Senin, 03 Agustus 2026

Kajian Munasabah (18): Surah Al-Anbiyā, Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia


Munasabah Surah Al-Anbiyā' dengan Surah Thaha: Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia

Al-Qur'an bukanlah kumpulan surah yang disusun tanpa hikmah. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelumnya. Hubungan inilah yang dikenal dengan istilah munāsabah, yaitu keterkaitan makna antara ayat maupun antarsurah. Salah satu contoh yang menarik adalah hubungan antara penutup Surah Thaha dengan pembukaan Surah Al-Anbiyā', sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar.

Pada akhir Surah Thaha, Allah berfirman:

قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا

"Katakanlah, masing-masing (kita) sedang menunggu, maka tunggulah kalian." (QS. Thaha: 135)

Sebelumnya Allah juga berfirman:

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى

"Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu dan waktu yang telah ditentukan..." (QS. Thaha: 129)

Menurut Imam As-Suyuthi, kedua ayat tersebut memberikan isyarat bahwa segala sesuatu telah memiliki waktu yang ditentukan oleh Allah. Penjelasan itu kemudian disempurnakan pada awal Surah Al-Anbiyā' melalui firman-Nya:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ

"Telah semakin dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian dan berpaling." (QS. Al-Anbiyā': 1)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa waktu yang dijanjikan Allah bukanlah sesuatu yang jauh. Hari hisab semakin dekat, sementara banyak manusia masih sibuk dengan urusan dunia dan lalai mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Hubungan kedua surah ini juga tampak pada firman Allah dalam Surah Thaha:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

"Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka." (QS. Thaha: 131)

Larangan untuk terpikat oleh kemewahan dunia menjadi semakin kuat ketika diingatkan bahwa hari kiamat sudah dekat. Jika dunia akan segera berakhir, maka tidak sepantasnya manusia menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal.

Dikisahkan bahwa ketika Surah Al-Anbiyā' turun, para sahabat sangat terpengaruh oleh kandungannya. Bahkan disebutkan bahwa surah tersebut membuat mereka melupakan kesibukan dunia karena begitu kuatnya peringatan tentang dekatnya hari kiamat dan hisab.

Pelajaran besar dari munasabah ini adalah bahwa Al-Qur'an mengajak manusia untuk selalu hidup dengan kesadaran akhirat. Kesadaran akan dekatnya hari hisab akan melahirkan semangat memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat, memperbaiki akhlak, dan tidak terpedaya oleh gemerlap dunia yang bersifat sementara.

Semoga dengan memahami hubungan antara Surah Thaha dan Surah Al-Anbiyā', kita semakin yakin bahwa susunan Al-Qur'an mengandung hikmah yang mendalam. Setiap perpindahan surah bukan sekadar pergantian tema, tetapi merupakan rangkaian petunjuk yang saling menguatkan agar manusia senantiasa mengingat Allah dan mempersiapkan diri menyambut kehidupan akhirat.

Alasan Kenapa Niat Baikmu Sering Gagal: Tiga Tahap dalam Mensukseskan Kebaikan

Alasan Kenapa Niat Baikmu Sering Gagal: Tiga Tahap dalam Mensukseskan Kebaikan

Abu Thayyib al-Mutanabi berkata:

وَمَا كُلُّ هَاوٍ لِلْجَمِيلِ بِفَاعِلٍ # وَلَا كُلُّ فَاعِلٍ لَهُ بِمُتَمِّمٍ

“Tidak setiap orang yang mencintai kebaikan akan mampu melakukannya, dan tidak setiap orang yang telah melakukannya mampu menyempurnakannya.” (Syarah diwan Al-Mutanabi, 323)

Berikut penjelasannya 

Banyak orang mencintai kebaikan. Mereka mengagumi para ulama, ingin menjadi ahli ibadah, bercita-cita menghafal Al-Qur'an, ingin berdakwah, atau berharap dapat membantu sesama. Namun, tidak semua orang yang mencintai kebaikan benar-benar melangkah untuk mewujudkannya. Bahkan, tidak sedikit yang telah memulai, tetapi berhenti sebelum mencapai akhir.

Syiir di atas mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju kebaikan memiliki tiga tahapan: niat yang tulus, tindakan nyata, dan istiqamah hingga tuntas. Ketiganya harus berjalan bersama.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa apabila seseorang benar-benar memiliki niat yang ikhlas, tetapi terhalang oleh uzur yang tidak dapat dihindari, maka Allah tetap mencatat pahala baginya.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

“Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang ketika mereka datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,' mereka pun kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih, sebab mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 92)

Ayat ini menggambarkan orang-orang yang tidak dapat ikut berjihad bukan karena malas, tetapi karena benar-benar tidak memiliki kemampuan. Kesedihan mereka menjadi bukti keikhlasan niat yang ada di dalam hati.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ بالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ؛ حَبَسَهُمُ العُذْرُ

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang. Setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melintasi sebuah lembah, mereka selalu bersama kalian (dalam pahala), hanya saja mereka terhalang oleh uzur.” (HR. Bukhari, 4423)

Hadis ini menunjukkan bahwa niat yang tulus tidak pernah sia-sia apabila benar-benar terhalang oleh alasan yang dibenarkan syariat. Akan tetapi, bagi orang yang mampu, niat harus diwujudkan dalam amal.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan agar setiap amal dilakukan dengan sebaik-baiknya. Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ اللهَ يُحبُّ إذا عمِلَ أحدُكم عملًا أنْ يُتقِنَه

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan sebaik-baiknya.” (Al-Baihaqi, 4929)

Itqan berarti mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, teliti, berkualitas, dan tidak setengah-setengah. Seorang mukmin tidak hanya berusaha memulai, tetapi juga berusaha menyempurnakan amalnya.

Syaikh Abdul Fattah juga mengingatkan:

وَلَيْسَ كُلُّ مَا يُرَادُ مُرَادًا، وَلَا كُلُّ طَالِبٍ وَاجِدًا، وَلَا كُلُّ مُبْتَدِئٍ بِأَمْرٍ مَحْمُودٍ مُكَمِّلًا مَا بَدَأَ بِهِ! وَمَا كُلُّ مَا يَهْوَى امْرُؤٌ هُوَ نَائِلُهُ

“Tidak semua yang diinginkan akan tercapai, tidak setiap pencari akan memperoleh apa yang dicari, tidak setiap orang yang memulai pekerjaan yang baik mampu menyelesaikannya, dan tidak semua yang diinginkan seseorang akan berhasil ia raih.” (Qimatuz zaman 'indal ulama, 112)

Maqalah ini bukan untuk melemahkan semangat, melainkan mengajarkan kerendahan hati. Keberhasilan bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga taufik dari Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin selalu memohon pertolongan-Nya agar diberi kekuatan untuk menyelesaikan amal yang telah dimulai.

Epilog 

Marilah kita menjadi hamba yang tidak berhenti pada angan-angan. Niatkan setiap amal dengan ikhlas, wujudkan dalam tindakan nyata, kerjakan dengan penuh kesungguhan, dan mohonlah kepada Allah agar diberi istiqamah hingga akhir.

#islamicquotes #fauzandesign #adab #amal #kebaikan 

Minggu, 02 Agustus 2026

Kajian Munasabah (17): Surah Taha dan Kisah-Kisah Para Nabi


Munasabah Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam: Kesinambungan Kisah Para Nabi dalam Al-Qur'an

Salah satu bukti keindahan susunan Al-Qur'an adalah adanya munāsabah, yaitu keterkaitan yang erat antara satu surah dengan surah berikutnya. Para ulama menjelaskan bahwa urutan surah dalam mushaf bukanlah susunan yang acak, melainkan mengandung hikmah dan rahasia yang mendalam. Di antara ulama yang banyak membahas hal ini adalah Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar.

Mengenai hubungan Surah Ṭāhā dengan Surah Maryam, Imam As-Suyuthi mengutip riwayat dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Zaid bahwa Surah Ṭāhā diturunkan setelah Surah Maryam. Menurut beliau, urutan turunnya wahyu ini menjadi salah satu alasan mengapa Surah Ṭāhā ditempatkan setelah Surah Maryam dalam mushaf Al-Qur'an. Selain itu, kedua surah sama-sama diawali dengan huruf-huruf muqaṭṭa'ah. Surah Maryam dibuka dengan كهيعص, sedangkan Surah Ṭāhā diawali dengan طه. Kesamaan pembukaan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara keduanya.

As-Suyuthi juga menjelaskan sisi munasabah yang lebih mendalam. Dalam Surah Maryam, Allah menceritakan beberapa nabi. Kisah Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa disampaikan secara panjang lebar. Kisah Nabi Ibrahim dijelaskan dengan uraian yang tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu singkat. Adapun kisah Nabi Musa hanya disebut secara ringkas. Di penghujung Surah Maryam, Allah juga memberi isyarat secara umum tentang nabi-nabi yang lain tanpa menjelaskan kisah mereka secara rinci.

Di sinilah tampak hubungan yang sangat indah dengan Surah Ṭāhā. Surah ini hadir untuk menjelaskan secara lebih luas kisah Nabi Musa yang sebelumnya hanya disinggung secara singkat dalam Surah Maryam. Kisah Nabi Musa dipaparkan sejak beliau menerima wahyu di Lembah Ṭuwa, menghadapi Fir'aun, mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya, perjalanan Bani Israil, hingga peristiwa penyembahan anak sapi. Penjelasan ini merupakan salah satu kisah Nabi Musa yang paling lengkap dalam Al-Qur'an.

Selain itu, Surah Ṭāhā juga menguraikan kisah Nabi Adam `alaihis salam secara lebih rinci. Jika dalam Surah Maryam nama Nabi Adam hanya disebut sepintas, maka dalam Surah Ṭāhā dijelaskan tentang penciptaannya, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud, keengganan Iblis, godaan terhadap Adam dan Hawa, hingga turunnya mereka ke bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Surah Ṭāhā berfungsi sebagai pelengkap terhadap kisah-kisah yang telah disebutkan sebelumnya.

Kesinambungan ini berlanjut pada Surah Al-Anbiyā'. Setelah Surah Maryam memperkenalkan sejumlah nabi dan Surah Ṭāhā memperinci kisah Nabi Musa serta Nabi Adam, Surah Al-Anbiyā' melengkapi kisah para nabi lainnya, seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, dan Nabi Yunus. Dengan demikian, terdapat rangkaian kisah kenabian yang tersusun secara sistematis dan saling melengkapi.

Dari penjelasan Imam As-Suyuthi ini dapat dipahami bahwa susunan surah dalam Al-Qur'an memiliki keteraturan yang luar biasa. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya. Surah Maryam memberikan pengantar berbagai kisah nabi, Surah Ṭāhā memperluas pembahasan Nabi Musa dan Nabi Adam, sedangkan Surah Al-Anbiyā' menyempurnakan kisah nabi-nabi yang belum dijelaskan sebelumnya.

Memahami munasabah antarsurah akan semakin menumbuhkan keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang tersusun dengan penuh hikmah. Setiap urutan ayat dan surah mengandung pelajaran yang mendalam serta menunjukkan kesempurnaan kalam Allah yang tidak mungkin disusun secara kebetulan. Oleh karena itu, mempelajari munasabah bukan hanya memperkaya ilmu tafsir, tetapi juga memperdalam penghayatan terhadap keindahan dan kemukjizatan Al-Qur'an.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kajian Munasabah (16): Surah Maryam, Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an


Munasabah Surah Maryam dan Surah Al-Kahfi: Rangkaian Kisah-Kisah Mukjizat dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an tidak disusun secara acak. Urutan setiap surah mengandung hikmah dan keterkaitan yang mendalam. Ilmu yang membahas hubungan antarsurah dikenal sebagai munāsabah. Salah satu hubungan yang menarik adalah antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa penempatan Surah Maryam setelah Surah Al-Kahfi memiliki keserasian tema yang sangat indah.

Surah Al-Kahfi dipenuhi kisah-kisah yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah di luar kebiasaan manusia. Di dalamnya terdapat kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama ratusan tahun tanpa makan dan minum, kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir yang sarat dengan rahasia ilahi, serta kisah Dzulqarnain yang diberi kekuasaan besar untuk menegakkan keadilan.

Setelah berbagai kisah menakjubkan tersebut, Allah menurunkan Surah Maryam yang juga berisi mukjizat-mukjizat besar. Di antaranya adalah kelahiran Nabi Yahya dari pasangan Nabi Zakaria dan istrinya yang telah lanjut usia, serta kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam tanpa seorang ayah. Kedua peristiwa ini menjadi bukti bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!', maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin: 82)

Imam As-Suyuthi juga mengutip pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa Ashabul Kahfi akan dibangkitkan kembali menjelang Hari Kiamat dan akan berhaji bersama Nabi Isa ketika beliau turun ke bumi. Apabila riwayat ini benar, maka hubungan antara Surah Al-Kahfi dan Surah Maryam menjadi semakin jelas, karena kisah Ashabul Kahfi berkaitan dengan Nabi Isa pada akhir zaman.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi adalah kaum yang hidup pada masa Nabi Isa atau termasuk pengikut ajarannya, sementara kisah mereka terjadi pada masa fatrah, yaitu masa kekosongan di antara para rasul. Oleh sebab itu, sangat tepat apabila kisah mereka diikuti dengan surah yang banyak mengisahkan Nabi Isa dan keluarganya.

Dari sini tampak bahwa susunan surah-surah dalam Al-Qur'an bukan sekadar urutan bacaan, melainkan rangkaian tema yang saling melengkapi. Surah Al-Kahfi mengajarkan keimanan melalui berbagai peristiwa luar biasa, sedangkan Surah Maryam melanjutkan pelajaran tersebut dengan mukjizat-mukjizat yang meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah.

Memahami munasabah antarsurah akan menambah kekaguman seorang mukmin terhadap keindahan susunan Al-Qur'an. Semakin dipelajari, semakin tampak bahwa setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya, sehingga seluruh Al-Qur'an menjadi satu kesatuan yang utuh, harmonis, dan penuh hikmah.

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas)

Kenapa Banyak Orang Pintar Malah Menghindar? (Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas) 

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

العُلَمَاءُ إِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا، فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، فَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا

“Para ulama, ketika telah memiliki ilmu, mereka mengamalkannya. Ketika mengamalkannya, mereka sibuk. Ketika sibuk, mereka jarang terlihat. Ketika jarang terlihat, mereka dicari. Dan ketika dicari, mereka justru menghindar (dari jabatan).” (Ihya Ulumuddin 1/127)

Berikut penjelasannya:

Inilah karakter ulama yang sesungguhnya. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari pujian, jabatan, atau ketenaran. Ilmu yang mereka miliki justru mendorong mereka untuk semakin banyak beramal, semakin sibuk melayani umat, dan semakin takut terhadap penyakit riya' serta cinta kedudukan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa buah dari ilmu bukanlah kesombongan, melainkan rasa takut kepada Allah. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin rendah hatinya dan semakin berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya.

Karena itu, para ulama terdahulu sangat berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dapat merusak keikhlasan. Ja'far bin Muhammad berkata:

الْفُقَهَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْفُقَهَاءَ قَدْ رَكَنُوا إِلَى السَّلَاطِينِ فَاتَّهِمُوهُمْ

“Ulama ahli fikih adalah para pemegang amanah para rasul. Jika kalian melihat para ahli fikih terlalu bersandar kepada para penguasa, maka waspadalah terhadap mereka.” (Ithaf Sadah al-Muttaqin, 1/127)

Maqalah ini bukan berarti setiap ulama yang berhubungan dengan pemerintah pasti tercela. Maksudnya adalah peringatan agar ulama tidak menjual prinsip agama demi kepentingan kekuasaan. Amanah ilmu harus tetap dijaga, meskipun harus menghadapi risiko yang berat.

Tujuan seorang penuntut ilmu bukanlah dunia, tetapi menghidupkan agama Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَهُوَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ، وَدَرَجَتُهُ بَعْدَ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ

“Barang siapa menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk golongan ash-shiddiqin, dan kedudukannya berada setelah derajat kenabian.” (Miftah Dar as-Sa'adah, 1/185)

Inilah kemuliaan ilmu yang dilandasi niat yang benar. Ilmu menjadi jalan untuk membimbing manusia menuju Allah, bukan tangga menuju popularitas.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ilmu akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ - الحديث-

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengan ilmu tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, 2417)

Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus diamalkan. Sebab ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah.

Allah juga menjelaskan siapa yang layak memperoleh kebahagiaan akhirat:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)

Ayat ini menjadi penutup yang elegan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin hilang keinginan untuk merasa paling tinggi di hadapan manusia. Yang dicari bukan sanjungan, melainkan ridha Allah.

Epilog 

Jadikan ilmu sebagai jalan menuju amal, amal sebagai jalan menuju keikhlasan, dan keikhlasan sebagai jalan menuju ridha Allah. Sebab kemuliaan seorang alim bukan terletak pada seberapa terkenal namanya, melainkan pada seberapa besar manfaat ilmunya dan seberapa tulus ia mengamalkannya.

Jumat, 31 Juli 2026

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam

Rugi Banget Kalau Masih Simpan Dendam, Karena Sikap Memaafkan Lebih Dewasa dari Dendam 

Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nūr: 22)

Berikut penjelasannya:

Di antara akhlak yang paling berat untuk dilakukan, tetapi paling besar pahalanya, adalah memaafkan. Ketika disakiti, dihina, atau dikhianati, hati manusia cenderung ingin membalas. Namun, Islam mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kemuliaan jiwa.

Ayat di atas turun ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu 'anhu bersumpah tidak lagi membantu Misthah bin Utsatsah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk memaafkan dan tetap berbuat baik. Abu Bakar pun mencabut sumpahnya dan kembali memberikan bantuan.

Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak membiarkan kebencian menghalangi dirinya dari berbuat baik.

Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan mengadakan perbaikan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syūrā: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa membalas kezaliman secara seimbang memang diperbolehkan. Akan tetapi, Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi, yaitu memaafkan demi memperbaiki keadaan. Bahkan, balasan bagi orang yang memaafkan tidak disebutkan besarannya, tetapi langsung dijamin oleh Allah: "Pahalanya menjadi tanggungan Allah." Ini menunjukkan betapa agungnya ganjaran tersebut.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللهُ لَكُمْ

“Sayangilah sesama, niscaya kalian akan disayangi. Maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ahmad, 6541)

Hadis ini mengajarkan bahwa perlakuan kita kepada manusia menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah kepada diri kita.

Al-Muntashir berkata:

لذَّةُ العَفوِ أطيَبُ مِن لذَّةِ التَّشَفِّي؛ وذلك أنَّ لذَّةَ العَفوِ يَلحَقُها حمدُ العاقبةِ، ولذَّةُ التَّشَفِّي يَلحَقُها ذَمُّ النَّدَمِ

“Nikmat memaafkan lebih manis daripada nikmat melampiaskan dendam. Sebab, kenikmatan memaafkan diikuti akibat yang terpuji, sedangkan kenikmatan membalas dendam sering berakhir dengan penyesalan dan celaan.” (Al-Bashā'ir wa Adz-Dzakhā'ir, 8/153)

Betapa banyak orang yang setelah melampiaskan amarah justru menyesal. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan akan merasakan ketenangan hati dan dihormati banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan:

وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيَهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ

“Di dalam sikap memaafkan, berlapang dada, dan santun terdapat manisnya hati, ketenteraman, ketenangan, kemuliaan jiwa, kehormatan, dan ketinggian martabat yang tidak akan pernah ditemukan dalam sikap membalas dendam.” (Madārij as-Sālikīn, 2/303)

Orang yang memaafkan justru memperoleh kebahagiaan batin yang lebih besar dibanding orang yang membalas dendam. Membalas mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi memaafkan memberi ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan kemuliaan diri yang abadi. Ini adalah ajaran Islam yang mengajak kita untuk meninggalkan ego dan mengutamakan kehormatan diri di sisi Allah, bukan kepuasan hawa nafsu.

Epilog 

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Terkadang luka yang diterima begitu dalam. Namun, setiap kali keinginan membalas muncul, ingatlah firman Allah di atas. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan ampunan Allah. Maka, salah satu jalan untuk meraihnya adalah belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Kamis, 30 Juli 2026

Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah


Syarafuddin At-Thiybi: Sang Mujahid Ilmu di Tengah Badai Fitnah

Nasab dan Masa Kecil

Di kota Tabriz, salah satu pusat ilmu pengetahuan di kawasan Irak al-'Ajam (kini termasuk wilayah Iran), lahirlah seorang ulama besar yang kelak menjadi cahaya bagi dunia Islam. Beliau adalah Al-Husain—dalam sebagian riwayat disebut Al-Hasan—bin Muhammad bin Abdullah. Nama beliau kemudian masyhur dengan dua nisbah: At-Thiybi, yang dinisbahkan kepada kampung halamannya, dan At-Tabrizi, sebagai penghormatan kepada kota kelahirannya, Tabriz.

Beliau lahir dari keluarga yang berkecukupan. Warisan keluarga dan keberhasilannya dalam dunia perdagangan menjadikannya seorang saudagar kaya. Namun, Allah menyiapkan jalan hidup yang berbeda. Kekayaan yang dimilikinya tidak menjadi sarana untuk mengejar kemewahan dunia, melainkan menjadi bekal untuk mengabdi kepada ilmu dan membela agama.

Karena kemuliaan ilmu dan akhlaknya, beliau kemudian dikenal dengan gelar Syarafuddin, yang berarti Kemuliaan Agama.

Mengorbankan Kekayaan demi Kemajuan Ilmu

Pada masa mudanya, Imam At-Thiybi termasuk orang yang hidup berkecukupan. Akan tetapi, sedikit demi sedikit hartanya diinfakkan di jalan Allah.

Beliau membiayai para penuntut ilmu dari berbagai negeri, menyediakan kebutuhan mereka, serta meminjamkan kitab-kitab berharganya kepada siapa pun yang ingin belajar. Tidak hanya kepada murid-murid yang beliau kenal, tetapi juga kepada orang-orang yang belum pernah ditemuinya. Tidak ada sekat dalam kedermawanannya.

Hingga menjelang akhir hayatnya, hampir seluruh hartanya telah habis untuk kepentingan ilmu. Sang saudagar kaya itu akhirnya hidup dalam kesederhanaan. Namun, kemiskinan itu justru menjadi kemuliaan, sebab ia lahir dari pengorbanan demi kemaslahatan umat.

Betapa indah teladan beliau: rela kehilangan harta agar umat tidak kehilangan ilmu.

Menguasai Ilmu Aqli dan Naqli

Imam At-Thiybi bukan sekadar seorang ahli hadis atau ahli tafsir. Beliau adalah seorang allamah, gelar yang hanya diberikan kepada ulama dengan keluasan ilmu yang luar biasa.

Beliau menguasai dua cabang ilmu sekaligus.

Pertama, ilmu ma'qul (ilmu rasional), seperti logika dan filsafat. Namun, beliau mempelajari disiplin tersebut bukan untuk membela pemikiran para filosof, melainkan untuk membantah berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Kedua, ilmu manqul (ilmu naqli), meliputi bahasa Arab, sastra, balaghah, tafsir, hadis, serta berbagai cabang ilmu syariat lainnya. Dalam bidang ilmu bayan dan ma'ani, beliau dikenal sangat mendalam sehingga mampu menyingkap berbagai rahasia keindahan bahasa Al-Qur'an dan hadis Nabi ﷺ.

Akhlak yang Menghiasi Keilmuannya

Ilmu yang tinggi pada diri Imam At-Thiybi berpadu dengan akhlak yang luhur.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat pemalu (katsîr al-hayâ'), rendah hati, serta memiliki kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Meskipun telah menjadi ulama besar, beliau tetap hidup sederhana dan jauh dari kesombongan.

Beliau juga sangat menjaga salat berjamaah. Siang maupun malam, musim panas ataupun musim dingin, beliau hampir tidak pernah meninggalkan masjid. Bahkan ketika penglihatannya mulai melemah karena usia, semangat ibadahnya tidak pernah surut.

Di samping itu, para ulama memuji beliau sebagai sosok yang memiliki akidah yang lurus (husn al-mu'taqad), istiqamah dalam mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan bersih dari berbagai penyimpangan pemikiran.

Membela Sunnah di Tengah Badai Fitnah

Salah satu sisi paling menonjol dari kehidupan Imam At-Thiybi adalah keberaniannya membela kebenaran.

Pada masa itu, berbagai aliran filsafat dan kelompok ahli bidah memiliki pengaruh yang cukup besar di sebagian wilayah Islam. Banyak orang memilih diam karena khawatir terhadap kekuasaan mereka.

Namun, Imam At-Thiybi tidak gentar. Dengan hujah yang kokoh dan ilmu yang mendalam, beliau membantah berbagai pemikiran yang menyimpang serta menjelaskan kesalahannya secara terbuka, meskipun harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

Beliau membuktikan bahwa keberanian sejati bukanlah mengangkat senjata, melainkan menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan hikmah.

Karya-Karya Monumental

Keilmuan Imam At-Thiybi melahirkan sejumlah karya besar yang terus menjadi rujukan para ulama hingga hari ini.

1. Al-Kasyif 'an Haqa'iqis Sunan

Inilah karya terbesar beliau, berupa syarah atas kitab Misykat al-Mashabih. Kitab ini mengupas hadis-hadis Nabi ﷺ dengan penjelasan yang sangat mendalam, memadukan aspek bahasa, fikih, akidah, dan balaghah.

Kitab ini menjadi rujukan utama bagi banyak ulama besar setelahnya, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Ali Al-Qari.

2. Futuhul Ghaib fi al-Kasyf 'an Qina'ir Raib

Karya ini merupakan hasyiyah yang sangat luas terhadap Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari.

Melalui kitab ini, Imam At-Thiybi membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus meluruskan berbagai penafsiran yang dipengaruhi pemikiran Mu'tazilah. Para ulama menilai kitab ini sebagai salah satu karya terbaik dalam membahas sisi akidah dan balaghah Al-Qur'an.

3. Al-Khulasah fi Ma'rifat al-Hadits

Sebuah kitab ringkas mengenai ilmu musthalah hadis yang menjadi panduan bagi para penuntut ilmu dalam memahami istilah-istilah para ahli hadis.

4. At-Tibyan fi al-Ma'ani wa al-Bayan

Kitab ini membahas ilmu balaghah secara mendalam dan menjadi bukti keluasan penguasaan beliau terhadap sastra Arab.

5. Kitab Tafsir yang Belum Selesai

Imam At-Thiybi juga memulai penulisan sebuah kitab tafsir Al-Qur'an.

Setiap hari beliau mengadakan majelis ilmiah. Sejak pagi hingga menjelang zuhur beliau mengajar tafsir, kemudian setelah zuhur hingga asar membacakan Shahih Al-Bukhari kepada para muridnya. Rutinitas tersebut beliau jalani dengan penuh istiqamah hingga akhir hayatnya.

Akhir Kehidupan yang Mengharukan

Hari Selasa, 13 Sya'ban 743 H (sekitar 1342 M), menjadi hari terakhir perjalanan hidup beliau.

Seperti hari-hari sebelumnya, beliau telah menyelesaikan majelis tafsir. Setelah itu beliau menuju masjid yang berada di samping rumahnya. Karena usia yang telah lanjut, beliau mengerjakan salat sunnah sambil duduk, lalu tetap berada di masjid menunggu iqamah salat zuhur.

Di tempat yang mulia itu, dalam keadaan menanti salat berjamaah dan menghadap kiblat, Allah memanggil hamba-Nya kembali.

Beliau wafat dalam suasana ibadah—sebuah husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap orang beriman.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Imam Syarafuddin At-Thiybi meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda: warisan ilmu.

Karya-karyanya terus dipelajari di berbagai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam hingga hari ini. Ketajaman ilmunya, keberaniannya membela Sunnah, serta pengorbanannya demi kemajuan ilmu menjadikan beliau salah satu tokoh besar dalam sejarah peradaban Islam.

Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar pengorbanannya untuk agama dan umat.


Referensi:

  • Bughyatul Wu'at karya Jalaluddin As-Suyuthi.
  • Ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  • Al-Badr ath-Thali' karya Asy-Syaukani.
  • Serta berbagai kitab tarajim klasik lainnya.

Kajian Munasabah (18): Surah Al-Anbiyā, Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia

Munasabah Surah Al-Anbiyā' dengan Surah Thaha: Ketika Peringatan Hari Hisab Mengalahkan Pesona Dunia Al-Qur'an bukanlah...