Sabtu, 01 Agustus 2026

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas)

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas) 

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

العُلَمَاءُ إِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا، فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، فَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا

“Para ulama, ketika telah memiliki ilmu, mereka mengamalkannya. Ketika mengamalkannya, mereka sibuk. Ketika sibuk, mereka jarang terlihat. Ketika jarang terlihat, mereka dicari. Dan ketika dicari, mereka justru menghindar (dari jabatan).” (Ihya Ulumuddin 1/127)

Berikut penjelasannya:

Inilah karakter ulama yang sesungguhnya. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari pujian, jabatan, atau ketenaran. Ilmu yang mereka miliki justru mendorong mereka untuk semakin banyak beramal, semakin sibuk melayani umat, dan semakin takut terhadap penyakit riya' serta cinta kedudukan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa buah dari ilmu bukanlah kesombongan, melainkan rasa takut kepada Allah. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin rendah hatinya dan semakin berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya.

Karena itu, para ulama terdahulu sangat berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dapat merusak keikhlasan. Ja'far bin Muhammad berkata:

الْفُقَهَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْفُقَهَاءَ قَدْ رَكَنُوا إِلَى السَّلَاطِينِ فَاتَّهِمُوهُمْ

“Ulama ahli fikih adalah para pemegang amanah para rasul. Jika kalian melihat para ahli fikih terlalu bersandar kepada para penguasa, maka waspadalah terhadap mereka.” (Ithaf Sadah al-Muttaqin, 1/127)

Maqalah ini bukan berarti setiap ulama yang berhubungan dengan pemerintah pasti tercela. Maksudnya adalah peringatan agar ulama tidak menjual prinsip agama demi kepentingan kekuasaan. Amanah ilmu harus tetap dijaga, meskipun harus menghadapi risiko yang berat.

Tujuan seorang penuntut ilmu bukanlah dunia, tetapi menghidupkan agama Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَهُوَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ، وَدَرَجَتُهُ بَعْدَ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ

“Barang siapa menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk golongan ash-shiddiqin, dan kedudukannya berada setelah derajat kenabian.” (Miftah Dar as-Sa'adah, 1/185)

Inilah kemuliaan ilmu yang dilandasi niat yang benar. Ilmu menjadi jalan untuk membimbing manusia menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ilmu akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ - الحديث-

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengan ilmu tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, 2417)

Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus diamalkan. Sebab ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah.

Allah juga menjelaskan siapa yang layak memperoleh kebahagiaan akhirat:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)

Ayat ini menjadi penutup yang elegan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin hilang keinginan untuk merasa paling tinggi di hadapan manusia. Yang dicari bukan sanjungan, melainkan ridha Allah.

Epilog 

Jadikan ilmu sebagai jalan menuju amal, amal sebagai jalan menuju keikhlasan, dan keikhlasan sebagai jalan menuju ridha Allah. Sebab kemuliaan seorang alim bukan terletak pada seberapa terkenal namanya, melainkan pada seberapa besar manfaat ilmunya dan seberapa tulus ia mengamalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kajian Munasabah (17): Surah Maryam, Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an

Munasabah Surah Maryam dan Surah Al-Kahfi: Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an Al-Qur'an tidak disusun secar...