Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah keterpaduan susunan surah-surahnya. Para ulama menaruh perhatian besar terhadap ilmu munāsabah, yaitu ilmu yang membahas hubungan dan keterkaitan antara ayat maupun surah dalam Al-Qur’an. Di antara ulama yang banyak mengungkap rahasia ini adalah Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam karya monumentalnya tentang keserasian susunan Al-Qur’an.
Menurut beliau, Surah An-Nisā’ memiliki hubungan yang sangat erat dengan Surah Al-Baqarah dan Surah Āli ‘Imrān. Bahkan, Surah An-Nisā’ dapat dipandang sebagai penjelasan rinci terhadap berbagai hukum dan prinsip yang disebut secara global dalam Al-Baqarah, sekaligus menjadi kelanjutan pembahasan yang telah dimulai dalam Āli ‘Imrān.
Surah An-Nisā’ sebagai Penjelas Surah Al-Baqarah
Di dalam Surah Al-Baqarah, Allah berfirman:
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 21)
Ayat ini menyebut penciptaan manusia secara umum. Kemudian Surah An-Nisā’ menjelaskan lebih rinci asal-usul manusia:
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan." (QS. An-Nisā’: 1)
Tidak hanya itu, tema takwa yang menjadi tujuan dalam Al-Baqarah dijadikan pembuka dalam Surah An-Nisā’. Seakan-akan setelah manusia mengetahui tujuan hidupnya, mereka diajak memasuki pembahasan hukum-hukum yang akan mengantarkan kepada ketakwaan tersebut.
Demikian pula kisah Adam dan Hawa. Dalam Al-Baqarah hanya disebutkan bahwa Adam dan istrinya tinggal di surga. Namun dalam Surah An-Nisā’ dijelaskan bahwa Hawa diciptakan dari Adam. Penjelasan ini melengkapi kisah yang sebelumnya disampaikan secara ringkas.
Perincian Hukum Keluarga dan Sosial
Salah satu tema terbesar Surah An-Nisā’ adalah pengaturan kehidupan keluarga dan masyarakat. Jika dalam Al-Baqarah hukum-hukum tersebut masih disebut secara global, maka dalam An-Nisā’ semuanya dijelaskan secara rinci.
Surah ini memuat pembahasan tentang:
Hak-hak anak yatim.
Wasiat dan pembagian warisan.
Hak para ahli waris.
Mahar dan hak-hak perempuan.
Pernikahan dan syarat-syaratnya.
Pernikahan dengan budak perempuan mukminah.
Khulu’ (cerai tebus).
Penyelesaian konflik rumah tangga melalui hakam (mediator).
Karena itulah Surah An-Nisā’ sering disebut sebagai salah satu surah hukum terbesar dalam Al-Qur’an, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan kehidupan sosial.
Penjelasan tentang Orang-Orang yang Diberi Nikmat
Hubungan Surah An-Nisā’ tidak hanya dengan Al-Baqarah, tetapi juga dengan Surah Al-Fātiḥah.
Dalam Al-Fātiḥah kita setiap hari memohon:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka."
Siapakah mereka?
Jawabannya dijelaskan dalam Surah An-Nisā’:
"Mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh." (QS. An-Nisā’: 69)
Dengan demikian, Surah An-Nisā’ memberikan tafsir langsung terhadap salah satu doa terpenting yang dibaca kaum Muslimin dalam setiap rakaat shalat.
Kelanjutan Pembahasan Surah Āli ‘Imrān
Hubungan Surah An-Nisā’ dengan Surah Āli ‘Imrān juga sangat kuat.
Surah Āli ‘Imrān diakhiri dengan perintah untuk bertakwa, sedangkan Surah An-Nisā’ dibuka dengan seruan yang sama. Dalam ilmu balaghah, keserasian antara penutup dan pembuka seperti ini disebut tasyābuh al-athrāf.
Selain itu, pembahasan Perang Uhud yang telah dijelaskan dalam Āli ‘Imrān dilanjutkan dalam Surah An-Nisā’. Persoalan kaum munafik yang mundur dari peperangan dan menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan sahabat dibahas lebih lanjut dalam surah ini.
Hal ini menunjukkan bahwa urutan surah dalam mushaf bukanlah sesuatu yang acak, tetapi memiliki kesinambungan tema yang sangat rapi.
Bantahan terhadap Yahudi dan Nasrani tentang Nabi Isa
Salah satu tema penting dalam Āli ‘Imrān adalah kisah Nabi Isa ‘alaihissalam. Oleh karena itu, Surah An-Nisā’ hadir sebagai pelengkap dengan memberikan bantahan terhadap berbagai penyimpangan yang berkembang tentang beliau.
Terhadap kaum Yahudi, Allah membantah tuduhan mereka terhadap Maryam dan klaim mereka bahwa Nabi Isa telah dibunuh.
Terhadap kaum Nasrani, Allah melarang sikap berlebihan dalam memuliakan Isa hingga mengangkatnya ke derajat ketuhanan.
Surah ini menegaskan bahwa Isa adalah Rasul Allah, hamba-Nya yang mulia, dan bahwa beliau tidak dibunuh maupun disalib, melainkan diangkat oleh Allah ke sisi-Nya.
Hubungan dengan Ayat "Dihiasi Kecintaan kepada Syahwat"
Imam As-Suyuthi juga mengungkap sebuah rahasia menarik terkait firman Allah dalam Surah Āli ‘Imrān:
"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang." (QS. Āli ‘Imrān: 14)
Menurut beliau, surah-surah setelah Āli ‘Imrān menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan hal-hal tersebut.
Surah An-Nisā’ menjelaskan hukum-hukum tentang perempuan, keluarga, anak-anak, dan warisan. Surah Al-Mā’idah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan harta dan kejahatan terhadap harta. Sedangkan Surah Al-An‘ām menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan hewan ternak dan pertanian.
Susunan ini menunjukkan keteraturan yang luar biasa dalam urutan surah-surah Al-Qur’an.
Penutup
Kajian munāsabah Surah An-Nisā’ memperlihatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan surah yang berdiri sendiri. Setiap surah memiliki hubungan erat dengan surah sebelum dan sesudahnya. Surah An-Nisā’ hadir sebagai penjelas berbagai hukum yang disebut secara global dalam Surah Al-Baqarah, sekaligus menjadi penyempurna pembahasan yang telah dimulai dalam Surah Āli ‘Imrān.
Semakin dalam seseorang mempelajari hubungan antar-surah ini, semakin tampak keindahan susunan Al-Qur’an dan semakin kuat keyakinannya bahwa kitab suci ini tersusun dengan hikmah dan ketelitian yang sempurna dari Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar