Selasa, 13 Oktober 2026

Klasifikasi Jalur Sanad Riwayat Tafsir Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud


Klasifikasi Jalur Sanad Riwayat Tafsir Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud

Pendahuluan

Penulis kitab Al-Wadhih fi 'Ulum al-Qur'an menukil secara rinci dan teliti dari Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan. Dalam kitab tersebut, keduanya mengklasifikasikan jalur dan sanad riwayat tafsir dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma menjadi dua kategori utama: jalur-jalur shahih yang dapat dijadikan pegangan, serta jalur-jalur lemah atau bahkan sangat lemah yang harus diwaspadai ketika mempelajari tafsir bil-ma'tsur. Klasifikasi ini menjadi panduan penting bagi para peneliti dan pelajar ilmu tafsir dalam menyaring riwayat-riwayat yang dapat dipercaya.

Pertama: Jalur dan Riwayat Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas dikenal dengan gelar "Tarjuman Al-Qur'an" (juru penerjemah Al-Qur'an). Dari beliau telah diriwayatkan banyak sekali jalur periwayatan, yang dalam kitab ini diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan.

Jalur-Jalur Shahih yang Diakui

a. Jalur Ali bin Abi Thalhah

Rantai periwayatannya adalah: Ali bin Abi Thalhah ⟵ dari Ibnu Abbas.

Jalur ini termasuk jalur paling shahih dari Ibnu Abbas, dan Imam Al-Bukhari banyak bersandar padanya dalam kitab Shahih-nya. Meskipun Ali bin Abi Thalhah tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas (terdapat perantara di antara keduanya), para ulama seperti Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa jalur ini shahih karena perantaranya adalah para perawi tsiqah (terpercaya) senior yang mengambil langsung dari Ibnu Abbas. Jalur ini dikenal dengan sebutan "Shahifah Ali bin Abi Thalhah".

b. Jalur Qais bin Muslim

Rantai periwayatannya adalah: Qais bin Muslim Al-Kufi ⟵ dari Thariq bin Syihab ⟵ dari Ibnu Abbas.

Hukum jalur ini adalah shahih sesuai syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim). Riwayat-riwayatnya tergolong kuat dan terpercaya.

Jalur-Jalur Lemah dan Menengah

a. Jalur Ibnu Ishaq

Rantai periwayatannya adalah: Ibnu Ishaq (penulis Sirah) ⟵ dari para perawi tsiqah ⟵ dari Ibnu Abbas.

Hukum jalur ini adalah hasan (dapat diterima), dan para ulama menggunakannya sebagai syahid (penguat) dalam bidang tafsir.

b. Jalur Adh-Dhahhak

Rantai periwayatannya adalah: Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali ⟵ dari Ibnu Abbas.

Cacat jalur ini terletak pada kenyataan bahwa Adh-Dhahhak tidak pernah bertemu langsung dengan Ibnu Abbas. Riwayatnya masuk dalam kategori lemah karena keterputusan (inqitha'), kecuali jika terdapat riwayat pendukung (mutaba'ah) yang menguatkannya.

Jalur-Jalur Paling Lemah (Rantai Kebohongan)

a. Jalur As-Suddi Ash-Shaghir dari Al-Kalbi

Rantai periwayatannya adalah: Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir ⟵ dari Muhammad bin As-Sa'ib Al-Kalbi ⟵ dari Abu Shalih ⟵ dari Ibnu Abbas.

Para ahli hadis menilai jalur ini sebagai rantai kebohongan. Ini merupakan jalur paling lemah dari Ibnu Abbas sama sekali, dan tidak boleh dijadikan pegangan dalam kondisi apa pun.

b. Jalur Muqatil bin Sulaiman

Rantai periwayatannya adalah: Muqatil bin Sulaiman ⟵ dari Ibnu Abbas.

Cacat jalur ini adalah bahwa Muqatil dituduh melakukan pemalsuan dan berdusta dalam hadis menurut penilaian para ahli hadis.

Kedua: Jalur dan Riwayat Abdullah bin Mas'ud 

Riwayat dari Ibnu Mas'ud ditandai dengan ketelitian yang ketat, berkat sekolah ilmiah yang teliti yang ia dirikan di Kufah. Berikut adalah sanad dan jalur paling terkenal untuk tafsirnya dalam kitab ini.

Rantai-Rantai Paling Shahih

a. Jalur Al-A'masy

Rantai periwayatannya adalah: Al-A'masy ⟵ dari Ibrahim An-Nakha'i ⟵ dari Alqamah ⟵ dari Ibnu Mas'ud.

b. Jalur Sufyan Ats-Tsauri

Rantai periwayatannya adalah: Sufyan Ats-Tsauri ⟵ dari Manshur ⟵ dari Ibrahim ⟵ dari Alqamah ⟵ dari Ibnu Mas'ud.

Kedua jalur ini merupakan jalur paling shahih dari Ibnu Mas'ud sama sekali. Riwayat-riwayatnya berada pada derajat tertinggi ke-shahih-annya dan telah dikeluarkan dalam kitab-kitab Shahih.

Jalur Gabungan (Jalur As-Suddi Al-Kabir)

Rantai periwayatannya adalah: As-Suddi Al-Kabir (Isma'il bin Abdurrahman) ⟵ dari Abu Malik dan dari Abu Shalih ⟵ dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud (bersama-sama).

As-Suddi Al-Kabir meriwayatkan tafsir gabungan yang menggabungkan riwayat kedua sahabat mulia tersebut. Hukum jalur ini adalah baik dan dapat dijadikan hujjah. Tafsir ini ditandai dengan panjangnya pembahasan serta mencakup kisah-kisah dan berita-berita. Al-Hafizh Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak meriwayatkan darinya dalam kitab tafsirnya.

Penutup

Berdasarkan rincian jalur dan sanad di atas, tampak jelas bahwa ilmu riwayah memiliki peran krusial dalam menentukan validitas tafsir bil-ma'tsur. Para ulama telah menyusun klasifikasi yang teliti untuk memisahkan riwayat yang shahih dari yang lemah, sehingga umat Islam dapat mengambil tafsir dari sumber-sumber yang terpercaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngaji Manhajut Tafsir #21: Tiga Sumber Utama Tafsir

Tiga Sumber Utama Tafsir Al-Qur’an: Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan Penjelasan Sahabat Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi petunjuk bagi k...