At-Tarbiyah
Pendidikan Adalah Kunci Kesuksesan
Selasa, 02 Juni 2026
Ngaji Fathul Muin (17): Kafa’ah dalam Pernikahan dan Wewenang Wali Menurut Fathul Mu‘in
Ngaji Itqon (04): Mengenal Musykilat Al-Qur’an
Musykil Al-Qur’an: Memahami Ayat-Ayat yang Tampak Bertentangan
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang sempurna, suci dari kesalahan, pertentangan, dan kontradiksi. Allah Ta‘ala berfirman:
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.” — QS. An-Nisa’: 82
Namun sebagian orang terkadang menemukan ayat-ayat yang sekilas tampak berbeda atau bahkan bertentangan. Dalam kajian ulama, hal ini dikenal dengan istilah Musykil Al-Qur’an, yaitu ayat-ayat yang secara zahir terlihat sulit dipahami bila dibandingkan dengan ayat lainnya.
Para ulama sejak dahulu telah menjelaskan bahwa seluruh “pertentangan” tersebut hanyalah kesan lahiriah saja. Jika dipahami dengan benar, maka seluruh ayat Al-Qur’an saling membenarkan dan menguatkan.
Empat Contoh Musykil Al-Qur’an Menurut Ibnu Hajar
Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan beberapa bentuk ayat yang tampak bertentangan, di antaranya:
1. Adanya Ayat yang Menafikan Pertanyaan di Hari Kiamat dan Ayat yang Menetapkannya
Sebagian ayat menyatakan manusia tidak akan ditanya pada hari kiamat, sementara ayat lain menyatakan mereka akan ditanya.
Masalah ini dijawab oleh Abdullah bin Abbas bahwa:
- penafian pertanyaan terjadi sebelum tiupan kedua sangkakala,
- sedangkan penetapan pertanyaan terjadi setelah manusia dibangkitkan.
Ada pula penjelasan bahwa di hari kiamat terdapat banyak keadaan dan tempat. Pada sebagian tempat manusia ditanya, sedangkan pada tempat lain mereka tidak ditanya.
2. Orang Musyrik Menyembunyikan Kekafiran Namun Juga Mengakuinya
Di sebagian ayat, orang-orang kafir tampak mengingkari kesyirikan mereka. Namun pada ayat lain mereka mengakuinya.
Jawabannya:
- mereka berdusta dengan lisan,
- tetapi tangan, kaki, dan anggota tubuh mereka menjadi saksi atas perbuatan mereka.
Dengan demikian tidak ada pertentangan sama sekali.
3. Mana yang Lebih Dahulu Diciptakan: Bumi atau Langit?
Ada ayat yang menyebut bumi diciptakan terlebih dahulu, sementara ayat lain tampak menunjukkan langit lebih dahulu.
Ibnu Abbas menjelaskan:
- bumi pertama kali diciptakan dalam dua hari,
- kemudian langit disempurnakan dalam dua hari,
- setelah itu bumi dihamparkan, dipasangi gunung, serta dilengkapi berbagai kebutuhan dalam dua hari berikutnya.
Jadi seluruh ayat tersebut saling melengkapi, bukan bertentangan.
4. Penggunaan Kata “كان” untuk Sifat Allah
Dalam bahasa Arab, kata kāna biasanya menunjukkan masa lampau. Namun Al-Qur’an menggunakan kata tersebut pada sifat Allah yang bersifat kekal.
Para ulama menjelaskan:
- kata kāna tidak selalu menunjukkan sesuatu yang telah berakhir,
- tetapi terkadang bermakna “senantiasa” dan terus berlangsung.
Maka ketika Allah disebut:
“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
maknanya: Allah senantiasa memiliki sifat tersebut sejak dahulu dan selamanya.
Sikap Tawadhu’ Ulama dalam Perkara yang Belum Jelas
Ada sebuah riwayat ketika Ibnu Abbas ditanya tentang dua ayat:
- satu ayat menyebut sehari seperti seribu tahun,
- ayat lain menyebut sehari seperti lima puluh ribu tahun.
Beliau menjawab:
“Keduanya adalah hari yang disebut Allah dalam kitab-Nya, dan Allah lebih mengetahui tentang keduanya.”
Jawaban ini menunjukkan ketawadhuan para ulama. Mereka tidak memaksakan penafsiran tanpa ilmu.
Sebab Ayat Tampak Berbeda Menurut Az-Zarkasyi
Az-Zarkasyi menjelaskan beberapa sebab mengapa ayat tampak berbeda.
1. Perbedaan Tahapan dan Keadaan
Contohnya penciptaan Nabi Adam:
- dari tanah,
- dari lumpur,
- dari tanah liat,
- dari tanah kering seperti tembikar.
Semua itu bukan pertentangan, tetapi penjelasan tahapan penciptaan.
2. Perbedaan Tema Pembicaraan
Ada ayat tentang pertanyaan tauhid, ada ayat tentang pertanyaan amal, dan ada ayat yang berbicara tentang keadaan tertentu di hari kiamat.
Karena konteksnya berbeda, maka hukumnya pun berbeda.
3. Perbedaan Sudut Pandang Perbuatan
Allah berfirman:
“Bukan kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”
Artinya:
- manusia melakukan sebab dan usaha,
- sedangkan Allah yang menciptakan hasil dan pengaruhnya.
4. Perbedaan antara Hakikat dan Majaz
Firman Allah:
“Kamu melihat manusia seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk.”
Maksudnya:
- mereka bukan mabuk sungguhan,
- tetapi sangat ketakutan karena dahsyatnya hari kiamat.
5. Perbedaan Dua Sisi Makna
Allah menyebut:
- hati orang beriman tenang dengan dzikir,
- namun juga bergetar ketika nama Allah disebut.
Keduanya tidak bertentangan:
- hati menjadi tenang karena mengenal Allah,
- tetapi juga takut jika tergelincir dari petunjuk-Nya.
Memahami Ayat “Siapakah yang Lebih Zalim…”
Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat dengan ungkapan:
“Siapakah yang lebih zalim…”
Sebagian berbicara tentang:
- pendusta atas nama Allah,
- penghalang masjid Allah,
- orang yang berpaling dari ayat Allah,
- dan lainnya.
Para ulama menjelaskan:
- masing-masing adalah yang paling zalim dalam jenis perbuatannya,
- sehingga tidak ada pertentangan antar ayat.
Penutup
Kajian Musykil Al-Qur’an menunjukkan betapa dalam dan sempurnanya Al-Qur’an. Ayat-ayat yang sekilas tampak bertentangan sebenarnya saling menjelaskan ketika dipahami dengan ilmu, konteks, dan metode para ulama.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh tergesa-gesa menuduh adanya kontradiksi dalam Al-Qur’an. Semakin dalam seseorang mempelajari tafsir dan bahasa Arab, semakin tampak keselarasan dan keindahan firman Allah.
Sebagaimana ditegaskan Allah:
“Tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. Ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” — QS. Fussilat: 42
Senin, 01 Juni 2026
Ketika Nikah Dibatalkan karena Pengakuan Mahram Susuan dan Syarat Wali dalam Pernikahan
Ngaji Fathul Muin (16): Khiyar karena Aib dan Pelanggaran Syarat dalam Pernikahan
Minggu, 31 Mei 2026
Ngaji Fathul Muin: Kapan Ayah dan Kakek Boleh Menikahkan Tanpa Izin?
Kajian Fathul Muin (15): Tentang Kafa’ah dalam Pernikahan; Memahami Konsep Kesetaraan Menurut Fikih
Ngaji Fathul Muin (21): Kapan Wali Hakim Menggantikan Wali Nasab? Ini Syarat Lengkapnya
Ngaji Fathul Muin (17): Kafa’ah dalam Pernikahan dan Wewenang Wali Menurut Fathul Mu‘in
Kafa’ah dalam Pernikahan dan Wewenang Wali Menurut Fathul Mu‘in Dalam pembahasan fikih nikah, konsep kafa’ah (kesetaraan pasangan) memiliki ...
-
Makna di Balik Penamaan Surah dalam Al-Qur’an: Refleksi dan Hikmah Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, tidak hanya berisi petunjuk k...
-
5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Merusak Kinerja Otak Otak manusia merupakan organ vital yang hanya mewakili sekitar 2 per...
-
Pengertian Qadha dan Qadar. Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberita...