Trilogi Filsafat Ilmu dan Mabadi’ Asyrah: Membangun Tradisi Keilmuan yang Terarah dan Bertanggung Jawab*
Ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga perlu dipahami hakikatnya, ditelusuri sumber kebenarannya, dan diarahkan manfaatnya. Seseorang yang mendalami suatu disiplin ilmu idealnya tidak hanya mengetahui isi pembahasannya, tetapi juga memahami apa yang dikaji, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan untuk apa ilmu tersebut digunakan. Dalam filsafat ilmu, persoalan ini terangkum dalam tiga pilar utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ketiga pilar tersebut memiliki hubungan erat dengan tradisi keilmuan Islam, khususnya konsep Mabadi’ Asyrah, yakni sepuluh prinsip dasar yang diperkenalkan oleh para ulama sebagai pengantar untuk memahami suatu disiplin ilmu. Jika trilogi filsafat ilmu memberikan kerangka berpikir yang mendasar, Mabadi’ Asyrah membantu penuntut ilmu mengenali identitas, ruang lingkup, dan tujuan ilmu yang hendak dipelajarinya.
Ontologi: Memahami Hakikat Ilmu
Ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan atau realitas. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang sebenarnya menjadi objek kajian suatu ilmu?
Dalam pembelajaran, ontologi membantu seseorang mengenali objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dipelajari, sedangkan objek formal adalah sudut pandang atau aspek tertentu yang digunakan untuk mengkajinya.
Sebagai contoh, manusia dapat dikaji melalui ilmu biologi, psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan. Objek materialnya sama-sama manusia, tetapi objek formalnya berbeda. Biologi menelaah aspek biologis, psikologi mempelajari perilaku dan proses mental, sosiologi mengkaji hubungan sosial, sedangkan ilmu pendidikan menelaah proses pembentukan dan pengembangan kemampuan manusia.
Dalam tradisi keilmuan Islam, pertanyaan ontologis membantu kita memahami batasan suatu disiplin ilmu. Ketika mempelajari ilmu fikih, misalnya, kita perlu mengetahui bahwa pembahasannya berkaitan dengan hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Sementara itu, ilmu nahwu berfokus pada kaidah bahasa Arab, dan ilmu tafsir mengkaji penjelasan serta pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Dengan memahami ontologi, seorang penuntut ilmu tidak mudah mencampuradukkan pembahasan berbagai disiplin ilmu tanpa mengetahui perbedaan objek dan batas kajiannya.
Epistemologi: Menelusuri Sumber dan Cara Memperoleh Pengetahuan
Jika ontologi bertanya tentang apa yang dikaji, epistemologi mempertanyakan bagaimana pengetahuan diperoleh dan bagaimana kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
Epistemologi membahas sumber pengetahuan, metode berpikir, prosedur penelitian, dan ukuran kebenaran. Dalam filsafat, sumber pengetahuan antara lain dibicarakan melalui rasionalisme yang menekankan akal, empirisme yang menekankan pengalaman indrawi, serta pemikiran yang memadukan peranan akal dan pengalaman.
Dalam proses berpikir, dikenal pula metode deduktif, yaitu menarik kesimpulan khusus dari prinsip umum, dan metode induktif, yaitu menyusun kesimpulan umum berdasarkan pengamatan terhadap kasus-kasus khusus.
Dalam keilmuan Islam, pembahasan epistemologi memiliki cakupan tersendiri. Pengetahuan agama dikaji dengan memperhatikan sumber-sumber yang diakui dalam disiplin terkait, seperti Al-Qur’an, hadis, serta metode istinbat dan penalaran yang memiliki kaidah. Pengetahuan tidak cukup didasarkan pada pendapat pribadi, tetapi perlu ditimbang berdasarkan dalil, ketepatan pemahaman, dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, seorang penuntut ilmu tidak cukup bertanya, “Apa pendapat ulama tentang masalah ini?” Ia juga perlu mengetahui, “Apa dalilnya, bagaimana cara ulama menyimpulkannya, dan dalam kerangka metodologi apa pendapat tersebut ditetapkan?”
Pertanyaan semacam ini bukan untuk menumbuhkan sikap meremehkan otoritas keilmuan, melainkan untuk membangun pemahaman yang mendalam, kritis, dan tetap menghormati tradisi ilmiah.
Aksiologi: Mengarahkan Ilmu kepada Kemanfaatan
Pilar ketiga adalah aksiologi, yaitu kajian tentang nilai, kegunaan, dan tujuan ilmu. Pertanyaan pokoknya adalah: untuk apa ilmu dipelajari dan bagaimana ilmu itu seharusnya digunakan?
Aksiologi mencakup persoalan etika dan estetika. Etika membahas nilai baik dan buruk dalam tindakan manusia, sedangkan estetika berkaitan dengan nilai keindahan. Dalam konteks ilmu pengetahuan, aksiologi mengingatkan bahwa kemampuan intelektual harus disertai tanggung jawab moral dan sosial.
Seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang luas, tetapi pengetahuan itu belum tentu membawa kebaikan apabila digunakan untuk menipu, menindas, atau merugikan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang dipelajari dengan benar dan digunakan secara bertanggung jawab dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.
Dalam tradisi Islam, orientasi kemanfaatan ilmu sejalan dengan pentingnya mengamalkan pengetahuan dan menjaga adab. Ilmu bukan sekadar sarana memperoleh gelar, kedudukan, atau pengakuan sosial, melainkan jalan untuk memperbaiki diri, membimbing masyarakat, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dengan demikian, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang dikuasai, tetapi juga dari perubahan perilaku, kematangan berpikir, dan manfaat yang dirasakan oleh lingkungan.
Mabadi’ Asyrah: Peta Awal Memasuki Suatu Disiplin Ilmu
Apabila trilogi filsafat ilmu memberikan kerangka berpikir yang luas, Mabadi’ Asyrah menawarkan pengantar yang lebih praktis dan khusus. Dalam tradisi pembelajaran Islam, Mabadi’ Asyrah dikenal sebagai sepuluh prinsip dasar yang membantu seseorang mengenali suatu disiplin ilmu sebelum mendalaminya.
Sepuluh prinsip tersebut lazim dirumuskan sebagai berikut:
- Al-haddu: definisi atau pengertian ilmu.
- Al-maudhu‘: objek pembahasan ilmu.
- Tsamaratuhu: buah atau manfaat ilmu.
- Fadhluhu: keutamaan ilmu.
- Nisbatuhu: hubungan ilmu dengan disiplin ilmu lainnya.
- Al-wadhi‘: peletak dasar atau perintis ilmu.
- Al-ism: nama ilmu.
- Al-istimdad: sumber pengambilan atau dasar pengembangan ilmu.
- Hukm asy-syari‘: hukum mempelajari ilmu tersebut menurut syariat.
- Masailuhu: persoalan-persoalan yang dibahas di dalamnya.
Susunan redaksi dan penjelasan sebagian prinsip dapat berbeda menurut kitab atau tradisi pengajaran yang digunakan. Namun, tujuan umumnya tetap sama: memberikan gambaran awal tentang identitas, dasar, cakupan, dan orientasi suatu ilmu.
Dalam hal ini, Mabadi’ Asyrah dapat dianalogikan dengan Terms of Reference (TOR) atau Kerangka Acuan Kerja (KAK). TOR menjelaskan latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan arah pelaksanaan suatu kegiatan. Demikian pula Mabadi’ Asyrah membantu penuntut ilmu mengetahui apa yang akan dipelajari, mengapa ilmu itu penting, dari mana sumbernya, dan sampai di mana pembahasannya.
Analogi tersebut bersifat fungsional, bukan berarti Mabadi’ Asyrah identik dengan TOR dalam pengertian administrasi modern. Keduanya memiliki persamaan dalam memberikan orientasi dan batasan sebelum seseorang memasuki pekerjaan atau kajian yang lebih mendalam.
Mana yang Harus Dipelajari Terlebih Dahulu?
Pertanyaan tentang prioritas antara trilogi filsafat ilmu dan Mabadi’ Asyrah perlu dijawab berdasarkan tujuan belajar.
Jika seseorang hendak memulai mempelajari kitab fikih, nahwu, tafsir, atau tauhid, Mabadi’ Asyrah dapat didahulukan sebagai pengantar praktis. Dengan memahami sepuluh prinsipnya, ia memperoleh gambaran tentang definisi ilmu, objek kajian, sumber, manfaat, dan persoalan yang akan dipelajari.
Namun, jika seseorang sedang menyusun penelitian akademik, mengembangkan metodologi, atau menguji dasar-dasar suatu pengetahuan, trilogi filsafat ilmu perlu mendapat perhatian lebih besar. Ontologi membantunya menentukan objek kajian, epistemologi membimbingnya menilai sumber dan metode pengetahuan, sedangkan aksiologi mengarahkan penelitian agar mempertimbangkan nilai serta tanggung jawabnya.
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Trilogi filsafat ilmu dapat dipelajari sebagai kerangka konseptual, kemudian Mabadi’ Asyrah digunakan untuk menerapkannya pada disiplin ilmu Islam tertentu. Akan tetapi, urutan ini bukan aturan mutlak. Penuntut ilmu pemula tetap dapat memulai dari Mabadi’ Asyrah, lalu memperdalam filsafat ilmu sesuai kebutuhan akademiknya.
Penutup
Ontologi, epistemologi, dan aksiologi mengajarkan kita untuk bertanya tentang hakikat, sumber kebenaran, dan tujuan pengetahuan. Sementara itu, Mabadi’ Asyrah membimbing penuntut ilmu agar memasuki suatu disiplin dengan mengenali identitas, dasar, batasan, dan manfaatnya.
Keduanya saling melengkapi. Trilogi filsafat ilmu membantu membangun cara berpikir yang mendasar dan metodologis, sedangkan Mabadi’ Asyrah memberikan peta praktis untuk menempuh perjalanan belajar.
Pada akhirnya, tradisi keilmuan yang baik bukan hanya melahirkan orang yang banyak mengetahui, melainkan juga pribadi yang memahami apa yang dipelajarinya, mampu mempertanggungjawabkan cara memperoleh pengetahuannya, serta menggunakan ilmunya secara bijaksana dan bermanfaat. Ilmu yang mendalam membutuhkan ketepatan berpikir, ketekunan belajar, dan keluhuran tujuan.
*) Tulisan ini merupakan hasil saduran perkuliahan Program Doktor pada mata kuliah Filsafat Ilmu di UII Dalwa Bangil dengan sedikit perubahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar