(ﻋﻦ) ﺣﺮﻑ ﺟﺮ. (ﺃﺩﺍﺀ) ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﻪ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ. ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺏ ‏(ﺻﻮﻡ ). ﻭﻫﻮ ﻣﺼﺪﺭ ﻳﻌﻤﻞ ﻋﻤﻞ ﻓﻌﻠﻪ. ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻔﺎﻋﻞ ﻭﻳﻨﺼﺐ ﺍﻟﻤﻔﻌﻮﻝ.
(ﻓﺮﺽ) ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺑﻪ. ﻭﻫﻮ ﻣﻨﺼﻮﺏ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﻧﺼﺒﻪ ﻓﺘﺤﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ. ﻓﺮﺽ ﻣﻀﺎﻑ (ﺍﻟﺸﻬﺮ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺆﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ .ﺷﻬﺮ ﻣﻀﺎﻑ (ﺭﻣﻀﺎﻥ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﺍﻟﻔﺘﺤﺔ. ﻧﻴﺎﺑﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﺴﺮﺓ ﻷﻧﻪ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﺬﻯ ﻻ ﻳﻨﺼﺮﻑ. ﻭﺍﻟﻤﺎﻧﻊ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺮﻑ ﻋﻠﺘﺎﻥ ﻓﺆﻋﻴﺘﺎﻥ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻭﻫﻲ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺍﻻﻟﻒ ﻭﺍﻟﻨﻮﻥ. ﻭﺍﻷﺧﺮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﻫﻲ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﺔ. (ﻫﺬﻩ) ﺍﻟﻬﺎﺀ ﺣﺮﻑ ﺗﻨﺒﻴﻪ. ﺫِ ﺍﺳﻢ ﺇﺷﺎﺭﺓ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺴﺮ ﻓﻰ ﻣﺤﻞ ﻧﺼﺐ ﻣﻨﺼﻮﺏ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻈﺮﻓﻴﺔ ﺍﻟﻤﻜﺎﻧﻴﺔ. ﻭﺍﻟﻬﺎﺀ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺘﺄﻧﻴﺚ. ﻫﺬﻩ ﻣﻀﺎﻑ (اﻟﺴﻨﺔ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ . (ﻟﻠﻪ) ﺍﻟﻼﻡ ﺣﺮﻑ ﺟﺮ. ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼلة ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﻪ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ. ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺏ ‏(ﺃﺩﺍﺀ). ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃﺩَﺍﺀِ ﻓﺮﺽِ ﺍﻟﺸﻬﺮِ ﺭﻣﻀﺎﻥِ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔِﻟﻠﻪِ ﺗﻌﺎﻟﻰ :

وﺇﻋﺮﺍﺑﻪ: (ﻧﻮﻳﺖ) ﻓﻌﻞ ﻣﺎﺽ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﺤﺔ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﺧﺮﻩ. ﻣﻨﻊ ﻣﻦ ﻇﻬﻮﺭﻫﺎ ﺇﺷﺘﻐﺎﻝ ﻣﺤﻞ ﺑﺴﻮﻛﻮﻥ ﺍﻟﻌﺎﺭﺽ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﻮﺍﻟﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﻣﺘﺤﺮﻛﺎﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﻫﻮ ﻛﺎﻟﻜﻠﻤﺔ ﺍﻟﻮﺣﺪﺓ. ﻭﺍﻟﺘﺎﺀ ﺿﻤﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺍﻟﻮﺣﺪﺓ ﺑﺎﺭﺯ ﻣﺘﺼﻞ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻀﻢ ﻓﻰ ﻣﺤﻞ ﺭﻓﻊ ﻓﺎﻋﻞ. ﻷﻧﻪ ﺇﺳﻢ ﻣﺒﻨﻲ ﻻ ﻳﻈﻬﺮ ﻓﻴﻪ ﺇﻋﺮﺍﺏ.
(ﺻﻮﻡ) ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺑﻪ. ﻭﻫﻮ ﻣﻨﺼﻮﺏ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﻧﺼﺒﻪ ﻓﺘﺤﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ . ﺻﻮﻡ ﻣﻀﺎﻑ (ﻏﺪ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ.
(ﻋﻦ) ﺣﺮﻑ ﺟﺮ. (ﺃﺩﺍﺀ) ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﻪ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ. ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺏ ‏(ﺻﻮﻡ ). ﻭﻫﻮ ﻣﺼﺪﺭ ﻳﻌﻤﻞ ﻋﻤﻞ ﻓﻌﻠﻪ. ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻔﺎﻋﻞ ﻭﻳﻨﺼﺐ ﺍﻟﻤﻔﻌﻮﻝ.
(ﻓﺮﺽ) ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺑﻪ. ﻭﻫﻮ ﻣﻨﺼﻮﺏ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﻧﺼﺒﻪ ﻓﺘﺤﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ. ﻓﺮﺽ ﻣﻀﺎﻑ (ﺍﻟﺸﻬﺮ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺆﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ (ﺭﻣﻀﺎﻥ) ﻣﻀﺎﻑ (ﻫﺬﻩ) ﺍﻟﻬﺎﺀ ﺣﺮﻑ ﺗﻨﺒﻴﻪ. ﺫِ ﺍﺳﻢ ﺇﺷﺎﺭﺓ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺴﺮ ﻓﻰ ﻣﺤﻞ ﺟﺮ ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ. ﻭﺍﻟﻬﺎﺀ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺘﺄﻧﻴﺚ. ﻫﺬﻩ ﻣﻀﺎﻑ (اﻟﺴﻨﺔ) ﻣﻀﺎﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﺎﻟﻤﻀﺎﻑ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰ ﺃﺧﺮﻩ . (ﻟﻠﻪ) ﺍﻟﻼﻡ ﺣﺮﻑ ﺟﺮ. ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼلة ﻣﺠﺮﻭﺭ ﺑﻪ. ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺟﺮﻩ ﻛﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﺮﻩ. ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺏ ‏(ﺃﺩﺍﺀ). ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.

Waallahu A’lamu

Sumber: Syaichona.net


Minggu, 06 November 2016

Membela al-Quran: perbedaan menggunakan kata "pakai" dengan tanpa kata "pakai"






Ketika hiruk pikuk demontrasi 4 November digelar, pernyataan mengejutkan datang dari Bapak Kapolri bahwa beda arti menggunakan kata "pakai" dengan tanpa pada pidato Ahok. Ini sangat meresahkan di tengah penantian panjang 2 pekan penegakan hukum.

Kita coba menyikapi perbedaan tersebut:
Ketika menggunakan kata "pakai" maka sasaran perkataan Ahok adalah ulama. Ulama telah membohongi umat menggunakan surat al Maidah 51. Dengan demikian:

Umat Islam: Objek pembohongan
Ulama: Subjek / pelaku pembohongan
Al Quran: Alat pembohongan.

Akan nampak berbeda ketika tidak menggunakan kata "pakai" yang berarti surat al Maidah sebagai subjek kebohongan. Berarti al Quran telah membohongi umat Islam.

Sekilas memang nampak berbeda, tapi pada esensinya sama, melecehkan Islam. Menggunakan kata "pakai" berarti melecehkan Ulama dengan menuduh telah membohongi umat Islam. Ahok telah memprovokasi umat Islam agar tidak mengikuti pendapat ulama meski berdasarkan ayat al Quran.

Harus dipahami, kedudukan ulama dalam Islam demikian tinggi. Tanpa ulama al Quran akan sulit dipahami. Ulama lah pewaris Nabi umat Islam, sementara Ahok menyebutnya sebagai pembohong. Ulama adalah simbol Islam yang sangat penting bagi umat Islam yang berarti adalah bagian dari Islam.

Hal yang kemudian menyakitkan, apa yang dikatakan Ahok itu bukan candaan di warung kopi dan jangongan di meja skak. Ahok berbicara sebagai Gubernur DKI lengkap dengan seragam dinasnya kemudian memprovokasi umat di luar agamanya. Hal ini tentu menyakitkan hati umat Islam.

Kemudian, menjadikan al Quran sebagai alat kebohongan ulama, sejatinya juga melecehkan al Quran. Al Quran sebagai kitab suci umat Islam, dinilainya sebagai bahan untuk membohongi umat. Sementara al Quran sebagai kitab pedoman umat Islam. Sangat menyakitkan jika al Quran dituduh sebagai sumber pembohongan. Ini juga yang dikatakan oleh orang kafir pada masa Nabi, bahwa al Quran sebagai kalam sihir dan sebagai alat kebohongan Nabi dalam dakwah. Apakah Kafir Qurays hanya melecehkan Nabi? Tidak, tapi sekaligus al Quran sebagai media dakwah Nabi yang disampaikan atas dasar wahyu.

Dan, sekali lagi, ini justru keluar dari Gubernur yang keyakinannya sama sekali berbeda dengan umat Islam dalam memandang al Quran. Sakitnya mengingatkan pada sejarah penghinaan kafir Quraisy pada Nabi saat itu.

Tulisan ini memang tidak memiliki kekuatan hukum, karena keluar dari rakyat kecil. Ini tulisan sebagai bentuk kegelisahan, di tengah penegakan hukum yang demikian lemah dengan konspirasi kepentingan politik yang selama ini ada kesan selalu memojokkan umat Islam. Gempuran fitnah bahwa Islam tidak toleran demikian masiv menusuk relung kerukunan umat beragama di negeri ini. Dalam kasus Ahok ini, kadang bertanya siapa yang tidak toleran?

So, umat Islam kadang putus asa di tengah mayoritasnya yang selalu dikucilkan. Di tengah hak konstitusional demikian mandul. Akan tetapi, umat Islam masih punya ulama yang sabar meredam kemarahan. Semoga Allah menyadarkan kita semua, bagaimana sebaiknya dilakukan untuk kemaslahatan Indonesia.

Oleh: Ust Masyhur Koe

Jumat, 28 Oktober 2016

Belajah Ilmu Balaghah: Mengenal Macam-macam Informasi dalam Ilmu Balaghah



Kalam terbagi menjadi 2 bagian:

1. Kalam Khabar.
2.  Kalam Insya’

Kalam Khabar adalah perkataan yang mana pembicaranya bisa divonis jujur atau dusta. Lebih simplenya kalam khabar adalah informarsi yang mengandung dua unsur; jujur atau dusta.
Kalam Insya’ adalah lawan dari kalam khabar. Yaitu  perkataan yang mana pembicaranya tidak bisa divonis jujur atau dusta. Semisal ungkapan perintah ( contoh: belajarlah ! ), pertanyaan ( contoh: apakah kamu sudah belajar) dll. Ungkapan semacamnya tidak bisa membuat pelakunya divonis jujur atau dusta.

Tujuan menyampaikan informasi ( kalam Khabar )
Pada dasarnya, ada dua tujuan pokok seseorang menyampaikan informasi ( kalam Khabar ):
1. Menyampaikan kandungan informasi kepada mukhatab (lawan bicara). Tujuan ini dalam istilah balghah dikenal dengan faidatul khabar.

2.  Menyampaikan informasi kepada lawan bicara bahwa ia ( pembicara ) sudah tahu terhadap kandungan informasi yang ia sampaikan.Tujuan ini dalam istilah balaghah dikenal dengan lazimul faidah.
Namun, masih ada beberapa tujuan selain tujuan di atas. Sebagai berikut: 
1.  Istirham ( Memohon belas kasih )
2.  Idzharu al-dha’fi ( Menampakkan kelemahan )
3.  Idzharu al-tahassur ( Menampakkan kesedihan )
4.  Al-Fakhru ( berbangga diri ).

Adhrubul khabar / Macam-macam informasi ( kalam khabar ).

Keragaman  informasi ( kalam khabar ) di pengaruhi oleh kondisi si lawan bicara. 
1. Apabila menginformasikan pada lawan bicara yang belum pernah tahu terhadap informasi yang disampaikan. Maka informasi ( kalam Khabar ) tersebut disebut khabar ibtida’i .
2.  Apabila menginformasikan pada lawan bicara, lalu ia ( lawan bicara ) penasaran dan ingin tahu kepastian dan kebenaran informasi itu, maka si informan dianjurkan men-taukidi informasi yang ia sampaikan, agar si lawan bicara merasa yakin. Informasi yang di sampaikan dalam keadaan ini disebut khabar thalabi. 
3. Apabila menginformasikan pada lawan bicara, lalu ia ( lawan bicara ) tidak percaya atau inkar terhadap informasi tersebut, maka si informan harus men-taukidinya ( menguatkannya dengan sumpah atau yang lain ). Informasi ( yang disampaikan dalam keadaan ini disebut Khabar inkari.

Kesimpulannya. Khabar ada tiga macam 1-khabar ibtida’i 2-khabar thalabi- 3-khabar inkari.
Sumber;  kitab al-balghoh al-wadhihah karya ali jarim dan mustofa amin halaman 137-156. Cetakan al-hidayah.


Ini hanya kesimpulan. Terima kasih anda telah membaca artikel ini.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Mengenal istilah-istilah dalam kitab kuning (1)




Dalam perbedaan antara kitab, bab dan pasal, imam Ar-Roniniy (semoga Allah mengharumkan jejaknya) berkata :

Kitab : perkara yang mengumpulkan/menghimpun/mencakup/memuat pada masalah-masalah yang tunggal/sama dalam jenisnya, berbeda dalam macamnya.

Bab : perkara yang mengumpulkan pada masalah-masalah yang sama dalam macamnya, berbeda dalam sifat/golongan.

Pasal : perkara yang mengumpulkan pada masalah-masalah yang sama dalam sifatnya, berbeda dalam personalnya.

Lihat Kitab Mu'jamul Furuq (1/447) :

الفرق بين الكتاب والباب والفصل :
قال شيخنا الرنيني طاب ثراه: الكتاب هو الجامع لمسائل متحدة في الجنس مختلفة في النوع.
والباب: هو الجامع لمسائل متحدة في النوع، مختلفة في الصنف.
والفصل: هو الجامع لمسائل متحدة في الصنف، مختلفة في الشخص.

Dalam kitab Tuhfah dijelaskan bahwa Kitab seperti kutub dan kitabah secara etimologi berarti dlomm dan jam' (kumpul), secara terminologi adalah nama bagi jumlah yang ditentukan dari ilmu. Dan kitab itu adakalanya tetap dalam ke-mashdar-annya atau bermakna isim maf'ul atau isim fail, dan sedangkan idlofah adakalahnya bermakna lam atau bayaniyah, dan dibuat ungkapan dari jumlah itu dengan kata bab, dan pasal. Ketika semua dikumpulkan, maka yang pertama (kitab) mencakup pada dua yang akhir (bab dan pasal), yang kedua (bab) memuat pada yang ketiga (pasal), dan yang ketiga (bab) mencakup pada masalah-masalah secara umum dalam keseluruhan. Lihat Kitab Tuhfah (1/62) :

والكتاب كالكتب والكتابة لغة الضم والجمع ، واصطلاحا اسم لجملة مختصة من العلم فهو إما باق على مصدريته أو بمعنى اسم المفعول أو الفاعل والإضافة إما بمعنى اللام أو بيانية ،
ويعبر عن تلك الجملة بالباب وبالفصل فإن جمعت كان الأول للمشتملة على الأخيرين والثاني للمشتملة على الثالث وهو المشتملة على مسائل غالبا في الكل

Sedangkan di dalam kitab quut al-habib halaman 9 redaksinya seperti berikut ini :

؛{ والكتاب لغة } أي من جهة لغة العرب { مصدر } أي أمر يحدثه الفاعل متلبس { بمعنى الضم والجمع } وهو عطف عام على خاص ، لأن كل ضم فيه جمع ولا عكس لأخذ التلاصق في مفهوم ضم دون الجمع
؛ { واصطلاحا } أي في عرف الفقهاء { اسم لجنس من الأحكام } أي قليلة كانت أو كثيرة
؛ { أما الباب فاسم لنوع } أي لجملة من الألفاظ شبيهة بالنوع { مما دخل تحت ذلك الجنس } أي الكتاب الشبيه الجنس
قال بعضهم : الكتاب اسم لجملة مختصة من العلم مشتملة على أبواب وفصول ، والباب اسم لجملة مختصة من العلم مشتملة على فصول ، والفصل اسم لجملة مختصة من العلم مشتملة على مسائل ، فالكتاب كالجنس الجامع لأبواب جامعة لفصول جامعة لمسائل ، فالأبواب أنواعه والفصول أصنافه والمسائل أشخصه .

Dan di dalam kitab al-bajuri juz 1, hal. 23-24 dijelaskan sebagai berikut :

؛{ قوله اسم لجنس من الأحكام } هو أولى من قول بعضهم : اسم لجملة من الأحكام ، لأن تعبيره بالجنس يفيد شموله لما قل أو كثر من الأحكام ، بخلاف التعبير بالجملة ،
ولا بد من تقدير مضاف فيهما أي لدال جنس من الأحكام أو دال جملة من الأحكام ، لأن التحقبق أن التراجم أسماء للألفاظ المخصوصة باعتبار دلالتها على المعاني المخصوصة ،
زاد بعضهم مشتملة على أبواب وفصول وفروع ومسائل غالبا ، وقد لا تشتمل على ذلك ... الخ
؛{ قوله أما الباب الخ } ــ إلى أن قال ــ ومعنى الباب لغة فرجة في ساتر يتوصل منها من داخل إلى خارج وعكسه ، ومعنى الفصل لغة الحاجز بين الشيئين ، واصطلاحا اسم لألفاظ مخصوصة دالة على معان مخصوصة مشتملة على فروع ومسائل غالبا ، والفرع لغة ما انبنى على غيره ، ويقابله الأصل ، واصطلاحا اسم لألفاظ مخصوصة مشتملة على مسائل غالبا ، ... الخ


Referensi:

Piss ktb

Teka Teki Bahasa Arab (Kalam Hikmah)



خير الناس من كف فكه وفك كفه     وشر الناس من فك فكه وكف كفه     فكم من فكة كف كفت فكوكهم    وكم من كفة فك فكت كفوفهم     فكفوا فكوككم وفكوا كفوفكم.

Arti dari kalimat di atas adalah

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ كَفَّ فَكَّهُ وَفَكَّ كَفَّهُ
Sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa menahan mulutnya (yaitu menjaga ucapannya) dan membuka tangannya (yaitu ringan tangan dan suka membantu).

وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ فَكَّ فَكَّهُ وَكَفَّ كَفَّهُ
Sejelek-jelek manusia adalah orang yang suka membuka mulutnya (yaitu tidak menjaga mulutnya) dan menahan tangannya (yaitu tidak suka menolong).

ْفَكَمْ مِنْ فَكَةِ كَفٍّ كَفَتْ فُكُوكَهُمْ
Betapa banyak orang yang membuka tangannya (suka menolong) menahan mulutnya (menjaga ucapannya)

وَكَمْ مِنْ كَفَةِ فَكٍّ فَكَتْ كُفُوفَهُمْ
Dan betapa banyak orang yang menahan tangannya (tidak suka menolong) membuka mulutnya (tidak menjaga ucapannya).

كَفُّوا فُكُوكَكُمْ وَفَكُّوا كُفُوْفَكُمْ .

Tahanlah mulut-mulut kalian dan bukalah tangan-bukalah kalian (yaitu suka menolong).

Ngaji Itqon (27): Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?

Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama? Memahami Hikmah Ibham dalam Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat...