Sabtu, 08 November 2025

Cinta Sehat: Mencintai Tanpa Kehilangan Jati Diri

Cinta Sehat: Mencintai Tanpa Kehilangan Jati Diri

Banyak orang beranggapan bahwa cinta adalah pengorbanan total. Namun, kenyataannya mencintai tanpa batas justru dapat mengikis jati diri. M. Scott Peck, dalam bukunya The Road Less Traveled, menegaskan bahwa cinta sejati bukanlah melebur hingga kehilangan bentuk, melainkan memperluas diri demi pertumbuhan pribadi dan pasangan. Sayangnya, tidak sedikit orang baru menyadari hal ini setelah merasa asing terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan.

Cinta yang sehat seharusnya memperkuat, bukan menghapus identitas. Kita dapat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari: seseorang yang terlalu terfokus pada pasangan hingga meninggalkan hobi, teman, bahkan prinsip hidupnya. Pada awalnya hal ini tampak romantis, tetapi lambat laun menimbulkan kehampaan. Menjaga keseimbangan antara memberi dan tetap mempertahankan jati diri bukan hanya keterampilan emosional, melainkan fondasi dari hubungan yang bertahan lama.

1. Batasan sebagai Wujud Penghormatan

Peck menegaskan bahwa batasan adalah bukti penghormatan, bukan penghalang cinta. Tanpa batas yang jelas, hubungan dapat berubah menjadi ruang membingungkan. Misalnya, ketika pasangan ingin mengetahui seluruh detail aktivitas kita, banyak yang mengira itu tanda cinta. Padahal, keterbukaan tanpa kendali justru menghilangkan ruang pribadi yang penting bagi kesehatan mental.

Menetapkan batas berarti berani mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai diri. Waktu untuk membaca, beristirahat, atau sekadar menyendiri merupakan bentuk perawatan diri yang patut dihargai.

2. Kehidupan di Luar Hubungan

Identitas seseorang tidak boleh sepenuhnya bergantung pada pasangan. Kehidupan di luar hubungan—pekerjaan, pertemanan, serta minat pribadi—adalah penopang penting yang menjaga keseimbangan. Jika seluruh kebahagiaan digantungkan pada pasangan, sedikit masalah saja dapat membuat seseorang runtuh.

Memiliki aktivitas dan lingkaran sosial sendiri bukan berarti menomorduakan pasangan, melainkan memperluas sumber kebahagiaan agar cinta tidak terasa sebagai beban.

3. Perbedaan sebagai Ruang Bertumbuh

Cinta sejati tidak menghapus perbedaan, tetapi mengakuinya sebagai ruang pembelajaran. Terlalu sering orang berharap pasangan sejati adalah yang sama dalam segala hal. Padahal, perbedaan nilai, kebiasaan, atau pandangan justru memperkaya hubungan.

Alih-alih berusaha mengubah pasangan, perbedaan dapat dijadikan kesempatan untuk memahami sudut pandang baru dan memperluas wawasan bersama.

4. Menjaga Prinsip Inti

Prinsip hidup adalah fondasi diri. Mengorbankannya demi cinta sama halnya dengan meruntuhkan pondasi rumah. Hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang untuk mengkhianati nilai-nilai dasarnya.

Sebagai contoh, seseorang yang menolak berbohong tetapi akhirnya ikut berbohong demi pasangan akan menghadapi konflik batin. Pasangan yang tepat justru mendukung kita untuk tetap setia pada prinsip hidup.

5. Ekspektasi yang Realistis

Ekspektasi berlebihan sering membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Banyak orang memasuki hubungan dengan gambaran ideal tentang bagaimana pasangan “seharusnya” bersikap. Saat kenyataan tidak sesuai, mereka cenderung mengubah diri agar cocok dengan harapan itu.

Mengelola ekspektasi berarti menerima bahwa pasangan bukan penyelamat emosional, melainkan teman perjalanan yang sama-sama belajar.

6. Memenuhi Kebutuhan Pribadi

Kebutuhan pribadi tidak hilang hanya karena seseorang mencintai. Mengabaikannya justru menimbulkan ketidakseimbangan. Waktu untuk beristirahat, hobi, dan bersama keluarga tetap penting untuk menjaga energi serta keutuhan diri.

Memenuhi kebutuhan pribadi bukanlah bentuk egoisme, melainkan cara untuk memastikan diri tetap kuat dalam mencintai.

7. Cinta sebagai Pilihan, Bukan Ketergantungan

Peck menekankan bahwa cinta sejati adalah pilihan sadar yang diperbarui setiap hari, bukan sekadar ketergantungan emosional. Ketergantungan sering disalahartikan sebagai cinta, padahal sebenarnya merupakan ikatan rapuh yang didorong oleh rasa takut kehilangan.

Cinta yang sehat adalah ketika seseorang memilih tetap bersama karena menginginkan, bukan karena tidak mampu hidup tanpa pasangannya.


Penutup

Cinta sejati bukanlah tentang kehilangan diri, melainkan tentang bertumbuh bersama tanpa menghapus identitas masing-masing. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi ruang, menghargai perbedaan, menjaga prinsip, serta memungkinkan setiap individu berkembang. Dengan demikian, cinta tidak lagi menjadi beban, tetapi sumber kekuatan dan pertumbuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi

"Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi: Kesalahan Berulang Sekte Imadiyah dalam Memahami kitab dan Ulama Pribumi" Terus terang, ini me...