Memahami Sistem Desil 1–10: Indikator Kesejahteraan dan Penentu Penerima Bansos
Belakangan ini istilah desil semakin sering muncul ketika masyarakat membicarakan bantuan sosial. Namun, masih banyak yang mengira bahwa desil ditentukan hanya berdasarkan jumlah penghasilan. Padahal, pengelompokan kesejahteraan rumah tangga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai indikator sosial dan ekonomi.
Secara sederhana, desil adalah pembagian penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.
Dalam kebijakan perlindungan sosial, data kesejahteraan digunakan pemerintah untuk membantu menentukan sasaran berbagai program bantuan. Saat ini pemerintah mengembangkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data sosial ekonomi yang terintegrasi.
Desil 1–4: Kelompok Prioritas Perlindungan Sosial
Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Kondisi ekonomi rumah tangga dalam kelompok ini umumnya sangat terbatas sehingga kebutuhan dasar menjadi persoalan utama.
Desil 2 masih termasuk kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah. Kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari relatif terbatas dan cukup rentan terhadap berbagai tekanan ekonomi.
Desil 3 berada sedikit di atas kelompok terbawah. Namun, rumah tangga dalam kelompok ini masih memiliki kerentanan tinggi. Kehilangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, atau musibah keluarga dapat dengan cepat memperburuk kondisi ekonomi.
Desil 4 termasuk kelompok 40 persen terbawah. Kondisinya mungkin lebih baik dibanding Desil 1–3, tetapi masih rentan terhadap guncangan ekonomi.
Karena itu, kelompok desil rendah menjadi salah satu perhatian utama dalam berbagai program perlindungan dan penanggulangan kemiskinan. Namun, berada pada desil tertentu tidak otomatis berarti seseorang pasti menerima semua jenis bansos. Setiap program memiliki kriteria dan mekanisme penetapan penerima masing-masing.
Bagaimana dengan Desil 5?
Desil 5 dapat dipandang sebagai kelompok transisi. Kondisi ekonominya berada di sekitar kelompok menengah bawah. Tidak semua rumah tangga dalam kelompok ini menjadi penerima bansos reguler, tetapi sebagian program sosial dapat memiliki kriteria yang berbeda sesuai tujuan program.
Artinya, desil bukanlah sebuah label permanen bahwa seseorang "miskin" atau "kaya". Status tersebut merupakan hasil pemeringkatan kondisi sosial ekonomi berdasarkan data yang tersedia.
Desil 6–10: Tingkat Kesejahteraan Lebih Tinggi
Semakin tinggi angka desil, secara umum semakin tinggi pula posisi kesejahteraan rumah tangga dibanding kelompok di bawahnya.
Desil 6 berada pada kelompok menengah.
Desil 7 menunjukkan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih baik.
Desil 8 termasuk kelompok yang semakin mapan.
Desil 9 berada dalam kelompok kesejahteraan tinggi.
Sedangkan Desil 10 merupakan 10 persen kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi dalam pemeringkatan tersebut.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada satu angka pengeluaran per kapita yang berlaku secara kaku untuk seluruh Indonesia sebagai batas resmi setiap desil. Angka desil dapat berubah mengikuti distribusi kondisi sosial ekonomi masyarakat dan metode pemutakhiran data.
Mengapa Penghasilan Saja Tidak Menentukan?
Bayangkan dua keluarga sama-sama memiliki penghasilan Rp4 juta per bulan. Keluarga pertama hanya terdiri dari dua orang, sementara keluarga kedua harus memenuhi kebutuhan enam anggota keluarga.
Secara nominal, penghasilannya sama. Tetapi beban ekonominya jelas berbeda.
Karena itu, penilaian kesejahteraan tidak cukup hanya melihat pendapatan. Kondisi rumah tangga juga dapat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, karakteristik pekerjaan, pendidikan, akses layanan dasar, serta berbagai indikator sosial ekonomi lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berusaha mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sebuah rumah tangga.
Jangan Salah Memahami Desil
Hal penting yang perlu diketahui adalah desil bukanlah jumlah penghasilan bulanan. Desil juga bukan berarti bahwa setiap orang dalam Desil 1 pasti menerima bansos, sementara semua orang dalam Desil 6–10 pasti tidak menerima bantuan apa pun.
Penetapan penerima bantuan dilakukan berdasarkan ketentuan masing-masing program dan hasil pemadanan serta verifikasi data.
Oleh sebab itu, jika status desil seseorang berubah, hal tersebut tidak selalu berarti pendapatannya tiba-tiba naik atau turun. Perubahan dapat terjadi karena adanya pemutakhiran data, perubahan kondisi rumah tangga, perubahan kepemilikan aset, perubahan jumlah anggota keluarga, maupun perubahan posisi rumah tangga dibandingkan rumah tangga lainnya.
Pentingnya Memeriksa Data
Masyarakat sebaiknya tidak hanya bertanya, "Saya masuk desil berapa?" tetapi juga memastikan apakah data keluarga yang tercatat sudah benar dan mutakhir.
Jika terdapat data yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, masyarakat dapat mengikuti mekanisme pembaruan atau pengaduan data melalui saluran resmi pemerintah.
Pada akhirnya, sistem desil bukan sekadar angka. Ia merupakan instrumen untuk membantu pemerintah membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat dan mengarahkan kebijakan agar semakin tepat sasaran.
Karena itu, memahami desil dengan benar penting agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang beredar, terutama klaim bahwa batas penghasilan tertentu secara otomatis menentukan seseorang masuk Desil 1, 5, atau 10.
Yang terpenting bukan sekadar mengetahui angka desil, tetapi memastikan bahwa data keluarga benar, kondisi sosial ekonomi tercatat secara akurat, dan bantuan diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan sesuai kriteria program.