Surah Al-Qaṣaṣ: Melengkapi Potongan Kisah Nabi Musa dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml
Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Setiap surah memiliki keterkaitan dengan surah sebelum dan sesudahnya. Susunan tersebut mengandung hikmah yang menunjukkan keindahan dan ketelitian penyampaian wahyu.
Salah satu contoh yang menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah Asy-Syu‘arā’, Surah An-Naml, dan Surah Al-Qaṣaṣ, khususnya dalam penyampaian kisah Nabi Musa عليه السلام.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tanāsuq ad-Durar fī Tanāsub as-Suwar menjelaskan bahwa Surah Al-Qaṣaṣ hadir untuk memberikan penjelasan yang lebih panjang terhadap bagian-bagian kisah Nabi Musa yang sebelumnya hanya disampaikan secara ringkas dalam dua surah tersebut.
Dari Istana Fir‘aun hingga Pelarian Musa
Dalam Surah Asy-Syu‘arā’, Allah menceritakan dialog antara Fir‘aun dan Nabi Musa عليه السلام. Fir‘aun mengingatkan Musa tentang masa kecilnya:
أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami ketika engkau masih kecil dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu? Dan engkau telah melakukan perbuatan yang telah engkau lakukan itu.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 18–19)
Musa kemudian menjelaskan:
فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Aku pun melarikan diri dari kalian ketika aku takut kepada kalian. Kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu dan menjadikanku salah seorang rasul.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 21)
Dalam ayat tersebut, terdapat beberapa bagian penting yang disebut secara singkat: pengasuhan Musa di istana Fir‘aun, peristiwa pembunuhan seorang Qibṭi, ancaman terhadap dirinya, hingga pelariannya.
Namun, pembaca belum mendapatkan kisahnya secara lengkap.
Surah An-Naml Melanjutkan Perjalanan Musa
Setelah Musa meninggalkan Mesir, kisahnya berlanjut dalam Surah An-Naml. Allah menceritakan ketika Musa sedang melakukan perjalanan bersama keluarganya dan melihat api dari arah Gunung Ṭūr.
Musa berkata:
إِنِّي آنَسْتُ نَارًا
“Sesungguhnya aku melihat api.”
(QS. An-Naml: 7)
Peristiwa ini terjadi setelah Musa melarikan diri dari Mesir. Akan tetapi, Surah An-Naml tidak menguraikan secara panjang bagaimana Musa sampai berada di tempat tersebut.
Di sinilah keindahan hubungan antarsurah terlihat.
Apa yang masih ringkas dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml kemudian dijelaskan secara lebih panjang dalam Surah Al-Qaṣaṣ.
Al-Qaṣaṣ Menguraikan Kisah Secara Bertahap
Surah Al-Qaṣaṣ membawa pembaca kembali kepada awal kehidupan Musa.
Allah menjelaskan kondisi Bani Israil di bawah kekuasaan Fir‘aun. Fir‘aun berlaku sombong di muka bumi dan menindas Bani Israil. Anak-anak laki-laki mereka dibunuh, sedangkan kaum perempuan dibiarkan hidup.
Dalam kondisi seperti inilah Musa dilahirkan.
Allah kemudian mengilhamkan kepada ibu Musa agar menyusukannya. Ketika merasa khawatir terhadap keselamatan anaknya, ia menghanyutkan Musa ke sungai dengan pertolongan dan penjagaan Allah.
Musa kemudian ditemukan oleh keluarga Fir‘aun dan akhirnya tumbuh di lingkungan istana Fir‘aun sendiri.
Dengan demikian, Surah Al-Qaṣaṣ menjelaskan secara rinci apa yang sebelumnya hanya disebut oleh Fir‘aun dengan kalimat:
أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami ketika engkau masih kecil?”
Kisah yang sebelumnya hanya berupa satu kalimat kemudian dibuka secara panjang oleh Surah Al-Qaṣaṣ.
Peristiwa Pembunuhan Seorang Qibṭi
Ketika Musa telah dewasa, terjadilah peristiwa yang menyebabkan ia harus meninggalkan Mesir.
Allah berfirman:
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ
Musa kemudian meninggalkan Mesir setelah mengetahui bahwa dirinya terancam. Ia menuju Madyan dalam keadaan tidak membawa banyak bekal, tetapi membawa keyakinan kepada pertolongan Allah.
Madyan dan Pertemuan dengan Syu‘aib
Di Madyan, Musa bertemu dengan dua perempuan yang sedang menunggu karena tidak mampu berdesakan dengan para penggembala untuk mengambil air.
Musa membantu keduanya. Setelah itu, ia diundang ke rumah ayah mereka. Dari sinilah perjalanan hidup Musa memasuki fase baru.
Ia kemudian menikah dengan salah seorang putri dari orang saleh tersebut dan tinggal di Madyan selama beberapa tahun.
Kisah ini menunjukkan bahwa pelarian Musa yang pada awalnya tampak sebagai sebuah musibah ternyata menjadi jalan menuju persiapan kenabiannya.
Dari Madyan Menuju Gunung Ṭūr
Setelah menyelesaikan masa yang telah ditentukan, Musa berangkat bersama keluarganya.
Di tengah perjalanan, ia melihat api di sisi Gunung Ṭūr dan berkata kepada keluarganya:
امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا
“Tinggallah kalian di sini. Sesungguhnya aku melihat api.”
(QS. Al-Qaṣaṣ: 29)
Peristiwa inilah yang sebelumnya disebut secara singkat dalam Surah An-Naml.
Namun dalam Surah Al-Qaṣaṣ, rangkaian peristiwa tersebut ditempatkan setelah kisah masa kecil Musa, kehidupannya di istana Fir‘aun, peristiwa pembunuhan seorang Qibṭi, pelariannya ke Madyan, kehidupannya bersama keluarga Syu‘aib, dan perjalanan pulangnya.
Dengan demikian, pembaca memperoleh gambaran kisah yang lebih utuh.
Pelajaran dari Susunan Surah
Hubungan ketiga surah tersebut memberikan pelajaran penting: Al-Qur’an memiliki struktur yang saling melengkapi.
Surah Asy-Syu‘arā’ menyebut sebagian kisah Musa secara ringkas. Surah An-Naml melanjutkan pada bagian ketika Musa melihat api. Kemudian Surah Al-Qaṣaṣ menjelaskan secara lebih terperinci rangkaian kehidupan Musa sejak kelahirannya hingga pengangkatannya sebagai rasul.
Seolah-olah pembaca diajak mengikuti perjalanan Musa tahap demi tahap:
Kelahiran → Istana Fir‘aun → Peristiwa Qibṭi → Pelarian → Madyan → Pernikahan → Perjalanan pulang → Gunung Ṭūr → Wahyu dan Kenabian.
Inilah salah satu keindahan tanāsub as-suwar, yaitu ilmu yang mengkaji keserasian dan keterkaitan antarsurah dalam Al-Qur’an.
Hikmah Besar di Balik Kisah Musa
Kisah Musa juga mengajarkan bahwa perjalanan hidup seorang hamba tidak selalu dapat dipahami dari satu peristiwa saja.
Musa pernah berada di istana Fir‘aun, kemudian harus melarikan diri. Ia meninggalkan Mesir dalam keadaan takut dan tidak berdaya. Namun pelarian itu justru menjadi bagian dari persiapan menuju tugas kenabian.
Allah berfirman:
وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي
“Dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.”
(QS. Ṭāhā: 39)
Apa yang tampak sebagai kehilangan ternyata merupakan persiapan. Apa yang tampak sebagai pelarian ternyata menjadi perjalanan menuju pengutusan.
Karena itu, kisah Musa dalam Surah Al-Qaṣaṣ bukan hanya sejarah seorang nabi. Ia juga mengajarkan kepada manusia bahwa Allah dapat menyusun perjalanan hidup seseorang melalui berbagai fase yang tampaknya tidak berkaitan, tetapi pada akhirnya semuanya mengarah kepada tujuan yang telah Allah tetapkan.
Demikianlah salah satu keindahan susunan Al-Qur’an yang dijelaskan Imam As-Suyuthi: Surah Al-Qaṣaṣ hadir sebagai penjelas dan penyempurna bagi bagian-bagian kisah Musa yang telah disebut secara ringkas dalam Surah Asy-Syu‘arā’ dan An-Naml.
Semakin direnungkan, semakin tampak bahwa setiap surah memiliki tempat dan fungsi dalam bangunan besar Al-Qur’an. Segala puji bagi Allah atas petunjuk dan ilham yang diberikan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar