Jumat, 26 Juni 2026

Kajian Munāsabah (6): Susunan Unik Mushaf al-Quran


Keindahan Munāsabah Surah Al-Anfāl dan At-Taubah dalam Susunan Mushaf Al-Qur'an

Salah satu cabang ilmu Al-Qur'an yang menunjukkan keagungan susunan Kitabullah adalah ilmu munāsabah, yaitu ilmu yang membahas hubungan dan keterkaitan antara surah-surah dalam Al-Qur'an. Melalui ilmu ini, para ulama menyingkap berbagai hikmah di balik urutan surah yang terdapat dalam mushaf.

Di antara pembahasan yang menarik dalam ilmu munāsabah adalah hubungan antara Surah Al-Anfāl dan Surah At-Taubah (Barā’ah), serta alasan penempatannya dalam susunan mushaf.

Penempatan Al-Anfāl dan At-Taubah Berdasarkan Ijtihad Utsman

Mayoritas ulama berpendapat bahwa susunan surah-surah Al-Qur'an bersifat tawqīfī, yaitu berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ. Namun, khusus mengenai penempatan Surah Al-Anfāl dan At-Taubah, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa penyusunannya didasarkan pada ijtihad Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه ketika beliau menyusun mushaf standar kaum muslimin.

Pada pandangan pertama, tampak bahwa setelah Surah Al-A‘rāf seharusnya ditempatkan Surah Yunus dan Hud, karena keduanya sama-sama banyak memuat kisah para nabi dan termasuk surah Makkiyah. Bahkan sebagian ulama memasukkan Surah Yunus ke dalam kelompok tujuh surah panjang (as-sab‘u ath-thiwāl).

Karena itu, keberadaan Surah Al-Anfāl dan At-Taubah di antara Al-A‘rāf dan Yunus pernah menimbulkan pertanyaan di kalangan sahabat.

Pertanyaan Ibnu Abbas kepada Utsman

Abdullah bin Abbas  pernah bertanya kepada Khalifah Utsman:

"Mengapa kalian menggabungkan Surah Al-Anfāl dan Barā’ah tanpa menuliskan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm di antara keduanya, serta menempatkannya dalam kelompok surah-surah panjang?"

Utsman menjelaskan bahwa Surah Al-Anfāl termasuk surah yang awal turun di Madinah, sedangkan Surah At-Taubah termasuk wahyu yang terakhir turun. Kedua surah tersebut memiliki tema yang sangat mirip, terutama berkaitan dengan peperangan, hubungan dengan kaum musyrik, dan pembatalan perjanjian.

Karena kemiripan yang sangat kuat itu, beliau mengira bahwa At-Taubah merupakan kelanjutan dari Al-Anfāl. Rasulullah ﷺ wafat sebelum memberikan penjelasan yang tegas mengenai status keduanya, sehingga Utsman berijtihad menggabungkannya dan tidak menuliskan basmalah di antara keduanya.

Hubungan Tema antara Al-Anfāl dan At-Taubah

Kedua surah ini memang memiliki keterkaitan yang sangat erat.

Surah Al-Anfāl berbicara tentang:

  • Perang Badar.
  • Pembagian harta rampasan perang.
  • Persiapan menghadapi musuh.
  • Persatuan kaum muslimin.
  • Perjanjian dengan pihak lain.

Sedangkan Surah At-Taubah membahas:

  • Sikap terhadap kaum musyrik yang mengkhianati perjanjian.
  • Persiapan jihad.
  • Perang Tabuk.
  • Karakter kaum munafik.
  • Penegasan kekuatan negara Islam.

Dengan demikian, At-Taubah seolah menjadi kelanjutan pembahasan yang telah dimulai dalam Al-Anfāl.

Mengapa Al-Anfāl Didahulukan?

Para ulama menjelaskan bahwa Utsman mendahulukan Surah Al-Anfāl karena surah tersebut diawali dengan basmalah, sedangkan Surah At-Taubah tidak.

Karena itu, Al-Anfāl seakan menjadi bagian pembuka, sementara At-Taubah menjadi pelengkap dan penyempurnanya. Tidak mengherankan jika sebagian ulama salaf berpendapat bahwa keduanya sebenarnya merupakan satu surah yang dipisahkan.

Menjaga Keterkaitan Surah Yunus dan Surah-Surah Sesudahnya

Hikmah lain yang sangat menarik adalah bahwa apabila Surah Yunus langsung ditempatkan setelah Al-A‘rāf, maka akan hilang hubungan erat antara Surah Yunus dan kelompok surah sesudahnya.

Surah Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, dan Al-Hijr memiliki banyak kesamaan:

  • Diawali dengan huruf muqaththa‘ah "الر".
  • Menyebutkan Al-Qur'an atau Al-Kitab pada awal surah.
  • Banyak memuat kisah para nabi.
  • Mayoritas termasuk surah Makkiyah.
  • Memiliki panjang yang relatif berdekatan.

Karena itu, penyusunan yang ada dalam mushaf menjaga keserasian kelompok surah tersebut.

Keserasian dalam Susunan Mushaf

Pembahasan ini menunjukkan bahwa susunan mushaf Al-Qur'an tidak disusun secara acak. Setiap surah ditempatkan dengan penuh hikmah dan pertimbangan.

Para ulama menemukan berbagai bentuk keterkaitan dalam susunan surah, seperti:

  • Kesamaan tema.
  • Kesamaan pembukaan surah.
  • Kesamaan panjang surah.
  • Kesamaan suasana dan tujuan pembahasan.

Contohnya, Surah Al-Hijr didahulukan atas An-Nahl karena sama-sama diawali dengan "الر". Demikian pula Surah Ali Imran ditempatkan setelah Al-Baqarah karena sama-sama diawali dengan "الم", meskipun Surah An-Nisa lebih panjang.

Hal ini menunjukkan adanya keindahan susunan yang sangat teliti dalam mushaf Al-Qur'an.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Kajian munāsabah antara Surah Al-Anfāl dan At-Taubah mengajarkan bahwa para sahabat tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tetapi juga memahami hubungan antar surah secara mendalam. Ijtihad Utsman bin Affan dalam penempatan kedua surah tersebut menunjukkan keluasan ilmu dan ketajaman pemahamannya terhadap Al-Qur'an.

Dari sini kita semakin menyadari bahwa susunan mushaf yang ada di tangan kaum muslimin saat ini bukanlah susunan tanpa makna. Di balik setiap urutan surah terdapat hikmah, keterkaitan, dan keindahan yang semakin menampakkan kemukjizatan Al-Qur'an sebagai kalam Allah yang sempurna.

Semoga Allah menambahkan kepada kita pemahaman terhadap Al-Qur'an dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mentadabburi ayat-ayat-Nya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kajian Munāsabah (6): Susunan Unik Mushaf al-Quran

Keindahan Munāsabah Surah Al-Anfāl dan At-Taubah dalam Susunan Mushaf Al-Qur'an Salah satu cabang ilmu Al-Qur'an yang menunjukkan k...