Pendahuluan
Setelah Islam menyebar ke berbagai wilayah di luar Jazirah Arab pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin berasal dari berbagai suku dan daerah dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Setiap wilayah umumnya mempelajari Al-Qur’an dari sahabat yang tinggal di daerah tersebut. Akibatnya, mulai muncul perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an yang berpotensi menimbulkan perselisihan di tengah umat.
Melihat keadaan ini, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menyadari bahwa persoalan tersebut harus segera diselesaikan sebelum berkembang menjadi fitnah yang lebih besar. Dengan pandangan yang jauh ke depan dan kebijaksanaan yang luar biasa, beliau mengambil langkah bersejarah yang menjadi salah satu jasa terbesar dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an.
Musyawarah Para Sahabat
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Utsman mengumpulkan para sahabat terkemuka dan orang-orang yang memiliki ilmu serta pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an. Mereka bermusyawarah guna mencari solusi terbaik agar perbedaan yang terjadi tidak berkembang menjadi perpecahan.
Hasil musyawarah itu adalah kesepakatan untuk menyalin beberapa mushaf Al-Qur’an yang seragam dan resmi, kemudian mengirimkannya ke berbagai wilayah Islam. Selain itu, masyarakat diperintahkan untuk tidak lagi menggunakan mushaf-mushaf pribadi yang berbeda dengan mushaf resmi tersebut.
Keputusan ini bertujuan untuk menyatukan umat Islam dalam satu rujukan yang sama, sehingga perselisihan dapat dihentikan dan persatuan umat tetap terjaga.
Mushaf Utsmani sebagai Pedoman Resmi Umat
Mushaf-mushaf yang disalin atas perintah Utsman kemudian dikenal dengan nama Mushaf Utsmani. Mushaf inilah yang menjadi pedoman resmi bagi kaum muslimin di seluruh wilayah Islam.
Keberadaan Mushaf Utsmani memberikan banyak manfaat, di antaranya:
Menyatukan kaum muslimin dalam satu standar penulisan Al-Qur’an.
Menghilangkan perselisihan yang muncul karena perbedaan mushaf pribadi.
Menjaga kemurnian dan keaslian Al-Qur’an.
Menjadi rujukan yang terpercaya bagi generasi setelah para sahabat.
Memperkuat persatuan umat Islam di berbagai negeri.
Dengan demikian, Mushaf Utsmani menjadi cahaya petunjuk di tengah potensi perpecahan serta solusi yang efektif dalam menjaga kesatuan umat.
Pelaksanaan Penyalinan Mushaf
Pelaksanaan proyek besar ini dimulai sekitar akhir tahun 24 Hijriah atau awal tahun 25 Hijriah. Utsman menunjuk empat sahabat yang terkenal dengan ilmu, amanah, dan hafalan Al-Qur’annya untuk memimpin proses penyalinan mushaf.
Mereka adalah:
1. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.
2. Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu.
3. Sa’id bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu.
4. Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu.
Tiga nama terakhir berasal dari suku Quraisy, sedangkan Zaid bin Tsabit adalah penulis wahyu Rasulullah ﷺ yang telah memimpin pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Menggunakan Shuhuf Abu Bakar sebagai Sumber Utama
Untuk memastikan ketelitian dan keakuratan, Utsman meminta lembaran-lembaran Al-Qur’an (shuhuf) yang tersimpan di rumah Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha. Shuhuf tersebut merupakan hasil pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan telah dijaga dengan baik.
Panitia kemudian menjadikan shuhuf tersebut sebagai sumber utama dalam proses penyalinan mushaf.
Ketelitian dalam Penyalinan
Proses penyalinan Mushaf Utsmani dilakukan dengan sangat teliti. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam pekerjaan ini mencapai dua belas orang.
Mereka tidak menuliskan satu ayat pun sebelum memastikan kebenarannya melalui kesaksian para sahabat dan memastikan bahwa bacaan tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan dan dibacakan oleh Rasulullah ﷺ.
Ketelitian ini menunjukkan besarnya perhatian para sahabat terhadap penjagaan Al-Qur’an, sehingga tidak ada ruang bagi kesalahan atau perubahan dalam Kitabullah.
Penutup
Pengumpulan dan penyalinan Mushaf Utsmani merupakan salah satu prestasi terbesar dalam sejarah Islam. Melalui kebijakan yang penuh hikmah ini, Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berhasil menyatukan umat Islam dalam satu mushaf yang autentik dan terpercaya.
Berkat usaha tersebut, Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya hingga hari ini, dibaca oleh jutaan kaum muslimin di seluruh dunia dengan teks yang sama sebagaimana yang diwariskan oleh para sahabat dari Rasulullah ﷺ. Langkah Utsman ini menjadi bukti nyata bagaimana para sahabat memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan wahyu Allah dan persatuan umat Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar