Jumlah Mushaf yang Disalin pada Masa Khalifah Utsman bin Affan
Pendahuluan
Salah satu jasa terbesar Khalifah Utsman bin Affan dalam sejarah Islam adalah menyatukan kaum Muslimin pada satu standar penulisan Al-Qur'an. Ketika perbedaan qiraat mulai menimbulkan perselisihan di berbagai wilayah Islam yang semakin luas, Utsman mengambil langkah bijaksana dengan menyalin mushaf standar dan mengirimkannya ke berbagai daerah.
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pemeliharaan kemurnian Al-Qur'an dan dikenal sebagai pengumpulan Al-Qur'an yang ketiga, yang berlangsung pada tahun 25 Hijriah.
Perbedaan Pendapat tentang Jumlah Mushaf Utsmani
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah mushaf yang diperbanyak dan dikirim oleh Utsman ke berbagai wilayah Islam.
1. Pendapat Pertama: Tujuh Mushaf
Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah mushaf yang disalin adalah tujuh buah. Mushaf-mushaf tersebut dikirim ke:
- Makkah
- Syam
- Basrah
- Kufah
- Yaman
- Bahrain
- Madinah
Dalam riwayat yang dinukil oleh Ibnu Abi Dawud, Abu Hatim as-Sijistani menyebutkan bahwa Utsman menulis tujuh mushaf, lalu mengirimkannya ke berbagai wilayah tersebut, sementara satu mushaf disimpan di Madinah.
2. Pendapat Kedua: Empat Mushaf
Pendapat lain menyatakan bahwa jumlah mushaf yang disalin adalah empat buah, yaitu:
- Mushaf Kufah
- Mushaf Basrah
- Mushaf Syam
- Mushaf Imam (mushaf induk yang disimpan oleh khalifah)
Abu Amr ad-Dani dalam kitab Al-Muqni' menjelaskan bahwa mayoritas ulama cenderung kepada pendapat ini. Menurut mereka, Utsman membuat empat salinan resmi dan mengirimkannya ke pusat-pusat penting dunia Islam saat itu.
3. Pendapat Ketiga: Lima Mushaf
Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah mushaf yang disalin adalah lima buah. Imam as-Suyuthi menyebut bahwa pendapat inilah yang paling terkenal di kalangan ulama.
Nasib Suhuf Hafshah
Sebelum proyek penyalinan mushaf Utsmani dilakukan, terdapat lembaran-lembaran Al-Qur'an yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq. Lembaran tersebut kemudian disimpan oleh Hafshah binti Umar.
Setelah proses penyalinan selesai, suhuf tersebut dikembalikan kepada Hafshah dan tetap berada di tangannya hingga beliau wafat. Setelah itu, menurut sebagian riwayat, lembaran tersebut dimusnahkan. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Marwan bin al-Hakam mengambil dan membakarnya demi mencegah kemungkinan munculnya perbedaan di kemudian hari.
Keberadaan Mushaf Utsmani
Mushaf-mushaf yang ditulis pada masa Utsman hampir tidak ditemukan lagi pada masa sekarang. Ibnu Katsir dalam kitab Fadha'il al-Qur'an menyebutkan bahwa beliau pernah melihat salah satu mushaf tersebut di Masjid Jami' Damaskus. Mushaf itu ditulis pada lembaran kulit yang diperkirakan berasal dari kulit unta.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa mushaf Syam tersebut kemudian berpindah ke Rusia dan tersimpan di perpustakaan Leningrad. Ada pula yang mengatakan bahwa mushaf itu akhirnya dipindahkan ke Inggris. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa mushaf tersebut telah musnah akibat kebakaran yang terjadi di Masjid Damaskus.
Hikmah Penyalinan Mushaf Utsmani
Langkah yang diambil oleh Utsman bin Affan memiliki manfaat yang sangat besar bagi umat Islam, di antaranya:
- Menyatukan kaum Muslimin dalam satu standar penulisan Al-Qur'an.
- Mencegah perselisihan yang timbul akibat perbedaan bacaan.
- Menjaga kemurnian dan keaslian Al-Qur'an dari perubahan dan penyimpangan.
- Menjadi dasar bagi penulisan mushaf Al-Qur'an hingga masa kini.
- Memperkuat persatuan umat Islam di berbagai wilayah yang telah tersebar luas.
Penutup
Penyalinan mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan merupakan salah satu upaya terbesar dalam menjaga Al-Qur'an. Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah mushaf yang disalin, mereka sepakat bahwa kebijakan tersebut berhasil menjaga persatuan umat dan memastikan Al-Qur'an tetap terpelihara sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, jasa Utsman dalam sejarah pemeliharaan Al-Qur'an akan selalu dikenang sepanjang masa sebagai salah satu kontribusi terbesar bagi umat Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar