Sabtu, 05 September 2026

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri

عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِي مَعِيشَتِكَ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَتَشَبَّهَ بِالْجَبَابِرَةِ، وَعَلَيْكَ بِمَا لَا يُقْرِفُ مِنَ الطَّعَامِ

“Hendaklah engkau bersikap sederhana dalam kehidupanmu. Janganlah engkau menyerupai orang-orang yang sombong dan berkuasa secara zalim. Dan pilihlah makanan yang tidak menjijikkan atau membuatmu muak.” (Ḥilyat al-Awliyā’, 7/14)

Berikut penjelasannya:

Islam tidak melarang seseorang menikmati rezeki Allah. Namun, Islam mengajarkan agar kenikmatan tidak berubah menjadi israf, berlebih-lebihan, dan memperturutkan hawa nafsu, itulah yang dimaksud al-Qosdu. 

Allah berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau mengulurkannya dengan sangat lebar, karena dengan demikian engkau akan menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Ayat ini menggambarkan dua sikap yang harus dihindari. Pertama, tangan yang terbelenggu, yaitu terlalu kikir. Seseorang memiliki kemampuan untuk berbagi, tetapi enggan mengeluarkan hartanya untuk kebutuhan yang benar.

Kedua, tangan yang terbuka selebar-lebarnya, yaitu menghamburkan harta tanpa pertimbangan. Semua keinginan dituruti, semua gaya hidup dikejar, dan semua kesenangan dianggap sebagai kebutuhan.

Islam mengajarkan jalan tengah: gunakan harta sesuai kebutuhan, tunaikan kewajiban, berbagi kepada sesama, dan jangan menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebahagiaan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ، وَمَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Orang yang hidup sederhana tidak akan miskin. Orang yang minta petunjuk Allah tidak akan gagal. Dan orang yang minta pendapat tidak akan menyesal” (HR. Ath-Thabarani, 6627)

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa menikmati rezeki. Kesederhanaan berarti mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Allah berfirman:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A‘raf: 157)

Islam memberikan ruang bagi manusia untuk menikmati ṭayyibāt, yaitu sesuatu yang baik dan layak. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa bersalah ketika menikmati makanan yang baik, mengenakan pakaian yang layak, atau tinggal di tempat yang nyaman, selama semuanya diperoleh dengan cara halal dan tidak disertai kesombongan serta berlebihan.

Yang menjadi masalah bukan semata-mata bagus atau mahal, tetapi ketika seseorang mulai menjadikan kemewahan sebagai kebutuhan jiwa dan menjadikan hawa nafsu sebagai pengendali hidupnya.

Umar bin Khattab berkata:

عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ فِي قُوتِكُمْ، فَإِنَّهُ أَدْنَى مِنَ الْإِصْلَاحِ، وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ، وَأَقْوَى عَلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَإِنَّهُ لَنْ يَهْلِكَ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْثِرَ شَهْوَتَهُ عَلَى دِينِهِ

“Biasakanlah hidup sederhana dalam makanan pokok kalian. Sesungguhnya hal itu lebih dekat kepada perbaikan, lebih jauh dari pemborosan, dan lebih kuat untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya seorang hamba tidak akan binasa sampai ia lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada agamanya.” (Hayatus Salaf Bainal Qoul wal Amal, 576)

Makan bukan masalah. Menikmati makanan lezat bukan masalah. Memiliki harta bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika syahwat mulai mengalahkan pertimbangan agama.

Ketika seseorang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar kenyamanan, mengeluarkan uang demi gengsi, makan tanpa batas, membeli sesuatu hanya karena mengikuti tren, sementara kewajiban kepada Allah mulai ditinggalkan, maka kesenangan telah berubah menjadi jebakan.

Epilog

Orang yang sederhana bukan berarti tidak memiliki harta ataupun keinginan. Ia tetap memiliki keinginan, tetapi berada di bawah kendali akal dan agama.

#islamicquotes #fauzandesign #motivasiislam #adab #dakwah_islam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri

Self-Reward atau Nurutin Gengsi? Seni Mengendalikan Keinginan Diri عَلَيْكَ بِالْقَصْدِ فِي مَعِيشَتِكَ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَتَشَب...