Kamis, 22 Oktober 2026

Sejarah dan Kronologi Penyusunan Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an oleh Imam As-Suyuthi

Latar Belakang Penulisan Kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an

Pendahuluan

Kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an merupakan salah satu karya monumental Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr as-Suyuthi (849-911 H) yang hingga kini tetap menjadi rujukan utama dalam kajian ilmu-ilmu al-Qur'an. Kitab ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang intelektual sang penulis yang penuh dengan pencarian, refleksi, dan kesungguhan dalam menimba ilmu. Latar belakang penulisan kitab ini mencerminkan kedalaman ilmu, kejujuran akademik, dan semangat Imam Suyuthi dalam mengabdikan dirinya bagi khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang ulumul Qur'an.

Muncul dari Heran, Kagum dan Gelisah

Sejak masa tholabul ilmi (menuntut ilmu), Imam Suyuthi telah memiliki kekaguman yang mendalam terhadap al-Qur'an dan segala ilmu yang berkaitan dengannya. Namun, di tengah kekaguman tersebut, beliau merasakan keheranan yang menggelitik pikiran: mengapa belum ada seorang pun dari ulama terdahulu yang menyusun dan mengarang kitab yang secara khusus dan konsisten membahas ilmu-ilmu al-Qur'an secara komprehensif? Beliau menuangkan keheranan ini dalam muqaddimah kitabnya:

ولقد كنت في زمان الطلب أتعجب من المتقدمين إذ لم يدونوا كتابا في أنواع علوم القرآن كما وضعوا ذلك بالنسبة إلى علم الحديث

"Ketika saya masih dalam masa menuntut ilmu, saya merasa heran kepada ulama-ulama terdahulu, mengapa tidak ada di antara mereka yang menyusun sebuah kitab tentang ilmu-ilmu al-Qur'an sebagaimana mereka menyusun ilmu-ilmu dalam bidang hadits?" (al-Itqan, 1/16)

Pertanyaan ini menjadi titik tolak perjalanan intelektual Imam Suyuthi dalam bidang ulumul Qur'an. Beliau menyadari bahwa ilmu hadits telah memiliki kitab-kitab yang sistematis dan lengkap, sementara ilmu-ilmu al-Qur'an belum mendapatkan perhatian yang setara dalam bentuk karya yang terorganisir dengan baik.

Pencarian dan Penemuan Awal

Dalam pencariannya, Imam Suyuthi kemudian mendengar bahwa gurunya, Syekh Muhyiddin al-Kafiji, telah menyusun sebuah kitab tentang ilmu-ilmu al-Qur'an. Dengan penuh harapan, beliau menelaah kitab tersebut. Namun, harapan itu tidak sepenuhnya terpenuhi. Beliau mendapati bahwa kitab tersebut sangat tipis, hanya terdiri dari dua bab: bab pertama membahas definisi takwil, tafsir, al-Qur'an, surat, dan ayat; sedangkan bab kedua membahas syarat-syarat mufassir yang menafsirkan al-Qur'an dengan akal pikiran, diakhiri dengan adab-adab dalam belajar dan mengajar al-Qur'an.

Bagi Imam Suyuthi, kitab tersebut belum memuaskan dahaga keilmuannya dan belum mampu menjelaskan maksud yang beliau harapkan secara menyeluruh. Keterbatasan cakupan pembahasan ini mendorong beliau untuk terus mencari rujukan yang lebih lengkap.

Kemudian, guru beliau yang lain, Syekh Alamuddin al-Bulqini, menunjukkan sebuah kitab bernama Mawaqi' al-Ulum min Mawaqi' an-Nujum karya saudaranya, Qadhi al-Qudhat Jalaluddin. Kitab ini membahas tentang ilmu-ilmu al-Qur'an dengan sistematika yang cukup rapi. Imam Suyuthi mendapati kitab tersebut terdiri dari enam pembahasan pokok yang dipecah menjadi lima puluh masalah. Dari kitab inilah beliau kemudian menulis kitab bernama at-Tahbir fi Ulum at-Tafsir.

Penulisan Kitab at-Tahbir

Kitab at-Tahbir fi Ulum at-Tafsir merupakan hasil olahan Imam Suyuthi atas kitab Mawaqi' al-Ulum. Kitab ini mirip dengan kitab aslinya, hanya saja Imam Suyuthi menambahkan contoh-contoh dan beberapa permasalahan penting yang belum dibahas dalam Mawaqi' al-Ulum. Kitab ini selesai ditulis pada tahun 872 H dan di dalamnya dibahas 102 permasalahan terkait ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur'an.

Meskipun demikian, setelah menyelesaikan at-Tahbir, terlintas dalam benak Imam Suyuthi keinginan untuk menulis kembali kitab dengan pembahasan yang sama namun dengan penyusunan yang lebih rapi dan sederhana, lebih menghimpun semua permasalahan, serta lebih terukur dan detail dalam setiap pembahasannya.

Harapan Menjadi Pelopor

Dengan menulis kitab yang baru ini, Imam Suyuthi berharap menjadi orang pertama dan satu-satunya yang secara lengkap dan detail membahas ilmu-ilmu al-Qur'an. Beliau menyatakan:

وأنا أظن أني متفرد بذلك غير مسبوق بالخوض في هذه المسالك

"Saya mengira bahwa saya yang pertama dan satu-satunya orang yang melakukan ini (menulis kitab) dengan lebih dalam dalam sistematika pembahasannya." (al-Itqan, 1/23)

Harapan ini menunjukkan ambisi intelektual Imam Suyuthi untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan ulumul Qur'an. Beliau ingin menghadirkan sebuah karya yang belum pernah ada sebelumnya, yang dapat menjadi rujukan komprehensif bagi para penuntut ilmu.

Penemuan Kitab al-Burhan

Namun, niat beliau untuk menulis kitab tersebut sempat menjadi setengah hati. Pasalnya, beliau mendapat kabar bahwa sudah ada orang lain yang menulis sebuah kitab yang mirip dengan apa yang selama ini beliau pikirkan. Kitab tersebut adalah al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, karangan Syekh al-Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi. Kitab ini terdiri dari 47 bahasan, semuanya terkait dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur'an.

Transformasi Semangat

Menariknya, setelah membaca kitab al-Burhan tersebut, Imam Suyuthi justru merasa bahagia dan bersyukur. Alih-alih merasa terhenti, semangatnya justru bertambah kuat untuk menulis kitab yang kemudian diberi nama al-Itqan fi Ulum al-Qur'an. Beliau mengungkapkan:

ولما وقفت على هذا الكتاب ازددت به سرورا وحمدت الله كثيرا وقوي العزم على إبراز ما أضمرته وشددت الحزم في إنشاء التصنيف الذي قصدته فوضعت هذا الكتاب العلي الشأن الجلي البرهان الكثير الفوائد والإتقان ورتبت أنواعه ترتيبا أنسب من ترتيب البرهان وأدمجت بعض الأنواع في بعض وفصلت ما حقه أن يبان وزدته على ما فيه من الفوائد والفرائد والقواعد والشوارد ما يشنف الآذان وسميته بالإتقان في علوم القرآن وسترى في كل نوع منه إن شاء الله تعالى ما يصلح أن يكون بالتصنيف مفردا وستروى من مناهله العذبة ريا لا ظمأ بعده أبدا

"Setelah aku selesai membaca kitab al-Burhan, aku bertambah bahagia, aku bersyukur kepada Allah dan bertambah kuat azamku untuk mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam. Aku pun menguatkan tekad untuk menulis kitab yang dulu aku niatkan. Maka aku mulai menyusun kitab ini—kitab yang sangat penting, yang memberi penjelasan, yang memiliki banyak faidah. Aku susun kitab ini dengan susunan yang lebih baik daripada susunan kitab al-Burhan. Aku gabungkan beberapa masalah ke dalam sebagian masalah lainnya, aku jabarkan yang sekiranya perlu penjabaran, aku tambahkan di dalamnya banyak faidah, hal-hal penting, kaidah-kaidah, dan hal-hal unik yang masih asing di telinga. Aku namai kitab ini dengan al-Itqan fi Ulum al-Qur'an. Kamu akan dapati dalam setiap pembahasannya layak untuk dikatakan 'tiada duanya' insya Allah. Kamu juga akan merasa kenyang ketika meminum ilmu dari mata air ini (al-Itqan) yang mana setelah kamu minum tak akan haus lagi selamanya." (al-Itqan, 1/27)

Pernyataan ini menunjukkan kematangan intelektual Imam Suyuthi. Penemuan kitab al-Burhan tidak membuatnya mundur, melainkan menjadi motivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Beliau tidak hanya mengakui keberadaan karya sebelumnya, tetapi juga menjadikannya sebagai pembanding dan inspirasi untuk menyempurnakan karyanya sendiri.

Penyusunan Kitab al-Itqan

Akhirnya, Imam Suyuthi mulai menulis kitab al-Itqan dengan memohon bantuan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kitab ini terdiri dari 80 objek bahasan, di mana setiap objek pembahasan dalam kitab ini menjadi ilmu tersendiri yang belum tentu cukup dibahas dalam satu kitab khusus. Cakupan pembahasannya sangat luas, meliputi berbagai aspek ilmu al-Qur'an seperti turunnya wahyu, pengumpulan mushaf, qira'at, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, i'jaz, dan masih banyak lagi.

Keistimewaan kitab ini terletak pada sistematika penyusunannya yang lebih baik daripada kitab al-Burhan, penggabungan beberapa masalah ke dalam satu pembahasan yang relevan, penjabaran yang memadai untuk hal-hal yang memerlukan penjelasan, serta penambahan berbagai faidah, kaidah, dan hal-hal unik yang belum pernah dibahas sebelumnya.

Kesimpulan

Latar belakang penulisan kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an mencerminkan perjalanan intelektual Imam Suyuthi yang panjang dan penuh dedikasi. Dimulai dari kekaguman dan keheranan terhadap minimnya karya komprehensif dalam bidang ulumul Qur'an, beliau terus mencari, menelaah, dan menyempurnakan karya-karya yang ada. Penemuan kitab al-Burhan karya az-Zarkasyi tidak menyurutkan semangatnya, melainkan menjadi pemicu untuk menghasilkan karya yang lebih unggul.

Kitab al-Itqan lahir dari kejujuran akademik, kesungguhan riset, dan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi umat Islam. Dengan 80 objek bahasan yang masing-masingnya layak menjadi ilmu tersendiri, kitab ini menjadi bukti kematangan keilmuan Imam Suyuthi dan dedikasinya yang tulus dalam berkhidmat kepada al-Qur'an. Hingga hari ini, al-Itqan fi Ulum al-Qur'an tetap menjadi rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu-ilmu al-Qur'an, membuktikan kebenaran doa dan harapan Imam Suyuthi bahwa kitab ini akan menjadi mata air ilmu yang tidak akan membuat haus siapa pun yang meminumnya.



Sumber: Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, jilid 1, halaman 16, 23 dan 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah dan Kronologi Penyusunan Kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an oleh Imam As-Suyuthi

Latar Belakang Penulisan Kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an Pendahuluan Kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an merupakan salah s...