At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Minggu, 14 Juni 2026
Antara Ikut Tasyahud Akhir Imam atau Menunggu Jamaah Baru: Mana yang Lebih Utama?
Ngaji Manhajut Tafsir (07): Pelaksanaan Pengumpulan Mushaf Utsmani
Pelaksanaan Pengumpulan Mushaf pada Masa Utsman bin Affan
Latar Belakang
Setelah Islam menyebar ke berbagai wilayah dan kaum muslimin tersebar di berbagai negeri, mulai muncul perbedaan dalam cara membaca Al-Qur'an yang berpotensi menimbulkan perselisihan. Untuk menjaga persatuan umat dan memelihara keaslian Al-Qur'an, Khalifah Utsman bin Affan mengambil keputusan penting untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf yang disepakati bersama.
Keputusan ini merupakan salah satu jasa terbesar Utsman dalam sejarah Islam, karena dengannya Al-Qur'an tetap terjaga dan terhindar dari perpecahan yang dapat terjadi akibat perbedaan bacaan.
Pembentukan Tim Penyalin Mushaf
Utsman bin Affan mulai melaksanakan keputusan tersebut pada akhir tahun 24 Hijriah atau awal tahun 25 Hijriah. Untuk menjalankan tugas besar ini, beliau membentuk sebuah tim yang terdiri dari empat sahabat terbaik yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur'an dan orang-orang yang terpercaya, yaitu:
- Zaid bin Tsabit
- Abdullah bin Az-Zubair
- Sa'id bin Al-'Ash
- Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam
Tiga orang terakhir berasal dari suku Quraisy, sedangkan Zaid bin Tsabit berasal dari kalangan Anshar. Pemilihan mereka menunjukkan betapa besar perhatian Utsman terhadap ketelitian dan kredibilitas para anggota tim tersebut.
Menggunakan Suhuf Abu Bakar sebagai Rujukan
Langkah pertama yang dilakukan Utsman adalah meminjam suhuf Al-Qur'an yang berada di tangan Ummul Mukminin Hafshah binti Umar. Suhuf tersebut merupakan lembaran-lembaran Al-Qur'an yang telah dikumpulkan dan dibukukan pada masa Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Suhuf ini menjadi sumber utama dan rujukan resmi dalam proses penyalinan mushaf baru, sehingga kesinambungan dan keakuratan teks Al-Qur'an tetap terjaga.
Metode Penyalinan yang Sangat Teliti
Tim yang dibentuk oleh Utsman tidak bekerja secara sembarangan. Mereka menjalankan proses penyalinan dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam pekerjaan ini mencapai dua belas orang.
Setiap ayat yang akan ditulis terlebih dahulu diperiksa dan ditunjukkan kepada para sahabat lainnya. Tidak ada satu pun bagian Al-Qur'an yang ditulis sebelum dipastikan bahwa Rasulullah ﷺ memang membacanya dengan cara tersebut.
Metode ini menunjukkan bahwa penyalinan Mushaf Utsmani dilakukan berdasarkan musyawarah, verifikasi, dan kesaksian para sahabat yang menerima Al-Qur'an langsung dari Nabi ﷺ.
Hasil Besar bagi Umat Islam
Melalui usaha besar ini lahirlah Mushaf Utsmani, yaitu mushaf yang kemudian disalin dan dikirim ke berbagai wilayah Islam. Dengan adanya mushaf tersebut, kaum muslimin memiliki standar bacaan yang sama sehingga perselisihan dapat dihindari.
Pengumpulan mushaf pada masa Utsman bukanlah penyusunan Al-Qur'an yang baru, melainkan penyalinan kembali Al-Qur'an berdasarkan suhuf yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar dengan tujuan menyatukan umat di atas bacaan yang sah dan mutawatir.
Penutup
Pengumpulan mushaf pada masa Utsman bin Affan merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah Islam. Melalui kebijaksanaan beliau, ketelitian para sahabat, serta metode verifikasi yang sangat kuat, Al-Qur'an dapat terjaga keasliannya hingga hari ini. Karena itulah umat Islam di seluruh dunia membaca Al-Qur'an yang sama, sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan dijaga oleh para sahabat beliau dengan penuh amanah.
Sabtu, 13 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (24): Pembahasan Mut'ah Pasca Cerai
Jumat, 12 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (23): Hukum Pemberian Saat Khitbah dan Ketika Lamaran Batal
Kajian Manhajut Tafsir (06): Pengumpulan Mushaf pada Masa Khalifah Utsman bin Affan #2
Rabu, 10 Juni 2026
Kajian Manhajut Tafsir (06): Pengumpulan Mushaf pada Masa Khalifah Utsman bin Affan
Pengumpulan Al-Qur'an pada Masa Khalifah Utsman bin Affan
Pendahuluan
Al-Qur'an merupakan wahyu Allah yang dijaga keasliannya sepanjang zaman. Salah satu bentuk penjagaan tersebut adalah upaya para sahabat dalam mengumpulkan dan menyalin Al-Qur'an secara resmi. Setelah pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ﷺ, muncul kebutuhan baru pada masa Khalifah Utsman bin Affan ؓ yang mendorong dilakukannya penyusunan mushaf standar bagi seluruh umat Islam.
Langkah besar yang dilakukan Utsman ini menjadi salah satu jasa terbesar dalam sejarah Islam karena berhasil menjaga persatuan umat dan memelihara kemurnian Al-Qur'an hingga hari ini.
Meluasnya Wilayah Islam dan Munculnya Perbedaan Bacaan
Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan ؓ, wilayah Islam berkembang sangat pesat. Kaum muslimin telah menyebar ke berbagai negeri seperti Syam, Irak, Mesir, Persia, dan wilayah lainnya. Di setiap daerah, masyarakat mempelajari Al-Qur'an dari sahabat yang tinggal di sana.
Penduduk Syam banyak belajar dari Ubay bin Ka‘ab ؓ, penduduk Kufah dari Abdullah bin Mas‘ud ؓ, sedangkan daerah lain belajar dari Abu Musa Al-Asy‘ari ؓ dan sahabat-sahabat lainnya. Karena masing-masing sahabat mengajarkan bacaan yang mereka terima dari Rasulullah ﷺ, muncullah perbedaan dalam cara membaca Al-Qur'an.
Pada awalnya perbedaan ini masih dapat diterima. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian kaum muslimin yang tidak memahami hakikat perbedaan qiraat mulai memperdebatkannya. Bahkan muncul sikap saling menyalahkan dan menganggap bacaan kelompok lain tidak benar.
Kekhawatiran Terjadinya Perpecahan
Perselisihan mengenai bacaan Al-Qur'an semakin terasa ketika kaum muslimin dari berbagai wilayah bertemu dalam perjalanan atau peperangan. Mereka mendengar bacaan yang berbeda dengan yang biasa mereka pelajari sehingga timbul keheranan, lalu berkembang menjadi perdebatan dan pertengkaran.
Keadaan ini membuat para sahabat khawatir. Mereka melihat adanya potensi perpecahan yang dapat mengancam persatuan umat Islam. Bahkan dikhawatirkan umat Islam akan mengalami nasib seperti umat terdahulu yang berselisih mengenai kitab suci mereka.
Selain itu, masyarakat di berbagai daerah umumnya tidak mengetahui seluruh ragam bacaan yang dibolehkan dalam Al-Qur'an. Mereka hanya mengenal bacaan yang diajarkan oleh guru mereka masing-masing. Sementara itu, belum ada mushaf resmi yang dapat dijadikan rujukan bersama ketika terjadi perbedaan.
Kebijakan Bijaksana Khalifah Utsman
Melihat kondisi tersebut, Khalifah Utsman bin Affan ؓ mengambil langkah yang sangat bijaksana. Beliau mengumpulkan para sahabat senior dan tokoh-tokoh yang ahli dalam Al-Qur'an untuk bermusyawarah mencari solusi terbaik.
Hasil musyawarah tersebut adalah kesepakatan untuk menyalin beberapa mushaf resmi yang akan dijadikan standar bagi seluruh kaum muslimin. Mushaf-mushaf itu kemudian dikirim ke berbagai wilayah Islam agar menjadi rujukan yang sama bagi seluruh umat.
Dengan demikian, sumber perselisihan dapat dihilangkan dan persatuan umat tetap terjaga.
Pembentukan Tim Penulis Mushaf
Untuk melaksanakan tugas besar ini, Utsman ؓ membentuk sebuah tim yang terdiri dari para sahabat terpercaya dan penghafal Al-Qur'an yang kuat. Tim tersebut dipimpin oleh Zaid bin Tsabit ؓ, yang sebelumnya juga menjadi tokoh utama dalam pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ؓ.
Anggota tim tersebut adalah:
- Zaid bin Tsabit ؓ
- Abdullah bin Az-Zubair ؓ
- Sa'id bin Al-'Ash ؓ
- Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam ؓ
Tiga anggota terakhir berasal dari suku Quraisy, suku tempat Al-Qur'an pertama kali diturunkan.
Menggunakan Suhuf Abu Bakar Sebagai Naskah Induk
Langkah pertama yang dilakukan adalah meminta suhuf Al-Qur'an yang disimpan oleh Hafshah binti Umar ؓ. Suhuf tersebut merupakan hasil pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ؓ dan telah dijaga dengan sangat baik.
Suhuf inilah yang dijadikan naskah induk dalam proses penyalinan Mushaf Utsmani. Dengan demikian, mushaf yang disalin benar-benar bersumber dari dokumen resmi yang telah disepakati para sahabat sebelumnya.
Para penulis tidak menuliskan satu ayat pun kecuali setelah memastikan kebenarannya dan mendapatkan persetujuan dari para sahabat yang mengetahui bacaan tersebut dari Rasulullah ﷺ.
Lahirnya Mushaf Utsmani
Setelah proses penyalinan selesai, beberapa mushaf resmi dikirimkan ke berbagai wilayah Islam. Utsman juga memerintahkan agar mushaf-mushaf pribadi yang berpotensi menimbulkan perbedaan tidak lagi dijadikan rujukan umum.
Mushaf-mushaf resmi ini kemudian dikenal dengan nama Mushaf Utsmani. Mushaf inilah yang menjadi dasar penulisan Al-Qur'an yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini.
Hikmah dan Pelajaran
Peristiwa pengumpulan Al-Qur'an pada masa Utsman bin Affan ؓ mengandung banyak pelajaran berharga, di antaranya:
- Pentingnya menjaga persatuan umat Islam.
- Keharusan merujuk kepada sumber yang sahih ketika terjadi perselisihan.
- Besarnya perhatian para sahabat terhadap kemurnian Al-Qur'an.
- Pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan umat.
- Bukti nyata bahwa Allah menjaga Al-Qur'an melalui usaha para hamba-Nya yang saleh.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." (QS. Al-Hijr: 9)
Penutup
Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khalifah Utsman bin Affan ؓ merupakan salah satu prestasi terbesar dalam sejarah Islam. Melalui kebijakan yang penuh hikmah dan dukungan para sahabat, beliau berhasil menyatukan umat Islam dalam satu mushaf yang sahih dan terpercaya. Berkat usaha mulia tersebut, Al-Qur'an tetap terjaga keasliannya dan dapat dibaca oleh kaum muslimin di seluruh dunia hingga hari ini.
Catatan: Untuk Abu Bakar, Utsman, dan para sahabat gunakan simbol ؓ, sedangkan untuk Rasulullah gunakan simbol ﷺ. Pada paragraf pertama seharusnya tertulis Abu Bakar Ash-Shiddiq ؓ, bukan Abu Bakar Ash-Shiddiq ﷺ.
Selasa, 09 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (22): Perselisihan Mahar dan Ketentuan Mahar Mitsil
Antara Ikut Tasyahud Akhir Imam atau Menunggu Jamaah Baru: Mana yang Lebih Utama?
Antara Ikut Tasyahud Akhir Imam atau Menunggu Jamaah Baru: Mana yang Lebih Utama? Pertanyaan Seseorang datang ke masjid ketika ...
-
Makna di Balik Penamaan Surah dalam Al-Qur’an: Refleksi dan Hikmah Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, tidak hanya berisi petunjuk k...
-
5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Merusak Kinerja Otak Otak manusia merupakan organ vital yang hanya mewakili sekitar 2 per...
-
Pengertian Qadha dan Qadar. Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberita...