Banyak orang mengira ibadah atau perbuatan baik harus menunggu "panggilan hati" atau rasa ikhlas yang sempurna. Padahal, ikhlas bukanlah titik awal yang jatuh tiba-tiba dari langit. Ikhlas adalah buah dari proses panjang yang seringkali harus dimulai dengan sedikit paksaan dan latihan yang konsisten.
Mengapa Ibadah Perlu "Dipaksa"?
Jiwa manusia pada dasarnya perlu dididik. Sama seperti olahraga, awal mula sedekah atau bangun malam untuk shalat pasti terasa berat. Ada rasa sayang mengeluarkan uang atau rasa malas melawan kantuk.
Namun, jika kita terus melakukannya meskipun terasa berat, pelan-pelan rasa berat itu akan hilang. Inilah rahasia di balik perintah Nabi SAW agar anak usia 7 tahun sudah diajak shalat. Tujuannya bukan untuk membebani, tapi untuk membangun habit (kebiasaan) agar saat dewasa nanti, ibadah sudah menjadi bagian alami dari ritme hidup mereka.
2. Belajar dari Pengalaman: Dari Terpaksa Jadi Terbiasa
Prinsip "memaksa diri" ini tidak hanya berlaku dalam ibadah ritual, tapi juga dalam karya dan profesi. Saya sendiri merasakannya dalam dunia menulis.
Awalnya, saya menulis karena terpaksa. Tuntutan keadaan karena sedang menganggur membuat saya harus memutar otak. Siapa sangka, paksaan keadaan itu justru membawa saya diangkat menjadi salah satu redaksi. Kini, tugas saya mengelola kanal Fauzan Design yang mengharuskan posting setiap hari.
Apa yang dulu terasa berat dan penuh tekanan, kini telah berubah. Karena dilakukan setiap hari, menulis dan berkarya kini telah menjadi kebiasaan yang nyaman. Saya tidak lagi merasa terbebani, justru merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya.
3. Tahap "Ketagihan" Beramal
Begitulah cara kerja keikhlasan dan kebiasaan. Jika sudah melewati fase "terpaksa" dan "terbiasa", kita akan sampai pada tahap "ketagihan". Orang yang sudah terbiasa sedekah akan merasa gatal jika tidak berbagi. Orang yang terbiasa menulis akan merasa gelisah jika tidak berkarya.
Intinya
Jangan menunggu ikhlas untuk mulai bergerak. Jangan menunggu semangat untuk mulai menulis atau beribadah. Paksa diri Anda hari ini, biasakan esok hari, dan biarkan keikhlasan datang sebagai hadiah atas konsistensi Anda. Karena pada akhirnya, kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar