Kamis, 22 Februari 2024

Mau Poligami? Dipikir-Pikir dulu



Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya Suami Nikah Lagi?


Jawab: 

 Hukum nikah lagi, itu tergantung situasi dan kondisi

1. Mubah (Hukum Asal)

2. Sunnah, Jika ada faktor yang mendesak untuk menikah lagi, Misal dia punya libido yang tinggi, sedangan istrinya tidak mampu memenuhi kebutuhan biologisnya

3. Makruh, kalau dilakukan tanpa dasar kebutuhan

4. Haram, bila yakin tidak bisa berbuat adil pada istri


Refrensi:

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)


1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].

ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.

ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:

أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.

ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.

ج ـ وإذا غلب على ظنه، أو تأكد أنه لا يستطيع إن تزوج أكثر من واحدة أن يعدل بينهنّ: إما لفقره، أو لضعفه، أو لعدم الوثوق من نفسه في الميل والحيف، فإن التعدد عندئذ يكون حراماً، لأن فيه إضراراً بغيره، والنبي - صلى الله عليه وسلم - يقول: " لا ضرر ولا ضرَارَ ".

[مجموعة من المؤلفين ,الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ,4/36]

Rabu, 21 Februari 2024

Shalawat nabi dangan berbagai khasiatnya




Shalawat nabi dangan berbagai khasiatnya
(Kajian Sirah Nabawiyah Maulid Ad-Diba'i Eps. II) 
Oleh: Ibnu Imron*

_Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh_
Bismillahirrahmanirrahim 


بِسْمِ الله مَاشَاءَ الله لاَ يَسُوْقُ الْخَيْرَ إِلاَّ الله بِسْمِ الله مَاشَاءَ الله لاَ يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلاَّ الله بِسْمِ الله مَاشَاءَ الله مَاكَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ الله بِسْمِ الله مَاشَاءَ الله لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله.
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

*Prolog*

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_Artinya_
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

[Al-Ahzab ; 56]

*Pembahasan*

Setelah ad-Dibai mencantumkan sifat-sifat rasul dalam satu ayat, beliau melanjutkan dengan ayat lain yang menjelaskan kewajiban kita terhadap nabi dalam firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
 
Imam Asy-Sya'rawi mengungkapkan bahwa dalam kedua ayat itu terdapat benang merah yakni setelah Allah memberi penjelasan tentang sifat Rasulullah, bagaimana perjuangan Rasulullah untuk ummatnya, maka apa tindakan kita, apa balas budi kita kepada nabi? 
Maka dijelaskanlah sebagian kewajiban kita terhadap Rasulullah adalah membacakan shalawat dan salam padanya. 
Konsep balas budi bukan hanya berlaku kita pada Rasulullah, tapi juga terhadap orang lain, Rasulullah bersabda:
من صنع إليكم معروفا فكافئوه، فإن لم تجدوا ما تكافئونه فادعوا له حتى تروا أنكم قد كافأتموه 
_Barangsiapa yang berbuat kebaikan pada kalian maka balaslah, apabila tidak bisa membalasnya maka doakanlah hingga mereka melihat kalian telah membalas kebaikannya_
(HR: Ahmad no. 6365) 

Para ulama mengatakan sunnah mendoakan orang yang yang memberi kebaikan dengan ucapan Jazakumullah atau sesamanya 

Kembali kepada pembahasan surah al-Ahzab:
ان الله وملائكته يصلون على النبي 
Ayat ini sebagai bentuk penghormatan allah pada nabi di masa hidup dan setelah wafatnya, dengan adanya sebutan dari Allah, seakan-akan Allah mengabarkan dekatnya kedudukan nabi di sisinya

Sebagai contoh:
Pejabat yang memuji, mendoakan seseorang didepan mentrinya, kemungkinan besar orang itu orang dekatnya. 

Begitu juga kita dengan kata-kata tegas mememuji seseorang di hadapan oramg lain, pasti orang tersebut dekat di hati kita 

Selanjutnya

ان الله وملائكته يصلون على النبي 

Jika ditinjau susunannya kalimat di atas mengandung beberapa kesimpulan:

Pertama, susunan di atas adalah susunan jumlah ismiyah yang berart tsubut dan istiqrar dan ditegaskan dengan lagi huruf taukid inna yang artinya tuntunan bersolawat berlaku kapan saja dan di mana saja

Kedua, sebelum ada perintah Allah untuk bersolawat, allah terlebih dahulu menetapkan diri-Nya dan Malaikat-Nya bersolawat pada nabi, hal ini menyiratkan bahwa salah satu adab dari mengajak kebaikan kepada orang lain kita terlebih dahulu melakukan kebaikan itu, sehingga ajakan kita lebih mudah diterima. 

Ketiga, perbedaan taukid antara sholat, taukidnya pakai jumlah dan didahului inna, sedangkan salam hanya pakai masdar, mengindikasikan bahwa untuk shighat salam sudah dipahami oleh para sahabat saat itu, sedangkan untuk shalawat sendiri masih belum ada shighat tertentu sehingga turunnya ayat ini seperti yang dijelaskan di hadis (Shahih Bukhari: 4797) 

يصلون

Makna shalawat disini tergantung dari subyeknya, jika itu dari allah maka bermakna rahmat, jika dari malaikat bermakna istighfar dan jika dari jin dan manusia maka bermakna doa. 

Saumpama ada yang bertanya: Kenapa kalau dari malaikat bermakna istighfar, sedangkan nabi sudah diampuni sosa terdahulu dan yang akan datang? 
Maka jawabannya adalah bacaan istighfar tidak berarti orang itu punya dosa, nabi sendiri beristighfar kurang lebih 100 kali dalam sehari (HR: Bukhari no. 6307)

Sebagai perbandingan seseorang yang minta maaf pada pelanggan bukan mengindikasikan dia salah, bisa saja itu salah satu bentuk dari service excelent

وسلموا تسليما

Kata taslim di atas bisa bermakna bacalah salam padanya, mendoakan keselamatan. 
Bisa juga berarti pasrah pada segala yg datang dari rasul. 
Dalam susunan tersebut kata taslim khusus kepada orang mukmin, karena ayat ini disematkan setelah turunnya ayat larangan menyakiti pada nabi, seakan-akan mengindikasikan bahwa yang bisa menyakiti itu hanya manusia. 

*Faidah*

Para ulama mengatakan bahwa doa sholawat dan salam khusus pada nabi, tarodi (Rodiyallohu anhu) khusus pada para sahabat, sedangkan tarohum khusus pada tingkatan dibawah shahabat. 
Misal musa alaihis sholatu was salam
Abu bakar Rodiyallohu anhu
As-Syafi'i Rohimahullah

*Epilog*

Shalawat selain merupakan keharusan bagi kita, shalawat juga mempunyai banyak faidah dan manfaat, diantaranya:
1. Mempermudah dapat syafaat nabi
2. Melebur dosa
3. Menjadikan doa mustajab
4. Meninggikan kedudukan derajat di akhirat 
5. Menjadikan masuk surga tanpa hisab
6. Mempermudah bermimpi Rasulullah 
7. Menjadikan posisi kita lebih dekat posisi dengan kanjeng nabi kelak di hari kiamat 
8. Menarik rizqi 
Dan masih banyak lagi, disamping itu ada banyak kisah ajaib mengenai shalawat yang insyaallah kami tulis swcara khusus. 
Wallahu A'lam

*Penulis adalah konten kreator asal Pasuruan, Jawa Timur
=================================
Refsensi:
Tafsir Asy-Sya'rawi
Tafsir Ath-Thantawi
Tafsir As-Sa'di
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Ruhul Bayan
Tafsir al-Alusi
Tafsir Hadaiq
Shahih Bukhari 
Dan lainnya

seputar guna-guna dan pelet



Pertanyaan:
Bagaimana hukum guna-guna dan pelet

Jawaban:

Apabila ilmu pelet yang digunakan adalah ilmu sihir dan metodenya bertentangan dengan syariah seperti memuja setan, menginjak-nginjak Quran, dll, maka hal itu dilarang dan menyebabkan kufur (syirik) menurut ijmak (kesepaktan ulama). Namun apabila ilmu pelet yang digunakan tidak bertentangan dengan syariah, maka hal itu tidak menyebabkan kufur akan tetapi tetap haram (berdosa) menurut madzhab Syafi'i. Imam Syafi'i dalam Al-Umm I/293 menyatakan :

والسحر اسم جامع لمعان مختلفة فيقال للساحر صف السحر الذي تسحر به فإن كان ما يسحر به كلام كفر صريح استتيب منه فإن تاب ، وإلا قتل ، وأخذ ماله فيئا ، وإن كان ما يسحر به كلاما لا يكون كفرا وكان غير معروف ، ولم يضر به أحدا نهي عنه فإن عاد عزر ، وإن كان يعلم أنه يضر به أحدا من غير قتل فعمد أن يعمله عزر ، وإن كان يعمل عملا إذا عمله قتل المعمول به وقال عمدت قتله قتل به قودا إلا أن يشاء أولياؤه أن يأخذوا ديته حالة في ماله ، وإن قال : إنما أعمل بهذا لأقتل فيخطئ القتل ويصيب ، وقد مات مما عملت به ففيه الدية ، ولا قود ، وإن قال قد سحرته سحرا مرض منه ، ولم يمت منه أقسم أولياؤه لمات من ذلك العمل ، وكانت لهم الدية ، ولا قود لهم مال الساحر ، ولا يغنم إلا في أن يكون السحر كفرا مصرحا ، وأمر عمر أن يقتل السحار عندنا ، والله تعالى أعلم إن كان السحر كما وصفنا شركا ، وكذلك أمر حفصة ، وأما بيع عائشة الجارية ، ولم تأمر بقتلها فيشبه أن تكون لم تعرف ما السحر فباعتها لأن لها بيعها عندنا وإن لم تسحرها ، ولو أقرت عند عائشة أن السحر شرك ما تركت قتلها إن لم تتب أو دفعتها إلى الإمام ليقتلها إن شاء الله تعالى ، وحديث عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم على أحد هذه المعاني عندنا ، والله تعالى أعلم

Artinya: Kata sihir mengandung kata yang mengandung banyak makna berbeda. Apabila alat yang dibuat menyihir itu mengandung perkataan kufur maka ia harus disuruh bertaubat apabila mau, jika tidak maka dibunuh. Dan hartanya pun dirampas sebagai fai'. Apabila sihirnya itu mengandung kata-kata yang tidak menimbulkan kekufuran dan tidak membahayakan seorangpun maka ia (penyihir) hendaknya dicegah (mengamalkan / mempelajari ilmu sihir). Apabila mengulangi, maka dita'zir (diberi sanksi). Apabila diketahui bahwa ia dengan sihirnya telah mencelakakan seseorang tapi tidak sampai mematikan dan sengaja melakukan itu, maka ia dita'zir (dihukum). Apabila ia menyihir seseorang yang mengakibatkan kematian dan itu sengaja ia lakukan maka penyihir itu harus dibunuh kecuali kalau kerabat si terbunuh bersedia si penyihir membayar diyat. ... Adapun perintah Umar bin Khattab untuk membunuh para tukang sihir menurut kami adalah apabila sihirnya tersebut berakibat syirik seperti yang kami urai di atas...

Dilema saat melihat orang yang berpacaran

 

Pertanyaan:

Ketika kita melihat orang yg berpacaran lebih baik didiemin apa dinasehati ustadz?


Jawaban:

Dalam KBBI Definisi Pacaran adalah menjalin hubungan Romansa dengan lawan jenis, tetapi belum atau tidak terikat perkawinan

Hal itu tidak diperbolehkan (Maksiat) karena dapat menjerumuskan pada Zina, Allah berfirman:


وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً


“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”


Jika kita melihat orang yang melakukan hal seperti itu maka kita harus bereaksi dengan 3 tahapan:


~ Menghentikan Dengan Tangan dan Kekuasaan, jika tidak bisa

~ menegur dan menasehati dengan lisan, jika tidak bisa

~ Ingkar dengan Hati


عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.


Dari Abu Said Al Khudri ra, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)


Refsensi:

I'anatu Tholibin 4/207

Al-Maus'ah al-Fiqhiyah 1/12763

Ihyak Ulumuddin 3/99

وامر يمعروف اي واجبات الشرع والكف عن محرماته فشمل النهي عن منكر - ي المحرم - لكن محله في واجب أو حرام مجمع عليه، أو في اعتقاد الفاعل والمخاطب به كل مكلف لم يخف على نحو عضو ومال وإن قل ولم يغلب على ظنه أن فاعله يزيد فيه عنادا وإن علم عادة أنه لا يفيده بأن يغيره بكل طريق أمكنه من يد فلسان فاستغاثة بالغير فإن عجز أنكره بقلبه.


ـــــــــــــــــــــــــــــ

 (قوله: وأمر بمعروف) أي وكأمر بمعروف أو قيام بأمر الخ، فهو بالجر معطوف على قيام أو على حجج كما تقدم.

واعلم أنه ورد في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر من الآيات والاخبار شئ كثير لا يكاد يحصر، فمن الأول قوله تعالى: * (ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون)

ومن الثاني قوله عليه السلام: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه.

وذلك أضعف الايمان وفي رواية أخرى: ليس وراء ذلك - يعني الانكار بالقلب - من الايمان مثقال ذرة وقوله عليه الصلاة والسلام: ليس منا من لم يرحم صغيرنا، ويوقر كبيرنا، ويأمر بالمعروف، وينهى عن المنكر.

إحياء علوم الدين الجزء ٣/٩٩

وهذا يدل على أنه لا يجوز للنساء مجالسة العميان كما جرت به العادة في المأتم والولائم فيحرم على الأعمى الخلوة بالنساء ويحرم على المرأة مجالسة الأعمى وتحديق النظر إليه لغير حاجة وإنما جوز للنساء محادثة الرجال والنظر إليهم لأجل عموم الحاجة

الموسوعة الفقهية الجزء الأول  12763

الكلام مع المرأة الأجنبية ذهب الفقهاء إلى أنه لا يجوز التكلم مع الشابة الأجنبية بلا حاجة لأنه مظنة الفتنة وقالوا إن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها لفظا أما إن كانت شابة يخشى الافتنان بها أو يخشى افتنانها هي بمن سلم عليها فالسلام عليها وجواب السلام منها حكمه الكراهة عند المالكية والشافعية والحنابلة وذكر الحنفية أن الرجل يرد على سلام المرأة في نفسه إن سلمت عليه وترد هي في نفسها إن سلم عليها وصرح الشافعية بحرمة ردها عليه

Selasa, 20 Februari 2024

Coblosan Lelet, Tinta Jadi Lengket

 



Deskripsi Masalah :

Setiap pemilu, setelah pemilih menyelesaikan pencoblosan di TPS,petugan agar mensegerakan memberikan tanda bukti dengan tinta, bahwa dengan tinta tersebut bukti sudah mencoblos kepada yg berhak. 


Pertanyaan :

Apakah tinta tersebut termasuk penghalang sampainya air pada kulit,sehingga menyebabkan tidak sah nya wudhu, yg merupakan syarat sah nya sholat ?


Jawaban :

Apabila tinta tersebut ada unsur bendanya (ain), maka termasuk penghalang. Maka kalau melihat kasus yg terjadi seperti deskripsi di atas,tinggal menghilangkan ain-nya dg air atau yg lain. Sehingga tinggal atsar warnanya saja, yg dapat bisa sampainya air ke kulit. 


Referensi :

إعانة الطالبين - (1 / 35) 


( و ) رابعها ( أن لا يكون على العضو حائل ) بين الماء والمغسول ( كنورة ) وشمع ودهن جامد وعين حبر وحناء بخلاف دهن جار أي مائع وإن لم يثبت الماء عليه وأثر حبر وحناء ( قوله كنورة إلخ ) تمثيل للحائل ( قوله بخلاف دهن جار ) أي بخلاف ما إذا كان على العضو دهن جار فإنه لا يعد حائلا فيصح الوضوء معه وإن لم يثبت الماء على العضو لأن ثبوت الماء ليس بشرط ( قوله وأثر حبر وحناء ) أي وبخلاف أثر حبر وحناء فإنه لا يضر والمراد بالأثر مجرد اللون بحيث لا يتحصل بالحت مثلا منه شيء

Senin, 19 Februari 2024

Hafal Akidatul Awam, Garansi Masuk Surga?



Pertanyaan

Apakah benar orang yang menghafal nadzam akidatul awan dapat garansi masuk surga?

Jawaban:


Benar, orang yang menghafal Akidatul Awam ada jaminan masuk surga dan mendapatkan segala yang dimaksud, hal tersebut tertera dalam kisah Syaikh Al-Marzuqi yang bermimpi bertemu nabi (Kisah kami lampirkan setelah Referensi)


Refsensi:


Muqoddimah Jalaul afham, Muqoddimah Tashilul Maram, Muqoddimah Nurudzzalam, Muqoddimah Tahsilu Nailil Maram


اعلم أنَّ سبب هذه المنظومة أنَّ الناظم رأى النبي  في المنام آخر ليلة الجمعة من أول جمعة من شهر رجب سادس يوم حساباً من شهور سنة الف ومائتين وثمان وخمسين ، وأصحابه رضي الله عنهم واقفون حوله  ، وقال له النبي  : ( اقرأ منظومة التوحيد التي من حفظها دخل الجنة ونال المقصود من كل خير وافق الكتاب والسنة ) . 

فقال له : وما تلك المنظومة يا رسول الله . فقال الأصحاب له : اسمع من رسول الله ما يقول .فقال رسول الله  : ( قل أبدَأُ باسْمِ اللهِ والرَّحْمنِ ) . فقال : أبدَأُ بِاسْمِ اللهِ والرَّحْمَنِ ... إلى آخرها ، ورسول الله  يسمعه فلما استيقظ من منامه قرأ ما رآه في منامه فوجده محفوظاً عنده من أوله إلى آخره . ثمَّ لما كانت ليلة الجمعة التي هي ليلة الثامن والعشرين حساباً من شهر ذي القعدة رأى الناظم النبيَّ  مرةً ثانية وقت السحر في المنام فقال له النبي  : ( اقرأ ما جمعته ) – أي في قلبك – فقرأه من أوله إلى آخره وهو واقف بين يديه  وأصحابه رضي الله عنهم واقفون حوله يقولون آمين بعد كل بيت من هذه المنظومة فلما ختم قراءته  قال له النبي  : ( وفقك الله تعالى لما يرضيه ، وقبل منك ذلك ، وبارك عليك وعلى المؤمنين ، ونفع بها العباد ) .


ثم سئل الناظم بعد اطلاع الناس على تلك المنظومة فأجاب سؤالهم فزاد عليها منظومة من قوله :

وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ    فحَقُّهُ التسْليمُ وَالْقَبُولُ

  إلى آخر الكتاب )) .

Kisah dibalik penulisan nadzam Akidatul Awam:

Al-Allamah as-Sayid al-Imam Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki suatu ketika bermimpi Nabi ﷺ, dengan para sahabat yang ada di kanan kirinya.


Kemudian Nabi ﷺ berkata,


وقال له : إقرأ منظومة التوحيد التى من حفظها دخل الجنة، ونال المقصود من كل خير واقف الكتاب والسنة.


“Bacalah Nadhaman Tauhid, yang barang siapa menghafalnya akan masuk syurga, dan akan memperoleh apa yang diinginkan dari kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan al-Quran dan Hadits.”


فقال له : وما تلك المنظومة يارسول الله؟


Lalu beliau balik bertanya, “Apa yang dimaksud dengan nadhaman itu, Wahai Rasulullah?”


فقال الأصحاب له : إسمع من رسول الله ﷺ ما يقول.


Para sahabat menjawab, “Dengarkan apa yang akan dibacakan oleh Rasulullah ﷺ.”


فقال رسول الله ﷺ : قل (أبدأ باسم الله والرحمن)

فقال أبدأ باسم الله والرحمن، إلى أخرها وهو قوله

وصحف الخليل والكليم * فيها كلام الحكم العليم.


Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Katakan, “Abdau bismillahi war rahmani” (Saya memulai merangkum kitab ini dengan menyebut Nama Allah yang Maha Belas Kasih).


Kemudian beilau ikut membaca, “Abdau bismillahi war rahmani” sampai pada nadham, “Wa suhuful khalili wal kalimi, fiha Kalamul hakamil alimi.”


Dan Rasulullah ﷺ mendengarkannya. Setelah bangun dari tidurnya, lalu beliau membaca apa yang telah dilihatnya dalam mimpi tadi, dapat menghafalnya dari awal hingga akhir.


Kemudian beliau bermimpi Rasulullah ﷺ lagi untuk kedua kalinya ketika waktu Sahar. Rasulullah ﷺ berkata,


إقرأ ماجمعته – أى في قلبك


“Bacalah nadham yang telah kamu rangkum (maksudnya yang dirangkum dan dihafal dalam hatimu).”


Kemudian beliau membacanya dari awal hingga akhir. Sedang nabi ﷺ berdiri di depannya dan para sahabat di kanan kirinya, bersama-sama membaca “Amin” ketika selesai dibacakan bait-bait nadhaman ini.


Setelah khatam, lalu Nabi ﷺ mendoakan beliau,


وفقك الله تعالى لما يرضيه وقبل منك ذالك وبارك عليك وعلى المؤمنين ونفع بها العباد، أمين.


“Semoga Allah ﷻ meridlaimu, menerima apa yang telah kamu karang, memberi keberkahan padamu dan orang-orang yang beriman, serta nadhaman itu bermanfaat bagi hamba-hamba Allah ﷻ. Amin 


Minggu, 18 Februari 2024

Qodo' puasa dilaksanakan pada bulan sya'ban


Pertanyaan:

Apakah boleh qadha puasa Ramadhan dibulan sya'ban ?

Jawab:

Boleh ,Namun yang lebih utama 

Tidak menundanya sampai dibulan sya'ban..

Refrensi:


 فتح الباري (4/189)

 

Radhiyallahu Anha , beliau berkata :


كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ


Saya mempunyai tanggungan utang puasa Ramadhan. Saya tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban

(HR.Muttafaq alaih)


قال ابن حجر: وظاهر صنيع عائشة يقتضى إيثار المبادرة إلى القضاء لولا ما منعها من الشغل فيشعر بان من كان بغير عذر لا ينبغي له التاخير


Berkata Ibnu Hajar:

Secara dhahir perbuatan Aisyah itu menghendaki agar qadha puasa Ramadhan disegerakan , jikalau beliau tidak terhalangi oleh kesibukan ,


Maka dalam hal ini beliau memberitahukan ,barang siapa yang tidak ada kesibukan (yakni udzur) maka tidak selayaknya ia menunda qadha puasa Ramadhan .... 


Ngaji Fathul Muin (39) Memahami Perbedaan antara Sharih dan Kinayah

Lafaz Talak: Memahami Perbedaan antara Sharih dan Kinayah Dalam fikih Islam, persoalan talak tidak hanya berkaitan dengan niat seseorang un...