Sabtu, 10 Januari 2026

Numpang Kencing Di Masjid

Bagaimana hukumnya menumpang toilet masjid yang ada di pinggir jalan? Mohon penjelasannya karena ini sering terjadi di masyarakat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Fuad, Bojonegoro)

Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Bagi orang yang sedang dalam perjalanan, berhenti dan beristirahat di masjid pinggir jalan adalah hal yang lumrah. Baik sekedar melepas lelah, salat, atau keperluan buang hajat. Namun persoalan muncul ketika mereka menggunakan fasilitas toilet masjid tanpa melakukan ibadah di masjid tersebut.

Pada dasarnya, air di masjid disediakan khusus untuk orang yang beribadah di masjid, baik salat, iktikaf dan semacamnya. Sehingga memanfaatkan air masjid tanpa beribadah di masjid tidak diperbolehkan. Syekh As-Syarwani menjelaskan:

وَكَذَا يُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ حُرْمَةُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْخُلُونَ فِي مَحَلِّ الطَّهَارَةِ لِتَفْرِيغِ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ يَغْسِلُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَيْدِيَهُمْ مِنْ مَاءِ الْفَسَاقِيِ الْمُعَدَّةِ لِلْوُضُوءِ لِإِزَالَةِ الْغُبَارِ وَنَحْوِهِ بِلَا وُضُوءٍ وَلَا إرَادَةِ صَلَاةٍ

“Begitu juga keharaman yang menjadi kebiasaan bahwa orang-orang masuk ke tempat bersuci untuk merampungkan hajatnya, membasuh wajah serta tangannya dari debu dan sesamanya menggunakan air yang dikhususkan untuk wudu tanpa melakukan wudu dan tanpa tujuan salat.” (Hawasyi asy-Syarwani, I/231)

Namun apabila sumber air tersebut diwakafkan untuk kemaslahatan umum atau penggunaan semacam itu sudah mentradisi tanpa ada yang mengingkari, maka hukumnya boleh. Syekh Zainuddin al-Malibari mengutip dalam kitab Fath al-Mu’in:

إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ

“Sesungguhnya apabila terdapat indikasi bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, semisal untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari indikasi tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada pengingkaran, baik dari ahli fikih atau yang lainnya.” (Fathul Muin, hlm. 88)

Meskipun demikian, dianjurkan untuk melakukan ibadah di masjid tersebut atau memasukkan sejumlah uang yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infaq

Sumber: Lirboyo net

Kamis, 08 Januari 2026

Tujuh Keahlian Hidup yang Harus Dikuasai Sejak Muda Agar Tak Menyesal di Usia 40

Tujuh Keahlian Hidup yang Harus Dikuasai Sejak Muda Agar Tak Menyesal di Usia 40

Banyak orang baru memahami pentingnya keterampilan hidup ketika usia tak lagi muda. Di usia 40, seseorang bisa saja mapan secara materi dan jabatan, namun merasa kosong secara batin. Penyesalan terbesar sering kali bukan karena kesalahan yang dilakukan, melainkan karena hal-hal penting yang tidak pernah dipelajari sejak muda.

Usia muda seharusnya menjadi masa membangun fondasi mental, finansial, dan sosial. Jika tidak ingin menua dengan kegelisahan dan kehilangan makna, tujuh keahlian berikut perlu mulai dikuasai sejak sekarang.

1. Mengelola emosi
Banyak kegagalan hidup berawal dari emosi yang tidak terkendali. Mampu menenangkan diri dan memilih respons yang bijak adalah tanda kedewasaan dan kekuatan batin.

2. Mengatur keuangan pribadi
Penghasilan besar tanpa pengelolaan yang baik hanya melahirkan kecemasan. Literasi keuangan sejak muda menciptakan rasa aman dan kebebasan memilih jalan hidup.

3. Berkomunikasi secara efektif
Kemampuan menyampaikan pikiran dengan jelas dan empatik membuka peluang, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan.

4. Berpikir kritis dan logis
Di tengah banjir informasi, berpikir kritis menjaga seseorang dari manipulasi dan keputusan tergesa-gesa.

5. Disiplin dan manajemen waktu
Tanpa disiplin, potensi tidak akan tumbuh. Konsistensi dalam hal kecil hari ini menentukan ketenangan hidup di masa depan.

6. Membangun hubungan yang sehat
Kesuksesan sejati lahir dari hubungan yang baik. Empati, ketulusan, dan kemampuan bekerja sama adalah modal sosial yang tak tergantikan.

7. Mengenali dan mengembangkan diri
Mengenal nilai, tujuan, dan arah hidup mencegah seseorang hidup dalam kehampaan meski terlihat sukses.

Penutup
Waktu tidak menunggu siapa pun. Di usia 40, penyesalan bukan karena kurang tahu, tetapi karena terlambat memulai. Keahlian hidup dibentuk dari kebiasaan kecil yang dilatih sejak muda. Siapa yang menyiapkan dirinya hari ini, akan menjalani masa depan dengan lebih tenang dan bermakna.



Selasa, 06 Januari 2026

Cara Membangun Empati dan Keterampilan Sosial

Cara Membangun Empati dan Keterampilan Sosial

Empati dan keterampilan sosial adalah kunci hubungan yang sehat dan kehidupan yang lebih tenang. Keduanya bukan bakat bawaan, tetapi kemampuan yang bisa dilatih.

1. Dengarkan dengan sungguh-sungguh
Fokuslah mendengar tanpa memotong atau menghakimi. Orang yang merasa didengar akan merasa dihargai.

2. Kenali dan kelola emosi diri
Pahami apa yang kamu rasakan sebelum merespons orang lain. Kesadaran diri membantu mencegah reaksi yang melukai.

3. Lihat dari sudut pandang orang lain
Cobalah memahami alasan dan kondisi di balik sikap seseorang, bukan langsung menilai.

4. Kendalikan ego
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Utamakan menjaga hubungan daripada membuktikan diri benar.

5. Berkomunikasi dengan empati dan tegas
Sampaikan pendapat secara jujur tanpa menyakiti. Gunakan bahasa yang menghargai.

6. Biasakan kepedulian kecil
Ucapan terima kasih, maaf, dan perhatian sederhana memperkuat hubungan.

7. Belajar dari konflik
Empati diuji saat berbeda pendapat. Dengarkan, tenangkan emosi, dan cari solusi bersama.

Penutup
Orang yang empatik tidak hanya mudah diterima, tetapi juga lebih matang secara emosional. Latih sedikit demi sedikit—karena kualitas hidup sangat ditentukan oleh kualitas hubungan.


Kamis, 01 Januari 2026

Tips Hidup Sukses & Atasi Masalah Dengan Cepat Ala Samurai Terbaik Jepang

Buku Go Rin No Sho (Kitab Lima Cincin) karya Miyamoto Musashi (Samurai Terbaik Sepanjang Sejarah Jepang). Dia merangkum filosofi, strategi, dan teknik ilmu pedang (kenjutsu) yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya pertarungan fisik. Buku ini dibagi menjadi lima bab, yang masing-masing merepresentasikan elemen berbeda. 

Berikut adalah poin-poin penting dari setiap bab:

Bab Bumi (Ground Scroll) 

Bab ini membahas dasar dan fondasi dari strategi Musashi. Poin-poin utamanya meliputi:
Fondasi dan Disiplin: Pentingnya penguasaan prinsip-prinsip dasar yang kokoh sebelum beralih ke teknik yang lebih rumit.

Jalan Pelatihan: Musashi menekankan bahwa "Jalan adalah dalam pelatihan" (The Way is in training), yang berarti keahlian diperoleh melalui latihan dan disiplin tanpa henti.

Universalitas Strategi: Prinsip-prinsip dalam bela diri juga berlaku untuk profesi dan situasi lain dalam hidup, mengajarkan bahwa pemahaman satu hal secara mendalam akan membuka pemahaman tentang segalanya.

Kejujuran: Jangan berpikir secara tidak jujur; integritas adalah landasan kekuatan seorang pejuang. 

Bab Air (Water Scroll)

Bab ini berfokus pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan aliran pikiran serta gerakan. Poin-poin utamanya meliputi:

Pikiran Cair: Pikiran dan tubuh harus cair dan mudah beradaptasi, seperti air yang dapat mengambil bentuk wadahnya.

Gerakan Alami: Musashi mengajarkan cara memegang pedang dan gerakan tubuh yang alami dan tidak kaku, memungkinkan respons yang cepat dan efisien terhadap gerakan lawan.

Irama (Timing): Memahami irama yang tepat untuk menyerang secara cepat dan langsung sebelum musuh dapat bereaksi, yang disebut "Dalam Satu Waktu" (In One Timing). 

Bab Api (Fire Scroll)

Bab ini membahas aspek-aspek dinamis dari pertempuran yang sebenarnya, berfokus pada panas, intensitas, dan tempo pertarungan. Poin-poin utamanya meliputi:

Tempo dan Waktu: Pentingnya mengendalikan tempo pertarungan, mengetahui kapan harus menyerang dengan agresif dan kapan harus bertahan.

Memanipulasi Lawan: Menciptakan kesulitan bagi lawan (devising difficulties for your opponent) untuk mengacaukan strategi mereka.

Pandangan Luas: Melihat gambaran besar dan memahami situasi secara keseluruhan, bukan hanya berfokus pada satu lawan atau serangan spesifik. 

Bab Angin (Wind Scroll)

Dalam bab ini, Musashi mendiskusikan kelemahan dan kesalahan umum dari aliran bela diri lain yang ia amati. Poin-poin utamanya meliputi:

Belajar dari Kesalahan Orang Lain: Memahami cara orang lain bertarung dan menghindari perangkap umum dalam strategi mereka.

Menghindari Senjata Favorit: Sebaiknya tidak memiliki senjata favorit yang berlebihan, karena ketergantungan pada satu hal dapat menjadi kelemahan. 

Bab Kekosongan (Void Scroll) 

Ini adalah bab terakhir dan paling filosofis, merangkum esensi dari "Jalan" Musashi. Poin-poin utamanya meliputi:

Ketiadaan Bentuk: "Kekosongan" mengacu pada keadaan tanpa bentuk atau pikiran terfokus pada hal spesifik, di mana intuisi murni mengambil alih.

Penguasaan Intuitif: Mencapai tingkat pemahaman intuitif di mana teknik dan strategi mengalir secara alami tanpa perlu dipikirkan secara sadar.

Kebebasan dari Keraguan: Jalan kekosongan adalah tentang bertindak dengan kejernihan pikiran, bebas dari keraguan atau ketidaktahuan. 

Rabu, 31 Desember 2025

Rahasia Teknik Cold Reading

Buku The Full Facts Book of Cold Reading karya Ian Rowland secara sistematis membongkar teknik yang digunakan "peramal" atau "medium" untuk menciptakan kesan bahwa mereka tahu segalanya tentang orang asing.

Berikut adalah poin-poin utama dari buku tersebut dalam bahasa Indonesia:

1. Definisi Cold Reading
Buku ini mendefinisikan cold reading sebagai seperangkat teknik psikologis yang memungkinkan seseorang berbicara dengan orang asing seolah-olah sudah mengenalnya seumur hidup, tanpa informasi awal sedikit pun.

2. Kategori Informasi (The Toolkit)
Ian Rowland membagi teknik-teknik tersebut ke dalam beberapa kategori besar:
The Barnum/Forer Effect: Penggunaan pernyataan yang sangat umum sehingga hampir semua orang merasa pernyataan itu cocok untuk mereka (contoh: "Anda memiliki potensi terpendam yang belum sepenuhnya tergali").

The Rainbow Ruse: Memberikan pernyataan yang mengandung dua sifat berlawanan sekaligus (contoh: "Anda biasanya orang yang santai, tapi jika diprovokasi, Anda bisa menjadi sangat tegas").

Fine Flattery: Menggunakan pujian halus yang sulit ditolak oleh siapa pun karena setiap orang ingin mempercayai hal-hal baik tentang diri mereka sendiri.

Fuzzy Facts: Memberikan pernyataan samar yang mendorong subjek untuk mengisi detailnya sendiri melalui imajinasi mereka.

3. Teknik "Fishing" (Memancing Informasi)
Cara mengajukan pertanyaan atau membuat pernyataan yang memicu subjek untuk memberikan informasi secara sukarela tanpa mereka sadari. Jika tebakan salah, pembaca akan segera mengubah arah pembicaraan (teknik reposisi).
4. Observasi dan Cues
Mengamati petunjuk fisik dari subjek, seperti:
Pakaian dan Aksesori: Menunjukkan status sosial, minat, atau kepribadian.
Bahasa Tubuh: Menilai reaksi subjek terhadap pernyataan tertentu (apakah mereka setuju, ragu, atau tidak nyaman).
Gaya Bicara: Mencari petunjuk dari dialek atau pilihan kata.

5. Strategi Menghadapi Kegagalan (The Vanishing Negative)
Rowland menjelaskan bagaimana seorang cold reader menangani tebakan yang salah. Mereka sering kali membingkai ulang kesalahan tersebut sebagai "hampir benar" atau mengatakan bahwa informasi itu akan masuk akal di masa depan.

6. Fase Pembacaan (The Structure of a Reading)
Buku ini merinci struktur sesi pembacaan dari awal hingga akhir:

The Set-up: Menciptakan suasana yang tepat dan membangun kepercayaan.

The Reading: Melakukan teknik inti dan mengumpulkan umpan balik.

The Win-Win: Memastikan subjek pulang dengan perasaan terkesan, terlepas dari akurasi yang sebenarnya.

