Pembahasan tentang urutan surat dalam Al-Qur’an merupakan salah satu kajian penting dalam ‘Ulumul Qur’an. Para ulama sepakat bahwa urutan ayat dalam Al-Qur’an bersifat tauqifi, yakni berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi ﷺ melalui wahyu. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal urutan surat: apakah juga tauqifi, atau hasil ijtihad para sahabat.
Perbedaan Pendapat Ulama
Sebagian ulama berpendapat bahwa urutan surat adalah hasil ijtihad sahabat. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Malik, al-Qadhi Abu Bakar dalam salah satu riwayatnya, serta ditegaskan oleh Ibn Faris.
Dalil mereka adalah adanya perbedaan susunan dalam mushaf para sahabat. Misalnya, Mushaf Ali disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu, dimulai dari Iqra’. Mushaf Ibnu Mas‘ud dimulai dari Al-Baqarah, kemudian An-Nisa’, lalu Ali ‘Imran. Demikian pula Mushaf Ubay bin Ka‘b memiliki susunan tersendiri.
Di sisi lain, mayoritas ulama berpendapat bahwa urutan surat bersifat tauqifi. Di antara mereka adalah al-Qadhi Abu Bakar dalam pendapat lainnya, Abu Bakar bin al-Anbari, al-Karmani, dan lainnya.
Mereka menjelaskan bahwa Jibril menunjukkan kepada Nabi ﷺ posisi ayat dan surat, sehingga keteraturan Al-Qur’an baik ayat maupun surat semuanya berasal dari wahyu. Bahkan disebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukan muroja‘ah Al-Qur’an bersama Jibril, dan pada tahun wafatnya dilakukan dua kali (al-‘arḍah al-ākhirah).
Beberapa Hadis tentang Urutan Surat
Sejumlah hadis menguatkan bahwa urutan surat telah dikenal pada masa Nabi ﷺ, di antaranya:
Sabda Nabi ﷺ:
“Bacalah dua yang bercahaya: Al-Baqarah dan Ali ‘Imran.” (HR. Muslim)
Riwayat bahwa Nabi ﷺ membaca tujuh surat panjang dalam satu rakaat.
Kebiasaan beliau membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur.
Pembagian hizb Al-Qur’an oleh para sahabat: tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan mufassal.
Semua ini menunjukkan bahwa susunan surat sudah dikenal dan diamalkan sejak masa Nabi ﷺ.
Hikmah Susunan Surat dalam Mushaf
Sebagian ulama mencoba menyingkap hikmah di balik urutan surat dalam mushaf, di antaranya:
1. Kesamaan huruf pembuka, seperti kelompok al-ḥawāmīm dan {الر}.
2. Keterkaitan makna, seperti hubungan antara akhir Al-Fatihah dan awal Al-Baqarah.
3. Kesesuaian irama lafaz, seperti antara akhir Al-Lahab dan awal Al-Ikhlas.
4. Kemiripan tema, seperti antara Ad-Dhuha dan Asy-Syarh.
Bahkan, jika diperhatikan secara mendalam, pembukaan setiap surat sering memiliki hubungan yang indah dengan penutup surat sebelumnya terkadang jelas, terkadang tersembunyi.
Pendapat Pertengahan
Sebagian ulama seperti Ibnu ‘Aṭiyyah mengambil jalan tengah:
Sebagian besar surat telah diketahui urutannya pada masa Nabi ﷺ, seperti as-sab‘u ath-thiwāl, al-ḥawāmīm, dan al-mufaṣṣal.
Adapun sebagian lainnya mungkin diserahkan kepada ijtihad umat setelah wafat Nabi ﷺ.
Namun Abu Ja‘far bin az-Zubair menilai bahwa riwayat-riwayat yang ada menunjukkan lebih dari itu, sehingga yang tersisa untuk diperselisihkan hanyalah sedikit.
Analisis dan Kesimpulan
Pendapat yang lebih kuat sebagaimana dipilih oleh banyak ulama seperti al-Baihaqi dan Ibnu Hajar adalah:
Sebagian besar urutan surat bersifat tauqifi.
Bahkan pembagian besar Al-Qur’an (ath-thiwāl, al-mi’īn, al-matsānī, al-mufaṣṣal) menunjukkan kesepakatan yang kuat.
Perbedaan dalam mushaf sahabat hanya terjadi pada detail urutan dalam kelompok, bukan pada prinsip besarnya.
Lebih jauh, susunan mushaf ‘Utsmani diyakini sebagai bentuk final dari Al-Qur’an berdasarkan al-‘arḍah al-ākhirah.
Adapun perbedaan mushaf sahabat dapat dijelaskan karena:
Sebagian belum mengetahui adanya nasakh (penghapusan bacaan).
Mereka menulis sesuai dengan ilmu yang sampai kepada mereka saat itu.
Bahkan disebutkan bahwa dalam mushaf Ubay terdapat bacaan yang kemudian dihapus, seperti Surat al-Ḥafd dan al-Khal‘.
Epilog
Dari seluruh pembahasan ini dapat disimpulkan:
Urutan ayat: sepakat tauqifi.
Urutan surat:
Pada asalnya tauqifi,
Dan penetapan finalnya ada pada mushaf ‘Utsmani, sesuai dengan al-‘arḍah al-ākhirah.
Perbedaan mushaf sahabat tidak menafikan tauqifi, tetapi menunjukkan proses penyempurnaan hingga bentuk finalnya.
Dengan demikian, susunan Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam hari ini bukanlah hasil kebetulan atau ijtihad semata, melainkan tersusun dengan hikmah ilahi dan bimbingan wahyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar