Jumat, 24 April 2026

Rahasia Dibalik Susunan Surat dalam Mushaf

Rahasia Dibalik Susunan Surat dalam Mushaf

Bagaimana sebenarnya urutan surat dalam Al-Qur’an ditetapkan? Apakah sepenuhnya berdasarkan wahyu (tawqīfī), atau ada ruang ijtihad para sahabat? Pertanyaan ini telah lama menjadi bahan diskusi para ulama. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, kita akan menemukan bahwa susunan mushaf menyimpan harmoni yang luar biasa dan tidak lepas dari bimbingan Ilahi.

Menentukan Letak Perbedaan Pendapat

Langkah pertama yang penting adalah memahami bahwa perbedaan pendapat para ulama bukan pada keseluruhan susunan Al-Qur’an, tetapi hanya pada urutan surat dalam kelompok tertentu. Para ulama membagi surat Al-Qur’an ke dalam empat kelompok besar:

Ṭiwāl: surat-surat panjang

Mi’īn: surat-surat sekitar seratus ayat

Matsānī: surat-surat di bawah itu

Mufaṣṣal: surat-surat pendek di bagian akhir


Menariknya, urutan keempat kelompok ini dari yang panjang hingga pendek hampir tidak diperselisihkan. Bahkan, sebagian ulama menegaskan bahwa susunan ini bersifat tawqīfī dan layak dianggap sebagai kesepakatan (ijma‘).

Bukti dari Riwayat dan Mushaf Sahabat

Ada dua alasan kuat yang mendukung hal tersebut:

Pertama, adanya hadis-hadis Nabi ﷺ serta riwayat dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما yang menunjukkan perhatian terhadap susunan ini.

Kedua, meskipun terdapat perbedaan mushaf di kalangan sahabat seperti mushaf Ubay bin Ka‘b dan Ibnu Mas‘ūd mereka tetap sepakat dalam pembagian besar tersebut: mendahulukan surat panjang, lalu yang lebih pendek. Perbedaan hanya terjadi pada urutan surat dalam masing-masing kelompok, bukan pada prinsip dasarnya.

Pendapat yang Kuat: Hampir Semua Tawqīfī

Sebagian ulama, seperti Al-Baihaqī, berpendapat bahwa urutan seluruh surat adalah tawqīfī, kecuali kemungkinan pada dua surat: Al-Anfāl dan At-Taubah. Pendapat ini diperkuat oleh berbagai fenomena menarik dalam susunan Al-Qur’an.

Misalnya:

Surat-surat ḥawāmīm tersusun berurutan

Surat-surat berawalan “الر” juga berurutan

Surat-surat musabbihāt tidak diletakkan berurutan, tetapi dipisah dengan hikmah tertentu

Surat-surat yang mirip tema dan pembukaannya kadang dipisah oleh surat lain


Jika susunan ini murni ijtihad, tentu pola-pola tersebut tidak akan seindah dan seharmonis ini.

Menjawab Keraguan: Mengapa Ada Perbedaan Mushaf?

Satu hal yang sering dijadikan pertanyaan adalah: jika susunan ini tawqīfī, mengapa mushaf para sahabat berbeda?

Jawabannya terletak pada konsep nasakh (penghapusan) dan ‘arḍah terakhir yaitu penyampaian terakhir Al-Qur’an oleh Nabi ﷺ sebelum wafat. Pada fase ini, susunan dan bacaan Al-Qur’an mencapai bentuk finalnya.

Tidak semua sahabat mengetahui seluruh perubahan tersebut. Akibatnya, mushaf yang mereka susun terkadang masih memuat bacaan atau susunan yang kemudian dihapus. Contohnya, dalam mushaf Ubay bin Ka‘b terdapat surat yang sudah tidak termasuk dalam susunan akhir.

Epilog 
 
Dari sini dapat disimpulkan bahwa:

Susunan mushaf pada dasarnya bersifat tawqīfī

Bentuk finalnya ditetapkan pada ‘arḍah terakhir

Mushaf ‘Utsmān menjadi rujukan utama karena mencerminkan susunan akhir tersebut

Perbedaan mushaf sahabat terjadi karena keterbatasan informasi tentang nasakh


Pada akhirnya, susunan Al-Qur’an bukan sekadar urutan bacaan, tetapi bagian dari kemukjizatannya. Di balik setiap posisi surat, tersimpan hikmah, keserasian, dan petunjuk yang menguatkan keyakinan bahwa Al-Qur’an benar-benar diturunkan dan dijaga oleh Allah ﷻ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rahasia Dibalik Keindahan Susunan Alqur'an: Bukti Konkrit Urutan Surah Adalah Tawqif Dari Nabi

Keindahan Susunan Alqur'an: Bukti Konkrit Urutan Surah Adalah Tawqif Dari Nabi Salah satu pertanyaan menarik dalam kajian Al...