Kamis, 19 Maret 2026

Hormatilah yang Tidak Berpuasa (?)

Hormatilah yang Tidak Berpuasa (?) 

Setelah beberapa hari hidup di hiruk pikuk perkotaan, ada rasa yang sulit dijelaskan ketika seseorang hidup di dua keadaan yang berbeda: saat menjadi minoritas dan saat berada di tengah mayoritas. Dua-duanya menguji, tapi dengan cara yang sangat berbeda.

Ketika berada di wilayah minoritas, kita belajar menahan diri. Kita berpuasa dengan tenang, tarawih tanpa pengeras suara berlebihan, bahkan kegiatan keagamaan pun diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu orang lain terlebih saat bertepatan dengan hari besar seperti Nyepi. Kita bisa memaklumi itu, karena paham arti hidup berdampingan.

Namun, ironi itu terasa ketika kita kembali ke wilayah sendiri. Dii tempat di mana adzan berkumandang tanpa ragu, di mana masjid berdiri megah, dan di mana mayoritas adalah orang yang berpuasa justru nilai-nilai itu terasa memudar. Ketika ada yang mencoba mengingatkan, mengajak menutup warung di siang hari, atau sekadar menegur dengan cara yang baik, tiba-tiba muncul kalimat yang familiar: “Hormatilah yang tidak berpuasa.”

Kalimat yang benar, tapi terasa janggal di tempatnya. Bukan karena kita tidak ingin menghormati, tapi karena seolah-olah makna “menghormati” itu hanya berjalan satu arah. Saat kita minoritas, kita diminta menghormati dan kita lakukan. Tapi ketika kita mayoritas, mengapa penghormatan itu seperti tidak kembali?

Padahal Islam sendiri mengajarkan keseimbangan. Ada ruang toleransi, tapi juga ada ruang untuk menjaga syiar. Ada anjuran untuk menghormati, tapi juga ada perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk ditempatkan dengan hikmah.

Menutup warung di siang Ramadhan bukan sekadar aturan sosial, tapi bentuk penghormatan terhadap bulan suci. Menjaga suasana agar tidak mencolok bagi yang tidak berpuasa bukan berarti memaksa, tapi mengajak menjaga adab bersama. Dan tentu, semua itu harus dilakukan dengan cara yang legal, bijak dan prosedural bukan dengan kasar, bukan dengan cara anarkis. Karena kita semua tahu menghormati itu indah jika ia tidak hanya diminta, tapi juga diberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Perbedaan Penetapan Hari Raya: Antara Isbat, Hilal, dan Hisab

Memahami Perbedaan Penetapan Hari Raya: Antara Isbat, Hilal, dan Hisab Di akhir Ramadhan ini obrolan mengenai "kapan Lebara...