Terus terang, ini melelahkan. Bukan karena kalah argumen—justru sebaliknya—melainkan karena harus berulang kali melayani komentar brutal, ngawur, dan miskin rujukan dari mereka yang terpapar paham sekte Imadiyah, kelompok yang belakangan gemar memainkan peran sebagai “hakim nasab”, padahal fondasi ilmunya sangat rapuh.
Mereka memuntahkan tuduhan keji tanpa satu pun sandaran pada ulama/Kyai mu‘tabar atau otoritas keilmuan yang diakui. Ironisnya, mereka sering tampil seolah lebih pandai dari para ulama dunia—padahal jika ditimbang dengan standar dasar pesantren, kemampuan mereka bahkan belum layak disandingkan dengan santri yang duduk dikelas tiga diniyah. Ini bukan cercaan kosong; ini bisa diverifikasi secara ilmiah.
Ambil contoh paling sederhana—dan paling memalukan: kekacauan mereka dalam memahami istilah “Habib”.
Mereka ngotot mengatakan:
• Habib bukan dzurriyah Nabi ﷺ
• Habib bukan Sayyid
• Habib bukan Syarif
Padahal soal ini sudah saya jelaskan berkali-kali, tidak kurang dari tiga kali dalam status Facebook saya. Namun, seperti menuangkan air ke bejana bocor—tak pernah tinggal, mereka tetap tidak paham.
Masalahnya satu: mereka berbicara tanpa kitab/Rujukan.
– Ketika Kitab Kecil Pesantren Menghancurkan Argumen Sekte Imadiyah
Mari kita bicara dengan bahasa ilmu, bukan emosi.
Dalam kitab yang sangat kecil, sangat dasar, dan dipelajari hampir di setiap pesantren Nusantara—bahkan ditulis oleh Kyai Pribumi tapi ulama sekelas dunia, Imam Masjidil Haram asal Banten—yaitu:
شرح عقود اللجين في بيان حقوق الزوجين
karya Asy-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani رحمه الله تعالى، pada halaman 5, beliau menjelaskan dengan gamblang, terang, dan tanpa multitafsir.
Dalam pujian beliau terhdap Habib Abdul Al Addad l, Syaik Nawani Al Bantani menyebutnya dengan Sebutan Habib dan Sayyid lalu menjelaskan apa itu sebuatan Habib dan Sayyid, sebagai berikut:
(قال سيدنا) أي أكرمنا (الحبيب) أي المحبوب السيد (عبدالله الحداد) صاحب الطريقة المشهورة والأسرار الكثيرة، فاصطلاح بعض أهل البلاد أنّ ذرية رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا كان ذكرا يقال له حبيب، وإن كان أنثى يقال لها حبابة، واصطلاح الأكثر يقال له سيّد وسيّدة.
Terjemah Ilmiah Ringkas:
Yang dimaksud oleh Sayyidina al-Habib Abdullah al-Haddad— beliau adalah seorang tokoh tarekat besar penuh rahasia. menurut Syekh Nawawi al-Bantani sebagian penduduk di beberapa negeri menetapkan istilah:
• Keturunan Rasulullah ﷺ jika laki-laki disebut Habib,
• jika perempuan disebut Hababah,
• dan mayoritas kaum Muslimin menyebut mereka Sayyid (laki-laki) dan Sayyidah (perempuan).
Selesai? Belum. Tapi argumen sekte Imadiyah sudah runtuh di sini.
– Kesimpulan Ilmiah (Bukan Opini Jalanan)
Dari penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama agung Nusantara dan guru para ulama Jawa, dapat disimpulkan secara pasti:
1. Habib adalah dzurriyah Rasulullah ﷺ
2. Sayyid, Syarif, dan Habib adalah istilah—bukan kasta wahyu.
3. Tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan penyebutan tunggal.
4. Perbedaan istilah bergantung pada ‘urf (tradisi daerah), bukan aqidah.
Maka:
• Keturunan Nabi dari jalur Hasani maupun Husaini boleh disebut Sayyid, Syarif, atau Habib.
•Keturunan para wali—termasuk Walisongo—juga tidak salah jika dalam tradisi tertentu disebut Habib.
Sumber: Tamzilul Furqon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar