Sabtu, 29 Agustus 2026

Bukan tentang siapa ayahmu, tapi tentang siapa kamu

Bukan tentang siapa ayahmu, tapi tentang siapa kamu

وَإِذَا جَهِلْتَ مِنِ امْرِئٍ أَعْرَاقَهُ # وَقَدِيمَهُ فَانْظُرْ إِلَى مَا يَصْنَعُ

“Jika engkau tidak mengetahui asal-usul seseorang dan sejarah masa lalunya, maka lihatlah apa yang ia kerjakan.” (al-Baṣā’ir wa al-Dhakhā’ir, 2/19)

Berikut penjelasannya:

Kita sering menilai seseorang dari apa yang tampak di luar. Ada yang dihormati karena nasabnya, dikagumi karena kekayaannya, disegani karena jabatannya, atau dianggap hebat karena gelarnya. Padahal, semua itu belum tentu menjadi ukuran kualitas seseorang.

Seseorang boleh mengatakan dirinya amanah, berilmu, baik hati, dermawan, atau memiliki kedudukan terhormat. Namun, pengakuan itu belum cukup. Karakter seseorang justru lebih jelas terlihat dari perbuatan yang dilakukan secara konsisten.

Allah ﷻ berfirman:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 132)

Ayat ini mengajarkan bahwa amal mempunyai posisi yang sangat penting. Derajat seseorang berkaitan dengan apa yang ia kerjakan.

Karena itu, kita tidak seharusnya terlalu cepat mengagungkan seseorang hanya karena keluarganya terpandang. Sebaliknya, kita juga tidak boleh meremehkan seseorang hanya karena ia berasal dari keluarga sederhana.

Bisa jadi orang yang tidak terkenal justru memiliki amal yang besar. Dan bisa jadi orang yang terkenal justru tidak memiliki kualitas seperti yang dibayangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ لا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, 2564)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak terjebak pada ukuran-ukuran lahiriah. Wajah yang tampan tidak otomatis menunjukkan kemuliaan. Kekayaan yang banyak tidak otomatis menunjukkan keberkahan. Jabatan yang tinggi tidak otomatis menunjukkan keutamaan.

Seseorang mungkin sederhana dalam penampilan, tetapi sangat mulia karena kejujurannya. Ia mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi sangat berharga karena amanahnya. Ia mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi kaya dengan kepedulian dan manfaat bagi sesama.

Ali bin Abi Thalib berkata: 

كُنِ اِبنَ مَن شِئتَ وَاِكتَسِب أَدَبًا # يُغنيكَ مَحمُودُهُ عَنِ النَسَبِ

“Jadilah anak siapa pun yang engkau kehendaki, tetapi carilah adab; karena kemuliaan adab yang terpuji akan membuatmu tidak membutuhkan kebanggaan terhadap nasab.” (Muḥāḍarāt al-Udabā’, 1/48)

Nasab yang baik tentu memiliki nilai. Tetapi nasab tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Apa gunanya berasal dari keluarga terpandang jika perilakunya tercela? Apa gunanya memiliki nama besar jika tidak mampu menjaga amanah? Apa gunanya gelar yang banyak jika ilmu tidak melahirkan kerendahan hati?

Sebaliknya, seseorang yang berasal dari keluarga biasa dapat mengangkat martabat dirinya dan keluarganya melalui ilmu, adab, ketakwaan, dan amal yang bermanfaat. 

Epilog 

Untuk mengenal seseorang, jangan hanya melihat bagaimana ia bersikap ketika mendapatkan pujian. Lihatlah ketika ia sedang marah. Jangan hanya melihat bagaimana ia berbicara ketika berada di depan orang banyak. Lihatlah bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang memperhatikannya.

Jangan terlalu sibuk membangun citra, sementara lupa membangun karakter. Jangan hanya mengejar pengakuan manusia, tetapi kejarlah keridaan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan tentang siapa ayahmu, tapi tentang siapa kamu

Bukan tentang siapa ayahmu, tapi tentang siapa kamu وَإِذَا جَهِلْتَ مِنِ امْرِئٍ أَعْرَاقَهُ # وَقَدِيمَهُ فَانْظُرْ إِلَى مَا ...