Tampilkan postingan dengan label Ilmu Nasab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Nasab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Oktober 2024

Cara Meng-itsbat Nasab



Cara dalam Menetapkan atau Meng-itsbat Nasab


Untuk menetapkan atau meng-itsbat sebuah nasab, para ulama nasab memberikan setidaknya 4 cara. (thuruq),

1. (Kitab Ulama Nasab)

أَنْ يُرَى خَطُّ نَسَّابَةٍ مَوْثُوقٌ بِهِ يُعْرَفُ خَطُّهُ وَيَتَحَقَّقُهُ، فَحِينَئِذٍ إِذَا شَهِدَ خَطَّ النَّسَابَةِ بِشَيْءٍ عُمِلَ عَلَيْهِ.

Adanya kitab atau tulisan ulama nasab yang terpercaya (tsiqah), diketahui tulisannya dan beliau mentahqiqnya atau membenarkannya. Lantas jika telah diketahui tulisan ulama nasab tersebut, maka bisa untuk diamalkan.

2. (Bukti Secara Syara’)

أَنْ يَقُومَ عِنْدَهُ الْبَيِّنَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَهِيَ شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ مُسْلِمَيْنِ حُرَّيْنِ بَالِغَيْنِ يُعْرَفُ عَدَالَتُهُمَا بِخِبْرَةٍ أَوْ بِتَزْكِيَّةٍ وَأَنْ يَكُونَا عَالِمَيْنِ بِالْأَنْسَابِ فَحِينَئِذٍ يَجِبُ الْعَمَلُ بِقَوْلِهِمَا.

Ia harus mempunyai bukti yang sah secara syara’, yaitu kesaksian dua orang laki-laki Muslim Merdeka dan baligh, yang keadilannya diketahui berdasarkan pengalaman atau rekomendasi (kesucian dirinya dari maksiat), dan bahwa ia harus memiliki pengetahuan tentang nasab, dalam hal ini wajib mengamalkan apa yang mereka katakan.

3. (Pengakuan Seorang Ayah )

أنْ يَعْتَرِفَ عِنْدَهُ مَثَلًا أَبٌ بِابْنٍ، وَإِقْرَارُ العَاقِلِ عَلَى نَفْسِهِ جَائِزٌ. فَيَجِبُ أَنْ يُلْحِقَهُ بِقَوْلِ أَبِيهِ.

Misalnya, seorang ayah mengakui anaknya, dan orang yang berakal mengakui dirinya, hal itu diperbolehkan. Dalam hal ini maka dia harus mengikuti apa yang dikatakan ayahnya.

4. (Syuhrah wal Istifadhah)

الشُّهْرَةُ وَالِاسْتِفَاضَةُ بِالسِّيَادَةِ بِأَنْ يَكُونَ آبَاؤُهُ وَأَجْدَادُهُ مَعْرُوفِينَ وَمَشْهُورِينَ بِالسِّيَادَةِ بِحَيْثُ يَعْرِفُونَهُمْ بِالسِّيَادَةِ فِي جَمِيعِ الأَجْيَالِ.

Masyhur dan banyak diketahui, seperti ayah dan kakek-kakeknya dikenal dan terkenal akan ke-sayidan-nya. Sekiranya mereka dikenal ke-sayidan-nya hingga di setiap generasi.

Dalam empat cara penetapan sebuah keabsahan nasab, hanya nomer satu yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kitab atau semacam manuskrip. Tetapi lagi-lagi tidak ada syarat yang mewajibkan adanya kitab se zaman atau yang mendekati. Empat cara ini yang telah digunakan oleh para ulama nasab sejak dulu. 

Hal yang wajib diketahui, bahwa para ulama nasab memberikan empat cara penetapan nasab dengan menggunakan lafadz thuruq kata jamak dari lafadz thariq, yang berarti jalan atau cara. Artinya jika satu saja terpenuhi, maka sudah dianggap cukup dalam menetapkan nasab seorang Habib tersebut. Bedahalnya dengan lafadz syuruth (شروط) jamak dari kata syartun, yang berarti jika satu saja tidak terpenuhi, maka semuanya gugur. 
__________________________________

Refrensi : Sayid Mahdi ar-Roja'i, al-Mu'qibun, juz 1, hal 12-13. 

Wallahua'lam...

Sumber: Ust Abdul Wafi

Sabtu, 14 September 2024

Lingkaran Habaib Ba’alawi dalam kehidupan Syaikhona Kholil Bangkalan



Dari 30 manuskrip yang telah ditemukan oleh Tim Turots Syaikhona Kholil Bangkalan, ada 1 kitab yang bagi saya sangat menarik, Kitab Manaqib atau biografi Syaikhona Kholil berbahasa arab sebanyak 11 halaman, yang setelah kami konfirmasi kepada Syaikh Sufyan Marbu ( salah satu Sekertaris Syaikh Yasin Al-Fadani ) bisa dipastikan bahwa kitab itu adalah tulisan tangan Syaikh Yasin sendiri. Tentunya bukan suatu hal yang mengherankan jika beliau sampai menuliskan biografi Syaikhona dalam sebuah risalah khusus, dikarenakan sanad-sanad Syaikh Yasin dalam beberapa kitab memang bersambung ke Syaikhona Kholil melalui dua guru beliau yang pernah berguru kepada Syaikhona : Kh. Maksum Lasem dan Syaikh Tubagus Bakri Banten ( Mama Sempur )

dalam kitab itu Syaikh Yasin beberapa kali menyebutkan “Circle” Ba’alawi dalam kehidupan Syaikhona Kholil, pertama ketika beliau mengutip ucapan Habib Salim Bin Jindan ( kakek Habib Jindan yang juga merupakan santri Syaikhona Kholil ) tentang silsilah nasab Syaikhona. Dinukil oleh Habib Salim, Syaikhona semasa hidupnya pernah berkata : 

إنما أنا من ذرية صاحب جبل قيري هو محمد عين اليقين الملقب برادين فاكونقارا و أمي من سلالة الملوك 

“ adapun saya adalah keturunan Sunan Giri Muhammad Ainul Yaqin ( Raden Paku ), sedangkan ibu saya dari keturunan kerajaan “ 

Kedua adalah ketika Syaikh Yasin menyebutkan para guru Syaikhona selama di tanah Hijaz, ketika di Mekkah Syaikhona tercatat pernah berguru kepada Habib Muhammad Bin Husein Al-Habsy, ayah dari Habib Ali Al-Habsy Shohib Simtudduror yang menjabat sebagai Mufti Syafi’iyah di Mekkah pada waktu itu. ketika di Madinah, Syaikhona juga pernah ngaji hadits kepada Habib Hasyim Bin Syeikh Al-Habsy 

Ketiga adalah ketika Syaikh Yasin menerangkan para santri Syaikhona Kholil, menurut beliau Syaikhona semasa hidup mencetak sekitar setengah juta santri, 3000 diantaranya berhasil bergelar “Alim Allamah”, diantara sekian banyak santri Syaikhona yang disebut Syaikh Yasin, banyak sekali nama-nama dari kalangan Habaib Ba’alawi antara lain :

 1. Habib Ahmad Bin Hasan Bin Jindan 2. Habib Salim Bin Jindan ( beliau pernah menuliskan : saya, ayah saya dan kakek saya, semua pernah sowan kepada Syaikhona Kholil ) 3. Syaikha Ummu Kultsum Binti Idris Basyaiban 4. Habib Ja’far Bin Muhammad Al-Haddad 5. Habib Umar Bin Sholih Assegaf Surabaya 6. Habib Abdullah Bin Ali Al-Haddad Bangil 7. Habib Hasan Bin Abdurrahman Bin Smith 8. Habib Idrus Bin Hasan Al-Munawwar 9. Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Habsy 10. Habib Alwi Bin Muhammad Bilfaqih

Masih banyak para santri Syaikhona dari kalangan Habaib yang tidak dicantumkan Syaikh Yasin seperti Habib Ali Bafaqih ( salah satu “wali pitu” Bali yang dimakamkan di Negare ). ini fakta yang menunjukkan bahwa para Sadah Ba’alawi sejak dulu bukan golongan “Ekslusif” yang hanya mau berguru kepada golongan mereka sendiri seperti yang akhir-akhir ini di-framing-kan. ketika saya mondok di Al-Anwar Sarang, saya punya beberapa teman sekelas dari kalangan Habaib. adapun narasi semacam : “berguru kepada Habib Jahil lebih baik dari berguru kepada 70 kiai Alim” jelas merupakan narasi tak berdasar, yang jika benar itu diucapkan oleh salah satu Habaib, maka saya yakin itu adalah oknum yang tidak bisa dijadikan sebagai representasi Ba’alawi. 

Terakhir adalah ketika Syaikh Yasin menjelaskan tentang akhlak mulia seorang Syaikhona, beliau menuliskan : 

" Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki rasa hormat dan tadhim yang sangat besar kepada semua ahlul bait dan orang-orang arab. Tidak pernah ada ulama Nusantara yang menghormati Ahlul Bait melebihi beliau. Beliau tidak pernah memuliakan dan menghormati seseorang melebihi penghormatan beliau kepada para Asyraf. Seringkali Al-Imam Al-Masyhur Al-Habib Muhammad Bin Musthofa Al-Muhdhor berkunjung ke rumah beliau. Maka beliau akan melepas sandal beliau, berjalan tanpa alas kaki, dan menundukkan kepalanya untuk menyambut kedatangan Sang Habib dari kejauhan. Dan orang-orang menyaksikan hal ini dari beliau bukan hanya satu atau dua kali. 

Al-Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfaqih juga sering bertamu kepada beliau. Bahkan demi itu, Habib Ahmad rela menaiki Kapal di tengah-tengah ombak dan angin kencang. Dan setiap kali berkunjung ke Bangkalan, Syaikhona pasti akan menyuruh salah seorang santrinya untuk menyambut Habib Ahmad di pelabuhan Kamal, padahal beliau tidak pernah memberi kabar kepada Syaikhona bahwa beliau akan datang ke Bangkalan. 

Syaikhona juga pernah memuliakan Al-Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Muhdhor dengan sambutan yang luar biasa ketika beliau berkunjung ke Demangan Bangkalan. Syaikhona juga seringkali berbalas surat kepada Al-Habib Al-Muhaddits Husain Bin Muhammad Al-Habsyi Mekkah (Kakak dari Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid ). Ketika di Mekkah, Syaikhona pernah berguru kepada ayah beliau, Mufti Mekkah Al-Habib Muhammad Bin Husain Al-Habsyi “ 

ketika masa hidup Syaikhona juga sering mewasiatkan dan mengijazahkan Rotib Haddad kepada para keluarga dan santrinya, beliau pernah menuliskan Rotib Haddad secara khusus untuk Nyai Aminah istri beliau di daerah Telaga Biru Bangkalan, beliau juga pernah memberi ijazah Rotib Hadad kepada santri beliau “Manab Magelang” atau Kiai Abdul Karim Lirboyo

hubungan dan ikatan harmonis dengan para Habaib sejak zaman Syaikhona itu alhamdulillah terus lestari hingga generasi kami kini, pada tahun 2008, ketika mau mondok di Lasem, Muhammad Ismail Al-Ascholy pernah diajak umminya almarhumah Nyai Muthmainnah Aschal untuk sowan ke Kiai Kholilurrahman(Ra Lilur) cicit Syaikhina Kholil Bangkalan, seorang Waliyullah Majdzub yg juga paman dari sang Ummi.

Setelah mengutarakan niat untuk menuntut ilmu dan meminta doa, Ra Lilur memberinya secarik kertas, isinya adalah sebaris bait bahasa arab yang berisi “tawassul” kepada Sadah Ba’alawi dan ditulis oleh tangan beliau sendiri :

و بالسادة الطهر الكرام أولي التقى * بني علوي من حووا كل سؤدد

" dengan Barokah "Saadah"(para Sayyid) dari golongan Bani 'Alawy yg suci, mulia, dan memiliki sifat Taqwa, mereka yg telah menggapai semua kemuliaan "

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan nasab akhir-akhir ini, saya tidak ingin banyak berkomentar, saya hanya ingin kita tidak lupa kepada fakta, bahwa sejak dulu lebih dari 1 abad lamanya para Kiai dan Habaib saling hidup rukun dalam kedamaian, mereka saling menghormati, saling mencintai, saling bersatu untuk membumikan ajaran ahlussunnah wal jama’ah di bumi pertiwi ini. adapun yang tidak seperti itu maka ia hanyalah oknum yang tidak seharusnya kita “baperi” dan tidak kita paksakan untuk menjadi representasi. 

sekali lagi para Habaib dan Kiai bukanlah 2 hal berbeda yang bisa dibanding-bandingkan apalagi dibentur-benturkan, keduanya adalah “satu-kesatuan” yang merupakan element penting bagi kesatuan bangsa Indonesia. kamu tidak harus setuju dengan tulisan ini, kita memang tidak harus berfikiran sama, tapi mari kita sama-sama berfikir

 • Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 25 Mei, 2024

Jumat, 30 Agustus 2024

Nasab Paling Valid Menurut Guru Ulama Nusantara



Guru Ulama Nusantara Menyatakan Ijma' Umat Islam Nasab Ba'alawi Termasuk Nasab Paling Valid

Oleh: Gus Nanal Ainal Fauz

Ada netizen meminta saya nukilan kitab ulama terpercaya yang menyatakan nasab Sadah Ba'alawi valid tersambung sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Sebetulnya banyak kibar ulama dan muhadditsin yang secara sharih memvalidasi nasab mulia ini. Seperti al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam al-Murtadla az-Zabidi. Akan tetapi untuk menjawab permintaan itu, saya hanya mengirimi gambar salah satu halaman dalam kitab Riyadl al-Jannah min Adzkar al-Kitab wa as-Sunnah karya Imam Yusuf bin Ismail an-Nabhani (w. 1932 M/1350 H).

Dalam kitab tersebut Imam an-Nabhani tidak hanya menyatakan kevalidan nasab Sadah Ba'alawi, melainkan juga menyatakan ijma' umat alias para umat sepakat bahwa nasab tersebut termasuk nasab yang paling shahih/valid.

Imam an-Nabhani berkata:
إن ساداتنا آل باعلوي الذين هذا الفاضل منهم رضي الله عنهم قد أجمعت الأمة المحمدية في سائر الأعصار والأقطار على أنهم من أصح أهل بيت النبوة نسباً، وأثبتهم حسباً، وأكثرهم علماً وعملاً وفضلاً وأدباً.
Artinya:
"Sesungguhnya para Sadah Alu Ba'alawi yang salah satu dari mereka adalah al-fadhil ini (Sayyid Zainal Abidin Jamalullail Madinah) telah disepakati oleh umat Nabi Muhammad pada seluruh zaman dan negara bahwa mereka termasuk Ahlu Bait Nabi yang paling valid secara nasab, paling luas dalam ilmu, amal, keutamaan dan adabnya."

Perhatikan kalam Imam an-Nabhani "Annahum min Ashahhi Ahli Baiti an-Nubuwwati Nasaban, wa Atsbatihim Hasaban." Yang disepakati umat tidak hanya soal kesahihannya, melainkan juga soal salah satu nasab paling valid yang terhubung kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Berikut lanjutan dawuh Imam an-Nabhani tentang Alu Ba'alawi tanpa saya terjemahkan:
وهم كلهم من أهل السنة والجماعة على مذهب إمامنا الشافعي رضي الله عنه مع كثرتهم إلى درجة لا يقلون فيها عن مائة ألف إنسان، ومع مجاورة بلادهم، وهي بلاد حضرموت إلى الزيدية في اليمن، ومع تفرقهم في سائر البلاد ولا سيما بلاد الهند.
أما علماؤهم الكبار، وأولياؤهم الأخيار، أصحاب الأنوار والأسرار، في هذا العصر وما تقدمه من الأعصار، فهم أكثر وأنور من نجوم السماء، بهم يحصل لكل من اقتدى بهم الاهتداء، ولا يمتري في صحة نسبهم وكثرة فضائلهم ومزاياهم التي تميزوا بها عن الأنام، ببركة جدهم عليه الصلاة والسلام، إلا من قل حظه في الإسلام، وقد اطلعت على بعض مؤلفاتهم فوجدتها كلها هدى، تجلو عن القلب الصدا، واجتمعت ببعضهم فوجدت عندهم من الفضائل ومكارم الأخلاق الدالة على أصالة الأعراق، زيادة على ما لهم من الأصل الأصيل، والشرف الأثيل، ما يملأ العيون قرة، والقلوب مسرة، ووقعت المراسلة بيني وبين بعضهم فوجدت في عباراتهم من اللطف والتواضع وحسن العبارة والتأثير ما لا يمكن للمؤمن أن يطلع عليه، ثم لا يحب صاحبه حباً بليغاً، ومهما ذكرت في شأنهم من جميل الثناء، وحسن المقال، فهو دون ما تضمنه قلبي لهم من حسن الولاء واعتقاد الكمال، رضي الله عنهم وعن سائر ساداتنا أهل البيت الكرام، وبلغ الجميع من خيرات الدنيا والآخرة كل مرام، بجاه جدهم خير الأنام عليه وعليهم الصلاة والسلام، ورزقني من فضلهم الرضا والقبول، والدعاء الصالح المقبول، وإن ختم بالفاتحة فهي غاية المأمول.

Silahkan fokus pada dawuh beliau:
ولا يمتري في صحة نسبهم وكثرة فضائلهم ومزاياهم التي تميزوا بها عن الأنام، ببركة جدهم عليه الصلاة والسلام، إلا من قل حظه في الإسلام.
Artinya: "Tidak meragukan kesahihan nasab dan banyaknya keistimewaan Alu Ba'alawi kecuali orang yang mendapatkan sedikit bagian dari nilai-nilai keislaman."

Maksudnya, orang yang sibuk mempermasalahkan nasab Sadah Ba'alawi tidak dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai keIslaman kecuali hanya sedikit dan sempit.

*

Soal ijma' kevalidan nasab Sadah Ba'alawi ini saya pernah mendengar dua ulama besar zaman ini juga menyatakan demikian. Yaitu Syaikhina Syadi Arbasy Damaskus dan Syaikhina Anas as-Syurafawi Damaskus. 

Syaikh Syadi Arbasy adalah ulama besar asal Damaskus Suriah yang pakar dalam bidang fikih madzhab Syafi'i. Beliau sekarang menjadi dosen dan sesepuh di STAI Imam Syafi'i Cianjur Jawa Barat. Selain sibuk mengajar, beliau juga sibuk mentahqiq kitab. Puluhan kitab telah selesai beliau tahqiq. Salah satunya adalah kitab kebanggaan masyarakat Nusantara, yaitu Hasyiah Syaikh Mahfudz at-Tarmasi Pacitan ala al-Manhaj al-Qawim, yang dicetak Penerbit Darul Minhaj Jeddah dalam tujuh jilid besar. Syaikh Syadi sekarang dalam proses mentahqiq syarah Syaikhona Kholil Bangkalan Ala Alfiyah Ibn Malik.

Adapun Syaikh Anas as-Syurafawi adalah salah satu ulama langka yang dapat menggabungkan antara Akidah dan Tasawuf. Kitab-kitab yang telah beliau tahqiq antara lain Ihya' Ulumiddin cetakan Darul Minhaj, Syarah al-Hikam karya Ibnu Abbad, silsilah lima kitab Imam as-Sanusi dalam Akidah dan puluhan kitab lainnya.

Kitab-kitab tahqiqan Syaikh Anas dan Syaikh Syadi terkenal dengan kualitas istimewa dan akurat. Bisa kita buktikan langsung dengan membaca hasil tahqiqan beliau berdua. Semoga Allah memanjangkan umur mereka dalam keadaan sehat dan afiyah. Amin

*

Soal hujjiyyah Al-Ijma' atau kesepakatan umat, sebagaimana dawuh ulama Ushul Fiqh, adalah dalil syar'i yang paling kuat. Bahkan kekuatan dalilnya melebihi kekuatan dalil al-Quran dan Hadits. Ini dawuh para ulama Ushul Fiqh. Silahkan anda baca langsung kitab-kitab mereka.

*

Kembali ke pembahasan Syaikh Yusuf an-Nabhani. Siapakah beliau? Apakah beliau mempunyai hubugan dengan ulama Nusantara? Mari simak penjelasan berikut.

Imam Yusuf an-Nabhani adalah ulama terkemuka asal Beirut Lebanon. Lahir di daerah Ijzim Palestina (sekarang masuk wilayah Beirut) pada tahun 1265 H dan wafat dan dimakamkan di Beirut pada Ramadhan 1350 H.

Beliau adalah ulama yang sangat gigih dalam membela Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Imam an-Nabhani terkenal gandrung terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Banyak sekali kitab-kitab yang beliau tulis yang tentang al-Hadlrah an-Nabawiyyah. Seperti kitab Afdhal as-Shalawat Ala Sayyid as-Sadat, Sholawat ats-Tsana', Jami' ash-Shalawat, al-Anwar al-Muhammadiyyah, Sa'adat ad-Darain dan Hujjat Allah al-Balighah.

Dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah dan amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah beliau menulis kitab Syawahid al-Haqq fi al-Istighatsah bi Sayyid al-Khalq, Raf'u al-Isytibah fi Istihalat al-Jihati Ala Allah, dan lainnya. Imam an-Nabhani juga menulis kitab dalam dua jilid yang memuat keramat-keramat para wali. Kitab tersebut bernama Jami' Karamat al-Auliya'.

Beliau juga menggubah Qashidah Asmaul Husna yang sangat populer di Jawa. Pernah dipopulerkan oleh KH. Ali Ma'sum Krapyak dan KH. Arwani Amin Kudus. Sampai sekarang masih dibaca di PP Krapyak Yogyakarta dan PP Yanbu'ul Quran Kudus juga pondok-pondok yang didirikan para alumni. Qashidah tersebut berjudul al-Muzdawajat al-Hasna fi al-Istighatsah bi Asma' Allah al-Husna. Mathla' qashidahnya adalah:
بِسۡمِ الۡإِلَٰهِ وَبِهِ بَدَيْنَا ٭ وَلَوۡ عَبَدۡنَا غَيۡرَهُ شَقِينَا
يَاحَبَّذَا رَبَّا وَحُبَّ دِينَا ٭ وَحَبَّذَا مُحَمَّدٌ هَادِيـنَا
لَوۡلَاهُ مَاكُنَّا وَلَابَقِينَا

*

Jika menilik data sejarah kita bakal menemukan ternyata beliau memiliki hubungan erat dengan ulama Nusantara. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, Imam an-Nabhani berteman dengan Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus al-Jawi. Bahkan beliau pernah memberi kalimat taqridz terhadap risalah Syaikh Abdul Hamid Kudus yang berjudul at-Tuhfat al-Mardliyyah fi Jawazi Tafsir al-Qur'an bi al-A'jamiyyah. Yaitu sebuah risalah yang menjawab permintaan fatwa apakah diperbolehkan menulis tafsir al-Quran dengan bahasa non Arab seperti bahasa Jawa dan Persi?. Inti jawabannya adalah: diperbolehkan.

Setelah membaca risalah ini Imam Yusuf an-Nabhani menulis kalimat taqridz:

الحمد لله وحده، قد اطلعت على هذا الجواب من العالم العامل الفاضل الكامل الشيخ عبد الحميد أفندي قدس الجاوي المكي أحد المدرسين في المسجد الحرام، فوجدته جوابا صميما لا شبهة فيه ولا ارتياب، وإني أتعجب ممن يتردد في جواز تفسير القرآن بالعجمية لا على وجه الترجمة لفظا بلفظ الممنوع؛ لأن التفسير على الوجه المذكور لو كان ممنوعا شرعا لما كان لتبليغ الأعاجم معاني القرآن طريقة مطلقا، وهذا بديهي البطلان، لا يقول به أحد من ذوي العرفان.
حرر في ١٣ رجب سنة ١٣٢٢ هـ الفقير يوسف النبهاني رئيس محكمة الحقوق في بيروت.

"Segala puji hanya bagi Allah. Sungguh aku telah membaca jawaban dari al- 'Alim al-'Amil al-Fadhil al-Kamil Syaikh Abdul Hamid Afandi Kudus al-Jawi al-Makki, salah satu pengajar di Masjidil Haram. Saya mendapatinya sebagai jawaban tepat yang di dalamnya tidak ada syubhat dan keraguan. Saya heran terhadap orang yang meragukan diperbolehkannya mentafsiri Al-Quran dengan bahasa Ajam, sebagai tafsir bukan terjemah lafadz perlafadz al-Qur'an yang dilarang. Karena tafsir yang demikian seandainya dilarang, maka tidak akan ada cara untuk menyampaikan makna-makna al-Qur'an kepada orang-orang non Arab. Larangan ini bathil dan Salah secara Badihi.

Ditahrir 13 rojab 1322 H oleh al-Faqir Yusuf an-Nabhani, Kepala Mahkamah al-Huquq di Beirut."

Lalu Imam an-Nabhani membubuhi kalimat taqridznya dengan stempel beliau.

Kedua, Imam an-Nabhani adalah guru dari Syaikh Yasin al-Fadani dan ayah beliau. Yaitu Syaikh Isa bin Odek al-Fadani.

Syaikh Yasin al-Fadani pernah mendapat sanad dan ijazah dari Imam an-Nabhani. Syaikh Yasin pun juga mencatat nama Imam an-Nabhani sebagai guru dalam beberapa kitabnya. Antara lain kitab al-Kawakib ad-Darari.

Sedangkan ayahnya, Syaikh Isa al-Fadani, kisah pertemuan beliau dengan Imam an-Nabhani diabadikan oleh Syaikh Mukhtaruddin al-Falimbani yang tak lain adalah murid Syaikh Yasin al-Fadani, dalam kitab beliau yang berjudul Bulugh al-Amani fi at-Ta'rif bi Syuyukh wa Asanid Musnid al-'Ashr al-Fadani. Beliau berkata:

جاور بالمدينة المنورة أعواماً ولما زار والد شيخنا الشيخ الحاج محمد عيسى بن أوديق زيارته الأولى إلى المدينة اتفق به في الحرم النبوي وأنس به وزاره في منزله وجالسه وأخذ عنه في الأوراد والأذكار والصلوات وغيرها واستفاد منه وأجيز منه عامة شفهياً.

"Syaikh Yusuf an-Nabhani pernah tinggal di Madinah al-Munawwarah beberapa tahun. Ketika ayah Syaikhna al-Fadani, Syaikh Muhammad Isa bin Odek al-Fadani, pertama kali ziarah ke Madinah, tak sengaja bertemu dengan Syaikh an-Nabhani di Masjid an-Nabawi. Mereka pun mulai akrab. Lalu Syaikh Isa al-Fadani mengunjungi beliau dan mujalasah di kediamannya. Dari beliau Syaikh Isa al-Fadani mengambil ijazah wirid, dzikir, shalawat dan lain sebagainya. Syaikh an-Nabhani juga mengijazahi Syaikh Isa Ijazah Ammah secara lisan."

ثم في سنة ١٣٤٩ بعث إليه وهو ببيروت خطابا طلب فيه منه كتابة الإجازة لنفسه ولأولاده الثلاثة شيخنا محمد ياسين وأخويه محمد طه وإبراهيم فاستجاب وأجاز عامة وكتب الإجازة بخطه الشريف من بيروت في ١٩ رجب سنة ١٣٤٩ نصها مودع في بغية المريد من علوم الأسانيد.

"Kemudian pada tahun 1349 H, Syaikh Isa al-Fadani (Ayah Syaikh Yasin) mengirim surat kepada Syaikh an-Nabhani yang saat itu sedang di Beirut, meminta menuliskan ijazah untuk diri Syaikh Isa dan ketiga anaknya; Syaikhna Muhammad Yasin, Muhammad Thaha dan Ibrahim. Syaikh an-Nabhani pun mengabulkan permintaannya. Beliau mengijazahi ijazah ammah dan menuliskan ijazah tersebut dengan tulisan beliau sendiri dari Beirut, tertanggal 19 Rajab 1349 H. Redaksi ijazah itu termuat dalam kitab "Bughyat al-Murid min 'Ulum al-Asanid" (karya Syaikh Yasin al-Fadani)."

Selain Syaikh Yasin al-Fadani dan ayahnya, ulama Nusantara yang juga pernah mengambil ilmu dari Imam an-Nabhani adalah Habib Ali bin Husain al-Attas Bungur, mahaguru dari para ulama Betawi pada masanya.

Habib Ali Bungur menyebutkan nama Imam an-Nabhani sebagai guru dalam beberapa tulisan beliau. Antara lain dalam ijazah beliau untuk KH. M. Utsman al-Ishaqi Surabaya dan Muallim Syafi'i Hadzami Jakarta. Bahkan, Habib Ali Bungur juga menulis sekilas profil Imam an-Nabhani dalam kitab mahakarya beliau Taj al-A'ras fi Manaqib al-Habib Shalih al-Attas.

Semoga keberkahan mereka menyertai kita semua. Amin

Pati, 19 Mei 2024

Sabtu, 24 Agustus 2024

Cara Meng-itsbat Nasab



Cara dalam Menetapkan atau Meng-itsbat Nasab
____________________________________

Untuk menetapkan atau meng-itsbat sebuah nasab, para ulama nasab memberikan setidaknya 4 cara. (thuruq),

1. (Kitab Ulama Nasab)

أَنْ يُرَى خَطُّ نَسَّابَةٍ مَوْثُوقٌ بِهِ يُعْرَفُ خَطُّهُ وَيَتَحَقَّقُهُ، فَحِينَئِذٍ إِذَا شَهِدَ خَطَّ النَّسَابَةِ بِشَيْءٍ عُمِلَ عَلَيْهِ.

Adanya kitab atau tulisan ulama nasab yang terpercaya (tsiqah), diketahui tulisannya dan beliau mentahqiqnya atau membenarkannya. Lantas jika telah diketahui tulisan ulama nasab tersebut, maka bisa untuk diamalkan.

2. (Bukti Secara Syara’)

أَنْ يَقُومَ عِنْدَهُ الْبَيِّنَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَهِيَ شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ مُسْلِمَيْنِ حُرَّيْنِ بَالِغَيْنِ يُعْرَفُ عَدَالَتُهُمَا بِخِبْرَةٍ أَوْ بِتَزْكِيَّةٍ وَأَنْ يَكُونَا عَالِمَيْنِ بِالْأَنْسَابِ فَحِينَئِذٍ يَجِبُ الْعَمَلُ بِقَوْلِهِمَا.

Ia harus mempunyai bukti yang sah secara syara’, yaitu kesaksian dua orang laki-laki Muslim Merdeka dan baligh, yang keadilannya diketahui berdasarkan pengalaman atau rekomendasi (kesucian dirinya dari maksiat), dan bahwa ia harus memiliki pengetahuan tentang nasab, dalam hal ini wajib mengamalkan apa yang mereka katakan.

3. (Pengakuan Seorang Ayah )

أنْ يَعْتَرِفَ عِنْدَهُ مَثَلًا أَبٌ بِابْنٍ، وَإِقْرَارُ العَاقِلِ عَلَى نَفْسِهِ جَائِزٌ. فَيَجِبُ أَنْ يُلْحِقَهُ بِقَوْلِ أَبِيهِ.

Misalnya, seorang ayah mengakui anaknya, dan orang yang berakal mengakui dirinya, hal itu diperbolehkan. Dalam hal ini maka dia harus mengikuti apa yang dikatakan ayahnya.

4. (Syuhrah wal Istifadhah)

الشُّهْرَةُ وَالِاسْتِفَاضَةُ بِالسِّيَادَةِ بِأَنْ يَكُونَ آبَاؤُهُ وَأَجْدَادُهُ مَعْرُوفِينَ وَمَشْهُورِينَ بِالسِّيَادَةِ بِحَيْثُ يَعْرِفُونَهُمْ بِالسِّيَادَةِ فِي جَمِيعِ الأَجْيَالِ.

Masyhur dan banyak diketahui, seperti ayah dan kakek-kakeknya dikenal dan terkenal akan ke-sayidan-nya. Sekiranya mereka dikenal ke-sayidan-nya hingga di setiap generasi.

Dalam empat cara penetapan sebuah keabsahan nasab, hanya nomer satu yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kitab atau semacam manuskrip. Tetapi lagi-lagi tidak ada syarat yang mewajibkan adanya kitab se zaman atau yang mendekati. Empat cara ini yang telah digunakan oleh para ulama nasab sejak dulu. 

Hal yang wajib diketahui, bahwa para ulama nasab memberikan empat cara penetapan nasab dengan menggunakan lafadz thuruq kata jamak dari lafadz thariq, yang berarti jalan atau cara. Artinya jika satu saja terpenuhi, maka sudah dianggap cukup dalam menetapkan nasab seorang Habib tersebut. Bedahalnya dengan lafadz syuruth (شروط) jamak dari kata syartun, yang berarti jika satu saja tidak terpenuhi, maka semuanya gugur. 
__________________________________

Refrensi : Sayid Mahdi ar-Roja'i, al-Mu'qibun, juz 1, hal 12-13. 

Polemik Hasil Test DNA



Jika ada yang bertanya secara DNA apakah ubaidillah bersambung Nasabnya kepada Rasulullah? 

Jawabannya tentu saja iya, sebagai contoh lihat link di bawah: 


https://www.familytreedna.com/public/qurayishj1c3d/default.aspx?section=yresults


Lihat pada kode IN92112 di situ terlihat jelas seorang Marga Assegaf Holapgrubnya J1, 


Hasil ini harusnya sudah bisa menghentikan polemik nasab yang terjadi. Sampel ini sudah menjadi sampel Valid tentang ketersambungan Klan Baalwi dari jalur Assegaf.

Lebih penting dari itu, dengan ditetapkannya Holapgrub J1 pada Marga Assegaf berarti secara DNA Ubaidillah sudah resmi bersambung kepada Rasulullah. 

Namun seperti yang kita duga, apapun hasilnya, tetap mereka akan mencari celah salah satunya dengan menghembuskan isu tuduhan keturunan Yahudi memanfaatkan hasil test tersebut.


Kalau boleh jujur Sebetulnya Tuduhan keturunan Yahudi adalah karena memanfaatkan ketidak tahuan kita tentang test DNA (juga kelicikan mereka).

Ketidak tahuan kita (bahasa Kasarnya Kebodohan kita) yang dimaksudkan kita tidak mau belajar tentang DNA, minimal konsep-konsep dasar tentang DNA.

Licik maksudnya mereka tidak memberikan informasi secara menyeluruh (kalau diibaratkan bahsul masail, memotong ta'bir: informasi yang menguntungkan akan disampaikan sementara yang merugikan tidak akan disebutkan).

Padahal tuduhan keturunan Yahudi itu menjadi  senjata makan tuan bagi mereka dan argumentasi yang menguntungkan bagi kita, kenapa?

Karena Holapgrub Y-DNA Orang Yahudi Sama Persis dengan Y-DNA orang Semenanjunng Arab tentunya termasuk juga Rasulullah yang berkode J1* 


https://youtu.be/H41qhf0OQB8?si=LNYDgW77jnxkWYz0



Kenapa pakai Test Holapgrub Y-DNA¹ bukan pakai Test DNA Autosomal² ? Karena yang akurat untuk nenek moyang jauh adalah Y-DNA, sedangkan Autosomal hanya efektif di 5-6 generasi saja. 

Di samping pula sulit untuk menemukan sampel DNA Nabi ( sehingga baik yang pro ataupun kontra tidak memakai Test DNA jenis Ini)

Intinya Dengan menyematkan tuduhan keturunan Yahudi Secara tidak langsung mereka mengakui Baalwi sebagai keturunan Nabi dalam sudut pandang Ilmu Genealogi Modern. 

Sebagai catatan secara Syar'i Test DNA adalah salah satu sarana untuk memperkuat pengakuan nasab, bukan Menafikan yang sudah Isbat secara Syara'. 



Ket:
* Akhir-Akhir ini mengubah lagi tuduhannya, yang asalnya tuduhan keturunan Yahudi berubah menjadi keturunan majusi dan Holapgrub G, padahal di situs Naqobah DNA sudah terverifikasi J1

 ¹ Test Y-DNA adalah test untuk mengetahui DNA dari Jalur Ayah saja
²  Test untuk melacak keluarga dari kedua orang tua

Kamis, 22 Agustus 2024

Pembagian Nasab Menurut An-Nassabah



Istilah-Istilah Ulama Nasab
____________________

Nasab Sahih
_________

وَهُوَ الَّذِيْ ثَبَتَ عِنْدَ النَّسَابَةِ بِالشَّهَادَةِ وَقُوْبِلَ بِنُسْخَةِ الْأَصْلِ وَنُصَّ عَلَيْهِ بِإِجْمَاعِ الْمَشَايِخِ النَّسَابِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْمَشْهُوْرِيْنَ بِالْأَمَانَةِ وَالصَّلَاحِ وَالْفَضْلِ وَكَمَالٍ لِلْعَقْلِ وَطَهَارَةِ الْمَوْلِدِ.

Nasab yang sahih adalah nasab yang telah ditetapkan oleh Ulama nasab dengan kesaksian dan diterima dengan salinan asli serta telah ditetapkan sesuai kesepakatan para masyayikh nasab dan ulama yang masyhur dengan amanahnya, kesalehan, keutamaan, kesempurnaan akal, dan kesucian lahiriahnya.

Nasab yang diterima (Maqbul)
______________________

فَهُوَ الَّذِي ثَبَتَ نَسَبُهُ عِندَ بَعْضِ النَّسَّابِينَ وَأَنَكَرَهُ آخَرُ فَصَارَ مَقْبُولًا مِنْ جِهَةِ شَاهِدَيْنِ عَدْلَيْنِ

Nasab yang diterima adalah nasab yang ditetapkan oleh sebagian ulama nasab, namun diingkari oleh sebagian ulama nasab yang lain. Maka hal ini menjadi nasab yang maqbul (diterima) dari sisi dua saksi yang adil.
 
Nasab yang ditolak (Mardud)
_____________________

فَهُوَ الَّذِي ادَّعَى إِلَى قَبِيلَةٍ وَلَمْ يَكُنْ مِنْهُمْ ثُمَّ عَلِمُوا تِلْكَ الْقَبِيلَةَ بِبُطْلَانِهِ ثُمَّ مَنَعُوهُ عَنْ دَعْوَاهُ فَصَارَ حُكْمُهُ عِنْدَ النَّسَّابَةِ أَنَّهُ مَرْدُودُ النَّسَبِ.
Nasab yang ditolak adalah nasab orang yang mengaku-ngaku kepada suatu kabilah, padahal ia bukan bagian dari kabilah tersebut. Lalu kabilah itu menghalanginya untuk menuntut klaimnya. Kasus semacam ini menurut ulama nasab adalah nasab yang tertolak.

Nasab yang masyhur 
________________

فَهُوَ مَنِ اشْتَهَرَ بِالسِّيَادَةِ وَلَمْ يُعْرَفْ نَسَبُهُ فَحُكْمُهُ عِنْدَ النَّسَّابَةِ مَشْهُورٌ عِنْدَ الْعَامَّةِ مَجْهُولٌ فِي النَّسَبِ بِخِلَافِ بَعْضِهِمْ.

Nasab yang masyhur ialah nasab seseorang yang terkenal dengan ke-sayidan-nya, tetapi nasabnya tidak diketahui. Kasus ini menurut ulama nasab adalah nasab yang masyhur bagi rakyat umum, namun nasabnya tidak diketahui, berbeda dengan sebagian dari mereka.

Ini adalah istilah-istilah para ulama nasab yang dipakai di setiap masa, dari ke empat definisi ini kita akan tahu, nasab Ba Alawi tergolong yang nomer berapa. Tidak lantas memunculkan istilah baru seperti nasab batil, nasab munqati’ (terputus) dan lain sebagainya. Juga, kita tahu bahwa dalil tertolaknya nasab Ba Alawi dengan alasan tidak disebutkan di kitab abad 5 hingga 8, bukanlah hujah yang tepat. Karena dari ke empatnya, tidak ada satupun yang menjelaskan tertolaknya nasab hanya karena tidak tersebut dalam kitab se zaman atau yang mendekati. 

Justru kalau kita mau menggunakan kaidah dalam ilmu fikih, ulama muta’akhirin jauh lebih kuat dibanding mutaqaddimin (al-ashab). Seperti pendapat Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan lain-lain, lebih kuat untuk dijadikan pegangan dari pada Imam as-Syafi’i, ar-Ruyani dan al-Muzani. Bukan berarti Imam Nawawi lebih alim dari pada Imam as-Syafi’i. Tetapi Imam Nawawi lebih paham apa maksud dari pendapat dan kaidah yang datang dari Imam as-Syafi’i. Atau dalam disiplin ilmu nasikh wa al-mansukh, justru yang terahirlah, hujjah terkuat bagi kita.

Refrensi : Ibnu Inabah, Umdah ath-Thalib, hal 370.

Sumber: Ust Abdul Wafi

Rabu, 21 Agustus 2024

Ikatan Syaikhona Kholil Dengan Para Habaib Ba 'Alawi



*Lingkaran Habaib Ba’alawi dalam kehidupan Syaikhona Kholil Bangkalan*

Dari 30 manuskrip yang telah ditemukan oleh Tim Turots Syaikhona Kholil Bangkalan, ada 1 kitab yang bagi saya sangat menarik, Kitab Manaqib atau biografi Syaikhona Kholil berbahasa arab sebanyak 11 halaman, yang setelah kami konfirmasi kepada Syaikh Sufyan Marbu ( salah satu Sekertaris Syaikh Yasin Al-Fadani ) bisa dipastikan bahwa kitab itu adalah tulisan tangan Syaikh Yasin sendiri. Tentunya bukan suatu hal yang mengherankan jika beliau sampai menuliskan biografi Syaikhona dalam sebuah risalah khusus, dikarenakan sanad-sanad Syaikh Yasin dalam beberapa kitab memang bersambung ke Syaikhona Kholil melalui dua guru beliau yang pernah berguru kepada Syaikhona : Kh. Maksum Lasem dan Syaikh Tubagus Bakri Banten ( Mama Sempur )


dalam kitab itu Syaikh Yasin beberapa kali menyebutkan “Cirle” Ba’alawi dalam kehidupan Syaikhona Kholil, pertama ketika beliau mengutip ucapan Habib Salim Bin Jindan ( kakek Habib Jindan yang juga merupakan santri Syaikhona Kholil ) tentang silsilah nasab Syaikhona. Dinukil oleh Habib Salim, Syaikhona semasa hidupnya pernah berkata : 

إنما أنا من ذرية صاحب جبل قيري هو محمد عين اليقين الملقب برادين فاكونقارا و أمي من سلالة الملوك 

“ adapun saya adalah keturunan Sunan Giri Muhammad Ainul Yaqin ( Raden Paku ), sedangkan ibu saya dari keturunan kerajaan “ 

Kedua adalah ketika Syaikh Yasin menyebutkan para guru Syaikhona selama di tanah Hijaz, ketika di Mekkah Syaikhona tercatat pernah berguru kepada Habib Muhammad Bin Husein Al-Habsy, ayah dari Habib Ali Al-Habsy Shohib Simtudduror yang menjabat sebagai Mufti Syafi’iyah di Mekkah pada waktu itu. ketika di Madinah, Syaikhona juga pernah ngaji hadits kepada Habib Hasyim Bin Syeikh Al-Habsy 

Ketiga adalah ketika Syaikh Yasin menerangkan para santri Syaikhona Kholil, menurut beliau Syaikhona semasa hidup mencetak sekitar setengah juta santri, 3000 diantaranya berhasil bergelar “Alim Allamah”, diantara sekian banyak santri Syaikhona yang disebut Syaikh Yasin, banyak sekali nama-nama dari kalangan Habaib Ba’alawi antara lain :

 1. Habib Ahmad Bin Hasan Bin Jindan 2. Habib Salim Bin Jindan 3. Syaikha Ummu Kultsum Binti Idris Basyaiban 4. Habib Ja’far Bin Muhammad Al-Haddad 5. Habib Umar Bin Sholih Assegaf Surabaya 6. Habib Abdullah Bin Ali Al-Haddad Bangil 7. Habib Hasan Bin Abdurrahman Bin Smith 8. Habib Idrus Bin Hasan Al-Munawwar 9. Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Habsy 10. Habib Alwi Bin Muhammad Bilfaqih

Masih banyak para santri Syaikhona dari kalangan Habaib yang tidak dicantumkan Syaikh Yasin seperti Habib Ali Bafaqih ( salah satu “wali pitu” Bali yang dimakamkan di Negare ). ini fakta yang menunjukkan bahwa para Sadah Ba’alawi sejak dulu bukan golongan “Ekslusif” yang hanya mau berguru kepada golongan mereka sendiri seperti yang akhir-akhir ini di-framing-kan. ketika saya mondok di Al-Anwar Sarang, saya punya beberapa teman sekelas dari kalangan Habaib. adapun narasi semacam : “berguru kepada Habib Jahil lebih baik dari berguru kepada 70 kiai Alim” jelas merupakan narasi tak berdasar, yang jika benar itu diucapkan oleh salah satu Habaib, maka saya yakin itu adalah oknum yang tidak bisa dijadikan sebagai representasi Ba’alawi. 

Terakhir adalah ketika Syaikh Yasin menjelaskan tentang akhlak mulia seorang Syaikhona, beliau menuliskan : 

" Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki rasa hormat dan tadhim yang sangat besar kepada semua ahlul bait dan orang-orang arab. Tidak pernah ada ulama Nusantara yang menghormati Ahlul Bait melebihi beliau. Beliau tidak pernah memuliakan dan menghormati seseorang melebihi penghormatan beliau kepada para Asyraf. Seringkali Al-Imam Al-Masyhur Al-Habib Muhammad Bin Musthofa Al-Muhdhor berkunjung ke rumah beliau. Maka beliau akan melepas sandal beliau, berjalan tanpa alas kaki, dan menundukkan kepalanya untuk menyambut kedatangan Sang Habib dari kejauhan. Dan orang-orang menyaksikan hal ini dari beliau bukan hanya satu atau dua kali. 

Al-Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfaqih juga sering bertamu kepada beliau. Bahkan demi itu, Habib Ahmad rela menaiki Kapal di tengah-tengah ombak dan angin kencang. Dan setiap kali berkunjung ke Bangkalan, Syaikhona pasti akan menyuruh salah seorang santrinya untuk menyambut Habib Ahmad di pelabuhan Kamal, padahal beliau tidak pernah memberi kabar kepada Syaikhona bahwa beliau akan datang ke Bangkalan. 

Syaikhona juga pernah memuliakan Al-Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Muhdhor dengan sambutan yang luar biasa ketika beliau berkunjung ke Demangan Bangkalan. Syaikhona juga seringkali berbalas surat kepada Al-Habib Al-Muhaddits Husain Bin Muhammad Al-Habsyi Mekkah (Kakak dari Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid ). Ketika di Mekkah, Syaikhona pernah berguru kepada ayah beliau, Mufti Mekkah Al-Habib Muhammad Bin Husain Al-Habsyi “ 

ketika masa hidup Syaikhona juga sering mewasiatkan dan mengijazahkan Rotib Haddad kepada para keluarga dan santrinya, beliau pernah menuliskan Rotib Haddad secara khusus untuk Nyai Aminah istri beliau di daerah Telaga Biru Bangkalan, beliau juga pernah memberi ijazah Rotib Hadad kepada santri beliau “Manab Magelang” atau Kiai Abdul Karim Lirboyo

hubungan dan ikatan harmonis dengan para Habaib sejak zaman Syaikhona itu terus lestari hingga generasi kami, pada tahun 2008, ketika mau mondok di Lasem, Ismail Al-Ascholy diajak umminya almarhumah Nyai Muthmainnah Aschal untuk sowan ke Kiai Kholilurrahman(Ra Lilur) cicit Syaikhina Kholil Bangkalan, seorang Waliyullah Majdzub yg juga paman dari sang Ummi.

Setelah mengutarakan niat untuk menuntut ilmu dan meminta doa, Ra Lilur memberinya secarik kertas, isinya adalah sebaris bait bahasa arab yang berisi “tawassul” kepada Sadah Ba’alawi dan ditulis olej tangan beliau sendiri :

و بالسادة الطهر الكرام أولي التقى * بني علوي من حووا كل سؤدد

" dengan Barokah "Saadah"(para Sayyid) dari golongan Bani 'Alawy yg suci, mulia, dan memiliki sifat Taqwa, mereka yg telah menggapai semua kemuliaan "

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan nasab akhir-akhir ini, saya tidak ingin banyak berkomentar, saya hanya ingin kita tidak lupa kepada fakta, bahwa sejak dulu lebih dari 1 abad lamanya para Kiai dan Habaib saling hidup rukun dalam kedamaian, mereka saling menghormati, saling mencintai, saling bersatu untuk membumikan ajaran ahlussunnah wal jama’ah di bumi pertiwi ini. adapun yang tidak seperti itu maka ia hanyalah oknum yang tidak seharusnya kita “baperi” dan tidak kita paksakan untuk menjadi representasi. 

sekali lagi para Habaib dan Kiai bukanlah 2 hal berbeda yang bisa dibanding-bandingkan apalagi dibentur-benturkan, keduanya adalah “satu-kesatuan” yang merupakan element penting bagi kesatuan bangsa Indonesia. kamu tidak harus setuju dengan tulisan ini, kita memang tidak harus berfikiran sama, tapi mari kita sama-sama berfikir

 Oleh: Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 25 Mei, 2024

Sabtu, 17 Agustus 2024

Syarat Kitab Se-Zaman Dan Pemahaman Yang Setengah Matang



• Ketika “syarat kitab sezaman” Kiai Imad dimentahkan oleh penulis kitabnya sendiri 

akhir-akhir ini beredar video sikap dan pendapat Kiai dari Malang ( Kiai Ahmad Fatih Syuhud ) terkait konflik nasab yang masih belum usai ini, beliau menyebutkan bahwa selama tidak ada kitab sezaman yang menyebutkan leluhur Habaib Ba’alawi maka tesis Kiai Imad adalah “benar”, tanpa mengurangi rasa hormat dan tadhim saya kepada beliau, jika beliau memang mau mengkaji secara kritis, obyektif dan ilmiah, ada 1 mata rantai yang hilang dari kesimpulan beliau, kesimpulan beliau hanya menjelaskan kembali algoritma pemikiran Kiai Imad dan para muhibbinnya selama ini, berikut adalah urutan mata rantai logika mereka :

 1. Kiai Imad meminta syarat kitab sezaman

 2. Para Habaib tidak memberikan syarat yang diminta Kiai Imad

 3. Kiai Imad yaqin bahkan haqqul yaqin bahwa nasab Ba’alawi rungkad dan para Muhibbin Kiai Imad bersorak riang gembira  

Mengapa saya katakan ada mata rantai logika yang hilang ? Karena seharusnya sebelum beralih ke mata rantai kedua untuk kemudian mencari kitab-kitab sezaman yang disyaratkan Kiai Imad, kita harus kritis dan bertanya : 

“ dalam ilmu nasab, apakah kitab sezaman merupakan syarat mutlak dan satu-satunya untuk mengkonfirmasi sebuah nasab ? “ 

setelah membaca beberapa kitab nasab khususnya kitab-kitab yang menjadi rujukan utama Kiai Imad dan para jagoannya dalam masalah ini ( Muqoddimat fi ilmil ansab, Rasail fi ilmil ansab, Al-Kafi Al-Muntakhab dll ), saya berani menyimpulkan bahwa dalam hal ini terdapat 2 kubu :

 1. Para pakar ilmu nasab dalam kitab-kitab itu yang sama sekali tidak mensyaratkan kitab sezaman untuk menkonfirmasi kebenaran suatu nasab, kitab nasab adalah salah satu turuq ( cara ) untuk mengkonfirmasi nasab tapi bukan satu-satunya karena masih ada beberapa opsi lain termasuk Assyuhrah wal istifadhoh ( kemasyhuran dan reputasi sebuah nasab ) 

 2. Kiai Imad Dkk yang mengatakan bahwa kitab sezaman merupakan syarat mutlak bagi keabsahan suatu nasab, jika tidak maka nasab tsb dipastikan palsu, fiktif dan terputus 

Kiai Imad sendiri tentu bukan orang bodoh, meski punya pendapat yang beda sendiri dan “agak laen” dari para ulama pakar nasab di dunia ini, beliau tidak ingin terlihat tanpa dalil di depan para pendukungnya, demi itu beliau bahkan pernah mengadakan live yutub satu jam lebih bersama Gus Aziz Jazuli untuk membahas syarat kitab sezaman andalannya ini :

https://www.youtube.com/live/WyEGpNHyRhc?si=rn5fw-eIxs4jq_P4

Dalam live itu Kiai Imad ngalor ngidul berusaha menguatkan pendapatnya bahwa kitab sezaman merupakan syarat mutlak, beliau berdalil dengan kitab “Muqaddimat fi Ilmil ansab” karya pakar nasab asal Iraq Syaikh Khalil Ibrahim Al-Dailami, beliau berusaha meyakinkan bahwa penulis kitab itu sependapat dengannya terkait syarat kitab sezaman. Sayangnya setelah menyimak live Kiai Imad itu juga statement beliau dalam tulisan berikut ini :

https://rminubanten.or.id/kitab-sezaman-adalah-mutlak-untuk-meneliti-kesahihan-nasab/

Saya justru semakin yaqin haqqul yaqin bahwa syarat tersebut hanyalah syarat yang diada-adakan oleh Kiai Imad tanpa rujukan dari kitab nasab manapun ! 

Tadi malam setelah mengisi acara seminar di Ponpes Sidogiri, saya sempatkan membaca kitab “Muqoddimat fi ilmil ansab” karya Syaikh Khalil Ibrahim yang menjadi rujukan Kiai Imad, saya juga hatam membaca prinsip-prinsip dasar ilmu nasab yang ditulis oleh beliau dalam kitab nasabnya yang lain yaitu “Durus fil ilmil ansab”, ada banyak sekali point dalam kitab beliau yang sangat bertentangan dengan pendapat Kiai Imad selama ini, salah satunya adalah ketika di point ke 10 halaman 96 beliau mewanti-wanti jangan sampai kita menuduh suatu nasab ( Tha’n fil nasab ) hanya karena sebuah nama yang tidak disebutkan dalam kitab tertentu : 

 ١٠ . الطعن في نسب بعض القبائل بحجة أن جدهم الذي يرتبطون به لم تذكر له كتب الأنساب عقب ، فليس كل من لم تذكر له كتب الأنساب ذرية ليس بمعقب 

dan akhirnya datang sebuah kejutan tak terduga, meskipun bukan anak sholeh dan nggak sholeh-sholeh amat, tadi malam Allah memberi saya rezeki berupa kontak WA dari Syaikh Khalil Ibrahim penulis kitab “Muqoddimat fi ilmil ansab” yang selama ini menjadi andalan Kiai Imad ! Masyaallah tabarakallah 🥹

برسول الله و البدوي * و رجالٍ من بني علوي 

Tanpa banyak babibu, setelah memperkenalkan diri saya langsung bertanya tentang “konflik nasab” ini kepada beliau, berikut adalah isi percakapan wa saya dengan beliau ( + tranlsatenya ) :

Ismael Alkholilie :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته سيدي
معكم محمد اسماعيل الخليلي محبكم و قارئ كتبكم من إندونيسيا

“ Assalamualaikum wr wb Siidi, saya Muhammad Ismail Alkholili pecinta anda dan pembaca kitab-kitab anda dari Indonesia “

Syaikh Khalil Ibrahim :

وعليكم السلام....حياك وبياك

Ismael Alkholilie :

سيدي عندي سؤال و استفسار
عندنا في اندونيسيا الآن أناس يشككون و يطعنون في نسب السادة آل باعلوي بحجة ان جدهم عبيد الله بن احمد بن عيسى غير مذكور في كتب النسب القديمة و يستدلون بما في كتابكم مقدمات في علم الانساب 
أفيدونا سيدي

“ Siidi saya punya pertanyaan : di Indonesia sekarang ini ada beberapa orang yang meragukan dan membatalkan nasab para Sadah Ba’alawi dengan Hujjah leluhur mereka Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa tidak disebutkan dalam kitab-kitab nasab terdahulu, dan mereka berdalil dengan kitab anda “Muqoddimat fi ilmil ansab”. Mohon penjelasannya terkait masalah ini “ 

Syaikh Khalil Ibrahim :

الشهرة المستفيضة للسادة ال باعلوي فاقت كثير من الانساب وعمود النسب شرط كمال

“ Syuhroh Istifadhoh ( kemasyhuran reputasi ) para Sadah Ba’alawi telah mengungguli banyak nasab yang lain, sedangan disebutkannya Amud Nasab hanyalah syarat kesempurnaan ( bukan syarat sah ) “ 

Ismael Alkholilie : 

إذاً نسب السادة آل باعلوي ثابت سيدي ؟ و لو كان عمود نسبهم غير مذكور في كتب النسب المعاصرة له أو الأقرب زمانا له ؟

“ jadi menurut anda nasab para Sadah Ba’aalwi valid siidi ? Meskipun Amud nasab mereka tidak disebutkan dalam kitab sezaman atau yang mendekati ? “ 

Syaikh Khalil Ibrahim :

نعم , هؤلاء اهل مدرسة الوسطية الحقيقية

“ iya, mereka adalah pembawa ajaran islam moderat yang sesungguhnya “ 

Ismael Alkholilie :

ماشاء الله نعم هؤلاء ساداتنا و شيوخنا رغم أنوف الحاقدين سيدي و هل عرفتم هؤلاء السادة آل باعلوي سيدي ؟

“ Masyaallah mereka adalah para guru kami terlepas dari komentar para pembenci, apakah anda mengenal mereka para Sadah Ba’alawi Siidi ? “ 

Syaikh Khalil Ibrahim : 

وهل يخفى القمر هم الدعاة الذين شرقوا وغربوا

“ apakah rembulan terlihat samar ? Mereka adalah para dai yang telah menyebarkan ilmu di barat dan timur dunia “ 

Ismael Alkholilie :

نعم جزاكم الله خيرا سيدي على هذا الجواب الشافي 
عندنا في اندونسيا ضجة كبيرة بسبب هذا الطعن لهؤلاء السادة من قبل رجل يدعي أنه يفهم علم الأنساب و نستأذن منكم ان ننشر جوابكم هذا لجيمع الإخوان و الأصحاب

“ Baik Jazakallah khair atas jawabannya Siidi, di masyarakat kami sekarang ada kegaduhan yang disebabkan pembatalan nasab para Sadah Ba’alawi oleh seseorang yang mengaku paham ilmu nasab, saya meminta izin untuk menyebarkan jawaban anda ini untuk para teman dan sahabat “ 

Syaikh Khalil Ibrahim :

اربع في امتي من امر الجاهلية لايتركوهن ومنها الطعن في الانساب ...اي الطعن بدون علم

“ ( menukil hadits ) 4 kebiasaan Jahiliah yang masih belum ditinggalkan dalam ummatku, salah satunya menuduh suatu nasab tanpa dasar ilmu “ 

Dan untuk kesekian kalinya, Kiai Imad harus menerima pahitnya sebuah realita, seorang ulama pakar nasab yang kitabnya dijadikan hujjah oleh beliau untuk menguatkan tesisnya justru “mengkonfirmasi” keabsahan Nasab Ba’alawi , sebelumnya sudah ada Sayyid Mahdi Raja’i ( ulama pakar nasab asal Iran ) dan Syaikh Ibrahim Al-Hasyimi ( ulama pakar Nasab asal Saudi ) yang sama-sama mengitsbat Ba’alawi dan mementahkan syarat kitab sezaman yang dibuat-buat oleh Kiai Imad ini, Syaikh Ibrahim bahkan dengan tegas berkomentar :

“ permintaan syarat seperti itu adalah sebuah kebodohan kuadrat, andai kita terapkan syarat itu dalam ilmu nasab maka niscaya kita akan membatalkan semua nasab yang ada di muka bumi ini “ 

Kiai Imad sepertinya sudah kehabisan “jerami” untuk ia gapai ketika perlahan mulai tenggelam dan tak punya pegangan, padahal ekspektasi dan harapan pendukungnya kepada beliau begitu tinggi, demi itu beliau sampai harus membangun narasi-narasi lain untuk mendukung tesisnya yang -katanya- ilmiah itu tapi ternyata hanya dibangun diatas asumsi dan ilusi ( yang satu persatu mulai dimentahkan oleh para penulis kitab-kitab rujukan beliau sendiri ) 

Tapi panjenengan semua para Muhibbin Kiai Imad tak perlu khawatir, Kiai Idola kalian tak akan berubah pendirian, bukankah beliau dengan teguh ( atau lebih tepatnya ngeyel ) pernah berkata :

“ andaikan ulama sedunia berfatwa, mengitsbat karena suatu hal, bahwa Ba’alawi adalah keturunan Nabi, saya Imaduddin Utsman tidak akan percaya ! “ 

Terakhir beliau men-syarah-i sendiri dawuhnya itu :

“ saya kan bilang “karena suatu hal”, seperti Syaikh Ali Jum’ah mengitsbat Ba’alawi karena pertemanan beliau dengan Habib Umar Bin Hafidz “

Ya pada intinya siapapun, ulama manapun, sealim apapun, yang mengakui Nasab Ba’alawi ( termasuk Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Ibrahim Al-Hasyimi, dan terakhir Syaikh Khalil Ibrahim ) jangan harap akan diterima oleh Kiai Imad, mereka pasti akan dianggap sebagai orang yang berfatwa tidak jujur karena ”suatu hal” yang bertentangan dengan hati nurani mereka ( betapa mulianya hati Kiai Imad sampai se-husnudzon itu kepada para ulama-ulama itu)  

Kalian juga masih bisa berbesar hati, karena meskipun dukungan ulama pakar nasab tidak didapat, dukungan pakar dangdut dan pakar bahasa semut berhasil kalian rebut ( tak ada daging, kerupuk-pun jadi ! Keprok atuh 👏👏 ) 

Sekali lagi bela sungkawa sedalam-dalamnya untuk para pendukung Kiai Imad, kalian tidak salah, kalian hanya mengidolakan sosok yang salah, selamat menikmati tulisan ini dan selamat gemetaran untuk kesekian kalinya 

 • Ismael Amin Kholil, Bangkalan 9 Agustus, 2024

Ngaji Itqon (27): Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama?

Mengapa Al-Qur’an Tidak Selalu Menyebut Nama? Memahami Hikmah Ibham dalam Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat...