At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Minggu, 23 Agustus 2026
Maksiat tapi Kaya? Awas Jebakan Kantong Semar! (Internalisasi Makna Istidraj)
Bahaya Laten Dua Tipe Orang Perusak Umat: Minim Ilmu dan Minim Amal
Sabtu, 22 Agustus 2026
Ini Alasan Kenapa Hidupmu Tidak Tenang: Fokus pada Kehidupan Orang Lain
Jumat, 21 Agustus 2026
Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik
Alasan Kenapa Kamu Tak Boleh Remehin Orang Lain: Nasihat Buat Kita yang Suka Menilai dari Fisik
Al-Buhturi berkata:
إِنَّ النُّجُومَ نُجُومُ الْأُفُقِ أَصْغَرُهَا # فِي الْعَيْنِ أَذْهَبُهَا فِي الْجَوِّ إِصْعَادَا
“Sesungguhnya bintang-bintang di ufuk, yang tampak paling kecil oleh mata, justru berada jauh menjulang di angkasa.” (Zahr al-Adab, 1/267)
Berikut penjelasannya:
Bintang yang terlihat hanya seperti titik kecil di langit sebenarnya tidak kecil. Ia tampak kecil karena sangat jauh dari pandangan kita. Dari sini kita belajar satu hal penting: apa yang terlihat kecil belum tentu kecil dalam kenyataan.
Demikian pula dalam kehidupan. Jangan mudah meremehkan seseorang hanya karena penampilannya sederhana, hartanya sedikit, pekerjaannya rendah menurut ukuran manusia, tidak terkenal, atau tidak banyak bicara. Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
Allah ﷻ mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ
“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan penampilannya sederhana, yang ditolak dari pintu-pintu manusia; tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tercermin dari penampilan lahiriah atau penerimaan manusia terhadapnya.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya” (HR. Muslim, 2564)
Senada dengan keterangan di atas, Dzul Nun Al-Mishri berkata, sebagaimana dinukil dalam Az-Zuhd karya Al-Baihaqi (1/290):
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخْفَى ثَلَاثًا فِي ثَلَاثٍ
“Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara di dalam tiga perkara.”
أَخْفَى غَضَبَهُ فِي مَعْصِيَتِهِ
“Dia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam berbagai kemaksiatan.”
Karena itu, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Bisa jadi justru di dalam dosa yang kita anggap ringan terdapat kemurkaan Allah.
وَأَخْفَى رِضَاءَهُ فِي طَاعَتِهِ
“Dia menyembunyikan keridaan-Nya dalam berbagai ketaatan.”
Maka jangan pula meremehkan amal sekecil apa pun. Senyuman, membantu orang lain, sedekah yang sedikit, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau satu kalimat baik bisa menjadi amal yang diridai Allah.
وَأَخْفَى وِلَايَتَهُ فِي عِبَادِهِ
“Dan Dia menyembunyikan wali-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”
Karena itu, jangan pernah meremehkan seorang pun. Bisa jadi orang yang tidak kita anggap penting justru termasuk hamba Allah yang dekat kepada-Nya.
Inilah pelajaran besar dari bintang-bintang di langit: yang kecil di mata belum tentu kecil dalam hakikatnya.
Epilog
Jangan tertipu oleh penampilan. Jangan sombong karena kedudukan. Jangan menghina orang karena keadaan. Dan jangan merasa diri lebih baik hanya karena melihat kekurangan orang lain.
Sebab kita hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Boleh jadi kita melihat seseorang tak punya kedudukan dan pangkat, padahal di sisi Allah ia berpangkat yang jauh lebih tinggi daripada yang kita sangka.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #dakwah_islam #nasihat
Kamis, 20 Agustus 2026
Dosa-dosa Politik Soekarno
Janji Politik Soekarno Yang Tak Terpenuhi
Sejarah Indonesia tidak hanya berisi kisah perjuangan menuju kemerdekaan, tetapi juga catatan tentang janji-janji politik yang lahir dari kompromi, negosiasi, dan kepentingan persatuan. Dalam perjalanan sejarah Republik, sejumlah kelompok dan daerah kemudian merasa memiliki janji yang belum sepenuhnya terealisasi. Salah satu nama yang kerap dikaitkan dengan persoalan tersebut adalah Presiden Soekarno.
Pertama, persoalan status istimewa Kesultanan Buton.
Dalam berbagai narasi sejarah lokal, Sultan Buton La Ode Muhammad Falihi disebut pernah memperoleh janji mengenai status daerah istimewa sebagai imbalan atas kesediaan Buton bergabung dengan Republik Indonesia. Kesultanan Buton memang memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan maritim di kawasan Sulawesi Tenggara.
Namun, setelah integrasi ke dalam Republik, pemerintahan swapraja Kesultanan Buton kemudian dibubarkan. Harapan mengenai status istimewa sebagaimana Yogyakarta tidak terwujud. Perubahan tersebut meninggalkan memori sejarah yang hingga kini masih hidup di tengah sebagian masyarakat Buton.
Karena itu, tuntutan mengenai identitas dan masa depan politik kawasan Buton tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan administratif. Di baliknya terdapat ingatan kolektif tentang hubungan antara kerajaan lokal, Republik, dan janji politik pada masa awal kemerdekaan.
Kedua, polemik Piagam Jakarta.
Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menyepakati Piagam Jakarta yang memuat rumusan: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Rumusan tersebut merupakan hasil kompromi politik antara berbagai kekuatan yang terlibat dalam persiapan kemerdekaan. Namun, sehari setelah Proklamasi, dalam sidang PPKI 18 Agustus 1945, tujuh kata tersebut dihapus dan diganti dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Perubahan itu memiliki latar belakang politik yang kompleks, terutama kekhawatiran terhadap keutuhan Indonesia yang baru berdiri. Karena itu, menyebutnya sekadar sebagai “janji Soekarno yang diingkari” tentu membutuhkan kehati-hatian. Yang lebih tepat, peristiwa tersebut merupakan salah satu kompromi fundamental dalam proses pembentukan dasar negara yang kemudian menimbulkan kekecewaan di sebagian kalangan Islam.
Ketiga, persoalan Konstituante dan Dekrit 5 Juli 1959.
Pemilu 1955 melahirkan Majelis Konstituante yang diberi tugas menyusun Undang-Undang Dasar baru. Perdebatan berlangsung panjang, terutama mengenai dasar negara: apakah Indonesia berdasar Pancasila atau Islam.
Kebuntuan politik akhirnya menjadi salah satu alasan Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konstituante dibubarkan dan UUD 1945 diberlakukan kembali. Bersamaan dengan itu, Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin.
Bagi pendukung Soekarno, langkah tersebut dipandang sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan negara dari kebuntuan politik. Namun bagi para pengkritiknya, pembubaran Konstituante merupakan kemunduran terhadap proses demokrasi parlementer yang sedang berjalan.
Keempat, persoalan demokrasi dan Presiden Seumur Hidup.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, kekuasaan politik semakin terpusat di tangan Presiden. Puncaknya terjadi pada 1963 ketika MPRS menetapkan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu simbol perubahan besar dari demokrasi parlementer menuju sistem politik yang lebih terpusat. Secara historis, peristiwa ini memperlihatkan bahwa idealisme demokrasi pada awal Republik berhadapan dengan situasi politik yang semakin kompleks dan penuh konflik.
Pada akhirnya, sejarah tentang “janji yang diingkari” tidak seharusnya dibaca secara hitam-putih. Soekarno bukan satu-satunya aktor dalam setiap keputusan politik tersebut. Ada parlemen, partai politik, tokoh agama, militer, daerah, serta perubahan situasi nasional dan internasional yang ikut menentukan arah Republik.
Namun, sejarah tetap penting untuk mengingatkan satu hal: janji politik bukan sekadar kata-kata. Ia membangun kepercayaan. Ketika janji berubah karena keadaan, perubahan itu perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak berubah menjadi luka sejarah.
Maka, mempelajari kembali persoalan Buton, Piagam Jakarta, Konstituante, dan Demokrasi Terpimpin bukan berarti membuka kembali pertentangan lama. Justru sebaliknya, sejarah dapat menjadi cermin agar generasi sekarang memahami bahwa persatuan membutuhkan kejujuran, kompromi membutuhkan kepercayaan, dan setiap keputusan politik selalu memiliki konsekuensi bagi generasi sesudahnya.
Catatan: beberapa klaim mengenai “janji pribadi Soekarno”, khususnya soal status istimewa Buton, masih merupakan bagian dari narasi sejarah yang diperdebatkan. Karena itu, perlu dibedakan antara fakta sejarah yang terdokumentasi dan klaim atau ingatan politik masyarakat.
Rahasia Kekuatan Orang Mukmin: Bukan Fisik, Ini Kekuatan yang Sebenarnya
Selasa, 18 Agustus 2026
Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan
Tips Mengambil Keputusan Anti-Gagal Sesuai Sunnah: Rahasia Sukses Pemimpin yang Jarang Dibicarakan
Az-Zamakhsyari berkata:
نِصْفُ رَأْيِكَ مَعَ أَخِيكَ فَشَاوِرْهُ لِيَكْمُلَ لَكَ الرَّأْيُ
“Separuh pendapatmu ada pada saudaramu, maka bermusyawarahlah agar pendapatmu menjadi sempurna.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 303)
Berikut penjelasannya:
Manusia memiliki keterbatasan. Sehebat apa pun seseorang dalam berpikir dan seluas apa pun pengalamannya, tetap ada sisi persoalan yang mungkin tidak terlihat. Karena itu, Islam mengajarkan musyawarah sebagai jalan untuk menyempurnakan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
Pendapat pribadi sering kali hanya melihat persoalan dari satu sisi. Ketika kita berdiskusi dengan orang lain, muncul sudut pandang baru yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Dari sinilah sebuah keputusan menjadi lebih matang.
Allah ﷻ berfirman:
وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa musyawarah sebelum keputusan, tawakal setelah keputusan. Orang yang mau mendengar pendapat orang lain menunjukkan kedewasaan dalam berpikir. Hasan al-Bashri menjelaskan hikmah perintah dalam ayat tersebut:
أَمَرَهُ بِمُشَاوَرَتِهِمْ لِيَسْتَنَّ بِهِ الْمُسْلِمُونَ وَيَتَّبِعَهُ فِيهَا الْمُؤْمِنُونَ، وَإِنْ كَانَ عَنْ مُشَاوَرَتِهِمْ غَنِيًّا
“Allah memerintahkan beliau bermusyawarah dengan mereka agar kaum Muslimin menjadikannya sebagai teladan dan orang-orang beriman mengikutinya dalam hal tersebut, meskipun beliau sebenarnya tidak membutuhkan musyawarah mereka.” (Al-Ahkam as-Sulthaniyah, 1/53)
Artinya, musyawarah bukan sekadar teknik mengambil keputusan, tetapi juga teladan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia justru perlu menjadi orang yang mampu mendengar.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَمْرًا فَشَاوَرَ فِيهِ امْرَأً مُسْلِمًا، وَفَّقَهُ اللَّهُ لِأَرْشَدِ أُمُورِهِ
“Siapa yang akan mengambil keputusan, lalu minta pendapat kepada muslim lain, maka Allah akan menunjukkannya ke jalan yang paling benar.” (HR. Ath-Thabarani, 1/181)
Karena itu, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu hanya berdasarkan pemikiran sendiri, terlebih jika keputusan tersebut menyangkut kepentingan banyak orang.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna akalnya dan mendapatkan bimbingan wahyu. Namun beliau tetap banyak bermusyawarah dengan para sahabat.
Dalam Shahih Ibnu Hibban Abu Hurairah berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ كَانَ أَكْثَرَ مُشَاوَرَةً لِأَصْحَابِهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya daripada Rasulullah ﷺ.” (HR. Ibnu Hibban, 4872)
Umar bin Abdul Aziz juga pernah berkata:
إِنَّ الْمُشَاوَرَةَ وَالْمُنَاظَرَةَ بَابَا رَحْمَةٍ وَمِفْتَاحَا بَرَكَةٍ، لَا يَضِلُّ مَعَهُمَا رَأْيٌ وَلَا يُفْقَدُ مَعَهُمَا حَزْمٌ
“Sesungguhnya musyawarah dan dialog adalah dua pintu rahmat dan dua kunci keberkahan. Bersama keduanya, sebuah pendapat tidak mudah tersesat dan ketegasan tidak akan hilang.” (Adab Ad-Dunya wa ad-Din, 309)
Musyawarah yang sehat bukan arena mempertahankan ego. Musyawarah adalah proses mencari kebenaran dan kemaslahatan, dalam musyawarah kita perlu belajar mendengar, menghargai perbedaan, menerima kritik, dan bersedia memperbaiki pendapat ketika ada pertimbangan yang lebih kuat.
Epilog
Setelah musyawarah selesai dan keputusan telah ditetapkan, jangan terus terjebak dalam keraguan. Jalankan keputusan dengan penuh tanggung jawab dan bertawakallah kepada Allah.
Bisa jadi pendapat kita hanya melihat sebagian persoalan, sementara orang lain melihat sisi yang berbeda. Pendapat kita mungkin setengah, pendapat saudara kita melengkapinya, dan musyawarah menjadi jalan menuju keputusan yang lebih sempurna.
#islamicquotes #fauzandesign #adab #musyawarah #diskusi
Maksiat tapi Kaya? Awas Jebakan Kantong Semar! (Internalisasi Makna Istidraj)
Maksiat tapi Kaya? Awas Jebakan Kantong Semar! (Internalisasi Makna Istidraj) “Jika zina mempersulit pintu rezeki, lantas mengap...
-
Waspadai Kebaikan yang Menyesatkan: Ketika Manipulasi Emosional Datang dengan Wajah Ramah Tidak semua orang baik benar-benar tul...
-
Khalifah Ali Bin Abi Thalib berkata “Dua hal yang pasti dilakukan orang tolol: Sering menoleh dan menjawab tanpa dasar pengetahu...
-
5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Merusak Kinerja Otak Otak manusia merupakan organ vital yang hanya mewakili sekitar 2 per...