Pernah dengar kalimat, "Diam itu emas"? Dalam banyak situasi, diam memang bijak. Tapi kalau sudah menyangkut fitnah atau tuduhan buruk yang menyerang integritas, diam justru bisa jadi bumerang.
Menariknya, jauh sebelum era media sosial dan press conference ada, Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Iklil sudah membahas pentingnya klarifikasi (tabayyun) bagi seseorang, terutama para tokoh dan pemimpin.
Belajar dari Kisah Nabi Yusuf
As-Suyuthi merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang momen ketika Nabi Yusuf as. didatangi utusan raja untuk dibebaskan dari penjara. Alih-alih langsung lari keluar karena gembira, Nabi Yusuf justru meminta utusan itu kembali kepada raja untuk menanyakan perihal tuduhan masa lalunya.
Kenapa? Beliau ingin membersihkan nama baiknya terlebih dahulu. Beliau tidak ingin keluar penjara dengan status "orang yang diampuni kesalahannya", tapi sebagai "orang yang memang tidak bersalah".
Mengapa Klarifikasi itu Penting?
Ada dua alasan kuat mengapa kita perlu meluruskan fitnah:
1. Menghindari Prasangka Buruk: Manusia cenderung mudah percaya pada narasi negatif. Usaha membersihkan diri adalah cara kita membantu orang lain agar tidak jatuh ke dalam dosa prasangka atau tuduhan palsu.
2. Menjaga Kepercayaan Publik: Bagi orang-orang besar atau mereka yang menjadi panutan, reputasi bukan sekadar urusan pribadi. Jika seorang tokoh dianggap berkhianat atau cacat moral, maka nilai-nilai atau ajaran yang ia bawa juga akan ikut runtuh di mata masyarakat.
Bukan Soal Ego, Tapi Soal Amanah
Banyak orang merasa risih untuk klarifikasi karena takut dianggap "pencitraan". Padahal, menurut Imam As-Suyuthi, mengupayakan beralihnya tuduhan buruk adalah bentuk tanggung jawab.
Terutama bagi mereka yang setiap gerak-geriknya dicontoh. Menjaga nama baik adalah cara menjaga marwah institusi, ilmu, atau komunitas yang diwakilinya.
Epilog
Jika fitnah mulai menyebar, jangan ragu untuk bicara. Klarifikasi bukanlah tanda haus pujian, melainkan cara kita memastikan bahwa kebenaran tetap berdiri tegak di atas persepsi yang salah.
Refrensi As-Suyuthi, Al-Iklīl fī Istinbāṭ at-Tanzīl, hlm:155
------------------------------
قوله تعالى: {فلما جاءه الرسول}
الآيات.
فيه سعى الإنسان في براءة نفسه لئلا يتهم بخيانة أو نحوها خصوصا الأكابر ومن يقتدى بهم.
[السيوطي، الإكليل في استنباط التنزيل، صفحة ١٥٥]
“Firman Allah Ta‘ala: {فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ} — “Maka ketika utusan itu datang kepadanya.”
(Dan ayat-ayat selanjutnya).
Di dalamnya terdapat isyarat tentang usaha manusia untuk membersihkan dirinya agar tidak dituduh berkhianat atau semacamnya, khususnya bagi orang-orang besar dan mereka yang dijadikan panutan”.
[As-Suyuthi, Al-Iklīl fī Istinbāṭ at-Tanzīl, hlm:155]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar