Pertanyaan
Seseorang datang ke masjid ketika imam sedang tasyahud akhir. Sementara itu ada beberapa orang yang baru datang dan diperkirakan akan membuat jamaah baru. Mana yang lebih utama: ikut jamaah yang sedang berlangsung atau menunggu jamaah baru?
Jawaban
Dalam mazhab Syafi'i terdapat dua pendapat dalam masalah ini.
Pendapat Pertama
Disunnahkan langsung mengikuti imam yang sedang shalat dan tidak menunda shalat.
Dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
"Apabila shalat telah didirikan maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari. Datanglah dengan tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah."
(HR. Bukhari no. 908 dan Muslim no. 602)
Al-Qadhi Husain berpendapat:
يُسْتَحَبُّ لَهُمْ الِاقْتِدَاءُ بِهِ وَلَا يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ
"Disunnahkan bagi mereka untuk bermakmum kepada imam tersebut dan tidak menunda shalat."
Referensi: I'anatuth Thalibin, Juz 2, hlm. 15.
Pendapat Mu'tamad Mazhab Syafi'i
Pendapat yang dijadikan pegangan (mu'tamad) dalam mazhab adalah pendapat Al-Mutawalli.
Syekh Abu Bakar Syatha berkata:
وَجَزَمَ الْمُتَوَلِّي بِخِلَافِهِ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ
"Al-Mutawalli memastikan kebalikan pendapat tersebut dan itulah pendapat yang mu'tamad."
Kemudian beliau menjelaskan:
بَلْ الْأَفْضَلُ لِلشَّخْصِ إِذَا رَجَا جَمَاعَةً أُخْرَى يُدْرِكُ مَعَهَا الصَّلَاةَ جَمِيعَهَا فِي الْوَقْتِ التَّأْخِيرُ لِيُدْرِكَهَا تَمَامَهَا مَعَهَا
"Bahkan lebih utama bagi seseorang apabila mengharapkan adanya jamaah lain sehingga dapat memperoleh seluruh shalat berjamaah dalam waktunya, maka ia menunda agar dapat melaksanakan shalat tersebut secara sempurna bersama jamaah itu."
Referensi: I'anatuth Thalibin, Juz 2, hlm. 15.
Syarat Menunggu Jamaah Baru
Keutamaan menunggu jamaah baru berlaku apabila tidak menyebabkan hilangnya keutamaan awal waktu.
Syekh Zakariya Al-Anshari menjelaskan:
إِنَّ مَحَلَّهُ مَا لَمْ يَفُتْ بِانْتِظَارِهِمْ فَضِيلَةُ أَوَّلِ الْوَقْتِ، أَوْ وَقْتِ الِاخْتِيَارِ
"Hal itu berlaku selama dengan menunggu mereka tidak menyebabkan hilangnya keutamaan awal waktu atau waktu ikhtiar."
Referensi: I'anatuth Thalibin, Juz 2, hlm. 16.
Apakah Tetap Mendapat Pahala Jamaah?
Ya. Orang yang sempat bertakbiratul ihram sebelum imam salam tetap memperoleh pahala berjamaah.
Syekh Zainuddin Al-Malibari berkata:
وَإِنْ لَمْ يَقْعُدْ مَعَهُ بِأَنْ سَلَّمَ عَقِبَ تَحَرُّمِهِ لِإِدْرَاكِهِ رُكْنًا مَعَهُ، فَيَحْصُلُ لَهُ جَمِيعُ ثَوَابِهَا وَفَضْلِهَا
"Walaupun imam langsung salam setelah ia bertakbiratul ihram sehingga ia tidak sempat duduk bersama imam, ia tetap memperoleh seluruh pahala dan keutamaan jamaah."
Referensi: I'anatuth Thalibin, Juz 2, hlm. 15.
Kesimpulan
Jika ada jamaah baru yang hampir pasti terbentuk dan tidak menyebabkan hilangnya keutamaan awal waktu, maka menurut pendapat mu'tamad mazhab Syafi'i lebih utama menunggu jamaah tersebut.
Jika tidak ada jamaah lain yang jelas atau menunggu menyebabkan hilangnya keutamaan awal waktu, maka lebih utama langsung bergabung dengan imam yang sedang tasyahud akhir.
Orang yang masuk pada tasyahud akhir tetap memperoleh pahala dan keutamaan berjamaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar