Sabtu, 31 Oktober 2026

Ngaji Fathul Muin #53: Memahami Konsep Quru': Suci atau haid?

Memahami Konsep Quru': Suci atau haid?

‘Iddah adalah masa tunggu yang diwajibkan bagi perempuan setelah berakhirnya pernikahan. Salah satu ketentuannya adalah tiga qurū’, sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

“Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) selama tiga kali qurū’.”
(QS. Al-Baqarah: 228)

Dalam mazhab Syafi‘i, qurū’ yang dimaksud adalah masa suci.

Jika seorang perempuan ditalak ketika suci, meskipun masa sucinya hanya tersisa sesaat, sisa masa suci tersebut dihitung sebagai satu qurū’. ‘Iddahnya berakhir ketika ia memasuki haid ketiga.

Adapun jika ia ditalak ketika haid, masa haid tersebut tidak dihitung. Ia harus melewati tiga masa suci setelah haid tersebut. Karena itu, ‘iddahnya berakhir ketika memasuki haid keempat.

Adapun perempuan yang tidak mengalami haid, seperti yang belum pernah haid atau telah mencapai usia menopause, maka ‘iddahnya dihitung dengan tiga bulan kamariah. Dalam Fathul Mu‘in, usia menopause disebut sekitar 62 tahun, dengan pendapat lain 50 tahun.

Jika perempuan yang semula menjalani ‘iddah dengan hitungan bulan kemudian mengalami haid sebelum ‘iddahnya selesai, maka ia beralih menghitung ‘iddah dengan tiga masa suci.

Pembahasan ini menunjukkan bahwa menghitung ‘iddah tidak cukup hanya dengan perkiraan. Keadaan perempuan ketika talak dijatuhkan dan perubahan siklus haid perlu diperhatikan dengan teliti.

Fikih mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam perkara yang berkaitan dengan kehormatan, nasab, dan kehidupan keluarga.

Buatkan gambar infografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngaji Fathul Muin #53: Memahami Konsep Quru': Suci atau haid?

Memahami Konsep Quru': Suci atau haid? ‘Iddah adalah masa tunggu yang diwajibkan bagi perempuan setelah berakhirnya pernikah...