Merapikan kamar memang selalu punya cara tersendiri untuk memutar kembali memori. Di sela tumpukan buku, saya kembali "bertemu" dengan kawan-kawan lama: Diya’ al-Murabba’ karya al-Hadrawi, Ta’liq Mukhtashar Sirah Nabawiyah milik Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, al-Manba’ karya Syaikh Ma’ruf Shawaban, hingga al-Madad Ar-Rabbani karya KH. Ahmad Ghozali MF Lanbuban.
Melihat kitab-kitab ini, ingatan saya langsung terbang ke masa-masa mengisi kajian online Sirah Nabawiyah. Saat itu, rujukan utama saya adalah kitab-kitab tersebut untuk mengupas tuntas kandungan Maulid Diba’.
Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa harus Maulid Diba', bukan yang lain?"
Jawabannya sederhana: Nostalgia dan Kemudahan.
Bagi saya, Maulid Diba’ adalah gerbang pertama mengenal perjalanan hidup sang Nabi. Suara lantunan bait-baitnya sudah akrab di telinga sejak kecil, bergema setiap malam Jumat di surau-surau kampung.
Selain faktor kedekatan emosional, untaian lafadz dalam Maulid Diba’ itu sangat indah namun tetap ringan dipahami. Benar-benar "pintu masuk" yang ramah bagi pemula yang ingin menyelami sejarah Rasulullah SAW.
Sayangnya, kajian online tersebut harus vakum cukup lama setelah sang admin/moderator memutuskan untuk menempuh hidup baru alias menikah.
Melihat kembali kitab-kitab ini memicu keinginan lama itu muncul kembali. Ada niat untuk menghidupkan lagi kajian online Sirah Nabawiyah, mungkin kali ini dengan format yang lebih mandiri. Insyaallah, doakan saja ada waktu dan kesempatan untuk merealisasikannya.
Karena sejatinya, mengenal Nabi adalah perjalanan yang tak boleh berhenti hanya karena kesibukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar