Jumat, 31 Juli 2026

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam 

Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nūr: 22)

Berikut penjelasannya:

Di antara akhlak yang paling berat untuk dilakukan, tetapi paling besar pahalanya, adalah memaafkan. Ketika disakiti, dihina, atau dikhianati, hati manusia cenderung ingin membalas. Namun, Islam mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kemuliaan jiwa.

Ayat di atas turun ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu 'anhu bersumpah tidak lagi membantu Misthah bin Utsatsah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk memaafkan dan tetap berbuat baik. Abu Bakar pun mencabut sumpahnya dan kembali memberikan bantuan.

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak membiarkan kebencian menghalangi dirinya dari berbuat baik.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syūrā: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa membalas kezaliman secara seimbang memang diperbolehkan. Akan tetapi, Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi, yaitu memaafkan demi memperbaiki keadaan. Bahkan, balasan bagi orang yang memaafkan tidak disebutkan besarannya, tetapi langsung dijamin oleh Allah: "Pahalanya menjadi tanggungan Allah." Ini menunjukkan betapa agungnya ganjaran tersebut.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللهُ لَكُمْ

“Sayangilah sesama, niscaya kalian akan disayangi. Maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ahmad, 6541)

Hadis ini mengajarkan bahwa perlakuan kita kepada manusia menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah kepada diri kita.

Al-Muntashir berkata:

لذَّةُ العَفوِ أطيَبُ مِن لذَّةِ التَّشَفِّي؛ وذلك أنَّ لذَّةَ العَفوِ يَلحَقُها حمدُ العاقبةِ، ولذَّةُ التَّشَفِّي يَلحَقُها ذَمُّ النَّدَمِ

“Nikmat memaafkan lebih manis daripada nikmat melampiaskan dendam. Sebab, kenikmatan memaafkan diikuti akibat yang terpuji, sedangkan kenikmatan membalas dendam sering berakhir dengan penyesalan dan celaan.” (Al-Bashā'ir wa Adz-Dzakhā'ir, 8/153)

Betapa banyak orang yang setelah melampiaskan amarah justru menyesal. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan akan merasakan ketenangan hati dan dihormati banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan:

وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيَهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ

“Di dalam sikap memaafkan, berlapang dada, dan santun terdapat manisnya hati, ketenteraman, ketenangan, kemuliaan jiwa, kehormatan, dan ketinggian martabat yang tidak akan pernah ditemukan dalam sikap membalas dendam.” (Madārij as-Sālikīn, 2/303)

Orang yang memaafkan justru memperoleh kebahagiaan batin yang lebih besar dibanding orang yang membalas dendam. Membalas mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi memaafkan memberi ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan kemuliaan diri yang abadi. Ini adalah ajaran Islam yang mengajak kita untuk meninggalkan ego dan mengutamakan kehormatan diri di sisi Allah, bukan kepuasan hawa nafsu.

Epilog 

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Terkadang luka yang diterima begitu dalam. Namun, setiap kali keinginan membalas muncul, ingatlah firman Allah di atas. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan ampunan Allah. Maka, salah satu jalan untuk meraihnya adalah belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngaji Itqon (26): Mengenal Ilmu Mubhamāt Al-Qur’an

Mengenal Ilmu Mubhamāt Al-Qur’an: Siapa Tokoh yang Disebut Secara Samar? Al-Qur’an tidak selalu menyebut nama seseorang secara ...