Sabtu, 15 November 2025

Anak Tidak Percaya Diri: Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Anak Tidak Percaya Diri: Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Banyak di antara anak-anak kita—bahkan terkadang diri kita sendiri—mengalami rasa tidak percaya diri. Jika dibiarkan, perasaan ini dapat menjadi penghalang besar dalam proses tumbuh kembang dan kesuksesan seseorang. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengantisipasi dan menanganinya sejak dini, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani, dan yakin pada kemampuannya.

Tanda-Tanda Anak Tidak Percaya Diri

Anak yang kurang percaya diri biasanya menunjukkan beberapa gejala berikut:

Sulit berbicara, gagap, atau ragu-ragu saat mengungkapkan pendapat.

Menutup diri, pemalu, dan tidak berani tampil di depan orang lain.

Tidak mampu berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.

Selalu merasa takut, khawatir, dan menganggap sekelilingnya berbahaya.


Penyebab Anak Tidak Percaya Diri

Rasa tidak percaya diri pada anak seringkali bukan bawaan lahir, tetapi muncul karena pola asuh yang kurang tepat atau lingkungan yang tidak mendukung. Beberapa penyebab umumnya antara lain:

1. Pola asuh yang keras, seperti ancaman, hukuman fisik, atau kekerasan setiap kali anak berbuat salah.


2. Sering disalahkan, dicela, atau direndahkan di depan orang lain.


3. Orang tua terlalu membatasi kebebasan anak, bahkan dalam hal berpikir dan berpendapat.


4. Dibanding-bandingkan dengan anak lain, yang justru menimbulkan rasa rendah diri.


5. Diremehkan kemampuannya, sehingga anak merasa tidak berharga.


6. Kondisi fisik tertentu, seperti tubuh kecil atau cacat bawaan.


7. Keterlambatan belajar atau kemampuan intelektual yang rendah.


8. Pertengkaran orang tua yang sering disaksikan anak.


9. Dibebani tugas di luar kemampuannya, sehingga sering gagal dan kehilangan semangat.



Cara Mengatasi dan Membangun Kepercayaan Diri Anak

Rasa percaya diri dapat dipupuk dengan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua:

1. Tunjukkan kasih sayang secara nyata, baik dalam kata-kata maupun tindakan.


2. Berikan ruang kebebasan yang sehat, misalnya membiarkan anak memilih makanan, permainan, atau pakaian sendiri.


3. Berikan motivasi dan pujian yang proporsional ketika anak menunjukkan usaha dan kebaikan.


4. Hindari membandingkan anak dengan orang lain, kecuali dengan cara yang bijak dan tetap menghargai kelebihan keduanya.


5. Jangan bertengkar atau saling mencela di depan anak, karena hal itu merusak rasa aman dan kepercayaan dirinya.


6. Sebutkan namanya dan puji kebaikannya di depan orang lain, agar ia merasa dihargai.


7. Gunakan kisah dan permainan edukatif untuk menanamkan semangat dan keberanian.


8. Jadilah teladan, karena anak meniru apa yang ia lihat dari orang tuanya.


9. Libatkan anak dalam kegiatan sosial atau keagamaan, seperti membaca Al-Qur’an, bercerita, atau membantu orang lain.


10. Latih tanggung jawab kecil, misalnya menyuruhnya membeli sesuatu ke warung.


11. Dengarkan anak dengan sungguh-sungguh, tanpa meremehkan pendapatnya.


12. Dampingi anak dalam menghadapi masalah kecil, agar ia belajar mengambil keputusan sendiri.


13. Biasakan anak berpuasa atau beribadah ringan, lalu pujilah ketika ia berhasil.


14. Kenalkan kisah masa kecil Rasulullah ﷺ, agar ia memiliki panutan yang penuh keteladanan.


15. Tanamkan keyakinan kepada takdir dan keimanan, bahwa semua kemampuan dan kesuksesan datang dari Allah semata.


Penutup

Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak bukanlah proses instan. Dibutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang yang konsisten dari kedua orang tua. Ketika anak merasa dicintai, dihargai, dan dipercaya, maka ia akan belajar percaya pada dirinya sendiri. Dan dari sinilah lahir generasi muslim yang tangguh, berani, dan berakhlak mulia.


*Artikel ini diadaptasi dari buku “Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah” karya Abu Amr Ahmad Sulaiman, diterbitkan oleh Darul Haq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi

"Habib, Sayyid, dan Dzurriyah Nabi: Kesalahan Berulang Sekte Imadiyah dalam Memahami kitab dan Ulama Pribumi" Terus terang, ini me...