Jumat, 26 Juni 2026

Kajian Munāsabah (6): Susunan Unik Mushaf al-Quran


Keindahan Munāsabah Surah Al-Anfāl dan At-Taubah dalam Susunan Mushaf Al-Qur'an

Salah satu cabang ilmu Al-Qur'an yang menunjukkan keagungan susunan Kitabullah adalah ilmu munāsabah, yaitu ilmu yang membahas hubungan dan keterkaitan antara surah-surah dalam Al-Qur'an. Melalui ilmu ini, para ulama menyingkap berbagai hikmah di balik urutan surah yang terdapat dalam mushaf.

Di antara pembahasan yang menarik dalam ilmu munāsabah adalah hubungan antara Surah Al-Anfāl dan Surah At-Taubah (Barā’ah), serta alasan penempatannya dalam susunan mushaf.

Penempatan Al-Anfāl dan At-Taubah Berdasarkan Ijtihad Utsman

Mayoritas ulama berpendapat bahwa susunan surah-surah Al-Qur'an bersifat tawqīfī, yaitu berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ. Namun, khusus mengenai penempatan Surah Al-Anfāl dan At-Taubah, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa penyusunannya didasarkan pada ijtihad Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه ketika beliau menyusun mushaf standar kaum muslimin.

Pada pandangan pertama, tampak bahwa setelah Surah Al-A‘rāf seharusnya ditempatkan Surah Yunus dan Hud, karena keduanya sama-sama banyak memuat kisah para nabi dan termasuk surah Makkiyah. Bahkan sebagian ulama memasukkan Surah Yunus ke dalam kelompok tujuh surah panjang (as-sab‘u ath-thiwāl).

Karena itu, keberadaan Surah Al-Anfāl dan At-Taubah di antara Al-A‘rāf dan Yunus pernah menimbulkan pertanyaan di kalangan sahabat.

Pertanyaan Ibnu Abbas kepada Utsman

Abdullah bin Abbas  pernah bertanya kepada Khalifah Utsman:

"Mengapa kalian menggabungkan Surah Al-Anfāl dan Barā’ah tanpa menuliskan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm di antara keduanya, serta menempatkannya dalam kelompok surah-surah panjang?"

Utsman menjelaskan bahwa Surah Al-Anfāl termasuk surah yang awal turun di Madinah, sedangkan Surah At-Taubah termasuk wahyu yang terakhir turun. Kedua surah tersebut memiliki tema yang sangat mirip, terutama berkaitan dengan peperangan, hubungan dengan kaum musyrik, dan pembatalan perjanjian.

Karena kemiripan yang sangat kuat itu, beliau mengira bahwa At-Taubah merupakan kelanjutan dari Al-Anfāl. Rasulullah ﷺ wafat sebelum memberikan penjelasan yang tegas mengenai status keduanya, sehingga Utsman berijtihad menggabungkannya dan tidak menuliskan basmalah di antara keduanya.

Hubungan Tema antara Al-Anfāl dan At-Taubah

Kedua surah ini memang memiliki keterkaitan yang sangat erat.

Surah Al-Anfāl berbicara tentang:

  • Perang Badar.
  • Pembagian harta rampasan perang.
  • Persiapan menghadapi musuh.
  • Persatuan kaum muslimin.
  • Perjanjian dengan pihak lain.

Sedangkan Surah At-Taubah membahas:

  • Sikap terhadap kaum musyrik yang mengkhianati perjanjian.
  • Persiapan jihad.
  • Perang Tabuk.
  • Karakter kaum munafik.
  • Penegasan kekuatan negara Islam.

Dengan demikian, At-Taubah seolah menjadi kelanjutan pembahasan yang telah dimulai dalam Al-Anfāl.

Mengapa Al-Anfāl Didahulukan?

Para ulama menjelaskan bahwa Utsman mendahulukan Surah Al-Anfāl karena surah tersebut diawali dengan basmalah, sedangkan Surah At-Taubah tidak.

Karena itu, Al-Anfāl seakan menjadi bagian pembuka, sementara At-Taubah menjadi pelengkap dan penyempurnanya. Tidak mengherankan jika sebagian ulama salaf berpendapat bahwa keduanya sebenarnya merupakan satu surah yang dipisahkan.

Menjaga Keterkaitan Surah Yunus dan Surah-Surah Sesudahnya

Hikmah lain yang sangat menarik adalah bahwa apabila Surah Yunus langsung ditempatkan setelah Al-A‘rāf, maka akan hilang hubungan erat antara Surah Yunus dan kelompok surah sesudahnya.

Surah Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, dan Al-Hijr memiliki banyak kesamaan:

  • Diawali dengan huruf muqaththa‘ah "الر".
  • Menyebutkan Al-Qur'an atau Al-Kitab pada awal surah.
  • Banyak memuat kisah para nabi.
  • Mayoritas termasuk surah Makkiyah.
  • Memiliki panjang yang relatif berdekatan.

Karena itu, penyusunan yang ada dalam mushaf menjaga keserasian kelompok surah tersebut.

Keserasian dalam Susunan Mushaf

Pembahasan ini menunjukkan bahwa susunan mushaf Al-Qur'an tidak disusun secara acak. Setiap surah ditempatkan dengan penuh hikmah dan pertimbangan.

Para ulama menemukan berbagai bentuk keterkaitan dalam susunan surah, seperti:

  • Kesamaan tema.
  • Kesamaan pembukaan surah.
  • Kesamaan panjang surah.
  • Kesamaan suasana dan tujuan pembahasan.

Contohnya, Surah Al-Hijr didahulukan atas An-Nahl karena sama-sama diawali dengan "الر". Demikian pula Surah Ali Imran ditempatkan setelah Al-Baqarah karena sama-sama diawali dengan "الم", meskipun Surah An-Nisa lebih panjang.

Hal ini menunjukkan adanya keindahan susunan yang sangat teliti dalam mushaf Al-Qur'an.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Kajian munāsabah antara Surah Al-Anfāl dan At-Taubah mengajarkan bahwa para sahabat tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tetapi juga memahami hubungan antar surah secara mendalam. Ijtihad Utsman bin Affan dalam penempatan kedua surah tersebut menunjukkan keluasan ilmu dan ketajaman pemahamannya terhadap Al-Qur'an.

Dari sini kita semakin menyadari bahwa susunan mushaf yang ada di tangan kaum muslimin saat ini bukanlah susunan tanpa makna. Di balik setiap urutan surah terdapat hikmah, keterkaitan, dan keindahan yang semakin menampakkan kemukjizatan Al-Qur'an sebagai kalam Allah yang sempurna.

Semoga Allah menambahkan kepada kita pemahaman terhadap Al-Qur'an dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mentadabburi ayat-ayat-Nya. Aamiin.

Tawadhu: Seni Merendah Tanpa Menjadi Hina


Tawadhu: Jalan Tengah antara Kehinaan dan Kesombongan


Pendahuluan

Dalam ajaran Islam, akhlak mulia menempati posisi yang sangat penting. Salah satu sifat terpuji yang sering dibicarakan oleh para ulama dan cendekiawan Muslim adalah tawadhu' (rendah hati). Namun, memahami tawadhu' tidak cukup hanya sebagai sikap biasa; perlu dikenali batasan-batasannya agar tidak keliru menjadi kehinaan (adh-dha'ah) atau bahkan justru terperosok ke dalam kesombongan (kibr). Seorang tokoh terkemuka dalam bidang bahasa dan etika, ar-Raghib al-Ashfahani, memberikan penjelasan mendalam tentang hakikat tawadhu' ini.

Pengertian Tawadhu' dan Akar Katanya

Menurut ar-Raghib, kata "tawadhu'" secara bahasa berasal dari kata adh-dha'ah, yang berarti kerendahan. Makna dasarnya adalah sikap seseorang yang rela berada pada kedudukan yang di bawah dari apa yang sebenarnya layak baginya, baik karena keutamaan ilmu, status sosial, maupun kedudukannya. Dengan kata lain, orang yang bertawadhu' memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan lebih, tetapi ia dengan sukarela memilih posisi yang lebih sederhana. Inilah yang membedakannya dari sekadar lemah lembut biasa.

Tawadhu' Bukan untuk Semua Orang?

Ar-Raghib menyampaikan sebuah observasi menarik bahwa keutamaan tawadhu' ini hampir tidak tampak di tengah masyarakat kebanyakan. Mengapa? Karena pada umumnya, orang kebanyakan tidak memiliki keutamaan atau kedudukan tinggi yang bisa "diturunkan". Tawadhu' baru tampak jelas maknanya ketika dilakukan oleh mereka yang memiliki kelebihan, seperti raja, pembesar, orang-orang terhormat, dan para ulama. Ketika seorang raja atau ulama bersikap rendah hati kepada rakyat atau muridnya, di situlah indahnya tawadhu' terlihat. Sikap ini disebut sebagai bagian dari tafadhul (memberi kelebihan), karena ia secara sadar meninggalkan sebagian dari haknya yang sebenarnya ia miliki.

Posisi Tawadhu' di Antara Dua Sikap Ekstrem

Untuk memperjelas, ar-Raghib menempatkan tawadhu' sebagai jalan tengah antara dua sikap tercela:

1. Adh-Dha'ah (Kehinaan): Yaitu seseorang menempatkan dirinya pada posisi yang justru merendahkan martabatnya sendiri secara berlebihan. Ini bukan tawadhu', melainkan kehinaan sejati.
2. Al-Kibr (Kesombongan): Yaitu menempatkan diri sendiri di atas kadar yang semestinya. Atau bisa juga diartikan sebagai anggapan bahwa dirinya lebih besar dari orang lain. Sementara takabbur adalah perwujudan dari anggapan tersebut dalam bentuk sikap dan perilaku.

Sifat Kesombongan: Hanya Milik Allah

Lebih lanjut, ar-Raghib menegaskan bahwa sifat sombong secara mutlak tidak pantas disandang oleh makhluk. Ini adalah sifat yang tidak berhak dimiliki kecuali oleh Allah semata. Barang siapa di antara manusia yang mengaku sombong atau memiliki sifat tersebut, maka ia adalah pendusta. Karena itu, kesombongan menjadi pujian (madah) jika disandarkan kepada Allah Yang Maha Besar, dan menjadi celaan (dzamm) jika disandarkan kepada manusia. Kemuliaan seorang hamba bukanlah terletak pada kebesarannya, melainkan pada penampakan sikap penghambaan ('ubudiyyah) kepada-Nya.

Penutup

Tawadhu' adalah akhlak mulia yang hanya dapat dipraktikkan dengan sebenarnya oleh mereka yang memiliki kelebihan dan kedudukan. Ia adalah sikap pertengahan antara merendahkan diri secara berlebihan (kehinaan) dan meninggikan diri (kesombongan). Seorang mukmin sejati menyadari bahwa kesombongan adalah hak prerogatif Allah semata, dan kemuliaan dirinya justru terletak pada kerendahan hatinya di hadapan Allah dan sesama. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani sifat mulia ini.

Refrensi:
Adz-Dzakhair wa al-Abqoriyat 2/198


Kamis, 25 Juni 2026

Ngaji Manhajut Tafsir (09): Metode Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman


Metode Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman 

Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Khalifah Utsman bin Affan merupakan salah satu jasa terbesar beliau bagi umat Islam. Langkah ini dilakukan untuk menjaga persatuan kaum muslimin dan menghindari perselisihan yang mulai muncul akibat perbedaan bacaan Al-Qur’an di berbagai wilayah Islam yang semakin luas.

Untuk melaksanakan tugas besar tersebut, Utsman  membentuk sebuah panitia yang terdiri dari para sahabat ahli Al-Qur’an, dengan Zaid bin Tsabit  sebagai tokoh utama. Dalam proses penyalinan mushaf, panitia bekerja berdasarkan metode yang sangat teliti dan terencana.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menjadikan lembaran-lembaran Al-Qur’an yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq  sebagai sumber utama. Lembaran tersebut disimpan oleh Hafshah binti Umar. Utsman meminta agar lembaran itu dipinjam untuk dijadikan acuan dalam penyalinan mushaf, kemudian dikembalikan setelah pekerjaan selesai.

Selama proses pengumpulan dan penyalinan mushaf, Utsman melakukan pengawasan secara langsung. Beliau terus memantau pekerjaan panitia dan memastikan seluruh proses berjalan dengan baik. Apabila muncul persoalan atau perbedaan pendapat, beliau ikut memberikan arahan dan keputusan yang diperlukan.

Panitia juga selalu merujuk kepada Utsman dalam masalah-masalah yang memerlukan kepastian. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyusunan Mushaf Utsmani dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tidak berdasarkan pendapat pribadi anggota panitia.

Dalam penulisan mushaf, para sahabat sangat teliti dalam memastikan kebenaran bacaan yang dicantumkan. Mereka meminta keterangan dari para sahabat yang terkenal sebagai ahli qira’at untuk memastikan cara membaca ayat-ayat yang memiliki beberapa riwayat bacaan. Tujuannya adalah agar seluruh qira’at yang sah dan mutawatir tetap terpelihara.

Salah satu keistimewaan Mushaf Utsmani adalah penggunaan rasm (penulisan) yang dapat memuat beberapa qira’at sekaligus. Karena tulisan Arab pada masa itu belum menggunakan titik dan harakat, satu bentuk tulisan sering kali dapat dibaca dengan lebih dari satu cara yang semuanya berasal dari Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, berbagai qira’at yang sah dapat tetap terjaga dalam satu mushaf.

Adapun pada kata-kata yang tidak memungkinkan untuk memuat dua bacaan dalam satu bentuk tulisan, para sahabat menuliskannya dalam beberapa mushaf dengan bentuk yang berbeda sesuai qira’at yang sah. Cara ini memungkinkan seluruh qira’at mutawatir tetap terpelihara tanpa menghilangkan salah satunya.

Panitia juga bersepakat bahwa yang ditulis dalam mushaf hanyalah bacaan yang benar-benar telah ditetapkan sebagai Al-Qur’an dan telah disampaikan dalam Ardhah Akhirah, yaitu penyetoran terakhir Al-Qur’an oleh Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bacaan yang telah dinasakh tilawahnya atau yang tidak lagi menjadi bagian dari Al-Qur’an tidak dicantumkan dalam mushaf.

Metode ini dipilih karena para sahabat memahami bahwa Rasulullah ﷺ telah mengajarkan Al-Qur’an dengan berbagai qira’at yang sah. Oleh sebab itu, mereka berusaha menjaga seluruh bacaan tersebut agar tetap dapat dibaca oleh umat Islam tanpa menimbulkan perselisihan.

Selain itu, apabila terjadi perbedaan pendapat dalam penulisan suatu kata, Utsman memerintahkan agar penulisannya mengikuti dialek Quraisy. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Quraisy, sehingga dialek tersebut dijadikan acuan ketika muncul perbedaan di antara anggota panitia.

Melalui metode yang teliti, sistematis, dan penuh kehati-hatian ini, lahirlah Mushaf Utsmani yang kemudian disebarkan ke berbagai wilayah Islam. Mushaf tersebut menjadi pedoman resmi bagi kaum muslimin dan berhasil menjaga keaslian Al-Qur’an serta mempersatukan umat dalam satu rujukan yang sama. Berkat usaha para sahabat, khususnya Utsman bin Affan, Al-Qur’an tetap terpelihara kemurniannya hingga hari ini sebagaimana ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.

Rabu, 24 Juni 2026

Kajian Munāsabah (05): Surah Al-A‘rāf Dari Penciptaan Manusia hingga Timbangan Amal


Keindahan Munāsabah Surah Al-A‘rāf dan Surah Al-An‘ām: Dari Penciptaan Manusia hingga Timbangan Amal

Salah satu bukti keagungan Al-Qur’an adalah keteraturan susunan surah-surahnya. Setiap surah memiliki hubungan yang erat dengan surah sebelum dan sesudahnya. Para ulama menyebut keterkaitan ini dengan istilah munāsabah, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara ayat dan surah dalam Al-Qur’an. Di antara contoh munāsabah yang indah adalah hubungan antara Surah Al-An‘ām dan Surah Al-A‘rāf.

Menurut para ulama, Surah Al-A‘rāf ditempatkan setelah Surah Al-An‘ām karena berfungsi sebagai penjelasan rinci terhadap berbagai tema yang masih disampaikan secara global dalam Surah Al-An‘ām. Tema-tema tersebut meliputi penciptaan manusia, kisah para rasul dan umat terdahulu, kekhalifahan manusia di bumi, rahmat Allah, hingga peristiwa hari kiamat.

Al-A‘rāf Menjelaskan Kisah Penciptaan Manusia

Dalam Surah Al-An‘ām, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ

"Dialah yang menciptakan kamu dari tanah." (QS. Al-An‘ām: 2)

Ayat ini menjelaskan asal penciptaan manusia secara singkat. Kemudian Surah Al-A‘rāf hadir untuk menguraikannya secara lebih lengkap melalui kisah penciptaan Nabi Adam, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud, penolakan Iblis, hingga turunnya Adam dan Hawa ke bumi. Tidak ada surah lain yang memaparkan kisah ini dengan keluasan seperti yang terdapat dalam Surah Al-A‘rāf.

Penjelasan Lengkap tentang Para Rasul dan Umat Terdahulu

Surah Al-An‘ām juga menyebutkan kehancuran umat-umat terdahulu secara ringkas:

كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ

"Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan." (QS. Al-An‘ām: 6)

Kemudian Surah Al-A‘rāf menjelaskan secara terperinci kisah para nabi dan umat mereka, seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Syu‘aib, dan Nabi Musa. Dalam surah ini dijelaskan bagaimana mereka berdakwah, bagaimana respons umat mereka, serta bagaimana Allah menurunkan hukuman kepada kaum yang mendustakan para rasul.

Dengan demikian, Surah Al-A‘rāf menjadi penjelasan nyata terhadap ayat-ayat global yang terdapat dalam Surah Al-An‘ām.

Penjelasan tentang Kekhalifahan Manusia di Bumi

Dalam Surah Al-An‘ām Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ

"Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi." (QS. Al-An‘ām: 165)

Makna ayat ini dijelaskan lebih lanjut dalam Surah Al-A‘rāf. Surah ini diawali dengan kisah penciptaan Adam sebagai khalifah pertama di bumi. Selain itu, dijelaskan pula bagaimana suatu kaum menggantikan kaum sebelumnya.

Tentang kaum ‘Ād, Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ

"Ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai penerus setelah kaum Nuh." (QS. Al-A‘rāf: 69)

Dan kepada kaum Tsamud:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ

"Ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai penerus setelah kaum ‘Ād." (QS. Al-A‘rāf: 74)

Ayat-ayat ini menunjukkan pergantian generasi sebagai bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia.

Rahmat Allah yang Dijelaskan Lebih Rinci

Dalam Surah Al-An‘ām disebutkan:

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

"Tuhanmu telah menetapkan rahmat atas diri-Nya." (QS. Al-An‘ām: 54)

Ayat ini masih bersifat umum. Penjelasan lebih rinci terdapat dalam Surah Al-A‘rāf:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ

"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-A‘rāf: 156)

Di sini Allah menjelaskan bahwa rahmat khusus-Nya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Hubungan Awal Al-A‘rāf dengan Akhir Al-An‘ām

Keindahan munāsabah juga tampak antara penutup Surah Al-An‘ām dan pembukaan Surah Al-A‘rāf.

Di akhir Surah Al-An‘ām Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti jalan-Nya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia." (QS. Al-An‘ām: 153)

Kemudian Allah berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ

"Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan, penuh berkah, maka ikutilah ia." (QS. Al-An‘ām: 155)

Perintah tersebut langsung disambut pada awal Surah Al-A‘rāf dengan firman Allah:

كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ

"Ini adalah kitab yang diturunkan kepadamu." (QS. Al-A‘rāf: 2)

Kemudian Allah menegaskan:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS. Al-A‘rāf: 3)

Dari Pemberitahuan Amal Menuju Hisab dan Timbangan

Di akhir Surah Al-An‘ām Allah menjelaskan bahwa seluruh amal manusia akan diberitakan kembali kepada mereka pada hari kiamat. Kemudian Surah Al-A‘rāf menjelaskan bagaimana proses itu terjadi, yaitu melalui pertanyaan kepada para rasul dan umat mereka, serta pemaparan seluruh amal manusia oleh Allah Yang Maha Mengetahui.

Lebih jauh lagi, Surah Al-A‘rāf langsung menjelaskan tentang timbangan amal pada hari kiamat:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ

"Dan timbangan pada hari itu adalah benar." (QS. Al-A‘rāf: 8)

Allah kemudian membagi manusia menjadi beberapa golongan: mereka yang berat timbangan kebaikannya, mereka yang ringan timbangan amalnya, dan Ashḥābul-A‘rāf, yaitu orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.

Penutup

Hubungan antara Surah Al-An‘ām dan Surah Al-A‘rāf menunjukkan betapa sempurna susunan Al-Qur’an. Surah Al-A‘rāf hadir sebagai penjelas dan perinci berbagai tema yang disebut secara global dalam Surah Al-An‘ām, mulai dari penciptaan manusia, kisah para nabi dan umat terdahulu, konsep kekhalifahan, luasnya rahmat Allah, kewajiban mengikuti wahyu, hingga gambaran hisab dan timbangan amal pada hari kiamat.

Semua itu semakin menegaskan bahwa susunan surah-surah Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang acak, melainkan tersusun dengan hikmah dan keterkaitan yang sangat mendalam, yang semakin memperlihatkan kemukjizatan Kalamullah.

Selasa, 23 Juni 2026

Kajian Munasabah (04): Surah Al-An‘ām sebagai Penjelas Kekuasaan Allah


Munāsabah Surah Al-An‘ām: Penjelas Kekuasaan Allah dan Penyempurna Kandungan Surah Al-Mā’idah

Pendahuluan

Salah satu keindahan susunan Al-Qur’an adalah adanya hubungan yang sangat erat antara satu surah dengan surah lainnya. Para ulama menyebut kajian ini dengan istilah munāsabah al-suwar (keterkaitan antar surah). Di antara contoh munāsabah yang menarik adalah hubungan antara Surah Al-An‘ām dan Surah Al-Mā’idah.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa Surah Al-An‘ām hadir sebagai penjelas dan perinci terhadap berbagai tema yang disebut secara global dalam Surah Al-Mā’idah. Jika Surah Al-Mā’idah ditutup dengan pernyataan tentang kekuasaan Allah atas seluruh alam semesta, maka Surah Al-An‘ām datang untuk menguraikan bukti-bukti kekuasaan tersebut secara rinci.

Hubungan Surah Al-An‘ām dengan Akhir Surah Al-Mā’idah

Allah menutup Surah Al-Mā’idah dengan firman-Nya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Mā’idah: 120)

Ayat ini menyebutkan kekuasaan Allah secara umum. Kemudian Surah Al-An‘ām dibuka dengan firman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjadikan gelap dan terang." (QS. Al-An‘ām: 1)

Ayat pembuka ini merupakan penjelasan rinci dari kekuasaan Allah yang disebutkan pada akhir Surah Al-Mā’idah. Allah menjelaskan bahwa Dialah Pencipta langit, bumi, cahaya, kegelapan, dan seluruh isi alam semesta.

Surah Al-An‘ām: Surah tentang Penciptaan dan Kepemilikan Allah

Tema besar Surah Al-An‘ām adalah menjelaskan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh makhluk.

Karena itu, di sepanjang surah ini Allah mengajak manusia memperhatikan berbagai tanda kekuasaan-Nya, seperti:

  • Penciptaan langit dan bumi.
  • Pergantian siang dan malam.
  • Penciptaan manusia dan perjalanan hidupnya.
  • Kehidupan dan kematian.
  • Penciptaan hewan ternak dan burung.
  • Matahari, bulan, dan bintang-bintang.
  • Turunnya hujan.
  • Tumbuhnya tanaman dan buah-buahan.
  • Kebun-kebun serta berbagai jenis tumbuhan.
  • Beragam manfaat hewan ternak bagi manusia.

Semua itu merupakan bukti nyata bahwa seluruh alam berada di bawah kekuasaan Allah semata.

Mengapa Surah Al-An‘ām Ditempatkan Setelah Al-Mā’idah?

Menurut As-Suyuthi, salah satu alasan pentingnya adalah karena Surah Al-Mā’idah menyebut secara ringkas kebiasaan kaum musyrikin yang mengharamkan sesuatu tanpa izin Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengharamkan yang baik-baik yang telah Allah halalkan bagi kalian." (QS. Al-Mā’idah: 87)

Kemudian Allah juga menyebut tradisi jahiliah seperti bahirah, sa'ibah, washilah, dan ham yang diada-adakan oleh kaum musyrikin.

Surah Al-An‘ām lalu datang menjelaskan secara panjang lebar kesesatan mereka dalam menetapkan halal dan haram tanpa dasar wahyu. Allah membantah keyakinan mereka, menunjukkan kontradiksi pemikiran mereka, dan menegaskan bahwa hak menetapkan hukum hanyalah milik Allah.

Hanya Allah yang Berhak Menghalalkan dan Mengharamkan

Surah Al-An‘ām diawali dengan pembahasan tentang penciptaan dan kepemilikan Allah karena hanya pemilik sejati yang berhak mengatur miliknya.

Prinsip ini menjadi dasar penting dalam syariat Islam:

  • Allah adalah Pencipta.
  • Allah adalah Pemilik seluruh makhluk.
  • Allah adalah Pengatur alam semesta.
  • Karena itu hanya Allah yang berhak menentukan halal dan haram.

Manusia tidak berhak membuat aturan agama berdasarkan hawa nafsu atau tradisi yang bertentangan dengan wahyu.

Hubungan Surah Al-An‘ām dengan Surah-Surah Sebelumnya

As-Suyuthi juga menjelaskan bahwa Surah Al-An‘ām memiliki hubungan erat dengan beberapa surah sebelumnya.

1. Dengan Surah Al-Fātiḥah

Surah Al-An‘ām merupakan penjelasan rinci dari firman Allah:

رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Tuhan seluruh alam."

Surah ini menjelaskan berbagai bentuk pengaturan Allah terhadap seluruh alam semesta.

2. Dengan Surah Al-Baqarah

Sebagai penjelasan dari firman Allah:

الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

"Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian." (QS. Al-Baqarah: 21)

dan:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

"Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian." (QS. Al-Baqarah: 29)

3. Dengan Surah Āli ‘Imrān

Surah Al-An‘ām menjelaskan berbagai nikmat dunia yang disebut secara ringkas dalam firman Allah:

وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

"Ternak dan ladang." (QS. Āli ‘Imrān: 14)

4. Dengan Surah An-Nisā’

Karena sama-sama membahas asal-usul penciptaan manusia serta mengecam tradisi jahiliah seperti pembunuhan anak perempuan.

5. Dengan Surah Al-Mā’idah

Karena keduanya sama-sama membahas masalah makanan, hewan ternak, serta hukum halal dan haram.

Keistimewaan Surah Al-An‘ām

Para ulama menyebut beberapa keistimewaan Surah Al-An‘ām:

Dibuka dengan Alhamdulillah

Surah ini diawali dengan pujian kepada Allah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ

Pembukaan ini menunjukkan bahwa seluruh penciptaan dan pengaturan alam semesta merupakan alasan untuk memuji Allah.

Diiringi Ribuan Malaikat Saat Turun

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Surah Al-An‘ām turun dengan diiringi puluhan ribu malaikat sebagai bentuk pengagungan terhadap kandungannya yang agung.

Pembuka Seperempat Kedua Al-Qur’an

As-Suyuthi juga mengamati bahwa setiap seperempat Al-Qur’an diawali dengan surah yang dimulai dengan kata Alhamdulillah:

  • Al-Fātiḥah untuk seperempat pertama.
  • Al-An‘ām untuk seperempat kedua.
  • Al-Kahfi untuk seperempat ketiga.
  • Saba’ dan Fāṭir untuk seperempat keempat.

Penutup

Surah Al-An‘ām merupakan surah yang menampilkan bukti-bukti kekuasaan Allah melalui penciptaan alam semesta. Surah ini menjelaskan bahwa seluruh makhluk berada dalam kepemilikan dan pengaturan Allah, sehingga hanya Dia yang berhak menetapkan hukum halal dan haram.

Melalui uraian yang panjang tentang langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, kehidupan, kematian, dan kebangkitan, Surah Al-An‘ām mengajak manusia mengenal Rabb mereka dengan lebih mendalam. Karena itulah surah ini menjadi salah satu surah paling penting dalam menanamkan tauhid, menguatkan keyakinan kepada kekuasaan Allah, dan menolak segala bentuk penyimpangan dalam menetapkan hukum agama.

Sebagaimana firman Allah:

كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

"Dia telah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya." (QS. Al-An‘ām: 12)

Ayat ini mengingatkan bahwa di balik seluruh kekuasaan dan keagungan-Nya, Allah juga melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk. Oleh karena itu, mengenal Allah melalui ciptaan-Nya akan semakin menumbuhkan rasa syukur, cinta, dan ketundukan kepada-Nya.

Senin, 22 Juni 2026

Ngaji Manhaj (08): Pelaksanaan Pengumpulan Mushaf

Pelaksanaan Pengumpulan Mushaf pada Masa Utsman bin Affan

Latar Belakang

Setelah Islam menyebar ke berbagai wilayah dan kaum muslimin tersebar di berbagai negeri, mulai muncul perbedaan dalam cara membaca Al-Qur'an yang berpotensi menimbulkan perselisihan. Untuk menjaga persatuan umat dan memelihara keaslian Al-Qur'an, Khalifah Utsman bin Affan mengambil keputusan penting untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf yang disepakati bersama.

Keputusan ini merupakan salah satu jasa terbesar Utsman dalam sejarah Islam, karena dengannya Al-Qur'an tetap terjaga dan terhindar dari perpecahan yang dapat terjadi akibat perbedaan bacaan.

Pembentukan Tim Penyalin Mushaf

Utsman bin Affan mulai melaksanakan keputusan tersebut pada akhir tahun 24 Hijriah atau awal tahun 25 Hijriah. Untuk menjalankan tugas besar ini, beliau membentuk sebuah tim yang terdiri dari empat sahabat terbaik yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur'an dan orang-orang yang terpercaya, yaitu:

  • Zaid bin Tsabit
  • Abdullah bin Az-Zubair
  • Sa'id bin Al-'Ash
  • Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam

Tiga orang terakhir berasal dari suku Quraisy, sedangkan Zaid bin Tsabit berasal dari kalangan Anshar. Pemilihan mereka menunjukkan betapa besar perhatian Utsman terhadap ketelitian dan kredibilitas para anggota tim tersebut.

Menggunakan Suhuf Abu Bakar sebagai Rujukan

Langkah pertama yang dilakukan Utsman adalah meminjam suhuf Al-Qur'an yang berada di tangan Ummul Mukminin Hafshah binti Umar. Suhuf tersebut merupakan lembaran-lembaran Al-Qur'an yang telah dikumpulkan dan dibukukan pada masa Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Suhuf ini menjadi sumber utama dan rujukan resmi dalam proses penyalinan mushaf baru, sehingga kesinambungan dan keakuratan teks Al-Qur'an tetap terjaga.

Metode Penyalinan yang Sangat Teliti

Tim yang dibentuk oleh Utsman tidak bekerja secara sembarangan. Mereka menjalankan proses penyalinan dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam pekerjaan ini mencapai dua belas orang.

Setiap ayat yang akan ditulis terlebih dahulu diperiksa dan ditunjukkan kepada para sahabat lainnya. Tidak ada satu pun bagian Al-Qur'an yang ditulis sebelum dipastikan bahwa Rasulullah ﷺ memang membacanya dengan cara tersebut.

Metode ini menunjukkan bahwa penyalinan Mushaf Utsmani dilakukan berdasarkan musyawarah, verifikasi, dan kesaksian para sahabat yang menerima Al-Qur'an langsung dari Nabi ﷺ.

Hasil Besar bagi Umat Islam

Melalui usaha besar ini lahirlah Mushaf Utsmani, yaitu mushaf yang kemudian disalin dan dikirim ke berbagai wilayah Islam. Dengan adanya mushaf tersebut, kaum muslimin memiliki standar bacaan yang sama sehingga perselisihan dapat dihindari.

Pengumpulan mushaf pada masa Utsman bukanlah penyusunan Al-Qur'an yang baru, melainkan penyalinan kembali Al-Qur'an berdasarkan suhuf yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar dengan tujuan menyatukan umat di atas bacaan yang sah dan mutawatir.

Penutup

Pengumpulan mushaf pada masa Utsman bin Affan merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah Islam. Melalui kebijaksanaan beliau, ketelitian para sahabat, serta metode verifikasi yang sangat kuat, Al-Qur'an dapat terjaga keasliannya hingga hari ini. Karena itulah umat Islam di seluruh dunia membaca Al-Qur'an yang sama, sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan dijaga oleh para sahabat beliau dengan penuh amanah.

Minggu, 21 Juni 2026

Ngaji Itqon (08): Hakikat dan Majas dalam Al-Qur’an


Hakikat dan Majas dalam Al-Qur’an: Memahami Keindahan Bahasa Wahyu

Pendahuluan

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang mencapai puncak keindahan, kefasihan, dan kesempurnaan. Karena itu, memahami gaya bahasa Al-Qur’an menjadi salah satu kunci penting untuk memahami kandungannya secara benar. Di antara pembahasan yang banyak dibahas oleh para ulama Ulumul Qur’an dan Ushul Fikih adalah masalah hakikat dan majas.

Pembahasan ini bukan sekadar kajian bahasa, tetapi memiliki pengaruh besar dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, menafsirkan hukum-hukum syariat, dan menangkap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Apa Itu Hakikat?

Hakikat adalah penggunaan suatu lafaz sesuai dengan makna asal yang telah ditetapkan dalam bahasa.

Contohnya ketika Al-Qur’an menyebut bumi, langit, gunung, manusia, air, dan berbagai makna lain yang digunakan sesuai arti sebenarnya.

Para ulama sepakat bahwa hakikat terdapat dalam Al-Qur’an. Bahkan sebagian besar lafaz Al-Qur’an menggunakan makna hakiki karena itulah asal penggunaan bahasa.

Apa Itu Majas?

Majas adalah penggunaan suatu lafaz bukan pada makna asalnya, tetapi pada makna lain yang masih memiliki hubungan tertentu dengan makna asal tersebut.

Mayoritas ulama dari berbagai mazhab menerima keberadaan majas dalam Al-Qur’an. Namun sebagian kecil ulama, seperti beberapa tokoh dari kalangan Zhahiriyah, menolaknya.

Mereka beralasan bahwa majas merupakan saudara kedustaan, sedangkan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang suci dari segala bentuk kebatilan.

Namun pendapat ini dibantah oleh mayoritas ulama. Mereka menjelaskan bahwa majas bukanlah dusta. Justru majas merupakan salah satu bentuk keindahan bahasa yang diakui oleh seluruh ahli balaghah Arab. Bahkan dalam banyak keadaan, majas lebih kuat pengaruhnya dan lebih mendalam maknanya daripada ungkapan yang bersifat hakiki.

Seandainya majas ditolak dari Al-Qur’an, maka banyak gaya bahasa Al-Qur’an yang lain juga harus ditolak, seperti penghapusan kata (hadzf), penegasan (ta’kid), perumpamaan, dan berbagai bentuk keindahan bahasa lainnya.

Majas dalam Al-Qur’an

Para ulama membagi majas menjadi dua kelompok besar:

1. Majas dalam Susunan Kalimat (Majaz Tarkiibi)

Disebut juga Majaz Isnad atau Majaz ‘Aqli, yaitu ketika suatu perbuatan disandarkan kepada selain pelaku sebenarnya karena adanya hubungan tertentu.

Menyandarkan Perbuatan kepada Sebabnya

Allah berfirman:

﴿ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا ﴾

"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka ayat-ayat itu menambah keimanan mereka."

Penambahan iman sebenarnya dilakukan oleh Allah, tetapi disandarkan kepada ayat karena ayat menjadi sebab bertambahnya iman.

Menyandarkan Perbuatan kepada Orang yang Memerintahkannya

Firman Allah:

﴿ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ ﴾

"Ia menyembelih anak-anak mereka."

Yang melakukan penyembelihan secara langsung adalah para tentara Fir‘aun. Akan tetapi perbuatan itu disandarkan kepada Fir‘aun karena dialah yang memerintahkannya.

Menyandarkan Perbuatan kepada Waktu atau Tempat

Allah berfirman:

﴿ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا ﴾

"Pada hari yang menjadikan anak-anak beruban."

Hari tidak melakukan apa-apa, tetapi peristiwa dahsyat itu terjadi pada hari tersebut sehingga perbuatan disandarkan kepadanya.

Majas dalam Kata (Majaz Lughawi)

Majas lughawi adalah penggunaan suatu kata pada makna selain makna asalnya karena adanya hubungan tertentu.

Jenis-jenisnya sangat banyak.

1. Hadzf (Penghapusan Kata)

Allah berfirman:

﴿ وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ ﴾

"Tanyakanlah kepada negeri itu."

Maksudnya adalah: "Tanyakanlah kepada penduduk negeri itu."

Kata "penduduk" tidak disebutkan karena sudah dipahami dari konteks.

2. Menyebut Keseluruhan tetapi yang Dimaksud Sebagian

Allah berfirman:

﴿ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ ﴾

"Mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka."

Yang sebenarnya masuk ke telinga hanyalah ujung jari, bukan seluruh jari. Namun Al-Qur’an menggunakan kata "jari-jari" untuk menggambarkan besarnya rasa takut mereka.

3. Menyebut Sebagian tetapi yang Dimaksud Keseluruhan

Allah berfirman:

﴿ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ﴾

"Dan tetap kekal wajah Tuhanmu."

Menurut para ulama yang menjadikannya sebagai contoh majas, kata "wajah" di sini bermakna "Dzat Allah".

Demikian pula firman Allah:

﴿ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ﴾

"Hadapkanlah wajah kalian ke arahnya."

Yang dimaksud adalah menghadap dengan seluruh badan, bukan wajah saja.

4. Menyebut yang Khusus tetapi yang Dimaksud Umum

Allah berfirman:

﴿ إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾

"Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam."

Kata "rasul" digunakan dalam bentuk tunggal tetapi bermakna jamak, yaitu para utusan Allah.

5. Menyebut yang Umum tetapi yang Dimaksud Khusus

Allah berfirman:

﴿ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ ﴾

"Mereka memohonkan ampun bagi siapa saja yang ada di bumi."

Maksudnya adalah orang-orang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain.

6. Menamai Sesuatu dengan Keadaannya di Masa Lalu

Allah berfirman:

﴿ وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ ﴾

"Berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka."

Yang dimaksud adalah orang yang dahulu yatim, karena harta baru diserahkan setelah mereka baligh dan tidak lagi disebut yatim.

7. Menamai Sesuatu dengan Keadaannya di Masa Depan

Allah berfirman:

﴿ إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ﴾

"Aku bermimpi memeras khamr."

Yang diperas sebenarnya adalah buah anggur yang nantinya akan menjadi khamr.

8. Menyebut Tempat tetapi yang Dimaksud Isi atau Keadaannya

Allah berfirman:

﴿ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾

"Mereka kekal dalam rahmat Allah."

Maksudnya adalah surga yang menjadi tempat turunnya rahmat Allah.

9. Menyebut Alat tetapi yang Dimaksud Hasilnya

Allah berfirman:

﴿ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ ﴾

"Jadikanlah untukku lisan yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian."

Maksudnya adalah pujian dan nama baik yang terus dikenang.

10. Menyebut Lawan Kata untuk Tujuan Sindiran

Allah berfirman:

﴿ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴾

"Sampaikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih."

Kata "kabar gembira" digunakan sebagai bentuk sindiran yang sangat kuat terhadap orang-orang kafir.

Hikmah Adanya Majas dalam Al-Qur’an

Keberadaan majas dalam Al-Qur’an menunjukkan kesempurnaan bahasa wahyu. Majas menjadikan makna lebih hidup, lebih kuat pengaruhnya, lebih menyentuh hati, dan lebih mudah dipahami.

Melalui majas, Al-Qur’an mampu menggambarkan makna yang sangat luas dengan lafaz yang singkat, menghadirkan suasana tertentu dalam jiwa pembaca, serta memperkuat pesan-pesan keimanan dan pendidikan.

Karena itu, para ulama tafsir sangat memperhatikan ilmu balaghah dan majas agar dapat memahami maksud ayat sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar.

Penutup

Pembahasan hakikat dan majas merupakan salah satu cabang penting dalam Ulumul Qur’an. Mayoritas ulama menerima keberadaan majas dalam Al-Qur’an karena ia termasuk bagian dari keindahan dan kesempurnaan bahasa Arab yang digunakan Allah dalam kitab-Nya.

Dengan memahami berbagai bentuk majas dalam Al-Qur’an, seorang muslim akan semakin mampu menangkap kedalaman makna ayat-ayat Allah, menghayati keindahan bahasanya, dan memahami pesan-pesan syariat dengan lebih tepat dan menyeluruh.

Kajian Munāsabah (6): Susunan Unik Mushaf al-Quran

Keindahan Munāsabah Surah Al-Anfāl dan At-Taubah dalam Susunan Mushaf Al-Qur'an Salah satu cabang ilmu Al-Qur'an yang menunjukkan k...