Rabu, 18 Februari 2026

Luka Jiwa Lebih Perih dari Kemiskinan

Luka Jiwa Lebih Perih dari Kemiskinan

أشد الأشياء على الناس الخوف والهم والمرض والفقر. وأشدها كلها إيلاماً للنفس الهم للفقد من المحبوب وتوقع المكروه، ثم المرض، ثم الخوف ثم الفقر

"Hal yang paling berat bagi manusia adalah ketakutan, kecemasan (gelisah), penyakit, dan kemiskinan. Dan yang paling menyakitkan bagi jiwa adalah kecemasan karena kehilangan orang yang dicintai serta ekspektasi akan terjadinya hal buruk, diikuti oleh penyakit, kemudian ketakutan, dan terakhir kemiskinan."
(Rasa'il Ibnu Hazm: 1/403)

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti bersinggungan dengan empat ujian besar:

Ketakutan (Khauf), Kecemasan (Hamm), Penyakit (Maradh), dan Kemiskinan (Faqr). Namun, jika kita menyelami kedalaman rasa sakit tersebut, ternyata ada tingkatan yang berbeda dalam dampaknya terhadap eksistensi manusia.

1. Kecemasan: Sang Penakluk Jiwa
Mengapa kecemasan karena kehilangan (grief) dan ekspektasi buruk berada di puncak rasa sakit? Karena ia menyerang pusat kesadaran manusia.

Kehilangan Orang Tercinta: Manusia adalah makhluk sosial yang jiwanya terikat pada kasih sayang. Kehilangan orang tercinta bukan sekadar kehilangan fisik, tapi hilangnya sebagian dari identitas diri.

Menanti Musibah: Penantian akan sesuatu yang buruk seringkali lebih menyiksa daripada musibah itu sendiri. Pikiran menciptakan skenario tanpa batas yang membuat jiwa "mati berkali-kali" sebelum ajal atau musibah itu benar-benar datang.

2. Penyakit: Saat Tubuh Menjadi Penjara
Setelah jiwa terkoyak oleh cemas, rasa sakit fisik (penyakit) menempati urutan berikutnya. Penyakit merampas kemerdekaan seseorang untuk beraktivitas. Ketika tubuh merintih, fokus manusia menyempit hanya pada rasa sakitnya, membuat dunia yang luas terasa seolah-olah mengecil seukuran tempat tidur rumah sakit.

3. Ketakutan: Hilangnya Rasa Aman
Ketakutan adalah ancaman yang tampak atau dirasakan akan segera terjadi. Ia berada di bawah penyakit karena seringkali bersifat situasional. Meski mencekam, rasa takut biasanya memicu insting bertahan hidup (fight or flight). Namun, hidup dalam ketakutan yang kronis akan menghancurkan martabat manusia.

4. Kemiskinan: Ujian di Permukaan
Menariknya, kemiskinan diletakkan di urutan terakhir. Meski sulit dan menghimpit, kemiskinan adalah beban yang datang dari luar. Seseorang bisa saja miskin harta, namun tetap memiliki jiwa yang kaya, tubuh yang sehat, dan cinta yang utuh. Kemiskinan bisa diatasi dengan usaha dan kesabaran, namun jiwa yang hancur karena kehilangan atau kecemasan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih.

Kesimpulan

Urutan ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah tentang apa yang kita miliki di saku, melainkan tentang ketenangan jiwa dan kesehatan raga. Luka paling dalam tidak meninggalkan bekas di kulit, melainkan goresan di dalam hati yang hanya bisa disembuhkan dengan keikhlasan dan harapan.

Selasa, 17 Februari 2026

Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya:Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang

Penuntut Ilmu dan Segala Rintangannya:
Banyak yang Tumbang Sebelum Berkembang 

فَطَلَبُ الْعِلْمِ كَانَ كَثِيرًا فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ، لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ الْمُقْتَدَى بِهِمْ قِلَّةٌ، فَقَدْ نَظَرَ شُعْبَةُ إِلَى مَجْلِسِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ يَكْتَظُّ بِطَلَبَةِ الْحَدِيثِ، فَقَالَ: لَوْ يَخْرُجُ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ
قال الطيالسي: فَرَأَيْتُ فَمَا خَرَجَ مِنْهُمْ ثَلَاثَةٌ! وَالثَّوْرِيُّ كَانَ يَقُولُ: الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ ثُلُثٌ تَشْغَلُهُمُ الدُّنْيَا، وَثُلُثٌ يَتَزَوَّجُونَ، وَكَانَ يَقُولُ: مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ! قَالَ: وَثُلُثٌ يَكْتُبُونَ وَلَا يَعْقِلُونَ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ

“Menuntut ilmu pada masa dahulu itu sangat banyak (peminatnya), namun ulama yang benar-benar menjadi panutan itu sedikit.
Suatu ketika Syu‘bah bin al‑Hajjaj melihat majelis para ahli hadis yang penuh sesak oleh para penuntut hadis, lalu beliau berkata:
'Seandainya dari mereka keluar tiga orang saja (yang menjadi ulama).” 

“Aku perhatikan, ternyata dari mereka tidak muncul (ulama) bahkan tiga orang pun! Ats-Tsauri berkata: Orang yang belajar ilmu itu terbagi tiga: sepertiga disibukkan oleh dunia, sepertiga menikah. Beliau berkata: siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan! Dan sepertiga lagi hanya menulis tetapi tidak memahami. Dan tidaklah keluar dari mereka kecuali sedikit.” (Syarah Matan Abi Syuja': 1/13)

Perjalanan menuntut ilmu agama memang panjang, melelahkan, dan penuh godaan. Banyak yang memulai dengan semangat tinggi, tetapi tidak semua mampu bertahan sampai matang.

Menurut ats-Tsauri, kegagalan para penuntut ilmu biasanya jatuh pada tiga kelompok besar.

Pertama, disibukkan Dunia. Sebagian penuntut ilmu awalnya serius, tetapi kemudian terseret urusan dunia: pekerjaan, harta, jabatan, atau ambisi sosial.

Ilmu yang dulu menjadi tujuan utama, berubah menjadi aktivitas sampingan. Akhirnya, waktu belajar semakin berkurang, majelis ditinggalkan, hafalan hilang, dan cita-cita menjadi ulama pun memudar.

Kedua: terhenti karena pernikahan

Ungkapan ats-Tsauri sangat kuat:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكِبَ الْبَحْرَ
“Siapa yang menikah maka ia telah mengarungi lautan.”

Maksudnya bukan melarang menikah tetapi menggambarkan beratnya tanggung jawab setelah berkeluarga.

Setelah menikah, fokus hidup berubah: nafkah, rumah tangga, anak, kebutuhan ekonomi. Waktu belajar menyempit, perjalanan ilmiah terhambat, dan banyak yang akhirnya berhenti di tengah jalan.

Karena itu para ulama dahulu sering menunda menikah sampai ilmu mereka kokoh.

Ketiga, banyak menulis, namun sedikit memahami. Kelompok ketiga ini adalah mereka yang rajin mencatat, menyalin kitab, menghadiri pelajaran tetapi tidak benar-benar memahami.

Ilmu hanya berhenti di pena, tidak sampai ke akal dan hati. Mereka hafal istilah, tetapi tidak mengerti hakikat. Banyak catatan, tetapi sedikit kedalaman. Akhirnya mereka tidak tumbuh menjadi ulama yang matang.

Ats-Tsauri menutup dengan kalimat yang sangat tajam:

وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidak keluar dari mereka kecuali sedikit.”

Dari sekian banyak penuntut ilmu, hanya sedikit yang benar-benar menjadi ulama yang kokoh.

Mengapa? Karena ulama sejati membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, konsistensi belajar, pengorbanan dunia, kedalaman pemahaman, keikhlasan tinggi Semua ini tidak dimiliki oleh banyak orang.

Bumiayu, Malang
17 Februari 2026 

Selasa, 03 Februari 2026

Tata cara bersarung yang benar

Tata cara bersarung yang benar

Adalah tidak melebihi mata kaki, yang paling utama separuh betis

بذل المجهود في حل أبي داود ٦/٢٢٤

٤٠٩٣ - حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ العَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سألتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِى عَنِ الْإِزَارِ فَقَالَ عَلَى الخَبِيرِ سَقَطتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «إِزْرَةُ المُسلِمِ (1) إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ - أَو لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيْنَهُ وَبَينَ الكَعَبَينِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَينِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَن جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَم يَنظُرِ اللَّهُ (ه) إِلَيْهِ (1)»).

 : حدثنا حفص بن عمر، نا شعبة عن العلاء بن عبد الرحمن، عن أبيه عبد الرحمن بن يعقوب قال: سألت أبا سعيد الخدري عن الإزار فقال [أبو سعيد على الخبير سقطت أي على العارف بهذه المسألة والخبير به وقعت وهو مثل عند العرب، وقد قال الله سبحانه بأحسن أسلوب منه ﴿ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ﴾ [فاطر: ١٤] [قال رسول الله ﷺ: إزرة المسلم (1) ضبطها بعضهم بضم الهمزة والصواب كسرها، لأن المراد ههنا الهيئة في الاتزار

كالجلسة لهيئة الجلوس إلى نصف الساق أي هذا أولى الهيئة ولا حرج أو قال: لا جناح] شك من الراوي في اللفظ والمعنى واحد.
[فيما بينه وبين الكعبين فالمستحب إلى نصف الساقين والجائز بلا كراهة إلى الكعبين [ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار لأنه حرام يوجب النار، وهذا في حق الرجال دون النساء (٤)] ومن جر إزاره بطرا أي تكبرا وخيلاء لم ينظر الله إليه نظر رحمة يوم القيامة .

Perbedaan Masjid di Desa dan di Kota: Antara Kekeluargaan Desa dan Profesionalisme Kota

Wajah Masjid Kita: Antara Kekeluargaan Desa dan Profesionalisme Kota Setelah beberapa hari melaksanakan puasa Ramadhan di kota, ...