Mengapa Orang yang Suka Membully Justru Terlihat Punya Banyak Teman?
Tidak sedikit orang yang merasa heran ketika melihat seseorang yang gemar membully, menghina, atau merendahkan orang lain justru tampak memiliki banyak teman. Sekilas hal ini terlihat tidak masuk akal. Bukankah perilaku buruk seharusnya membuat seseorang dijauhi?
Faktanya, dalam psikologi sosial terdapat beberapa konsep yang dapat membantu menjelaskan fenomena ini.
Dominasi Sosial Membuat Sebagian Orang Tertarik
Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan fenomena ini adalah Social Dominance Theory. Teori ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, sebagian orang cenderung mengikuti atau mendekati individu yang dianggap memiliki kekuasaan, pengaruh, atau dominasi tinggi dalam suatu kelompok.
Seorang pembuli sering kali terlihat berani, vokal, tegas, bahkan tidak takut berkonflik. Sikap seperti ini dapat menimbulkan kesan bahwa ia memiliki status sosial yang kuat. Akibatnya, sebagian orang memilih berada di dekatnya, bukan karena benar-benar menyukai kepribadiannya, tetapi karena merasa lebih aman berada di pihak yang dominan.
Fenomena "Flying Monkey"
Dalam psikologi juga dikenal istilah flying monkey, yaitu orang-orang yang menjadi pendukung atau "pasukan" seorang pelaku perundungan.
Mereka mungkin ikut tertawa ketika korban dihina, membantu menyebarkan gosip, atau bahkan ikut menyakiti korban, padahal dalam hati mereka mengetahui bahwa tindakan tersebut adalah sesuatu yang salah.
Mengapa mereka melakukannya?
Sering kali alasannya sederhana: ingin mencari aman. Mereka takut jika tidak ikut mendukung, maka merekalah yang akan menjadi sasaran berikutnya.
Apa yang Mendorong Seseorang Menjadi Pembuli?
Setiap orang tentu memiliki latar belakang yang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua pelaku perundungan memiliki penyebab yang sama. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya faktor-faktor yang dapat berperan, di antaranya:
- Kesulitan mengelola emosi dan kemarahan.
- Keinginan memperoleh kekuasaan atau pengakuan dari kelompok.
- Rasa rendah diri (insecure) yang kemudian ditutupi dengan merendahkan orang lain.
- Lingkungan yang membiasakan perilaku agresif atau kurang memberikan teladan yang baik.
Sebagian pelaku merasa lebih "unggul" ketika berhasil membuat orang lain merasa kecil. Dengan menjatuhkan orang lain, mereka berharap posisi dirinya tampak lebih tinggi.
Mengapa Korban Sering Dipilih?
Tidak jarang seseorang menjadi sasaran karena memiliki kelebihan tertentu, seperti lebih pintar, lebih berprestasi, lebih disukai banyak orang, atau memiliki sesuatu yang memicu rasa iri.
Alih-alih memperbaiki diri, pelaku memilih menjatuhkan orang tersebut melalui ejekan, hinaan, atau pengucilan agar kepercayaan diri korban menurun dan perkembangannya terhambat.
Banyak Teman Belum Tentu Memiliki Persahabatan yang Sehat
Seseorang yang terlihat memiliki banyak teman belum tentu memiliki hubungan pertemanan yang tulus.
Ada kalanya lingkaran pertemanan itu hanya terbentuk karena rasa takut, kepentingan sesaat, atau keinginan mencari perlindungan. Hubungan seperti ini biasanya rapuh dan mudah berakhir ketika orang yang dominan kehilangan pengaruhnya.
Sebaliknya, persahabatan yang sehat dibangun di atas rasa saling menghormati, saling mendukung, dan tidak menjadikan orang lain sebagai korban demi hiburan atau keuntungan pribadi.
Penutup
Jika kita melihat seseorang yang berperilaku buruk tetapi tampak memiliki banyak teman, tidak perlu terburu-buru menganggap bahwa perilaku tersebut benar atau layak ditiru. Bisa jadi orang-orang di sekitarnya hanya sedang mencari rasa aman atau terbawa arus kelompok.
Yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang sehat, berani menolak perundungan, serta menjadi teman yang melindungi, bukan ikut menyakiti. Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak diukur dari banyaknya orang yang mengikutinya, melainkan dari akhlak, integritas, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama.