Keindahan Munāsabah Surah Asy-Syu‘arā’
Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Ada hubungan dalam tema, tujuan, pembukaan, bahkan penutupnya. Salah satu contoh yang menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah Al-Furqān dan Surah Asy-Syu‘arā’.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar mengungkapkan sebuah rahasia indah mengenai hubungan kedua surah tersebut.
Dari Kisah yang Ringkas Menuju Penjelasan yang Terperinci
Di dalam Surah Al-Furqān, Allah menyebut sejumlah kisah umat terdahulu secara ringkas. Allah berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً...
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab dan Kami jadikan Harun, saudaranya, sebagai pembantunya. Lalu Kami berfirman, ‘Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.’ Kemudian Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan kaum Nuh, ketika mereka mendustakan para rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran bagi manusia...”
(QS. Al-Furqān: 35–37)
Ayat berikutnya juga menyebut kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan berbagai generasi lainnya.
Menariknya, setelah Surah Al-Furqān selesai, datanglah Surah Asy-Syu‘arā’ yang menguraikan kisah-kisah tersebut dengan jauh lebih panjang dan terperinci.
Seolah-olah Al-Furqān memberikan gambaran umum, kemudian Asy-Syu‘arā’ memberikan penjelasan detail.
Urutan Kisah yang Penuh Hikmah
Ada satu hal menarik yang diperhatikan oleh Imam As-Suyuthi. Surah Al-Furqān menyebut kisah Nabi Musa terlebih dahulu, kemudian kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan generasi lainnya.
Ketika Surah Asy-Syu‘arā’ menjelaskan kisah-kisah tersebut, urutannya mengikuti urutan penyebutan dalam Surah Al-Furqān. Karena itulah kisah Nabi Musa ditempatkan di awal rangkaian kisah.
Padahal, jika yang menjadi pertimbangan adalah urutan sejarah, kisah Nabi Musa semestinya tidak berada di awal, karena terdapat umat-umat yang hidup jauh sebelum Nabi Musa.
Di sinilah terlihat keindahan susunan Al-Qur’an. Urutan kisah tidak selalu dimaksudkan untuk menyusun kronologi sejarah, tetapi terkadang memiliki tujuan lain yang lebih dalam: menghubungkan satu surah dengan surah berikutnya.
Imam As-Suyuthi menyebut hal ini sebagai sebuah rahasia yang sangat lembut yang Allah ilhamkan kepadanya.
“Generasi yang Banyak” dan Kisah-Kisah Tambahan
Surah Al-Furqān menyebut:
وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا
“Dan banyak generasi di antara mereka.”
Ungkapan ini kemudian mendapatkan penjelasan lebih luas dalam Surah Asy-Syu‘arā’. Tidak hanya kisah Nabi Musa, Nabi Nuh, ‘Ad, dan Tsamud, tetapi juga dikisahkan perjuangan beberapa nabi lainnya.
Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Nabi Syu‘aib.
Dengan demikian, Surah Asy-Syu‘arā’ seakan membuka ruang yang lebih luas untuk memperlihatkan bagaimana para nabi berdakwah kepada kaum mereka, bagaimana mereka menghadapi penolakan, serta bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.
Pola yang terus berulang sangat jelas: dakwah, penolakan, kesabaran, kemudian pertolongan Allah kepada para nabi dan kehancuran orang-orang yang terus-menerus mendustakan.
Hubungan Penutup Kedua Surah
Keindahan hubungan Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ tidak hanya terlihat pada kisah-kisah yang ada di tengah surah. Hubungan tersebut juga tampak pada penutup kedua surah.
Surah Al-Furqān menggambarkan sifat hamba-hamba Allah yang istimewa:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS. Al-Furqān: 63)
Kemudian Allah berfirman:
وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan apabila mereka melewati sesuatu yang sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(QS. Al-Furqān: 72)
Setelah itu, Surah Asy-Syu‘arā’ ditutup dengan pembahasan mengenai para penyair.
Allah berfirman:
وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ
“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 224–226)
Namun Al-Qur’an tidak mencela semua penyair. Allah memberikan pengecualian:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
“Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, banyak mengingat Allah, dan membela diri setelah mereka dizalimi.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 227)
Tidak Semua Perkataan Itu Sama
Di sinilah hubungan penutup kedua surah menjadi semakin indah.
Surah Al-Furqān berbicara tentang perkataan orang-orang jahil, lalu memuji hamba-hamba Allah yang tidak membalas keburukan dengan keburukan. Surah tersebut juga menyebut sikap mereka ketika berhadapan dengan sesuatu yang sia-sia.
Surah Asy-Syu‘arā’ kemudian berbicara tentang perkataan para penyair. Ada perkataan yang menyesatkan dan sia-sia, tetapi ada pula perkataan yang digunakan untuk membela kebenaran dan mengingatkan manusia kepada Allah.
Artinya, yang menjadi ukuran bukan sekadar bentuk perkataannya, tetapi isi, tujuan, dan dampaknya.
Syair dapat menjadi sarana kebatilan, tetapi dapat pula menjadi sarana kebaikan. Lisan dapat digunakan untuk menghina, tetapi dapat pula digunakan untuk membela kebenaran. Kata-kata dapat menjadi laghw, tetapi dapat pula menjadi nasihat dan dakwah.
Pelajaran Besar dari Susunan Al-Qur’an
Dari hubungan antara Surah Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ kita dapat mengambil pelajaran bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memperhatikan ayat secara terpisah. Kita juga perlu memperhatikan hubungan antarayat dan antarsurah.
Surah Al-Furqān menyebut kisah-kisah umat terdahulu secara ringkas. Surah Asy-Syu‘arā’ menguraikannya secara lebih luas. Al-Furqān menggambarkan karakter hamba-hamba Allah dalam menghadapi kebodohan dan kesia-siaan. Asy-Syu‘arā’ kemudian memperlihatkan bagaimana perkataan manusia—termasuk syair—dapat menjadi jalan kesesatan atau menjadi sarana membela kebenaran.
Semua itu menunjukkan betapa indah dan telitinya susunan Al-Qur’an.
Semakin kita memperhatikan hubungan antarsurah, semakin tampak bahwa setiap bagian Al-Qur’an memiliki tempat dan tujuan yang penuh hikmah.
Karena itu, mempelajari munāsabah atau keterkaitan antarsurah bukan sekadar mencari hubungan yang menarik. Ia merupakan salah satu jalan untuk semakin menghayati keserasian, kedalaman makna, dan keindahan susunan Kalamullah.