Keindahan Susunan Surah Al-Furqān: Ketika Kekuasaan Allah Menjadi Benang Merah Antarsurah
Al-Qur’an bukanlah kumpulan ayat dan surah yang tersusun tanpa hubungan. Di balik susunan tersebut terdapat berbagai bentuk keterkaitan (munāsabah) yang menunjukkan keindahan, kedalaman, dan keserasian pesan Al-Qur’an.
Salah satu contoh menarik dapat kita lihat pada hubungan antara Surah An-Nūr dan Surah Al-Furqān. Imam As-Suyuthi dalam Tanasuq Ad-Durar fi Tanasub As-Suwar menjelaskan bahwa hubungan keduanya memiliki kemiripan dengan hubungan antara Surah Al-Mā’idah dan Surah Al-An‘ām.
Dari “Milik Allah” Menuju Perincian Kekuasaan-Nya
Surah An-Nūr ditutup dengan firman Allah:
أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ ۖ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Ingatlah, sesungguhnya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia benar-benar mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya. Dan pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nūr: 64)
Ayat ini menegaskan satu prinsip besar: seluruh alam adalah milik Allah dan berada di bawah ilmu serta kekuasaan-Nya.
Kemudian Surah Al-Furqān dibuka dengan penegasan yang lebih luas:
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya menurut ukuran yang tepat.”
(QS. Al-Furqān: 2)
Perhatikan kesinambungannya. Surah An-Nūr menutup dengan pernyataan bahwa milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Surah Al-Furqān kemudian membuka dengan penjelasan bahwa Allah bukan hanya pemiliknya, tetapi juga Pencipta dan Pengaturnya.
Dengan demikian, ungkapan yang masih bersifat umum pada akhir An-Nūr diperinci dalam Al-Furqān.
Alam Semesta sebagai Bukti Kekuasaan Allah
Setelah menyatakan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Surah Al-Furqān membawa manusia untuk memperhatikan berbagai ciptaan-Nya.
Allah berbicara tentang bayangan, malam, tidur, siang, angin, air, hewan ternak, manusia, dua lautan, hubungan nasab dan pernikahan, penciptaan langit dan bumi, ‘Arsy, bintang-bintang, matahari, dan bulan.
Semua itu seakan-akan menjadi penjelasan terhadap kalimat:
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.”
Apa yang semula disebut secara global kemudian dijelaskan melalui berbagai tanda kekuasaan Allah yang dapat disaksikan manusia.
Bayangan yang berubah mengikuti perjalanan matahari, malam yang menjadi waktu istirahat, siang yang menjadi waktu beraktivitas, air yang menghidupkan bumi, angin yang berembus, matahari dan bulan yang silih berganti—semuanya mengingatkan manusia bahwa alam ini tidak berjalan tanpa pengaturan.
Dari Tauhid Menuju Peringatan terhadap Kesyirikan
Setelah menjelaskan kekuasaan Allah, Al-Furqān juga mengingatkan kesalahan manusia yang mengambil sesembahan selain-Nya:
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا...
“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia, yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri diciptakan; dan tidak mampu memberi mudarat maupun manfaat kepada dirinya sendiri...”
(QS. Al-Furqān: 3)
Ini merupakan argumentasi tauhid yang sangat kuat.
Jika Allah adalah pencipta seluruh sesuatu, pemilik langit dan bumi, serta pengatur seluruh alam, maka tidak pantas manusia memberikan ibadah kepada selain-Nya.
Isyarat tentang Umat-Umat yang Dibinasakan
Surah Al-Furqān juga menyebut umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul dan akhirnya mendapatkan kehancuran.
Namun, penyebutan tersebut masih dalam bentuk isyarat. Penjelasan yang jauh lebih panjang kemudian hadir dalam surah setelahnya, yaitu Surah Asy-Syu‘arā’.
Di dalamnya dikisahkan secara terperinci perjuangan sejumlah nabi menghadapi kaum mereka: Nabi Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu‘aib عليهم السلام.
Pola seperti ini juga dapat ditemukan pada hubungan Al-An‘ām dan Al-A‘rāf. Al-An‘ām memberikan isyarat tentang umat-umat terdahulu, lalu Al-A‘rāf memperluas dan memperinci kisah mereka.
Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan yang indah dalam susunan Al-Qur’an.
Surah Makkiyyah Setelah Surah Madaniyyah
As-Suyuthi juga menemukan sebuah keindahan lain dalam susunan Al-Qur’an.
Ketika sebuah surah Makkiyyah ditempatkan setelah surah Madaniyyah, sering kali surah Makkiyyah tersebut dibuka dengan pujian kepada Allah.
Di antaranya:
- Al-An‘ām setelah Al-Mā’idah.
- Al-Isrā’ setelah An-Naḥl.
- Al-Furqān setelah An-Nūr.
- Saba’ setelah Al-Aḥzāb.
- Al-Ḥadīd setelah Al-Wāqi‘ah.
- Al-Mulk setelah At-Taḥrīm.
Menurut As-Suyuthi, hal tersebut memberikan isyarat adanya peralihan dari satu jenis pembahasan menuju jenis pembahasan lainnya, sekaligus memberikan kesan bahwa surah yang baru memiliki karakter dan pembahasan yang lebih mandiri.
Pelajaran untuk Kita
Keterkaitan antara An-Nūr dan Al-Furqān memberikan pelajaran penting: ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak seharusnya hanya memperhatikan satu ayat secara terpisah. Kita juga dapat memperhatikan bagaimana satu surah menyambung pesan surah sebelumnya dan mempersiapkan pembahasan surah sesudahnya.
An-Nūr ditutup dengan penegasan bahwa milik Allah segala yang ada di langit dan bumi. Al-Furqān kemudian membuka dengan penegasan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, Pencipta segala sesuatu, dan Dia menentukan segala sesuatu dengan ukuran yang sempurna.
Dari sini kita belajar bahwa seluruh alam adalah milik Allah, ciptaan Allah, dan berada dalam pengaturan Allah.
Maka ketika melihat matahari, bulan, malam, siang, air, angin, manusia, dan seluruh kehidupan, seorang mukmin tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan. Ia melangkah lebih jauh: melihat Sang Pencipta di balik seluruh ciptaan.
Inilah salah satu keindahan munāsabah Al-Qur’an: dari penegasan kepemilikan Allah, menuju pengenalan terhadap kekuasaan-Nya; dari melihat ciptaan, menuju pengakuan terhadap keesaan-Nya; dan dari mengenal kebesaran-Nya, menuju ketundukan kepada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar