Kamis, 03 September 2026

Kajian Munāsabah (23): Surah Asy-Syu‘arā’ dan Kirsah Para Penyair

Keindahan Munāsabah Surah Asy-Syu‘arā’

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Ada hubungan dalam tema, tujuan, pembukaan, bahkan penutupnya. Salah satu contoh yang menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah Al-Furqān dan Surah Asy-Syu‘arā’.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar mengungkapkan sebuah rahasia indah mengenai hubungan kedua surah tersebut.

Dari Kisah yang Ringkas Menuju Penjelasan yang Terperinci

Di dalam Surah Al-Furqān, Allah menyebut sejumlah kisah umat terdahulu secara ringkas. Allah berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا ۝ فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا ۝ وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً...

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab dan Kami jadikan Harun, saudaranya, sebagai pembantunya. Lalu Kami berfirman, ‘Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.’ Kemudian Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan kaum Nuh, ketika mereka mendustakan para rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran bagi manusia...”
(QS. Al-Furqān: 35–37)

Ayat berikutnya juga menyebut kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan berbagai generasi lainnya.

Menariknya, setelah Surah Al-Furqān selesai, datanglah Surah Asy-Syu‘arā’ yang menguraikan kisah-kisah tersebut dengan jauh lebih panjang dan terperinci.

Seolah-olah Al-Furqān memberikan gambaran umum, kemudian Asy-Syu‘arā’ memberikan penjelasan detail.

Urutan Kisah yang Penuh Hikmah

Ada satu hal menarik yang diperhatikan oleh Imam As-Suyuthi. Surah Al-Furqān menyebut kisah Nabi Musa terlebih dahulu, kemudian kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan generasi lainnya.

Ketika Surah Asy-Syu‘arā’ menjelaskan kisah-kisah tersebut, urutannya mengikuti urutan penyebutan dalam Surah Al-Furqān. Karena itulah kisah Nabi Musa ditempatkan di awal rangkaian kisah.

Padahal, jika yang menjadi pertimbangan adalah urutan sejarah, kisah Nabi Musa semestinya tidak berada di awal, karena terdapat umat-umat yang hidup jauh sebelum Nabi Musa.

Di sinilah terlihat keindahan susunan Al-Qur’an. Urutan kisah tidak selalu dimaksudkan untuk menyusun kronologi sejarah, tetapi terkadang memiliki tujuan lain yang lebih dalam: menghubungkan satu surah dengan surah berikutnya.

Imam As-Suyuthi menyebut hal ini sebagai sebuah rahasia yang sangat lembut yang Allah ilhamkan kepadanya.

“Generasi yang Banyak” dan Kisah-Kisah Tambahan

Surah Al-Furqān menyebut:

وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا

“Dan banyak generasi di antara mereka.”

Ungkapan ini kemudian mendapatkan penjelasan lebih luas dalam Surah Asy-Syu‘arā’. Tidak hanya kisah Nabi Musa, Nabi Nuh, ‘Ad, dan Tsamud, tetapi juga dikisahkan perjuangan beberapa nabi lainnya.

Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Nabi Syu‘aib.

Dengan demikian, Surah Asy-Syu‘arā’ seakan membuka ruang yang lebih luas untuk memperlihatkan bagaimana para nabi berdakwah kepada kaum mereka, bagaimana mereka menghadapi penolakan, serta bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.

Pola yang terus berulang sangat jelas: dakwah, penolakan, kesabaran, kemudian pertolongan Allah kepada para nabi dan kehancuran orang-orang yang terus-menerus mendustakan.

Hubungan Penutup Kedua Surah

Keindahan hubungan Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ tidak hanya terlihat pada kisah-kisah yang ada di tengah surah. Hubungan tersebut juga tampak pada penutup kedua surah.

Surah Al-Furqān menggambarkan sifat hamba-hamba Allah yang istimewa:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(QS. Al-Furqān: 63)

Kemudian Allah berfirman:

وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan apabila mereka melewati sesuatu yang sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan dirinya.”

(QS. Al-Furqān: 72)

Setelah itu, Surah Asy-Syu‘arā’ ditutup dengan pembahasan mengenai para penyair.

Allah berfirman:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ۝ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 224–226)

Namun Al-Qur’an tidak mencela semua penyair. Allah memberikan pengecualian:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

“Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, banyak mengingat Allah, dan membela diri setelah mereka dizalimi.”

(QS. Asy-Syu‘arā’: 227)

Tidak Semua Perkataan Itu Sama

Di sinilah hubungan penutup kedua surah menjadi semakin indah.

Surah Al-Furqān berbicara tentang perkataan orang-orang jahil, lalu memuji hamba-hamba Allah yang tidak membalas keburukan dengan keburukan. Surah tersebut juga menyebut sikap mereka ketika berhadapan dengan sesuatu yang sia-sia.

Surah Asy-Syu‘arā’ kemudian berbicara tentang perkataan para penyair. Ada perkataan yang menyesatkan dan sia-sia, tetapi ada pula perkataan yang digunakan untuk membela kebenaran dan mengingatkan manusia kepada Allah.

Artinya, yang menjadi ukuran bukan sekadar bentuk perkataannya, tetapi isi, tujuan, dan dampaknya.

Syair dapat menjadi sarana kebatilan, tetapi dapat pula menjadi sarana kebaikan. Lisan dapat digunakan untuk menghina, tetapi dapat pula digunakan untuk membela kebenaran. Kata-kata dapat menjadi laghw, tetapi dapat pula menjadi nasihat dan dakwah.

Pelajaran Besar dari Susunan Al-Qur’an

Dari hubungan antara Surah Al-Furqān dan Asy-Syu‘arā’ kita dapat mengambil pelajaran bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memperhatikan ayat secara terpisah. Kita juga perlu memperhatikan hubungan antarayat dan antarsurah.

Surah Al-Furqān menyebut kisah-kisah umat terdahulu secara ringkas. Surah Asy-Syu‘arā’ menguraikannya secara lebih luas. Al-Furqān menggambarkan karakter hamba-hamba Allah dalam menghadapi kebodohan dan kesia-siaan. Asy-Syu‘arā’ kemudian memperlihatkan bagaimana perkataan manusia—termasuk syair—dapat menjadi jalan kesesatan atau menjadi sarana membela kebenaran.

Semua itu menunjukkan betapa indah dan telitinya susunan Al-Qur’an.

Semakin kita memperhatikan hubungan antarsurah, semakin tampak bahwa setiap bagian Al-Qur’an memiliki tempat dan tujuan yang penuh hikmah.

Karena itu, mempelajari munāsabah atau keterkaitan antarsurah bukan sekadar mencari hubungan yang menarik. Ia merupakan salah satu jalan untuk semakin menghayati keserasian, kedalaman makna, dan keindahan susunan Kalamullah.

Kajian Munasabah (22): Keindahan Susunan Surah Al-Furqān

Keindahan Susunan Surah Al-Furqān: Ketika Kekuasaan Allah Menjadi Benang Merah Antarsurah

Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Di balik susunan tersebut terdapat berbagai bentuk keterkaitan (munāsabah) yang menunjukkan keindahan, kedalaman, dan keserasian pesan Al-Qur’an.

Salah satu contoh menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah An-Nūr dan Surah Al-Furqān. Imam As-Suyuthi dalam Tanasuq Ad-Durar fi Tanasub As-Suwar menjelaskan bahwa hubungan keduanya memiliki kemiripan dengan hubungan antara Surah Al-Mā’idah dan Surah Al-An‘ām.

Dari “Milik Allah” Menuju Perincian Kekuasaan-Nya

Surah An-Nūr ditutup dengan firman Allah:

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ ۖ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Ingatlah, sesungguhnya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia benar-benar mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya. Dan pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nūr: 64)

Ayat ini menegaskan satu prinsip besar: seluruh alam adalah milik Allah dan berada di bawah ilmu serta kekuasaan-Nya.

Kemudian Surah Al-Furqān dibuka dengan penegasan yang lebih luas:

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya menurut ukuran yang tepat.”
(QS. Al-Furqān: 2)

Perhatikan kesinambungannya. Surah An-Nūr menutup dengan pernyataan bahwa milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Surah Al-Furqān kemudian membuka dengan penjelasan bahwa Allah bukan hanya pemiliknya, tetapi juga Pencipta dan Pengaturnya.

Dengan demikian, ungkapan yang masih bersifat umum pada akhir An-Nūr diperinci dalam Al-Furqān.

Alam Semesta sebagai Bukti Kekuasaan Allah

Setelah menyatakan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Surah Al-Furqān membawa manusia untuk memperhatikan berbagai ciptaan-Nya.

Allah berbicara tentang bayangan, malam, tidur, siang, angin, air, hewan ternak, manusia, dua lautan, hubungan nasab dan pernikahan, penciptaan langit dan bumi, ‘Arsy, bintang-bintang, matahari, dan bulan.

Semua itu seakan-akan menjadi penjelasan terhadap kalimat:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.”

Apa yang semula disebut secara global kemudian dijelaskan melalui berbagai tanda kekuasaan Allah yang dapat disaksikan manusia.

Bayangan yang berubah mengikuti perjalanan matahari, malam yang menjadi waktu istirahat, siang yang menjadi waktu beraktivitas, air yang menghidupkan bumi, angin yang berembus, matahari dan bulan yang silih berganti—semuanya mengingatkan manusia bahwa alam ini tidak berjalan tanpa pengaturan.

Dari Tauhid Menuju Peringatan terhadap Kesyirikan

Setelah menjelaskan kekuasaan Allah, Al-Furqān juga mengingatkan kesalahan manusia yang mengambil sesembahan selain-Nya:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا...

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia, yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri diciptakan; dan tidak mampu memberi mudarat maupun manfaat kepada dirinya sendiri...”
(QS. Al-Furqān: 3)

Ini merupakan argumentasi tauhid yang sangat kuat.

Jika Allah adalah pencipta seluruh sesuatu, pemilik langit dan bumi, serta pengatur seluruh alam, maka tidak pantas manusia memberikan ibadah kepada selain-Nya.

Isyarat tentang Umat-Umat yang Dibinasakan

Surah Al-Furqān juga menyebut umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul dan akhirnya mendapatkan kehancuran.

Namun, penyebutan tersebut masih dalam bentuk isyarat. Penjelasan yang jauh lebih panjang kemudian hadir dalam surah setelahnya, yaitu Surah Asy-Syu‘arā’.

Di dalamnya dikisahkan secara terperinci perjuangan sejumlah nabi menghadapi kaum mereka: Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu‘aib عليهم السلام.

Pola seperti ini juga dapat ditemukan pada hubungan Al-An‘ām dan Al-A‘rāf. Al-An‘ām memberikan isyarat tentang umat-umat terdahulu, lalu Al-A‘rāf memperluas dan memperinci kisah mereka.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan yang indah dalam susunan Al-Qur’an.

Surah Makkiyyah Setelah Surah Madaniyyah

As-Suyuthi juga menemukan sebuah keindahan lain dalam susunan Al-Qur’an.

Ketika sebuah surah Makkiyyah ditempatkan setelah surah Madaniyyah, sering kali surah Makkiyyah tersebut dibuka dengan pujian kepada Allah.

Di antaranya:

  • Al-An‘ām setelah Al-Mā’idah.
  • Al-Isrā’ setelah An-Naḥl.
  • Al-Furqān setelah An-Nūr.
  • Saba’ setelah Al-Aḥzāb.
  • Al-Ḥadīd setelah Al-Wāqi‘ah.
  • Al-Mulk setelah At-Taḥrīm.

Menurut As-Suyuthi, hal tersebut memberikan isyarat adanya peralihan dari satu jenis pembahasan menuju jenis pembahasan lainnya, sekaligus memberikan kesan bahwa surah yang baru memiliki karakter dan pembahasan yang lebih mandiri.

Pelajaran untuk Kita

Keterkaitan antara An-Nūr dan Al-Furqān memberikan pelajaran penting: ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak seharusnya hanya memperhatikan satu ayat secara terpisah. Kita juga dapat memperhatikan bagaimana satu surah menyambung pesan surah sebelumnya dan mempersiapkan pembahasan surah sesudahnya.

An-Nūr ditutup dengan penegasan bahwa milik Allah segala yang ada di langit dan bumi. Al-Furqān kemudian membuka dengan penegasan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Pencipta segala sesuatu, dan Dia menentukan segala sesuatu dengan ukuran yang sempurna.

Dari sini kita belajar bahwa seluruh alam adalah milik Allah, ciptaan Allah, dan berada dalam pengaturan Allah.

Maka ketika melihat matahari, bulan, malam, siang, air, angin, manusia, dan seluruh kehidupan, seorang mukmin tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan. Ia melangkah lebih jauh: melihat Sang Pencipta di balik seluruh ciptaan.

Inilah salah satu keindahan munāsabah Al-Qur’an: dari penegasan kepemilikan Allah, menuju pengenalan terhadap kekuasaan-Nya; dari melihat ciptaan, menuju pengakuan terhadap keesaan-Nya; dan dari mengenal kebesaran-Nya, menuju ketundukan kepada-Nya.

Kajian Munāsabah (23): Surah Asy-Syu‘arā’ dan Kirsah Para Penyair

Keindahan Munāsabah Surah Asy-Syu‘arā’ Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keter...