Minggu, 02 Agustus 2026

Kajian Munasabah (17): Surah Taha dan Kisah-Kisah Para Nabi


Munasabah Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam: Kesinambungan Kisah Para Nabi dalam Al-Qur'an

Salah satu bukti keindahan susunan Al-Qur'an adalah adanya munāsabah, yaitu keterkaitan yang erat antara satu surah dengan surah berikutnya. Para ulama menjelaskan bahwa urutan surah dalam mushaf bukanlah susunan yang acak, melainkan mengandung hikmah dan rahasia yang mendalam. Di antara ulama yang banyak membahas hal ini adalah Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar.

Mengenai hubungan Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam, Imam As-Suyuthi mengutip riwayat dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Zaid bahwa Surah Ṭāhā diturunkan setelah Surah Maryam. Menurut beliau, urutan turunnya wahyu ini menjadi salah satu alasan mengapa Surah Ṭāhā ditempatkan setelah Surah Maryam dalam mushaf Al-Qur'an. Selain itu, kedua surah sama-sama diawali dengan huruf-huruf muqaṭṭa'ah. Surah Maryam dibuka dengan كهيعص, sedangkan Surah Ṭāhā diawali dengan طه. Kesamaan pembukaan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara keduanya.

As-Suyuthi juga menjelaskan sisi munasabah yang lebih mendalam. Dalam Surah Maryam, Allah menceritakan beberapa nabi. Kisah Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa disampaikan secara panjang lebar. Kisah Nabi Ibrahim dijelaskan dengan uraian yang tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu singkat. Adapun kisah Nabi Musa hanya disebut secara ringkas. Di penghujung Surah Maryam, Allah juga memberi isyarat secara umum tentang nabi-nabi yang lain tanpa menjelaskan kisah mereka secara rinci.

Di sinilah tampak hubungan yang sangat indah dengan Surah Ṭāhā. Surah ini hadir untuk menjelaskan secara lebih luas kisah Nabi Musa yang sebelumnya hanya disinggung secara singkat dalam Surah Maryam. Kisah Nabi Musa dipaparkan sejak beliau menerima wahyu di Lembah Ṭuwa, menghadapi Fir'aun, mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya, perjalanan Bani Israil, hingga peristiwa penyembahan anak sapi. Penjelasan ini merupakan salah satu kisah Nabi Musa yang paling lengkap dalam Al-Qur'an.

Selain itu, Surah Ṭāhā juga menguraikan kisah Nabi Adam `alaihis salam secara lebih rinci. Jika dalam Surah Maryam nama Nabi Adam hanya disebut sepintas, maka dalam Surah Ṭāhā dijelaskan tentang penciptaannya, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud, keengganan Iblis, godaan terhadap Adam dan Hawa, hingga turunnya mereka ke bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Surah Ṭāhā berfungsi sebagai pelengkap terhadap kisah-kisah yang telah disebutkan sebelumnya.

Kesinambungan ini berlanjut pada Surah Al-Anbiyā'. Setelah Surah Maryam memperkenalkan sejumlah nabi dan Surah Ṭāhā memperinci kisah Nabi Musa serta Nabi Adam, Surah Al-Anbiyā' melengkapi kisah para nabi lainnya, seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, dan Nabi Yunus. Dengan demikian, terdapat rangkaian kisah kenabian yang tersusun secara sistematis dan saling melengkapi.

Dari penjelasan Imam As-Suyuthi ini dapat dipahami bahwa susunan surah dalam Al-Qur'an memiliki keteraturan yang luar biasa. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya. Surah Maryam memberikan pengantar berbagai kisah nabi, Surah Ṭāhā memperluas pembahasan Nabi Musa dan Nabi Adam, sedangkan Surah Al-Anbiyā' menyempurnakan kisah nabi-nabi yang belum dijelaskan sebelumnya.

Memahami munasabah antarsurah akan semakin menumbuhkan keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang tersusun dengan penuh hikmah. Setiap urutan ayat dan surah mengandung pelajaran yang mendalam serta menunjukkan kesempurnaan kalam Allah yang tidak mungkin disusun secara kebetulan. Oleh karena itu, mempelajari munasabah bukan hanya memperkaya ilmu tafsir, tetapi juga memperdalam penghayatan terhadap keindahan dan kemukjizatan Al-Qur'an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kajian Munasabah (17): Surah Taha dan Kisah-Kisah Para Nabi

Munasabah Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam: Kesinambungan Kisah Para Nabi dalam Al-Qur'an Salah satu bukti keindahan susunan ...