Senin, 31 Agustus 2026

Memuji Diri Sendiri: Antara Tipu Daya dan Bahaya Gagal Menilai Diri

Memuji Diri Sendiri: Antara Tipu Daya dan Bahaya Gagal Menilai Diri

Dalam berbagai literatur klasik Islam, terdapat banyak nasihat bijak yang membahas tentang akhlak dan cara membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). Salah satu petuah yang sangat mendalam datang dari Al-'Iz bin Abdus-Salam, seorang ulama besar bermadzhab Syafi'i yang dijuluki Sulthanul Ulama (Raja Para Ulama). Dalam kitabnya Qawa'id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam (2/210), beliau menuliskan sebuah peringatan keras:

قَالَ الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلامِ : وَمَدْحُكَ نَفْسَكَ أَقْبَحُ مِنْ مَدْحِكَ غَيْرِكَ ، فَإِنَّ غَلَطَ الإِنْسَانِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ أَكْثَرُ مِنْ غَلَطِهِ فِي حَقِّ غَيْرِه

"Memuji diri sendiri lebih buruk daripada memuji orang lain, karena kesalahan seseorang terhadap hak dirinya sendiri lebih banyak daripada kesalahan terhadap hak orang lain."

Pernyataan ini membuka tabir tentang bahaya laten yang sering tidak disadari oleh banyak orang: kecenderungan untuk membanggakan diri sendiri.

Mengapa Memuji Diri Lebih Buruk?

Secara sekilas, memuji diri sendiri mungkin dianggap hanya sebagai bentuk ketidaksopanan biasa. Namun, Al-'Iz bin Abdus-Salam melihatnya lebih dalam. Beliau menyebutnya lebih buruk dari memuji orang lain karena dua alasan utama:

1. Subjektivitas yang Ekstrem: Ketika seseorang memuji orang lain, setidaknya ada jarak objektivitas. Ia bisa melihat kelebihan dan kekurangan orang tersebut secara lebih seimbang. Tapi ketika memuji diri sendiri, subjektivitas mencapai puncaknya. Tidak ada penyaring yang independen.

2. Kesalahan yang Berlipat Ganda: Ini adalah inti argumen beliau. Seseorang cenderung memiliki "titik buta" terbesar terhadap dirinya sendiri. Kita sering melebih-lebihkan kemampuan, meremehkan kesalahan, atau menganggap keburukan sebagai kebaikan karena hawa nafsu. Akibatnya, ketika memuji diri, kemungkinan besar pujian itu tidak akurat, bahkan bisa jadi atas sesuatu yang sebenarnya buruk.

Bahaya Gagal Menilai Hak Diri Sendiri

Ada istilah psikologi modern yang disebut illusory superiority, yaitu kecenderungan untuk menilai diri sendiri lebih baik daripada rata-rata orang lain. Ini persis seperti yang diingatkan oleh Al-'Iz. Ketika seseorang gagal menilai "hak dirinya sendiri" (yakni posisi, kemampuan, dan kualitas sebenarnya), beberapa bahaya mengintai:

1. Terhentinya Perbaikan Diri: Jika seseorang merasa sudah sempurna, ia tidak akan merasa perlu untuk belajar, bertobat, atau memperbaiki kekurangan. Ia menjadi mandek.

2. Sombong dan Takabur: Pujian terhadap diri sendiri yang berulang-ulang akan menumbuhkan kesombongan, penyakit hati yang paling dibenci Allah. Sebagaimana firman-Nya, "Dan janganlah kamu memuji dirimu sendiri; Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

3. Merendahkan Orang Lain: Sifat ini pada akhirnya akan melahirkan pandangan rendah kepada orang lain. Ia merasa lebih pintar, lebih shalih, dan lebih baik, sehingga ia meremehkan kontribusi dan martabat saudaranya.

Pelita untuk Jiwa

Apa yang disampaikan Al-'Iz bin Abdus-Salam bukanlah larangan untuk merasa bangga atas prestasi yang telah diraih. Islam mengakui adanya rasa senang atas karunia Allah (al-farhatu bi fadhlillah). Namun yang dilarang adalah melafalkannya sebagai bentuk pujian untuk menyombongkan diri di hadapan manusia, apalagi sampai merendahkan hakikat diri.

Peringatan ini menjadi pelita bagi jiwa: setiap kali bibir kita ingin menyebutkan kelebihan sendiri, atau hati kita mulai merasa paling benar, ingatlah bahwa kita adalah makhluk yang paling mudah keliru dalam menilai diri kita sendiri. Biarlah orang lain yang memuji, dan biarlah Allah yang membalas amal kita. Kewajiban hanyalah berusaha ikhlas dan memperbaiki diri tanpa perlu membunyikan genderang pujian untuk diri sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abu Bakar Al-Anbari: Ulama Legendaris yang Melajang Sampai Akhir Hayat

Imam Abu Bakar al-Anbari: Ulama Legendaris dengan Tradisi Literasi yang Luar Biasa Nama, Nasab, dan Kelahiran Beliau adalah Abu Bakar Muha...