وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar untuk menyampaikan risalah, tetapi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Berikut penjelasannya:
Kata rahmah berarti kasih sayang, kebaikan, kelembutan, dan segala sesuatu yang membawa kemaslahatan. Karena itu, kehadiran Rasulullah ﷺ merupakan rahmat terbesar bagi manusia.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Ayat ini mengingatkan bahwa kegembiraan terbesar seorang mukmin bukan hanya karena memiliki harta, jabatan, popularitas, atau berbagai kenikmatan dunia. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu karunia dan rahmat Allah.
Di antara rahmat Allah yang paling agung adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan. Karena itu, menjadi umat Rasulullah ﷺ adalah nikmat yang patut disyukuri dengan cara mengikuti ajaran dan sunnahnya.
Beliau juga tidak menjadikan kebencian sebagai karakter dakwah. Bahkan ketika menghadapi orang-orang yang menyakiti dan memusuhinya, beliau tetap menunjukkan kasih sayang dan berharap mereka mendapatkan petunjuk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وإنَّما بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Muslim, 2599)
Memahami Rasulullah ﷺ sebagai pembawa rahmat bukan berarti semua kesalahan harus dibiarkan. Rasulullah ﷺ tetap menjelaskan halal dan haram, benar dan salah, serta memberikan peringatan terhadap kemaksiatan dan kezaliman.
Justru aturan Allah adalah bagian dari rahmat. Seorang dokter terkadang memberikan obat yang pahit demi kesembuhan pasien. Seorang guru menegur muridnya karena ingin melihatnya menjadi lebih baik. Demikian pula syariat: batasan-batasannya bertujuan menjaga manusia dari kerusakan. Karena itu, rahmat harus berjalan bersama kebenaran, ilmu, hikmah, dan keadilan.
Ibnu Abbas menjelaskan ayat di atas:
مَنْ تَبِعَهُ كَانَ لَهُ رَحْمَةٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ لَمْ يَتَّبِعْهُ عُوفِيَ مِمَّا كَانَ يُبْتَلَى بِهِ سَائِرُ الْأُمَمِ مِنَ الْخَسْفِ وَالْقَذْفِ
“Barang siapa mengikutinya, maka baginya rahmat di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak mengikutinya, ia diselamatkan dari sebagian azab yang dahulu menimpa umat-umat lain, seperti ditenggelamkan ke dalam bumi dan dihujani batu.” (Tafsir Ibnu Katsir, surah al-Anbiya: 107)
Ini menunjukkan luasnya rahmat yang berkaitan dengan diutusnya Rasulullah ﷺ. Orang yang beriman dan mengikuti beliau mendapatkan rahmat di dunia dan akhirat. Bahkan diutusnya beliau menjadi sebab tidak ditimpakannya sebagian bentuk azab dunia yang pernah menimpa umat terdahulu.
Epilog
Jika Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam, maka umat beliau seharusnya berusaha menghadirkan rahmat dalam kehidupan.
Rahmat dapat dimulai dari hal sederhana: berbicara dengan lembut, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, membantu tetangga, menjaga lisan, tidak merendahkan orang lain, berlaku adil, dan tidak menyakiti sesama.
Dakwah juga harus dilakukan dengan ilmu dan hikmah. Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi cara menyampaikannya jangan sampai membuat manusia membenci Islam.
Jangan sampai seseorang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi lisannya gemar mencaci, tangannya suka menyakiti, dan perilakunya membuat orang lain menjauh dari agama.
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan memperbanyak shalawat, tetapi juga dengan mempelajari sunnah, meneladani akhlak, dan mengikuti petunjuk beliau.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #rahmatanlilalamin #rasulullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar