Senin, 30 Maret 2026

Idulfitri dengan Warna Berbeda

Idulfitri kali ini membawa warna yang berbeda bagi saya. Ada gumpalan kesedihan karena orang tua dan mertua yang sedang terbaring sakit bahkan sampai opename di rumah sakit. Tak dimungkiri, kondisi ini cukup menyita pikiran dan tenaga.

Namun, di tengah hiruk-pikuk rasa khawatir itu, terselip setitik kebahagiaan yang luar biasa.
Dalam tiga bulan terakhir, saya berhasil merampungkan empat karya tulis sekaligus: dua buah kitab dan dua buah buku.

Ada teman yang bertanya dengan nada heran, "Kok bisa seproduktif itu? Apa rahasianya?"
Jawaban saya sederhana saja, "Karena saya tidak merokok."

Tentu dia langsung mengernyitkan dahi, bingung dengan korelasi antara rokok dan produktivitas menulis. Untuk meluruskan kesalahpahaman, saya pun memberikan penjelasan tambahan.

"Begini," kata saya, "kalau Anda sedang suntuk atau sumpek, Anda tinggal menyulut rokok, lalu seketika beban pikiran terasa plong. Nah, kalau saya sedang sumpek, saya tidak punya pelampiasan seperti itu. Karena saya bukan perokok, satu-satunya cara untuk membuang rasa bingung dan penat ya hanya dengan menulis."

Tentu saja ini bukan berarti para perokok tidak bisa menjadi penulis. Banyak sekali penulis hebat yang justru sangat produktif sambil ditemani kepulan asap rokok. Namun bagi saya pribadi, menulis adalah 'asap' saya. Saat pikiran buntu dan hati terasa sesak, jemari inilah yang bekerja menjadi katup penyelamat agar rasa sumpek itu tidak mengendap di kepala.

Jadi, kalau ditanya kenapa saya banyak menulis? Jawabannya tetap sama: karena saya tidak merokok. Hemmm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Idulfitri dengan Warna Berbeda

Idulfitri kali ini membawa warna yang berbeda bagi saya. Ada gumpalan kesedihan karena orang tua dan mertua yang sedang terbaring sakit bahk...