Siapa Temanmu, Itulah Gambaran Jiwamu: Satu Alasan Kenapa Sifatmu Mirip Temanmu
Ibnu Mas'ud berkata:
اعْتَبِرُوا الرَّجُلَ بِمَنْ يُصَاحِبُ، فَإِنَّمَا يُصَاحِبُ الرَّجُلُ مَنْ هُوَ مِثْلَهُ
“Nilailah seseorang melalui siapa yang menjadi teman dekatnya. Sesungguhnya seseorang biasanya berteman dengan orang yang memiliki kemiripan dengannya.” (Syuabul Iman, 8993)
Berikut penjelasannya:
Ungkapan ini mengajarkan bahwa pergaulan bukan sekadar urusan sosial, tetapi juga proses membentuk diri. Seseorang dapat dikenali dari lingkungan yang ia pilih, siapa yang ia kagumi, dan dengan siapa ia merasa nyaman bergaul.
Allah berfirman:
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
“Dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan (dengan yang sejenis).” (QS. At-Takwir: 7)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa orang beriman tidak hanya diperintahkan untuk bertakwa, tetapi juga memilih lingkungan yang mendukung ketakwaannya. Sebab, lingkungan dapat memperkuat atau justru melemahkan iman seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun. Ruh-ruh yang saling mengenal akan menyatu, sedangkan yang tidak saling mengenal akan berselisih.” (HR. Muslim, 2638)
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari, 6168 dan Muslim, 2640)
Karena itu, siapa yang kita cintai dan kagumi perlu diperhatikan. Sebab, kecintaan kepada seseorang sering membuat kita meniru perkataan, kebiasaan, bahkan cara hidupnya.
Ibnu Mas'ud berkata:
إِنَّمَا يُمَاشِي الرَّجُلُ وَيُصَاحِبُ مَنْ يُحِبُّهُ وَمَنْ هُوَ مِثْلُهُ
“Sesungguhnya seseorang berjalan dan bersahabat dengan orang yang ia cintai dan orang yang memiliki keserupaan dengannya.” (Al-‘Ibānah Al-Kubrā, 2/477)
Pengaruh teman sering tidak terasa. Kebiasaan yang awalnya hanya dilakukan oleh teman, perlahan dapat menjadi kebiasaan kita. Karena itu, memilih teman sejatinya adalah memilih sebagian dari masa depan kita.
Tharfah bin Al-‘Abd berkata:
عَنِ المَرءِ لا تَسأَل وَسَل عَن قَرينِهِ # فَكُلُّ قَرينٍ بِالمُقـارَنِ يَقتَـدي
“Jangan tanyakan tentang seseorang; tanyakanlah siapa teman dekatnya. Sebab, setiap orang yang berteman akan mengikuti orang yang menjadi temannya.” (Adz-Dzarīah, 259)
Teman yang baik bukan sekadar orang yang membuat kita tertawa, tetapi orang yang membuat kita semakin dekat kepada Allah. Ia mengingatkan ketika kita lalai, menasihati ketika kita salah, dan mendorong kita untuk terus menjadi lebih baik.
Maka, jika ingin memperbaiki diri, perbaikilah pula lingkungan pergaulan. Dekatilah orang-orang saleh, para pencinta ilmu, orang-orang yang menjaga akhlak, dan mereka yang ketika bersama kita membuat hati semakin ingat kepada Allah.
Epilog
Kita sering mengira bahwa teman hanyalah pelengkap perjalanan hidup. Orang-orang yang hadir sekadar untuk menemani, menghibur, atau sekadar mengisi waktu. Padahal, teman adalah cermin yang jujur ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya.
Siapa yang kita pilih sebagai teman adalah siapa yang kita izinkan membentuk diri kita. Jangan salahkan lingkungan jika kau tak pernah berusaha memilihnya. Dan jangan heran jika kau menjadi seperti mereka yang kau kagumi. sebab, cinta kepada seseorang adalah jalan paling pendek menuju keserupaan.
Maka, periksalah cerminmu. Jika kau ingin menjadi lebih baik, pilihlah teman yang lebih baik. Jika kau ingin dekat dengan Allah, dekatilah mereka yang dekat dengan-Nya. Karena siapa yang kau dampingi di dunia, di sanalah kau akan ditempatkan kelak di sisi-Nya.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #teman #dakwah_islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar