Apakah Al-Aḥruf as-Sab‘ah Masih Ada dalam Mushaf Utsmani?
Salah satu pembahasan penting dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an adalah pertanyaan: apakah tujuh huruf (الأحرف السبعة) yang menjadi salah satu bentuk kemudahan dalam turunnya Al-Qur’an masih terdapat dalam mushaf-mushaf Utsmani?
Persoalan ini telah menjadi pembahasan para ulama sejak masa dahulu. Perbedaan pendapat muncul karena adanya perbedaan dalam memahami makna al-Aḥruf as-Sab‘ah dan bagaimana hubungannya dengan mushaf Utsmani.
Tiga Pendapat Ulama
Sebagian ulama dari kalangan fuqaha, ahli qira’at, dan ahli kalam berpendapat bahwa seluruh al-Aḥruf as-Sab‘ah terdapat dalam mushaf Utsmani.
Argumentasi mereka antara lain bahwa para sahabat tidak mungkin bersepakat untuk menghilangkan sebagian dari wahyu yang telah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Mushaf Utsmani disalin berdasarkan suhuf yang sebelumnya dikumpulkan pada masa Abu Bakar رضي الله عنه. Karena itu, menurut pendapat ini, jika suhuf Abu Bakar menghimpun al-Aḥruf as-Sab‘ah, maka mushaf Utsmani yang disalin darinya juga memuat ketujuh huruf tersebut.
Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf serta para imam kaum Muslimin. Mereka menjelaskan bahwa mushaf-mushaf Utsmani memuat bagian dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang dapat ditampung oleh rasm Utsmani. Mushaf tersebut juga menghimpun bacaan yang termasuk dalam al-‘Arḍah al-Ākhirah, yaitu pembacaan terakhir Al-Qur’an yang dilakukan Nabi ﷺ di hadapan Malaikat Jibril عليه السلام.
Ada pula pendapat yang dinisbatkan kepada Ibnu Jarir ath-Thabari dan sejumlah ulama lainnya. Mereka berpendapat bahwa mushaf-mushaf Utsmani hanya memuat satu huruf dari tujuh huruf tersebut. Menurut pandangan ini, tujuh huruf merupakan bentuk kemudahan yang berlaku pada masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan sebagian awal masa pemerintahan Utsman رضي الله عنهم. Kemudian, ketika terjadi perbedaan bacaan di tengah umat, Utsman memilih satu bentuk bacaan untuk menyatukan kaum Muslimin.
Di Mana Letak Persoalannya?
Untuk memahami masalah ini secara tepat, ada dua perkara yang harus diperhatikan.
Pertama, kita harus menentukan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan al-Aḥruf as-Sab‘ah.
Kedua, kita harus melihat apa yang benar-benar tertulis dalam mushaf-mushaf Utsmani dan sejauh mana rasm tersebut mampu menampung berbagai bentuk qira’at.
Dalam pembahasan yang menjadi dasar artikel ini, al-Aḥruf as-Sab‘ah dipahami sebagai berbagai bentuk perbedaan yang menjadi dasar munculnya perbedaan qira’at. Bentuk-bentuk perbedaan tersebut mencakup qira’at yang sahih dan juga bentuk bacaan yang tidak dapat diterima. Menurut pendapat yang dinilai memiliki ketelitian dalam penelitian dan istiqra’, bentuk-bentuk tersebut dapat dikembalikan kepada tujuh macam.
Mushaf Utsmani dan Ragam Qira’at
Jika kita memperhatikan mushaf-mushaf Utsmani, kita akan menemukan bahwa tidak semua mushaf memiliki tulisan yang persis sama dalam setiap detailnya. Hal ini berkaitan dengan tujuan pengiriman mushaf ke berbagai wilayah Islam.
Rasm Utsmani memiliki karakteristik tertentu yang memungkinkan sebagian perbedaan qira’at tetap dapat dibaca sesuai dengan tulisan tersebut. Dengan demikian, satu bentuk tulisan dapat menampung beberapa cara membaca yang sahih.
Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa setiap mushaf Utsmani harus memuat seluruh bentuk bacaan yang termasuk dalam al-Aḥruf as-Sab‘ah.
Yang lebih tepat adalah melihat keseluruhan mushaf Utsmani sebagai satu kesatuan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, kesimpulan yang dipilih adalah bahwa mushaf-mushaf Utsmani secara keseluruhan mencakup al-Aḥruf as-Sab‘ah, tetapi tidak berarti setiap mushaf secara individual memuat seluruhnya.
Setiap mushaf memuat bagian dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang sesuai dengan rasm-nya. Ada yang memuat sebagian dan ada yang memuat bentuk lainnya. Namun, jika seluruh mushaf Utsmani dipandang sebagai satu kesatuan, tidak ada satu pun dari al-Aḥruf as-Sab‘ah yang terlepas secara keseluruhan dari mushaf-mushaf tersebut.
Dengan demikian, kodifikasi Utsmani bukanlah tindakan menghilangkan wahyu Al-Qur’an, melainkan sebuah langkah besar untuk menyatukan umat dalam mushaf yang dapat diterima bersama dan menjaga persatuan kaum Muslimin dalam membaca Kitabullah.
Pembahasan ini juga menunjukkan betapa pentingnya membedakan antara al-Aḥruf as-Sab‘ah, qira’at, dan rasm Utsmani. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, tetapi tidak identik. Memahami perbedaan tersebut membantu kita melihat sejarah pemeliharaan Al-Qur’an dengan lebih jernih dan proporsional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar