Asy-Syafii berkata:
الْجَدُّ يُدْنِي كُلَّ أَمْرٍ شَاسِعٍ # وَالْجَدُّ يَفْتَحُ كُلَّ بَابٍ مُغْلَقٍ
“Kesungguhan mendekatkan setiap perkara yang jauh, dan kesungguhan membuka setiap pintu yang tertutup.” (Ta'lim al-Mutaallim, 32)
Berikut penjelasannya:
Ada kalanya sebuah cita-cita terasa begitu jauh. Ilmu terasa sulit dikuasai, pekerjaan terasa berat, impian terasa terlalu tinggi, bahkan jalan menuju kesuksesan seakan dipenuhi pintu-pintu yang tertutup. Dalam keadaan seperti itu, sering kali yang kita butuhkan bukan kemampuan yang lebih hebat, melainkan kesungguhan yang lebih kuat.
Allah memberikan gambaran tentang pentingnya perjuangan dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Allah tidak mengatakan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan langsung mendapatkan semua yang diinginkannya. Tetapi Allah menjanjikan petunjuk jalan kepada mereka yang bersungguh-sungguh.
Kadang kita meminta kepada Allah agar pintu dibukakan, sementara kita sendiri belum bersungguh-sungguh mengetuknya.
Rasulullah ﷺ juga memberi pesan:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim, 2664)
Hadis ini mengajarkan tiga langkah. Pertama, bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang bermanfaat. Kedua, meminta pertolongan kepada Allah. Ketiga, jangan menyerah karena kelemahan atau kegagalan.
Jadi, Islam tidak mengajarkan manusia untuk hanya berdoa tanpa usaha. Sebaliknya, seorang mukmin diperintahkan untuk berusaha sekaligus memohon pertolongan Allah.
Az-Zarnuji menukil sebuah ungkapan:
بِقَدْرِ مَا تَتَعَنَّى تَنَالُ مَا تَتَمَنَّى
“Sebesar kesusahan dan perjuangan yang engkau jalani, sebesar itu pula sesuatu yang engkau harapkan dapat engkau raih.” (Ta'lim al-Mutaallim, 32)
Cita-cita memang tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar dengan waktu, kesabaran, disiplin, bahkan pengorbanan.
Seorang santri yang ingin menjadi alim harus rela duduk berjam-jam mempelajari kitab. Seorang pelajar yang ingin berprestasi harus bersedia belajar ketika teman-temannya sedang bersantai. Seseorang yang ingin berhasil dalam usaha harus siap menghadapi kegagalan dan mencoba kembali.
Di kitab yang sama, ada sudah bait yang sangat pas dalam konteks ini:
بِجِدٍّ لَا بِجَدٍّ كُلُّ مَجْدٍ # فَهَلْ جَدٌّ بِلَا جِدٍّ بِمَجْدِي
“Dengan kesungguhan, bukan sekadar keberuntungan, kemuliaan dapat diraih. Maka, mungkinkah seseorang memperoleh kemuliaan tanpa kesungguhan?” (Ta'lim al-Mutaallim, 32)
Pesan ini mengingatkan kita agar tidak terlalu sibuk mencari jalan pintas. Banyak orang menginginkan hasil besar, tetapi tidak siap menjalani proses panjang. Padahal, hasil yang besar biasanya lahir dari kesungguhan yang dilakukan secara terus-menerus.
Kesungguhan bukan berarti tidak pernah lelah. Orang yang bersungguh-sungguh tetap bisa lelah, gagal, kecewa, bahkan jatuh. Bedanya, ia tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti.
Epilog
Ketika hari ini ada cita-cita yang terasa jauh, jangan buru-buru mengatakan “mustahil”. Ketika ada pintu yang tertutup, jangan langsung mengatakan “tidak ada jalan”. Teruslah berusaha, teruslah mengetuk, sambil terus memohon pertolongan Allah.
Sebab bisa jadi, satu langkah kesungguhan yang kita lakukan hari ini adalah awal dari jalan yang selama ini kita tunggu.
Yang jauh didekatkan oleh kesungguhan. Yang tertutup dicari jalan untuk dibuka. Dan yang sulit akan terasa ringan bagi orang yang tidak berhenti berusaha.
#islamicquotes #fauzandesign #motivasiislam #berusahadanberdoa #kerjakeras
Tidak ada komentar:
Posting Komentar