فَسَادُ كَبِيرٍ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ # وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ
“Bahaya besar datang dari ulama yang berbuat dosa, tapi bahaya yang lebih besar lagi datang dari orang bodoh yang sok saleh” (Ta'lim al-Mutaallim, 16)
Berikut penjelasannya:
Ada dua keadaan yang sama-sama berbahaya dalam kehidupan beragama: orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, dan orang yang tekun beribadah tetapi tidak memiliki ilmu yang memadai.
Sayyidina Ali menegaskan:
قَصَمَ ظَهْرِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ، وَجَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ، فَالْجَاهِلُ يَغُرُّ النَّاسَ بِتَنَسُّكِهِ، وَالْعَالِمُ يَغُرُّهُمْ بِتَهَتُّكِهِ
“Dua orang telah mematahkan punggungku: seorang alim yang tidak menjaga diri dan seorang jahil yang tekun beribadah. Orang jahil menipu manusia dengan ketekunan ibadahnya, sedangkan orang alim menipu mereka dengan sikapnya yang tidak bisa mengendalikan diri” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 1/57)
Allah memberikan perumpamaan terhadap orang yang memikul ilmu tetapi tidak menjalankannya:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)
Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa memiliki kitab dan pengetahuan belum tentu menjadikan seseorang mulia. Ilmu baru memberikan manfaat ketika dipahami, diyakini, dan diamalkan.
Karena itu, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya berapa banyak yang diketahui, tetapi berapa banyak yang diamalkan.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dan pengetahuan, tetapi tidak memiliki kejujuran iman. Beliau bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي، كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah setiap orang munafik yang pandai berbicara” (HR. Al-Baihaqi, 1775)
Bahaya seseorang tidak selalu terletak pada ketidaktahuannya. Kadang justru terletak pada kepandaiannya berbicara tanpa ketakwaan.
Lidah yang fasih dapat membuat kebatilan tampak seperti kebenaran. Karena itu, jangan menjadikan kefasihan berbicara sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Di sisi lain, agama juga mengingatkan bahaya seseorang yang banyak beramal tetapi tidak memiliki dasar ilmu yang benar.
Allah berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Ayat ini memberi peringatan bahwa merasa sedang melakukan kebaikan tidak otomatis berarti benar-benar melakukan kebaikan.
Seseorang bisa sangat bersemangat beribadah, tetapi apabila ibadahnya tidak sesuai tuntunan syariat, semangat tersebut justru dapat membawanya semakin jauh dari kebenaran.
Epilog
Ilmu tanpa amal akan kehilangan ruhnya. Amal tanpa ilmu mudah kehilangan arah. Sedangkan ilmu dan amal tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan dan merasa paling benar.
Orang berilmu seharusnya semakin rendah hati karena ia semakin mengenal kebesaran Allah. Orang yang rajin beribadah seharusnya semakin haus terhadap ilmu agar ibadahnya benar. Dan orang yang memiliki kemampuan berbicara seharusnya semakin berhati-hati karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan.
Bukan banyaknya ilmu yang membuat seseorang mulia, bukan pula banyaknya ibadah yang otomatis menjadikannya benar. Kemuliaan lahir ketika ilmu melahirkan amal, amal melahirkan ketakwaan, dan ketakwaan melahirkan akhlak.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #motivasiislam #dakwah_islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar