Stop Mencoba Jadi “Bestie” Siswa: Alarm Serius bagi Dunia Pendidikan
Kasus kekerasan yang menimpa seorang guru oleh siswanya sendiri beberapa waktu lalu benar-benar menampar wajah pendidikan kita. Peristiwa ini memicu kemarahan, kesedihan, dan keprihatinan mendalam. Namun, di balik emosi tersebut, ada satu pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan: bahaya ketika guru kehilangan jarak profesional dengan siswa.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena guru yang terlalu berambisi menjadi “guru favorit” atau “guru asik”. Guru berusaha masuk ke dunia siswa, bercanda layaknya teman sebaya, bahkan menghapus batas peran demi kedekatan emosional. Niatnya tentu baik: agar siswa nyaman dan terbuka. Namun, kedekatan tanpa batas sering kali berubah menjadi bom waktu.
Ketika Kedekatan Mengikis Rasa Segan
Masalah utama dari hubungan yang terlalu cair adalah hilangnya rasa segan. Saat siswa mulai memandang guru sebagai “teman”, maka tembok penghormatan perlahan runtuh. Teguran yang seharusnya dipahami sebagai bimbingan berubah menjadi sesuatu yang dianggap berlebihan atau emosional.
Kalimat seperti, “Biasanya juga bercanda, kenapa sekarang serius?” sering kali menjadi tanda bahwa wibawa guru telah terkikis. Ketika rasa segan hilang, disiplin pun ikut runtuh.
Pendidikan Butuh Hierarki, Bukan Kesetaraan Palsu
Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga transfer adab. Dalam adab, ada struktur yang jelas: murid menghormati guru, yang muda menghormati yang lebih tua. Upaya mensejajarkan guru dan siswa atas nama “demokrasi kelas” sering disalahpahami, terutama oleh remaja yang secara emosional belum stabil.
Tanpa hierarki yang sehat, siswa bisa merasa setara dalam segala hal, bahkan merasa berhak melawan ketika egonya terusik. Di sinilah masalah serius mulai muncul.
Guru adalah Mentor, Bukan Teman Nongkrong
Siswa tidak kekurangan teman sebaya. Mereka punya banyak rekan untuk bercanda dan berbagi cerita. Yang mereka butuhkan di sekolah adalah sosok dewasa yang bisa membimbing, memberi batasan, dan berani berkata “tidak” saat diperlukan.
Guru seharusnya menjadi figur yang dihormati dan disegani, bukan figur yang bisa diperlakukan seenaknya. Rasa segan dalam konteks ini bukan ketakutan, melainkan penghormatan yang menjaga hubungan tetap sehat.
Ramah Itu Wajib, Permisif Itu Berbahaya
Menjadi guru yang hangat dan ramah adalah keharusan. Namun, menjadi guru yang serba membolehkan demi disukai justru berbahaya. Perlu dibedakan antara sikap hangat dan sikap permisif. Guru yang baik menjaga ruang profesional: dekat secara pedagogis, tetapi tidak larut secara personal.
Menyayangi siswa tidak berarti menghapus batas. Justru batas itulah yang melindungi guru dan siswa dari relasi yang tidak sehat.
Penutup: Disukai Itu Bonus, Disegani Itu Keharusan
Tragedi kekerasan terhadap guru harus menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Sudah saatnya guru berhenti terobsesi untuk selalu disukai. Fokus utama bukan popularitas, melainkan kewibawaan dan keselamatan.
Lebih baik dianggap kaku tetapi dihormati, daripada dianggap asik namun kehilangan martabat dan otoritas.
Jadilah guru yang ramah, tetapi tak terjamah.
Hangat, namun tetap berjarak.
Dekat dalam mendidik, tegas dalam memimpin.