Cemas Mikirin Anak Malah Berujung Surga: Mengapa Mengurus Anak adalah Ibadah Terbaik Anda?
إِنَّ بَعْضَ الْهَمِّ الَّذِي يَقَعُ بِأَحَدِكُمْ عَلَى وَلَدِهِ لَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عِبَادَةِ مِائَةِ عَامٍ
“Sesungguhnya sebagian kegelisahan yang dirasakan seseorang karena anaknya sungguh lebih dicintai Allah Ta‘ala daripada ibadah seratus tahun.” (Syarh kitab Al-Ibanah, 28/48)
Berikut penjelasannya:
Menjadi orang tua berarti bersedia memikul sebuah amanah yang tidak ringan. Sejak seorang anak lahir, perhatian orang tua tidak lagi hanya tertuju kepada dirinya sendiri. Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi, dan masa depan yang harus dipersiapkan.
Karena itu, kekhawatiran terhadap anak bukan selalu tanda kelemahan. Dalam keadaan tertentu, ia justru merupakan bukti kasih sayang sekaligus tanggung jawab.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya membuat anak kenyang, sehat, dan sukses secara duniawi. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: menyelamatkan keluarga dari keburukan dan mengantarkan mereka menuju kebaikan.
Ada orang tua yang malamnya tidak tenang memikirkan anak. Ia khawatir anaknya sakit, salah pergaulan, meninggalkan kewajiban, gagal dalam pendidikan, atau kelak tidak mampu menjalani kehidupan.
Kegelisahan seperti itu jangan dianggap sia-sia apabila mendorong kepada doa, usaha, pendidikan, nasihat, dan kesabaran.
Bahkan mencari nafkah untuk anak pun memiliki nilai yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika seseorang keluar berusaha mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah.” (HR. Ath-Thabarani, 282)
Begitu pula Nabi ﷺ menjelaskan bahwa nafkah untuk keluarga memiliki kedudukan yang sangat utama:
أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ
“Dinar terbaik yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya” (HR. At-Tirmidzi, 1966)
Maka seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore untuk memenuhi kebutuhan keluarganya jangan merasa bahwa dirinya jauh dari ibadah. Jika niatnya benar, mencari nafkah untuk keluarga pun dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.
Ibnul Jauzi berkata:
فَمَنْ رُزِقَ وَلَدًا فَلْيَجْتَهِدْ مَعَهُ، وَالتَّوْفِيقُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ
“Barang siapa dikaruniai seorang anak, hendaknya ia bersungguh-sungguh mendidiknya; adapun taufik berada setelah usaha tersebut.” (Al-Hitstsu ala Hifdzil Ilmi, 17)
Inilah prinsip penting dalam pendidikan anak adalah orang tua wajib berusaha, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Kita mungkin telah mengajarkan agama, memberi teladan, memilihkan lingkungan yang baik, menyekolahkan, menasihati, bahkan mendoakan setiap malam. Namun anak tetap memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Karena itu, jangan mudah berputus asa ketika hasil pendidikan belum terlihat. Tugas kita adalah menanam; Allah yang menumbuhkan.
Ibrahim bin Adham bahkan pernah berkata ketika seseorang memujinya karena dapat berkonsentrasi beribadah karena hidup membujang:
لَرَوْعَةٌ مِنْكَ بِسَبَبِ الْعِيَالِ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيعِ مَا أَنَا فِيهِ
“Sesungguhnya kegelisahanmu karena mengurus keluarga lebih utama daripada seluruh keadaan ibadah yang sedang aku jalani.” (Ihya Ulumuddin, 2/23)
Pesannya bukan meremehkan ibadah, tetapi menunjukkan besarnya nilai tanggung jawab terhadap keluarga.
Epilog
Jika hari ini Anda lelah memikirkan anak, jangan merasa bahwa semua itu sia-sia. Jika Anda bekerja keras untuk mereka, mendidik mereka, menasihati mereka, dan menangis dalam doa untuk masa depan mereka, yakinlah bahwa Allah melihat semua perjuangan itu.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #pendidikan #anak