Memohon jawaban dengan ibarat dari empat mazhab. Apakah mencukupi membayar fidyah atau kafarah puasa Ramadhan dengan makanan yang telah dimasak, seperti nasi kotak atau nasi bungkus?
Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Pada dasarnya, para ulama berbeda pendapat mengenai cara menunaikan fidyah atau kafarah dengan makanan yang sudah dimasak. Perbedaan ini kembali kepada bagaimana bentuk “memberi makan orang miskin (الإطعام)” yang disebutkan dalam dalil-dalil syariat.
1. Pendapat Mazhab Syafi’i
Dalam mazhab Syafi’i, fidyah atau kafarah tidak sah jika diberikan dalam bentuk makanan matang seperti nasi bungkus atau roti siap santap. Yang wajib diberikan adalah bahan makanan pokok dalam bentuk asalnya (mentah) seperti beras atau biji-bijian yang menjadi makanan pokok negeri tersebut.
Hal ini dijelaskan dalam kitab Al-Hawi fi Fiqh asy-Syafi’i:
> مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : وَلَا يُجْزِئُهُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ دَقِيقًا وَلَا سَوِيقًا وَلَا خُبْزًا حَتَّى يُعْطِيَهُمُوهُ حَبًّا فِي الْكَفَّارَةِ.
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَمْرَيْنِ : أَحَدُهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَصَّ عَلَى الْحُبُوبِ فَلَا يُجْزِيهِ غَيْرُهَا، وَالثَّانِي أَنَّ الْحَبَّ أَكْثَرُ مَنْفَعَةً.
Artinya:
“Imam Syafi’i berkata: tidak mencukupi memberikan tepung, sawiq, atau roti dalam kafarah sampai diberikan dalam bentuk biji-bijian.”
Al-Mawardi menjelaskan bahwa hal ini karena Nabi ﷺ menyebutkan biji-bijian, dan biji-bijian memiliki manfaat yang lebih luas (dapat disimpan, ditanam, dan lain-lain).
Dengan demikian, menurut mazhab Syafi’i yang sah adalah memberikan makanan pokok dalam bentuk mentah dan dengan cara tamlik (dimiliki oleh penerima).
2. Pendapat Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi memberikan kelonggaran dalam bentuk pemberian fidyah atau kafarah. Mereka membolehkan memberi makan orang miskin dengan makanan matang, bahkan dengan cara mengundang mereka makan sampai kenyang.
Pendapat ini juga didukung oleh praktik sahabat Sayyidina Anas bin Malik رضي الله عنه. Ketika beliau sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi berpuasa, beliau memberi makan orang-orang miskin.
Dalam sebagian penjelasan ulama kontemporer disebutkan:
> فإطعام ستين مسكيناً في الكفارات يكون بإعطاء كل مسكين نصف صاع من قمح أو تمر أو رز أو غير ذلك من قوت البلد، ويكون ذلك غير مطبوخ، ولو طبخت طعاماً لستين مسكيناً وجمعتهم عليه أجزأك ذلك.
Artinya:
“Memberi makan enam puluh orang miskin dalam kafarah dapat dilakukan dengan memberi masing-masing setengah sha’ gandum, kurma, beras atau makanan pokok lainnya dalam keadaan mentah. Namun jika makanan tersebut dimasak lalu diberikan kepada enam puluh orang miskin, maka hal itu juga sah.”
3. Keterangan Empat Mazhab
Dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah dijelaskan gambaran umum pandangan mazhab-mazhab tentang bentuk makanan dalam fidyah atau kafarah:
> ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمُجْزِئَ فِي الإِْطْعَامِ هُوَ الْبُرُّ أَوِ الشَّعِيرُ أَوِ التَّمْرُ ... وَيَجُوزُ إِخْرَاجُ الْقِيمَةِ.
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الإِْطْعَامَ يَكُونُ مِنَ الْقَمْحِ إِنِ اقْتَاتُوهُ.
وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الإِْطْعَامَ يَكُونُ مِنَ الْحُبُوبِ وَالثِّمَارِ الَّتِي تَجِبُ فِيهَا الزَّكَاةُ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَالِبِ قُوتِ الْبَلَدِ.
Artinya secara ringkas:
Mazhab Hanafi: memberi makan dapat berupa gandum, kurma, atau makanan pokok lain, bahkan boleh mengeluarkan nilai harganya.
Mazhab Maliki: makanan yang diberikan adalah dari jenis makanan pokok yang biasa dikonsumsi.
Mazhab Syafi’i: harus berupa biji-bijian atau buah yang menjadi makanan pokok negeri tersebut.
Mazhab Hanbali: pada dasarnya sejalan dengan konsep memberi makanan pokok kepada fakir miskin.
4. Catatan Jika Mengikuti Mazhab Hanafi
Jika ingin menggunakan pendapat yang membolehkan makanan matang seperti nasi kotak, maka sebaiknya mengikuti ketentuan mazhab Hanafi secara utuh, di antaranya:
1. Ukuran fidyah menurut mereka 1 sha’ atau ½ sha’ tergantung jenis makanan.
2. Boleh dengan memberi makan sampai kenyang, bahkan dua kali makan (pagi dan sore).
3. Tidak disyaratkan tamlik seperti dalam mazhab Syafi’i.
4. Di antara dalilnya adalah praktik Anas bin Malik yang memberi makan orang miskin dengan roti dan daging ketika sudah tua.
Kesimpulan
1. Mazhab Syafi’i (yang banyak dianut di Indonesia): fidyah atau kafarah tidak sah dengan makanan matang seperti nasi kotak, tetapi harus berupa bahan makanan pokok mentah yang diberikan kepada fakir miskin.
2. Mazhab Hanafi: memperbolehkan memberi makan dalam bentuk makanan matang, termasuk nasi bungkus atau nasi kotak.
3. Mazhab Maliki dan Hanbali: menekankan pemberian makanan pokok kepada fakir miskin, umumnya dalam bentuk bahan makanan.
Karena itu, yang paling aman untuk keluar dari khilaf ulama adalah memberikan fidyah dalam bentuk bahan makanan pokok mentah, seperti beras sesuai ukuran yang ditentukan.
Wallāhu a‘lam.
Sumber: Piss ktb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar