Abu Bakar al-Baqillani: Anak Tukang Sayur yang Menjadi Benteng Ahlussunnah
Lahir dari Keluarga Sederhana
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin ath-Thayyib bin Muhammad al-Baqillani al-Qadhi. Beliau lahir di Basrah pada tahun 338 H (sekitar 950 M).
Julukan al-Baqillani berasal dari profesi keluarganya yang bekerja sebagai penjual sayur-mayur (baqilah). Dari keluarga yang sederhana inilah lahir seorang ulama besar yang kelak menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Ahlussunnah.
Sejak kecil beliau menuntut ilmu di Basrah. Setelah dewasa, beliau melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dunia Islam saat itu. Di kota inilah beliau belajar kepada para ulama besar hingga mencapai kedudukan sebagai imam dalam ilmu akidah, fikih, usul fikih, dan ilmu kalam.
Karena keluasan ilmunya, beliau diangkat sebagai qadhi (hakim) pada masa pemerintahan 'Adhud ad-Daulah al-Buwaihi sekitar tahun 372 H. Beliau juga dipercaya memimpin majelis ilmu di Baghdad yang dihadiri banyak ulama dan penuntut ilmu dari berbagai daerah.
Diplomat yang Membela Islam
Selain sebagai ulama, al-Baqillani juga dikenal sebagai diplomat ulung. Pemerintah Daulah Buwaihi beberapa kali mengutus beliau untuk menjalankan misi diplomatik ke berbagai negeri, termasuk ke Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).
Melalui ilmu, akhlak, dan kecerdasannya, beliau mampu mengharumkan nama kaum muslimin. Bahkan dakwah beliau memberi pengaruh besar kepada kalangan istana. Disebutkan bahwa putra 'Adhud ad-Daulah menjadi muridnya, sementara sang penguasa yang sebelumnya cenderung kepada pemikiran Mu'tazilah akhirnya menerima akidah Asy'ariyah setelah berdialog dengan al-Baqillani.
Ahli Ibadah yang Sangat Istiqamah
Di balik kesibukannya sebagai ulama dan diplomat, al-Baqillani adalah seorang ahli ibadah.
Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam sebanyak 20 rakaat, baik ketika berada di rumah maupun saat bepergian. Seusai qiyamul lail, beliau menulis sekitar 35 lembar setiap malam, semuanya berasal dari hafalan dan keluasan ilmunya.
Setelah shalat Subuh, hasil tulisannya langsung diajarkan kepada murid-muridnya. Rutinitas ini berlangsung bertahun-tahun hingga melahirkan banyak karya ilmiah yang bermanfaat bagi umat.
Beliau juga dikenal sangat wara', rendah hati, dan berusaha menyembunyikan amal ibadahnya. Abu Hatim Mahmud al-Qazwini mengatakan bahwa ibadah al-Baqillani sebenarnya jauh lebih banyak daripada yang diketahui masyarakat.
Kecerdasan yang Mengagumkan
Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika beliau menjadi utusan kepada Kaisar Romawi.
Sang Kaisar sengaja membuat pintu masuk istana sangat rendah agar al-Baqillani terpaksa menundukkan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada raja.
Namun dengan kecerdasannya, al-Baqillani masuk sambil membelakangi pintu sehingga tidak perlu menundukkan kepala kepada sang raja. Tindakan itu membuat Kaisar terkejut sekaligus malu karena siasatnya gagal.
Dalam kesempatan lain, beliau berdialog dengan para pendeta di hadapan Kaisar.
Beliau bertanya kepada salah seorang pendeta:
"Bagaimana keadaan istri dan anak-anakmu?"
Semua pendeta terdiam, sedangkan Kaisar marah seraya berkata,
"Tidakkah engkau tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah?"
Al-Baqillani menjawab dengan tenang,
"Kalian menyucikan pendeta kalian sehingga tidak boleh menikah, tetapi kalian justru menisbatkan istri dan anak kepada Tuhan."
Jawaban singkat itu membuat lawan bicaranya tidak mampu membalas.
Dalam dialog yang sama, Kaisar mencoba menyerang kehormatan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Al-Baqillani menjawab bahwa baik Aisyah maupun Maryam sama-sama pernah difitnah, padahal keduanya adalah wanita suci yang dibersihkan Allah dari segala tuduhan. Jawaban itu membuat Kaisar terdiam.
Ulama yang Sangat Produktif
Al-Baqillani termasuk ulama yang sangat produktif. Disebutkan bahwa beliau menulis hingga puluhan ribu lembar tentang pembelaan terhadap akidah Islam dan bantahan terhadap berbagai pemikiran yang dianggap menyimpang pada zamannya.
Beberapa karya beliau yang masih dikenal hingga sekarang antara lain:
- I'jaz al-Qur'an, salah satu kitab klasik terpenting tentang kemukjizatan Al-Qur'an.
- At-Tamhid fi ar-Radd 'ala al-Mulhidah wal-Mu'aththilah wal-Khawarij wal-Mu'tazilah.
- Al-Ibanah fi Ibthal Madzhab Ahl al-Kufr wa adh-Dhalal.
- Risalah al-Hurrah.
- Al-Bayan bain al-Mu'jizat wal-Karamat was-Sihr wal-Kahanah.
- Al-Inshaf.
Karya-karya beliau menjadi rujukan penting dalam ilmu akidah Ahlussunnah hingga berabad-abad setelah wafatnya.
Sanjungan Para Ulama
Banyak ulama memberikan penghormatan kepada al-Baqillani.
Abu al-Qasim bin Burhan berkata,
"Siapa yang pernah mendengar perdebatan ilmiah Abu Bakar al-Baqillani, niscaya ia tidak akan lagi kagum kepada kefasihan orang lain."
Ibnu al-Ahdal mengatakan,
"Beliau adalah orang yang wara', penuh ibadah, teguh memegang agama, dan tidak pernah terdengar keburukan tentang dirinya."
Imam adz-Dzahabi menyebut beliau sebagai:
"Seorang yang tsiqah, pemimpin ilmu, dan sangat cerdas."
Sedangkan al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan ucapan Abu Bakar al-Khawarizmi,
"Setiap penulis di Baghdad masih membutuhkan kitab-kitab ulama lain, kecuali Abu Bakar al-Baqillani. Ilmu beliau seakan telah menghimpun ilmu para ulama sebelumnya."
Wafat
Imam Abu Bakar al-Baqillani wafat pada bulan Dzulqa'dah tahun 403 H (1013 M).
Jenazah beliau dishalatkan oleh putranya, al-Hasan. Setelah sempat dimakamkan di rumahnya, jenazah beliau dipindahkan ke pemakaman Bab Harb, tidak jauh dari makam Imam Ahmad bin Hanbal.
Dalam berbagai kitab sejarah disebutkan bahwa makam beliau dahulu sering diziarahi kaum muslimin, bahkan dijadikan tempat berkumpul untuk berdoa memohon hujan ketika terjadi musim kemarau. Riwayat ini merupakan catatan sejarah tentang tradisi masyarakat pada masa itu.
Penutup
Kisah Imam Abu Bakar al-Baqillani mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh asal-usul keluarga, melainkan oleh ilmu, ketakwaan, kerja keras, dan keikhlasan. Berasal dari keluarga sederhana, beliau tumbuh menjadi ulama besar yang disegani kawan maupun lawan. Warisan keilmuan dan perjuangannya dalam membela akidah Ahlussunnah tetap dikenang hingga hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar