Senin, 31 Agustus 2026

Abu Bakar Al-Anbari: Ulama Legendaris yang Melajang Sampai Akhir Hayat

Imam Abu Bakar al-Anbari: Ulama Legendaris dengan Tradisi Literasi yang Luar Biasa

Nama, Nasab, dan Kelahiran

Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Basyar bin al-Hasan bin Bayan bin Sama'ah bin Farwah bin Qathn bin Di'amah al-Anbari, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu al-Anbari (ابن الأنباري). Nisbah al-Anbari merujuk kepada kota Anbar, sebuah kota bersejarah di tepi Sungai Efrat yang terletak tidak jauh dari Baghdad.

Imam al-Anbari lahir di Baghdad pada malam Ahad, 11 Rajab 271 H bertepatan dengan 3 Januari 885 M. Beliau wafat pada Dzulhijjah 328 H atau sekitar Oktober 940 M, dalam usia 57 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia keilmuan Islam, mengingat besarnya kontribusi yang telah beliau berikan.

Tumbuh dalam Lingkungan Ilmu

Imam al-Anbari dibesarkan dalam keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abu Muhammad al-Anbari (w. 916 M), merupakan seorang ulama terkemuka yang menjadi guru pertamanya dalam bahasa Arab, sastra, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an.

Guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya adalah Imam Tsa'lab (w. 904 M), tokoh besar mazhab Kufah yang masyhur sebagai pakar bahasa Arab, syair, dan nahwu. Dari beliau, al-Anbari mewarisi tradisi keilmuan Kufah secara mendalam.

Selain itu, beliau juga belajar kepada sejumlah ulama besar lainnya, di antaranya:

  • Muhammad bin Yunus al-Qadimi
  • Ismail al-Qadhi
  • Ahmad bin al-Haitsam al-Bazzaz
  • Ibnu Duraid (w. 933 M), pakar bahasa dan filolog terkemuka dari mazhab Bashrah.

Perpaduan pendidikan dari dua pusat keilmuan bahasa Arab—Kufah dan Bashrah—membentuk al-Anbari menjadi ulama yang memiliki wawasan luas dan mampu menjembatani perbedaan pendekatan kedua mazhab tersebut.

Keahlian dan Kiprah Keilmuan

1. Pakar Bahasa Arab dan Filologi

Imam al-Anbari dikenal sebagai salah satu pilar utama mazhab Kufah dalam bidang nahwu dan filologi Arab. Mazhab Kufah terkenal dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab yang autentik melalui periwayatan langsung (samā').

Beliau memiliki hafalan yang luar biasa. Ribuan bait syair Arab klasik dikuasainya di luar kepala. Dalam berbagai majelis ilmu, beliau sering mengutip syair-syair tersebut tanpa membuka kitab, menunjukkan keluasan hafalan sekaligus kedalaman pemahamannya terhadap bahasa Arab.

2. Ahli Tafsir dan Qira'at

Keahlian al-Anbari dalam bahasa Arab menjadikannya seorang mufassir yang sangat diperhitungkan. Beliau memahami bahwa perubahan kecil dalam i'rab, waqaf, maupun ibtida' dapat memengaruhi makna ayat Al-Qur'an.

Hal itu tampak jelas dalam karya monumentalnya Idhah al-Waqf wa al-Ibtida', yang menjelaskan secara rinci tempat berhenti dan memulai bacaan Al-Qur'an serta pengaruhnya terhadap makna ayat.

3. Ahli Hadis

Al-Khatib al-Baghdadi menyebut Imam al-Anbari sebagai seorang yang jujur (ṣadūq) dan berpegang teguh kepada Sunnah (ṣāḥib sunnah).

Beliau meriwayatkan hadis dari para gurunya, dan di antara murid yang mengambil riwayat hadis darinya adalah Imam ad-Daruquthni, salah seorang ulama hadis terbesar dalam sejarah Islam.

Tradisi Literasi yang Mengagumkan

Salah satu kisah paling terkenal dari Imam al-Anbari adalah kecintaannya yang luar biasa terhadap membaca.

Dikisahkan, ketika beliau mengalami sakit keras menjelang wafatnya, seorang tabib merasa heran dengan kondisi fisiknya dan bertanya tentang kebiasaan hidupnya. Al-Anbari menjawab dengan tenang,

"Aku membaca sepuluh ribu lembar setiap pekan."

Jika dihitung, jumlah tersebut setara dengan lebih dari 1.400 lembar setiap hari. Angka yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup beliau dihabiskan untuk membaca, meneliti, mengajar, dan menjaga kemurnian ilmu bahasa Arab serta Al-Qur'an.

Tradisi literasi seperti ini menjadi bukti bahwa kejeniusan tidak lahir secara instan, melainkan melalui disiplin dan ketekunan yang berlangsung sepanjang hayat.

Memilih Tidak Menikah demi Ilmu

Kecintaan Imam al-Anbari terhadap ilmu juga tercermin dari keputusan pribadinya untuk tidak menikah sepanjang hidup.

Pilihan tersebut diambil agar seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya dapat dicurahkan sepenuhnya untuk membaca, menulis, meneliti, serta mengajar. Meski bukan teladan yang harus diikuti semua orang, keputusan ini menunjukkan besarnya pengorbanan beliau dalam mengabdi kepada ilmu pengetahuan.

Karya-Karya Monumental

Imam al-Anbari meninggalkan banyak karya penting yang menjadi rujukan para ulama setelahnya. Di antaranya:

1. Al-Adhdad (الأضداد)

Kitab yang membahas kata-kata dalam bahasa Arab yang memiliki dua makna yang saling berlawanan (al-aḍdād). Karya ini menjadi salah satu referensi utama dalam kajian filologi Arab.

2. Idhah al-Waqf wa al-Ibtida' (إيضاح الوقف والابتداء)

Salah satu kitab terpenting tentang ilmu waqaf dan ibtida' dalam Al-Qur'an. Hingga kini kitab tersebut masih menjadi rujukan para qari' dan ahli tafsir.

3. Syarh al-Qasa'id al-Sab' al-Tiwal al-Jahiliyyat (شرح القصائد السبع الطوال الجاهليات)

Syarah terhadap tujuh qasidah besar Arab Jahiliyah (Mu'allaqat) yang menjadi rujukan penting dalam sastra Arab klasik.

4. Az-Zahir fi Ma'ani Kalimat an-Nas (الظاهر في معاني كلمات الناس)

Kitab yang membahas makna kosakata yang digunakan masyarakat Arab dalam kehidupan sehari-hari.

5. Al-Ha'at fi Kitabillah (الهاءات في كتاب الله)

Kajian filologis yang secara khusus membahas penggunaan huruf ha' dalam Al-Qur'an, menunjukkan ketelitian beliau dalam mengkaji setiap detail bahasa Al-Qur'an.

6. Adab al-Katib

Sebuah karya tentang etika menulis dan kaidah bahasa yang menjadi pedoman bagi para penulis dan sekretaris pada masanya.

Murid-Murid

Ilmu Imam al-Anbari kemudian diteruskan oleh banyak murid yang kelak menjadi ulama besar, di antaranya:

  • Imam ad-Daruquthni
  • Abd al-Wahid bin Abu Hasyim
  • Ahmad bin Nashir asy-Syadzdzai
  • Ahmad bin Muhammad bin al-Jarrah
  • Abu Muslim Muhammad al-Katib

Penutup

Imam Abu Bakar al-Anbari adalah salah satu teladan terbesar dalam dunia literasi Islam. Dedikasinya membaca hingga 10.000 lembar setiap pekan menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu lahir dari kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan yang luar biasa.

Sebagai ulama yang menguasai bahasa Arab, nahwu, filologi, tafsir, qira'at, hadis, dan sastra, beliau membuktikan bahwa keluasan ilmu tidak diperoleh dalam waktu singkat, melainkan melalui proses belajar yang terus-menerus hingga akhir hayat.

Warisan terbesar Imam al-Anbari bukan hanya kitab-kitab yang beliau tinggalkan, tetapi juga semangat intelektual yang mengajarkan bahwa seorang pencari ilmu sejati tidak pernah berhenti membaca, menelaah, dan memperdalam pengetahuan selama hayat masih dikandung badan.

Cara perhitungan kecocokan jodoh menggunakan sistem ABAJADUN huruf hija'iyah

Cara perhitungan kecocokan jodoh menggunakan sistem ABAJADUN huruf hija'iyah:

1. Tulis nama panggilan calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita dengan huruf hijaiyah (di tulis dengan tulisan arab).

2. Lalu diharokati huruf-hurufnya. 

3. Dan ambil huruf yang hidup saja (huruf yang mati atau berharokat sukun tidak dihitung).

4. Huruf-huruf tersebut (yang hidup / berharokat) dihitung (dijumlahkan keseluruhannya) menurut huruf abajadun.


5. Setelah dijumlahkan hurufnya. Angka hasil penjumlahan yang lebih besar dikurangi yang lebih kecil. (Jika huruf dalam nama si wanita lebih banyak, maka jumlah angka milik wanita dikurangkan dengan si pria, sebaliknya). 

6. Lalu hasilnya dibagi 8, (yang diambil bukan hasil pemagiannya, tetapi SISA DARI PEMBAGIANNYA) 

7. cari sisa pembagian dan cocokkan kode.

1. Surur : bahagia.
2. Hazn : susah.
3. Ijma' : berkumpul / jodoh.
4. Firqoh : pisah.
5. Yasir : diberi kemudahan. 
6. 'Asyir : kesulitan
7. Saqom : celaka. 
8. 'Afiyah : wajar / waras.

Bersyukur dan Bersabar

Bersyukur dan bersabar 

عن إبراهيمَ بنِ بَشَّارٍ قال: نظَر إبراهيمُ بنُ أدهَمَ إلى رَجُلٍ قد أُصيبَ بمالٍ ومَتاعٍ، ووَقَعَ الحَريقُ في دُكَّانِه فاشتَدَّ جَزَعُه حتى خولِطَ في عَقلِه، فقال: (يا عَبدَ اللهِ، إنَّ المالَ مالُ اللهِ، متَّعك به إذ شاءَ، وأخَذَه منك إذ شاءَ، فاصبِرْ لأمرِه ولا تجزَعْ؛ فإنَّ مِن تمامِ شُكرِ اللهِ على العافيةِ الصَّبرَ له على البليَّةِ، ومَن قدَّم وَجَد، ومَن أخَّرَ فقد نَدِم)

Dari Ibrahim bin Basysyar, ia berkata: Ibrahim bin Adham melihat seorang laki-laki yang tertimpa musibah pada harta dan barang-barangnya. Kebakaran terjadi di tokonya, sehingga ia sangat gelisah hingga hampir hilang akal sehatnya. Maka Ibrahim bin Adham berkata: "Wahai hamba Allah, sesungguhnya harta itu adalah milik Allah. Dia memberimu kesenangan dengannya jika Dia kehendaki, dan mengambilnya darimu jika Dia kehendaki. Maka bersabarlah terhadap ketetapan-Nya dan jangan gelisah. Karena sesungguhnya di antara kesempurnaan syukur kepada Allah atas keselamatan adalah bersabar terhadap musibah. Barang siapa yang mendahulukan (kesabaran dan ketakwaan), ia akan mendapatkan (kebaikan), dan barang siapa yang mengakhirkan (atau lalai), maka ia akan menyesal."

(Sumber: Hilyatul Auliya', 8/32)

Merawat Orang Sakit: Amal Sederhana dengan Pahala Luar Biasa

Merawat Orang Sakit: Amal Sederhana dengan Pahala Luar Biasa

Dalam kehidupan, sakit adalah sesuatu yang hampir pasti dialami setiap manusia. Ketika sakit datang, seseorang tidak hanya merasakan kelemahan fisik, tetapi juga sering merasakan kesepian, kekhawatiran, dan ketidaknyamanan. Di saat seperti itulah kehadiran orang lain yang merawat, menemani, dan membantu menjadi sangat berarti.

Islam sangat menghargai sikap kepedulian ini. Bahkan merawat orang sakit termasuk amal yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

مَنْ قَامَ عَلَى مَرِيضٍ يَوْمًا وَلَيْلَةً، بَعَثَهُ اللهُ مَعَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ، فَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ اللَّامِعِ

Artinya:
“Barang siapa merawat orang sakit selama sehari semalam, maka Allah akan membangkitkannya bersama Nabi Ibrahim, kekasih Allah Yang Maha Pengasih, dan ia akan melewati shirath seperti kilat yang menyambar.”

Hadis ini memberikan gambaran betapa besarnya pahala bagi orang yang dengan sabar merawat orang sakit. Tidak hanya sekadar mendapatkan kebaikan, tetapi juga dijanjikan kedudukan mulia: dibangkitkan bersama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Amal yang Tampak Sederhana

Merawat orang sakit sering dianggap sebagai pekerjaan biasa. Misalnya membantu menyiapkan makanan, memberikan obat, mengantar ke dokter, atau sekadar menemani agar tidak merasa sendirian. Namun dalam pandangan Islam, perbuatan sederhana seperti ini memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi.

Sebab merawat orang sakit membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang. Tidak semua orang mampu melakukannya dengan tulus. Karena itulah Allah memberikan ganjaran yang luar biasa bagi orang yang melakukannya.

Menguatkan Ikatan Kemanusiaan

Ketika seseorang sakit, ia sangat membutuhkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Kehadiran keluarga, sahabat, atau tetangga yang peduli bisa menjadi penguat semangat untuk sembuh.

Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk membangun rasa empati dan solidaritas. Rasulullah ﷺ menggambarkan kaum mukmin seperti satu tubuh: ketika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan.

Merawat orang sakit menjadi salah satu bentuk nyata dari ajaran tersebut.

Jalan Menuju Keselamatan di Akhirat

Dalam hadis di atas juga disebutkan bahwa orang yang merawat orang sakit akan melintasi shirath seperti kilat yang menyambar. Shirath adalah jembatan yang harus dilewati manusia pada hari kiamat, terbentang di atas neraka.

Sebagian orang melewatinya dengan sangat lambat dan penuh kesulitan. Namun bagi orang yang mendapatkan rahmat Allah, mereka dapat melintasinya dengan cepat dan selamat. Merawat orang sakit menjadi salah satu amal yang bisa mendatangkan kemuliaan tersebut.

Menumbuhkan Hati yang Penuh Kasih

Dari ajaran ini kita belajar bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial. Membantu, menemani, dan merawat orang lain yang sedang dalam kesulitan adalah bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah.

Karena itu, ketika ada keluarga, tetangga, atau sahabat yang sakit, janganlah kita merasa terbebani untuk membantu mereka. Bisa jadi melalui kesabaran merawat orang sakit itulah Allah mengangkat derajat kita dan memberikan keselamatan di hari kiamat.

Amal yang tampak kecil di mata manusia, bisa menjadi sangat besar di sisi Allah. 

Mencari kerja bagi pengangguran

 Mencari kerja bagi kepala rumah tangga

bagaimana hukumnya mencari pekerjaan bagi seorang kepala rumah tangga pengangguran?

hukumnya wajib

refrensi:

Faidhul Qadir jilid 2 halaman 293.

(تنبيه): قال الراغب: الاحتراف في الدنيا وإن كان مباحا من وجه فهو واجب من وجه لأنه لما لم يكن للإنسان الاستقلال بالعبادة إلا بإزالة ضروريات حياته فإزالتها واجبة إذ كل ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب فإذا لم يكن له بد إلا بتعب من الناس فلا بد أن يعوضهم تعبا له وإلا كان ظالما لهم ومن تعطل وتبطل انسلخ من الإنسانية بل من الحيوانية وصار من جنس الموتى


Terjemahan:

(Peringatan): Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata:

“Bekerja dan mencari penghidupan di dunia, meskipun dari satu sisi hukumnya mubah, namun dari sisi lain menjadi wajib. Sebab manusia tidak mungkin dapat beribadah secara sempurna kecuali setelah kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi. Maka memenuhi kebutuhan tersebut menjadi wajib, karena kaidah menyatakan:

‘Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak dapat terlaksana, maka sesuatu itu juga menjadi wajib.’

Apabila seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya kecuali dengan bantuan dan jerih payah orang lain, maka ia harus memberikan imbalan berupa usaha atau kerja kepada mereka. Jika tidak, berarti ia telah berbuat zalim kepada mereka.

Barang siapa meninggalkan pekerjaan dan bermalas-malasan, maka ia telah keluar dari sifat kemanusiaan, bahkan dari sifat kehewanan, dan menjadi seperti golongan orang-orang mati.”

— 

Ibnu Asytah: Ulama Qira’at dan Ahli Sanad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Al-Qur’an

Ibnu Asytah: Ulama Qira’at dan Ahli Sanad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Al-Qur’an

Di antara nama ulama besar yang memiliki jasa dalam menjaga dan menyebarkan ilmu Al-Qur’an adalah Ibnu Asytah Al-Ashbahani. Meski namanya tidak sepopuler sebagian imam qira’at lainnya, para ulama besar memberikan penghormatan tinggi kepada beliau karena keluasan ilmu, ketelitian sanad, dan dedikasinya terhadap Al-Qur’an serta ilmu-ilmu keislaman.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Asytah Abu Bakar Al-Ashbahani. Beliau dikenal sebagai seorang imam besar, ahli nahwu yang mendalam ilmunya, serta guru terpercaya dalam bidang qira’at Al-Qur’an. Dalam sebagian riwayat juga disebut tokoh dari keluarga Ibnu Asytah lainnya, yaitu Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Ghaffar bin Ahmad bin Ali bin Asytah Al-Ashbahani, seorang ahli sanad dan penulis yang juga terkenal tsiqah (terpercaya).

Tumbuh di Tengah Lingkungan Ilmu

Ibnu Asytah hidup di masa berkembangnya ilmu qira’at dan hadis. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar pada zamannya. Di antara guru-gurunya yang paling masyhur adalah:

  • Abu Bakar Ibn Mujahid, imam terkenal penulis kitab As-Sab‘ah fil Qira’at,

  • Muhammad bin Ya‘qub Al-Mu‘addil,

  • Abu Bakar An-Naqqasy,

  • Abu Bakar Al-Adami,

  • Ibrahim bin Ja‘far Al-Bathraqani,

  • Yusuf bin Ja‘far bin Ma‘ruf,

  • dan sejumlah ulama lainnya.

Kecintaan beliau terhadap ilmu membuatnya dikenal sebagai pribadi yang sangat teliti dalam periwayatan. Bahkan Ibnu Al-Jazari pernah meluruskan kekeliruan sebagian sanad dengan merujuk kepada penjelasan Ibnu Asytah dalam kitabnya. Hal ini menunjukkan kuatnya hafalan dan ketelitian beliau dalam ilmu sanad dan qira’at.

Guru Besar dalam Qira’at Al-Qur’an

Setelah lama menuntut ilmu, Ibnu Asytah kemudian tampil sebagai pengajar Al-Qur’an yang disegani. Banyak penuntut ilmu dan para penghafal Al-Qur’an datang belajar kepada beliau.

Di antara murid-muridnya adalah:

  • Khalaf bin Ibrahim,

  • Abdullah bin Muhammad bin Asad Al-Andalusi,

  • Abdul Mun‘im bin Ghalbun,

  • Muhammad bin Abdullah Al-Mu’addib,

  • Khalaf bin Qasim,

  • dan lainnya.

Para ulama memberikan pujian tinggi kepada beliau. Abu Amr Ad-Dani berkata:

“Ibnu Asytah adalah seorang yang kuat hafalan, terpercaya, alim dalam bahasa Arab, memahami makna-makna Al-Qur’an, bagus dalam penulisan kitab, serta berpegang teguh kepada sunnah.”

Sementara Syamsuddin Adz-Dzahabi memasukkan beliau ke dalam jajaran ulama besar penghafal Al-Qur’an pada thabaqah kedelapan.

Produktif Menulis dan Menyusun Kitab

Ibnu Asytah bukan hanya seorang pengajar, tetapi juga penulis yang produktif. Beliau meninggalkan sejumlah karya penting dalam bidang ilmu Al-Qur’an, di antaranya:

  • Riyadhat Al-Alsinah tentang i‘rab dan makna Al-Qur’an,

  • Al-Mashahif,

  • Al-Muhabbar,

  • Al-Mufid fisy-Syadz.

Tentang kitab Al-Muhabbar, Ibnu Al-Jazari berkata:

“Kitab Al-Muhabbar adalah kitab agung yang menunjukkan besarnya kedudukan penulisnya.”

Bahkan Jalaluddin As-Suyuthi mengaku pernah mengambil beberapa faedah dari kitab Al-Mashahif karya beliau untuk dimasukkan ke dalam kitab Al-Itqan.

Keluarga Ilmuwan dan Ahli Sanad

Nama keluarga “Ibnu Asytah” juga dikenal dalam dunia hadis dan sanad. Di antara tokoh keluarga ini adalah Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Ghaffar bin Ahmad bin Ali bin Asytah Al-Ashbahani. Beliau dikenal sebagai syekh yang terpercaya dan ahli sanad.

Beliau meriwayatkan ilmu dari para ulama seperti:

  • Al-Hafizh Abu Sa‘id Muhammad bin Ali,

  • Ali bin Mailah Al-Faradhi,

  • Ibn Aqil Al-Bawardi,

  • Al-Fadhl bin Syahriyar,

  • dan lainnya.

Sedangkan murid-muridnya antara lain:

  • Isma‘il bin Muhammad At-Taimi,

  • Abu Sa‘d bin Al-Baghdadi,

  • dan Abu Thahir As-Silafi.

Beliau wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 491 H dalam usia 82 tahun.

Wafat dalam Kemuliaan Ilmu

Ibnu Asytah wafat di Mesir pada bulan Sya‘ban tahun 360 H setelah menghabiskan hidupnya dalam mengajarkan Al-Qur’an dan menyebarkan ilmu. Para ulama sesudahnya terus menyebut nama beliau dengan penghormatan dan pujian.

Warisan terbesar beliau bukan hanya kitab-kitab yang ditinggalkan, tetapi juga sanad ilmu, murid-murid yang melanjutkan perjuangan, serta keteladanan dalam menjaga amanah ilmu dengan ketelitian dan keikhlasan.

Semoga Allah merahmati Ibnu Asytah dan seluruh ulama yang telah menjaga cahaya Al-Qur’an sepanjang zaman. 

Ketika Orang Tua Durhaka Pada Anak, Kisah Inspiratif Tentang Makna Berbakti & Kebijaksanaan Khalifah Umar


Ketika Orang Tua Durhaka Pada Anak, Kisah Inspiratif Tentang Makna Berbakti & Kebijaksanaan Khalifah Umar

Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya membawa anaknya dan berkata:

"Sesungguhnya anakku ini durhaka kepadaku."

Maka Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepada anak tersebut: "Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam hal durhaka kepada ayahmu? Sesungguhnya di antara hak ayah itu begini, dan di antara hak ayah itu begini."

Maka anak itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak tidak mempunyai hak atas ayahnya?"

Beliau menjawab: "Ya, haknya atas ayahnya adalah hendaknya ia memilih ibu yang terhormat (bukan wanita hina)" maksudnya agar sang anak tidak mendapat celaan karenanya. Beliau melanjutkan: "Dan (hendaknya) memperbagus namanya, serta mengajarinya Al-Kitab (Al-Qur'an)."

Maka anak itu berkata: "Demi Allah, tidaklah (ayahku) memilih ibu yang terhormat untukku beliau hanyalah seorang budak wanita Sind yang dibelinya seharga empat ratus dirham. Dan beliau tidak memperbagus namaku beliau menamaku Ju'alan (nama sejenis kumbang/kepik, sebutan untuk kelelawar). Dan beliau tidak mengajarkan satu ayat pun kepadaku dari Kitabullah."

Maka Umar radhiyallahu 'anhu menoleh kepada sang ayah dan berkata: "Engkau mengatakan anakku durhaka kepadaku? Sungguh engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu."

Tanbihul Ghafilin, hal. 130


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَيْهِ بِابْنِهِ فَقَالَ:

إِنَّ ابْنِي هَذَا يَعُقُّنِي. فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ لِلِابْنِ: أَمَا تَخَافُ اللَّهَ فِي عُقُوقِ وَالِدِكَ، فَإِنَّ مِنْ حَقِّ الْوَالِدِ كَذَا، وَمِنْ حَقِّ الْوَالِدِ كَذَا، فَقَالَ الِابْنُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ: أَمَا لِلِابْنِ عَلَى وَالِدِهِ حَقٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ حَقُّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَنْجِبَ أُمَّهُ. يَعْنِي لَا يَتَزَوَّجُ امْرَأَةً دَنِيئَةً لِكَيْلَا يَكُونَ لِلِابْنِ تَعْيِيرٌ بِهَا. قَالَ: وَحُسْنُ اسْمِهِ وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ. فَقَالَ الِابْنُ، فَوَاللَّهِ مَا يَكُونُ لِلِابْنِ تَعْيِيرٌ بِهَا. فَقَالَ الِابْنُ، فَوَاللَّهِ مَا اسْتَنْجَبَ أُمِّي، وَمَا هِيَ إِلَّا سِنْدِيَّةٌ اشْتَرَاهَا بِأَرْبَعِ مِائَةِ دِرْهَمٍ، وَلَا حَسَّنَ اسْمِي. سَمَّانِي جُعَلًا ذِكْرَ الْخُفَّاشِ. وَلَا عَلَّمَنِي مِنْ كِتَابِ اللَّهِ آيَةً وَاحِدَةً. فَالْتَفَتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِلَى الْأَبِ وَقَالَ: تَقُولُ ابْنِي يَعُقُّنِي! فَقَدْ عَقَقْتَهُ قَبْلَ أَنْ يَعُقَّكَ.


Abu Bakar Al-Anbari: Ulama Legendaris yang Melajang Sampai Akhir Hayat

Imam Abu Bakar al-Anbari: Ulama Legendaris dengan Tradisi Literasi yang Luar Biasa Nama, Nasab, dan Kelahiran Beliau adalah Abu Bakar Muha...