Kamis, 30 April 2026

Ujian Keikhlasan Bagi Seorang Figur



Ujian Ketulusan Bagi Seorang Figur

Pernahkah kita merasa begitu bahagia saat followers kita pada platform media sosial semakin bertambah, kemudian menjadi sedih saat mereka berkurang satu persatu? atau bisa kita tarik ke konteks yang lebih general, saat murid atau santri bertambah menjadi lebih bersemangat, namun seketika merasa hampa dan sedih saat satu per satu dari mereka menjauh? Dalam kitab Lathaiful Minan wal Akhlaq, Imam Asy-Sya’rani menukil sebuah pengingat yang sangat menohok bagi siapa saja yang terjun di dunia dakwah, pendidikan, atau kepemimpinan:


وَمِنْ عَلَامَةِ الْمُغْتَرِّ أَنَّهُ كُلَّمَا كَثُرَتْ تَلَامِذَتُهُ شَكَرَ رَبَّهُ، وَكُلَّمَا نَفَرُوا عَنْهُ انْقَبَضَ خَاطِرُهُ

"Di antara tanda orang yang terpedaya (oleh nafsunya) adalah: setiap kali muridnya bertambah banyak, ia bersyukur kepada Tuhannya; namun setiap kali mereka menjauh darinya, hatinya merasa sempit." (Lataif al-Minan: 701)

Kalimat ini mengajak kita untuk mengevaluasi kembali niat terdalam di balik aktivitas kita. Mengapa perasaan "sesak" itu muncul saat pengikut berkurang?

Jebakan Rasa Syukur yang Semu

Sekilas, bersyukur karena memiliki banyak murid terdengar seperti hal yang mulia. Namun, Imam Asy-Sya’rani memperingatkan bahwa rasa syukur tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang telah terpedaya (al-mugh-tarr). Jika syukur itu muncul hanya karena kita merasa "berhasil" mengumpulkan orang, maka yang kita syukuri sebenarnya adalah eksistensi diri kita sendiri, bukan semata-mata karena tersebarnya kebenaran.

Kuantitas Bukan Ukuran Ketulusan

Seseorang yang tulus berdakwah atau mengajar karena Allah akan memiliki ketenangan hati yang stabil. Baginya, menyampaikan kebenaran adalah kewajiban, sedangkan jumlah pendengar adalah urusan Allah.

Jika hati kita menyempit atau sedih saat orang-orang menjauh, itu adalah sinyal peringatan dari jiwa. Bisa jadi, ada bagian dari hati kita yang masih mengharapkan pengakuan, kedudukan, atau perasaan "dibutuhkan" oleh manusia.

Merdeka dari Penilaian Manusia

Pesan utama dari kutipan ini adalah kemerdekaan hati. Orang yang terbebas dari tipu daya nafsu tidak akan "terbang" karena pujian dan tidak akan "tumbang" karena ditinggalkan. Syukurnya tulus karena Allah telah memberinya kesempatan untuk berbagi ilmu, bukan karena ia merasa besar dengan banyaknya pengikut.

Intinya, ujian terbesar seorang pengajar atau pemimpin bukanlah pada saat ia menghadapi penolakan, melainkan pada saat ia mulai menikmati kerumunan orang yang mengelilinginya. Mari kita tanya kembali pada hati kecil kita: Apakah kita melayani Tuhan, atau sedang memberi makan ego kita sendiri melalui jumlah pengikut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Klarifikasi itu Penting

Pernah dengar kalimat, "Diam itu emas"? Dalam banyak situasi, diam memang bijak. Tapi kalau sudah menyangkut fitnah atau tuduhan b...