7. Penerapan di Luar Dunia Mistis
Meskipun fokus pada kritik terhadap industri paranormal, Rowland menekankan bahwa teknik-teknik ini sangat berguna dalam kehidupan nyata, seperti dalam:
Negosiasi bisnis dan penjualan.
Interogasi atau wawancara kerja.
Membangun hubungan (rapport) dengan cepat dalam situasi sosial.

8. Etika dan Skeptisisme
Ian Rowland menulis buku ini dari perspektif skeptis. Ia bertujuan untuk memberikan edukasi agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh oknum yang menggunakan teknik psikologi ini untuk mengeksploitasi orang yang sedang berduka atau rentan secara emosional.

𝐅𝐀𝐊𝐓𝐀 𝐒𝐄𝐉𝐀𝐑𝐀𝐇: 𝐃𝐍 𝐀𝐈𝐃𝐈𝐓 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐔𝐒𝐒𝐎 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐁𝐈𝐁 𝐁𝐀‘𝐀𝐋𝐀𝐖𝐈

𝐅𝐀𝐊𝐓𝐀 𝐒𝐄𝐉𝐀𝐑𝐀𝐇: 𝐃𝐍 𝐀𝐈𝐃𝐈𝐓 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐔𝐒𝐒𝐎 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐁𝐈𝐁 𝐁𝐀‘𝐀𝐋𝐀𝐖𝐈

Dalam beberapa tahun terakhir muncul klaim di sebagian kalangan bahwa tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia, seperti Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) dan Musso, berasal dari keturunan Habib Ba‘alawi. Klaim ini beredar luas terutama di media sosial tanpa dasar sejarah yang valid. Karena itu, penting untuk menjelaskan fakta sejarah sebenarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.

1. Asal-usul DN Aidit

Nama asli DN Aidit adalah Achmad Aidit, lahir di Belitung.
Beberapa poin penting:

Tidak ada satu pun literatur akademik—baik sejarah Indonesia, arsip colonial, maupun kajian genealogis—yang menyebut Aidit sebagai keturunan Ba‘alawi.

Ayahnya bernama Abdullah Aidit, seorang pegawai lokal Belitung.

Nama Aidit berasal dari marga/keluarga lokal Melayu–Belitung, bukan dari garis nasab Arab.

Dengan demikian, DN Aidit bukan bagian dari trah Ba‘alawi, baik dari jalur ayah maupun ibu.

2. Asal-usul Musso

Musso (nama lengkap: Muso atau Musso Manowar/Munawar), kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Tidak ada dokumen yang menyebut Musso memiliki garis keturunan Arab atau Ba‘alawi.

Nama “Munawar/Munawar” dalam versi lamanya bukan merujuk kepada keturunan sayyid, melainkan nama umum di kalangan Muslim Nusantara.

Semua penelitian sejarah PKI dan biografi Musso menyatakan bahwa ia berasal dari keluarga Jawa.

Kesimpulannya, Musso bukan habib, bukan sayyid, dan bukan keturunan Ba‘alawi.

3. Mengapa Isu Ini Muncul?

Ada beberapa kemungkinan:

Kesalahan informasi di media sosial karena kemiripan nama.

Motif politis untuk menyeret komunitas Ba‘alawi ke isu PKI.

Kurangnya literasi sejarah sehingga klaim tanpa sumber mudah dipercaya.

4. Sikap Ilmiah dalam Menyikapi Klaim

Klaim nasab harus berdasarkan catatan garis keturunan yang otentik, bukan asumsi.

Keluarga Ba‘alawi memiliki silsilah ketat dan terdokumentasi, sehingga jika seseorang bukan tercatat, klaim itu tidak valid.

Tidak ada satu pun kitab nasab Ba‘alawi, arsip keluarga, atau penelitian akademik yang memasukkan DN Aidit atau Musso ke dalam daftar Ba‘alawi.

Kesimpulan

Berdasarkan data sejarah dan genealogis yang dapat diverifikasi:

DN Aidit bukan keturunan Habib Ba‘alawi.

Musso bukan keturunan Habib Ba‘alawi.

Klaim yang beredar adalah tidak berdasar, dan bertentangan dengan catatan sejarah resmi.

🟢inilah sumber-sumber akademik dan arsip sejarah yang menjadi rujukan utama mengenai DN Aidit, Musso, dan asal-usul mereka — semuanya menunjukkan tidak ada hubungan dengan nasab Ba‘alawi:

---
📚 Sumber Utama

1. Tentang DN Aidit

a. Remmelink, W. (2011). The Chinese War and the Collapse of the Old Order.
Memuat biografi politik DN Aidit dan latar keluarganya di Belitung—tanpa menyebut keturunan Arab maupun Ba‘alawi.

b. Wertheim, W. F. (1970). Indonesian Society in Transition.
Menjelaskan struktur sosial dan tokoh kiri Indonesia, termasuk Aidit. Tidak ada data tentang nasab Arab.

c. Dijk, C. van. (1981). Rebellion under the Banner of Islam.
Menjelaskan peran Aidit dalam situasi politik Indonesia. Tidak menyinggung keturunan Ba‘alawi.

d. Feith, Herbert. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.
Salah satu karya akademik paling lengkap tentang tokoh-tokoh utama era Demokrasi Terpimpin, termasuk Aidit. Data keluarga—semuanya dari Belitung, Melayu lokal.
---

2. Tentang Musso

a. McVey, Ruth. (1965). The Rise of Indonesian Communism.
Biografi Musso dan perjalanan hidupnya, yang menyebut ia berasal dari keluarga Jawa di Kediri, bukan keturunan Arab.

b. Poeze, Harry A. (1986). Di Negeri Penjara: Orang Indonesia di Moskow 1925–1937.
Catatan detail tentang Musso selama di Uni Soviet. Profil keluarga: Jawa, bukan Ba‘alawi.

c. Cribb, Robert. (2000). Historical Dictionary of Indonesia.
Memuat entri "Musso" — latar belakang etnis jelas: Jawa.

d. Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia.
Membahas pemberontakan Madiun dan biografi Musso. Tidak ada catatan genealogis Arab.
---

3. Sumber Genealogi Ba‘alawi

Untuk memastikan apakah seseorang tercatat dalam nasab Ba‘alawi, rujukan utama adalah:

a. Al-Mu‘jam Al-Latif li Asl Ba‘alawi – Al-Habib Abdullah bin Hasan Al-Attas
b. Syaraf Al-Anfas – Al-Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad
c. Idam Al-Quthuf – Al-Habib Ali bin Hasan Al-Attas

Tidak ada satu pun sumber nasab Ba‘alawi yang mencatat nama DN Aidit maupun Musso.
---

4. Penelitian Modern tentang Nasab dan Diaspora Hadrami

a. Engseng Ho, The Graves of Tarim (2006)
Karya akademik internasional mengenai diaspora Ba‘alawi. Tidak pernah menyebut tokoh PKI sebagai keturunan Ba‘alawi.

b. Natalie Mobini-Kesheh, The Hadrami Arabs in Southeast Asia (1999)
Memuat data komunitas Ba‘alawi di Nusantara. Tidak ada nama Aidit atau Musso.

---

🔎 Kesimpulan Berdasarkan Sumber

DN Aidit: keturunan Melayu-Belitung, bukan Ba‘alawi.

Musso: keturunan Jawa asli Kediri, bukan Ba‘alawi.

Kitab nasab Ba‘alawi tidak mencatat nama mereka.

Tak ada satupun karya akademik yang menghubungkan mereka dengan keturunan habib.

Fb: Kisah Legenda 

#FaktaSejarah
#LuruskanSejarah
#SejarahIndonesia
#NasabBaAlawi
#TabayyunDulu
#JanganSebarHoax
#SejarahTanpaFitnah
#LiterasiSejarah
#MeluruskanInformasi
#SejarahNusantara

Wallahu A'lam Bishawab

Pentingnya Klarifikasi Bagi Seorang yang kena Difitnah

Pentingnya Klarifikasi Bagi Seorang Tokoh yang terkena fitnah buruk

قوله تعالى: {فلما جاءه الرسول}
الآيات.
فيه سعى الإنسان في براءة نفسه لئلا يتهم بخيانة أو نحوها خصوصا الأكابر ومن يقتدى بهم.
[السيوطي، الإكليل في استنباط التنزيل، صفحة ١٥٥]

Firman Allah Ta‘ala: {فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ} — “Maka ketika utusan itu datang kepadanya.”

(Dan ayat-ayat selanjutnya).

Di dalamnya terdapat isyarat tentang usaha manusia untuk membersihkan dirinya agar tidak dituduh berkhianat atau semacamnya, khususnya bagi orang-orang besar dan mereka yang dijadikan panutan.

[As-Suyuthi, Al-Iklīl fī Istinbāṭ at-Tanzīl, hlm:155]

Numpang Kencing Di Masjid

Bagaimana hukumnya menumpang toilet masjid yang ada di pinggir jalan? Mohon penjelasannya karena ini sering terjadi di masyarakat. Wassalamu...