Bersyukur dan bersabar
عن إبراهيمَ بنِ بَشَّارٍ قال: نظَر إبراهيمُ بنُ أدهَمَ إلى رَجُلٍ قد أُصيبَ بمالٍ ومَتاعٍ، ووَقَعَ الحَريقُ في دُكَّانِه فاشتَدَّ جَزَعُه حتى خولِطَ في عَقلِه، فقال: (يا عَبدَ اللهِ، إنَّ المالَ مالُ اللهِ، متَّعك به إذ شاءَ، وأخَذَه منك إذ شاءَ، فاصبِرْ لأمرِه ولا تجزَعْ؛ فإنَّ مِن تمامِ شُكرِ اللهِ على العافيةِ الصَّبرَ له على البليَّةِ، ومَن قدَّم وَجَد، ومَن أخَّرَ فقد نَدِم)
Dari Ibrahim bin Basysyar, ia berkata: Ibrahim bin Adham melihat seorang laki-laki yang tertimpa musibah pada harta dan barang-barangnya. Kebakaran terjadi di tokonya, sehingga ia sangat gelisah hingga hampir hilang akal sehatnya. Maka Ibrahim bin Adham berkata: "Wahai hamba Allah, sesungguhnya harta itu adalah milik Allah. Dia memberimu kesenangan dengannya jika Dia kehendaki, dan mengambilnya darimu jika Dia kehendaki. Maka bersabarlah terhadap ketetapan-Nya dan jangan gelisah. Karena sesungguhnya di antara kesempurnaan syukur kepada Allah atas keselamatan adalah bersabar terhadap musibah. Barang siapa yang mendahulukan (kesabaran dan ketakwaan), ia akan mendapatkan (kebaikan), dan barang siapa yang mengakhirkan (atau lalai), maka ia akan menyesal."
(Sumber: Hilyatul Auliya', 8/32)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar